Terhubung dengan kami

Tax Light

CAMEO

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Seorang pemimpin hebat itu “dilahirkan” atau “diciptakan”?

Peran sebagai pemimpin, melahirkan teori dalam berjuta buku dan berita. Ada orang yang menjadi pemimpin karena selembar kertas pengangkatan.  Ada yang menjadi pemimpin dengan bantuan nilai-nilai relasional yang tinggi dan dia anut selama proses mencapai kepemimpinan. Ada juga yang menjadi pemimpin karena pilihan dan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.

Saat kita mempercayai bahwa seorang pemimpin itu dilahirkan, akan terlintas sosok Indira Gandhi dan keluarganya yang membesarkan India. Indira, putri dari Jawaharlal Nehru yang merupakan Perdana Menteri India, memiliki putra Rajiv, yang juga terpilih sebagai pemimpin India dalam kurun masa berbeda. Apakah itu karena ada genetis kepemimpinan mengalir di darah orang tua ke anak? Bagaimana dengan George Herbert Walker Bush sang ayah dan George Walker Bush sang anak yang sama-sama pernah menjabat sebagai Presiden USA? Apakah karakter mereka sesuai dengan teori kepemimpinan?

Dan bagaimana apabila pemimpin tidak berasal dari trah pemimpin? Mereka dibentuk. Siapa yang membentuk? Tempaan proses kehidupan masing-masing.

Kembali kepada pemimpin.

Kita sangat mengenal istilah Tut Wuri Handayani. Ini  bukan hanya slogan dari KI Hajar Dewantara. Artinya, Pemimpin yang memberi dorongan dari belakang. Pendorong, kata ini menyibakkan karakter yang solid. Namun saat ini, sulit dicari pemimpin yang mendorong. Apa yang sedang terjadi?

Proses penuaan bumi saat ini membuat kita lebih mengenal pemimpin yang memiliki panggungnya sendiri. Dan cenderung abai pada pemimpin yang tidak banyak terekspos oleh media atau media sosial. Lantas apakah performa kepemimpinan juga dikaitkan dengan kemunculan dan popularitas?

Sesuai dengan Hukum Dasar yang Kokoh yang disampaikan John C. Maxwell dalam buku 5 Levels of Leadership, dasar kepemimpinan adalah rasa percaya. Kemudian, Jati diri anda ditentukan oleh siapa yang tertarik pada Anda, demikian Hukum Magnet Kepemimpinan. Maxwell menetapkan level kepemimpinan tertinggi yaitu Kepemimpinan Puncak, di mana di level ini secara alamiah orang-orang mengikuti pemimpin yang lebih kuat dari mereka karena respek. Ketika seseorang sudah memilih jalurnya untuk menjadi seperti apa, maka publik akan menilai kinerjanya dengan nyata. Berita sebaik apapun, tetap akan dikonfrontasi dengan kenyataan yang belum tentu dapat dipercaya. Dan seorang pemimpin, mewakili nama baik instansi tempatnya mengemban amanah, menjadi sumber trust dan distrust. Bisa jadi pahlawan, atau korban.

Apabila dikonversikan gelar kepemimpinan dalam kepemerintahan, maka kepemimpinan yang terstruktur merupakan modalitas suatu pemerintahan. Unsur kepemerintahan tersebut tidak hanya ditentukan individu sebagai pemimpin, namun juga institusi sebagai unit kepemimpinan. Setiap institusi dapat meng claim unitnya sebagai pemimpin, paling berperan dalam pemerintahan, paling dipercaya, dan seterusnya. Setiap institusi atas nama pemerintah, berperan dalam tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Apabila menukik kembali ke dalam pemetaan pengumpulan penerimaan negara, mau tidak mau kita akan melihat ke institusi yang selama ini berperan dalam pengumpulan setoran pajak kepada negara. Dialah Direktorat Jenderal Pajak, yang memiliki tiga puluhan kantor wilayah tersebar di seluruh Indonesia, tiga ratus empat puluhan kantor pelayanan pajak, dan dua ratusan kantor penyuluhan, pelayanan dan konsultasi perpajakan. Instansi yang menjadi tempat bernaung 40 ribuan pegawai ini memiliki tanggung jawab di level empat kepemimpinan. Pertama,  memastikan bahwa perkembangan kesejahteraan akan terus terjadi. Kedua, melibatkan banyak hal untuk memberikan kepuasan kepada setiap individu secara mendalam. Ketiga, mengharuskan adanya rasa aman di dalam mengembangkan proses bagi orang lain. Untuk bisa naik kelas ke level lima kepemimpinan, maka kerjasama dengan pihak luar dalam mendukung  kinerja sangat dibutuhkan, selain tetap berfokus pada kerja keras dan strategik.

