Berbagi Ilmu Strategi Komunikasi | Majalah Pajak
Terhubung dengan kami

Feature

Berbagi Ilmu Strategi Komunikasi

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Hubungan Masyarakat (PR) memiliki peran strategis dalam membangun citra positif sebuah institusi. Berbekal pengalaman puluhan tahun yang dimilikinya, Maria berbagi ilmunya untuk generasi muda Indonesia.

“Remember, just because you went to college doesn’t make you smarter than anyone else, common sense doesn’t come with a degree. Ingatlah bahwa pendidikan tinggi tidak berarti Anda lebih pintar dari yang lain, nalar tak ada gelarnya. Pernyataan ini berlaku bagi profesi Public Relations (PR). Sebab praktisi PR pada memerlukan kemampuan strategic thinking dan analytical skills.”

Demikian yang ditulis President Director of IPM Public Relations sekaligus Chief of Training Merdi Intar Sinau (MISI), Maria Wongsonagoro di sebuah kolom salah satu majalah nasional, Febuari 2018, berjudul “Nalar Tak Bergelar”.

Tulisan itu menggelitik Majalah Pajak untuk berbincang dengan Maria. Beruntung, pada Sabtu siang (21/4), kami berkesempatan menyambangi Maria di sekolah hubungan masyarakat miliknya di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat. Kesan pertama yang kami dapatkan, sosoknya begitu ramah. Mungkin menjadi salah satu kunci kesuksesannya di bidang PR.

Public relations is not a glamorous lady who meets celebrities from one event to another, it is a hard work,” kelakar Maria.

Kerja keras yang dimaksud adalah berkaitan dengan kemampuan praktisi PR untuk memperkuat nalar komunikasi dan mengetahui fondasi utama keilmuannya.

Sebagai dasar, Maria menjelaskan bahwa PR merupakan fungsi manajemen strategis untuk membangun, menjaga kesinambungan, dan melindungi reputasi. Baik reputasi diri sendiri, perusahaan, ataupun lembaga pemerintahan.

“Seorang PR yang baik perlu mengetahui dasar-dasar ilmunya. Jika PR sudah disadari sebagai fungsi manajemen strategis, maka kuatlah instansinya,” jelas perempuan kelahiran Yogyakarta, 11 Juli 1947 ini.

Maria mengejawantahkan pengetahuannya ke dalam dalam kurikulum pengajaran yang mencangkup empat lapis strategi komunikasi untuk membangun, menjaga kesinambungan, dan melindungi reputasi.

Lapis pertama, adalah strategi komunikasi untuk melaksanakan ongoing positive publicity, yaitu publisitas yang berkesinambungan bagi perusahaan maupun instansi untuk membangun reputasi.

Lapis kedua, strategi komunikasi untuk menjalin hubungan yang serasi dengan kelompok-kelompok stakeholders untuk mendapatkan dukungan atau third party endorsement.

Lapis ketiga, strategi komunikasi untuk menangani berbagai isu termasuk hoax, yang dihadapi oleh perusahaan ataupun instansi, suatu sistem proaktif yang menangani isu sebelum berkembang menjadi krisis. Lapis keempat, strategi komunikasi untuk menangani krisis.

Empat lapis itu kembali diturunkan ke dalam empat tahap. Tahap pertama proses pembuatan strategi komunikasi mencakup situational analysis. Ini bertujuan supaya PR atau humas dapat menganalisis situasi yang dihadapi saat itu.

Tahap kedua, stakeholders mapping, bagaimana humas mampu memetakan para pemangku kepentingan yang dituju, termasuk media.

Tahap ketiga, perception survey and analysis, melakukan survei persepsi para pemangku kepentingan dan menganalisis hasilnya. Tahap keempat, objectives, penepatan tujuan yang ingin dicapai.

“Termasuk hoax atau berita bohong yang sering terjadi di instansi pemerintahan khususnya dapat diatasi dengan sistem lapis ketiga,” kata salah satu dewan juri Indonesia Public Relations Award and Summit (IPRAS) ini.

Dalam konteks implementasi, strategi empat lapis itu dapat meredam bahkan memitigasi hoax.

“Jika instansi dilanda berita hoax strategi empat lapis itu akan bekerja. Praktisi PR sudah menyiapkan manajemen data, juru bicara, dan menyiapkan tiga pesan kunci,” jelasnya.

Khusus PR di Direktorat Jenderal Pajak, Maria menilai, strateginya sudah baik, dibandingkan dengan instansi pemerintahan lainnya. Sebab telah memiliki sebuah panduan komunikasi.

“Itu (Panduan komunikasi) bagus. Di dalamnya ada isu manajemen, bahkan krisis manajemen,” puji Maria. Terlebih, lanjut Maria, personil DJP yang bertanggung jawab di bidang PR sudah memiliki komunikasi yang sangat baik. Itu ditandai dengan familarnya berita positif media terhadap instansinya.

“Saya menilai Ani (Ani Natalia , Kasubdit Humas Direktorat Jenderal Pajak) mampu menyadarkan ke seluruh pegawainya untuk belajar kemampuan PR yang komprehensif di MISI,” tambahnya.

Sebagai informasi, semester ini tengah berlangsung pelatihan PR in Practice yang diikuti oleh 12 orang. Terdiri dari insan media, fresh graduate dari Institut Pertanian Bogor, pegawai kantor pengacara dan bank, serta pegawai Ditjen Pajak.

Di temui usai kelas, Pelaksana Seksi Pelayanan KPP PMA Lima Ditjen Pajak Natiti Harini berkesan, MISI tak hanya berkutat pada teori, tapi juga sharing pengalaman dari berbagai praktisi PR terbaik di Indonesia.

“Ikut training di MISI seolah sekolah Strata Dua (S2). Kita dituntut untuk bersikap sebagai seorang PR perusahaan atau PR consultant,” ungkap Nash.

“Seorang PR yang baik perlu mengetahui dasar-dasar ilmunya. Jika PR sudah disadari sebagai fungsi manajemen strategis, maka kuatlah instansinya.”

Tidak mudah

Hingga saat ini tak terasa sudah 32 tahun Maria berkiprah di dunia PR. Tentu bukan perkara mudah menggeluti dunia yang menuntut kecakapan manajemen, komunikasi, organisasi, dan khalayak sekaligus itu.

Pemahamannya Maria akan PR bermula pada tahun 1980. Ketika itu ia mendapat tawaran dari kawannya untuk mengelola business center di Hotel Hilton. Walaupun tak memiliki modal, Maria menyanggupinya. Ia pun berjanji akan menyicilnya setiap bulan.

Dengan latar belakang sepuluh tahun berkiprah di dunia administrasi dan kesekretarisan, Maria tak takut menjalani bisnis itu. Apalagi ia juga mahir berbahasa Inggris. Maklum, sang ayah, Soenarso Wongsonagoro adalah Duta Besar Indonesia di Vatikan yang kerap membawa keluarga menetap lama di berbagai negara.

Berkat kelihaian komunikasi itu, Maria mampu meyakinkan para investor asing yang datang ke Indonesia akhirnya sebagian besar menginap di Hotel Hilton.

“Bahkan semakin hari banyak klien yang datang untuk keperluan. Bukan tentang hotel, tapi, meminta jasa pengetikan, penerjemahan, pembuatan laporan, kontrak dua bahasa, dan lain-lain,” kisah Reporter TVRI tahun 1983 hingga 1987 ini.

Sekitar tahun 1983, ada tiga perusahaan Eropa yang bermitra dengan Indonesia meminta supaya Maria menjadi staf PR mereka.

“Apa PR itu?” celetuk Maria ketika itu. Ya, memang pekerjaan sebagai PR di Indonesia masih begitu asing. Tiga perusahaan tadi akhirnya memberikan pelatihan PR kepada Maria ke luar negeri.

“Penting bagi PR memiliki kemampuan komunikasi verbal maupun tertulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Lalu mereka mengajarkan pentingnya strategi dalam dua budaya ini,” jelasnya lagi.

Sejak saat itulah Maria menyadari bahwa PR adalah jalan hidupnya. Hal itu ia wujudkan dengan mendirikan perusahaan jasa IPM Relations pada tahun1985.

Kurang lebih, hingga saat ini IPM Relations telah membantu perusahaan nasional, multinasional maupun instansi pemerintah. Jasa yang diberikan mulai dari strategic communication consultancy, issues and crisis management, publicity strategies, media relations and engagement, stakeholder relations, event organizing, CSR Programs, communication and Public relation training.

Di samping Bussiness Center di Hilton makin ramai, Maria juga mengadakan pelatihan administrasi dan kesekretariatan selama enam bulan. Kemudian berkembang menjadi Bilingual Secretarial Training (BST) di bawah IPM Center.

Namun di tengah kesibukan mengurus perusahaannya tersebut, panggilan mengajar terus nyaring di benaknya. Ia pun memutuskan untuk mendirikan MISI pada tahun 2016 hingga sekarang.

“Sudah 32 Tahun sudah saya berkecimpung di dunia PR. Mau apalagi? Saya ingin mengabdikan diri untuk Indonesia melalui ilmu dan pengalaman yang saya punya,” ungkap Maria.

Ditemui di kesempatan berbeda, Kasubdit Humas DJP Ani Natalia mengungkapkan kekagumannya kepada Maria. Ani menilai, Maria merupakan sosok wanita kuat yang tak kenal lelah untuk terus berbagi ilmu pengetahuannya di bidang PR.

Terlebih, ketika pertemuan kali pertama Ani di forum PR beberapa waktu lalu. Maria hangat bersapa dan mengatakan bersedia membantu kehumasan Ditjen Pajak kapan saja.

“Saya sangat tersentuh dengan sosok Ibu Maria. Bahkan apabila ada berita terkait pajak di media massa yang negatif, Ibu Maria mengirimkan dan memberikan masukan. Again, karena beliau cinta kepada dunia PR,” ungkap Ani.

 

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Feature

’You’ Bisa Sekolah, Kerja, dan Usaha—Masa tidak Taat Pajak?

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Cintanya kepada negara tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Pemikiran, harta, tenaga, dan terkadang kritik kerasnya hanyalah sebagian dari sumbangsihnya.

Suatu siang di tahun 2014, Sofjan Wanandi yang kala itu menjabat sebagai Ketua Apindo memenuhi undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta untuk mendiskusikan roadmap perekonomian kabinet kerja. Salah satu di dalamnya, program pengampunan pajak atau tax amnesty.

Di hadapan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Sofjan memberi keyakinan bahwa para pengusaha akan mendukung penuh program ini.

Tax Amenesty upaya membangun kembali trust antara Wajib Pajak dan pemerintah,” kata Sofjan yang saat ini menjabat sebagai ketua staf ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengenang pertemuan itu di ruang kerjanya, pada Rabu sore (5/5).

Sofjan mengaku bangga dapat terlibat dalam pertemuan itu. Terlebih menurutnya, banyak pihak yang mengakui program pengampunan pajak di Indonesia yang paling berhasil.

“Saya menilai salah satu keberhasilan saya memimpin Apindo adalah mengusulkan tax amnesty,” katanya—sejak 2014 lalu tongkat estafet kepemimpinan Apindo berada di tangan Hariyadi Sukamdani.

Sofjan meyakini, tax amnesty merupakan lembaran baru Wajib Pajak untuk memulai kepatuhan pajak. Terlebih setelahnya Wajib Pajak tak bisa lagi bersembunyi. Sebab, 2018 era automatic exchange of information telah dimulai.

“Wajib Pajak tidak bisa kucing-kucingan lagi karena pemerintah bisa melakukan cek dan ricek pada siapa pun yang belum bayar pajak. Kekayaan warga Indonesia di luar negeri bisa diketahui dengan mudah dan cepat,” jelas Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) 2004-2014 ini.

Nama Sofjan juga masuk dalam jajaran 31 penerima penghargaan Wajib Pajak Patuh dan Berkontribusi Besar 2017 dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar Mekar Satria Utama pada Maret 2018 lalu.

“Saya juga tidak mengerti kenapa mendapatkannya. Saya pikir masih banyak pengusaha yang lebih kaya dari saya. Sejak dulu saya hanya mencoba berkontribusi untuk negara tercinta ini. Bayar pajak dengan benar, “ ungkap Sofjan.

Politik praktis

Jauh sebelum Sofjan menjadi pengusaha kelas kakap di Indonesia, rasa cinta pada tanah air diejawantahkannya melalui keterlibatannya dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) serta organisasi mahasiswa yang dibentuk Menteri Pendidikan Tinggi Dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Brigjen Syarief Thajeb bernama (KAMI) pada 1965.

Kala itu, Sofjan berstatus mahasiswa tingkat V Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menjabat sebagai Wakil Ketua PMKRI dan Ketua KAMI.

“Tidak ada alasan tertentu menjadi aktivis. Rasa cinta kepada negara saja, cinta apa bisa dijelaskan? Semua takdir sejarah,” kata Sofjan.

Sofjan kemudian mengenang, situasi genting terjadi di Indonesia ketika menjabat dua organisasinya, Gerakan 30 September 1965. Di bawah komandonya, KAMI bertekad bulat membantu ABRI dalam menumpas gerakan kontrarevolusi itu.

Kira-kira pada November 1965, Sofjan bersama kawan-kawan mengumpulkan 100 ribu mahasiswa untuk mengadakan rapat raksasa di Fakultas Kedokteran UI Salemba Raya, Jakarta. Tak jarang pula Sofjan menjadi koordinator demonstrasi di jalan.

“Kami menuntut Presiden Soekarno menertibkan aparat-aparat revolusi dari unsur-unsur koruptor, pencoleng, dan kaum revolusioner gadungan lainnya,” kata Sofjan mengenang isi hasil rapat akbar itu.

Pertemuan berlanjut. Sofjan bersama ketua presidium KAMI Pusat Cosmas Batubara, perwakilan Ikatan Pers Mahasiswa Ismid Hadad, Mari’e Muhammad, aktivis PMKRI Savrinus Suardi, tokoh HMI Nazaruddin Nasution, menggelar rapat di markas PMKRI.

Pertemuan yang nyaris digelar setiap malam itu merupakan penyusunan konsep Tri Tuntutan Rakyat atau yang kita kenal sebagai Tritura. (Isi Tritura: bubarkan PKI, rombak kabinet, turunkan harga.)

Setelah Presiden Soekarno digantikan oleh Soeharto, para aktivis 1966 diminta berjuang dari dalam pemerintahan, termasuk Sofjan. Tepat pada 1 Februari 1967, ia dilantik menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) Komisi Keuangan sekaligus bergabung dengan partai Golongan Karya (Golkar).

“Saya berbeda paham dengan aktivis 1966 yang tetap ingin berjuang di jalanan. Saya memutuskan untuk bersuara dan berjuang dari dalam. Keputusan itu membuat saya dikirimi lipstick dan beha karena kami dianggap melacurkan diri,” kenangnya sembari tertawa kecil.

Lima tahun lamanya kala itu Sofjan menjadi anggota DPR-GR dan 20 tahun menjadi anggota MPR. Tahun 1987 ia pensiun. Pesangon Rp 1.5 juta per bulannya ia serahkan ke partai Golkar sebagai dana operasional partai. Setelah itu, Sofjan diminta oleh Staf Khusus Bidang Ekonomi Presiden Soeharto, Soedjono Hoemardani sebagai staf pribadi.

Sejak saat itu Sofjan mendampingi seluruh tugas negara Soedjono. Termasuk ketika Soedjono diutus oleh Presiden melobi pemerintah Jepang. “Kondisi Indonesia saat itu sudah bangkrut. Devisa sudah tidak ada,” ungkap Sofjan.

Ia menjadi saksi bagaimana Pak Djono—panggil Sofjan kepada Soedjono—memuluskan jalan supaya Indonesia mendapat bantuan Jepang senilai 30 juta dollar AS.

Selain itu, Soedjono membuka jalur investasi Jepang ke perusahaan Indonesia. seperti PT Astra, Panasonic Group, PT Indokaya, dan lain-lain.

“Saya belajar banyak dari Pak Djono. Beliau lincah, gesit, gemar bermain bola, tenis, golf. Orangnya religius,” kesan Sofjan.

Setelah Pak Djono tutup usia, Sofjan-lah yang meneruskan hubungan baik dengan Pemerintah Jepang. Tak pelak, Sofjan mendapat

penghargaan The Order of Rising Sun, Gold, Silver Star dari Pemerintah Jepang.

Saya sangat mendukung penetapan Hari Pajak 14 Juli sebagai simbol kepatuhan dan kesadaran pajak kita sebagai warga negara.

 Pebisnis-aktivis

Lepas dari itu, Sofjan justru ingin menanggalkan hiruk-pikuk dunia politik. Ia kemudian bicara empat mata dengan sang kakak yang menjabat sebagai Wakil Sekjen Golkar, Jusuf Wanandi.

“Saya tidak berminat lagi terjun dalam dunia politik praktis. Apa yang saya perbuat di parlemen? Tidak banyak yang bisa saya lakukan. Saya bisnis saja, kamu di politik,” tutur anak ketiga dari pasangan Lim Bian Khoen dan Lim Gim To ini di hadapan sang kakak.

Akhirnya, bermodal menggadaikan rumah orang tua di kawasan Menteng, Sofjan bersama kakak dan adiknya, Jusuf Wanandi, Biantoro Wanandi, Rudy Wanandi, Edward Ismanto Wanandi mendirikan Gemala Group.

Perusahaan mereka terus berkembang. Hingga membawahi 48 perusahaan yang terbagi dalam sembilan sektor usaha, yaitu, perdagangan, kimia, automotif, farmasi, produk metal, hotel, pariwisata, real estate, keuangan, dan transportasi.

“Keberhasilan saya mengonsolidasi Gemala Group tidak ada kaitan dengan kedekatan saya dengan pemerintah. Kunci bisnis ya, kerja keras, jujur, dan niat berkontribusi untuk negara. Pajak kita bayar, lalu mengurangi pengangguran,” jelas ketua Komite Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN) tahun 2000-2007 ini.

Meski jadi pebisnis, darah aktivis masih cukup mengalir di tubuhnya. Ia memilih tetap berorganisasi dengan mendirikan Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Nah, sewaktu Presiden Soeharto menjabat selama 26 tahun, Sofjan mulai kembali vokal melayangkan kritik atas kebijakan ekonomi pemerintah. Terutama soal kebijakan uang ketat (tight money policy) dan bunga yang tak kunjung turun.

“Saya vokal dan mengkritik kebijakan bukan untuk menjelekkan, tetapi untuk memperbaiki. Saya cinta Indonesia, harus ada pengusaha Indonesia yang berani bicara,” jelas Sofjan.

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun Sofjan tak luput melemparkan protes, terutama terkait pernyataan Presiden SBY tentang berakhirnya upah buruh murah. Sofjan menilai, pernyataan itu dikhawatirkan memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sejumlah perusahaan. Padahal, masih banyak rakyat yang belum bekerja. Pemerintah harus tetap mengategorikan buruh murah dan mahal berdasarkan kemampuan.

Kini, di usianya yang tak lagi muda. Sofjan tetap ingin mengabdikan diri pada tanah air tercinta melalui perusahaan-perusahaan yang ia rintis bersama keluarga. Namun, takdir di dunia politik ternyata belum berakhir. Tahun 2015 Sofjan diminta menjadi Ketua Tim Ahli Wakil presiden Jusuf Kalla.

“Sofjan, saya minta Anda mengabdikan diri untuk negara ini. Ini perjuangan kita selama 60 tahun. Sekarang saya minta Anda. Mari kita berbuat untuk bangsa dan negara dalam usia kita setua sekarang,” kata Sofjan menirukan kembali permintaan Jusuf Kalla.

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Sofjan tak bisa menolak.

“Baiklah, apa pun untuk negara tercinta saya lakukan. Walaupun saya sedih, waktu bermain dengan cucu berkurang,” kata Sofjan sembari tertawa dan memperlihatkan foto keluarga di ruang kerjanya.

Sebelum mengakhiri perbincangan, Majalah Pajak juga sedikit menceritakan inisiatif Direktorat Jenderal Pajak mencanangkan tanggal 14 Juli sebagai Hari Pajak. Mendengar itu seketika Sofjan menegakan tubuhnya dari sandaran kursi kerjanya. Ia mengaku bangga dengan apa pun perayaan untuk mendukung kesadaran pajak.

“Saya sangat mendukung penetapan Hari Pajak 14 Juli sebagai simbol kepatuhan dan kesadaran pajak kita sebagai warga negara. You bisa usaha, sekolah, kerja di negara ini, you masa tidak taat pajak,” tutur pria kelahiran Sawahlunto 3 Maret 1941 ini.

Lanjutkan Membaca

Feature

Film Adalah Jalan Hidup

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

 

Aku Ingin dapat bebas lepas

Aku ingin senantiasa merasa bahagia

Aku ingin dapat terbang

Bila tiada yang perduli

Demikian sepenggal lirik lagu “Aku Ingin” persembahan sutradara tersohor Indonesia, Mira Lesmana, untuk sang adik, Indra Lesmana di tahun 1980-an.

Kira-kira kala itu, usia Mira baru saja menginjak 16 tahun. Lirik itu tercipta usai ia menyiapkan buku pelajarannya ke dalam tas. Menurut Mira, tak ada maksud atau permintaan khusus. Di atas kertas tangannya menari begitu saja. “Sesuai judul lagu, aku ingin saja menuangkan ide. Aku ingin saja,” celetuknya seraya tertawa, di kantornya, di kawasan Bintaro, Tanggerang Selatan, pada Senin siang (26/2).

Darah bermusik, memang mengalir deras dari dalam diri Mira. Sang ayah adalah musisi jazz Jack Lesmana dan ibunda, Nien Lesmana adalah penyanyi poluler era 60-an. Tak heran jika sejak kecil Mira jago memainkan piano.

Namun, untuk urusan menulis lirik, Mira mengaku itu berasal dari kegemarannya pada puisi dan dongeng Nusantara. Pokoknya, jika guru SD-nya mendongeng, Mira kecil langsung duduk manis di bangku paling depan.

“Wah, waktu guru mendongeng, imajinasiku terbang bebas,” tambah perempuan kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1964 ini.

Selain dongeng, di rumah ia juga melahap komik-komik silat tanah air. Seperti, Pendekar Seruling Gembala, Pengemis Kusta, dan Kembalinya Pengemis Kusta karangan Hengky, dan lain-lain. Bahkan, meskipun ia harus hijrah ke Australia untuk menemani Indra Lesmana menempuh pendidikan di Brooksfield Music Academy, ia tetap mencari buku-buku dongeng negeri Kanguru.

“Aku menilai film kita semakin berkualitas. Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, ke depan industri perfilman bisa saja menjadi penyumbang terbesar penerimaan negara.”

Jalan hidup

Selain membaca buku dongeng, di Australia, hobi Mira bertambah, yaitu menonton film bersama keluarga di bioskop. Sebenarnya ini adalah ritual yang biasa dilakukan keluarganya di Jakarta. Namun, menurutnya, tak serutin di Australia. Maklum, kata Mira, di Jakarta hingga tahun 1980-an, belum ada bioskop multipleks.

Mira pun semakin menikmati ritual menonton film itu. Bahkan, tak hanya di bioskop. Di rumah ia dapat menonton tiga sampai lima film dalam sehari.

“Sejak saat itu saya selalu kagum pada sutradara film. Mereka bisa mereka buat film bagus-bagus seperti itu,” ujarnya.

Tak hanya menonton film, ia juga mempelajari buku-buku biografi sutradara-sutradara dunia.

“Ternyata film adalah jalan hidup, jalan untuk mempertahankan idealisme—jalan untuk mengekspresikan kegelisahan,” ucap Mira.

Ia pun semakin mantap untuk memilih jalan berbeda dari ayah dan adiknya sebagai musisi. Ia meminta izin kepada ayahnya, untuk melanjutkan studi perfilman di Sydney. Tekadnya tak terwujud lantaran terbentur syarat yang mengharuskan Mira melampirkan satu karya di bidang perfilman.

“Loh, aku kan baru ingin sekolah. Mana ada karya? Mereka justru merekomendasikan aku kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) terlebih dahulu selama satu tahun. Dengan begitu, aku bisa otomatis diterima di Sydney,” katanya.

Mira pun mendaftar di IKJ. Bahkan betah dan melupakan cita-citanya untuk menimba ilmu di luar negeri.

Selain kuliah, hari-hari istri dari aktor  Mathias Muchus dipenuhi dengan jadwal menonton teater. Baginya, teater adalah pertunjukan murni syarat idealisme. Tak terkungkung oleh aturan-aturan perfilman ala orde baru saat itu.

“Teater mengajarkan aku untuk tulus. Tidak mengharap penghargaan tapi teguh akan idenya,” ucap Mira mengepalkan kedua tangannya di atas meja.

Lulus kuliah, Mira dan sahabat karibnya, Riri Riza, mulai menyusun rencana pembuatan film Petualangan Sherina, film anak-anak yang kemudian akrab bagi masyarakat Indonesia.

“Saya merasa anak-anak harus ditolong waktu itu. Mereka harus diberi tontonan yang menghibur sekaligus memberi nilai. Saya enggak perduli dengan tren atau ketakutan lainnya,” tegas ibu Galih Galinggis dan Kafka Keandre ini.

“Dia pikir, dia yang paling hebat merasa paling jago dan paling dahsyat,” lantun Mira menembang salah satu soundtrack Petualangan Sherina yang ia gubah. “Dengan lirik lagu sederhana ini saya ingin memberi nilai-nilai sederhana—eh, jangan sombong, ya,” tambahnya.

Berkat keidealisannya itu, Petualangan Sherina dinikmati jutaan penonton dan disebut sebagai pembangkit industri perfilman yang tengah lesu.

Semenjak itulah karya-karya Mira semakin menggema, bahkan dibanjiri penghargaan. Sebut saja, Ada Apa dengan Cinta (AADC), Gie, Sang Pemimpi, Laskar Pelangi, dan berbagai film dokumenter.

Baginya, tak ada ramuan khusus untuk memproduksi sebuah film yang laku dan berisi. “Sebagai produser, konteks dan konten itu bagian dari proses membuat film. Kita juga harus paham siapa yang dibidik. Anak-anak, remaja, atau tua,” jelas MIra.

Untuk tahun 2018, peraih Piala Citra kategori penulis skenario terbaik untuk Ada Apa Dengan Cinta di Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2004 ini akan kembali mempersembahkan film anak-anak Ku Lari ke Pantai.

Perlu sekolah film

Mira berharap industri mampu menjadi salah satu sektor penyumbang terbesar penerimaan negara. Ia yakin, saat ini masyarakat sudah semakin percaya akan kualitas film-film Indonesia.

“Aku menilai film kita semakin berkualitas. Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, ke depan industri perfilman bisa saja menjadi penyumbang terbesar penerimaan negara,” harap peraih gelar Bachelor of Arts dari IKJ ini.

Untuk mewujudkannya, Mira mengajak pihak swasta maupun pemerintah untuk mendirikan sekolah-sekolah perfilman.

“Kita harus mempersiapkan supply yang bagus untuk industri ini,” tambahnya mengakhiri perbincangan.

 

Lanjutkan Membaca

Feature

Berawal dari Kerumitan Membayar Pajak

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

 

Saat mendirikan perusahaan di Indonesia beberapa tahun silam, ia dihadapkan pada rumitnya proses pembayaran pajak. Dari situ lahirlah aplikasi untuk menyederhanakannya.

Sebagian Wajib Pajak tentu sudah tak asing dengan OnlinePajak, sebuah aplikasi pelaporan pajak dalam jaringan (daring) yang dikembangkan perusahaan rintisan PT Achilles Advanced System. Aplikasi ini diciptakan untuk memberikan solusi menyederhanakan proses memenuhi kewajiban perpajakan di Indonesia yang sering kali dinilai masih rumit. Namun, bisa jadi para penggunanya tersebut tak menyangka jika penggagas aplikasi tersebut justru warga negara asing alias ekspatriat.

Adalah Charles Guinot, pria berkebangsaan Perancis yang mengaku jatuh hati pada Indonesia dan memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Perkenalan Charles Guinot dengan Indonesia dimulai sejak ia tinggal di Cina beberapa tahun sebelum memutuskan untuk hijrah ke Indonesia. Di negeri Panda tersebut, ia kerap mendengar seluk-beluk Indonesia. Ketertarikannya semakin mendalam ketika mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara berkembang yang kaya akan budaya dan tradisi.

Keinginan Charles bertualang ke berbagai negara memang bukan tanpa sebab. Ia ingin berjuang sendiri mendirikan perusahaan di luar dari perusahaan keluarga di tanah kelahirannya. Hingga akhirnya, di tahun 2013, Charles mantap menapaki Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota tujuan mengenal lebih dalam tanah air. Di sana ia tekun belajar bahasa Indonesia dan perlahan mengenal budaya serta tradisi masyarakat Jawa khususnya.

“Saya suka Indonesia, suka Jogja, orangnya ramah dan selalu gembira,” seloroh pria penggemar sate dan mie goreng ini sembari tertawa saat ditemui di kantor OnlinePajak, pada Selasa siang (30/1).

Beberapa bulan di Kota Gudeg membuat Charles semakin percaya diri untuk mendirikan sebuah perusahaan kecil di Jakarta. Kala itu ia mencoba merintis perusahaan trading. Di situlah awal mula Charles mengenal sistem perpajakan Indonesia yang menurutnya terlalu rumit. Perusahaannya selalu dihadapkan dengan administrasi perpajakan yang menurutnya ribet dan memakan waktu lama.

Berangkat dari pengalaman itu, ia merasa, perlu adanya sebuah perangkat lunak yang mampu mempermudah proses administrasi atau pembayaran pajak di sebuah perusahaan.

“Saya merasa aneh, perusahaan kecil kebutuhan administrasi sangat banyak. Pegawai saya bolak-balik minta tanda tangan,” kata Charles.

Berbekal latar belakang pendidikan teknik robotic di Université de Technologie de Troyes, Perancis, Charles merasa tertantang untuk membangun perangkat lunak yang dapat mempermudah perusahaannya mengurus pajak. Lahirnya aplikasi yang kini dikenal dengan nama OnlinePajak. Butuh waktu empat tahun setengah lamanya, ia mencoba membangun aplikasi itu. Ia merasa senang mengintegrasikan antara teknik elektronik, teknologi informasi, dan regulasi perpajakan Indonesia. Terlebih, kecintaannya pada dunia ini sudah melekat sejak ia kecil.

Ketekunan, kegigihan, dan pantang menyerah Charles menghasilkan sebuah platform yang mampu memecahkan permasalahan administrasi perpajakan perusahaannya. Tak ada niat sebelumnya bagi Charles untuk mempersembahkan inovasinya untuk khalayak umum. Namun, ia merasa kebaikan perlu dibagi.

“Jika seluruh perusahaan di Indonesia sadar pajak maka pendapatan pemerintah akan meningkat. Saya bermimpi Indonesia akan lebih baik.”

Gratis

Tahun 2015, secara resmi Charles meluncurkan aplikasi berbasis website OnlinePajak kepada seluruh warga Indonesia yang bisa digunakan secara gratis. Aplikasi ini memudahkan penggunanya untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak dalam satu platform terintegrasi yang sederhana.

Misalnya, Wajib Pajak dapat melakukan perhitungan beberapa jenis pajak, seperti Pajak Penghasilan (PPh) 21, PPh 23, hingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Selain itu, pengguna dapat langsung membuat e-Faktur dan SPT dengan hanya menekan sebuah tombol.

Untuk memudahkan pengguna mereka membayar dan melaporkan pajak, OnlinePajak pun telah terkoneksi dengan sistem e-Billing dan e-Filing milik kantor pajak. OnlinePajak sendiri telah resmi menjadi aplikasi mitra DJP.

“Kami mempunyai dua buah server yang masing-masing telah terkoneksi dengan server e-Billing dan e-Filing di DJP,” jelas Charles.

Namun, khusus untuk pengguna individu yang ingin melaporkan SPT Tahunan Pribadi, tetap harus datang ke kantor pajak untuk mendapatkan Electronic Filing Identification Number (EFIN). Setelah memasukkan EFIN tersebut di platform OnlinePajak, barulah pelaporan bisa dilakukan.

Charles pun tak menduga, di tahun 2016 OnlinePajak mampu menghimpun pembayaran pajak kolektif sebesar Rp 2,7 triliun dan lebih dari Rp 40 triliun di 2017 . Saat ini OnlinePajak juga telah merangkul lebih dari 500.000 pengguna, termasuk di  antaranya Telkomsel, Tokopedia, GO-JEK, PT Astra Otoparts Tbk, Huawei Tech  Investment, Kawan Lama Group, dan masih banyak lagi.

Bagi Charles, kehadiran aplikasi tersebut adalah sebuah kebahagiaan. Ia selalu menganggap, dirinya warga dunia yang berusaha berkontribusi untuk kebaikan di mana pun ia berada. Tak ada pembeda, karena semua negara harus menuju kemajuan.

“Filosofi saya sederhana, hanya ingin berbagi kemudahan dan kebaikan. Apalagi pajak merupakan kebaikan bersama. Jika seluruh perusahaan di Indonesia sadar pajak, maka pendapatan pemerintah akan meningkat. Saya bermimpi Indonesia akan lebih baik,” harap pria yang menyukai pulau Komodo ini.

“Saya merasa aneh, perusahaan kecil kebutuhan administrasi sangat banyak. Pegawai saya bolak-balik minta tanda tangan.”

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News3 minggu lalu

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News1 bulan lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News6 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News7 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News8 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News10 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News10 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News11 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News1 tahun lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Advertisement Pajak-New01

Trending