Connect with us

Recollection

Cekatan Menangkal Hoaks

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Dok Pribadi

Di tengah Pandemi COVID-19 ia dituntut ekstra cekatan menyampaikan informasi. Jangan sampai publik panik karena termakan hoaks.

 

Belum genap seminggu Rahayu Puspasari menakhodai Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Namun, ia mesti bekerja maraton menyampaikan informasi secara rinci kepada awak media mengenai Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 6/KM.7/2020 tentang Penyaluran Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan dan Dana Bantuan Operasional Kesehatan Dalam Rangka Pencegahan dan/atau Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dikeluarkan pada (15/3).

Baca Juga: Refleksi Rectoverso

Puspa, sapaan karib perempuan kelahiran Pontianak 2 Februari 1972 ini mengatakan, strategi komunikasi Kemenkeu yaitu menyampaikan informasi dengan cepat dan rinci. Jangan sampai publik menjadi korban hoaks (informasi bohong) sehingga menimbulkan kepanikan. Begitu amanat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat melantiknya, Senin (9/3).

“Kontestasi dalam informasi begitu banyak dan itu juga kreatif. Bahkan full timer untuk membuat hoaks, sehingga kita harus mampu menangkal itu,” Puspa mengulang pesan Sri Mulyani.

Menurut Puspa, di era kemajuan teknologi ini hoaks tidak bisa dihindari. Sebab setiap warga negara memiliki kepentingannya masing-masing, baik kepentingan politik maupun ekonomi. Maka sang juru bicara atau jubir pemerintah dituntut ekstra cekatan mengendalikannya.

Dalam konteks menghadapi Pandemi COVID-19, publik juga mesti bijak memfilter informasi yang membanjiri jagat media sosial. Puspa meyakinkan, pemerintah fokus pada krisis kesehatan sekaligus mengantisipasi dampak ekonominya.

“Dalam situasi sekarang masyarakat harus mengikuti kapten kapal. Jangan sampai kocar-kacir hanya karena hoaks. Kalau masyarakat tidak panic buying, stok kita aman, tidak akan kekurangan. Pemerintah terus berkoordinasi aktif untuk melakukan antisipasi dampaknya terhadap perekonomian nasional,” tegas Puspa, melalui telepon, pada pertengahan Maret 2020.

Baca Juga: Mudik Resmi Dilarang, Ada Denda Bagi yang Melanggar

Seperti diketahui pemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Menteri Keuangan bertindak sebagai salah satu pengarah yang bertugas menjaga stabilitas fiskal, refocusing anggaran, menyelamatkan sektor-sektor informal, dan membantu sektor usaha yang terdampak. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor I Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman Yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan.

Puspa menjelaskan, secara umum Perppu mengatur langkah mitigasi pengeluaran tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 sebesar Rp 405,1 triliun. Rinciannya, yaitu Rp 75 triliun intervensi di bidang kesehatan dalam penanggulangan COVID-19; Rp 110 triliun untuk tambahan jaringan pengamanan sosial; Rp 70,1 triliun untuk mendukung industri melalui insentif pajak dan bea masuk serta stimulus Kredit Usaha Rakyat; lalu Rp 150 triliun untuk pemulihan ekonomi pasca-COVID-19.

Di bidang perpajakan, Perppu itu berisi penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) dari 25 persen menjadi 22 persen di tahun 2020 dan di tahun 2021 menjadi 20 persen. Lalu, penurunan tarif PPh Badan go public sebesar 3 persen atau lebih rendah dibandingkan dari tarif umum.

“Pemerintah sebagai yang sering diserang hoaks harus bergerak cepat menangkalnya dengan memviralkan informasi melalui teman-teman media—KLI memberikan penjelasan melalui siaran pers, KLI standby melayani wawancara melalui telepon, konferensi pers kita di situasi genting pun kita lakukan melalui aplikasi,” tegasnya.

“Dalam situasi sekarang masyarakat harus mengikuti kapten kapal. Jangan sampai kocar-kacir hanya karena hoaks.”

Tekad jadi ASN

Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjabat kepala biro KLI, Puspa menyadari, pekerjaannya itu sangat protokoler, menuntut kecermatan dan kehati-hatian dalam menyampaikan pesan dari lembaganya. Namun, ia senang melakukan pengabdian itu karena sejak muda ia telah bercita-cita menjadi ASN, tepatnya saat ia masih di bangku Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 1 Yogyakarta sekitar tahun 1989. Puspa resah dengan beberapa kawannya yang kerap mengkritik pemerintah dan ASN.

Baca Juga: Aphantasia

“Saya sama teman-teman sering diskusi soal negara. Mereka kebanyakan menyalahkan pemerintah—pokoknya semua gara-gara pemerintah. Bahkan, ya, mereka tutup mata sama program pemerintah yang bagus. Karena pemikiran kita semua sudah begitu, pemerintah negatif,” kenang pengagum Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela ini.

Tekad menjadi ASN semakin menggebu tatkala pada 1990 ia terpilih mengikuti pertukaran pelajar ke Akenohoshi Kooto Gakko—salah satu SMA di Jepang. Selain belajar, Puspa aktif memperkenalkan budaya tanah air lewat beragam festival di sekolah itu. Bahkan, ia sempat menjadi guru les bahasa Indonesia untuk teman sekelasnya.

“Mungkin karena keterbatasan informasi—di tahun itu belum ada internet. Jadi, teman-teman di sana (Jepang) banyak yang bertanya tentang Indonesia. Ternyata kita lebih bisa mengapresiasi Indonesia justru ketika kita ada di luar,” kata Puspa.

