Connect with us

TAX PEOPLE

Biar tidak Berat Sebelah

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Foto: Dok. Pribadi

“The new normal” memaksa “YouTuber” kehilangan sejumlah pendapatan dan harus membuat konten sesuai protokol kesehatan.

 

Mantan vokalis grup band Adipati, Angga Candra, kini lebih dikenal sebagai YouTuber. Melalui konten-kontennya, pria kelahiran Bengkulu 29 tahun silam ini mengambil hati 919 ribu followers di Instagram, dan 5,7 juta subscribers di kanal YouTubenya. Dan, ia tak lupa kewajibannya membayar pajak.

Youtuber, kan, pajaknya sudah kena pribadi, ya. Menurutku, sebagai warga Indonesia harus sudah mengetahui pajak itu seperti apa. Mau enggak mau, ya kita harus taat pajak,” ungkapnya saat ditemui Majalah Pajak di Kuy Idea Office, Selasa (30/06).

Angga juga mengapresiasi sistem perpajakan saat ini sudah sangat mudah dengan adanya layanan daring atau digital. Tidak hanya itu, ia mengaku kerap terbantu oleh penjelasan dan pelayanan petugas pajak baik untuk urusan pajak pribadi maupun perusahaannya.

Baca Juga: Berapa, sih, Pajak YouTuber dan Selebgram?

Pria yang memulai kariernya sebagai YouTuber pada 2016 silam ini punya pengalaman khusus tentang pajak. Suatu ketika, ia dikabarkan mempunyai penghasilan Rp 13 miliar dari Instagram dan Rp 9 miliar dari YouTube. Menurutnya, ada salah satu akun yang memperkirakan penghasilan YouTuber berdasarkan jumlah subscribers mereka.

“Yang dihitung bukan perkiraan paling kecilnya, bukan yang tengahnya, tapi yang paling tinggi. Nah, itu yang membuat petugas pajak berpikir bahwa penghasilan aku sebesar itu,” jelasnya. Akhirnya, petugas pajak memahami dan menerima klarifikasi yang ia berikan.

Banyaknya subscribers dan views tidak serta merta membuat seorang YouTuber memiliki penghasilan besar.

Menurut Angga, banyaknya subscribers dan views tidak serta merta membuat seorang YouTuber memiliki penghasilan yang besar. Sebab, yang dihitung adalah berapa panjang atau lama suatu video dan berapa lama orang menonton video itu.

“Biar kita sama sama paham dan tidak berat sebelah. Takutnya mentang-mentang aku sudah lima juta (subscribers), dikira pasti berpenghasilan besar. Sekarang ada yang subscriber-nya dua juta itu lebih gede dari aku penghasilannya, karena mereka views-nya sehari bisa tiga juta atau empat juta,” ujarnya.

Oleh karena itu, Angga berharap sosialisasi pajak terus digalakkan agar Wajib Pajak tidak merasa dicurangi dan dirugikan.

Baca Juga: Manfaatkan “Influencer” untuk Sosialisasi Pajak

Semasa pandemi, Angga tidak menampik terjadi penurunan pendapatan, baik dari panggung maupun dari YouTube. Ia harus membatalkan 30 acara panggung selama dua bulan terakhir ini karena Covid-19. Selain itu, views di kanal YouTubenya turun dari 1 juta per bulan menjadi hanya 100 ribu views.

“Pengaruh lain juga terjadi pada iklan. Brand kalau views sekecil itu dan watchtime sekecil itu mereka enggak mau masuk, rugi mereka kalau berpromo di kita. Mungkin ada pun dengan harga yang murah, bukan dengan harga kita standar dulu,” ungkapnya.

Maka, di new normal ini ia memberanikan diri untuk membuat video dengan tetap berpegang teguh pada protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan tidak melibatkan banyak orang. Ke depan ia juga bertekad untuk tetap terus berkarya dengan merilis beberapa lagu dan melakukan showcase musik. “Untuk saat ini mungkin panggungan berhenti dulu, walaupun sudah diizinkan dengan ketentuan sekian,” pungkasnya.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

TAX PEOPLE

Momen Apresiasi untuk Fiskus dan Wajib Pajak

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. TaxPrime

Tak ada selebrasi berlebih apalagi waktu bersantai bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada peringatan Hari Pajak tahun ini. Di tengah pandemi Covid-19, DJP punya tugas ekstraberat, yaitu mesti mengumpulkan pajak—dan berupaya memenuhi target penerimaan.

 

Vice Managing Director TaxPrime, RR. Nurul Setyawati berpendapat beratnya masa pandemi Covid-19 ini membuat roda ekonomi terhenti selama tiga bulan terakhir. Hari Pajak bisa setidaknya menjadi momentum yang tepat untuk membangkitkan kembali penerimaan pajak seiring bergeraknya lagi roda perekonomian pada akhir Juni 2020. Kegiatan sosialisasi dan edukasi perpajakan kepada masyarakat tentang pentingnya peran pajak dalam membiayai negara terutama di saat penanganan Covid-19 tentunya sangat relevan di hari pajak ini.

“Hari Pajak bisa dijadikan ajang edukasi untuk meluruskan informasi tentang pajak. Hari Pajak juga sangat tepat dimanfaatkan untuk sosialisasi insentif dan fasilitas perpajakan yang dikeluarkan Pemerintah untuk mendukung pemulihan ekonomi pada masa Covid-19 ini, apalagi pemanfaatannya bisa dilakukan secara on-line. Insentif ini tentunya akan membantu kemampuan ekonomi mereka” jelas Nurul kepada Majalah Pajak melalui sambungan telepon, di sela-sela kesibukannya, Kamis (18/6).

Baca Juga: Konsultan Pajak Harus Berperan Sebagai “Adviser”

Hari Pajak juga bisa menjadi ajang pemberian apresiasi kepada Wajib Pajak (WP) yang sudah patuh dan juga yang mau patuh. Manajemen dari salah satu firma konsultan pajak di Indonesia yang terpilih menjadi konsultan yang direkomendasikan oleh World Transfer Pricing untuk jasa transfer pricing dan World Tax untuk jasa tax controversy dan general tax ini berpendapat bahwa pada prinsipnya WP memiliki keinginan untuk taat pajak, tapi terkadang masih terbentur oleh minimnya pengetahuan aturan pajak.

“Saat ini WP yang mau patuh semakin banyak, hal ini tentunya juga perlu diapresiasi. Mereka yang meng-hire kami sebagai konsultan bukan hanya mereka yang sedang menghadapi masalah perpajakan. Tapi juga mereka yang ingin comply sama aturan, cuma mereka tidak paham aturannya dan apa saja kewajibannya. Berkembang pesatnya TaxPrime Compliance Center yang kami launch tahun 2017 itu menjadi awareness terhadap perpajakan WP semakin meningkat.”

Nurul juga bilang, masih terdapat WP yang masih sungkan untuk berkomunikasi atau berkonsultasi secara langsung dengan petugas pajak. Maka itu, fungsi konsultan adalah sebagai mitra strategis sekaligus sebagai connecting bridge antara DJP dan WP. Untuk menegaskan hal itu, Nurul memastikan kalau TaxPrime berupaya menjalankan fungsi tersebut dengan baik.

Baca Juga: Memaksimalkan Peran Strategis Konsultan Pajak

“Kami sangat menjaga hubungan baik dalam arti yang positif dengan DJP. Beberapa pegawai kami juga sebelumnya merupakan bagian dari DJP sehingga kami sangat menghormati institusi tersebut. Bagi kami, apa yang kami lakukan tidak semata-mata mengembangkan bisnis tapi juga harus memberikan kontribusi kepada negara. Di samping itu, meningkatkan kepatuhan WP juga sudah seharusnya menjadi salah satu fungsi konsultan pajak. DJP selalu melakukan continues improvement kepada instansinya, pegawai DJP sudah bekerja dengan sangat baik, sehingga konsultan pajak juga harus mendukung seoptimal mungkin. Begitu pula sebaliknya, DJP dapat bersinergi dengan merangkul konsultan pajak untuk turut berkontribusi dalam meningkatkan kepatuhan WP,” ungkapnya.

Mereka yang meng-hire kami sebagai konsultan bukan hanya mereka yang sedang menghadapi masalah perpajakan, tapi juga mereka yang ingin comply sama aturan.

Kini lebih baik

Nurul juga mengatakan, Hari Pajak juga seyogianya digunakan untuk mengapresiasi petugas pajak yang tetap berusaha memberikan pelayanan prima kepada WP di masa pandemi ini. WP tetap bisa terlayani dan berkonsultasi dengan AR atau petugas pajak di KPP terdaftar baik via telepon atau melalui aplikasi on-line.

“Saya rasa DJP adalah salah satu instansi pemerintah yang terus aktif meskipun selama tiga bulan ini kegiatan usaha dan perkantoran relatif terhenti. DJP mampu dengan cepat mengantisipasi keterbatasan kondisi saat PSBB dengan mengganti pelayanan perpajakan menjadi on-line, menambah saluran komunikasi baik telepon, W.A sebagai sarana konsultasi.” ucap Nurul.