Itu semua menjadi tanggung jawab setiap instansi pemerintahan? Tentu saja! Apakah kita semua menyadarinya? Belum tentu!

 “Seorang pedagang bakso, menjadi pemimpin yang menginspirasi komunitas penjual bakso untuk membayar pajak, bahkan meluas kepada komunitas UMKM Sahabat Pajak.”

Saat ini, pemimpin yang menginspirasi sering kali tak terdeteksi, karena ruang lingkup mereka yang terbatas. Seorang pedagang bakso, menjadi pemimpin yang menginspirasi komunitas penjual bakso untuk membayar pajak, bahkan meluas kepada komunitas UMKM Sahabat Pajak. Seorang penjual bir pletok, bisa saja menyebarluaskan nilai religi untuk mencerahkan wawasan kesadaran pajak, tanpa meminta bayaran. Seorang dosen dan temannya mencetuskan aplikasi untuk membantu usahawan kecil dan menengah membuat laporan keuangan menjadi mudah dan responsif kewajiban perpajakan.

Gerakan kepemimpinan mereka tanpa terukur sesungguhnya sudah mencapai taraf mengembangkan orang lain.  Itu ada di level empat teorinya Maxwell. Gelombang kepemimpinan ini kelak akan masif dan tak terelakkan menanamkan benih edukasi dan kesadaran bagi masyarakat umum. Kelak, keyakinan dan kepercayaan Wajib Pajak kepada otoritas perpajakan akan semakin meningkat dengan terbentuknya institusi yang kuat, kredibel dan akuntabel. Sesuai dengan tujuan reformasi perpajakan.

Baiklah kita kemudian berpikir bahwa masalah kepemimpinan dewasa ini ternyata didominansi oleh transaksi berita. Pemimpin yang lahir ke permukaan bukanlah pemimpin yang dilahirkan atau dibentuk, melainkan pemimpin yang digadang-gadang. Yang adanya karena ada harapan. Dan adanya harapan karena ingin mewujudkan suatu tujuan. Seperti virus, kepemimpinan masa kini menularkan kepercayaan dan ketidakpercayaan secara simultan. Dan itu berdampak pada unit kerjanya. Ketika suatu instansi besar bertempur untuk mewujudkan cita-cita, maka gempuran atas kebenaran yang ditegakkan menjadi sumber kelemahan. Berita penangkapan atas oknum tertentu akan menjadi nila setitik di instansi mana saja. Lebih parah bila berujung pada penodaan citra.

Seandainya boleh berangan-angan… apabila suatu saat transaksi berita ditiadakan. Misalnya dengan melakukan pemadaman listrik sementara, atau kewajiban tidak menggunakan elektronik dan cahaya seperti saat hari besar keagamaan, Nyepi.  Kita akan kembali seperti zaman dulu ketika keberhasilan muncul di waktu yang pantas untuk diwartakan. Mungkin menjadi berita terakhir, seperti pemimpin yang muncul sekilas. Seperti kemunculan Cameo.

Saat semua sepi, kita belajar mengenali bahwa,  pemimpin yang hebat akan muncul dengan sendirinya, sekedar memberi pertanda bahwa dia ada. Dialah, sang Cameo.  Durasi kemunculannya tidak lama. Dia tidak berbicara. Perannya tidak terlalu ditonjolkan. Tapi dia berperan.

Seorang Cameo, seperti kata Vijay Eswaran, memiliki dunia heningnya sendiri. Kebenaran  tertinggi yang dia ketahui hanya terdapat dalam keheningan, bukan dalam kata-kata yang terbatas. Dan dia paham peran dirinya sendiri.

Seandainya, di tengah gelombang narsisme kepemimpinan dewasa ini, semua kita paham akan esensi Cameo….

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Tax Light

Gnothi Seauton

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Saat target penerimaan pajak dapat dicapai dengan bantuan semua pihak dalam menegakkan kesadaran perpajakannya, Indonesia akan semakin kuat dan merdeka. Usia harapan hidupnya pun semakin meningkat.

Saat gempa dan bencana melanda Indonesia dari ujung ke ujung, ada kalimat tunggal meluncur dari seorang sahabat. “Apa artinya semua ini?” Gempa di Lombok Utara bahkan terasa sampai Bali dan Banyuwangi, sementara pengujung pagi di Bogor dinginnya sangat menusuk tulang. Alam mulai memberi tanda melalui sinyal tsunami dan getaran bumi. Kemudian kita mulai menghitung usia bumi yang semakin menua. Dan pertanyaan sahabat tadi terngiang kembali di telinga. Apa artinya semua ini?