Setahun kemudian, ia pulang ke tanah air untuk melanjutkan persiapan ujian sekolah sekaligus tes masuk perguruan tinggi. Puspa lantas memilih Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)—sekarang Politeknik Keuangan Negara STAN—agar bisa menjadi ASN. Ia ingin menjadi bagian dalam reformasi birokrasi.

Terlibat reorganisasi

Karier Puspa sebagai ASN dimulai pada 1994. Lulus dari STAN, ia menjadi pegawai di Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN) yang sekarang menjadi Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Tiga tahun kemudian ia melanjutkan pendidikan di Prodi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Jakarta. Tak lama, ia mendapat tugas belajar di Universitas Monash Australia untuk jurusan manajemen strategis.

Setelah mendapat gelar Master of Business Administration (MBA), Puspa dipercaya menjabat sebagai Kepala Subbidang Standar Akuntansi Keuangan Pemerintah. Kala itu ia turut menjadi salah satu anggota Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2004. Secara umum tugas KSAP adalah mempersiapkan penyusunan konsep Rancangan Peraturan Pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan sebagai acuan yang wajib diterapkan dalam menyusun serta melaporkan laporan keuangan pusat dan daerah.

Syahdan, ia didaulat menjadi Sekretaris Satuan Tugas Reorganisasi Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) kini menjadi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Kata Puspa, tugas pertama DJKN yaitu, penertiban Barang Milik Negara (BMN) yang terdiri dari kegiatan inventarisasi, penilaian, pemetaan permasalahan BMN, koreksi nilai neraca pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL).

“Perubahan itu titik awal LKPP keluar dari disclaimer opinion menjadi opini wajar dengan pengecualian dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Semua hasil kerja bakti bersama,” kata peserta diklat Negotiation and Competitive Decision Making di Harvard Business School ini.

Sekitar tahun 2009, Puspa melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Curtin Australia. Setelah lulus Puspa diamanahi tugas sebagai Pelaksana (Fungsional Umum) Seksi Kekayaan Negara Dipisahkan IA DJKN pada 2011, lalu menjabat Kepala Subdirektorat Kekayaan Negara Dipisahkan Dipisahkan I DJKN di tahun 2014.

Di tahun yang sama, ibu dua anak ini ditugaskan oleh Menteri Keuangan ke-28 Muhammad Chatib Basri untuk menjadi Ketua Tim Pengkaji Pembentukan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) sesuai tata cara pendirian Badan Layanan Umum. LMAN didirikan pada 16 Desember 2015 berdasarkan PMK No. 219/PMK.01/2015 dengan tugas di antaranya, pelayanan pengembangan usaha, analisis pasar properti, pengembangan strategi bisnis jasa penilaian dan konsultasi manajemen aset, pengadaan, konstruksi, dan lain-lain. Pada 2017 Puspa diangkat menjadi Direktur LMAN dan menjabat sebagai Direktur Utama LMAN di tahun 2018.

Baca Juga: Gaungkan Dukungan—dan Kritikan

“Waktu itu saya bikin kajiannya, membentuk organisasinya, dari A sampai Z. Jadi, saya selalu dikasih tugas mengawal yang baru atau menghadapi situasi sulit. Memulai sesuatu yang baru tidak mungkin menggunakan cara lama dan biasa,” kata pencinta olahraga menyelam ini.

Kini, Puspa mengemban tugas baru sebagai Kepala Biro KLI. Di bawah kepemimpinannya, vokalis Band Bhinneka Swara ini berencana mengubah strategi komunikasi tiap instansi di bawah Kemenkeu.

“Karena baru dilantik dan langsung menghadapi masalah COVID-19, saya baru menyisir kekuatan atau kekurangan secara umum. Intinya ke depan saya ingin, misal, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dan lainnya fokus pada tugasnya. Kalau sekarang, kan, DJP bikin strategi komunikasi juga—bikin majalah, sosialisasi di media sosial,” kata penggemar penyanyI Celine Dion dan Lea Simanjuntak ini.

Menurut Puspa, pencapaian hidupnya tak terlepas dari doa dan wejangan kedua orangtuanya yang ia pegang teguh hingga sekarang. Ibundanya Sumadji mengajarkannya untuk berpikir visioner, jalani penuh keyakinan, dan raih pendidikan setinggi mungkin. Sedangkan ayahandanya mengajarkannya untuk disiplin dan jangan pantang menyerah.

“Biasanya tantangan justru datang dari lingkungan internal kita—perasaan enggak percaya, enggak bisa, susah. Perasaan itu ternyata membombardir kita. Nah, di situ kita harus punya keyakinan untuk mencoba,” tutupnya.-Aprillia Hariani

 

Recollection

Gelombang Nikmat si ‘Nyawa Rangkap’

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Auditor sekaligus novelis ini memilih jalan bahagia untuk menjalani masa isolasi Covid-19. Di ruang sunyi nan beku itu ia hidup kembali dan mengukir kisahnya dalam sebuah buku.

 

Ruang senyap itu terasa lebih menyekap saat malam datang. Sekujur tubuh kaku bak berada di kulkas raksasa berdinding bata. Kerap kali ia menyelingkup di balik selimut agar jemarinya lebih luwes menulis status Facebook (FB).

“Dinginnya tidak manusiawi, tetapi kulkaswi.” Demikian Dedhi Suharto mengenang sekelumit dari tiga pekan masa isolasinya di Ruang 105 Kaca Piring, Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG), Cisarua, Bogor. Pria yang menjabat sebagai Auditor Madya Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan ini dinyatakan positif Covid-19 pada 6 Agustus 2020.