Di mata Nurul, reformasi perpajakan yang terus-menerus dilakukan DJP berhasil membuat sistem yang semakin hari semakin baik. Mulai dari proses sosialisasi, pembenahan kantor pajak, integrasi sistem, dan lain-lain.

Baca Juga: Indonesia Butuh banyak Konsultan Pajak

“Saya sangat terkesan melihat perubahan pada DJP. Pelayanan DJP saat ini semakin mempermudah pembayaran pajak, pelaporan SPT dan pelayanan lainnya seperti mendapatkan SKF, SKD, dan lain-lain sudah bisa dilakukan secara on-line. Saya mengacungkan jempol kepada Humas DJP di seluruh Indonesia yang mampu mendekatkan pajak kepada masyarakat termasuk kepada generasi milenial dengan media sosialnya yang aktif baik Instagram, web, film-film pendek, maupun tampilan infografis untuk penyuluhan yang menarik. Pendekatan ini akan semakin memperbaiki pandangan masyarakat terhadap Pajak dan instansinya.”

Nurul yang pernah bekerja di DJP selama 12 tahun ini pun optimistis, DJP bisa menjawab semua tantangan berat selama pandemi ini. Di akhir pembicaraan, Nurul juga menyatakan pentingnya dukungan negara untuk menguatkan dan menyemangati petugas pajak dalam menghimpun penerimaan pajak dengan pemberian fasilitas yang mendukung pekerjaannya.

“Tentunya kondisi yang tidak mudah bagi pegawai DJP yang wilayah tugasnya sangat luas dari Sabang sampai Merauke. Saya rasa wajar negara memberikan perhatian yang besar kepada SDM DJP, sehingga mereka dapat fokus dan mendapatkan kesejahteraan yang tinggi, baik pendapatan, jaminan kesehatan yang lebih modern, fasilitas perumahan, dan fasilitas lainnya guna mendukung kerja mereka. Selamat Hari Pajak! Dengan gotong royong, kita bisa melewati masa ini.”

Baca Juga: Konsultan Pajak adalah Mitra Strategis DJP

 

Lanjut baca

TAX PEOPLE

Kampanyekanlah Pajak Lewat Humor

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Rivan Fazry

Masih banyak masyarakat yang terjebak paradigma lawas, pajak itu sulit dan menakutkan. Adakah cara kreatif membongkar persepsi usang itu?

 

Segala hal yang berhubungan pajak, oleh sebagian orang masih dianggap sesuatu yang rumit dan membingungkan. Mulai dari menghitung, tata cara pelaporannya hingga memahami peraturannya. Padahal, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) senantiasa selalu membuat inovasi untuk memudahkan Wajib Pajak. Misalnya, penyederhanaan atau simplifikasi peraturan perpajakan. Di sisi pelaporan, saat ini sistem administrasi perpajakan pun sudah didukung oleh kemajuan teknologi informasi. Seharusnya, urusan pajak menjadi lebih mudah.

Lantas, kenapa masih banyak yang menganggap urusan perpajakan itu masih ribet dan menakutkan? Menurut Yasser Fikry, penyebabnya tak lain adalah sulitnya mengeliminasi paradigma lama masyarakat soal pajak. Penulis yang juga aktor acara komedi di beberapa stasiun televisi itu menilai, untuk bisa membongkar paradigma lama itu, DJP harus menanamankan paradigma baru dalam upaya sosialisasi dengan cara tak biasa sehingga melekat kuat di benak masyarakat.

Baca Juga: Serius Berhumor

“Sekarang sebenarnya DJP sudah bagus, tetapi kalau sosialisasi terkait pajak bisa ditingkatkan lagi saya rasa akan membawa dampak positif bagi para wajib pajak,” tutur dosen Universitas Sahid Jakarta itu.

Pendapat Yasser itu berangkat dari pengalamannya sendiri. Pria kelahiran Jakarta, 23 Desember 1969 ini mengaku, sejak SMP sudah mengenal pajak. Namun, Yasser tak tertarik untuk tahu lebih dalam terkait masalah-masalah pajak dan sejenisnya karena telanjur punya paradigma bahwa pajak itu membingungkan.

“Suka bingung sendiri. Selama ini saya minta bantuan teman yang paham soal pajak untuk bantu saya memahami prosedurnya,” ujar penulis buku Komunikasi Komedi Radio-Televisi-Film: Selebrasi Komedian Indonesia itu kepada Majalah Pajak akhir Juni lalu.

