Connect with us

Tax Light

CAHAYAKAN INDONESIA

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Saat mengitari bumi perlahan, atmosfer bertanya pada semesta, mengapa

bencana bisa jadi wacana canda?

Semesta merasuki jiwa-jiwa yang basah oleh gelombang pasang namun kering dalam terpaan

 

Aku tak tahu lagi, keluh sang jiwa

Kepada siapa, kita bagaimana?

 

Sementara derai panas mentari masih butuh pelapis demi lapis yang meneduhkan

tanpa harus terinci dalam kandungan materi

 

Dunia kian renta namun gelegaknya masih menyala

Putaran doa kian melesat

namun berliku  mencari arah kebenaran

Dan angkara berjalan memunguti ketakutan

Cemetinya terdengar jauh tak padam

Menyelinapi putus asa,

Mengorek bagaimana bentuk asa, dari apa dan di mana?

 

Cahaya semakin letih menguarkan nyala

Kelamnya terpuruk di organ kasat mata

Noktah itu

Konon namanya, kesadaran

 

Maka semesta kembali melayang keluar dari jiwa dan menyapa sang korona, sang pelapis matahari yang setia

 

Katanya, sudah tidak ada yang percaya pada perannya

Kembalikan saja mereka pada tanggung jawabnya

Di saat masih menggumam doa, kembalilah pada inti membangun bangsa

Sampaikanlah! Pinta udara pada cahaya

Namun cahaya masih mengeringkan air mata

Bagaimana bisa?

Mereka masih berlomba mengejar yang tak nyata

Mereka lupa, untuk apa dan bagaimana?

Membuat pijar diri sendiri,  apalagi mencahayakan Indonesia.

 

Tegaklah. Mandirikan kita.

Paling tidak

Kita ada

Tax Light

Candradimuka

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Krisis saat ini adalah refleksi bagi kita semua. Banyak yang harus dipelajari saat kita menghadapinya maupun menyiapkan “new normal” setelahnya.

 

Mungkin Gatotkaca saat diminta terjun ke Kawah Candradimuka belum memahami untuk apa dia dimasukkan ke kawah tersebut? Ternyata setelah melakoninya, Gatotkaca melesat ke angkasa dengan kekuatan berlipat sebagai pahlawan berotot kawat bertulang besi, yang sebenarnya bisa dijadikan pahlawan dalam film heroik Indonesia.

Ternyata, untuk jadi pahlawan, memang perlu diuji! Di masa pandemi ini, kita belajar banyak hal karena perubahan terjadi begitu sontak dan membuat sebagian dari kita tergagap mengikuti teknologi yang tiba-tiba menjadi keharusan. Tiba-tiba ruang di rumah ada yang disulap menjadi tempat kerja. Dan tiba-tiba, semua ditempa pengalaman bahwa bekerja dengan jam kerja yang lama tidak menghasilkan produktivitas tinggi. Jadi, yang penting bukan lama waktu kerja, tapi cara kerja, dan itu perlu ditunjang kecerdasan dalam bekerja. Bekerja cerdas, istilahnya, menggantikan bekerja keras.

Baca Juga: Ketika Budaya Lahir Kembali

Bukan itu saja. Tiba-tiba saja waktu bekerja di rumah menjadi lebih lama daripada di kantor karena saat mengendalikan rapat, pimpinan rapat lupa bahwa rapat harus ada batasannya. Kalau di kantor, dia sudah ditunggu untuk berpindah ruangan yang butuh waktu panjang, maka kalau di rumah, dia bisa berpindah ruangan tanpa butuh waktu panjang. Akhirnya lupa waktu. Tidak heran banyak yang mengeluhkan bahwa bekerja dari rumah jauh lebih melelahkan.

Itu belum selesai. Kita baru mau keluar dari Candradimuka, tiba-tiba dihadapkan pada new normal. Apa itu new normal? Sesuatu yang dilaksanakan secara normal tapi mengikuti protokol new normal yang dirilis Kementerian Kesehatan. Berangkat memakai masker, membawa masker cadangan, menjaga jarak, selalu mencuci tangan dan pakai sabun, membawa hand sanitizer, juga menjaga makanan. Dan… ada persyaratan tertentu bagi yang pernah mengidap penyakit tertentu seperti jantung, asma, stroke, atau berusia 50 tahun ke atas: mereka dapat mengajukan working from home dengan ketentuan kebijakan dari unit kerja masing-masing.

Siapa yang mau menjelaskan bahwa negara juga perlu melangsungkan kehidupan? Bagaimana cara kita mendukung negara supaya tetap bertahan? Sederhana saja, ada tiga protokol yang perlu dijalankan

Masalahnya kemudian, timbul ketakutan, sehingga terjadi upaya untuk memperpanjang bekerja dari rumah saja. Kita bukan Gatotkaca yang dimasukkan ke Kawah Candradimuka sendirian. Kita, bersama ratusan rekan sekerja, memulai new normal ini bersama-sama! Adalah ketakutan, yang kemudian menjadi momok bagi seseorang, dan akhirnya berdampak pada keengganan untuk kembali bekerja di kantor. Dilematisnya, di sudut kota mana saja, ketakutan itu tidak terbukti dengan bukti banyaknya masyarakat berkumpul, melakukan aktivitas tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Apabila transaksi perekonomian tidak berjalan, bagaimana kehidupan bisa berjalan?

Dibenturkan dengan masalah kesehatan, tidak ada juga titik temu. Yang penting semua berjalan dan mengikuti protokol kesehatan. Hanya itu, sederhana. Jarak dijaga. Sepatu jangan dibawa masuk rumah. Semprot terus lantai kalau tamunya pulang. GoSend cukup di beranda, biarkan bungkusan kena matahari sejenak, baru dibawa ke dalam rumah. Proses pemanasan lain bagi makanan adalah mengurungnya sejenak di microwave sebelum benar-benar disantap. Lama-lama, skeptisisme menguak. Kami perlu makan, jangan dilarang. Bahkan pengukuran ke tanaman saja bisa membuktikan tanaman itu positif.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Berat memang, kalau menghadapi kekritisan cara pandang seperti ini. Lebih berat lagi kalau situasi ini dimanfaatkan. Mumpung masih pandemi, bayar dan lapor pajaknya ditunda dulu.

Kalau seperti ini, siapa yang mau menjelaskan bahwa negara juga perlu melangsungkan kehidupan? Bagaimana cara kita mendukung negara supaya tetap bertahan? Sederhana saja, ada tiga protokol yang perlu dijalankan. Satu, fokus pada kesehatan masing-masing. Dua, tetap menjalankan perputaran perekonomian. Tiga, tetap memenuhi kewajiban perpajakan. Karena kalau tetap bayar pajak, maka paling tidak, ada yang harus diselamatkan, sehingga tidak memperbesar utang. Semua itu satu paket. Kalau ketiganya dicermati, maka sesungguhnya perlu kebesaran hati untuk melakukan serangkaian dukungan pada negara tersebut.

Krisis saat ini bagaikan refleksi bagi kita semua. Banyak yang harus dipelajari saat kita menghadapinya maupun mempersiapkan new normal yang di depan, dan “new-new normal” berikutnya. Kita belajar bagaimana mempersiapkan rencana dan strategi ke depan. Kita belajar bagaimana menyelamatkan kinerja pegawai dan mengarahkan orientasi kerja berbasis produktivitas buat mereka. Dan kita juga belajar ketangguhan, karena di sisi lain, sebagai orang tua kita juga menanamkan ketangguhan karakter kepada generasi muda di rumah yang melaksanakan proses “candradimuka” mereka melalui belajar dari rumah. Bayangkan!

Sesungguhnya, kitalah sang Gatotkaca yang lama berada di labirin Candradimuka.

Selamat belajar terbang!

(A3, 020620)

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Lanjut baca

Tax Light

Ketika Budaya Lahir Kembali

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Apa yang kamu rasakan saat ini? Itu pertanyaan menarik yang bisa menjelaskan apa yang dirasakan masyarakat Indonesia selama pandemi.

Kami pernah membuat lomba menciptakan tiga kata kesan positif selama pandemi yang memaksa semua pekerja melakukan pekerjaan dari rumah. Ada yang mengatakan, Bosan-Nonton-Tidur. Ada yang berjiwa idealis dan menuliskan, Lebih-Kreatif-Produktif. Dan ada satu yang menuliskan: Lupa-Sabtu-Minggu.

Bekerja di rumah, bagaikan bekerja di dunia tak berbatas. Dari satu tempat, kita bisa fokus pada beberapa rapat melalui media daring, yang sejatinya hal ini sulit dilakukan di kantor. Melakukan rapat di kantor sama dengan memindahkan tubuh dari satu lantai ke lantai lain, atau dari satu gedung ke gedung lain. Namun dengan mekanisme bekerja dari rumah, rapat adalah memindahkan mata dan menggerakkan pinggang tanpa bergerak!

Buat sebagian orang, ini adalah memindahkan dunia luar ke dalam rumah kita sendiri. Ingar-bingar kerja diganti celotehan dan tangisan kanak-kanak, teriakan pasangan, dan asisten rumah tangga, dan tidak akan terdeteksi oleh peserta rapat selama media video dan suara ditutup. Beberapa orang menyatakan mereka bisa bekerja dengan aman dari rumah, karena melihat pergerakan keluarga dengan mata kepala sendiri. Namun sebagian orang berpendapat, dunia menjadi stagnan dan membosankan! Mereka rindu pada rutinitas sehari-hari. Ke kantor, menjadi manusia yang sibuk secara body dan mind, dan melupakan bahwa soul mereka bisa jadi kosong.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Selamat datang, gaya hidup baru!

Mau tidak mau, suka tidak suka, maka kita berada di rumah saja. Survei dari Kantar, hampir 80 persen masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di rumah selama karantina. Rambu-rambunya jelas, social distancing, physical distancing, dan maskering.

Perubahan gaya hidup itu berdampak pada budaya yang digadang-gadang melahirkan karakter baru. Contohnya, tidak ada lagi kebiasaan ngafe dan ngemal, diganti pesanan untuk diantarkan ke rumah. Tidak ada memesan dari luar rumah, diganti masakan ibunda. Tidak perlu bangun pagi bersiap ke sekolah, karena guru-guru sudah siap dengan tugas seminggu penuh yang disisipkan pekerjaan rumah membuat video untuk membuktikan bahwa mereka berkegiatan di rumah, atau mengirimkan rekaman menjawab pertanyaan.

Kerja berjalan dengan waktu sebagaimana biasa, tapi tidak ada mobilitas. Tidak perlu dandan berlebihan; singkirkan sepatu hak tinggi; bahkan bisa belum mandi, saat Anda menghadapi rapat bersama di zoom meeting.

Suka atau tidak suka, lama-lama membiasa. Ini terjadi saat kegiatan tanpa tatap muka menjadi acuan layanan publik di mana saja. Ternyata, masyarakat Wajib Pajak yang melaporkan SPT Tahunan di akhir April kemarin juga tidak kalah semangatnya, walau mereka tidak mendapat bimbingan langsung di kantor-kantor pajak. Jalan keluarnya adalah konsultasi melalui media daring, menelepon Account Representative, melakukan chat, ikut hadir di kelas pajak daring berupa webinar dan grup WA, sehingga di hari terakhir yang melapor tembus 440 ribu SPT. Tahun lalu, yang lapor di hari terakhir sebesar 518 ribu SPT.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Apa kesimpulan yang dapat diambil? Dalam kondisi terpaksa, kita bisa! Karena kita bisa, lama-lama membiasa. Dan tentu saja harus berpikiran positif bahwa tidak semua masyarakat memanfaatkan pandemi sebagai alasan untuk tidak memenuhi kewajiban perpajakannya.

Bagaimana bisa tidak peduli? Lah, wong dari APBN saja anggaran untuk mengatasi pandemi bernama indah ini Rp 400-an triliun. Belum lagi banyaknya kebijakan berupa fasilitas perpajakan yang dikeluarkan untuk memberi kemudahan.

Ada juga yang namanya Pajak Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp 60-an triliun khusus membijaki dampak korona.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, itu artinya di depan kita ada dukungan pemerintah yang tanpa suara mengatakan, “Ini bukan bagianmu, ini merupakan bagianku.” Analoginya, seorang bocah menangis tidak bisa membayar es krim yang diinginkan, lantas ada yang datang kepadanya, memberikan es krim itu dengan tidak menerima bayaran dari sang bocah. Malaikat berhati emas itu mungkin saja adalah ibu, bapak, atau kakak kita.

Sederhananya, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Sebelum banyak bertanya, mungkin baiknya bertanya ke dalam diri sendiri, apakah aku bertanya karena tidak tahu, atau ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk melihat bahwa aku tahu?

Budaya lain yang dilahirkan adalah terciptanya kekuatan bagi ASN yang tempat bekerjanya bukan di home base, untuk bisa mengatasi rasa takut karena tidak mudik saat Lebaran untuk menghindari penyebaran virus. Tanpa disadari kepasrahan mereka melahirkan kekuatan yang luar biasa. Sekarang ini marak tercipta solidaritas dalam beramal dan bersedekah. Pernahkah Anda mengirim masakan yang dipesan dari teman pengusaha UMKM untuk dikirim ke rumah pegawai non-organik di kantor Anda? Para satpam, office boy, dan petugas cleaning service? Anda tidak tahu, kan, bagaimana dia mengatasi masalah keluarganya, sementara Anda bisa saja masih tetap memperoleh gaji walau ada pemotongan? Marilah berbagi walau sedikit.

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Sekarang ini, hidup berjalan dengan pertanyaan yang sulit: Kapan semua ini akan selesai?

Kapan selesainya, ya, aku kan sudah kangen kantor?

Sabar, sepertinya yang harus dipikirkan adalah pola pikir kita dahulu. Sepertinya, kita harus bersahabat dengan dia, sang wabah. Dan itu bisa bila dikawal kepasrahan tingkat tinggi, dengan upaya ekstra hati-hati. Satu, semua orang, toh, akan mati. Dua, kita dipaksa harus ikhtiar jaga diri sendiri. Andai semua sudah enggak parno dan ngeri, maka dia pun menghilang.

Itu kalimat tertinggi yang pernah saya dengar.

Saya enggak tahu…. Itu, kan, kata saya, bukan kata ahlinya. Yang jelas, kita sudah seperti terlahir kembali jadi manusia baru selama masa-masa karantina. Mengenali pasangan, anak-anak, ibu kos, saudara, orangtua, dan lain-lain insan satu atap. Kita seperti Gatotkaca yang terbang dari Kawah Candradimuka, tapi terbangnya di rumah saja.

Yang penting, di rumah ini, kita bisa menjadi guru dan berguru pada orang-orang terdekat. Oya, selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat berpuasa. Selamat Idulfitri. Selamat merenungi diri sendiri.

(A3, 020520)

Lanjut baca

Tax Light

Korona dan Bayangannya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto ilustrasi: Istimewa

Korona memang tengah menjadi momok dunia. Namun, jangan terjebak pada ketakutan membabi buta. Kendalikan diri—tenangkan hati, berpikir positif. Percayalah, manusia punya daya tak terbatas.

Satu pertanyaan yang keluar dari ananda saya yang mengesankan saat musim Korona adalah, “Mami, selama hidup Mami, apakah pernah mengalami kondisi seperti ini?”

Saya tersenyum padanya seraya menggeleng. Lantas saya terkenang kedua orangtua yang sudah tiada. Karena, lanjut anak saya yang baru googling wabah pandemi per satu abad itu, ini terjadi seratus tahun sekali, dan saya merasakannya.

Dialog semacam ini sangat menyentuh—buat saya. Saya dan papinya bertanya bagaimana reaksi teman-temannya, dan dia menjawab bahwa ada yang ringan saja dan ada yang agak serius. Tapi yang utama, mereka kehilangan wadah berekspresi. Dan teman seangkatan atau kakak kelasnya merasa gelisah bukan karena Korona, tetapi ada yang terampas dari kehidupan mereka. Ngafe bareng, ngupi cantik, kumpul dengan komunitas, atau belajar bareng di rumah teman.

Baca Juga:Pemerintah Bebaskan PPN Belanja Barang dan Jasa Terkait Penanggulangan Korona

Sementara di sisi lain, reaksi orang sangat beragam terhadap bencana nasional ini—internasional, malah. Berita datang bertubi-tubi di beranda sosial media pribadi. Tidak terseleksi dan penuh data dari berbagai belahan dunia walau tidak jelas data valid atau tidaknya. Orang visual akan membayangkan virus ini dengan gambaran apa yang terjadi di belahan dunia. Orang auditori akan mendengarkan video dengan saksama dengan hati tersayat, dan orang kinestetik membaca berita sambil bicara dalam hati seraya merasakan sendi-sendinya gemeletak rapuh. Lantas, lahirlah kecemasan, kekhawatiran, dan kekritisan luar biasa. Pertanyaannya, apa sih yang membuat seseorang dapat membayangkan sesuatu sehingga menjadikan dia cemas, sedih atau marah?

“Kondisi fisiologimu mengubah caramu membayangkan kondisi dan melihat dunia ini.”

Manusia, dipengaruhi banyak faktor. Kita mungkin secara tidak sadar mencontoh reaksi orangtua kita atau panutan kita saat menghadapi pengalaman semacam itu. Misalnya, saat Anda kecil, ibu Anda selalu cemas saat ayah Anda terlambat pulang kerja, sehingga membentuk kecemasan dalam pikiran Anda setiap ayah Anda terlambat pulang kerja. Nah ini terbawa sampai Anda dewasa. Jika ayah atau ibu Anda pernah bicara bagaimana mereka tidak percaya sama pasangannya, bisa jadi Anda telah mencontoh pola itu. Terbentuklah suatu keyakinan, sikap, nilai-nilai dan pengalaman di masa lalu yang memengaruhi bayangan yang kita buat saat menghadapi sesuatu.

Baca Juga: Efek Korona, Penerimaan Pajak kuartal I Turun 2,5 Persen

Yang lebih penting lagi, ada faktor yang sangat menentukan cara kita melihat dan membayangkan dunia. Ini ada dalam diri kita. Namanya pola penggunaan fisiologi diri sendiri. Cara kita bernapas,  sikap tubuh, ketegangan otot, apa yang dimakan, fungsi biokimia dalam tubuh, berpengaruh besar pada kondisi kita. Ketika sekarang suami Anda diminta kerja, Anda sangat khawatir dia tertular, kan? Namun itu semua tergantung kondisi tubuh Anda. Pas Anda lagi oke, maka walaupun dia terlambat pulang, It’s fine  buat Anda, bisa jadi masih ada kerjaan lainnya. Kalau Anda dalam kondisi fisiologi lagi letih apalagi baper baca berita hoaks, Anda bisa saja berpikir negatif. Anda takut dia kebanyakan kerja, terus ketemu siapa, orangnya sehatkah? Wah, pikiran jadi ribet dan tambah pusinglah kita!

Apa yang membuat kita seperti itu? Bayangan! Membayangkan itu berkorelasi positif dengan memikirkan yang berdampak pada kondisi fisiologi. Kondisi fisiologimu mengubah caramu membayangkan kondisi dan melihat dunia ini. Menurut W. Mitchell, yang terpenting itu bukan apa yang terjadi pada dirimu, melainkan caramu membayangkan hal itu terjadi. So, kunci untuk menciptakan hasil yang diinginkan adalah dengan membayangkan sesuatu dengan cara yang membuat kita ada dalam kondisi  berdaya, semangat, sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang berkualitas dalam menciptakan hasil yang diinginkan.

Memang sih, mungkin kalian pada bertanya, memangnya Korona bisa dilawan hanya dengan bayangan? Kalau pekerjaan kita hanya membaca berita negatif dan video ngeri, ya, enggak bisalah. Kalau kita enggak bisa disiplin dalam tata tertib menjaga kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, ya enggak bisalah.

Eh, tubuh bisa diajak bicara, loh. Kasih diri kita bayangan sehat dan arahkan pada kondisi fisiologi yang tenang, insyaallah kita sehat.

Ya coba itu aja dulu! Keyakinan bisa mengalahkan angka statistik. Tapi keyakinan yang cerdas, bukan yang menantang! Nah, ini yang disebut bagaimana kita bisa mengenal diri kita sendiri? Bagaimana kalau kita tidak punya konsep mengendalikan diri kita sendiri?

Baca Juga: Jutaan Pekerja Kena PHK, Aji Mumpung Pengusaha?

Tetap bayangkan keindahan, tetap laporkan SPT dan ngebayar pajak, karena keikhlasan bayar pajak sekarang yang bisa membentuk bayangan indah buat Indonesia masa depan.

Satu lagi, bayangkanlah kenyataan! Mari berterima kasih kepada Allah bahwa Korona sudah hilang, di saat kita sambut Ramadan.

Percayalah, manusia itu punya daya tak terbatas, kata Anthony Robbins (Unlimited Power). Namun manusia sering kesulitan membayangkan Tuhan ada di mana. Padahal, dari pandemi ini, Tuhan banyak mengajari kita melalui Korona, bahwa kita bisa lebih dekat dengan-Nya melalui dialog dalam diri sendiri, menyelami nurani dan dasar jiwa. Sangat dekat sebenarnya….

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News11 jam lalu

Pandemi Covid-19 Memunculkan Cara Kerja Baru dalam Bidang Bisnis

Covid-19 telah mendorong pergeseran dalam rantai perdagangan dan pasokan serta menambahkan volume perdagangan. World Trade Organization (WTO) memperkirakan perdagangan global...

Breaking News14 jam lalu

Bamsoet: Bayar Pajak Tak Mengurangi Harta Kita

Kondisi pandemi Covid-19 yang membatasi bayak hal tak membuat Ketua MPR RI Bambang Soesatyo enggan melaporkan pajaknya. Bagi pria yang...

Breaking News1 hari lalu

DJP dan IBFD Tandatangani MoU Program Reformasi Perpajakan

Direktorat Jenderal Pajak (DJP)  melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama reformasi perpajakan dengan the International Bureau of Fiscal Documentation (IBFD)...

Breaking News4 hari lalu

“Core Tax System” Teknologi Terintegrasi untuk Memudahkan Fiskus dan Wajib Pajak

Untuk menyempurnakan reformasi perpajakan di era digital, DJP melakukan digitalisasi sistem perpajakan dengan membangun Core Tax System yang dimulai sejak...

Breaking News5 hari lalu

Pemerintah Umumkan akan Melelang 7 Seri SUN Pekan Depan

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPBR) Kementerian Keuangan RI akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam...

Breaking News5 hari lalu

Milenial Melek Investasi

Seiring pesatnya perkembangan teknologi digital khususnya dalam hal keuangan, cara berinvestasi pun mulai bergeser dan tidak lagi harus dilakukan oleh...

Breaking News6 hari lalu

Menparekraf Imbau Hotel-Restoran Disiplin Protokol Kesehatan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menekankan kepada pelaku industri hotel dan restoran agar...

Breaking News6 hari lalu

Bank Permata Andil dalam Program Penjaminan Kredit Modal Kerja Bagi UMKM

Penandatanganan kerja sama bersama Askrindo dan Jamkrindo dilakukan sebagai salah satu langkah dukungan terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional. PT Bank...

Breaking News6 hari lalu

Sandiwara Sastra Peneman Asyik Belajar di Rumah

Jelang dibukanya tahun ajaran baru pada 13 Juli mendatang, banyak sekolah—terutama di zona merah—masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau...

Breaking News1 minggu lalu

Inisiatif Pemasaran Digital Mutakhir Ala Alibaba Cloud dan Unilever

  Alibaba Cloud, tulang punggung teknologi digital dan intelijen Alibaba Group – bermitra dengan Unilever, salah satu perusahaan multinasional terbesar...

Trending