Namun, yang perlu digarisbawahi perawatan setiap pasien korona berbeda-beda, tergantung penyakit yang diderita. Kebetulan, Dedhi terdiagnosis hipoksia atau kurangnya oksigen dalam sel dan jaringan tubuh. Ia merasakan lemas saja saat itu. Untuk gejala hipoksia pasien perlu berada dalam ruang inap bertekanan negatif sebagai salah satu upaya penyembuhan.

“Saya mengalami hipoksia sampai drop 64 persen, bahkan pernah juga 55,8 persen. Menurut teorinya saya sudah mati. Jadi, saya ini orang yang hidup kembali. Untuk kasus yang seberat itu treatment-nya begitu. Jadi, kamar yang saya bilang kulkaswi ini diatur dengan tekanan negatif agar dapat menyerap infeksi,” ungkap Dedhi kepada Majalah Pajak, pada Rabu Petang (21/9).

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Ia menjelaskan, hipoksia terjadi bila kadar oksigen dalam arteri di bawah 90 persen, sementara ambang batas aman terbawah di angka 65 persen. Penjelasan ini ia dapat dari sahabatnya yang dokter.

“Namun, beberapa rekan hipoksia di angka 80-an sudah ada yang meninggal. Di Banyumas ada tiga orang yang meninggal ketika hipoksia pada angka 75 persen. Saya alami 55,8 persen tetapi masih bisa bertahan hidup itu sebuah keajaiban. Di Near Death Experience Sharing 30 Agustus saya disebut memiliki nyawa rangkap dua oleh host-nya.”

Pilih bahagia

Awalnya, tentu tidak mudah bagi Dedhi menerima takdir. Rasa khawatir, kecewa, dingin dan sunyinya ruang isolasi bercampur jadi satu. Kepiluan semakin bertambah tatkala istri dan anaknya juga dinyatakan positif Covid-19. Syukurnya, mereka hanya menjalani isolasi di rumah karantina yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor di kawasan Kemang. Hingga Dedhi tersadar, ia harus bahagia serta tetap bersyukur dalam menghadapi segala ketetapan ilahi.

“Tidak mudah menerima karena saya merasa saya sudah waspada Covid-19. Segala protokol kesehatan sudah dijalankan. Ketika saya masuk RSPG Cisarua saya sudah mulai menulis tiga paragraf berisi kabar dan doa ke grup-grup (WhatsApp). Buat saya penting agar semangat dan meningkatkan imunitas. Tulisan pertama kali itu berjudul Syukur atas syukur.” Sepenggal isinya, “dan sekarang aku menerima penuh syukur isolasi yang kujalani. Barusan ahli paru, opek, sahabatku yang kerja di RS Paru Cisarua bilang, ‘harusnya kamu kena sejak sebulan lalu, Dedh. Tapi ok, lawan.’”

Gubahan itu ternyata menjadi bahan bakar semangatnya dalam menjalani isolasi dengan bahagia di hari-hari berikutnya. Ia bertekad, menuliskan semua proses penyembuhannya. Toh, memang menulis adalah separuh napasnya. Dedhi sudah menelurkan tujuh buku, empat di antaranya adalah novel, yang antara lain berjudul Allah itu Dekat dan Pusaran Tawaf Cinta.

Baca Juga: Kesadaran Masyarakat Membuat Angka Kasus Baru Covid-19 Kian Turun

“Di ruangan isolasi saya harus menghadapi manajemen stres yang luar biasa. Pokoknya saya enggak boleh sedih. Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih hati bahagia dalam menghadapi Covid-19.”

Hari isolasi berikutnya rasa bahagia semakin membuncah. Nikmat ini dilukiskan dalam gawainya berupa coretan berjudul Hati yang Bahagia. Isinya tentang pengalamannya sekamar dengan dua pasien lain di ruang 205 Kaca Piring— ruang sebelum dimasukkan ke kamar superdingin. Salah satu dari mereka mengalami batuk yang cukup kronis.

Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih untuk bahagia.

“Kalau berpegang pada Pak Musthopa bahwa kedua paru-paruku sudah dipenuhi kuman-kuman, ya, wajar kalau aku ditempatkan dengan dua pasien yang benar-benar secara fisik tampak sebagai penyandang penyakit paru-paru karena mereka satunya sering batuk dan satunya sering berdahak. Sedangkan aku tidak. Terus terang aku agak galau,” tulis Dedhi yang kemudian dibagikan ke akun FB-nya.

Syahdan, ia ditempatkan seorang diri di kamar 105 kaca piring. Ia tetap istikamah. Dedhi curahkankan semua rasa dan pengalaman itu lewat frasa. Bahkan satu hari Dedhi mampu menulis empat sampai tujuh tema dalam dinding media sosialnya. Beberapa sajak juga ia ciptakan di balik selimutnya, di antaranya adalah puisi berjudul “Jiwa Merdeka”.

Singkat kisah, di hari ke-20 masa isolasi atau tepat tanggal 23 Agustus 2020, kondisinya semakin membaik. Ia sudah bisa tidur nyenyak lima sampai enam jam per hari. Saking lelapnya, ia mendapat bunga mimpi berjumpa dengan atasannya Rina Robiati dan rekan kerjanya Suharso di kantornya. Sekitar tengah malam ia terbangun dan menuliskan mimpinya itu ke media sosial. Ya, segala kondisi yang dirasakan ia bagikan ke khalayak. Beberapa tema tulisan lainnya meliputi kenikmatan makanan, kenikmatan doa, kenikmatan sastra, dan sebagainya.

Unggahannya dibanjiri respons dari para sahabatnya. Ada yang mendoakan, bertanya kondisi, hingga beberapa menyarankan Dedhi untuk menulis novel.