Jika dibuat pola yang lebih ringan, dengan bahasa yang lebih membumi—mungkin menggunakan humor—akan lebih membantu masyarakat luas memahami arti dan fungsi pajak.”

Karenanya, menurut Chief Creative Officer Institut Humor Indonesia Kini (Ihik3) ini DJP harus melakukan sosialisasi yang lebih membumi dan dengan cara-cara yang tidak biasa. Misalnya melalui humor. Sebagai informasi, Ihik3 adalah pusat kegiatan humor yang mengelola humor secara serius dan profesional berbasis pengalaman, ilmu pengetahuan, dan riset yang komprehensif. Lembaga ini didukung oleh literatur dari dalam maupun luar negeri dan ditangani para praktisi dan akademisi peminat humor.

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

“Karena seolah terkesan pajak itu bikin pusing dan banyak makan waktu sehingga banyak orang merasa agak ‘terganggu’ dengan hal itu. Jika dibuat pola yang lebih ringan dengan penayangan info terkait pajak dengan bahasa yang lebih membumi—mungkin menggunakan humor—akan lebih membantu masyarakat luas memahami arti dan fungsi pajak,” tutur Yasser.

Ungkapan lulusan S2 jurusan Komunikasi Hiburan di STIKOM Interstudi itu bukan tanpa alasan. Menurut Arthur Asa Berger—Profesor Emeritus di bidang Siaran dan Seni Komunikasi Elektronik San Francisco State University, humor tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi atau berbagi makna, tetapi juga untuk menciptakan sebuah hubungan antara penerima pesan dengan humor itu sendiri.

Yasser mengatakan, sejak tahun 2017 lalu, Ihik3 juga telah melakukan riset tentang humor generasi milenial. Ia yakin, humor bisa masuk ke ranah mana saja, disajikan dan dinikmati oleh siapa saja, termasuk untuk mengampanyekan inklusi kesadaran pajak.

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Lanjut baca

TAX PEOPLE

Ajak Mahasiswa Jadi Relawan

Novita Hifni

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. Tazkia

Kalangan perguruan tinggi menjadi salah satu unsur yang turut berkontribusi dalam menyebarluaskan kesadaran pajak di lingkungan kampus melalui tax center yang sekarang banyak berdiri di seluruh Indonesia.

 

Tax center menggalang kerja sama dengan kantor pajak setempat dan mengajak para mahasiswa untuk terlibat langsung menjadi relawan pajak, seperti yang dilakukan oleh Tax Center Institut Agama Islam Tazkia.

Meski baru seumur jagung, Tax Center Institut Agama Islam Tazkia yang berdiri tahun 2019 telah mendapat sambutan hangat dari kalangan mahasiswa. Ketua Tax Center IAI Tazkia Tutut Adiningsih mengemukakan, mahasiswanya sangat antusias mengikuti kegiatan relawan pajak di Kampus Tazkia, Sentul, Bogor yang berkolaborasi dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jawa Barat III.

“Mahasiswa sangat antusias, terbukti dari besarnya jumlah pendaftar relawan pajak. Padahal, Tazkia baru sekali mengikuti kegiatan pelayanan pendampingan bagi Wajib Pajak,” jelas Tutut melalu surat elektronik kepada Majalah Pajak, Sabtu (27/6).

Melalui kegiatan kolaboratif yang berlangsung di Auditorium IAI Tazkia tersebut, Tax Center IAI Tazkia bersama Kanwil DJP Jawa Barat III memberikan pelatihan kepada mahasiswa calon relawan pajak yang akan membantu DJP dalam asistensi pengisian SPT Tahunan kepada Wajib Pajak.

Baca Juga: Tax Center” dalam Riset Pajak

Sebanyak 42 peserta pelatihan relawan pajak merupakan mahasiswa IAI Tazkia dari jurusan Akuntansi, Bisnis dan Manajemen, Muamalah, dan Tarbiah. Guna meningkatkan kompetensi calon relawan pajak, Tim Penyuluh Kanwil DJP Jawa Barat III menyampaikan materi tata cara pelaporan SPT Tahunan khususnya melalui e-Filing serta melakukan pre-test dan post-test. Tim Penyuluh juga menyampaikan bagaimana etika dan seni berkomunikasi dalam melayani Wajib Pajak.

Mahasiswa sangat antusias, terbukti dari besarnya jumlah pendaftar relawan pajak. Padahal, Tazkia baru sekali mengikuti kegiatan pelayanan pendampingan bagi Wajib Pajak.

Manfaat bersama  

Tutut memaparkan kegiatan edukasi pajak yang sebelumnya telah diselenggarakan Tax Center IAI Tazkia yakni seminar perpajakan bersama forum kegiatan mahasiswa HAMAS (Himpunan Mahasiswa Akuntansi Syariah). Seminar perpajakan itu bersamaan dengan agenda kegiatan rutin tahunan Tazkia Accounting Competition (TAC).

“Di seminar tentang pajak e-commerce itu kami juga bekerja-sama dengan Kanwil DJP Jawa Barat III dan Ibu Catur selaku kepala kanwil menjadi pembicara seminar,” ungkap pengajar di Kampus IAI Tazkia ini.

Ia menambahkan, mata kuliah perpajakan merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa Jurusan Akuntansi Syariah dan menjadi mata kuliah pilihan bagi mahasiswa Jurusan Manajemen dan Bisnis Syariah. Menurutnya, kolaborasi yang dilakukan Tazkia dan kantor pajak memberikan manfaat bagi kedua pihak. Melalui penandatanganan kesepakatan dengan Kanwil DJP Jawa Barat III, Tax Center IAI Tazkia telah berdiri dan melakukan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang perpajakan.

Baca Juga: Mengidamkan “School of Taxation” di Indonesia

“Mahasiswa yang menjadi relawan pajak ikut membantu program penerimaan SPT Tahunan pada kantor pelayanan pajak yang ditunjuk selama periode Maret 2020,” imbuhnya.

Pencapaian prestasi telah diraih oleh mahasiswa Tazkia di berbagai kompetisi. Pada lomba poster perorangan dalam rangkaian kegiatan kompetisi perpajakan yang diadakan Universitas Gunadarma di bulan Januari 2020 lalu, Tazkia meraih juara ketiga.

“Tax Center IAI Tazkia mengadakan pengisian SPT PPh OP bagi para dosen maupun staf dan sebelumnya juga membuka loket layanan pelaporan pajak bersama KPP Pratama Cibinong,” jelas Tutut.

Baca Juga: Menghidupkan Tax Center dan Sosmed untuk Sosialisasi Pajak

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News1 hari lalu

Merdeka Menikmati Humor Gratis di Masa Krisis

Kondisi sosial ekonomi dunia, termasuk Indonesia memang masih menghawatirkan akibat pagebluk Covid-19. Namun, jangan sampai keadaan itu membunuh semangat dan...

Breaking News1 minggu lalu

10 Perusahaan Global ini Menjadi Pemungut PPN Produk Digital yang Dijual di Indonesia

Direktur Jenderal Pajak (DJP) telah menunjuk sepuluh perusahaan global yang memenuhi kriteria sebagai pemungut pajak pertambahan nilai atas barang dan...

Breaking News1 minggu lalu

Modal Nabung di Himbara, UMKM Bisa Sekalian Bikin NPWP

Pemerintah akan mempermudah pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM) lewat perbankan. Ada empat perbankan...

Breaking News1 minggu lalu

Penyerapan stimulus fiskal Pengaruhi Percepatan Pemulihan Ekonomi

Stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 normal.  serapan stimulus fiskal pengaruhi percepatan pemulihan ekonomi.   Menteri Keuangan Sri Mulyani yang...

Breaking News1 minggu lalu

FINI: Kemudahan Investasi Jadi Harapan Pelaku Usaha Industri Nikel

Pengusaha sektor pertambangan mendeklarasikan berdirinya Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta pada Rabu pagi, (5/8/2020). Forum...

Breaking News1 minggu lalu

Magnet “Tax allowance” dan Simplifikasi Aturan untuk Percepatan Investasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerbitkan  Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.96/PMK.010/2020 untuk merevisi mekanisme pemberian tax allowance berupa fasilitas Pajak...

Breaking News1 minggu lalu

Mengintip Budaya Pertamina di Era Ahok

Sejak didapuk menjadi komisaris utama PT Pertamina (Persero) pada akhir November 2019 lalu, sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu...

Breaking News2 minggu lalu

DJP: Perlu “Effort” Perusahaan Agar Insentif Pajak Bagi Karyawan Bisa Dimanfaatkan

Pengusaha mengaku kerepotan untuk melaksanakan insentif PPh Pasal 21 atau pajak gajian bagi masyarakat yang ditanggung pemerintah (DTP). Mereka menilai,...

Breaking News2 minggu lalu

Kawal Wajib Pajak Agar Tak Terjerumus Dalam Pidana Pajak

Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengadakan seminar on-line perpajakan bertajuk “Peran Konsultan...

Breaking News2 minggu lalu

Belanja Pemerintah Kunci Melepas Belenggu Resesi

Jika terjadi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, pendapatan riilnya merosot tajam selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, itu merupakan...

Populer