Berbicara tentang tua, maka bayangan manusia berambut putih dengan tubuh melengkung akan tergambar. Namun, ada penggolongan usia menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun; lanjut usia (elderly) 60-74 tahun; lanjut usia tua (old) 75-90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

Indonesia, bertambah usia setahun di tahun 2018 ini menjadi 73 tahun. Bila kita gambarkan Indonesia sebagai sosok manusia, maka usia ke 73 ini dia dalam kisaran lanjut usia. Indonesia sudah tidak bekerja bila masa pensiun pegawai ditetapkan dari usia 58 tahun sampai 65 tahun. Indonesia, seharusnya menjadi manusia yang menikmati masa tua. Dalam realita, Indonesia menjadi lukisan yang absurd saat pembangunan masih bergulir di kota-kota, menelan anggaran negara dengan fantastis, tidak pernah tidur dan reses, selalu terjaga dari subuh sampai tengah malam sampai subuh dan keesokan…

Indonesia sungguh sangat produktif di usia tua. Persis seperti ketika Jepang memercayakan produktivitas tidak hanya berhenti di usia lansia, sehingga pejabat maupun tokoh masyarakat berusia 70 tahun masih tetap digdaya di eranya. Saat ini, lebih dari setengah jumlah laki-laki Jepang berusia antara 65-69 tahun masih memiliki pekerjaan. Hebatnya lagi, berdasarkan data CIA World Factbook 2011, usia harapan hidup di Jepang 82.25, sementara Indonesia hanya 70,76.

Data tahun 2017 mengenai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari Badan Pusat Statistik ( BPS) menyatakan bahwa angka harapan hidup Indonesia adalah sebesar 70,81 dan peningkatan IPM menandakan harapan untuk hidup, diukur dari dimensi kesehatan, harapan hidup, sekolah, maupun hidup layak, semakin panjang (kompas.com). Berarti pada usia kepala tujuh lewat tiga itu, Indonesia memiliki harapan panjang untuk hidupnya.

“Apabila pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan telah merata di jajaran pemerintahan, maka tak pelak lagi, seluruh warga negara akan mengikutinya dengan suka rela.”

Indonesia, bukan masyarakat wajib pajak, karena dia bukan manusia. Tetapi kita yang mengaku sebagai warga negara Indonesia tentu akan paham bila usia harapan hidup seseorang ternyata ditentukan oleh unsur kesehatan, fasilitas sekolah, kesejahteraan dalam berkehidupan yang layak sebagai penduduk, secara eksplisit semua dipenuhi oleh peran pajak yang menopang anggaran suatu negara. Saat kontribusi pajak nyaris mendominasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan target penerimaan dapat dicapai dengan bantuan semua pihak dalam menegakkan kesadaran perpajakannya, usia harapan hidup bangsa Indonesia diprediksi akan semakin meningkat.

Lantas kita akan berpikir semua, bagaimana caranya berumur panjang?

Socrates, seorang filsuf Yunani, bicara tentang cara mengenali diri sendiri. Gnothi Seauton—kenalilah dirimu.

Ini adalah pernyataan filosofis yang sangat esensial. Ketika seorang manusia belajar mendengarkan suara dari dalam dirinya, maka tentu dia akan banyak belajar tentang dunia kecil miliknya. Jagat cilik, jagat gede. Dunia kecil dalam dirinya melambangkan dunia besar kehidupannya. Seseorang yang bisa mencapai usia panjang dengan tingkat kebahagiaan tinggi, tentunya sangat kenal pada dirinya. Ketika dia mendapatkan ujian, maka dia berpikir, apakah ujian ini merupakan pembelajaran? Ketika dia menerima anugerah dalam bentuk kekayaan, pangkat dan jabatan, maka dia akan berpikir, apakah anugerah itu merupakan batu ujian selanjutnya? Ketika seorang pengusaha muda menerima tambahan penghasilan luar biasa di bisnis yang semakin maju, maka dia tentu berpikir, rezeki ini buat dia sajakah? Atau buat dia sedekahkan? Atau buat dia bayarkan dalam bentuk pajak yang menjadi kewajibannya sebagai warga negara? Dan bisa saja di zaman now, seorang ayah tersedak saat makan ketika anaknya yang bersekolah di SD kemudian bertanya dengan polos, “Ayah, pernah bayar pajak, enggak?”

Berpikir, membuat seorang manusia belajar mengenali dirinya sendiri. Karena itu kita disarankan untuk terus bepikir selama kita bisa. I think; therefore I am, kata Rene Descartes. Dan pemikiran yang timbul dari ketidaknyamanan akan membuat kita resah, kemudian mencari jawaban di luar tubuh kita sendiri, di dunia luar. Persis ketika seorang wajib pajak usaha bengkel yang mendapat surat imbauan dari kantor pelayanan pajak tempatnya terdaftar, maka dia mempertanyakan, mengapa surat itu mampir ke bengkelnya, bukan ke bengkel sebelah?