“Saat saya posting di FB, semua mengusulkan untuk menulis novel lagi tentang kondisi saya. Padahal lagi sakit, tapi itu yang menyemangati saya. Kena Covid-19 berat ini saya belum tahu akan happy ending atau meninggal. Kalau saya sembuh saya akan menulis buku.”

Gelombang nikmat

Tepat pada 24 Agustus 2020, Dedhi diperbolehkan pulang ke rumah setelah dua kali hasil uji usapnya (swab) negatif. Akan tetapi, dokter menyarankannya untuk melakukan karantina mandiri karena kasus Dedhi terbilang berat.

“Bayangkan saya sudah lama isolasi di rumah sakit, sekarang disuruh karantina mandiri lagi, ya sudah saya manfaatkan untuk menulis buku. Ketika saya sembuh, saya seperti ada tanggung jawab moral untuk menulis buku.”

Hari pertama di rumah ia langsung mengumpulkan tulisannya di FB. Dedhi juga menghubungi dokter untuk dimintai penjelasan mengenai penyakitnya secara komprehensif. Menariknya, Dedhi menulis subjudul untuk perawat dan juru masak di RSPG Cisarua. Judulnya: Para Profesional Mulia dan Jiwa Penuh Kebajikan.

Baca Juga: Ini Kebiasaan Baru Masyarakat di Masa Pandemi

“Saya ingin mengangkat pembahasan jiwa kebajikan dari para juru masak yang sudah menghidangkan makanan maknyus sampai membuat saya menangis. Padahal, saya tidak gampang menangis. Makanannya sederhana: nasi, ayam goreng, sayur bening, susu kedelai, tapi terasa lezat di lidah saya.”

Selama 14 hari di rumah Dedhi mampu merampungkan novel berjudul Gelombang Cinta dan Nikmat Sang Penyintas Badai Covid 19. Penulis Qur’anic Intelligence Quotient ini meyakini bahwa segala ketetapan ilahi adalah hamparan karunia tiada batas. Nyaris 400 novel ini ludes dalam jangka waktu kurang dari dua pekan. “Suatu keajaiban,” sebutnya.

Perpustakaan sekolah

Kegemarannya pada menulis barangkali bermula ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Keputran V Pekalongan. Saat jam istirahat, Dedhi cilik memilih pergi ke perpustakaan sekolah lantaran uang saku yang kurang atau terkadang tidak ada. Dari situ ia mulai mengenal pelbagai buku sastra, khususnya sajak. Minat bacanya semakin menggebu ketika ayahnya langganan surat kabar Suara Merdeka. Di waktu senggang, pria kelahiran Pekalongan, 10 Agustus 2020 ini pun kerap mengunjungi perpustakaan penyewa buku yang tak jauh dari rumahnya.

“Meskipun saya dilahirkan dalam kondisi yang kurang berada dan di rumah enggak ada budaya baca tapi kami suka mengikuti informasi. Ibu saya suka mendengarkan radio dan bapak baca koran,” kenangnya.

Fase gemar membacanya berlanjut pada hobi menulis. Di lingkungan sekolah, Dedhi sudah tersohor sebagai penulis cilik. Hingga suatu hari, kawannya berkata, “Tulisanmu mirip dengan buku Lima Sekawan.

Dedhi yang sebelumnya tak mengetahui buku karya Enid Blyton itu pun langsung meminjamnya. “Karena tulisan saya tentang petualangan mungkin seperti mirip dan begitu baca Lima Sekawan saya jadi semakin cinta dengan membaca,” kata Dedhi.

Beranjak SMP ia mulai menulis kolom “BOM/bursa orang muda” di surat kabar Wawasan yang terbit saban sore di Semarang. Tulisan Dedhi dimuat setidaknya dua kali dalam sebulan.

“Tulisan itu semacam opini apa saja. Saya makin mulai percaya diri menulis saat tulisan saya dimuat di kolom itu. Tulisan yang dimuat mendapat honor,” kenangnya lagi.

Kepiawaiannya dalam menjahit narasi membuatnya terpilih menjadi Pimpinan Umum majalah internal Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pekalongan. Ia mengelola Majalah Citra bersama rekan redaksi lainnya. Kegiatan senada berlanjut hingga bangku universitas. Di PKN STAN ia masuk dalam unit kegiatan pers mahasiswa dan bercita-cita menerbitkan satu buku selama hidup. Harapannya terkabul.

Baca Juga: DBS dan Tanijoy Kampanyekan Gaya Hidup “Zero Food Waste” untuk Atasi Perubahan Iklim

“Menulis adalah bagian dari sejarah hidup saya. Satu kalimat yang mewakili hobi saya ini adalah kebahagiaan. Ya, menulis adalah kebahagiaan,” tutup Ketua Umum Senat Mahasiswa STAN (1996–1997) ini.

 

Lanjut baca

Recollection

Komunikasi, Kunci Mencapai Tujuan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Dendi Amrin/Foto: Rivan Fazry

Ia membuktikan keterampilan berkomunikasi berperan vital dalam eksekusi suatu aturan dan kebijakan.

 

Wajah Dendi Amrin barangkali sudah tak asing lagi di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pada masanya, ia merupakan pemandu acara atau master of ceremony (MC) di pelbagai acara Kantor Pusat DJP maupun Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Di era pandemi ini ia kembali eksis sebagai pemateri pelatihan daring bertajuk strategi komunikasi yang dihelat di unit vertikal Kemenkeu. Selasa (25/8) itu, misalnya, Kepala Seksi Pemeriksaan Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Lima ini mengikuti webinar di Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan.

