Connect with us

Breaking News

Berkaca dari Cara Gus Dur Menertawakan Diri Sendiri

Diterbitkan

pada

Status sosial Gus Dur yang tinggi tidak menghalanginya untuk melakukan self-mockery

 

Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) menggelar diskusi webinar untuk mempelajari dan mengkaji humor-humor dan pemikiran humoristis Gus Dur pada Selasa (12/5/20). Webinar keempat dan kelima ini diikuti peserta yang beragam, dari akademisi, komunitas Gusdurian, pemuka agama, hingga seniman.

CEO IHIK3 Novrita Widiyastuti mengatakan, di dalam khazanah humor tanah air, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan harta karun berharga yang bangsa Indonesia. Berkat Gus Dur, Indonesia tidak lagi bingung atau malu ketika negara-negara lain memamerkan tokoh humornya masing-masing, seperti Persia dengan Abu Nawas-nya, Nasruddin Hoya yang identik dengan Turki, atau Charlie Chaplin di Inggris.

“Bahkan, bisa dibilang Gus Dur punya nilai lebih dibandingkan ketiganya. Sebab, Gus Dur tidak hanya orang yang jago berhumor, melainkan juga seorang agamawan, negarawan, bahkan seorang guru bangsa,” tutur Novrita dalam keterangan pers yang diterima Majalah Pajak, Kamis (14/5/20)

Menurut Novrita, luasnya pemahaman dan perspektif Gus Dur tentang teori humor berikut cara menggunakannya inilah yang membuat logika berhumor Gus Dur menjadi sangat kaya. Ia, misalnya, tak hanya menghumorkan politik, tetapi juga memolitikkan humor.

Ada sejumlah humor Gus Dur yang secara implisit menyindir Presiden Soeharto yang kala itu berkuasa. Ambil contoh, humor tentang seorang kepala negara yang selalu ditanya kapan ia punya pengganti setiap mencukur rambut di tukang cukur langganannya. Seperti dituturkan Gus Dur, walaupun si tukang cukur dimarahi oleh kepala negara itu, ia sama sekali tidak takut. Pasalnya, si tukang cukur punya alasan mengapa sering menanyakan hal itu, yaitu karena setiap habis ditanya, bulu kuduk kepala negara itu berdiri, sehingga mudah untuk dipotong.

Tri Agus Susanto Siswowiharjo, penulis dan peneliti humor Gus Dur, melihat humor Gus Dur sebagai salah satu cara berekspresi secara politis. Lewat humornya, Gus Dur tak hanya mengkritik rezim Orde Baru, tetapi juga menyindir praktik-praktik yang menurutnya tidak tepat. Menariknya, meski berstatus sebagai pemimpin atau tokoh negara, Gus Dur juga bisa dan mau untuk menertawakan diri sendiri.

Seperti dikenang Tri Agus, ketika Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia berpasangan dengan Megawati sebagai wakilnya, Gus Dur melakukan self-mockery atau mengejek diri sendiri. Di pertemuan besar bisnis internasional di Bali tahun 1999, Gus Dur memproklamirkan diri sebagai presiden dan wakil presiden yang ideal. “Presidennya tidak bisa melihat, dan wakilnya tidak banyak bicara,” katanya.

Tri Agus juga menceritakan peristiwa humoristis lain, yakni ketika Gus Dur dengan keterbatasan penglihatannya tetap mau menghadiri dan membuka pameran lukisan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan rekan-rekannya. Selain menyebut hal ini bisa terjadi karena persahabatan Gus Dur dan Gus Mus yang melampaui batas, Tri Agus menyebut faktor lainnya, yaitu selera humor keduanya yang memang sudah tinggi, sehingga tidak ada yang merasa mengejek atau diejek di sini.

“Mengundang Gus Dur, yang notabene tidak bisa melihat, untuk melihat lukisannya, ini kan sebuah seni tersendiri. Jadi ini sebuah ide yang cerdas dari Gus Mus atau penyelenggara, sekaligus kerelaan hati seorang Gus Dur yang tinggi dalam menerima undangan dari sahabatnya,” papar Tri Agus dalam webinar bertemakan “Memahami Logika Humor Gus Dur” yang diadakan oleh IHIK3 pada Sabtu, 9 Mei 2020, pukul 15.30-17.00 WIB.

Konsep ini kemudian dikonfirmasi langsung oleh “Gus Dur KW Super”, Gus Pur alias dr. Handojo. Handojo dikenal luas sebagai komedian yang menirukan tokoh Gus Dur yang wara-wiri di televisi-televisi swasta nasional beberapa tahun lalu. Pria yang sehari-harinya bergelut di dunia medis ini memang punya kemampuan untuk menirukan tokoh-tokoh nasional sekaligus dekat dengan Gus Dur semasa hidupnya.

Menurut Gus Pur, humor-humor Gus Dur sebenarnya sangat lekat dengan upaya menertawakan dirinya sendiri. Inilah yang menjadi salah satu rahasia mengapa lelucon Gus Dur relatif bisa diterima masyarakat luas.

Lalu, bagaimana cara kita bisa berlatih atau belajar menertawakan diri sendiri ala Gus Dur? Menurut Gus Pur, kuncinya ada tiga.

“Pertama, harus diakui dulu kalau kita manusia biasa yang engga luput dari kelemahan. Yang kedua, kebenaran itu mungkin juga berada di pihak lain, bukan monopoli kita – Yang Maha Benar cuma Tuhan. Yang ketiga, buatlah masalah serius jadi santai, masalah besar kita buat kecil, masalah kecil kita buat engga ada. Jadi engga usah sedikit-sedikit rebut. Gitu aja kok repot!,” ujarnya pada Diskusi daring pada Minggu, 10 Mei 2020, di jam yang sama pula dengan webinar sebelumnya.

Breaking News

Manfaatkan Kesempatan PPS Jelang Batas Akhir

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto:  Dok. Kanwil DJP Jakarta Timur 

 

Keikutsertaan wajib pajak dalam PPS diharapkan dapat mendukung penerimaan pajak tahun 2022 agar upaya optimalisasi penerimaan pajak di pusat dan daerah bisa tercapai

 

Majalahpajak.net – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jakarta Timur terus menggencarkan kegiatan sosialisasi Program Pengungkapan Sukarela (PPS) melalui kegiatan Tax Gathering bertema “Dialog Interaktif  PPS”  menjelang batas akhir program  pada 30 Juni 2022.   Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Lantai III, Best Western Premier The Hive, Jalan D.I Panjaitan, Jakarta Timur, Senin (23/05) ini dihadiri oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, M.Anwar, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP, Neilmaldrin Noor, Kepala Kanwil DJP Jakarta Timur, Ismiransyah M Zain, dan para wajib pajak yang terdaftar di wilayah Jakarta Timur.

Neilmadrin menyampaikan imbauannya kepada para wajib pajak untuk bisa mengikuti PPS sebagai kesempatan yang baik bagi WP yang belum menyampaikan hartanya dalam SPT Tahunan secara benar agar terhindar dari sanksi yang lebih berat. Pemerintah menyelenggarakan PPS mulai 1 Januari hingga 30 Juni 2022  sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).

Baca Juga : Dapat Peringatan, Hotman Paris Bayar Rp 1 Miliar dalam PPS

“PPS dapat diikuti WP orang pribadi dan badan peserta tax amnesty (TA) dengan basis aset per-31 Desember 2015 yang belum diungkapkan. WP orang pribadi yang belum ikut TA dengan basis aset perolehan 2016-2020 yang belum dilaporkan di SPT Tahunan 2020 juga bisa memanfaatkan program ini,”jelas Neilmaldrin.

Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, M. Anwar mengapresiasi langkah reformasi perpajakan yang ditempuh DJP seiring agenda reformasi fiskal yang dilakukan pemerintah melalui  UU No.7/2021 tentang HPP. Anwar mengatakan, PPS bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela dan diselenggarakan berdasarkan asas kesederhanaan dan kepastian hukum serta kemanfaatan. Untuk itu ia mengimbau masyarakat yang memiliki kekayaan dan belum dilaporkan agar segera melapor. Menurutnya, kepatuhan pajak dari masyarakat akan sangat dibutuhkan sebagai sumber penerimaan negara dalam mendanai pembangunan, termasuk pembangunan sarana infrastruktur di wilayah Jakarta Timur untuk mengurangi bencana banjir yang selama ini kerap terjadi.

“PPS ini  diharapkan dapat mendukung penerimaan pajak tahun 2022, sehingga upaya optimalisasi penerimaan pajak di pusat dan daerah bisa tercapai,”kata Anwar dalam sambutannya.

Baca Juga : DPR: “Tax Amnesty” Bangun Rekonsiliasi

Kepala Kanwil DJP Jakarta Timur Ismiransyah M Zain dalam dialog interaktif menyampaikan tentang pemberlakuan UU HPP sebagai salah satu agenda reformasi perpajakan. Ismiransyah memaparkan, agenda reformasi perpajakan dan  reformasi kebijakan fiskal bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan mendukung percepatan pemulihan ekonomi, optimalisasi penerimaan negara, mewujudkan sistem perpajakan yang berkeadilan dan memiliki kepastian hukum, melaksanakan reformasi administrasi kebijakan perpajakan yang konsolidatif dan memperluas basis pajak, serta meningkatkan kepatuhan sukarela.-

Lanjut baca

Breaking News

Untar dan P3HPI Sinergi Sosialisasikan PPS

Diterbitkan

pada

 

Majalah Pajak.net, Jakarta – Universitas Tarumanagara (Untar) dan Perkumpulan Pengacara dan Praktisi Hukum Pajak Indonesia (P3HPI) mengadakan Webinar bertajuk PPS Harus Sukses Di Saat Waktu Tinggal Menghitung Hari, Bagaimana Strategi Menyukseskan PPS Ini?, pada (23/4). Webinar dilakukan menyosialisasikan Program Pengungkapan Sukarela (PPS) yang akan segera berakhir, yakni 30 Juni 2022. Sosialisasi meliputi peraturan, tujuan, dan manfaat PPS, kendala yang dihadapi, sekaligus cara untuk lebih menyukseskan PPS.

Ketua Umum P3HPI Jhon Eddy mengatakan, sebagai praktisi, P3HPI terpanggil menyuksesakan PPS ini. Pihaknya membuka diskusi mengenai manfaat dan sanksi kepada masyarakat.

“Kita coba kaji di forum diskusi, bahwa pemerintah sudah ada data keuangan. Kalau ketahuan (WP atau masyarakat masih menyembunyikan hartanya), masyarakat akan menerima ‘surat cinta’ dari DJP (Direktorat Jenderal Pajak), apalagi NIK (Nomor Induk Kependudukan) akan dijadikan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Nah, dengan demikian, integrasinya data keuangan dan aset keuangan yang memudahkan DJP memantau kepatuhan WP,” jelas Jhon, dikutip Majalah Pajak, (24/5).

Baca Juga: Memudahkan yang Mau Jujur

Seperti diketahui, DJP bisa mengakses data dan mendapatkan informasi perbankan secara otomatis. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan untuk Kepentingan Perpajakan. Aturan teknis tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 19 Tahun 2018 sebagai Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70 Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis Mengenai Akses Informasi Keuangan untuk Kepentingan Perpajakan. Selain lembaga perbankan, DJP juga mempunyai akses data terhadap lembaga asuransi, pasar modal, dan lembaga keuangan lainnya. lainnya. Di dalamnya meliputi rekening keuangan di bank, asuransi, saham, surat berharga, termasuk bagi perusahaan efek dan aset-aset keuangan lainnya.

Selain itu, berkat UU Nomor 9 Tahun 2017, Indonesia juga bisa menerima informasi terkait perpajakan dari otoritas pajak di pelbagai negara melalui mekanisme automatic exchange of information (AEOI). Dengan demikian, WP yang membuka rekening di negara lain akan bisa terlacak secara langsung oleh otoritas pajak negara asalnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan dan Ketua Dewan Kehormatan P3HPI Ahmad Sudiro menilai, PPS merupakan langkah strategis pemerintah dalam mewujudkan perbaikan defisit anggaran dan peningkatan rasio pajak.

Baca Juga : DJP: Tinggal Dua Bulan Lagi, Segera Ikuti PPS

“PPS ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela Wajib Pajak, dan diselenggarakan berdasarkan atas kesederhanaan, kepastian hukum, serta kemanfaatan,” kata Sudiro.

Namun, praktisi perpajakan Pandu Bestari memberikan beberapa pandangan, pertama, jangka waktu antara tax amnesty jilid I dengan PPS terlalu dekat, yang menjadi salah satu penyebab minat WP untuk mengikuti program sukarela ini rendah. Kedua, terlalu seringnya kita menyelenggarakan program tax amnesty, yang berpotensi mengundang moral hazard, jika dengan era orde baru yang hanya ada 1 kali pengampunan pajak dalam jangka waktu 32 tahun. Ketiga, sda baiknya selalu menghindari cara-cara pendekatan atau berkomunikasi yang berpotensi mengundang resistensi.

Keempat, menjadikan program tax amnesty atau sejenisnya sebagai target ‘kejar setoran’ dalam bingkai konsep self assessment system, dalam rangka meningkatkan kepatuhan sukarela Wajib Pajak sangat kurang mendidik,” tambah Pandu.

Sebelum webinar nasional ditutup, Sekjen P3HPI dan Ketua Umum Perkoppi Gilbert Rely menyampaikan dua hal kesimpulan webinar, pertama, program PPS telah menjadi politik hukum pajak  sebagai bentuk kepedulian menuju arah pungutan pajak yang lebih baik. Kedua, kejelasan sanksi pajak dalam PPS memberi kepastian yang diharapkan WP Pajak.

Lanjut baca

Breaking News

Dapat Peringatan, Hotman Paris Bayar Rp 1 Miliar dalam PPS

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Istimewa

 

Majalahpajak.net – Pengacara kondang tanah air Hotman Paris mengungkapkan bahwa dirinya ikut melaporkan hartanya dalam Program Pengungkapan Sukarela (PPS) dengan total pembayaran pajaknya sebesar Rp 1 miliar. Hal itu ia lakukan setelah mendapatkan peringatan dari petugas pajak. Dimana petugas pajak menemukan ratanya dalam bentuk deposito yang belum dilaporkan. Oleh karena itu, Hotman pun langsung menghadap Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Utara untuk menunaikan kewajibannya.

“Bentuk harta yang dilaporkan berupa rekening bank, kebetulan banknya sudah tutup, kemudian tiba-tiba dari kantor pajak ingatkan kalau dulu saya punya rekening disini, itu kan rekening bank. Jadi, saya nggak bisa bohong,” ungkapnya.

Disinggung besaran lebih rinci tentang pembayaran pajaknya, Hotman enggan merincikan nilai harta serta kebijakan berapa yang ia pilih.

Baca Juga: Memudahkan yang Mau Jujur

“Kemarin jujur saya bayar cash Rp 1 miliar lebih,” tambahnya.

Akan tetapi, ia mengaku bahwa dirinya rutin dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya dan mengikuti PPS. Terlebih, Hotman memiliki banyak bisnis properti dan sadar tidak bisa menyembunyikan soal pajak.

“Saya kan banyak di bisnis properti dan bisnis properti itu pajaknya gak bisa dibohongin kan, pajak penjual berapa pajak pembeli berapa kalau sewa juga jelas,” ujarnya.

Hotman mengatakan, dirinya mendaftarkan diri menjadi peserta pada PPS lantaran patuh akan hukum dan sudah tahu seluk beluk sistem pajak. Menurutnya, lebih baik menjadi warga negara yang taat pajak daripada menyembunyikan aset.

“Jadi, memang saya setiap ada tax amnesty selalu ikut. Arti tax amnesty itu adalah kita setiap manusia mengaku kesalahan dan kita bayar utang kita itu, gitu loh,” katanya.

Baca Juga : Ketum IKPI: Jangan Lewatkan PPS yang Sarat Manfaat

Sebagaimana diketahui, PPS merupakan salah satu mandat dalam beleid baru perpajakan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Program ini berlangsung selama enam bulan sejak awal tahun ini, dengan demikian tersisa dua bulan lagi sebelum berakhir 30 Juni 2022.

Program ini terdiri atas dua skema tarif. Skema pertama berlaku untuk WP orang pribadi (OP) atau badan yang pernah mengikuti tax amnesty jilid I tetapi masih ada harta yang belum atau kurang dilaporkan yang diperoleh dari 1 Januari 1985-31 Desember 2015. Bagi WP yang memiliki harta pada periode tersebut tetapi tidak ikut tax amnesty jilid I juga diperbolehkan mengikuti PPS pada skema pertama. Pada skema pertama tersebut berlaku tarif 6-11 persen.

Sedangkan pada skema kedua, hanya untuk WP OP yang hartanya diperoleh mulai 1 Januari 2016-31 Desember 2020. Dalam skema kedua ini, berlaku tarif 12-18 persen.

Lanjut baca

Populer