Dan dia pun menuntut equal treatment pada kantor pajaknya.

Itulah jawaban yang dicari di luar tubuh kita. Saat kita mendapati teman bahagia, atau memperoleh promosi dan mutasi di daerah yang tidak kita sukai, maka kita mencari jawaban di luar tubuh kita. Mengapa harus saya? Mengapa bukan dia? Atau sebaliknya, mengapa harus dia dan bukan saya?

Apabila jawaban dicari di dalam diri, maka mungkin saja jawaban yang keluar adalah… Karena memang kamu yang diharapkan menjadi role model, dan bukan dia.

Maka, penuhi saja surat imbauan itu, langkahkan kaki ke kantor pajak, dan cari jawaban di sana.

Sejatinya, orang Indonesia memiliki kepatuhan yang tinggi atas role model yang diharapkan diperoleh dari pimpinannya. Itu disebutkan pada model pertama teori National Culture Insight dari Geert Hofstede yaitu model Power Distance Index. Sehingga, apabila pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan telah merata di jajaran pemerintahan, maka tak pelak lagi, seluruh warga negara akan mengikutinya dengan suka rela.

Bagaimana cara membuat sang role model berperan sebagai role model?

Gnothi Seauton. Sudah dijawab Socrates dua puluh lima abad yang lalu.

Usia Indonesia sudah 73 tahun. Kalau pernah membaca cerita inspirasi tentang seseorang di akhir hayat yang menyesali mengapa di awal langkah hidupnya dia bercita-cita ingin mengubah dunia? Sementara yang dibutuhkannya hanyalah mengubah dirinya sendiri untuk bisa menyaksikan dunia berubah dalam tataran pemikirannya? Maka, siapa pun kita saat ini, tidak akan bisa mengubah Indonesia. Kita hanya bisa mengubah diri kita sendiri, dengan tetap berhak merasa merdeka.

Mengutip Sukarno, Presiden pertama Indonesia, yang mengobarkan semangat dengan ucapan penuh bara. MERDEKA semua! Tuhan bersama kita dan kemerdekaan ini akan kita jaga sampai akhir hayat!

Lanjutkan Membaca

Tax Light

CARPE DIEM

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

Adakah yang pernah berpikir atau bermimpi bahwa 73 tahun kemudian tanggal tercetuskan peran pajak bagi bangsa itu dinobatkan menjadi Hari Pajak?

Memiliki visi, sama dengan menuangkan bayangan dari alam pikiran ke dalam kenyataan. Orang boleh saja berteriak untuk mencapai impian. Namun, hanya sang pemimpi yang dapat mewujudkannya menjadi kenyataan yang berhak disebut sebagai pemenang. Kenyataannya, sang pemimpi bisa saja tidak menyadari bahwa apa yang dia impikan adalah sesuatu yang akan menegakkan martabat suatu bangsa dan negara.

Maka, mereka yang mencetuskan pentingnya pajak bagi Indonesia, bisa disebut pemimpi. Impian, atau hasil perenungan, mungkin saja terjadi di masa reses BPUPKI.  Seorang  Radjiman Wedyodiningrat mencetuskan pentingnya pemungutan pajak sehingga harus diatur hukum, yang kemudian dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Dasar kedua yang disampaikan pada 14 Juli 1945. Pada Bab VII Hal Keuangan Pasal 23 butir kedua, semuanya kemudian tertulis, “Segala pajak  untuk keperluan negara berdasarkan Undang-Undang.”

Adakah yang pernah berpikir atau bermimpi bahwa 73 tahun kemudian tanggal tercetuskan peran pajak bagi bangsa itu dinobatkan menjadi Hari Pajak?

Radjiman sudah tiada saat 14 Juli 2018 itu datang. Generasi penerusnya maju menerima penghargaan untuknya sebagai Tokoh Pencetus Pajak dalam UUD. Ia menjadi bagian dari sejarah yang melandasi latar belakang Hari Pajak. Sejarah, adalah suatu kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seorang tokoh, masyarakat, dan peradaban, menurut Herodotus, Bapak Sejarah Dunia (http://www.pajak.go.id/article/pajak-riwayatmu-dulu-dan-kini). Dan Pajak, adalah sejarah itu sendiri, karena kisah adanya bahkan sudah dimulai sejak berabad-abad lalu. Sang cucu tentu saja merasa bangga menjadi keluarga seorang tokoh sejarah. Atau mungkin merasa terharu, terkejut, tidak percaya, sama ketika kita mendapati kenyataan bahwa orangtua yang selama ini biasa-biasa saja terhadap kita, ternyata lebih dihormati di luar rumah daripada di dalam rumahnya sendiri.