“Saya ingin agar internal (Kemenkeu) kuat kemampuan komunikasinya. Karena bagaimanapun juga kalau komunikasinya enggak bagus, tujuan intinya tidak akan tercapai. Komunikasi itu bukan sekadar pengantar pesan tapi juga penentu keberhasilan kebijakan,” tutur pria yang hangat disapa Dadendi ini kepada Majalah Pajak.

Ia ingin menghapus stigma menyeramkan pada fiskus. Maka, menurutnya, selain berintegritas, fiskus mesti mampu melayani dan mengedukasi masyarakat lewat tutur yang tepat. Itulah yang membuatnya mantap menekuni ilmu komunikasi dan membaginya kepada sesama.

“Saya ingin DJP, walau kuat di core business-nya—pengawasan dan pemeriksaan—komunikasinya juga harus bagus. Kita, kan, kuat banget di auditing, atau hard skill perpajakan, tapi kita jarang mendapatkan ilmu komunikasi yang aplikatif. Kita hanya dapat dari diklat yang terbatas.”

Baca Juga: Fisik Sehat, Kerja Semangat

Ilmu komunikasi memiliki banyak cabang, tetapi yang jamak dipelajari adalah public speaking, negosiasi, dan interpersonal atau cara berkomunikasi one on one—contoh fiskus dengan Wajib Pajak (WP), atasan dengan bawahan. Tiga cabang komunikasi inilah yang seyogianya dikuasai oleh fiskus.

“Tanpa kemampuan dan strategi komunikasi yang tepat, kebijakan atau aturan akan sulit diterapkan. Bagi AR (account representative), bagaimana menggali potensi pajak, kuncinya kemampuan komunikasi yang di atas rata-rata. Karena tugas kita meyakinkan Wajib Pajak supaya memenuhi kewajibannya, bahkan sekarang bagaimana menumbuhkan kepatuhan sukarela,” katanya.

Dadendi lantas mengutip laporan dari National Association of Colleges and Employers Amerika Serikat yang mengungkap bahwa keterampilan komunikasi menempati urutan pertama dalam syarat penerimaan pegawai—indeks prestasi ada di syarat ke-17.

Mengenal karakter

Interpersonal skill memerlukan pemahaman karakter seseorang sehingga mampu menerima keunikan lawan bicara.

“Kalau kita sudah kenal diri sendiri, kita akan bisa self control—tidak memaksakan kehendak, bahkan kita bisa meningkatkan emotional intelligence. Proses memahami menerima perbedaan karakter memudahkan kita berkomunikasi dengan baik,” ucapnya.

Trik mengenal diri sendiri secara mudah yakni dengan memilih karakter warna—tapi bukan warna kesukaan. Warna yang Dadendi maksud adalah manifestasi dari aneka karakter manusia. Teori ini populer dengan sebutan DISC, akronim dari dominance (dominan), influence (berpengaruh), steadiness (stabil), dan compliance (patuh). Biru diartikan sebagai orang yang dominan atau suka berkuasa; warna merah berarti mudah bergaul dan terbuka; kuning berarti konsisten atau pendiam; dan hijau, pemikir.

“Setelah memahami personality, kita akan tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan empat kelompok warna itu. Ingat, komunikasi bukan hanya pengantar pesan, tetapi strategi mencapai tujuan.”

Dalam konteks tugas DJP, strategi komunikasi telah membuktikan perannya dalam membangun kepercayaan WP. Sudah banyak contoh kebijakan DJP yang berhasil karena komunikasi, misalnya program pengampunan pajak, program integrasi data perpajakan dengan beberapa badan usaha milik negara (BUMN), program optimalisasi pemungutan pajak bersama pemerintah daerah, dan sebagainya.

Memupuk bakat

Bakat Dadendi sudah terlihat sejak dia menjadi Ketua OSIS (organisasi siswa intra sekolah) di SMP Negeri 3 Padang, yang mengharuskannya berkoordinasi dengan banyak orang. Ia juga melengkapi kecakapan berkomunikasi dengan menjadi Ketua Regu Praja Muda Karana (Pramuka). Sementara kemampuan berbahasa asing ia dapatkan dari hobi membaca komik, novel, dan mendengarkan lagu berbahasa Inggris.

Saat menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)—sekarang Politeknik Keuangan Negara STAN—Dadendi mulai memberanikan diri menjadi pemandu acara di kegiatan kampus. Ketertarikannya pada bidang ini semakin menggebu setelah ia mendapat mata kuliah Marketing Ekonomi dari Helmy Yahya. “Dia lebih banyak bercerita dalam mengajar. Asyik,” tambahnya.

Baca Juga: Merdeka Adalah Loyal kepada Cita-Cita

Ketertarikannya pada ilmu komunikasi semakin kuat. Ketika bertugas di Kanwil DJP Jakarta Khusus ia selalu menjadi pemandu acara di setiap kegiatan, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi perpajakan kepada WP.

Tanpa kemampuan dan strategi komunikasi yang tepat, kebijakan atau aturan akan sulit diterapkan.”

“Saya senang karena WP kita, kan, WP asing. Jadi, setiap acara saya ditunjuk jadi MC berbahasa Inggris. Walaupun saya enggak jago banget, saya belajar terus. Pernah, kok, saya dikritik secara keras oleh pimpinan (terkait bahasa Inggris),” kenang pencinta musik Britpop ini.

Beruntung atasannya terus mendukung bakat Dadendi dengan memberikan aneka kursus. Salah satunya, kursus MC di Interstudi, lembaga informal yang memiliki program studi jurnalistik, public speaking, broadcasting, MC dan protokoler, dan sebagainya. Lulus dari sana, sekitar tahun 2003, ia terpilih menjadi salah satu MC resmi Kantor Pusat DJP. Beberapa kali ia didaulat menjadi pranata acara rapat pimpinan bersama menteri keuangan.

