Connect with us

Tax Light

“BING-o”

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

“Bingo!” Mari menyadarkan diri sejak saat ini—keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri!

Akhir tahun tidak selalu dimaknai dengan pesta. Sebaliknya, awal tahunlah yang biasanya disimbolkan dengan perayaan, harapan, atau, gebyar. Di masa kanak-kanak dahulu, TVRI, satu-satunya stasiun televisi Indonesia, akan menayangkan kaleidoskop kejadian, kegiatan dan berita sepanjang tahun di negeri ini. Nah, di akhir tahun menuju pergantian tahun, kami akan melek semalam suntuk hanya untuk menonton Operette Papiko yang dikomandani Tante Titiek Puspa masa itu.

Sesuai dengan namanya, kaleidoskop merupakan aneka peristiwa yang telah terjadi yang disajikan secara singkat. Sebagai pemirsa yang setia, kita bagai menonton tayangan yang mengingatkan pada rasa suka atau duka. Dan saat itu, sekelebat ada pikiran, “Eh, sudah mau selesai juga tahun ini….”

Masa kanak-kanak juga bagaikan sekelebat, dan mendadak usai. Time flies, katanya. Waktu berlalu sangat cepat. Tahu-tahu sudah 20 tahun, 25 tahun, 40 tahun, 50 tahun, dan 60 tahun… Pada usia ke-60 maka kata-katanya bukan mengagumi waktu yang berjalan cepat, tetapi malah menunggu waktu. Masak? Iya. Coba perhatikan kakek nenek kita yang sudah berusia 60 tahun lebih. Seringkah kita melihat mereka merenung? Tentu. Pernahkah menegur mereka untuk sekadar bertanya, kenapa merenung? “Menunggu waktu,” jawabnya.

Bingo!

Waktu merupakan kunci jawaban, saat kita tidak berhasil mencapai sesuatu. Kenapa demikian? Apabila kita mengalami kegagalan maka kita disarankan untuk tidak berputus asa, dan mengulangi sampai kita mencapai keberhasilan. Apabila kita merasa belum menemukan kepuasan maka kita akan terus memberikan yang terbaik sampai suatu saat berhasil mencetak prestasi. Semua yang kita lakukan dari dulu sampai sekarang, tergantung dari waktu.

Tanpa disadari, habit ini melekat saat kita bekerja atau berkegiatan seharian, disibukkan oleh pelanggan, atasan, agenda rapat dan kunjungan, sehingga satu hari berjalan begitu cepat. Apalagi bagi pelayan publik yang hampir 12 jam dalam sehari menangani keluhan atau proses permohonan, waktu apabila tidak diseling dengan istirahat, terasa melesat. Tiba-tiba kita terperangah, “Eh, sudah sore, ya?” Bahkan saking cepatnya waktu, ada yang menyesali, mengapa satu hari isinya hanya 24 jam? Seandainya sehari itu lebih dari 24 jam, tentu saja semua kegiatan bisa dirampungkan, demikian setiap orang beralasan. Tapi, percayakah Anda bila sehari berisi lebih dari 24 jam, Anda dapat menyelesaikan pekerjaan Anda?

Saya, tidak. Why, no?

Karena manusia itu punya kebiasaan lain selain sibuk, yaitu, menunda-nunda pekerjaan. Kebiasaan menunda-nunda tugas itu namanya procrastination, dan orang yang memiliki gejala ini disebut procrastinator. Konon, telah dilakukan penelitian bahwa mereka yang suka menunda pekerjaan disebabkan moody atau faktor impulsif, terlebih lagi mereka menemukan kompensasi kesenangan jangka pendek dengan tidak sesegera mungkin melakukan pekerjaannya. Apakah itu terjadi dalam keseharian kita semua? Contohnya, seorang pelaku usaha yang baru menjalankan kegiatan usaha, lantas saat diminta ber-NPWP, apakah dia akan segera mendaftarkan diri atau memilih untuk menunda mendaftar? Apabila dia sadar bahwa di bahunya ada tanggung jawab untuk menegakkan negara, maka dia memilih mendaftarkan diri segera sebagai Wajib Pajak sehingga untuk selanjutnya bisa menunaikan kewajibannya membayar pajak untuk bangsa dan negara. Nah, bagaimana kalau dia tidak suka, tidak sadar bahwa pajak itu penting, dan merasa bahwa tidak punya tanggung jawab mengamankan penerimaan negara…?

