Connect with us

Community

Bugar-Kuat ala Prajurit Sparta

W Hanjarwadi

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Komunitas Sparko mengajak masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat melalui olahraga teratur. Siapa saja boleh bergabung, tanpa syarat dan biaya.

Masih ingat film 300 yang mengisahkan perjalanan heroik prajurit Yunani yang dipimpin King Leonidas? Film yang dibintangi Gerard Butler itu mengisahkan 300 orang prajurit tangguh yang menamakan diri mereka kaum Spartan. Ketangguhan ini terlihat saat 300 kaum Spartan ini berhasil membuat 300.000 orang prajurit Persia kalang kabut.

Kisah heroik yang melegenda ini rupanya mengilhami seorang anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat bernama Mayor Infantri Eka Wira Dharmawan untuk menciptakan olahraga (body building) modern yang dikenal dengan nama Sparko. Sparko adalah akronim dari Spartan Komando.

Sparko yang dibentuk pada pertengahan tahun 2015 lalu ini awalnya merupakan sebuah program Multiple Endurance Training (MET) yang diciptakan oleh beberapa prajurit Kopassus dengan konsep Street Workout, Military Crossfit, Balance Training serta High Intensity Interval Running (HIIR) yang hanya diperuntukkan untuk para prajurit Kopassus.

Seiring waktu, banyak masyarakat sipil yang tertarik dengan konsep olahraga ini. Karena itu, Eka Wira pun akhirnya membuka kesempatan kepada masyarakat sipil untuk ikut bergabung dan berlatih bersama. Eka ingin, masyarakat umum pun bisa merasakan manfaat program MET itu. Kini, setelah lima tahun berdiri, Sparko menjadi olahraga favorit kaum perkotaan, baik di kalangan kaum remaja dan orang dewasa, dan telah memiliki puluhan cabang di kota-kota besar di beberapa wilayah di Indonesia dari Aceh hingga Papua. Alhasil, Eka Wira pun tak bisa melatih anggota komunitas seorang diri. Untuk menjalankan Komunitas Sparko pada tiap-tiap wilayah itu, pria asal Bali yang kini dijuluki The King of Sparko ini dibantu oleh beberapa rekan dan anggotanya sebagai pelatih bagi para anggota komunitas Sparko.

Olahraga pelengkap

Akhir Februari lalu, Majalah Pajak menemui Dori Sendra, salah seorang yang ditunjuk Eka Wira menjadi pelatih Sparko untuk area Jakarta. Di Jakarta, Dori melatih komunitas Sparko di dua tempat, yakni di Cijantung setiap hari Minggu dan di kompleks Gelora Bung Karno (GBK) pada Rabu malam.

“Untuk latihannya kami mulai dari malam. Kalau di GBK jam 19.00 sampai dengan jam 20.00 atau jam 21.00,” terang Dori di sela-sela melatih komunitas Sparko Jakarta.

Dori menjelaskan, Sparko adalah olahraga pelengkap olahraga umum yang sudah ada sebelumnya dan biasa dilakukan oleh masyarakat. Gerakannya tak lagi seberat yang diterapkan untuk anggota Kopassus, tetapi sudah dimodifikasi disesuaikan untuk masyarakat sipil. Materi olahraga Sparko adalah penguatan otot perut atas, otot perut bawah, otot dada, otot paha, dan lengan. Beberapa gerakan dasar Sparko adalah push up, lunges, squats dan lari.

“Sparko bukan sebagai olahraga pengganti, tetapi melengkapi olahraga yang sudah ada karena menggabungkan lari, kalistenik, dan penguatan. Makanya Sparko itu diawali lari dulu, karena militer itu pasti lari. Makanya di Sparko banyak juga komunitas lari yang ikut, komunitas kalistenik, atau komunitas lainnya,” kata Dori.

Dori menyebut, keuntungan ikut Sparko cukup banyak. Selain menjaga berat badan tetap ideal, olahraga ini sangat efektif untuk menjaga stamina, kekuatan tubuh, dan membentuk masa otot. “Penguatan itu penting. Jadi, kalau Sparko bisa untuk menurunkan berat badan, juga pembentukan masa otot. Untuk penurunan berat badan kita mulai dari larinya ada crossfit-nya. Kalau kalistenik untuk membentuk otot. Jadi, mau turunin berat badan bisa, mau menaikkan berat badan pun kami ada program khususnya,” imbuh Dori.