Menjadi ‘trainer’

Tak berhenti di situ. Dadendi terus mendalami ilmu komunikasi dengan bergabung dan menimba ilmu di Toastmasters International, sebuah komunitas yang fokus pada kegiatan pengembangan komunikasi dan kepemimpinan. Di sini ia mempelajari segala teknik berbicara di depan umum, khususnya bagaimana menjadi trainer yang mampu menyampaikan materi secara teratur, terstruktur, dan terukur.

“Jadi, cara presentasi yang efektif adalah 15 persen pembukaan, 70 persen inti, serta 15 persen kesimpulan. Ingat, pembukaan tidak boleh biasa, harus menarik perhatian dari audiens. Artinya, dalam membuka sebuah materi diperlukan pemilihan diksi dan pembawaan yang sesuai agar mampu memikat peserta. Pembicara dituntut memiliki artikulasi yang tegas, tanpa terbata-bata.”

Semesta mendukung tekadnya. Ketika reformasi perpajakan jilid II, DJP menugaskan Dadendi untuk mengikuti program Indonesia-Australia Specialised Training Project (IASTP), sebuah program kolaborasi DJP dan otoritas pajak Australia. Lewat program itu Dadendi digembleng untuk menjadi seorang trainer reformasi perpajakan kepada pegawai DJP.

“Saya dan para trainer internallah yang keliling Indonesia (KPP) untuk mengajari bagaimana service excellent, kode etik, penegakan hukum, dan aplikasi sistem yang baru waktu itu,” kenangnya.

Tahun 2008, ia berangkat untuk meraih gelar master of arts di Universitas Waseda University, Jepang. Kendati sibuk kuliah, Dadendi masih sempat ke berbagai kota seperti New York, Boston, Seoul, dan Shanghai, mengikuti pelbagai macam perlombaan yang menuntut kelihaian bertutur di muka publik.

Ia bersyukur, pulang ke tanah air ditempatkan di bidang kehumasan di Kanwil DJP Kalimantan Timur dan Direktorat P2humas DJP. Ilmu komunikasi seolah selalu mengiringi langkahnya dalam pekerjaannya sehari-hari.

Baca Juga: Syukur di Detak ‘Jantung Negara’

“Sekarang saya jadi audit manager, istilahnya. Di sini (KPP PMA Lima) Fungsional Pemeriksa Pajak ada 50 orang. Bersama tim, saya harus merencanakan sampai mengevaluasi proses manajemen pemeriksaan. Bagaimana membangun tim yang baik? Kembali lagi pakai ilmu komunikasi,” kata Kepala Seksi Pemeriksaan Terbaik Kanwil DJP Jakarta Khusus 2018 ini.

Terus belajar

Dadendi terus menajamkan bakatnya dengan mengikuti ujian sertifikasi pembicara publik di Indonesia Professional Speakers Association (IPSA). Ia mengaku terinspirasi oleh Ani Natalia, Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan Humas DJP yang terus meng upgrade diri dan kemampuannya.

“Ada orang yang merasa dirinya mahir di suatu bidang, dia enggak mau belajar lagi. Saya enggak mau kaya gitu, apalagi ilmu komunikasi ini social science yang selalu berkembang,” ucap Dadendi.

Lanjut baca

Recollection

Merdeka Adalah Loyal kepada Cita-Cita

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Dok. Pribadi

Keterlibatannya dalam perumusan kebijakan pemulihan ekonomi, membuat Adel semakin yakin dan setia pada mimpinya: menjadi analis keuangan makro.

 

Pembawaan yang asyik dan gaya bahasa kekinian, membuat pemaparan Adelia Surya Pratiwi tentang program pemulihan ekonomi nasional (PEN) begitu mudah dicerna. Kepala Subbagian Strategi dan Manajemen Komunikasi Publik Badan Kebijakan Fiskal (BKF) ini memang kerap menjadi narasumber diskusi virtual bersama komunitas atau forum milenial.

Sabtu (1/8) lalu misalnya, Adel menjadi pemateri di akun Instagram Mezzanine Club bertajuk “Nanti Kita Cerita tentang Pemulihan Ekonomi”. Bahkan tema acaranya pun mengadopsi judul film yang populer di awal tahun.

“Kenapa pemerintah hanya punya skenario berat dan skenario sangat berat? Bukan karena pemerintah enggak punya pemikiran positif, tapi kita ingin membangun sense of crisis agar semua memahami dan bahu membahu,” kata Adel membuka penuturannya.

Sehari sebelum siaran langsung itu, Majalah Pajak telah berbincang langsung dengan perempuan kelahiran 13 November 1988 secara daring. Ia menuturkan, bahwa BKF tengah membangun komunikasi publik yang lebih simpel dan menarik. Dengan demikian diharapkan masyarakat dapat memahami kondisi krisis sekaligus kebijakan yang sedang ditempuh pemerintah. Pemahaman yang komprehensif adalah kunci menangkal kepanikan dan penyebaran hoaks.

“Jadi, komunikasi strategi ini handling everything tentang komunikasi publik. Semua yang berkaitan dengan penuangan isu yang sedang digulirkan pemerintah kita komunikasikan lewat saluran misalnya kita punya media sosial, BKF itu ada Instagram, Twitter, Facebook, website. Kita juga bekerja sama dengan key opinion leaders. Jadi kita membuat satu grand desainapa, siapa, lewat apa, dengan cara seperti apa isu harus disampaikan,” kata Adel.