Apabila seseorang tidak menyukai satu pekerjaan maka otomatis dia akan mengalihkan energinya pada pekerjaan lain yang menurutnya bisa sebagai kompensasi, dan membuatnya sibuk. Akhirnya, pekerjaan yang selesai adalah pekerjaan nomor dua, sementara pekerjaan utama yang tidak menyenangkan, tanpa dia sadari akan semakin tertumpuk atau terlupakan. Jadi selain sibuk benar-benar bekerja, kita bisa menyibukkan diri sehingga dianggap benar-benar bekerja!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama.

Jadi, sebenarnya bekerja itu apa?

Bekerja itu adalah ketika kita tahu untuk apa kita bekerja. Kita tahu, saat dilahirkan di muka bumi, masing-masing dari kita memiliki tujuan. Sebagai apa? Ada yang memilih jadi guru, jadi tentara, jadi peneliti, jadi seniman, jadi pejabat, jadi preman, importir, eksportir, jadi pengusaha, termasuk juga Aparatur Sipil Negara. Namun, apa misi kita di dunia? Sesungguhnya misi manusia di dunia itu hanya satu, yaitu berbuat kebaikan kepada manusia lain. Tetapi kebaikan itu menurut kita hanya bisa dimaknai dengan berbagi materi.

Tidak juga, kok…. Kebaikan bisa dimulai dengan memberikan senyum di awal hari kepada teman seruangan kerja, atau membantu menyeberangkan lansia di jalan raya, atau menghindar dari menginjak semut yang kelihatan di bawah kaki kita. Kebaikan bisa juga dari berbagi ilmu, berbagi makanan, dan berbagi kesusahan untuk bisa saling menghibur. Kebaikan bisa dimaknai dengan memberi kebahagiaan, atau memberi sumbangan, atau bahkan mewartakan, bahwa membayar pajak itu juga kebaikan yang bertanggung jawab.

Kebaikan itu juga, saat seorang guru mengedukasi siswa-siswanya tentang peran pajak dalam pendidikan, seperti yang dilakukan peserta Lomba ngevlog Guru Bertutur Pajak yang diselenggarakan dengan adanya sinergi antara DJP dan PGRI memperingati Hari Guru. Esensinya saat ini bukan materi, tapi pencerahan dan awareness bagi generasi muda yang akan berbuah di masa mendatang.

Kalau kita juga aware bahwa pencapaian penerimaan pajak tahun ini masih di angka 70 sampai 80 persen, maka kita akan beramai-ramai menggencarkan kampanye bayar pajak tanpa harus diminta kantor pajak. Walaupun kita pernah membaca bahwa realisasi belum tercapainya penerimaan pajak antara lain karena melambatnya faktor pertumbuhan ekonomi global, dan harga komoditas yang belum menunjukkan perbaikan secara signifikan, kita tetap perlu berpikir. Bagaimana cara supaya target pajak bisa tercapai, dan masyarakat sekitar merasa punya tanggung jawab bersama? Duh, kalau pajak tidak tercapai, biaya gaji kita bagaimana ya? Apakah pembangunan di desa ini bisa terbengkalai? Bagaimana dengan anggaran kesehatan, pendidikan, dan lain-lain?

Mungkin baik juga direnungkan di malam hari, apakah kita harus membiayai negara dari utang? Bagaimana kalau utang belum dilunasi turun temurun, kasihan generasi anak cucu yang harus menjadi aktor utama menyelamatkan negara? Lantas, perhatikanlah wajah-wajah polos anak-anak di sebelah kita. Merekalah generasi muda yang perlu diselamatkan saat ini, bukan yang menyelamatkan, nanti. Itu kalau kita masih punya gengsi….

Bingo!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama. Saat mengucapkan “Bingo!”, kita mengekspresikan kepuasan atau keterkejutan pada hasil positif, bahwa negara akan maju kalau kesadaran perpajakannya terbangun kuat. Mari menyadarkan diri sendiri sejak saat ini, keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri! Mari tersadar dari tidur lelap yang panjang…. Dan di pengujung malam akhir tahun 2019, baiknya kita ucapkan salam….

“Selamat bangun di tahun 2020, untuk bersama mem-bingo-kan Indonesia Maju!”

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Tax Light

Ketika Budaya Lahir Kembali

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Apa yang kamu rasakan saat ini? Itu pertanyaan menarik yang bisa menjelaskan apa yang dirasakan masyarakat Indonesia selama pandemi.

Kami pernah membuat lomba menciptakan tiga kata kesan positif selama pandemi yang memaksa semua pekerja melakukan pekerjaan dari rumah. Ada yang mengatakan, Bosan-Nonton-Tidur. Ada yang berjiwa idealis dan menuliskan, Lebih-Kreatif-Produktif. Dan ada satu yang menuliskan: Lupa-Sabtu-Minggu.

Bekerja di rumah, bagaikan bekerja di dunia tak berbatas. Dari satu tempat, kita bisa fokus pada beberapa rapat melalui media daring, yang sejatinya hal ini sulit dilakukan di kantor. Melakukan rapat di kantor sama dengan memindahkan tubuh dari satu lantai ke lantai lain, atau dari satu gedung ke gedung lain. Namun dengan mekanisme bekerja dari rumah, rapat adalah memindahkan mata dan menggerakkan pinggang tanpa bergerak!

Buat sebagian orang, ini adalah memindahkan dunia luar ke dalam rumah kita sendiri. Ingar-bingar kerja diganti celotehan dan tangisan kanak-kanak, teriakan pasangan, dan asisten rumah tangga, dan tidak akan terdeteksi oleh peserta rapat selama media video dan suara ditutup. Beberapa orang menyatakan mereka bisa bekerja dengan aman dari rumah, karena melihat pergerakan keluarga dengan mata kepala sendiri. Namun sebagian orang berpendapat, dunia menjadi stagnan dan membosankan! Mereka rindu pada rutinitas sehari-hari. Ke kantor, menjadi manusia yang sibuk secara body dan mind, dan melupakan bahwa soul mereka bisa jadi kosong.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Selamat datang, gaya hidup baru!

Mau tidak mau, suka tidak suka, maka kita berada di rumah saja. Survei dari Kantar, hampir 80 persen masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di rumah selama karantina. Rambu-rambunya jelas, social distancing, physical distancing, dan maskering.

Perubahan gaya hidup itu berdampak pada budaya yang digadang-gadang melahirkan karakter baru. Contohnya, tidak ada lagi kebiasaan ngafe dan ngemal, diganti pesanan untuk diantarkan ke rumah. Tidak ada memesan dari luar rumah, diganti masakan ibunda. Tidak perlu bangun pagi bersiap ke sekolah, karena guru-guru sudah siap dengan tugas seminggu penuh yang disisipkan pekerjaan rumah membuat video untuk membuktikan bahwa mereka berkegiatan di rumah, atau mengirimkan rekaman menjawab pertanyaan.

Kerja berjalan dengan waktu sebagaimana biasa, tapi tidak ada mobilitas. Tidak perlu dandan berlebihan; singkirkan sepatu hak tinggi; bahkan bisa belum mandi, saat Anda menghadapi rapat bersama di zoom meeting.

Suka atau tidak suka, lama-lama membiasa. Ini terjadi saat kegiatan tanpa tatap muka menjadi acuan layanan publik di mana saja. Ternyata, masyarakat Wajib Pajak yang melaporkan SPT Tahunan di akhir April kemarin juga tidak kalah semangatnya, walau mereka tidak mendapat bimbingan langsung di kantor-kantor pajak. Jalan keluarnya adalah konsultasi melalui media daring, menelepon Account Representative, melakukan chat, ikut hadir di kelas pajak daring berupa webinar dan grup WA, sehingga di hari terakhir yang melapor tembus 440 ribu SPT. Tahun lalu, yang lapor di hari terakhir sebesar 518 ribu SPT.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Apa kesimpulan yang dapat diambil? Dalam kondisi terpaksa, kita bisa! Karena kita bisa, lama-lama membiasa. Dan tentu saja harus berpikiran positif bahwa tidak semua masyarakat memanfaatkan pandemi sebagai alasan untuk tidak memenuhi kewajiban perpajakannya.

Bagaimana bisa tidak peduli? Lah, wong dari APBN saja anggaran untuk mengatasi pandemi bernama indah ini Rp 400-an triliun. Belum lagi banyaknya kebijakan berupa fasilitas perpajakan yang dikeluarkan untuk memberi kemudahan.

Ada juga yang namanya Pajak Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp 60-an triliun khusus membijaki dampak korona.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, itu artinya di depan kita ada dukungan pemerintah yang tanpa suara mengatakan, “Ini bukan bagianmu, ini merupakan bagianku.” Analoginya, seorang bocah menangis tidak bisa membayar es krim yang diinginkan, lantas ada yang datang kepadanya, memberikan es krim itu dengan tidak menerima bayaran dari sang bocah. Malaikat berhati emas itu mungkin saja adalah ibu, bapak, atau kakak kita.

Sederhananya, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Sebelum banyak bertanya, mungkin baiknya bertanya ke dalam diri sendiri, apakah aku bertanya karena tidak tahu, atau ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk melihat bahwa aku tahu?

Budaya lain yang dilahirkan adalah terciptanya kekuatan bagi ASN yang tempat bekerjanya bukan di home base, untuk bisa mengatasi rasa takut karena tidak mudik saat Lebaran untuk menghindari penyebaran virus. Tanpa disadari kepasrahan mereka melahirkan kekuatan yang luar biasa. Sekarang ini marak tercipta solidaritas dalam beramal dan bersedekah. Pernahkah Anda mengirim masakan yang dipesan dari teman pengusaha UMKM untuk dikirim ke rumah pegawai non-organik di kantor Anda? Para satpam, office boy, dan petugas cleaning service? Anda tidak tahu, kan, bagaimana dia mengatasi masalah keluarganya, sementara Anda bisa saja masih tetap memperoleh gaji walau ada pemotongan? Marilah berbagi walau sedikit.

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Sekarang ini, hidup berjalan dengan pertanyaan yang sulit: Kapan semua ini akan selesai?

Kapan selesainya, ya, aku kan sudah kangen kantor?

Sabar, sepertinya yang harus dipikirkan adalah pola pikir kita dahulu. Sepertinya, kita harus bersahabat dengan dia, sang wabah. Dan itu bisa bila dikawal kepasrahan tingkat tinggi, dengan upaya ekstra hati-hati. Satu, semua orang, toh, akan mati. Dua, kita dipaksa harus ikhtiar jaga diri sendiri. Andai semua sudah enggak parno dan ngeri, maka dia pun menghilang.

Itu kalimat tertinggi yang pernah saya dengar.

Saya enggak tahu…. Itu, kan, kata saya, bukan kata ahlinya. Yang jelas, kita sudah seperti terlahir kembali jadi manusia baru selama masa-masa karantina. Mengenali pasangan, anak-anak, ibu kos, saudara, orangtua, dan lain-lain insan satu atap. Kita seperti Gatotkaca yang terbang dari Kawah Candradimuka, tapi terbangnya di rumah saja.

Yang penting, di rumah ini, kita bisa menjadi guru dan berguru pada orang-orang terdekat. Oya, selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat berpuasa. Selamat Idulfitri. Selamat merenungi diri sendiri.

(A3, 020520)

Lanjut baca

Tax Light

Korona dan Bayangannya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto ilustrasi: Istimewa

Korona memang tengah menjadi momok dunia. Namun, jangan terjebak pada ketakutan membabi buta. Kendalikan diri—tenangkan hati, berpikir positif. Percayalah, manusia punya daya tak terbatas.

Satu pertanyaan yang keluar dari ananda saya yang mengesankan saat musim Korona adalah, “Mami, selama hidup Mami, apakah pernah mengalami kondisi seperti ini?”

Saya tersenyum padanya seraya menggeleng. Lantas saya terkenang kedua orangtua yang sudah tiada. Karena, lanjut anak saya yang baru googling wabah pandemi per satu abad itu, ini terjadi seratus tahun sekali, dan saya merasakannya.

Dialog semacam ini sangat menyentuh—buat saya. Saya dan papinya bertanya bagaimana reaksi teman-temannya, dan dia menjawab bahwa ada yang ringan saja dan ada yang agak serius. Tapi yang utama, mereka kehilangan wadah berekspresi. Dan teman seangkatan atau kakak kelasnya merasa gelisah bukan karena Korona, tetapi ada yang terampas dari kehidupan mereka. Ngafe bareng, ngupi cantik, kumpul dengan komunitas, atau belajar bareng di rumah teman.

Baca Juga:Pemerintah Bebaskan PPN Belanja Barang dan Jasa Terkait Penanggulangan Korona

Sementara di sisi lain, reaksi orang sangat beragam terhadap bencana nasional ini—internasional, malah. Berita datang bertubi-tubi di beranda sosial media pribadi. Tidak terseleksi dan penuh data dari berbagai belahan dunia walau tidak jelas data valid atau tidaknya. Orang visual akan membayangkan virus ini dengan gambaran apa yang terjadi di belahan dunia. Orang auditori akan mendengarkan video dengan saksama dengan hati tersayat, dan orang kinestetik membaca berita sambil bicara dalam hati seraya merasakan sendi-sendinya gemeletak rapuh. Lantas, lahirlah kecemasan, kekhawatiran, dan kekritisan luar biasa. Pertanyaannya, apa sih yang membuat seseorang dapat membayangkan sesuatu sehingga menjadikan dia cemas, sedih atau marah?

“Kondisi fisiologimu mengubah caramu membayangkan kondisi dan melihat dunia ini.”

Manusia, dipengaruhi banyak faktor. Kita mungkin secara tidak sadar mencontoh reaksi orangtua kita atau panutan kita saat menghadapi pengalaman semacam itu. Misalnya, saat Anda kecil, ibu Anda selalu cemas saat ayah Anda terlambat pulang kerja, sehingga membentuk kecemasan dalam pikiran Anda setiap ayah Anda terlambat pulang kerja. Nah ini terbawa sampai Anda dewasa. Jika ayah atau ibu Anda pernah bicara bagaimana mereka tidak percaya sama pasangannya, bisa jadi Anda telah mencontoh pola itu. Terbentuklah suatu keyakinan, sikap, nilai-nilai dan pengalaman di masa lalu yang memengaruhi bayangan yang kita buat saat menghadapi sesuatu.

Baca Juga: Efek Korona, Penerimaan Pajak kuartal I Turun 2,5 Persen

Yang lebih penting lagi, ada faktor yang sangat menentukan cara kita melihat dan membayangkan dunia. Ini ada dalam diri kita. Namanya pola penggunaan fisiologi diri sendiri. Cara kita bernapas,  sikap tubuh, ketegangan otot, apa yang dimakan, fungsi biokimia dalam tubuh, berpengaruh besar pada kondisi kita. Ketika sekarang suami Anda diminta kerja, Anda sangat khawatir dia tertular, kan? Namun itu semua tergantung kondisi tubuh Anda. Pas Anda lagi oke, maka walaupun dia terlambat pulang, It’s fine  buat Anda, bisa jadi masih ada kerjaan lainnya. Kalau Anda dalam kondisi fisiologi lagi letih apalagi baper baca berita hoaks, Anda bisa saja berpikir negatif. Anda takut dia kebanyakan kerja, terus ketemu siapa, orangnya sehatkah? Wah, pikiran jadi ribet dan tambah pusinglah kita!

Apa yang membuat kita seperti itu? Bayangan! Membayangkan itu berkorelasi positif dengan memikirkan yang berdampak pada kondisi fisiologi. Kondisi fisiologimu mengubah caramu membayangkan kondisi dan melihat dunia ini. Menurut W. Mitchell, yang terpenting itu bukan apa yang terjadi pada dirimu, melainkan caramu membayangkan hal itu terjadi. So, kunci untuk menciptakan hasil yang diinginkan adalah dengan membayangkan sesuatu dengan cara yang membuat kita ada dalam kondisi  berdaya, semangat, sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang berkualitas dalam menciptakan hasil yang diinginkan.

Memang sih, mungkin kalian pada bertanya, memangnya Korona bisa dilawan hanya dengan bayangan? Kalau pekerjaan kita hanya membaca berita negatif dan video ngeri, ya, enggak bisalah. Kalau kita enggak bisa disiplin dalam tata tertib menjaga kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, ya enggak bisalah.

Eh, tubuh bisa diajak bicara, loh. Kasih diri kita bayangan sehat dan arahkan pada kondisi fisiologi yang tenang, insyaallah kita sehat.

Ya coba itu aja dulu! Keyakinan bisa mengalahkan angka statistik. Tapi keyakinan yang cerdas, bukan yang menantang! Nah, ini yang disebut bagaimana kita bisa mengenal diri kita sendiri? Bagaimana kalau kita tidak punya konsep mengendalikan diri kita sendiri?

Baca Juga: Jutaan Pekerja Kena PHK, Aji Mumpung Pengusaha?

Tetap bayangkan keindahan, tetap laporkan SPT dan ngebayar pajak, karena keikhlasan bayar pajak sekarang yang bisa membentuk bayangan indah buat Indonesia masa depan.

Satu lagi, bayangkanlah kenyataan! Mari berterima kasih kepada Allah bahwa Korona sudah hilang, di saat kita sambut Ramadan.

Percayalah, manusia itu punya daya tak terbatas, kata Anthony Robbins (Unlimited Power). Namun manusia sering kesulitan membayangkan Tuhan ada di mana. Padahal, dari pandemi ini, Tuhan banyak mengajari kita melalui Korona, bahwa kita bisa lebih dekat dengan-Nya melalui dialog dalam diri sendiri, menyelami nurani dan dasar jiwa. Sangat dekat sebenarnya….

Lanjut baca

Tax Light

Lapor Awal, Lebih Nyaman

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Islustrasi

Menghadapi musim penyampaian SPT Tahunan tahun ini DJP, bekerja sama dengan organisasi konsultan pajak untuk memberikan layanan dan bimbingan e-Filing secara gratis.

Sejak awal Februari 2020, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah membentuk Satuan tugas (Satgas) Pemantauan Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan tingkat pusat, Kantor Wilayah (Kanwil), dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. Satgas bertugas menanggulangi hambatan proses pelaporan SPT Tahunan secara on-line (e-Filing) maupun manual. Hal ini diungkapkan Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) DJP Hestu Yoga Saksama, di ruangannya, pada Rabu Sore (26/2).

Ia menjelaskan, Satgas tingkat kantor pusat digawangi oleh Direktorat P2Humas DJP dalam hal pelayanan serta sosialisasi e-Filing, Direktorat Peraturan Perpajakan II terkait masalah hambatan regulasi, dan Direktorat Teknologi Informasi dan Komunikasi yang bertugas menjamin kelancaran akses informasi teknologi—server dan bandwidth (kapasitas maksimum transfer yang dapat dilakukan pada satu waktu dalam pertukaran data).

“Satgas menjaga kelancaran penyampaian SPT Tahunan e-Filing, terutama soal kesiapan IT-nya, baik server maupun bandwidth harus dijaga fokus sampai akhir Maret atau April. Tahun lalu, 600 ribuan SPT per hari masuk masih aman,” tegas Hestu.

Untuk memperkuat pelayanan dan sosialisasi, Satgas telah berkolaborasi dengan Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I), dan Perkumpulan Konsultan Praktisi Perpajakan Indonesia (PERKOPPI). Mereka akan membantu Wajib Pajak melaporkan SPT Tahunan dengan e-Filing tanpa dipungut biaya. Salah satu contoh yang sudah berjalan misalnya, diselenggarakannya “Pojok Pajak Pelaporan SPT PPh Tahunan Orang Pribadi” oleh KPP Pratama Tanah Abang Tiga di FX Sudirman Mal lantai lima, pada (20-21/2). Layanan ini meliputi bimbingan e-Filing, e-Form (formulir elektronik), aktivasi dan cetak ulang Electronic Filing Identification Number (EFIN), serta konsultasi perpajakan.

“Di Indonesia ada tiga asosiasi konsultan pajak. Kami sudah minta ketiganya untuk berkoordinasi dengan KPP-KPP memberikan layanan dan bimbingan e-Filing secara gratis, entah di mal atau di KPP,” kata Hestu.

Pada tingkat KPP Pratama, Satgas terdiri dari Seksi Pelayanan dan Account Representative (AR). Satgas pada tingkat ini bertugas menjemput bola dengan mendatangi perusahaan-perusahaan terdaftar untuk melakukan pelaporan SPT Tahunan dengan e-Filing secara massal.

“Satgas KPP dan Kanwil enggak masalah mendatangi perusahaan, mengumpulkan seluruh karyawan untuk e-Filing. Atau Satgas membuka kelas-kelas pajak di KPP, satu kelas bisa 20 sampai 30 WP. Di sana kita bimbing untuk mengisi,” tuturnya.

Selain itu, Satgas sudah memiliki sekitar 4.700 relawan pajak yang berasal dari mahasiswa di perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pada akhir Januari 2020 misalnya, Dirjen Pajak Suryo Utomo mengukuhkan 869 relawan pajak dari tujuh perguruan tinggi di wilayah kerja Kanwil DJP Jawa Barat Tiga. Untuk menjadi relawan pajak, mahasiswa harus melewati ujian tertulis dan pembinaan tugas dan kewajiban. Mereka harus memiliki performa pelayanan sesuai standar serta menjaga kerahasiaan WP. Relawan pajak dapat membantu melakukan layanan di KPP maupun tax center di kampusnya.

“Nah, relawan pajak yang punya tax center membuka layanan e-Filing terutama untuk para dosen dan pegawai di universitasnya,” tambahnya.

Selaras dengan itu, Satgas mengirimkan imbauan penyampaian SPT Tahunan kepada 12 juta WP melalui pesan elektronik sejak awal Februari 2020. Berbagai media sosial DJP juga telah mendakwahkan sosialisasi itu dengan gaya bahasa kekinian. Sebagai contoh, sosialisasi melalui Twitter pada (25/1), “nungguin balesan chat doi yang katanya mau ngajak ngopi tapi cuma dibaca doang? Mending e-filing dulu aja. #Lebih AwalLebihNyaman #SudahPunya Tapi Belum.”

Sosialisasi juga dikemas ciamik melalui komik, lagu “Sudah Punya Tapi Belum” bergenre dangdut koplo, mengadopsi ilustrasi yang sedang viral—poster film Parasite, hingga menggelar Spectaxcular 2020.

“Strategi sosialisasi kita sudah mulai sejak awal semenarik mungkin. Kita tekankan lebih awal lebih nyaman,” tambahnya.

Kepatuhan WP

Dengan berbagai strategi itu Hestu optimistis tingkat kepatuhan WP meningkat dari 73 persen menjadi 85 persen. Ia menjelaskan, bahwa definisi kepatuhan pajak ada dua. Pertama, kepatuhan formal, yaitu membandingkan realisasi SPT yang masuk dengan WP terdaftar wajib SPT. Kedua, kepatuhan material atau kepatuhan WP dalam melaporkan SPT Tahunan dengan baik dan benar sesuai dengan aturan.

Di tahun 2018 WP terdaftar atau memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) berjumlah 38.651.622, WP terdaftar wajib SPT 17. 653. 046, tetapi realisasi SPT hanya 12. 551. 444. Alhasil, tingkat kepatuhan WP tahun 2018 sebesar 71 persen.

Sementara, tahun 2019 WP terdaftar tercatat 41. 996. 743, WP terdaftar wajib SPT 18. 334. 683, realisasi SPT yang menyampaikan SPT hanya 13. 394. 502. Dengan Demikian, tingkat kepatuhan WP tahun 2019 sebesar 73 persen. Dari jumlah itu, di tahun 2019 WP yang menggunakan e-Filing sebesar 91 persen.

“Kepatuhan Wajib Pajak kita adalah kepatuhan formal karena kepatuhan material susah untuk memastikan persentasenya. Makanya, wajib punya NPWP yang di atas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) saja. Kalau di bawah PTKP bisa ke KPP untuk di NE-kan (non-efektif) agar tidak berkewajiban mengisi SPT. Perusahaan boleh mengimbau pegawainya,” jelas Hestu. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.010/2016, PTKP untuk WP Orang Pribadi sebesar Rp 54 juta per tahun.—Aprilia Hariani

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News7 jam lalu

DBS dan Temasek Foundation Berikan Ribuan Makanan Siap Saji untuk Pekerja Lepas dan Masyarakat Terdampak

Temasek Foundation (TF) bekerja sama dengan Bank DBS Indonesia memberikan bantuan makanan siap saji bagi pekerja harian lepas dan masyarakat...

Breaking News13 jam lalu

Industri Tembakau Dihantam Pandemi, Pemerintah Diharapkan Pikirkan Nasib Petani

Nasib tiga juta petani tembakau di Indonesia di ujung tanduk karena industri tembakau dihantam pandemi. Tanaman tembakau kini sedang memasuki...

Breaking News18 jam lalu

Pariwisata Bali Optimistis Bisa ‘Berteman’ dengan Covid-19

Ketua Pasar ASEAN dari Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) Bali Febrina Budiman mengatakan, industri pariwisata di...

Breaking News1 hari lalu

OJK Imbau Pengelola Dana Tapera Ikuti Aturan Pemerintah

Pemerintah telah memberikan insentif untuk mempermudah beroperasinya pengelola dana tabungan perumahan rakyat (Tapera) melalui Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP...

Breaking News2 hari lalu

Menaker Terbitkan Surat Edaran untuk Menjaga Kelangsungan Usaha di Masa Pandemi

Untuk melindungi keberlangsungan usaha dari dampak pandemi Covid-19 Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemenaker) menerbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor...

Breaking News2 hari lalu

Kemenparekaf Pilih Enam Bidang Usaha Prioritas untuk Uji Coba Protokol Tatanan Hidup Baru

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf)/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menetapkan enam bidang usaha pariwisata dan ekonomi kreatif untuk...

Breaking News3 hari lalu

Dukung Petugas Medis, Ariston Thermo Sumbang Water Heater untuk RS Rujukan Covid-19 di Jakarta

Data BNPB pada 3 Juni 2020 menyebutkan,  ada 27.549 kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia. Sebanyak 17.951 orang dalam perawatan,...

Breaking News4 hari lalu

Agar Bisnis Tetap Atraktif di Tengah Pandemi—Simulasi Skenario, Litigasi “Force Majeure”

“Para pelaku usaha startup perlu mencari celah agar terus menjaga keberlangsungan bisnis di tengah resesi ekonomi global, khususnya dalam menjaga...

Breaking News4 hari lalu

40 Persen Pengguna Internet Asia Pasifik Hadapi Kebocoran Data Pribadi

Asyik berselancar di dunia maya membuat pengguna internet sering kali lupa diri. Entah sekadar main gim, mengunduh berkas gratis dari...

Breaking News5 hari lalu

Sambut Normal Baru, Yogyakarta Siapkan “Ubo Rampe” Buka Pariwisata

Sudah kangen suasana asri Yogyakarta? Jangan khawatir, tak lama lagi ini Kota Gudeg itu bakal membuka sektor pariwisatanya. Saat ini...

Trending