Kenyataan itu membuat hari yang kita jalani terasa membahagiakan. Maka terngianglah suatu frasa dalam Bahasa Latin yang artinya Petiklah HariCarpe diem. Horatius  Flaccus atau Horace, seorang penulis puisi pada zaman Kaisar Agustus, yang pertama kali mengucapkannya. Carpe diem, quam minimum credula postero.  Manfaatkan hari ini, petiklah hari ini, secara lebih optimal dan tidak menunda sesuatu hingga hari esok. Hari ini. Saat ini. Bukan esok.

Carpe diem dapat dimaknai dengan mempelajari sejarah. Sejarah bergerak tanpa menunda, sementara manusia banyak yang berperilaku menunda-nunda pekerjaan yang dikenal dengan istilah prokrastinasi.  Pekerjaan yang dikejar untuk hari ini, dapat menggelorakan potensi manusia walaupun optimalitasnya dalam bekerja tidak mengharap penghargaan.

Namun, jujur saja, apakah setiap manusia menyadari potensinya? Seorang mantan dirjen pajak yang memiliki jiwa seni tinggi bercerita dalam ruang tunggu sebelum acara Hari Pajak. “Orang selalu bicara orang lain memiliki potensi, padahal sebenarnya dia sendiri memiliki potensi juga, tapi tidak selalu menyadarinya”.

Dan bisa dipastikan, potensi akan terkubur bila kita memiliki perilaku prokrastinasi. Apabila potensi terkubur, apakah kita sempat memikirkan bagaimana cara berprestasi?

Angela Duckworth dalam bukunya GRIT, menceritakan pertanyaan menarik yang dilontarkan Scott Barry Kaufman, seorang psikolog. Di masa kecilnya, ia dimasukkan kategori anak berkebutuhan khusus. Saat mengikuti tes IQ, hasilnya adalah dia dikirim ke sekolah khusus anak dengan disabilitas belajar. Di usia remaja Scott bertemu dengan seorang guru yang percaya pada potensinya. Bakat dan potensinya bermain selo terasah dengan baik, bergabung dengan paduan suara, jagoan musik, dan semua itu berjalan dalam genggaman kepercayaan yang tepat dari seorang guru. Sebelumnya, Scott sangat ingat ketika psikolog menggambar kurva berbentuk bel kepadanya dan menunjuk puncak kurva dan mengatakan itu adalah bagian rata-rata. Lantas sang psikolog menunjuk arah kanan kurva dan bercerita bahwa itu adalah kelas berbakat, sebelum menunjuk ke arah kiri kurva dan menyatakan, itulah posisinya saat itu. Di sebelah kiri rata-rata bakat!

Pertanyaan Scott sederhana saja. Pada titik manakah, prestasi mengalahkan potensi?

Psikolog itu dikabarkan menyuruh Scott keluar.

Human potential is the same for all. Your feeling “I am of no value” is wrong, absolutely wrong. You are deceiving yourself. We all have the power of thought – so what are you lacking?  If you have willpower, then you can change anything. It is usually said that you are your own master.

Itu kata-kata bijak Dalai Lama.

Sederhananya, setiap manusia memiliki potensi yang sama. Pemikiran bahwa kita enggak punya nilai atau potensi, itu salah dan sama dengan membohongi diri sendiri. Kita semua memiliki kekuatan pikiran, jadi apa yang kurang dari dirimu? Jika kita mempunyai kekuatan tekad, kita bisa mengubah apapun! Itu artinya kamu adalah tuan dari dirimu sendiri.

Itulah seharusnya jawaban sang psikolog sebelum menyuruh Scott keluar. Mungkin dia tidak pernah membaca nasihat Dalai Lama.

Sejatinya, pertanyaan itu perlu direnungkan dalam-dalam. Prestasi dari pencapaian penerimaan pajak tertinggi dari tahun 2004 sampai saat pernah mencapai lebih dari 100% di tahun 2004 dan 2008. Selain  tahun itu pencapaian hanya berkisar 80 sampai 90% Nasional. Jawaban klasik adalah tingkat kepatuhan Wajib Pajak masih rendah atau dialihkan pada kualitas pelayanan dan frekuensi sosialisasi.

Apabila kita mau jujur, potensi penerimaan jauh lebih besar dan belum tergali. Dengan bergulirnya reformasi perpajakan jilid tiga, permasalahan yang menghambat masalah pelayanan, sosialisasi dan lain-lain teknis ditengarai terjawab oleh sistem yang bergerak secara mekanis dari hulu ke hilir, nantinya.

“Carpe diem dapat dimaknai dengan mempelajari sejarah. Sejarah bergerak tanpa menunda, sementara manusia banyak yang berperilaku menunda-nunda pekerjaan yang dikenal dengan istilah prokrastinasi.”

Kendala tinggal di awareness masyarakat terhadap pajak.

Berdasarkan sejarah di Buku Jejak Pajak Indonesia yang memuat perihal pajak dari Abad ke-7 sampai tahun 1966, pemungutan pajak zaman kolonial diterapkan atas eksploitasi kaum pribumi. Selain menanamkan mental terjajah, rupanya kolonialisme menyisakan perspektif bahwa pajak dipungut bukan untuk kemakmuran rakyat, karena banyak dimanfaatkan untuk kepentingan penjajah dan kaki tangannya. Apabila mindset ini berurat berakar dalam pikiran bawah sadar maka dia akan menjadi unsur genetis bagi keturunan anak dan cucunya. Maka, pajak dimaknai secara turun-temurun, berupa paksaan.

Seandainya pemaknaan ini bisa diubah secara turun-temurun pula bahwa pajak itu penting, dimaknai dengan berbagi dan kebersamaan menopang kebutuhan negara, maka inilah pentingnya edukasi dalam program inklusi pajak yang mulai merambah ke pendidikan sejak usia dini sampai mahasiswa.

Dalam rangkaian Hari Pajak 14 Juli, hati berbagi dimanifestasikan dalam Kegiatan Pajak Peduli di mana serentak wakil pegawai pajak se-Indonesia menyambangi rumah sakit, panti asuhan, yayasan kanker, rumah jompo, warakawuri, penderita cacat TNI dan orang tidak mampu. Pajak adalah representasi negara. Dan dia hadir bukan saja di saat masyarakat sukses sehingga omzetnya tinggi dan terkena surat imbauan, tetapi juga hadir di tengah mereka yang sakit dan menderita. Hari itu, kegiatan tersebut menuai doa dari setiap mereka yang dikunjungi untuk amanah yang diemban oleh 42 ribu pegawai pajak dari Sabang sampai Merauke.

Ramah pajak juga ditunjukkan oleh kebijakan yang mengakomodasi tuntutan masyarakat, contohnya penurunan tarif pajak UMKM menjadi 0.5% diharap dapat membantu cash flow UMKM sehingga dapat digunakan sebagai tambahan modal usaha. Setiap orang yang suka berhitung paham bahwa penurunan tarif ini akan menggerus penerimaan pajak juga, sehingga di sinilah perlu kampanye awareness pajak digalakkan. Harapannya, setiap pelaku usaha baik yang baru ataupun telah memulai usaha, sadar akan pemenuhan kewajiban perpajakannya, langsung mendaftar sebagai wajib pajak dan dapat menghitung apakah dari tambahan penghasilan ada jumlah nominal untuk disetor ke negara?

Tuntutan lain sebenarnya hanya kemudahan, bagaimana cara membayar yang tidak merepotkan, dan inilah tantangan. Saat semua mekanisme beralih ke aplikasi dan teknologi maka masyarakat di remote area akan tersedak sendiri. Bagaimana cara bayar pajak gampang di wilayah susah sinyal? Satu lagi, masyarakat wajib pajak bukan hanya generasi millenial. Masih banyak generasi baby boomers yang sukses berusaha namun gagap teknologi. Dan masih ada pesan beredar di jejaring sosial bermuatan persepsi pajak dibandingkan dengan negara Arab, dan ketidakpahaman atas kontribusi pajak untuk pembangunan.

Singkatnya, masyarakat perlu sangat tahu ke mana uang pajak digunakan? Katakanlah dari 100 ribu rupiah uang pajak, maka 19 ribu rupiah dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, 20 ribu rupiah untuk membiayai Pendidikan, lima ribu rupiah untuk menjamin kesehatan, empat ribu rupiah untuk subsidi energi dan empat ribu rupiah juga untuk subsidi nonenergi, sembilan ribu rupiah untuk menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan, 27 ribu rupiah untuk lainnya seperti pelayanan umum, bansos, gaji kementerian dan Lembaga, surat berharga negara, dua ribu rupiah untuk dana desa dan sisanya untuk transfer ke daerah.  Pemahaman yang sangat mendasar, karena dengan tiadanya pajak, maka keberlangsungan pembangunan dapat terhenti dan tidak tergantikan.

Ketidaktahuan bukanlah ketidakpedulian. Semua memerlukan sentuhan, juga saat edukasi perpajakan berlangsung ke segenap lapisan. Maka, adalah menjadi tugas besar seluruh pegawai pajak untuk menyentuh hati masyarakat demi membangkitkan kesadaran mereka atas peran pajak bagi negara. Dan itu dilakukan tidak dengan menunda besok, tetapi, hari ini. Saat ini. Raihlah kepercayaan itu.

Meraih kepercayaan, itu bukan hal mudah. Pernah mendengar Confidence Building Measures? Itu adalah langkah-langkah membangun  saling kepercayaan yang dipakai dalam diplomasi dan ranah keamanan kawasan. Contoh CBM tidak langsung adalah adanya latihan bersama, kerja sama operasional menghadapi isu keamanan, pertukaran siswa, pertukaran kunjungan, agreement dan sejenisnya.  Hal ini dapat diterapkan saat melakukan edukasi pajak sehingga keterlibatan intens menumbuhkan tingkat kepercayaan untuk kebersamaan.

Seorang tokoh wartawan senior yang kami kunjungi untuk membicarakan perihal sadar pajak di kalangan penulis yang mengajarkan kami apa itu CBM.

Saat itu telah larut, selesai mengunjungi ngunduh mantu seorang teman di Wonosobo, kami mengunjungi rumah cagar budayanya di Kawasan Kotagede. Kehangatan, persahabatan dan secangkir susu cokelat panas menemani. Lantas sebelum kami pamit, ia menyampaikan hal itu dengan ramah. Saya suka cara ini. Kamu kunjungi saya, dan membuat kami percaya. Kami ingin semua orang sadar pajak, maka mari kita bersama memikirkannya.

Hari itu, kami meraih Carpe diem.

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Serendipitas

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Serendipitas disadari atau tidak, ada di setiap manusia yang di pengujung hari mau merenungi apa yang dia lakukan di seluruh hari itu.

Banyak orang mencari tujuan hidupnya sejak dia mengenal arti pertanyaan, “Apakah cita-citamu?”

Zaman dahulu, cita-cita ngehits seorang anak SD adalah menjadi dokter, kedua, menjadi insinyur, kemudian ada yang sedikit idealis menyatakan ingin menjadi guru. Zaman sekarang saat ditanya cita-cita, seorang anak SD bisa menjawab, ingin menjadi youtubers, artificial intelligencers, atau pengusaha kaya. Berkembang pesatnya informasi membukakan wawasan generasi muda bahwa di ujung dunia sana, profesi ini menjadi luar biasa, profesi anu berbayaran tinggi, dan itulah kesuksesan.

Mari tarik benang merahnya. Dalam tujuan hidup setiap orang mencapai kesuksesan, terdapat proses dan standar yang berbeda-beda. Orangtua yang sering membawa anaknya saat mengikuti seminar motivasi atau MLM (multi-level marketing) yang menawarkan kesuksesan tanpa perlu pengorbanan dan perjuangan, tanpa disadari menanam konsep yang membekas dan membius. Kemewahan. Sedikit usaha. Kaya itu mudah. Sukses itu perlu.

Hal itu dibuktikan dengan realitas saat mereka beranjak besar, bahwa prestasi tidak selalu mendukung keberlimpahan materi di masa depan. Si A teman sekelas yang dulu bandel, sekarang sudah jadi pengusaha ekspor-impor. Si B yang dulu enggak pernah dapat ranking, sekarang punya industri kertas, makanan dan minuman. Lantas kemudian konsep kesuksesan menjadi goyah saat arti sekolah dipertanyakan. Buat apa sekolah tinggi-tinggi mengejar gelar, kalau nanti penghasilannya lebih rendah dari mereka yang dropout?

Dan kemudian terjadilah proses pencarian besar-besaran dalam diri seseorang, yang memiliki naluri pencapaian secara instan. Hal itu kemudian memicu target tidak terkendali saat mereka mencari. Ketika mendapatkan informasi dan pemahaman bahwa surga bisa diperoleh dengan nyata, maka terjadilah bom bunuh diri satu keluarga. Ketika merasa bahwa hanya kekuasaan yang dapat menyalurkan hasrat pemenuhan materi, maka hilangnya anak manusia dari muka bumi secara misterius sudah bukan hal luar biasa.

Serendipitas bukan itu. Pertengahan abad ke-17, Horace Walpole, seorang penulis Inggris menemukan informasi yang menarik saat meneliti lambang. Penemuan tersebut dia sebut serendipity, dari dongeng “The Three Princess of Serendip”, bahwa sesuatu ditemukan dari hal-hal yang tidak diketahui dan dicari.

Seseorang yang memberanikan diri untuk mendaftar sebagai Wajib Pajak baru dengan tujuan melengkapi persyaratan utang di bank dengan memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak, bisa saja memperoleh serendipitasnya saat bertemu dengan petugas pajak yang secara bersahabat membeberkan informasi apa dan bagaimana kewajibannya sebagai Wajib Pajak. Hal itu membuka pikirannya tentang bagaimana rekan-rekan sang petugas pajak yang bersahabat itu, berjuang dalam mencari orang-orang yang belum membayar pajak secara benar dan berusaha mengedukasi masyarakat berulang-ulang. Padahal, berita yang dibacanya di media lebih sering tuntutan pemenuhan target tanpa diiringi kesadaran tinggi yang timbul dari masyarakat, untuk membayar pajak. Keluhan masyarakat tentang ketidaktahuan senantiasa beralaskan sosialisasi kurang. Pertanyaannya, apakah saat kelas pajak dan sosialisasi diadakan, mereka yang diundang memiliki tujuan untuk sadar pajak dan datang menghadiri? Tidak tercapainya penerimaan pajak sesuai target, kasus-kasus pajak, menjadi tema hangat yang kalau perlu didiskusikan dalam bentuk debat intelektual di layar kaca yang tujuannya mencari solusi, tapi menampilkan kontroversi dan polemik. Asalnya hanya mencari.

Saat kita melakukan semua dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, maka bisa saja terjadi hal-hal menyenangkan yang tadinya tidak diharapkan.

Padahal sederhana saja hidup ini. Saat kita melakukan semua dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, maka bisa saja terjadi hal-hal menyenangkan yang tadinya tidak diharapkan. Ide-ide yang kita tuangkan kemudian menjadi tren inovasi yang diikuti seluruh kantor, misalnya. Melayani Wajib Pajak dengan empati, bisa saja tanpa disangka-sangka membuat sang Wajib Pajak menyetor pajaknya dengan nominal tinggi dan keikhlasan tinggi, tentunya. “Baru sekali saya ketemu orang pajak seperti Anda”, demikian kepuasan tercetus dari sang Wajib Pajak. Wow! Apakah ini keterpaksaan? Tidak, ini kesadaran dan kepercayaan. Prinsip habitas—mengubah perilaku dengan kepercayaan, melalui edukasi langsung dan persuasif ke komunitas atau individu. Padahal juga, tadinya semua dilakukan semata karena tugas dan bergulirnya surat imbauan yang harus dihadapi kedua belah pihak.

Hal lain, terbentuknya sinergi dan kerja sama antarlembaga, mungkin saja bertujuan pertukaran data terjalin baik. Namun, prinsip habitas akan membangun kepercayaan bersama sehingga terjadi lebih dari sekadar bertukar data, tapi juga bersama meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.

Hasil yang luar biasa dan tak terduga menjadi kejutan kecil yang perlu direnungi. Betapa banyak asosiasi dan instansi, kementerian dan kelembagaan yang pernah semeja dalam menandatangani kerja sama, dan tanpa terasa tahun berganti dan batas kerja sama berakhir tanpa ada proses yang bermanfaat. Seandainya pencaharian dilakukan bersama, maka siklus yang terjadi adalah: Kami mencari ini, tetapi menemukan lebih daripada yang dicari. Kami menandatangani perjanjian kerja sama, tapi akhirnya kami bersahabat. Pernahkah berpikir seperti itu di setiap langkah hari-hari?

Tindakan bersahabat sering terdapat pada koloni binatang, kendati terus diabaikan sampai saat terjadinya riset De Wal dalam Calne di buku Batas Nalar, yang menyatakan bahwa perilaku yang tidak mementingkan diri sendiri terdapat tidak hanya pada monyet dan kera. Lumba-lumba membantu sesama yang terluka dengan berenang di bawahnya, dan bahkan rela terdampar hanya untuk menolong. Binatang pemangsa membawa makanan untuk temannya yang tidak ikut berburu. Dalam ilmu biologis etika, umumnya kelompok binatang yang saling menolong akan hidup lebih tangguh dalam perjuangan hidup, dibandingkan mereka yang hidup terpencil dan semata-mata dipacu oleh kepentingan diri sendiri yang mendesak. Tindakan bersahabat, seyogianya dimiliki manusia.

Menurut De Waal, sintesis empat sifat pada binatang yang menawarkan cetak biru moralitas adalah sifat simpati, sifat internalisasi, sifat timbal balik dan sifat penyesuaian diri dan menghindari konflik. Masing-masing sifat itu merupakan tanggapan nalar terhadap upaya mencapai keseimbangan antara persaingan dan kerja sama. Setiap manusia yang berpikir tentunya sangat tersinggung bila dianggap tidak bernalar.

Kembali pada topik awal. Serendipitas adalah unsur kejutan dari suatu proses yang tidak kita cari. Sesungguhnya, serendipitas—disadari atau tidak—ada di setiap manusia yang di pengujung hari merenungi apa yang dia lakukan di seluruh hari itu.

Maknanya, berjalanlah tanpa pamrih. Setelah itu, berterima kasih pada Tuhan.

Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin, dan selamat memperdalam serendipitas.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News2 minggu lalu

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News4 minggu lalu

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News2 bulan lalu

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News3 bulan lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News7 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News8 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News9 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News11 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News11 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News12 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Advertisement Pajak-New01

Trending