Baca Juga: Lempar Pancing, Beri Talangan

Adel dan timnya turut bertugas menganalisis sudut pandang pemberitaan utama di media masa. Jika kebijakan pemerintah cenderung ditulis negatif, maka BKF akan melakukan pelbagai strategi, di antaranya mengadakan dialog bersama media sebulan sekali, menyebarkan data kebijakan lewat infografis dan membuat program bernama “Nyibir Fiskal” di akun instagram @bkfkemenkeu.

“Pemulihan ekonomi nasional kan program yang enggak ada jelek-jeleknya. Kebijakan yang menyasarnya semua ke publik. Aku analisis tone pemberitaan media masa itu netral—sesuai data, sesuai apa yang dikatakan. Memang, yang jadi sorotan agak negatif soal implementasi PEN nih—masih dianggap lelet,” kata Adel.

“Kita harus loyal bukan sama pekerjaan, tapi sama cita-cita.”

Kendati demikian, ia menilai pemberitaan itu merupakan kritik yang membangun. Kata Adel, “Itu wajar, kita harus membuka diri terhadap masukan. Jadi, enggak semua pemberitaan negatif itu salah.”

Di dapur kebijakan

Ibarat restoran, BKF adalah dapurnya. Tempat para juru masak meracik bahan makanan sesuai kegunaan, cita rasa, harga, bahkan komposisi gizi. Dalam konteks kebijakan penanganaan pandemi Covid-19 dan program PEN, BKF menjadi tempat menggodok kebijakan berdasarkan data makro, kemampuan fiskal, dan target implementasi program.

Baca Juga: Total Dana PEN Capai Rp 641,17 triliun, Ini Rincian Peruntukannya

Sebelumnya, kita tahu, beberapa pekan setelah Covid-19 masuk ke tanah air, keluarlah Perppu Nomor 1 Tahun 2020 yang kemudian disahkan menjadi UU Nomor 2 Tahun 2020 dan aturan turunannya. Intinya, total belanja untuk mengatasi pandemi ini mencapai Rp 695,2 triliun.

“Namanya Perppu, berarti satu hal yang mendesak. Waktu kita buat itu (Perppu) kita belum ada data pertumbuhan ekonomi sebagai dasar kebijakan. Tapi kita harus cepat menyelamatkan ekonomi biar enggak terpuruk terlalu dalam. Akhirnya, APBN harus revisi dua kali untuk mengakomodasi kecukupan bantuan dari besarnya,” jelas Adel.

Kendati bersifat mendesak, Adel memastikan seluruh kebijakan didasarkan pada asumsi dan tujuan yang kredibel. Ia mengutip penuturan ekonom Dana Moneter Dunia (IMF) Olivier Blanchard yang mengatakan bahwa, di situasi krisis kebijakan ekonomi akan diarahkan ke tiga hal—sektor kesehatan, orang yang kehilangan pekerjaan atau terpaksa dipotong pendapatannya, dan dukungan bisnis.

“Semua jenis kebijakan dunia seperti itu, yang pembeda hanya angkanya. Negara maju size yang diberikan lebih besar, negara berkembang lebih kecil karena kapasitas fiskalnya lebih rendah,” kata Adel yang juga juga anggota tim perumus kebijakan monitoring dan evaluasi program PEN.

Adel mengingat, di awal-awal, tim perumus bekerja tak kenal waktu. Sehari saja tim bisa rapat dengan pelbagai kementerian, lembaga, ekonom, akademisi, dan pemangku kepentingan hingga lewat tengah malam. Selain menghitung alokasi anggaran, tim juga harus menentukan mata anggaran baru, seperti insentif untuk tenaga medis. Analisis implementasi pun harus dielaborasi secara detail sehingga bantuan dapat cepat dan tepat sasaran.

“Kita mikirin bukan hanya masyarakat berpenghasilan rendah, tapi kelas menengah gimana—harus lay off, atau di potong gajinya 50 persen. Terus enggak boleh pulang ke kampung, mereka harus ngekos—gimana bayarnya?” ujar Adel.

Langkah terbaru, pemerintah dan Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan burden sharing. Kebijakan ini menurutnya merupakan kebijakan yang juga dilakukan di negara-negara lain.

“Saya lebih suka menyebut burden sharing dengan responsibility sharing. Bayangkan dalam menangani ini (Covid-19) harus dikeroyok. Aku ingat banget APBN harus revisi dua kali untuk mengakomodasi kecukupan bantuan dari besarnya. Instrumennya semua sama untuk bantuin ekonomi. Kita melibatkan DPR, BPK, KPK, kepolisian. Ini suatu banget, gotong royong,” ungkap Adel. Ia bersyukur dapat terlibat langsung merumuskan kebijakan di situasi yang Menteri Keuangan Sri Mulyani kerap katakan sebagai “extraordinary” ini. Ia semakin yakin untuk menjadi seorang ekonom.

Mengejar mimpi

Sejatinya, mimpinya itu baru bersemi ketika Adel lulus Program Diploma-III Perpajakan PKN STAN dan mulai bekerja di Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF di tahun 2010. Di sana, ia ditugaskan membuat laporan analisis perkembangan pasar setiap hari. Momen itu dimanfaatkan Adel untuk belajar memahami kebijakan makro secara lebih spesifik. “Bahkan aku menyarikan berita-berita keuangan juga,” kenangnya.

Selanjutnya, Adel ditempatkan di Subbagian Pasar Modal BKF. Di fase ini Adel bekerja sembari meneruskan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan lulus di tahun 2012. Di UI, ia mengambil disiplin ilmu manajemen keuangan perbankan. Alasannya, selain menarik, ia punya pengalaman ditugaskan dalam tim perumusan RUU Bank Indonesia.

