Terhubung dengan kami

Tax Light

Berlari Bersama Waktu

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Penulis: Aan Almaidah A.

Foto: Istimewa

“Why should society feel responsible only for the education of children, and not for the education of all adults of every age?”

Pertanyaan Erich Fromm itu bila diterjemahkan bebas kira-kira seperti ini: “Mengapa masyarakat bertanggung jawab hanya pada pendidikan anak, dan tidak bertanggung jawab pada pendidikan orang dewasa?”

Fromm, adalah seorang psikolog psikoanalisis dan filsuf yang menitikberatkan pada esensi manusia dalam kehidupan. Dia melihat bahwa hubungan antara struktur sosial dan karakter sosial serta individu tidak pernah statis, yang unsur tersebut memiliki hubungan sebagai proses yang tidak pernah berakhir. Struktur sosial masyarakat dapat memengaruhi pembentukan karakter sosial anggota-anggotanya, sehingga mereka ingin melakukan apa yang harus mereka lakukan.

Transformasi dari masyarakat yang sakit kepada masyarakat yang sehat, menurut Fromm, tergantung dari penciptaan kembali kesempatan bagi anggota masyarakat untuk berjalan bersama, saling mengagumi, saling menyapa, untuk menciptakan orientasi baru dari kehidupan dan dalam budaya mereka.

Budaya. Saat berbenturan dengan budaya, maka yang dipertanyakan adalah alasan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Jadi, bila budaya itu bersinggungan dengan budaya sadar pajak, maka nilai apakah yang dituntut untuk dibuktikan?

Data menunjukkan, dari total penduduk Indonesia sebesar 258 juta jiwa, yang terdaftar sebagai Wajib Pajak di tahun 2016 baru 32.7 juta, dan yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan baru 12.27 juta. Sementara mereka yang memiliki kesadaran membayar pajak masih di kisaran 4-5% yaitu sebesar 1.4 juta. Tanpa adanya peningkatan kesadaran dan tanggung jawab, pertanyaannya: Bagaimana cara mencapai target pajak di tahun 2017 sebesar Rp 1.283 triliun, bila harus digali hanya dari sejumlah 2 jutaan Wajib Pajak yang membayar pajak?

Hitung-hitungan simpel tersebut menunjukkan kenyataan bahwa penopang APBN terbesar hanya bisa diharapkan dari 2 juta Wajib Pajak. Apabila dipersentase 50% dari total penduduk adalah generasi muda, dengan estimasi dari 50% sisanya sekitar 30% adalah generasi produktif, maka masih ada 40 juta usia produktif yang seharusnya bisa diandalkan menjadi pembayar pajak yang baik. Namun mereka mungkin saja belum tercerahkan dan tersadarkan akan peran pajak.

Seolah disentakkan pada pertanyaan Fromm, kita menjadi ingin balik bertanya. Perlukah pendidikan pajak pada orang dewasa? Sementara di rentang 20-30 tahun ke depan, usia produktif yang memajukan kesejahteraan negeri ini bergantung di bahu 129 juta jiwa yang saat ini masih berstatus kanak-kanak.

Ini yang dinamakan perjalanan panjang bersama sang waktu.

Perjalanan panjang, dimulai jauh sebelum ada pihak-pihak yang menorehkan tanda tangan kerja sama dalam nota kesepahaman, bersepakat untuk memasukkan edukasi pajak dalam kurikulum pendidikan. Langkah demi langkah yang dikumpulkan satu persatu membuahkan hasil dalam skala tahunan. Tahun 2014, Kemendikbud membuka proses kerja sama, disusul Kemenristekdikti pada tahun 2016. Produk kesepakatan bersenyawa dengan dunia pembelajaran dan kemahasiswaan berupa terintegrasinya bahan ajar dalam buku-buku Mata Kuliah Wajib Umum yang lahir tahun 2016 disusul surat edaran bermuatan penerapan gerakan sadar pajak di perguruan tinggi seluruh Indonesia. Pengonversian capaian bahan ajar pendidikan dasar menengah masih bergelut dengan tujuan mewujudkan pemahaman atas peran pajak melalui kesederhanaan bahasa dan tingkat perkembangan psikologi anak usia muda sampai remaja.

Bagaikan air mengalir tanpa suara, angin kemudian membawa kecemasan masyarakat tentang tidak tercapainya penerimaan pajak di beberapa tahun belakangan. Lantas, disusul dengan tuntutan untuk memasukkan pajak dalam kurikulum pendidikan. Tidak ada yang mengerti, bahwa pergerakan tanpa suara itu bagaikan seni menangkap angin, dan membawanya bersama cahaya. Harus ada genderang yang ditabuh untuk membangkitkan rasa peduli, setidaknya menyentakkan masyarakat, bahwa Pajak, itu PERLU. Sasarannya jelas, generasi muda. Bahkan dari pendidikan dasar terendah yaitu kelas 1 SD.

Visinya harus jelas. Mewujudkan generasi bangsa yang mempunyai karakter cinta tanah air dan bela negara, menjadikan kesadaran pajak sebagai salah satu nilai budaya bangsa yang terus ditanamkan dari generasi ke generasi. Perjalanan panjang kemudian dilukis dalam kata road map. Tahun 2014 sampai 2030 adalah Masa Edukasi, yaitu kesadaran pajak ditabuh dalam proses kampanye, tak kalah dengan kampanye pilkada, melalui proses pembelajaran yang menggelora hanya dalam waktu sehari. Tanggal 11 Agustus 2017, adalah suatu hari ketika ratusan ribu siswa Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, dari Sabang sampai Merauke, belajar pajak secara sederhana melalui “Pajak Bertutur”. Dengan bahasa cinta yang manis, anak-anak manusia yang mempunyai tanggung jawab yang satu untuk memberikan edukasi sadar pajak, turun ke sekolah-sekolah. Mereka, para petugas pajak itu, mungkin saja belum mendengar pertanyaan Erich Fromm tentang mengapa pendidikan harus disasarkan kepada anak-anak, dan bukan kepada orang dewasa?

Harapan mereka, dari kejujuran berpikir kritis anak-anak, siapa tahu mampu menggeliatkan kesadaran orang tuanya bahwa merekalah yang berperan dalam pembangunan, melalui pajak yang mereka bayar.

Namun, menarik saat menyimak kembali kalimat Fromm. Transformasi dari masyarakat yang sakit kepada masyarakat yang sehat tergantung dari penciptaan kembali kesempatan bagi anggota masyarakat untuk berjalan bersama, saling mengagumi, saling menyapa, untuk menciptakan orientasi baru dari kehidupan dan dalam budaya mereka.

Saat jiwa kanak-kanak disentuh dengan bermain bersama, mengagumi satu hal, saling menyapa, maka akan tercipta satu orientasi baru dari kehidupan dan dalam budaya mereka. Suatu esensi kehidupan, mengalir bersama kata-kata yang dituturkan. Kata-kata berupa nasihat yang berulang terus menerus akan menciptakan roh bagi jiwa mereka. Menetap dalam jiwa membentuk kesadaran. Dan kesadaran sejak dini akan membangun karakter yang punya tanggung jawab terhadap keluarga, sesama dan negara.

Pendidikan, memang hak bagi setiap individu. Tugas kita adalah berlari bersama waktu untuk memunguti kesalahan masa lalu dan memperbaiki cita-cita di masa depan. Apa yang sudah dilakukan sebagai pembuka kesadaran masyarakat atas peran pajak, dengan membuat para siswa dan pengajar merasa bahagia, kelak akan menciptakan rasa bahagia di waktu yang lain saat mereka mengingat kejadian itu.

Percayalah! Kesan, adalah kekuatan mahadahsyat untuk menggerakkan pemahaman.

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Tax Light

“VIVERE”

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  • 102
  • 105
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    207
    Shares

Ketika hidup bak gelas-gelas yang tak terisi penuh, di sana ada ruang untuk kita mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, positif, dan menyadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa.

Kalender 2018. Kehadirannya masih ditingkahi kembang api, petasan atau bakar-bakaran jagung. Ritual kemacetan seperti biasa, berlaku di segenap penjuru jalan utama. Sementara bagi sebagian orang yang menangisi pergantian tahun dengan metafora refleksi, kegaduhan itu sangat menyakitkan. Pertama, sisa usia mungkin tidak lama lagi. Kedua, apakah yang sudah dikerjakan setahun sebelumnya memang pantas dengan rezeki yang dilimpahkan Tuhan sepanjang tahun? Ketiga, apa saja yang dapat dipertanggungjawabkan di tahun sebelumnya, dan dilanjutkan di tahun baru ini?

Try looking at tomorrow, not yesterday

And all the things you left behind…

Mempersembahkan yang terbaik memang tujuan semua orang. Dan biasanya menjadi perencanaan setiap awal tahun. Namun, di pengujung tahun, semua evaluasi bisa saja tidak memuaskan semua orang. Begitulah kenyataan.

Membaca tajuk di salah satu media massa, yang menyatakan bahwa shortfall pajak merupakan lagu lama, walaupun jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, mungkin membuat kita ingin kilas balik sejenak. Ada tujuh hal monumental dilaksanakan Ditjen Pajak di 2017. Satu, Amnesti Pajak, yaitu dibukanya kesempatan bagi Wajib Pajak mengungkapkan kesalahan terkait kewajiban perpajakan di masa lampau dengan membayar sejumlah uang tebusan berdasar perhitungan tertentu. Dua, Reformasi Perpajakan, mengawal perubahan sistem perpajakan secara menyeluruh meliputi pembenahan administrasi perpajakan, perbaikan regulasi, dan peningkatan basis perpajakan. Tiga, Perppu Nomor 1 Tahun 2017 yang menerapkan transparansi dan pertukaran informasi untuk tujuan perpajakan. Empat, Pajak Bertutur, yang merupakan kick off dari program inklusi kesadaran pajak, di mana serentak pegawai pajak se-Indonesia turun mengedukasi siswa SD sampai Perguruan Tinggi kepada 127.459 siswa di 2.182 sekolah. Lima, Pajak Penulis yang menjelaskan kembali bagaimana pajak menjunjung asas keadilan dan kesederhanaan terhadap profesi penulis. Enam, PAS-Final yang memberi kesempatan Wajib Pajak kembali untuk menyampaikan harta yang belum diungkap saat mengikuti Amnesti Pajak. Tujuh, perdagangan elektronik yang sekian lama mendominasi mayapada perdagangan di dunia maya dan belum melakukan kewajiban perpajakan dengan tuntas.

Dari ketujuh hal monumental tersebut, dapat dirasakan bahwa enam di antaranya merupakan kebijakan yang menjadi benefit bagi Wajib Pajak, baik disadari atau tidak. Ada fasilitas yang membuka pintu-pintu kesempatan memperbaiki kekhilafan selama ini dengan momen-momen tersebut. Tetapi apakah hal ini disadari masyarakat? Mungkin belum.

Adakah yang menyenangkan petugas pajak? Ada, yaitu Pajak Bertutur. Kenapa demikian? Karena semarak dan gegarnya menyatukan rasa antara generasi X, Y dan calon generasi emas Indonesia tahun 2045. Saat menuturkan pajak, tidak ada hambatan berupa tekanan perasaan dan ketakutan. Semua berjalan membahagiakan, karena yang terkait adalah calon Wajib Pajak sejak usia dini sampai usia siap kerja, yang menerima edukasi dengan sikap gelas kosong.

Filosofi gelas kosong, layaknya memandang kehidupan sendiri. Bila kita merasa bahwa kita makhluk yang paling tahu, maka pengalaman hidup membuat beban pikiran kita bertambah dan seolah menjadi penuh, bagaikan gelas siap tumpah. Lantas kita sibuk dengan pikiran-pikiran yang menilai, mengkritik dan menolak tanpa berusaha memahami. Apabila kita menyimpan gelas kosong dalam pikiran, maka akan mengajarkan bagaimana mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, positif, dan menyadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Saat setiap kebijakan pemerintah bergulir, gelas kosong mengingatkan kita untuk selalu mempelajarinya dan melihat dari perspektif yang positif.

Jika kita memiliki gelas kosong setiap hari, maka kita dapat selalu mengisinya dengan air jernih yang menjernihkan tidak hanya tubuh tetapi jiwa kita.

Mengkritik bisa dikritik cerdas. Namun, menghargai menanamkan penghargaan tanpa kata-kata. Seandainya kita semua berani bersikap demikian dalam kehidupan maka sepanjang tahun kita dapat menelaah proses kehidupan dengan arif. Searif menyikapi target penerimaan pajak yang bertambah dari tahun ke tahun dan melonjak 9.9% dari tahun 2017, menjadi Rp 1.618 triliun.

“Seandainya kita masih tergiur pada kemudahan yang tidak dibenarkan, maka jenis kecerdasan dan tingkat nurani mana yang masih kita pertahankan?

Seandainya kita bijak, maka kita juga akan menolak kemudahan yang tidak pada tempatnya. Saat ini marak penjualan Bea Meterai palsu dengan harga di bawah semestinya karena pemahaman masyarakat atas kewajiban meterai masih rendah. Peredaran meterai ilegal harus disadari berdampak pada penerimaan pajak. Ya, karena Bea Meterai sendiri adalah pajak atas dokumen. Seandainya kita masih tergiur pada kemudahan yang tidak dibenarkan, maka jenis kecerdasan dan tingkat nurani mana yang masih kita pertahankan?

Kita hidup dari tahun ke tahun, untuk membuka tujuan yang diamanahkan oleh Sang Pencipta. Maka beranilah untuk menjalani hidup dengan kebenaran. Vivere.

 

Vivere, nessuno mai ce l’ha insegnato (Dare to live until the very last)

Vivere, non si puo vivere senza passato (Dare to live forget about the past)

Vivere, e bello anche se non l’hai chiesto mai (Dare to live giving something of yourself to others)

Una canzone ci sara, qualcuno che la cantera (Even when it seems there’s nothing more left to give)

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Refleksi Rectoverso

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

Penulis: Aan Almaidah A.

Seperti biasa, ritual pemaknaan dilaksanakan setiap akhir tahun tiba. Ada yang menamakannya monitoring dan evaluasi, atau refleksi. Tiba-tiba saja dua belas bulan terasa berjalan begitu cepat untuk menyambut tahun baru.

Sama seperti menyambut pimpinan baru. Ketika satu era kepemimpinan usai, maka tanggung jawab beralih kepada sang pemimpin baru. Sejuta harapan diletakkan di bahunya, lengkap dengan tuntutan yang belum terjawab atau terlunasi sebelumnya. Demikianlah kita, selalu meletakkan harapan yang di tahun sebelumnya urung selesai, dan memindahkan ke tahun depan.

Kadang kita lupa merefleksi diri. Merenung. Atau tafakur.

Sepanjang tahun ini, misalnya, apakah yang sudah terjadi dan apa yang sudah dicapai? Apakah pencapaian dapat disebut keberhasilan atau malah dikatakan kegagalan? Program Pengampunan Pajak, yang berakhir di Maret 2017, dapat disebut sebagai suatu keberhasilan yang menghasilkan sekitar Rp 5.000 triliun deklarasi harta dan sekitar Rp 115 triliun penerimaan negara, walaupun baru diikuti sekitar 5 % Wajib Pajak. Saat berbicara persentase, tentu saja akan terlirik kondisi kepatuhan dari 95 % Wajib Pajak lainnya. Keputusan tidak mengikuti program pengampunan pajak tidak dapat diasumsikan ketidakpatuhan. Sebab, proses dan aturan yang terbit berikutnya tentu saja telah dipikirkan bertujuan mendorong kepatuhan. Menjaring kepatuhan, alatnya adalah kepercayaan.

Masyarakat harus mengetahui peran pajak dan faktor “what is in it for me”. Kepatuhan terjadi ketika masyarakat menerima pengaruh, tidak semata-mata mendapatkan reward dan menghindari hukuman. Identifikasi terjadi apabila edukasi terkait dengan penanaman perilaku, dan akan berujung pada kepuasan. Sementara internalisasi yang menimbulkan kesadaran, terjadi apabila masyarakat tahu bahwa apa yang diedukasikan selaras dengan nilai-nilai kehidupan mereka.

Apabila dinamika psikologi masyarakat seperti ini dapat diterima maka tidak akan terjadi kekagetan saat yang berubah pertama kali adalah perilaku masyarakat. Dewasa ini perekonomian digital menggeser pola perekonomian lama. Teori-teori klasik awal abad 20 terjadi di awal abad 20, dan itu dinamakan disruption. Dalam buku terkenalnya, Disruption, Rhenald Khasali kemudian membeberkan bahwa para pelaku usaha start up mendisrupsi industri dengan teknologi baru dan menciptakan pasar baru pada kategori low-end. Teknologi informasi membuat biaya transaksi menjadi rendah. Ini bukan hanya bicara tentang pelaku usaha kecil dan menengah tapi pelaku start up yang melekat pada setiap usia, gender maupun status, melalui bisnis on-line. Masalahnya, bagaimana mempertemukan mereka dengan kepatuhan bayar pajaknya.

“Saat digitalisasi tersebar cepat, maka model kerja instansi pemerintah juga harus berubah.”

Berita tentang tutupnya raksasa ritel di Indonesia dari kompetitor pelaku bisnis on-line semakin masif, diterjang arus digitalisasi. Saat digitalisasi tersebar cepat, maka model kerja instansi pemerintah juga harus berubah. Raksasa ritel tentunya memiliki NPWP, bagaimana dengan kompetitornya? Apakah prinsip dari keuntungan yang diterima mereka saat membayar pajak sudah disampaikan?

Indonesia sendiri, dalam berita bulan Oktober 2017 di tribunnews.com, diakui sebagai kekuatan baru di bidang teknologi, di mana perkembangan start up terlihat signifikan dan memberi dampak yang menciptakan potensi pasar yang besar. Maka semuanya harus berubah menyambut bukan hanya perubahan atau change, melainkan disruption yang mengubah banyak hal sedemikian rupa. Disruption harus sudah disadari, merupakan fenomena hari esok yang dibawa pembarunya ke masa saat ini.

Dunia sudah berubah. Manusia kreatif sebagai sang pembaharu tampil. Generasi Y menjadi tema diskusi menarik, saat generasi tersebut memimpin ke depan. Terkenal dengan nama generasi millennials, yang melekat dengan gadget (gawai) dan dunia maya, tidak ada yang salah dengan mereka selain pemahaman, bahwa zaman memang sudah berubah. Apabila ada pembahasan pembentukan karakter maka sebaiknya yang dipertanyakan adalah model pendidikan di rumah, bukan hanya di sekolah. Saat ini, menanamkan kesadaran pajak menjadi belief dalam pikiran bawah sadar generasi muda menjadi tanggung jawab bersama dari pihak pemerintah maupun praktisi akademika di seluruh Indonesia.

Demikianlah seperti memahami makna berkebalikan dari dua sisi, maka refleksi di akhir tahun sebaiknya dimaknai secara rectoverso, yang menjadi ilham bagi Dewi “Dee” Lestari, untuk judul bukunya. Rectoverso adalah istilah untuk menyebut halaman depan dan belakang selembar kertas. Secara bolak-balik, front and back, merupakan dua sisi pada selembar kertas. Sesuai dengan teori tabularasa, dalam filosofi John Locke, manusia yang baru dilahirkan dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi. Sejak lahir manusia tidak membawa apa-apa dan kemudian dalam proses meningkatkan resiliensi diri yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan teguh dalam menghadapi situasi sulit, maka manusia dipengaruhi lingkungan sosialnya.

Di awal tahun, kertas putih diisi oleh rencana dan harapan. Lantas proses terjadi memenuhi halaman depan dan belakang kehidupan. Maka, di pengujung tahun, refleksi pun dilakukan front and back. Secara rectoverso, melihat ke dalam dan ke luar, sisi muka dan sisi belakang. Tidak hanya melihat dari sisi depan.

Contohnya?

Sebagai manusia, jangan hanya berpikir tentang reputasi. Reputasi, menurut Anand Krishna dalam Bhagavad Gita Bagi Generasi Y, sangat tergantung pada faktor eksternal, pada opini sosial. Sementara itu, kedua faktor tersebut dapat dipengaruhi bahkan dibentuk lewat media, juga gosip dan berita hoaks, fitnah, atau apa saja. Mereka yang belum mengenal kesejatian diri, percaya pada reputasi yang diterima sebagai sedekah atau berkah dari masyarakat, dari media, dan menganggap dari faktor-faktor eksternal itulah tercipta segala-galanya.

Pemahaman atas ke-aku-an perlu diperbaiki, bahwa hasil dari kesadaran tinggi adalah karakter. Karakter adalah sesuatu yang sama sekali tidak bergantung pada faktor eksternal, opini publik, status sosial, kecendekiaan, namun atribut jiwa berupa integrasi diri, kejujuran, ketulusan, dan kemanusiaan. Anand Krishna menekankan pada jiwa, dan jiwa bisa dikonversikan baik di tubuh manusia maupun institusi.

Maka, perlu kiranya setiap akhir tahun kita melakukan tafakur diri untuk menemukan kesadaran yang dimulai dengan menyadari tujuan. Jadi, apa yang sudah dicapai di akhir tahun tentunya dengan kesadaran menetapkan tujuan di awal tahun. Apa yang sudah kita lakukan selama 2017, tentunya dengan perencanaan matang dengan penuh keyakinan dalam mencapainya.

Pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan refleksi rectoverso?

Minimal kepada orang tua kita, terutama ibunda, yang biasanya hanya kita selamati di saat hari Ibu di bulan Desember ini? Perlu disadari, pembentukan karakter pertama diri kita adalah dari beliau tercinta. Dan nilai ke-akuan dalam diri kita yang ditanamkannya, adalah pusat kosmos semesta yang akan menjadikan diri kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Selamat datang 2018…

 

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Anjangsana Hakiki

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Penulis: Aan Almaidah A.

Pahlawan bukan hanya mereka yang gugur dalam medan perang, seperti yang kita doakan setiap kali ritual upacara bendera—lalu menjadi dogma. Ada banyak pahlawan lain yang luput kita kenalkan di jiwa anak-anak bangsa.

Barangkali sudah banyak di antara kita yang lupa dengan suasana upacara bendera: suasana magis saat pembacaan doa atau mengheningkan cipta terjadi. Mungkin pula hanya sedikit yang masih dapat mengilas balik hafalan saat Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dibacakan secara lantang. Saat ini, nilai suatu upacara bendera mungkin tidak lebih dari kewajiban rutin setiap Senin atau hari besar setiap tahun—berpanas-panasan, dan selesai. Kapan anda terakhir upacara bendera? Jangan tanyakan hal ini kepada seorang pegawai negeri sipil. Pasti mereka sudah terbiasa.

Adakah sentuhan lain di saat upacara yang menggerigis hati kita?

Hmmm… apa ya?

Maaf, saya tidak merasakan apa-apa.

Coba tanyakan kepada anak SD hal yang sama, tetapi dengan cara membalik pertanyaan. Mana lebih suka, upacara atau enggak? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, tapi pasti mereka memilih yang mereka suka.

Ada satu hal yang menarik dari nilai upacara. Ada nilai “anjangsana” di dalamnya. Anjangsana, adalah suatu kata yang sudah lama tidak kita dengar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, anjangsana adalah kunjungan untuk melepaskan rasa rindu, atau kunjungan silaturahmi. Rasa rindu, dimiliki oleh setiap orang yang pernah bertemu dan lama tidak bersua. Silaturahmi, bisa dilakukan kepada keluarga, teman, tetangga, dan memiliki esensi memperpanjang usia. Namun adakah yang bisa menjelaskan suatu kunjungan untuk melepaskan rasa rindu tanpa kita mengenal dekat orang yang kita rindukan, atau, tanpa perlu mendatangi tempatnya?

Bisa. Caranya sederhana. Dengan memahami kandungan ritual upacara bendera.

Kita “bertemu” dengan para pahlawan di upacara bendera. Kita mendoakan mereka. Mereka ada untuk kita doakan, walaupun mereka sudah tiada. Sayangnya, kita sering lupa, saat komando “Mengheningkan Cipta,  mulai!” Kita tepekur, bahkan tanpa bisa membayangkan pahlawan mana yang akan kita hadiahkan doa kita. Padahal, percayalah, di dunia sana, mereka sangat mengharapkan doa-doa kita untuk menerangi kuburnya, memperluas dunianya, dan menyejukkan hatinya.

Seandainya di Hari Pahlawan ini ada kesempatan menghadiri upacara bendera, maka kita harus memulai memperkuat pikiran. Letakkan imajinasi untuk fokus pada wajah-wajah pahlawan nasional, kemerdekaan, atau siapa pun yang kita akui sebagai pahlawan. Lantas, baru mulai doakan mereka dengan khusyuk seolah mengenalnya begitu dekat dan lama, seperti orang tua kita sendiri.

Imajinasi adalah hal yang digelisahkan Bung Karno lewat pidatonya di Semarang pada tanggal 29 Juli 1956. Di buku Youth Challenges and Empowerment, Anand Krishna menuliskan, Bung Karno menyatakan kegelisahannya terhadap pemuda-pemudi bangsa yang sudah mulai tidak peduli terhadap sejarah kita sendiri, sehingga kita juga tidak mempunyai imagination. Bangsa yang tidak mempunyai imajinasi tidak bisa membuat (monument). “Jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai imagination,” demikian kegalauan Bung Karno saat itu. Dan ini pemikiran tokoh bangsa yang sangat visioner.

Tentang imajinasi, Victor Frankl pernah menyatakan bahwa empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia adalah: (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (conscience); (3) kehendak bebas (independent will); dan (4) daya imajinasi (imagination). Keempat anugerah Ilahi itu terletak pada cara kerja akal dan hati. Saat kita tidak bisa menghargai imajinasi, maka kreativitas terkubur. Imajinasi juga merupakan media untuk mewujudkan cita-cita. Kita seharusnya tahu, dasar sejarah pembuatan candi-candi di Indonesia itu beralaskan imajinasi. Seharusnya, kita bangga atas imajinasi tersebut. Nah, letak keberhasilan suatu bangsa adalah rasa percaya diri generasi mudanya. Kelemahan kita adalah kurangnya rasa PD sebagai bangsa sehingga menjiplak luar negeri. Tidak percaya diri, karena kurang percaya satu sama lain. Tidak peduli pada masa lalu. Apabila nenek moyang saja bisa membuat candi besar dengan imajinasi hebat, sudah selayaknya cucu buyut moyang membangun negara dengan imajinasi yang lebih fantastis, bukan?

Namun, apa yang sedang terjadi saat ini?

Pembangunan dibiayai oleh pajak. Apabila penerimaan negara tidak mencapai target maka pembangunan dibiayai oleh pinjaman termasuk pinjaman luar negeri. Berarti, ada pihak lain yang bertanggung jawab atas proyek-proyek pembangunan. Nah, apabila tidak ada uang untuk melunasi pinjaman, maka kumulasi pinjaman meningkat, yang disebut utang turunan sampai ke anak cucu. Semakin banyak kita menemukan expertise atau tenaga ahli asing berperan dalam pembangunan negara ini.

Bila target pajak saat ini hanya diampu oleh sebanyak dua juta Wajib Pajak yang melakukan pembayaran, masih sulit menembus target yang ditetapkan pemerintah. Sementara itu, data demografis menunjukkan adanya potensi Wajib Pajak yang seharusnya membayar pajak. Ke manakah mereka sekarang? Seandainya dua atau tiga kali lipat masyarakat memiliki tanggung jawab dan kesadaran bayar pajak, maka kita punya data enam juta pembayar pajak. Diharapkan, meningkatnya kesadaran perpajakan berkorelasi positif dengan kepatuhan membayar pajak untuk mendukung tercapainya penerimaan pajak yang menjadi target per tahunnya.

Di zaman yang universal ini, sinergi membangun di suatu negara yang dilakukan antarbangsa bisa diberi judul “globalisasi”. Nah, di era Majapahit atau Sudirman, belum ada globalisasi. Imajinasi, yang terbentuk saat Indonesia merebut kemerdekaan, sungguh berbeda dengan imajinasi di saat informasi teknologi, juga jauh berbeda dengan imajinasi di saat Indonesia masih disebut Nusantara. Sayangnya, kita malas belajar sejarah. Padahal belajar sejarah akan membentuk karakter percaya diri. Contoh, sejak awal era Masehi, Indonesia memiliki banyak kerajaan kecil yang berdaulat. Pemuda di zaman itu percaya pada kekuatannya untuk membangun kerajaannya. Mereka tidak menuntut pengakuan sebagai pahlawan. Sejatinya, seseorang yang ditahbiskan sebagai pahlawan, mungkin saja tidak mempunyai cita-cita menjadi pahlawan.

Lantas bagaimana dengan seorang pembayar pajak yang dengan kesadaran sendiri melakukan kewajiban perpajakan secara benar dan baik lebih dari lima tahun berturut-turut? Apakah dia bisa diusung sebagai pahlawan? Pertanyaan ini menarik untuk disimak—bisa juga dijadikan status media sosial. Respons, tentu akan bertubi-tubi mengkritik. Seorang pembayar pajak disebut pahlawan? Yakin kalau tidak ada upaya penghindaran pajak di balik semua pembayaran pajaknya? Apakah benar dia benar-benar jujur?

Sekarang pertanyaan dibalik.

Jangan membandingkan yang sudah membayar pajak dengan dirinya sendiri. Bandingkan dengan yang sama sekali belum memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang taat pajak. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, karena pasti kita memilih yang kita suka.

You are the nation’s hero. Kata-kata heroik itu tertulis di map seminar institusi pajak negara tetangga. Termenung membacanya. Mereka bahkan sudah berani mengapresiasi setinggi-tingginya sikap cinta tanah air yang dituangkan dengan membayar pajak. Sang pembayar pajak pun, berani dipastikan, tidak pernah berharap bahwa mereka disebut pahlawan. Tidak perlu sampai diukir di batu nisan. Hanya merupakan pahlawan secara masif, yang diperingati dalam sehari ketika menerima penghargaan sebagai pembayar pajak terbesar. Mungkin nilai kepahlawanan itu sendiri berubah dari tahun ke tahun tergantung besarnya pembayaran. Atau, mungkin tidak ada perayaan tapi penanaman kesan, bahwa mereka pahlawan.

Kembali kepada kepercayaan diri.

Napoleon Hill, dalam Selling You-nya yang lawas dan luar biasa, menekankan bahwa kepercayaan diri berawal dari rumah. Peran sepasang lelaki perempuan dan manusia yang mengikat janji kebersamaan membentuk mahligai rumah tangga memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anak suci yang dilahirkan ibunda. Guru karakter pertama mereka adalah orang tua. Karakter itulah nantinya akan bercabang ke arah kepribadian atau kepercayaan diri, dan lain-lain, yang saat ini sangat tendensius menjadi komoditas pelatihan motivasi. Kalau mau dipikirkan kembali, semua topik dari motivasi hanya berakar dari satu kalimat. Sudahkah kamu mengenali dirimu sendiri?

Kegagalan menemukan siapa diri kita, akan menggagalkan cita-cita menjadi bangsa hebat. Kegagalan untuk kenal diri kita siapa, kemudian melahirkan materi pembentukan karakter yang menjadi inti di setiap kurikulum pendidikan. Misinya mulia, membentuk karakter generasi. Tujuannya, jangan sampai kegagalan ini berulang di anak cucu. Jangan heran bila muatan pendidikan akan penuh dengan titipan pembentukan karakter dari berbagai keprihatinan. Supaya generasi muda selamat dari bahaya narkoba, gemar menabung, cinta membaca, tahu peran pajak, kenal kekayaan bumi dan lautan, dan seterusnya.

Saat kita masih sibuk berdebat masalah perilaku antargenerasi, coba iseng-iseng menanyakan pendapat mereka, siapakah yang mereka anggap sebagai pahlawan? Kalau ada yang menjawab bahwa pahlawannya adalah ayah dan ibu, maka bisa diharapkan mereka memiliki anugerah sedari kecil untuk percaya diri, tinggal dikembangkan dengan memaknai masa muda melalui pengalaman dan proses yang terjadi. Namun kalau mereka menjawab pahlawannya orang lain? Tidak masalah juga, karena lingkunganlah yang membentuk mereka untuk seperti itu. Karakter mereka terbentur, baik dicari ataupun tidak, melalui benturan yang dirasa atau tidak. Siapa tahu tempaan proseslah yang membuat anak muda melakukan anjangsana hakiki dalam fokus imajinasinya.

“Walau bagaimana pun perlu diakui, kita belum hidup dalam sinar bulan purnama. Kita masih hidup di masa pancaroba. Tetaplah bersemangat elang rajawali!” (Bung Karno, 1947).

You are the nation’s hero. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu?”

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

Tax People Share!8374      157SharesPT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di...

Breaking News2 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Tax People Share!         Post Views: 2.129

Breaking News4 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

Tax People Share!          Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri...

Breaking News4 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Tax People Share!        Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan...

Breaking News5 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Tax People Share!        Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat...

Breaking News7 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Tax People Share!        Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang...

Breaking News12 bulan lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Tax People Share!        Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan,...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Tax People Share!        Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Tax People Share!        Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak...

Breaking News2 tahun lalu

Ini Cara Kerja Listrik Tenaga Air Versi Tri Mumpuni

Tax People Share!        Air dari sungai dibendung kemudian dialirkan melalui parit. Kira-kira 300 hingga 500 meter dari bendungan, sebagian air dialirkan...

Advertisement Pajak-New01

Trending