Connect with us

Feature

’You’ Bisa Sekolah, Kerja, dan Usaha—Masa tidak Taat Pajak?

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Cintanya kepada negara tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Pemikiran, harta, tenaga, dan terkadang kritik kerasnya hanyalah sebagian dari sumbangsihnya.

Suatu siang di tahun 2014, Sofjan Wanandi yang kala itu menjabat sebagai Ketua Apindo memenuhi undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta untuk mendiskusikan roadmap perekonomian kabinet kerja. Salah satu di dalamnya, program pengampunan pajak atau tax amnesty.

Di hadapan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Sofjan memberi keyakinan bahwa para pengusaha akan mendukung penuh program ini.

Tax Amenesty upaya membangun kembali trust antara Wajib Pajak dan pemerintah,” kata Sofjan yang saat ini menjabat sebagai ketua staf ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengenang pertemuan itu di ruang kerjanya, pada Rabu sore (5/5).

Sofjan mengaku bangga dapat terlibat dalam pertemuan itu. Terlebih menurutnya, banyak pihak yang mengakui program pengampunan pajak di Indonesia yang paling berhasil.

“Saya menilai salah satu keberhasilan saya memimpin Apindo adalah mengusulkan tax amnesty,” katanya—sejak 2014 lalu tongkat estafet kepemimpinan Apindo berada di tangan Hariyadi Sukamdani.

Sofjan meyakini, tax amnesty merupakan lembaran baru Wajib Pajak untuk memulai kepatuhan pajak. Terlebih setelahnya Wajib Pajak tak bisa lagi bersembunyi. Sebab, 2018 era automatic exchange of information telah dimulai.

“Wajib Pajak tidak bisa kucing-kucingan lagi karena pemerintah bisa melakukan cek dan ricek pada siapa pun yang belum bayar pajak. Kekayaan warga Indonesia di luar negeri bisa diketahui dengan mudah dan cepat,” jelas Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) 2004-2014 ini.

Nama Sofjan juga masuk dalam jajaran 31 penerima penghargaan Wajib Pajak Patuh dan Berkontribusi Besar 2017 dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar Mekar Satria Utama pada Maret 2018 lalu.

“Saya juga tidak mengerti kenapa mendapatkannya. Saya pikir masih banyak pengusaha yang lebih kaya dari saya. Sejak dulu saya hanya mencoba berkontribusi untuk negara tercinta ini. Bayar pajak dengan benar, “ ungkap Sofjan.

Politik praktis

Jauh sebelum Sofjan menjadi pengusaha kelas kakap di Indonesia, rasa cinta pada tanah air diejawantahkannya melalui keterlibatannya dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) serta organisasi mahasiswa yang dibentuk Menteri Pendidikan Tinggi Dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Brigjen Syarief Thajeb bernama (KAMI) pada 1965.

Kala itu, Sofjan berstatus mahasiswa tingkat V Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menjabat sebagai Wakil Ketua PMKRI dan Ketua KAMI.

“Tidak ada alasan tertentu menjadi aktivis. Rasa cinta kepada negara saja, cinta apa bisa dijelaskan? Semua takdir sejarah,” kata Sofjan.

Sofjan kemudian mengenang, situasi genting terjadi di Indonesia ketika menjabat dua organisasinya, Gerakan 30 September 1965. Di bawah komandonya, KAMI bertekad bulat membantu ABRI dalam menumpas gerakan kontrarevolusi itu.

Kira-kira pada November 1965, Sofjan bersama kawan-kawan mengumpulkan 100 ribu mahasiswa untuk mengadakan rapat raksasa di Fakultas Kedokteran UI Salemba Raya, Jakarta. Tak jarang pula Sofjan menjadi koordinator demonstrasi di jalan.

“Kami menuntut Presiden Soekarno menertibkan aparat-aparat revolusi dari unsur-unsur koruptor, pencoleng, dan kaum revolusioner gadungan lainnya,” kata Sofjan mengenang isi hasil rapat akbar itu.

Pertemuan berlanjut. Sofjan bersama ketua presidium KAMI Pusat Cosmas Batubara, perwakilan Ikatan Pers Mahasiswa Ismid Hadad, Mari’e Muhammad, aktivis PMKRI Savrinus Suardi, tokoh HMI Nazaruddin Nasution, menggelar rapat di markas PMKRI.

Pertemuan yang nyaris digelar setiap malam itu merupakan penyusunan konsep Tri Tuntutan Rakyat atau yang kita kenal sebagai Tritura. (Isi Tritura: bubarkan PKI, rombak kabinet, turunkan harga.)

Setelah Presiden Soekarno digantikan oleh Soeharto, para aktivis 1966 diminta berjuang dari dalam pemerintahan, termasuk Sofjan. Tepat pada 1 Februari 1967, ia dilantik menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) Komisi Keuangan sekaligus bergabung dengan partai Golongan Karya (Golkar).

“Saya berbeda paham dengan aktivis 1966 yang tetap ingin berjuang di jalanan. Saya memutuskan untuk bersuara dan berjuang dari dalam. Keputusan itu membuat saya dikirimi lipstick dan beha karena kami dianggap melacurkan diri,” kenangnya sembari tertawa kecil.

Lima tahun lamanya kala itu Sofjan menjadi anggota DPR-GR dan 20 tahun menjadi anggota MPR. Tahun 1987 ia pensiun. Pesangon Rp 1.5 juta per bulannya ia serahkan ke partai Golkar sebagai dana operasional partai. Setelah itu, Sofjan diminta oleh Staf Khusus Bidang Ekonomi Presiden Soeharto, Soedjono Hoemardani sebagai staf pribadi.

Sejak saat itu Sofjan mendampingi seluruh tugas negara Soedjono. Termasuk ketika Soedjono diutus oleh Presiden melobi pemerintah Jepang. “Kondisi Indonesia saat itu sudah bangkrut. Devisa sudah tidak ada,” ungkap Sofjan.

Ia menjadi saksi bagaimana Pak Djono—panggil Sofjan kepada Soedjono—memuluskan jalan supaya Indonesia mendapat bantuan Jepang senilai 30 juta dollar AS.

Selain itu, Soedjono membuka jalur investasi Jepang ke perusahaan Indonesia. seperti PT Astra, Panasonic Group, PT Indokaya, dan lain-lain.

“Saya belajar banyak dari Pak Djono. Beliau lincah, gesit, gemar bermain bola, tenis, golf. Orangnya religius,” kesan Sofjan.

Setelah Pak Djono tutup usia, Sofjan-lah yang meneruskan hubungan baik dengan Pemerintah Jepang. Tak pelak, Sofjan mendapat

penghargaan The Order of Rising Sun, Gold, Silver Star dari Pemerintah Jepang.

Saya sangat mendukung penetapan Hari Pajak 14 Juli sebagai simbol kepatuhan dan kesadaran pajak kita sebagai warga negara.

 Pebisnis-aktivis

Lepas dari itu, Sofjan justru ingin menanggalkan hiruk-pikuk dunia politik. Ia kemudian bicara empat mata dengan sang kakak yang menjabat sebagai Wakil Sekjen Golkar, Jusuf Wanandi.

“Saya tidak berminat lagi terjun dalam dunia politik praktis. Apa yang saya perbuat di parlemen? Tidak banyak yang bisa saya lakukan. Saya bisnis saja, kamu di politik,” tutur anak ketiga dari pasangan Lim Bian Khoen dan Lim Gim To ini di hadapan sang kakak.

Akhirnya, bermodal menggadaikan rumah orang tua di kawasan Menteng, Sofjan bersama kakak dan adiknya, Jusuf Wanandi, Biantoro Wanandi, Rudy Wanandi, Edward Ismanto Wanandi mendirikan Gemala Group.

Perusahaan mereka terus berkembang. Hingga membawahi 48 perusahaan yang terbagi dalam sembilan sektor usaha, yaitu, perdagangan, kimia, automotif, farmasi, produk metal, hotel, pariwisata, real estate, keuangan, dan transportasi.

“Keberhasilan saya mengonsolidasi Gemala Group tidak ada kaitan dengan kedekatan saya dengan pemerintah. Kunci bisnis ya, kerja keras, jujur, dan niat berkontribusi untuk negara. Pajak kita bayar, lalu mengurangi pengangguran,” jelas ketua Komite Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN) tahun 2000-2007 ini.

Meski jadi pebisnis, darah aktivis masih cukup mengalir di tubuhnya. Ia memilih tetap berorganisasi dengan mendirikan Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Nah, sewaktu Presiden Soeharto menjabat selama 26 tahun, Sofjan mulai kembali vokal melayangkan kritik atas kebijakan ekonomi pemerintah. Terutama soal kebijakan uang ketat (tight money policy) dan bunga yang tak kunjung turun.

“Saya vokal dan mengkritik kebijakan bukan untuk menjelekkan, tetapi untuk memperbaiki. Saya cinta Indonesia, harus ada pengusaha Indonesia yang berani bicara,” jelas Sofjan.

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun Sofjan tak luput melemparkan protes, terutama terkait pernyataan Presiden SBY tentang berakhirnya upah buruh murah. Sofjan menilai, pernyataan itu dikhawatirkan memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sejumlah perusahaan. Padahal, masih banyak rakyat yang belum bekerja. Pemerintah harus tetap mengategorikan buruh murah dan mahal berdasarkan kemampuan.

Kini, di usianya yang tak lagi muda. Sofjan tetap ingin mengabdikan diri pada tanah air tercinta melalui perusahaan-perusahaan yang ia rintis bersama keluarga. Namun, takdir di dunia politik ternyata belum berakhir. Tahun 2015 Sofjan diminta menjadi Ketua Tim Ahli Wakil presiden Jusuf Kalla.

“Sofjan, saya minta Anda mengabdikan diri untuk negara ini. Ini perjuangan kita selama 60 tahun. Sekarang saya minta Anda. Mari kita berbuat untuk bangsa dan negara dalam usia kita setua sekarang,” kata Sofjan menirukan kembali permintaan Jusuf Kalla.

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Sofjan tak bisa menolak.

“Baiklah, apa pun untuk negara tercinta saya lakukan. Walaupun saya sedih, waktu bermain dengan cucu berkurang,” kata Sofjan sembari tertawa dan memperlihatkan foto keluarga di ruang kerjanya.

Sebelum mengakhiri perbincangan, Majalah Pajak juga sedikit menceritakan inisiatif Direktorat Jenderal Pajak mencanangkan tanggal 14 Juli sebagai Hari Pajak. Mendengar itu seketika Sofjan menegakan tubuhnya dari sandaran kursi kerjanya. Ia mengaku bangga dengan apa pun perayaan untuk mendukung kesadaran pajak.

“Saya sangat mendukung penetapan Hari Pajak 14 Juli sebagai simbol kepatuhan dan kesadaran pajak kita sebagai warga negara. You bisa usaha, sekolah, kerja di negara ini, you masa tidak taat pajak,” tutur pria kelahiran Sawahlunto 3 Maret 1941 ini.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Feature

Mukhalis Buah Langka Kalimantan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Mohammad Hanif Wicaksono

Setelah menemukan ratusan buah-buahan langka di rimba Kalsel, Hanif membangun desa plasma nutfah untuk kesejahteraan masyarakat lokal.