“Kita bikin naskah akademik, kita benar-benar riset kebijakan sektor keuangan di negara lain seperti apa. Karena di tengah-tengah pusaran tim perumusan aku sadar, ‘Wih, so much that I dont know’. Menurutku, di Indonesia jarang ada yang memiliki pengetahuan macrofinance. Oke, aku akan mendalami ini,” kata Adel.

Setahun kemudian, ia mendapat beasiswa dari Chevening—beasiswa dari Inggris—untuk kuliah di Departemen Ekonomi Universitas Birmingham di Inggris. Adel lulus dengan spesialisasi manajemen keuangan internasional dan perbankan.

Dalam tesisnya, Adel menulis, indikator harga surat utang negara emerging market ternyata bukan hanya dipengaruhi oleh kemampuan bayar (peringkat kredit) saja, melainkan dipengaruhi oleh kondisi likuiditas global.

Baca Juga: Menguji Kredibilitas Fiskal Saat Krisis & Pandemi Covid-19

“Aku masuk BKF (2010) merasa ‘I have to fill the gap’. Karena di sekeliling aku—di BKF, orang-orang sangat educated, s2 dan s3 banyak. Aku semakin yakin, kalau mau besar kontribusinya, harus kuliah lagi,” tambahnya.

Selain itu, dorongan lainnya berasal dari nasihat ayahnya, Ngudi Irianto, yang berpesan agar ia harus selalu fokus mengejar mimpi dibandingkan memikirkan jabatan tertentu. Sedangkan ibundanya, Tuty Hidayati berharap Adel menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Hanya pendidikan yang bisa mengangkat derajat keluarga.

Adel mengenang, “Kata-kata Papah yang enggak pernah aku lupain sampai sekarang adalah, kita harus loyal bukan sama pekerjaan, tapi sama cita-cita. Jadi, mau ditempatkan di mana saja, jabatan apa saja, kita tetap fokus pada cita-cita. Memikirkan bagaimana kita berkontribusi. Kita hormati sama orang karena value itu.”

Kini, Adel tengah merencanakan untuk melanjutkan studinya. Ia berharap rencananya ini dapat terlaksana di tahun depan. Sekali lagi, ia ingin loyal pada mimpinya agar dapat berkontribusi lebih banyak untuk tanah air.

“Pemuda sering mengartikan, ‘pastikan kamu punya kebebasan, ayo bebas’. Itu justru mengerangkeng dirinya sendiri. Aku lebih suka mengartikan kemerdekaan adalah bertanggung jawab pada cita-citanya, pekerjaannya, dan hidupnya,” tutup Adel.

Baca Juga: Langkah “Extraordinary” Hadapi Resesi

 

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News1 hari lalu

Ekonomi Kuartal ke-4 Membaik, Pemerintah Tetap Fokus Menjaga Pertumbuhan

Kasus pandemi COVID-19 di dunia masih mengalami eskalasi dan memicu ketidakpastian. Di Indonesia, kasus COVID-19 di beberapa daerah terkendali. Namun,...

Breaking News2 hari lalu

Dukung Kemajuan Pasar Modal Indonesia, DJP Terima Penghargaan

Jakarta, Majalahpajak.net – Peran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terhadap kemajuan pasar modal Indonesia mendapat penghargaan dan apresiasi dari para regulator...

Breaking News2 hari lalu

Ekonomi Asia Mulai Kembali Stabil

Jakarta, Majalahpajak.net – Ekonom Bank DBS Group mengatakan, laju pemulihan ekonomi di tengah pandemi global di beberapa negara  kawasan Eropa,...

Breaking News3 hari lalu

Mengabdi dengan Ikhlas, Menjaga Martabat dan Prestasi

Jakarta, Majalahpajak.net – Merayakan ulang tahun ke-5 pada 5 Oktober lalu, Kanwil DJP Jakarta Selatan II mengadakan kegiatan syukuran sekaligus...

Breaking News1 minggu lalu

Ini Kebiasaan Baru Masyarakat di Masa Pandemi

Jakarta, majalahpajak.net – Pandemi Covid-19 telah menghantam seluruh sendi ekonomi Indonesia: hotel-hotel sunyi dan pusat perbelanjaan sepi pengunjung. Menurut Kementerian...

Breaking News1 minggu lalu

DBS dan Tanijoy Kampanyekan Gaya Hidup “Zero Food Waste” untuk Atasi Perubahan Iklim

Jakarta, Majalahpajak.net – Economist Intelligence Unit melakukan penilaian ketahanan pangan (Food Sustainability Index 2018) dan menemukan bahwa Indonesia menjadi negara...

Breaking News1 minggu lalu

Majukan Produk Indonesia, Kemenkominfo Adakan Pelatihan Wirausaha Digital untuk UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar pelatihan digital untuk warga negara Indonesia dan perempuan pelaku Usaha Mikro, Kecil,...

Breaking News2 minggu lalu

Menparekraf Ajak Pulihkan Sektor Pariwisata melalui Penguatan UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net– Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menekankan pentingnya kebijakan strategis bagi pelaku...

Breaking News2 minggu lalu

Ini Prosedur Permohonan Persetujuan Penerimaan Kredit Luar Negeri

Jakarta, Majalapajak.net – Dampak pandemi Covid-19 di Indonesia telah berimbas ke sektor ekonomi dan keuangan. Antara lain melambungkan kebutuhan pembiayaan...

Breaking News2 minggu lalu

Indonesia Dorong Kerja sama Pembiayaan Infrastruktur dan Teknologi Digital

Jakarta, Majalahpajak.net –Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN menggelar meeting virtual ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors’...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved