Connect with us

Health

Biar Anak tak Kanker Hati

Diterbitkan

pada

Selain vaksin hepatitis B, pemberian HBIg juga sangat disarankan untuk membentuk respons antibodi yang maksimal.

World Health Assembly (WHA) ke-63 tanggal 21 Mei 2010 menyarankan agar setiap negara memperingati Hari Hepatitis Sedunia tiap tanggal 28 Juli. Tema global peringatan tahun 2021 adalah “Hepatitis Can’t Wait” dan untuk Indonesia adalah “Segera Tangani Hepatitis”.

Hepatitis B adalah penyakit infeksi yang sering terjadi dan disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus ini menyerang hati dan menyebabkan peradangan serta menimbulkan terjadinya gejala penyakit. Virus ini diperkirakan telah menginfeksi lebih dari 2 miliar orang, dengan 240 juta di antaranya menderita karier kronis dengan risiko sirosis dan kanker hati. Di seluruh dunia, kematian akibat hepatitis berkisar 500–700 ribu per tahun.

Di Indonesia, prevalensi hepatitis B menurut Kemenkes adalah 7,1 persen di tahun 2013. Hepatitis B menginfeksi sekitar 18 juta penduduk Indonesia, 900 ribu di antaranya menjadi sirosis dan kanker hati.

Dokter Spesialis Kesehatan Anak RSCM Hanifah Oswari mengungkapkan, virus hepatitis B pada periode usia 0–20 tahun pertama terlihat biasa-biasa saja, kebanyakan tidak bergejala. Di periode 20–40 tahun berikutnya, virus hepatits B yang ada di dalam badan secara bersama-sama akan menyerang dan merusak sel hati.

“Sel-sel hati dirusak oleh badan sendiri. Tujuannya membunuh virus tapi yang terbunuh adalah sel-sel hati. Karena itu, tidak heran pada periode usia 40-60 tahun bisa terjadi sirosis hati atau kanker hati,” ungkapnya dalam webinar “Sosialisasi Pencegahan dan Tatalaksana Hepatitis B pada Anak”, Selasa (24/08).

Ia menyebut Palmer Beasley bahkan melaporkan adanya anak usia 7 tahun yang telah terkena kanker hati akibat infeksi sejak lahir.

“Ini yang perlu kita waspadai. Jangan sampai anak-anak kita kena kanker hati pada usia dini,” tambah Dokter Hanifah.

Momen kritis

Penularan hepatitis B, menurut Dokter Hanifah, dibagi dua, yaitu transmisi horizontal dan transmisi vertikal. Transmisi vertikal adalah penularan ibu kepada bayinya atau dari ibu yang mau melahirkan ke bayi yang akan ia lahirkan. Sedangkan transmisi horizontal adalah orang ke orang, misalnya dari anggota keluarga lain ke seorang anak yang tidak ada hubungan kelahiran.

Menurutnya, porsi penularan virus hepatitis B saat dalam kandungan hanya 5 persen. Penularan yang paling banyak, yaitu 95 persen, terjadi pada proses kelahiran. Kelahiran adalah momen yang kritis, maka sebaiknya bayi yang baru lahir segera diberi vaksin hepatitis B agar ia memiliki respons antibodi sejak dini—kecuali untuk bayi dengan berat lahir di bawah 2.000 gram.

Ia melanjutkan, pada bayi lahir dari ibu dengan hepatitis B atau HBsAG positif, pemberian vaksin tepat waktu akan sangat menolong bayi, dengan persentase keberhasilan 80 persen. Persentase ini dapat diperbesar hingga 95 persen bila—selain divaksin—bayi juga diberi imunoglobulin hepatitis B (HBIg).

Sayangnya, HBIg tergolong tidak murah, sekitar Rp 1,5 juta–Rp 2 juta, meski itu pun belum seberapa dibandingkan dengan biaya terapi kanker hati.

“Kalau kita lihat pengobatan hepatitis B—pemeriksaan lab, belum kalau terjadi sirosis hati atau kanker hati—harga tersebut enggak sebanding lagi dengan pengobatan ratusan juta,” imbuhnya.

Vaksin

Pria yang juga menjadi Ketua Tim Transplantasi Organ dan Jaringan RSCM-FKUI ini mengatakan bahwa pada bayi yang lahir dari ibu HBsAG negatif, yang perlu diperhatikan adalah berat bayi—di atas atau di bawah 2.000 gram. Jika lebih dari 2.000 gram, berikan vaksinasi segera setelah lahir (kurang dari 24 jam) dan diulang lagi pada usia 4–8 pekan.

Yang perlu diperhatikan adalah pemberian vaksin sebaiknya dilakukan di paha yang berbeda. Pemberian di paha yang sama akan membuat vaksin saling menihilkan alias tidak bekerja.

“Kalau berat lahirnya kurang dari 2.000 gram dan kita tahu ibu HBsAG negatif, boleh ditunda. Vaksinnya 1 bulan atau saat dia pulang dari rumah sakit dan ikuti program selanjutnya,” katanya.

Untuk mengecek kesuksesan vaksin, atau mengetahui apakah bayi sudah kebal, ibu dengan HBsAG positif disarankan memeriksakan buah hatinya ke laboratorium saat usia bayi 9–12 bulan.

Health

Tip Isolasi Mandiri untuk Ibu Hamil

Diterbitkan

pada

Penulis:

Selain untuk menjaga kesehatan ibu hamil dan janin, isolasi mandiri juga dapat menekan penyebaran virus Covid-19.

Indonesia saat ini tengah menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, angka kasus positif di Indonesia bertambah sebanyak 34.379 orang per Rabu (07/07/2021).

Selain itu, Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) mencatat setidaknya ada 536 ibu hamil yang positif terpapar Covid-19 pada periode April 2020 sampai Maret 2021. Dari jumlah itu, 72 persennya telah memasuki usia kehamilan 37 pekan. Oleh karena itu, Kemenkes mengimbau masyarakat menjalankan protokol kesehatan dengan ketat serta tetap di rumah saja.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSUP Persahabatan Yuyun Lisnawati mengungkapkan, sebagaimana populasi lainnya, ibu hamil dapat terinfeksi.

“Akan tetapi, jika terinfeksi Covid-19, maka ada peningkatan risiko yang lebih parah dibandingkan ibu yang tidak hamil pada usia yang sama,” ungkapnya dalam webinar bertajuk “Panduan Isolasi Mandiri pada Ibu Hamil, Anak dan Bayi dengan Covid-19”, Rabu (14/07).

Ia menambahkan, kini hampir sebagian besar rumah sakit sudah terisi penuh dengan pasien Covid-19 yang bergejala sedang hingga berat. Untuk itu, bagi mereka yang terpapar Covid-19 dan tanpa gejala dan bergejala ringan, disarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah dalam pengawasan.

“Isolasi mandiri adalah upaya seseorang yang terpapar Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan untuk mencegah penyebaran infeksi dengan melakukan instalasi pada diri sendiri,” jelasnya.

Syarat isolasi

Dokter Yuyun menjelaskan, isolasi mandiri sangat penting dilakukan khususnya bagi ibu hamil yang terpapar Covid-19. Sebab, satu orang yang positif terpapar virus berpotensi menularkannya kepada 3–5 orang, bahkan hingga 6–8 orang pada varian baru.

Ia melanjutkan, isolasi mandiri pada ibu hamil harus memenuhi beberapa syarat. Syarat itu antara lain dokter menyatakan bahwa ibu hamil dapat isolasi mandiri; mampu memantau diri sendiri; rumah memungkinkan untuk isolasi; usia kehamilan kurang dari 37 pekan; tidak memiliki komorbid seperti hipertensi, DM, obesitas, autoimun, jantung atau penyakit paru; serta terdapat akses pemantauan.

“Jadi, kalau ibu hamil yang terpapar Covid-19 dan akan melakukan isoman (isolasi mandiri), saat ini diimbau untuk melapor kepada Pak RT, dan biasanya di lingkungan RT itu nanti akan berhubungan langsung dengan petugas dari faskes tingkat satu,” jelasnya.

Selain itu, syarat lokasi isolasi mandiri bagi ibu hamil meliputi rumah atau kamar tidur memiliki ventilasi yang baik, ada kamar atau ruang terpisah dari anggota keluarga lain, lingkungan mendukung, tidak serumah atau satu lokasi dengan kelompok risiko tinggi (seperti bayi, lansia, keluarga dengan imun rendah, dan komorbid).

Sedangkan dari sisi persiapan, sebaiknya ibu hamil menempati kamar yang terpisah dengan anggota keluarga yang negatif, menyiapkan alat makan tersendiri, akan lebih baik jika kamar mandinya terpisah.

“Jika tidak bisa terpisah, maka usahakan ibu hamil yang positif itu menggunakan kamar mandinya sesudah anggota keluarga yang sehat sudah menggunakan, kemudian harus dibersihkan setiap hari,” ujarnya.

Selanjutnya adalah menyiapkan termometer dan pengukur kadar oksigen (oximeter), dan menjalankan protokol kesehatan secara ketat di rumah.

Tetap 3M

Selama isolasi, ibu hamil dianjurkan tetap melakukan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak); menerapkan etika batuk; berjemur di bawah sinar matahari 15–20 menit; makan makanan begizi dan minum cukup; istirahat yang cukup setidaknya 6–8 jam; mengonsumsi suplemen mengandung besi, asam folat, vitamin D, kalsium; olahraga ringan; konsultasi ibu dan kehamilan (telemedisin); serta mengisi catatan harian.

“Ibu hamil juga perlu meningkatkan ibadah, berpikir positif, jangan stres. Bagi ibu hamil yang bekerja mungkin capek. Ambil manfaat isoman ini sebagai me time. Lakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti mendengarkan musik, yoga, atau membaca buku,” imbuhnya.

Sebaliknya, bagi ibu hamil tidak dianjurkan untuk pergi keluar rumah, seperti bekerja, sekolah, ataupun ke ruang publik lainnya. Lalu, tidak diperkenankan menggunakan transportasi publik, keluar rumah membeli makanan, dan menerima tamu termasuk keluarga atau sahabat. “Boleh keluar rumah jika memang membutuhkan pemeriksaan medis atau untuk suatu keperluan yang darurat,” katanya.

Durasi isolasi mandiri bagi ibu hamil sebaiknya mengikuti petunjuk tenaga kesehatan. Namun, dokter Yuyun menerangkan, pasien tanpa gejala atau OTG, sebaiknya melakukan isolasi mandiri 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. Sedangkan, pasien dengan gejala ringan, 10 hari sejak munculnya gejala ditambah dengan 3 hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan. “Jika gejala masih dirasakan maka isolasi diperpanjang,” terangnya.

Ia juga mengingatkan ibu hamil disarankan untuk ke rumah sakit bila mengalami salah satu tanda atau beberapa tanda seperti memiliki gejala bertambah berat, sesak napas lebih dari 24 kali permenit, saturasi oksigen kurang dari 95 persen, gerak janin lemah, dan muncul tanda bahaya kehamilan.

Tanda bahaya pada ibu hamil antara lain gerakan janin kurang, muntah terus-terusan, air ketuban yang tiba-tiba keluar, atau perdarahan pada plasenta.

Lanjut baca

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca

Health

Memutus Mata Rantai Talasemia

Diterbitkan

pada

Penulis:

Talasemia belum dapat disembuhkan, tapi ia bisa dicegah dan dideteksi secara dini. Bagaimana memutus mata rantainya?

World Thalassemia Day atau Hari Talasemia Sedunia diperingati tiap 8 Mei. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang talasemia dan membantu pasien menjalani hidup normal meski menyandang sakit. Secara global, peringatan Hari Talasemia Sedunia mengambil tema “Adressing Health Inequalities Across the Global Thalassemia Community” atau mengatasi kesenjangan pada komunitas talasemia global. Sedangkan tema nasional, Kementerian Kesehatan mencanangkan “Zero Kelahiran Talasemia Mayor”. Lantas apakah itu talasemia?

Konsulen Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sri Mulatsih menjelaskan, talasemia merupakan kelainan darah merah yang diturunkan dari orangtua.

“Dengan adanya penyakit ini maka akibatnya hb (hemoglobin)-nya akan turun, sel darah merahnya akan sedikit sehingga tampak pucat, kemudian ada gangguan akibat gangguan protein,” ungkapnya dalam webinar Peringatan Hari Talasemia Sedunia Tahun 2021 Zero Kelahiran Talasemia Mayor, Sabtu (08/05).

Ia menambahkan, permasalahan talasemia di Indonesia terbilang sangat besar yang dipengaruhi beberapa faktor seperti populasinya yang besar (penduduk terpadat keempat dunia), kondisi geografis (banyak pulau), prevalensi talasemia terus meningkat, dan tingginya biaya pengobatan talasemia.

“Saya mengambil data di YTI (Yayasan Thalassaemia Indonesia) pusat, sampai 2019, ada 10.000 sekian pasien talasemia. Jadi, luar biasa peningkatannya. Untuk pembiayaan, pemerintah menyubsidi penyandang talasemia menduduki pembiayaan lima tertinggi di indonesia,” tambahnya.

Kondisi fisik

Penderita talasemia biasanya memiliki kualitas darah tidak baik karena rantai globinnya atau proteinnya tidak terbentuk dan tidak lentur sehingga mudah rusak ketika mengalir ke pembuluh darah. Ini membuat pasien talasemia terlihat pucat meskipun tidak terjadi pendarahan, juga terjadi pembesaran di sekitar wajah.

“Kenapa wajah penyandang talasemia itu hampir sama? Tubuhnya sangat keberatan oleh karena darah merahnya sudah rusak, sehingga terjadi pembesaran tulang pipi, pelebaran tulang hidung, terjadi pembesaran tulang rahang, tulang di dahi,” jelasnya.

Talasemia biasanya ditandai dengan terjadinya anemia berat, pertumbuhan terganggu, kelebihan zat besi, dan terjadi kelainan jantung serta endokrin. “Akibat talasemia yang berat ini, maka akan bisa mengurangi harapan hidup penyandang talasemia. Kalau sudah masa remaja, gangguan psikologinya luar biasa,” ujarnya.

Dokter Sri Mulatsih mengungkap, derajat keparahan talasemia dibagi menjadi tiga yaitu ringan, sedang, dan berat. Pada talasemia berat, pasien biasanya membutuhkan transfusi darah paling tidak satu bulan sekali. Kemudian, supaya zat besinya tidak menumpuk di tubuh, mereka harus diberi obat untuk menetralisasi zat besi tubuh berupa asam folat dan vitamin E. Selain itu, penderita talasemia tidak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi agar tetap stabil, yang kesemuanya itu dilakukan seumur hidup.

“Penderita talasemia sebaiknya menghindari makanan kaya zat besi, seperti bayam, daging sapi, babi, domba, hati dan kacang kering,” ungkapnya.

Hingga saat ini, talasemia belum bisa disembuhkan. Namun, bisa dicegah dan dideteksi secara dini. Dokter Sri Mulatsih melanjutkan yang paling penting adalah memutus mata rantai talasemia berat.

“Yang paling penting adalah pencegahan praktis dan bisa dilakukan. Program pencegahannya adalah screening yang membawa sifat, kemudian public awareness, kemudian diagnosis prekelahiran,” ujarnya.

Dokter Sri menegaskan bahwa talasemia hanya disebabkan oleh perkawinan dan pembuahan antara laki-laki pembawa sifat (talasemia minor) dengan perempuan pembawa sifat. Oleh karena itu, pencegahan yang dapat dilakukan adalah mencegah pernikahan risiko tinggi, mencegah pernikahan antarpembawa sifat, dan melakukan prenatal diagnosis atau teknik untuk mendiagnosis kondisi janin yang belum lahir.

Lanjut baca

Populer