Agaknya sedikit dari kita mengenal buah limpato atau kesusu. Buah bernama latin Prainea Limpato memang sukar ditemui, bahkan di daerah asalnya di Kalimantan Selatan (Kalsel). Bentuk limpato unik, dalam satu tangkai berkumpul buah sebesar jari telunjuk yang muncul di atas permukaan mirip kulit Artocarpus heterophyllus (nangka). Buah ini berwarna hijau tua atau oranye, sementara isinya kuning bertekstur serupa Artocarpus integer (cempedak).

Namun, beberapa tahun ke belakang, limpato mulai dikenal masyarakat Kalimantan semenjak Mohammad Hanif Wicaksono membudidayakan sekaligus memamerkannya di Festival Buah Nusantara di Desa Marajai, Kalsel. Tak hanya limpato, Hanif juga mengenalkan ratusan buah khas lainnya yang ia dapat dari rimba Borneo. Aktivitas itu semakin menjadi sorotan setelah ia meraih apresiasi bidang lingkungan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2018.

“Di pasar-pasar atau swalayan, buah-buahnya impor, bahkan anggur hijau itu impor. Padahal, buah kita punya potensi yang luar biasa, belum termanfaatkan, belum dikenal, tapi keburu hilang. Daripada keburu hilang, karena saya punya passion di sini, saya pelajari buah-buah langka itu secara autodidak,” tutur Hanif Majalah Pajak melalui telepon, Selasa Malam (1/12).

Ketertarikannya menyelisik dunia botani bermula ketika ia hijrah dari Jawa Timur ke Kalsel pada 2011 silam. Perpindahan itu sekaligus momentum baginya menjemput nasib sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kabupaten Balangan, Kalsel.

Singkat kisah, Hanif menemukan buah-buahan eksentrik di salah satu pasar tradisional di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel. Tak hanya bentuknya yang unik, rasa dan tekstur buah juga autentik. Beberapa diantaranya adalah limpato dan lahong—bahasa Kalimantan (durian berkulit merah) yang punya cita rasa seperti umbi atau minyak telon. Anehnya lagi, buah-buahan itu hanya ada beberapa hari saja di pasar.

“Bayangkan anehnya. Limpato, kan, keluarga nangka, tapi bentuknya bukan kaya nangka, enggak karu-karuan. Dulu orang mengira buah yang tidak bisa dimakan, dulu enggak ada yang jual. Di kita enggak ada yang peduli. Buahnya rasanya campuran jeruk sama nanas, asam manis—seger,” ungkap Hanif.

Rasa penasaran pria kelahiran Blitar, 18 Agustus 1983 ini semakin membuncah. Ia lantas melakukan observasi mandiri dengan menghimpun informasi ke pedagang pasar maupun masyarakat mengenai asal muasal buah-buahan langka khas Borneo itu.

“Pedagang tidak ada yang tahu dari mana durian itu didapatkan, anehnya gitu. Awalnya saya mulai beli buah yang aneh-aneh, bijinya saya tanam,” kisahnya.

Sembari mengemban tugas sebagai penyuluh program keluarga berencana (KB), alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini tetap mengumpulkan informasi tentang aneka buah lokal di sana. Rasa ingin tahunya juga dipicu oleh kondisi masyarakat yang mayoritas tergolong miskin. Ia menilai buah-buahan di Kalsel harus dikembangkan karena bisa menjadi roda kesejahteraan.

Keluar-masuk rimba

Hingga akhirnya pelbagai data dan informasi menyimpulkan, bahwa buah-buahan langka berasal dari hutan sekitar Kalsel. Maka, tanpa pikir panjang, ia mulai menelusuri rimba Pegunungan Meretus setiap akhir pekan.

“Ternyata kenapa di sebut langka, karena itu tanaman hutan. Sedangkan, di Kalsel, 50 persen hutannya sudah alih fungsi jadi berubah jadi tambang. Itu, kan, mengancam keberadaan plasma nutfah kita—jadi banyak yang hilang. Bahkan satu spesies cuma ketemu satu atau dua, indukan saja. Bahkan saya ketemu satu pohon, tahun depannya enggak ada lagi.”

Di tahun pertama petualangannya, Hanif menemukan tanaman langka, antara lain Hambawang (semacam mangga, tetapi berbentuk bulat dan berwarna hijau pekat), lahung, borassodendron borneense (bendang), limpato. Biasanya identifikasi nama buah berdasarkan hasil analisis dari majalah Trubus atau mengecek ke situs herbarium internasional. Ia juga kerap memastikannya kepada Mochamad Reza Titawinata dari Taman Buah Mekarsari dan plant community—perkumpulan profesional ilmu taksonomi.

Kerap kali aktivitasnya itu dilakukan sendiri dengan persiapan alat yang memadai. Pengalaman menjelajahi rimba tentu penuh tantangan. Dia pernah tersesat selama beberapa hari dan pernah mati rasa selama tiga hari akibat mencicip buah asing di hutan.

“Semakin keluar masuk hutan, semakin banyak spesies buah yang didapat. Itu pun banyak spesies yang belum dikenal. Bahkan masyarakat lokal belum memanfaatkan. Contoh, limpato. Karena rasanya asam manis, pastinya kaya vitamin C, tapi belum ada penelitian lebih lanjut.”

Ironisnya, limpato justru menjadi primadona di beberapa negara. Tempo dulu, pemerhati tanaman langka asal Hawaii datang untuk mengambil ribuan biji lampato ke negaranya. Komunitas serupa asal Florida pun memboyong biji Mangifera casturi (mangga kasturi) dan berhasil membudidayakannya. Padahal, di Indonesia mangga kasturi sudah masuk dalam tanaman langka. Hanif pernah pula menolak ajakan peneliti asal Amerika Serikat dan Srilanka untuk mengembangkan tanaman buah langka khas Kalimantan di negara mereka.

“Banyak teman-teman luar negeri sengaja ambil bijinya karena yang dicari sumber daya genetiknya. Kita punya Keragaman genetik. Misalnya durian, ada yang dagingnya merah, kulitnya merah, segala macam. Artinya, bisa disilang, sehingga menghasilkan durian yang baru. Masalahnya, kita di Indonesia enggak ada yang melakukan itu. Pemerintah enggak concern karena memang membutuhkan waktu yang sangat lama (budidaya tanaman langka) dan bukan kebijakan yang populis.”

Sejatinya, menurut Hanif, mayoritas tanaman buah memang berasal dari hutan. Kemudian selama puluhan bahkan ratusan tahun terjadi perbaikan genetik.

Kini, sudah sekitar 160 tanaman buah lokal yang berhasil ia budidayakan dan awalnya dibagi secara gratis ke masyarakat sekitar, kebun raya, maupun instansi lain. Hasil dokumentasi ratusan buah-buahan langka itu pun ia tuangkan dalam buku berjudul Potret Buah Nusantara Masa Kini dan Buah Hutan Kalimantan seri I-VI.

Desa plasma nutfah

Suatu hari, pada tahun 2018, Hanif dinas di kaki pegunungan Meratus, Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel. Di sana ia menjumpai banyak keluarga prasejahtera. Kondisi itu memantik Hanif mengaplikasikan mimpinya, yaitu membuat desa plasma nutfah. Konsep pemberdayaan meliputi pembudidayaan tanaman buah lokal dan anggrek, agrowisata, dan pengembangan ecoprint—teknik menghasilkan kain dari bahan alami. Program itu belakangan dinamakan kelompok usaha Tunas Meratus.

“Jadi, bagaimana sumber daya alam itu bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan mereka, tapi kelestariannya tetap terjaga,” ujar suami dari Dewi Ratna Hasanah ini.

Agar kegiatan masyarakat desa semakin optimal, ia membuat rumah pembibitan seluas 100 meter. Dana pembangunan diperoleh dari hadiah kemenangan Hanif meraih SATU Indonesia Awards 2018. Apresiasi itu turut memacu Hanif menghelat Festival Buah Nusantara Marajai di awal 2019. Acara itu berhasil menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Marajai itu di ujung kabupaten, tidak ada yang kenal, kita jadikan desa plasma nutfah, akhirnya lintas sektor mau masuk. Bahkan, swasta masuk. Pemerintah daerah, SKPD (satuan kerja perangkat daerah) jadi mau ke Marajai—jadi tahu potensi buah kita, jadi tahu ‘Oh ada jalan yang rusak,’” kata penerima Kalpataru 2019 ini.

Berkat program desa plasma nutfah 166 keluarga bisa hidup lebih baik. Harga biji atau tunas limpato sekarang sekitar Rp 60 ribu, sementara buahnya Rp 20 ribu. Kini sudah banyak perusahaan di Jakarta memesan tanaman buah dari kelompok usaha Tunas Meratus.

Ia berharap kecintaannya pada tumbuhan buah lokal dapat lebih dimanfaatkan masyarakat luas melalui arboretum—semacam kebun raya untuk penelitian maupun wisata.

 

Lanjut baca

Feature

Melukis, Rekreasi Lahir-Batin

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. Pribadi/Istimewa

Di atas selembar kanvas, ia menuangkan imajinasi dan kreativitas. Baginya, melukis adalah sarana rekreasi batin dan badan.

 

Usai melakukan wawancara melalui aplikasi virtual dengan Majalah Pajak, Didik Sasono Setyadi mengirimkan foto sejumlah lukisan cat akrilik dan cat air yang pernah ia torehkan di atas lembaran kanvas. Meski dikirim dalam bentuk digital, detail komposisi warna dan goresan cat lukisan berciri impresionis itu masih sangat memukau mata. Tentu saja nuansanya akan jauh berbeda dengan jika bisa menikmati lukisan aslinya. Sayangnya, pandemi Covid-19 masih membuat banyak orang terpaksa menunda sua.

Lukisan yang dikirim Didik ada beberapa tema. Ada lukisan rumpun bunga, lukisan keindahan alam hingga gambaran lingkungan pengeboran minyak bumi. Lukisan yang disebut terakhir ini barangkali terinspirasi dari keseharian Didik di lingkup pekerjaan yang selama ini ia tekuni. Maklum, pria yang lahir di Nganjuk, Jawa Timur 19 Januari 1967 ini sehari-hari bekerja di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Didik menjabat sebagai Kepala Divisi Kelompok Kerja Formalitas SKK Migas, sekaligus merangkap sebagai Ketua Kelompok Kerja One Door Service Policy (ODSP).

Rutinitas pekerjaan yang padat tak Membuat Didik melupakan hobinya menuangkan imajinasi dan kreativitasnya melalui selembar kanvas. Meski mengaku hanya kegiatan samben, berkat hasil corat-coret yang dilakoninya sejak 2017 lalu itu Didik pernah menggelar beberapa kali pameran lukisan di beberapa kota besar di Indonesia, Seperti Malang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Bagi Didik, melukis adalah salah satu cara untuk mengisi waktu agar lebih produktif. Sebab, hidup harus terus bergerak. Dan seni memberinya keleluasaan untuk bergerak, baik secara fisik maupun batin.

Baca Juga: Memantik Asa Pembatik Muda

“Ibarat orang naik sepeda, kalau tidak bergerak, kan, malah jatuh. Seni itu bagian dari hidup dan hidup itu harus bergerak supaya kita tidak jatuh,” ungkap Didik kepada Majalah Pajak pada pertengahan September lalu.

Lukisan buatan Didik banyak diapresiasi dan dipesan orang. Meski demikian, lulusan terbaik Magister Hukum Pemerintahan Universitas Airlangga Surabaya tahun 2008 ini mengaku tak pernah belajar khusus untuk melukis. Barang kali, bakat yang ia miliki itu mengalir dari sang ayah yang juga punya hobi melukis.

“Bapak saya suka corat-coret realis—gambar wajah orang, Bung Karno, gambar tokoh, atau menggambar dirinya sendiri pakai pensil dan kertas biasa. Saya juga sejak kecil sudah melakukan hal yang sama. Namun, sampai saya kuliah, kerja, belum pernah menyentuh satu kanvas pun untuk melukis. Baru tahun 2017, saya juga enggak ngerti tiba-tiba kok tertarik,” ujarnya.

Ikon kampanye Jokowi

Selain melalui media kanvas, Didik juga mengonversi karyanya itu dalam bentuk digital kemudian menuangkan lukisannya pada media fesyen, seperti pada pakaian, tas, sepatu dan lain-lain. Ia juga ia mengaplikasikan karyanya di atas media keramik atau kaca.

“Semua itu saya memperlakukannya sebagai kreasi. Tapi salah seorang rekan saya, dosen di bidang seni sastra mengatakan, kalau saya menciptakan kreasi seni itu sebenarnya saya sedang berekreasi, bukan kreasi—karena kreasi saya sebagai profesional di dunia pekerjaan saya (di SKK Migas)—dan saya menikmati itu karena memang itu rekreasi, ” tutur pria yang kini tengah menempuh program doktoral bidang Ilmu Pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri ini.

Peminat karya Didik, selain kolega adalah pejabat negara. Bahkan salah satu karya Didik pernah digunakan sebagai ikon kampanye para Pendukung Jokowi di Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Alumni Jatim (FAJ) 01 saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) maju pada pemilihan presiden periode kedua pada Februari 2019 lalu.

Sekadar menyegarkan ingatan, Kala itu FAJ 01 memberikan kepada Jokowi sebuah jaket rompi berbahan denim yang bermotif lukisan Reog dan Tugu Pahlawan. Lukisan itu ternyata tak lain adalah salah satu karya Didik.

Kita belum memiliki rasa kebersamaan untuk saling membantu dan mendukung antara seni, industri, pemerintah

“Waktu itu rekan kuliah saya meminta bantuan untuk saya membuatkan sesuatu untuk Pak Jokowi yang akan berkampanye Pilpres Periode Kedua di Surabaya. Akhirnya, saya bikinkan rompi ikonik dengan Surabaya dan Jawa Timur, yaitu sebelah kiri gambar patung Suro dan Boyo, sebelah kanan gambar “Reog Ponorogo. Belakangnya bertuliskan Cak Jokowi,” kenang Didik.

Baca Juga: Lewat Seni Kepatuhan Tergali

Kawinkan seni dan teknologi

Kecintaan Didik pada dunia seni juga mengantarkannya pada sebuah gagasan untuk mengawinkan seni dan teknologi. Artinya, seni tidak hanya sebatas pajangan dalam sebingkai kanvas, tapi bisa melalui media yang digunakan sehari-hari. Entah itu pakaian, aksesori, bahkan perlengkapan rumah tangga semisal bantal. Idenya sederhana, karya seni yang dikonversi menjadi data digital dan dicetak pada media-media tersebut. Dengan cara itu, ia berharap seni bisa dinikmati lebih luas, inklusif dan lebih terjangkau.

“Lukisan itu kalau diaplikasikan menjadi motif pakaian, motif untuk jok, kursi, macam-macam banyak sekali sebenarnya. Tapi tampaknya belum ada yang mengarah ke sana untuk betul-betul secara massal. Bahkan, saya melihat di hotel-hotel itu yang ketika saya menginap di seluruh Indonesia, keliling itu, hanya hotel tertentu saja yang betul-betul memasang lukisan asli. Sementara di kamar itu reproduksi lukisan dari luar negeri. Kenapa enggak dari kita?”

Mimpi Didik itu sebenarnya bukan untuk dirinya, melainkan gagasan untuk memajukan pelaku seni di Indonesia agar karya mereka dikenal di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Didik berpikir, andai saja setiap pengelola properti di Indonesia, mulai dari hotel, perkantoran, dan lain-lain mau berkomitmen menggunakan karya seni hasil karya anak bangsa, maka seni Indonesia akan lebih dikenal. Dengan cara itu pula, mereka juga telah memajukan para pelaku seni di tanah air, baik secara ekonomi maupun apresiasi.

“Hotel di Indonesia itu ribuan jumlahnya. Kalau dari sekian ribu itu mempunyai komitmen untuk memasang atau memesan lukisan dari seniman Indonesia itu kan sudah suatu pasar yang besar. Di setiap kamar itu dikasih satu lukisan—ya enggak usah gede-gede, harganya enggak usah mahal-mahal. Di Indonesia ini ada beribu-ribu kamar yang bisa dipasangi lukisan. Ini, kan, sebenarnya peluang,” kata Didik.

Untuk mewujudkan gagasan itu, tahun lalu Didik mulai membangun merek yang diberi nama Artsenic-29. Artsenic-29 mencoba menuangkan hasil seni lukis ke dalam berbagai media. Upaya ini memang sedang dimulai, mengingat Didik masih mengemban tugasnya sebagai pegawai SKK Migas. Namun, suatu saat punya impian untuk bersinergi dengan pelaku seni di Indonesia agar masyarakat Indonesia lebih mengenal karya seni anak bangsa sendiri dan seni juga menjadi alat untuk menggerakkan ekonomi.

“Kalau kita lihat dari ujung Aceh sampai Papua, produk seni kita itu luar biasa macam-macam, bagus-bagus lagi. Tapi kita belum memiliki rasa kebersamaan untuk saling membantu dan mendukung antara seni, industri, pemerintah. Ini harusnya bareng-bareng mengembangkan hal yang sudah ada—kadang-kadang kita malah mengembangkan hal yang mengada-ada. Kemudian dibina, di cari pasarnya,” pungkas Didik.

Selain menekuni seni lukis, Didik juga dikenal produktif menulis buku dan artikel di bidang pemerintahan, hukum, sosial, politik, budaya dan tulisan terkait dengan sumber daya alam, khususnya Migas. Di bidang sastra, Didik juga gemar membuat puisi dan telah ia terbitkan dalam buku antologi puisi. Berikut nukilan bait puisi pada salah satu karya Didik berjudul “Purnama dan Bayu”.

Baca Juga: Kebudayaan itu Investasi, bukan Biaya

Aku tak mampu merekayasa bulan untuk hibahkan purnamanya

Pada hati yang berbalut kabut di siang dan malam

 

Aku tak mampu ajak sang Bayu berembus ikuti arah kemauanku

Apalagi untuk usir terbangkan debu-debu kering yang mengubur batinmu

 

Karena aku hanya mampu basuh telapak kakimu

Sedikit…, ya…, hanya sedikit sekali…, bersihkan tanah yang menempel di sana dan hampir masuk ke pori-pori kulitmu.

Lanjut baca

Feature

70 Persen untuk Masyarakat

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok Pribadi

Ia merangkul semua kalangan, membawa misi memberdayakan masyarakat agar lebih produktif dan memiliki kehidupan lebih sejahtera.

 

Gerakan kewirausahaan sosial atau social entrepreneurship di Indonesia belakangan ini telah memberikan dampak positif bagi pembangunan ekonomi masyarakat di berbagai sektor. Mulai dari sektor agrikultura, pendidikan, kesehatan, dan industri kreatif. Para pegiat wirausaha sosial itu mencari cara untuk membuka peluang memberdayakan masyarakat dengan cara inklusif dan menjangkau berbagai kelompok minoritas atau marginal. Misalnya orang-orang tak mampu, para penyandang disabilitas, dan lain-lain. Alih-alih berorientasi pada keuntungan pribadi, bisnis yang mereka lakukan lebih untuk mementingkan misi menyejahterakan masyarakat dengan landasan kemanusiaan atau kepedulian terhadap sesama.

Kehadiran para pelaku usaha sosial (sociopreneur) ini pun akhirnya menjadi jawaban untuk mengatasi persoalan kemiskinan di tengah masyarakat yang sejak dulu menjadi lingkaran setan.

Salah seorang yang memilih jalan hidup sebagai sociopreneur adalah July Rianthony Nata Kesuma. Sejak 26 tahun silam, tepatnya pada 1996, pria asal Palembang kelahiran 13 Juli 1972 itu memilih terjun di bidang pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Masyarakat yang ia dampingi mulai dari petani, nelayan, pekebun, juga kaum marginal. Misalnya, dalam penciptaan lapangan kerja, pendampingan pengembangan usaha dan membantu menjembatani akses permodalan.

Kedekatan Ryan dengan masyarakat tingkat bawah dimulai ketika ia menjadi project leader pendirian tujuh SwaMitra, di wilayah Sumbagsel sekitar tahun 1997 hingga 1999. SwaMitra adalah sebuah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang dibentuk oleh Bank Bukopin bekerja sama dengan koperasi simpan pinjam dalam usaha menyalurkan kredit usaha mikro. LKM ini bergerak di bidang usaha produktif, baik itu bidang agribisnis, perikanan atau pun retail di pasar-pasar tradisional. Melalui LKM ini, bank tak hanya mendukung sumber daya manusia, tetapi juga sistem, modal, dan monitoring serta pembinaan kepada para pelaku UMKM.

“Awalnya itu di kegiatan perbankan. Saya ditempatkan di (usaha) mikro. Di situ saya banyak bertemu dengan masyarakat, khususnya masyarakat kalangan bawah. Mulai petani, nelayan, pedagang, pekebun dan lainnya masyarakat yang usahanya di sektor mikro,” tutur pria yang akrab disapa Ryan itu saat wawancara dengan Majalah Pajak akhir Agustus lalu.

Baca Juga: Merajut Komunikasi, Mendorong Sinergi

Dari interaksi itu, Ryan pun akhirnya memahami permasalahan yang dialami masyarakat kalangan bawah. Ia pun semakin tergerak untuk membantu agar mereka tak hanya sekadar bisa hidup, tetapi juga bisa lebih produktif, memiliki usaha yang berjalan dengan baik, bisa membiayai pendidikan anak-anak mereka dengan layak, dan memiliki pendapatan lebih.

“Bagaimana cara mereka memiliki pendapatan lebih? Paling tidak kan mereka butuh dana untuk memulai usaha atau menambah kapasitas usahanya. Di sinilah peran pemerintah, perbankan, masyarakat yang mampu untuk membantu agar teman-teman kita yang kurang beruntung, miskin, mikro, kecil, bisa tumbuh berkembang,” tutur pria yang saat ini menjadi Ketua Forum CSR Kesos Sumsel itu.

Berkesinambungan

Ryan mengatakan, sebagai orang yang memilih menjadi sociopreneuer, setiap kegiatan wirausaha yang dilakukan, keuntungannya semata-mata untuk masyarakat. Selain itu, kegiatan yang dilakukan pun harus memiliki dampak positif yang besar bagi pertumbuhan masyarakat serta memiliki kesinambungan.

“Jadi, paling tidak kalau itu usaha, mungkin 30 persen keuntungan bagi kita, 70 persen diberikan untuk masyarakat, dan mempunyai sustainability yang baik sehingga masyarakat ini bisa tumbuh berkembang, dari usaha satu jadi usaha kedua. Dari satu orang, bisa lima orang dan terus berkembang. Itu yang saat ini kami lakukan, ide-ide untuk mengembangkan itu tidak pernah putus karena permasalahan di masyarakat sangat banyak,” kata pria yang dinobatkan sebagai Tokoh Peduli Kesejahteraan Sosial Sumsel pada ajang Padmamitra Award 2018 oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan itu.

Tak hanya di daerah tanah kelahirannya, Ryan bahkan sudah keliling di hampir seluruh daerah di Indonesia. Kegiatannya pun tak jauh dari upaya pemberdayaan masyarakat, pembangunan pedesaan dan penguatan BUMDes, bidang pendidikan dan pelatihan, pemagangan dan ketenagakerjaan, dan penguatan kelembagaan UMKM. Misalnya pemberdayaan masyarakat pesisir melalui program Kementerian PDT, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kementerian Perindustrian RI, Pemprov Sulawesi Tengah, Kabupaten Karimun Kepulauan Riau sejak tahun 2009 hingga 2012 lalu. Hingga saat ini ia juga masih aktif menjadi pendamping dan konsultan pengembangan rumput laut di Maluku Utara, Babel, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Kepulauan Riau.

Saya ingin menjadi sosok problem solving. Apa yang bisa saya bantu, ya, saya selesaikan. Itu sudah menjadi passion saya.

Berdayakan kaum marginal

Kegiatan yang saat ini sedang dilakukan Ryan adalah memberdayakan orang-orang panti yang dikelola pemerintah. Mulai dari panti rehabilitasi narkoba, panti anak-anak telantar, bahkan panti jompo hingga panti bagi mereka yang mengidap gangguan jiwa. Ryan menyadari bahwa anggaran yang dikeluarkan Pemerintah Sumsel untuk perawatan dan operasional panti sangat besar. Di sisi lain, ia melihat banyak lahan-lahan kosong yang dimiliki pemerintah. Bekerja sama dengan Dinas Sosial setempat, dan melalui CSR perusahaan, Ryan pun menyulap lahan tidur itu menjadi lahan produktif untuk membiayai panti-panti tersebut.

Baca Juga: Siasati Pandemi, Qasir dan Grab Sediakan Layanan bagi Usahawan Mikro

Lahan-lahan itu kini ada yang ditanami sayuran, seperti sawi, cabai dan lain-lain. Dibuat kolam untuk beternak ikan mujair, lele, nila, patin, dan lain, dan sebagian dijadikan kolam pemancingan. Selain bahan sayuran, lahan-lahan itu ditanami buah semangka, dan tanaman rempah seperti jahe. Hasil panen jahe kemudian dibuat menjadi produk turunan berupa minuman saset, baru dipasarkan. Begitu juga tanaman cabai, dijual dalam bentuk serbuk cabai.

“Panti-panti itu kami kembangkan dengan kearifan tempat masing-masing. Contoh panti jompo, kita latih ibu-ibunya menyulam, bapak-bapaknya ternak jangkrik, yang bisa menghasilkan—hiburan dan menghasilkan bagi mereka,” tutur pendiri Perguruan Tinggi ABDI NUSA dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat (STIKM) Nusantara Palembang ini.

Selain itu, saat ini Ryan juga tengah melakukan pendampingan terhadap program pemerintah Bantuan Sosial Usaha Ekonomi Produktif (UEP) bagi 5000 keluarga penerima manfaat (KPM). Program Kementerian Sosial ini menurut Ryan sangat bagus. Namun, jika tidak dilakukan pendampingan, pengawasan dan pembinaan dari hulu ke hilir maka tidak akan jalan.

“Contoh, ada 10 sampai 20 KK yang mendapatkan UEP. Tapi kalau dari UEP itu semua disuruh berdagang (buka) warung itu, kan, enggak manfaat. Tapi, kalau misalnya, mereka membuat makanan atau empek empek sesuai standar, tugas mereka adalah membuat itu saja. Kemudian urusan packaging, pasar, off-taker, itu kami bantu. Jadi, antara usaha yang ultramikro, mikro, kecil, itu saling tarik menarik dan mendukung.”