Mudah dan gratis

Bagi yang berminat gabung di komunitas Sparko tak perlu khawatir karena syaratnya sangat mudah. Cukup datang pada waktu jadwal latihan dan mengikuti proses latihannya hingga selesai. Hebatnya lagi, untuk bergabung pun tak dipungut biaya sepeser pun, alias gratis. Peserta juga tidak akan diminta untuk ribet mengisi formulir untuk mendaftar secara administratif. Siapa pun yang mau, boleh bergabung dalam komunitas ini.

“Kalau masyarakat mau gabung, ini salah satu komunitas yang tanpa syarat apa pun. Tidak ada syarat, tidak ada pendaftaran. Yang mau olahraga datang, latihan, pulang. Tidak ada pembayaran apa pun. Jadi kami tidak ada uang kas, tidak ada iuran, tidak ada registrasi,” tutur Dori.

Melalui Sparko, Dori ingin masyarakat senantiasa menyempatkan waktu untuk berolahraga untuk menjaga kondisi tubuh agar ideal, tetap fit dan prima dalam menjalankan berbagai aktivitas setiap harinya, seperti yang disampaikan oleh mayor Eka Wira. Pria kelahiran Pekanbaru 30 Maret 1990 ini mengatakan, alasan olahraga ini gratis adalah sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

“Karena, kan, kami berdiri dari militer. Jenderal Soedirman bilang, tentara itu bukan orang lain dari rakyatnya, tapi tentara adalah rakyat. Jadi, tentara itu bukan dibanggakan untuk rakyat, tapi tentara itu sama rakyat. Dan, King (Eka Wira) selalu bilang, sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat. Jadi, kita dari militer harus merangkul masyarakat.”

Bagi Anda yang ada di Jakarta dan berniat bergabung dengan olahraga ini, silakan intip jadwal latihan yang selalu diinformasikan melalu laman instagram dan media sosial lainnya.-Waluyo Hanjarwadi

Managing Editor Majalah Pajak, Freelance Writer, Web Content Management Solutions

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Community

Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

W Hanjarwadi

Published

on

Foto: Majalah Pajak
Foto: Majalah Pajak

 

Dengan menanamkan budaya literasi, komunitas ini ingin menambah wawasan dan menginspirasi anak-anak putus sekolah agar bangkit dan terus meningkatkan kualitas hidup mereka.

Pemandangan di Kompleks Cagar Budaya Kampung Rumah Kapitan, Seberang Ulu, Palembang, Sumatera Selatan sore itu sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Lampion-lampion merah sisa perayaan Cap Go Meh beberapa hari sebelumnya masih terlihat tergantung menghiasi beberapa sudut bangunan tua yang kental dengan nuansa arsitektur Tionghoa dan Belanda itu. Di salah satu selasar bangunan tua itu, Dina Juliana Anwari dan beberapa rekannya tampak asyik bercengkerama dengan puluhan anak yang rata-rata baru memasuki usia PAUD dan sekolah dasar. Rupanya hari itu Dina dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Komunitas Berani Bergerak itu tengah melakukan kegiatan interaktif belajar-mengajar yang sudah sejak tahun lalu rutin mereka lakukan.

Komunitas yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat ini didirikan Dina dan beberapa orang relawan lainnya sejak awal 2018 lalu. Menurut Dina yang juga ketua komunitas itu, mereka ingin memberikan edukasi bagi anak-anak yang kurang beruntung dari sisi ekonomi atau mereka yang putus sekolah karena kehilangan motivasi belajar. Hingga saat ini, komunitas ini membina sekitar 30 orang anak usia PAUD dan sekitar 30 orang anak usia remaja setempat yang masih sekolah tapi kondisi ekonomi orangtuanya kurang mampu atau mereka yang sudah putus sekolah.

Dari kegelisahan

Kampung Kapitan memang salah satu cagar budaya di Kota Palembang yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, sebuah pemukiman padat di tepi Sungai Musi yang berseberangan langsung dengan Benteng Kuto Besak, Palembang. Sayang, keberadaannya kini bak terpinggirkan. Padahal, di kawasan ini terdapat beberapa bangunan berumur 400 tahun yang kaya nilai sejarah. Kampung ini adalah saksi bisu masuknya bangsa Tiongkok Dinasti Ming ke Nusantara setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya di masa lalu. Memang, pemerintah daerah setempat telah mencatatkan kawasan ini sebagai cagar budaya yang dilindungi. Namun, pengelolaannya masih terkesan masih setengah hati.

Di sisi lain, kepedulian masyarakat sekitar dan rasa memiliki cagar budaya ini pun masih minim. Maklum, kawasan ini rata-rata dihuni oleh golongan ekonomi menengah ke bawah—buruh serabutan, kuli bangunan, kuli panggul, nelayan, bahkan tak sedikit yang tidak memiliki pekerjaan. Jangankan untuk memikirkan cagar budaya, untuk hidup sehari-hari pun mereka susah. Kondisi kawasan itu diperparah dengan minimnya sanitasi. Angka kriminalitas di daerah ini pun terbilang tinggi.

Pelbagai persoalan masyarakat itu mengusik nurani Dina yang bekerja di salah satu bank swasta ternama ini. Setelah meminta izin dari pewaris Rumah Kapitan Mulyadi Tjoa, Dina akhirnya, dengan menggandeng beberapa teman sejawatnya membentuk Komunitas Berani Bergerak. Para relawan ini—disebut Inspirer Berani Bergerak—membentuk rumah belajar dan secara berkala dan bergiliran memberikan edukasi literasi kepada anak-anak di kawasan itu

Rumah belajar dan ruang baca

Bentuk pembelajaran yang dilakukan pun bermacam-macam. Mulai dari meningkatkan kemampuan baca-tulis, mengajarkan bahasa Inggris dan kegiatan kreatif untuk membangun motivasi dengan cara mendatangkan tokoh inspiratif. Terkadang mereka juga mengundang komunitas lain yang ada di Kota Palembang dan Sumatera Selatan.

“Kami ingin anak-anak wilayah itu menjadi generasi penerus bangsa yang berilmu, memiliki banyak prestasi dan dapat menjadi pelopor perubahan dan kemajuan untuk daerahnya. Saat ini lebih concern menangani usia PAUD, TK, SD karena yang usia SMP sudah tidak mau. Kami sudah tawarkan program kejar paket. Tapi rata-rata mereka demotivasi, enggak mau lagi sekolah. Kami terus mencari cara untuk menumbuhkan kesadaran mereka,” ujar perempuan yang lahir di Palembang 12 Juli ini pada Minggu pagi (24/2).

Selain edukasi interaktif, Komunitas Berani Bergerak juga menginisiasi pembentukan perpustakaan. Dina percaya, bukan rendahnya minat baca yang membuat minimnya tingkat literasi dan kesadaran masyarakat akan aspek-aspek penting penunjang kehidupan mereka, melainkan minimnya akses mereka terhadap bahan bacaan.

Buku untuk perpustakaan itu didapat dari donasi masyarakat. Setelah terbentuk, akhir Mei 2018 lalu, KBB meminta pemda setempat untuk meresmikan perpustakaan dan rumah belajar mereka.

Sadar wisata

Selain memberikan tambahan kemampuan akademis, Komunitas Berani Bergerak juga gencar melakukan edukasi sadar wisata. Cagar Budaya Kampung Kapitan selama ini belum menjadi ikon wisata yang menarik minat wisata dari luar. Menurut Dina, hal itu karena pengelolaannya daerah sekelilingnya belum maksimal. Lingkungan sekitarnya belum tertata rapi bahkan terkesan kumuh. Perlu perhatian serius dari masyarakat dan pembinaan oleh pemangku kepentingan agar tempat itu bisa lebih menarik wisatawan.

Untuk memperbaiki kondisi itu, komunitas mencoba menanamkan budaya disiplin dan hidup bersih kepada anak-anak. Perlahan mereka tanamkan rasa tanggung terhadap lingkungan, mulai dengan hal kecil, seperti mengajari anak-anak membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan. Anak-anak dilatih membuat suvenir untuk wisatawan. Mereka juga diajari memproduksi dan memasarkan oleh-oleh, seperti Kerupuk Kemplang khas Palembang.

Komunitas terus membangun komunikasi dengan perangkat desa, orangtua peserta didik dan warga setempat, termasuk para pemuda setempat yang menganggur. Hampir sebulan sekali mereka menggelar pertemuan untuk mendakwahkah sadar wisata.

“Kami mengunjungi rumah warga, menjelaskan niat baik membangun kampung ini secara gamblang. Mulai dari sikap ramah, kebersihan, tidak menjemur pakaian dalam di pagar rumah. Setidaknya mereka sadar wisata dulu, daerah tidak kumuh, kotor dan bau, tidak buang sampah sembarangan, apalagi ke tepi sungai mereka bisa jual suvenir dan oleh-oleh,” jelas Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Lampung ini.

Daripada “nongkrong”

Sebagai karyawan bank yang memiliki jam kerja ketat tentu tak mudah membagi waktu bagi Dina. Demikian juga dengan relawan lainnya yang rata-rata juga pekerja profesional. Namun, bagi mereka hal itu adalah tantangan menyenangkan untuk bisa memberikan sekecil apa pun sumbangsih bagi sesama.

“Kita, anak muda sering nongkrong di restoran, 100 ribu rupiah cuma bisa beli kopi dan kue. Tapi, kalau dibelikan buku tulis, 100 ribu rupiah dapat membantu dua anak sekolah. Kita, pemuda, pilih mana?” ucap Dina.

Dina mengaku sangat salut pada rekan-rekannya yang antusias menjalankan misi sosial itu. Tak jarang mereka harus patungan untuk menyediakan perlengkapan rumah belajar dan perpustakaan. Belum lagi, soal jarak tempuh ke lokasi. Dina tinggal di bilangan PHDM di hilir Sungai Musi sehingga harus menyeberang sungai. Relawan lain ada yang selalu naik ojek on-line dengan ongkos pulang pergi tak kurang dari Rp 100 ribu.

“Kalau Jembatan Ampera sedang ditutup, ya, naik kapal, menyeberang. Saya salut dan apresiasi pengorbanan teman-teman relawan meluangkan waktu dan tenaga mereka datang ke rumah belajar. Apalagi kami buka kelas justru di hari libur, harinya istirahat.”

Kini komunitas beberapa kali menerima tawaran kerja sama program CSR dari beberapa perusahaan, khususnya untuk peningkatan literasi. Namun hingga saat ini, masih dalam tahap penyusunan kegiatan. Dina berharap akan lebih banyak lagi pihak, terutama masyarakat dan pemangku kepentingan di Palembang, yang mendukung upaya ini.

“Kami terbuka terhadap semua bentuk bantuan untuk memberdayakan masyarakat ini, asalkan tidak ada kepentingan politis yang memengaruhi idealisme visi-misi kami,” pungkasnya.

Continue Reading

Community

Bedah Kampung Bama Hilir

W Hanjarwadi

Published

on

Jika seluruh elemen masyarakat berkolaborasi dan saling peduli, niscaya kesenjangan sosial bisa diatasi.

“Banyak warga yang protes, ‘Kenapa rumah saya tidak difoto-foto seperti rumah yang lain?’” Santana bertutur. Ketua Rukun Tangga (RT) 01, Kampung Bama Hilir, Desa Margagiri itu mengisahkan keresahan warganya. Menurut Santana, beberapa warga kecewa karena rumah mereka tidak diambil gambarnya oleh peserta capacity building Pusdiklat Pajak. Memang, di sela-sela kegiatan yang dilakukan bersama komunitas pemuda Banten yang tergabung dalam Agro Desa Sinergi (ADS) pada 24–26 November 2018 lalu itu sebagian peserta outbound iseng-iseng berfoto bersama pemilik ‘homestay’ yang mereka tinggali.

“Setiap ada tamu jauh datang ke kampung ini dan mengambil gambar kondisi rumah warga tak mampu, mereka berpikir gambar itu untuk mengajukan bantuan ke pemerintah,” lanjut Santana.

Stereotip warga itu terbentuk bukan tanpa sebab. Sudah lama sebagian besar warga Bama Hilir hidup dalam kondisi kesenjangan sosial yang begitu kontras. Yang kaya teramat kaya, sementara yang miskin kelewat miskin. Dua pemandangan berlawanan itu bersanding dalam satu frame bernama Bama Hilir. Menurut Santana, selama ini banyak orang dari luar Bama Hilir datang dan memotret kondisi kampung mereka sembari berjanji akan mengupayakan bantuan ekonomi atau renovasi rumah kepada pemerintah. Apalagi saat-saat musim pilkada tiba.

Kampung kecil berpenduduk sekitar 100 kepala keluarga di pesisir tepi Pandeglang itu adalah target empuk kampanye perbaikan kesejahteraan bagi para calon legislatif dan kepala daerah. Sebab, masih banyak warga yang kondisi ekonominya sangat memprihatinkan. Misalnya, sebagian rumah warga masih terbuat dari bambu beratap daun kelapa dengan lantai tanah yang lembap. Tak heran jika di sepanjang tepi jalan desa yang becek karena belum beraspal itu terpampang baliho-baliho besar calon legislatif, lengkap dengan sederet tulisan slogan kemakmuran yang mereka janjikan.

“Saya juga dijanjikan bantuan sejak tahun lalu. Tapi belum turun-turun juga. Enggak tahu kapan turunnya,” kata Santana gamang kepada Majalah Pajak Minggu, (24/11/2018).

Santana tersenyum getir. Menyeruput secangkir kopi yang sejak semula ia biarkan dingin di sampingnya. Pandangannya tertuju pada rumah bambu reyot yang tak lain adalah kediamannya. Pagi itu kami duduk berbincang di sebuah gardu ronda di seberang jalan, persis di hadapan rumah Santana. “Rumah itu masih berdiri karena belas kasih tetangga saya. Saya tidak punya tanah. Rumah itu menumpang di tanah orang,” Santana melanjutkan ceritanya sembari tak henti menatap gubuk mungil, harta paling berharga miliknya itu.

Rumah Santana sebenarnya nyaris tak layak huni. Sekeliling dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu itu terlihat tua dan rapuh. Jendela depan rumah itu kira-kira setinggi 80 centimeter, terbuat dari lajur bilah bambu selebar lima sentimeter yang disusun horizontal. Jarak antara masing-masing bilah sekitar lima sentimeter juga. Dengan kerapatan seperti itu, sudah pasti angin dan debu leluasa masuk. Untungnya ada selembar spanduk lusuh gambar caleg partai yang bisa difungsikan sebagai gorden.

Santana bekerja sebagai buruh serabutan di tempat salah seorang tuan tanah tersohor di kampung itu. Istri lelaki 31 tahun itu menjadi buruh di perusahaan pengolah sarang walet tak jauh dari kampungnya. Setiap pagi sang istri berangkat dengan sepeda motor bodong—motor tanpa STNK dan surat kepemilikan—yang ia beli dengan uang pinjaman dari lembaga keuangan nonformal yang tentu saja luput dari pengawasan Otoritas Jasa Keuangan.

“Setiap ada tamu jauh datang ke kampung ini dan mengambil gambar kondisi rumah warga tak mampu, mereka berpikir gambar itu untuk mengajukan bantuan ke pemerintah.”

Pemberdayaan

Santana hanyalah satu contoh dari kondisi riil masyarakat miskin di Bama Hilir. Hari itu ia bersyukur. Meski mengaku belum memahami sepenuhnya konsep pemberdayaan desa yang dibawa ADS bersama Pusdiklat Pajak, ia mengaku kehadiran dua institusi itu untuk membantu kampungnya sangat berarti bagi warganya.

“Saya lihat warga sangat senang dengan kegiatan ini. Mereka diberi bantuan peralatan rumah tangga, diajari jualan yang baik, bersih-bersih desa dan dikenalkan potensi yang ada di desa ini yang sebelumnya tidak kami sadari,” kata pria berkulit gelap itu.

ADS adalah komunitas yang berkonsentrasi pada kegiatan community development bagi masyarakat desa di wilayah Banten. Komunitas ini dimotori oleh Nur Agis Aulia pemuda berprestasi yang sudah bertahun-tahun pengalaman bergelut dengan program pemberdayaan masyarakat itu. Personil ADS sendiri dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari mahasiswa, pengusaha, dan seniman. Meski memiliki latar belakang berbeda, mereka memiliki visi yang sama, yakni, pemberdayaan masyarakat untuk mencapai kondisi sosial, ekonomi, budaya yang lebih baik daripada sebelumnya.

“Jadi, kami kolaborasi dengan para komunitas lainnya. Ada komunitas Banten Bangun Desa, yang saya sudah lama dirikan itu. Ada kerja sama kami dengan komunitas Drone Banten, komunitas Design Art,” jelas Agis.

Agis mengatakan, melalui pemberdayaan ini ia ingin masyarakat Bama Hilir menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik. Menurut Agis, kegiatan ini merupakan upaya pemberdayaan (empowerment) kolaboratif yang berbasis masyarakat (community based), berbasis sumber daya setempat (local resource based) dan harus dilakukan secara berkelanjutan (sustainable). Untuk mencapai itu, ada tiga langkah yang harus dilakukan oleh ADS. Pertama, membangunkan kesadaran masyarakat, kedua pembinaan, dan ketiga pendampingan.

Dalam membangun kesadaran, masyarakat diperkenalkan potensi-potensi ekonomi yang wilayahnya, kemudian diajari cara memaksimalkan potensi itu. Di Bama Hilir, misalnya, masyarakat memiliki potensi ekowisata, produk olahan dan kerajinan tangan. Agis menekankan, cara terbaik membantu masyarakat miskin adalah memberdayakan mereka, bukan dengan uluran bantuan langsung yang justru akan membunuh potensi dan kreativitas masyarakat.

“Jangan memberikan bantuan berupa uang atau barang yang hanya akan membuat mereka jadi bergantung,” ujar Agis.

Setelah masyarakat sadar akan potensi yang ada, menurut Agis, langkah selanjutnya adalah pembinaan. Kebetulan, sebagian masyarakat Bama Hilir adalah perajin sapu lidi dan pembuat emping melinjo. Karena itu, mereka diberikan pembekalan cara mengolah produk yang baik, pengemasan hingga cara pemasaran yang efektif. Di sektor ekowisata, warga dibantu membenahi desa mereka agar menarik wisatawan.

“Kami akan kerja sama bareng-bareng membedah kampung Bama Hilir. Kami akan membangun berbagai fasilitas yang belum ada. Dimulai dari toilet (MCK) dulu, kamar sementara untuk wisatawan, agro wisatanya kita akan bisa kembangkan di sana,” ujar penerima predikat cum laude dari Universitas Gadjah Mada itu.

Setelah masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada, langkah selanjutnya adalah mendampingi masyarakat agar program itu bisa berjalan secara berkelanjutan.

Agis mengapresiasi inisiatif Pusdiklat Pajak yang telah membuat acara yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Ia berharap, institusi pemerintah, BUMN atau organisasi lainnya bisa mengikuti jejak Pusdiklat Pajak. Sebab, hanya dengan pembangunan partisipatif seperti itu masalah-masalah krusial di pelosok yang tidak terjangkau APBN bisa diatasi.

“Acara itu menurut saya terobosan baru. Family gathering biasanya dilakukan di tempat wisata yang fasilitasnya lengkap. Namun, ini malah dilakukan di pelosok desa. Di sana akses toilet pun jarang dimiliki warga sekitar. Ini artinya para peserta berbaur dengan masyarakat di lokasi, belajar bersama,” kata Agis.

Ia berharap, instansi pemerintah pusat, daerah, universitas, dan kegiatan seperti pramuka punya ruang untuk melanjutkan program sejenis di satu kampung. “Minimal setiap bulan untuk setahun, sehingga terjadi perubahan pola pikir di masyarakat kampung. Paling tidak, kampung Bama Hilir ini kita jadikan pilot project bersama, ‘Kita Indonesia, Kita Pancasila’ dalam bentuk aktivitas nyata,” imbuh Agis.

Continue Reading

Community

Menenun Masa Depan Perempuan Toraja

Aprilia Hariani K

Published

on

Perempuan muda Toraja kini tak lagi harus menjadi pekerja rumah tangga di negeri orang. Torajamelo menggembleng mereka menjadi Srikandi kreatif, menciptakan fesyen tenun bernilai tinggi.

Puluhan baju berhias motif garis-garis khas tenun Toraja terpajang apik di ruangan galeri ruang utama Museum Tekstil, Jakarta Barat. Berbagai macam produk yang dipamerkan pada awal Agustus 2018 lalu itu nyaris memenuhi tiap sisi dinding. Di sudut kanan ruang, juga terpampang sepatu bot cokelat dengan balutan tenun serupa di sisi belakangnya. Ada pula tas jinjing kulit beragam warna yang disandingkan dengan tenun Toraja bermotif garis zig-zag. Menoleh ke sisi kiri, seorang perempuan tengah sibuk menumpuk rapi lipatan kain hasil tenunan. Sebagian ia sampirkan berjajar agar mempermudah pengunjung melihat corak dan motif kain.

“Silakan, ini hasil tangan kurang lebih seribu penenun di tanah Toraja yang tergabung dalam Torajamelo,” sambut Dinny Jusuf, inisiator berdirinya Torajamelo.

Torajamelo adalah sebuah komunitas yang peduli dengan seni dan budaya khususnya pada bidang kerajinan tenun. Komunitas yang didirikan pada tahun 2008 di Toraja ini bertujuan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan Indonesia.

Mama Dinny—demikian mantan Sekretaris Jenderal di Komnas Perlindungan Perempuan itu biasa disapa—menuturkan, seribu penenun yang karyanya dipamerkan adalah ibu rumah tangga yang berasal dari berbagai daerah, khususnya, Sulawesi Selatan. Namun, yang kali pertama menggerakkan komunitas ini adalah penenun di kampung halamannya, yakni Kecamatan Sa’dan Toraja Utara.

Penenun yang tergabung dalam komunitas Torajamelo mampu menyelesaikan 100 lembar kain Toraja dalam sebulan. Rata-rata satu orang anggota dapat menghasilkan dua hingga tiga kain Toraja per bulan. Satu lembar kain berukuran 55 x 350 sentimeter dihargai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Mama Dinny selama ini berperan sebagai manajer para penenun di daerahnya. Ia mengatur lalu lintas produksi dan distribusi. Kain Toraja yang sudah dibeli perajin dibawa ke kelompok penjahit baju, tas, ataupun sepatu binaan Torajamelo. Bilamana produk telah memenuhi kelayakan, Mama Dinny akan mengatur distribusi.

Karya Torajamelo telah mampu menembus pasar luar negeri. Permintaan produk pun terus meningkat dari Jepang, Australia, dan Amerika Serikat. Saat ini komunitas ini rata-rata setiap bulannya mampu menjual sekitar 200–500 potong produk dari masing-masing varian yang ada, seperti baju, sepatu, maupun tas. Semua produk itu laris manis terjual, baik secara on-line (Instagram) maupun off-line melalui Butik Torajamelo di Kemang Timur Nomor 62, Jakarta. Harga baju berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta, sepatu dibanderol Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, sedangkan harga tas sekitar Rp 1,5 juta sampai dengan Rp 2 juta.

 “Kami ingin mereka bisa terus menenun dengan rasa bangga.”

Tradisi lelulur

Mama Dinny yakin, keauntentikan karya Torajamelo masih menjadi nilai jual tersendiri. Sebab para perajin masih menggunakan alat tenun dengan back-strap sehingga proses pembuatannya memakan waktu sedikit lebih lama dan ukuran kain yang dihasilkan pun tidak sebesar tenun yang diproduksi alat tenun bukan mesin (ATBM).

“Torajamelo berarti Toraja bagus. Mereka masih menjaga tradisi leluhur,” ucap Mama Dinny.

Selain memberi harga yang layak untuk setiap kain, Torajamelo juga membangun kemitraan dengan Yayasan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Keduanya bersinergi untuk membangun koperasi usaha. Selain meminjamkan modal, koperasi juga sebagai corong bantuan pembiayaan program beasiswa untuk anak-anak dan cucu para penenun yang tidak mampu, tetapi berprestasi. Sementara ini beasiswa berlaku untuk jenjang SMA maupun perguruan tinggi.

“Kami ingin mereka bisa terus menenun dengan rasa bangga bahwa penenun itu sama profesinya seperti dokter atau insinyur,” harap Mama Dinny.

Agaknya memang tak berlebihan harapan mantan bankir salah satu bank asing ternama ini. Sebab, sebelum Torajamelo berdiri, kampung sang suami Mama Dinny di Kecamatan Sa’dan itu terbilang sepi pemuda, khususnya, kaum perempuan muda. Ternyata, pemuda banyak yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia dan Cina sehingga banyak kasus hamil di luar nikah dengan majikannya.

“Saya kaget banyak nenek mengasuh cucunya yang berkulit putih dan sipit. Ternyata, anak perempuan mereka hamil oleh majikan,” kenang Mama Dinny.

Suatu saat, Mama Dinny melihat ada beberapa penduduk yang masih menenun di depan teras rumahnya. Harga kain Toraja kala itu Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Mama Dinny pun memborongnya. Kira-kira 100 kain dibeli dan dijual kembali ke Jakarta. Sederhana saja harapannya, supaya para gadis desanya lebih tertarik mencipta kain tenun Toraja ketimbang pergi menjadi TKW.

Wadah penenun

Mengetahui respons pasar yang tinggi, Mama Dinny kemudian mendirikan Torajamelo yang bertujuan memberi harga yang layak untuk kain Toraja. Bahkan seiring berjalannya waktu kain Toraja dapat menjadi produk fesyen bernilai tinggi karena dipadupadankan dengan baju, tas, dan sepatu. Saat ini banyak gadis yang belajar menenun kain Toraja. Mereka juga bisa memilih menjadi admin website Torajamelo.com, penjaga pameran, atau sebagai penjaga butik Torajamelo di Kemang.

Torajamelo kini sudah akrab di telinga pasar tenun nasional. Komunitas ini hampir tak pernah absen mengikuti pameran kain. Bahkan, Torajamelo telah melebarkan sayap dengan merangkul penenun dari daerah lainnya, seperti Mamasa, Adonara, Lembata, juga wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Torajamelo berharap menjadi wadah para penenun Indonesia untuk tetap bangga terhadap apa yang ia kerjakan. Menjadi pilihan untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik,” harap Mama Dinny.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News6 hari ago

Manfaatkan Kemudahan, Pakai e-Filing

Meski baru mencoba menyampaikan pajak secara elektronik di tahun ini, Ana Christna Pinem tak menunggu akhir batas pelaporan agar tetap...

Breaking News1 minggu ago

GAAAC 2020 Tingkatkan Daya Saing Mahasiswa

Universitas Gunadarma, Margonda, Depok kembali menyelenggarakan Gunadarma All About Accounting Competition (GAAAC) pada 3–4 Maret 2020. Ajang kompetisi tingkat nasional...

Breaking News2 minggu ago

Fokus ke Empat Bidang Sosial

Lembaga Penjamin Simpanan menjalankan kegiatan kemasyarakatan dan lingkungan sebagai wujud kepedulian sosial dan makin dekat dengan masyarakat. Upaya menjaga keberlanjutan...

Breaking News2 minggu ago

IKPI Buka Kursus Ahli Kepabeanan

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) meresmikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan di Ruko Graha Mas Fatmawati guna meningkatkan kompetensi konsultan pajak...

Breaking News1 bulan ago

Resmikan TaxPrime Compliance Center untuk Layanan Profesional

Firma konsultan pajak TaxPrime meresmikan kantor baru untuk TaxPrime Compliance Center di Jalan Guru Mughni 106, Setiabudi, Jakarta Selatan. TaxPrime...

Breaking News1 bulan ago

Bayar Pajak, Beasiswa Banyak

Jakarta, Majalahpajak.net-Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus menyempurnakan kurikulum sadar pajak dan menginstruksikan pembentukan relawan pajak...

Breaking News2 bulan ago

Penyelundupan Gerogoti Wibawa Negara

Jakarta, MajalahPajak.net- Kementerian Keuangan RI melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bersama Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan...

Breaking News2 bulan ago

Inovasi tak Sebatas Aplikasi

Jakarta, MajalahPajak.net-Tak sedikit Kantor Pelayanan Pajak (KPP) gugur dalam lomba Kantor Pelayanan Terbaik (KPT) tingkat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) karena hanya...

Breaking News2 bulan ago

Apresiasi untuk Guru Penutur Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan apresiasi kepada 10 pemenang lomba vlog bertajuk “Guru Bertutur Pajak (Gutupak)” di Kantor Pusat...

Breaking News2 bulan ago

Pengelola Dana Desa harus Melek Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia yang beranggotakan para pengajar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI) memberikan pendampingan bagi pengelola...

Trending