Ryan saat ini juga tengah menggarap program Tagana Berdaya. Menurut Ryan, petugas Tagana (Taruna Siaga Bencana), rata-rata tidak memiliki pekerjaan lainnya. Untuk itu, ia mencoba menggarap konsep pertanian memanfaatkan lahan milik Pemprov Sumsel untuk dijadikan lokasi pertanian sawah dan peternakan sapi. Ia juga membuat program Duafa Berdaya yang meliputi berdaya ilmu, berdaya raga, berdaya ekonomi, berdaya rohani. Berdaya ilmu dilakukan dengan memberikan bantuan dan kesempatan duafa, yatim piatu, fakir miskin, telantar, anak jalanan, dan lain-lain untuk mendapatkan akses ilmu, pendidikan, pelatihan. Berdaya raga diwujudkan dengan memberikan kesempatan dan bantuan kepada PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) akan kesehatan, perawatan, pengobatan. Adapaun berdaya ekonomi adalah sebuah upaya memberikan kesempatan dan bantuan kepada PMKS untuk mendapatkan lapangan pekerjaan, pemberdayaan, wirausaha dan penghasilan. Sementara melalui program berdaya rohani , Ryan berusaha menciptakan kesempatan PMKS untuk mendapatkan pendidikan keagamaan dan rohani  untuk penguatan lahir dan batin.

Sumber pembiayaan berbagai program itu rencananya dari KUR, atau bantuan dari CSR perusahaan. Ryan yakin, perusahaan pun akan mau mendukung program pemberdayaan itu.

“Perusahaan itu—apalagi urusan CSR itu sifatnya produktif, sustainable pasti akan mau membantu. Itu yang beberapa bisa kami lakukan,” yakin Ryan.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah, Ryan pun berinisiatif memperjuangkan masyarakat agar mendapatkan hunian melalui Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). Program ini adalah kredit kepemilikan rumah bersubsidi, kerja sama antara Bank BTN dengan Kementerian PUPR yang diberikan bersama dengan subsidi uang muka kepada masyarakat yang telah mempunyai tabungan untuk pembelian rumah tapak dan pembangunan rumah swadaya.

“Kami fasilitasi mulai dari kuota, bantuan perizinan, lahan, sampai ke perbankan kami jembatani,” ungkap Ryan.

Namun, tidak semua upaya membantu itu ditanggapi positif oleh masyarakat. Tak sedikit pula yang berprasangka bahwa bantuan BP2BT yang dilakukan Ryan itu bukan bentuk ketulusan, melainkan usaha untuk menipu bahkan dianggap hanya hoaks. Namun, hal itu tak menyurutkan niat Ryan untuk membatu masyarakat sekitar.

Baca Juga: Strategi Pulihkan Ekonomi Pascapandemi

“Itu sudah bagian tantangan dalam kehidupan saya. Saya ingin menjadi sosok yang problem solving. Jadi, apa yang bisa saya bantu ya kita selesaikan. Itu sudah menjadi passion dalam hidup saya,” kata Ryan.

Ia berharap, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat akan berkoordinasi untuk mengatasi problem sosial di Indonesia.

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News15 jam lalu

Upaya Meningkatkan Literasi Ekonomi Syariah bagi Masyarakat

Jakarta, Majalahpajak.net – Potensi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia sangat besar. Namun, masih rendahnya literasi ekonomi dan keuangan masyarakat masih...

Breaking News4 hari lalu

Pemerintah dan Bank Dunia Sepakati Kerja Sama Ketahanan Fiskal untuk Mitigasi Bencana

Jakarta, Majalahpajak.net – Indonesia adalah negara dengan risiko bencana yang tinggi.  Karena itu, perlu kesiapan (country readiness) yang komprehensif dan...

Advertorial4 hari lalu

PajakMania Gelar “Roadshow” Pajak di Enam Kota

Jakarta, Majalahpajak.net – PajakMania akan menggelar roadshow kelas pajak 2021 di enam kota, yakni kota Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Cirebon, Bandung...

Breaking News4 hari lalu

Menyambung Nyawa Pariwisata

Pariwisata terpuruk selama pandemi. Kebijakan komprehensif diperlukan untuk memperpanjang umurnya.   Sejatinya, masyarakat dan pemerintah yang berkecimpung di industri pariwisata...

Breaking News5 hari lalu

Jokowi Minta Para CEO dan Petani Kerja Sama Tingkatkan Komoditas Pertanian

Jakarta, Majalahpajak.net – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku prihatinkan, hingga saat ini Indonesia sangat bergantung pada komoditas pangan impor. Komoditas...

Breaking News6 hari lalu

Peluang Investasi Reksadana “Offshore” Berprinsip Syariah

Jakarta, Majalahpajak.net – Bank DBS Indonesia berkomitmen menerapkan misi sustainability atau bisnis keberlanjutan. Salah satu pilar sustainability yang diusung adalah...

Breaking News1 minggu lalu

Indonesia Darurat Bencana, ACT Ajak Masyarakat Bantu Korban

Jakarta, Majalahpajak.net – Awal tahun 2021, Indonesia dihadang bencana di berbagai daerah. Ada  gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di...

Breaking News1 minggu lalu

Pegadaian Beri Bantuan untuk Korban Bencana Sumedang

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memberikan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di kecamatan Cimanggung, kabupaten Sumedang. Bantuan...

Breaking News1 minggu lalu

Holding BUMN untuk Pemberdayaan Ultramikro dan UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian BUMN berencana membentuk perusahaan holding terkait pembiayaan dan pemberdayaan ultramikro serta UMKM. Upaya ini merupakan langkah...

Breaking News2 minggu lalu

Transaksi Digital Rawan Tindak Pidana Pencucian Uang

Jakarta, Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia  (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Keberadaan ekonomi digital turut memudahkan transaksi keuangan. Di antaranya membantu...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved