Connect with us

Community

Berbagi Ilmu dan Kisah di Balik Lensa

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Dok. FPJ

Komunitas ini menjadi wadah untuk saling apresiasi dan berbagi pengetahuan tentang sinematografi. Melalui film, mereka ingin menyampaikan pesan dengan cara yang beda.

 

Sebuah karikatur sosok julid Bu Tejo—salah satu tokoh utama film pendek Tilik yang belakangan ini sedang viral tampak menghiasi akun Instagram resmi Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Di samping karikatur itu tertera tulisan potongan dialog Bu Tejo dalam bahasa Jawa yang dipelesetkan. Cukup menggelitik dan menarik perhatian pembacanya. “Hiiih… Dian kae bayare gede. Tapi durung nduwe NPWP, ya ampun…. (Hiiih… Dian itu penghasilannya besar, uangnya banyak, tapi belum punya NPWP.”

Melalui pelesetan itu, agaknya DJP ingin memanfaatkan momentum viral film pendek itu untuk menyisipkan pesan sosialisasi pajak. Selain DJP, banyak institusi pemerintah lainnya yang memanfaatkan momentum demam film pendek Bu Tejo yang telah ditonton lebih dari 21 juta penonton YouTube itu. Fenomena itu juga membuktikan bahwa kehadiran film pendek di tanah air saat ini tak bisa dipandang sebelah mata.

Muchammad Rizky, ketua komunitas Film Pendek Jakarta (FPJ) mengakui, jika dikemas dengan apik dan tepat, meski durasinya lebih singkat, film pendek justru efektif untuk menjadi medium menyampaikan pesan.

“Film itu media yang paling mudah untuk menyampaikan pesan dengan cara yang beda. Kita biasalah dengerin orang ngomong. Kadang masuk, kadang enggak. Namun, lewat film, dengan caranya sendiri itu bisa mengubah mindset orang. Menurut saya dampak film itu sangat kuat,” ujar pria asal Cirebon yang akrab dipanggil Chocho itu saat wawancara dengan Majalah Pajak, Selasa sore (1/9/20).

Baca Juga: Komunitas Rehabilitasi Jantung (KRJ) Jakarta Heart Center (JHC)

Kecintaan Rizky pada dunia videografi sudah dimulai sejak remaja. Ia semakin serius menekuni dunia audio visual itu saat kuliah di STIKOM Yogyakarta. Selepas kuliah, tahun 2013 ia hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai editor video di salah satu stasiun televisi nasional, dan beberapa perusahaan lainnya. Di dunia kerja, Rizky merasa rindu berkarya bareng teman-temannya seperti masa-masa kuliah di Yogya. Ia pun mulai mencari teman yang memiliki minat yang sama melalui sosial media.

Awalnya Rizky Adam masuk komunitas fotografi. Dari situ ia ingin mengembangkan ke bidang yang lebih luas, yakni sinematografi. Ia merasa, dunia sinematografi lebih menantang karena ada beberapa unsur seni lain di dalamnya, seperti seni musik, artistik, seni peran, dan lain-lain. Berangkat dari situ, Rizky ingin bisa menggabungkan beberapa orang dengan latar belakang seni yang berbeda itu. Akhirnya, bersama empat kawannya, tahun 2015 lalu ia membentuk komunitas sinematografi.

“Awalnya kami terbentuk dari komunitas sinematografi Jakarta yang ketemu di aplikasi Beetalk. Saat komunitas sinematografi Jakarta mulai enggak jalan, akhirnya kami berempat membuat komunitas Red Dot Cinema—titik merah, istilahnya. Lalu kami ubah menjadi komunitas Film Pendek Jakarta (FPJ). Meski membawa nama Jakarta, Rizky menegaskan, bukan berarti komunitas film pendek yang buat mewakili Jakarta, tetapi karena kebetulan domisili mereka ada di Jakarta dan sekitarnya.

“Siapa tahu di antara siswa-siswi itu bisa menjadi Riri Riza atau Rudi Soedjarwo selanjutnya.”

Barter

Komunitas ini dibentuk dengan niat untuk saling berbagi dan belajar bersama. Artinya, siapa pun yang memiliki minat yang sama boleh menjadi anggota. Mulai dari yang masih pemula hingga expert, dari status pelajar hingga pekerja, dan tua maupun muda.

“Tujuan kami bikin komunitas ini berharapnya apa yang saya dapat, saya bisa sharing sama teman yang ingin belajar, begitu juga sebaliknya. Saya percaya bahwa ada ilmu bermanfaat buat saya dan ilmu saya juga bisa bermanfaat bagi orang lain.”

Melalui komunitas ini, Rizky mengajak anggotanya untuk saling belajar di bidang sinematografi. Misalnya, menjadi sutradara, artistik, scoring musik, penulisan naskah hingga masalah post-production. Sejak dibentuk pada lima tahun lalu, FPJ kini beranggotakan 30 orang yang aktif berkarya dan telah memproduksi beberapa film pendek seperti Dear Diary, 108, Imaji dan Vlogue, Waktu dan beberapa film lainnya dengan beragam genre. Ada yang bertema cinta, persahabatan, hingga tema kampanye lingkungan.

Rizky mengatakan, dalam setahun, FPJ berusaha membuat film minimal dua film. Namun, selain memproduksi film, komunitas ini juga memiliki kegiatan rutin yang bersifat edukasi.

“Sebagai edukasi buat kami, ada namanya Video on The Spot. Itu ketika kami kumpul, sepakat untuk menangkap momen yang ada di lingkungan kita. Kami produksi saat itu juga, selesai produksi, edit, minggu depannya preview. Tujuannya, bagi teman-teman yang belum mengenal produksi, paling tidak tahu basic-nya. Kami sebut Video on The Spot—bukan film, karena film itu minimal harus ada skenarionya.”

Baca Juga: Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

Kegiatan lainnya produksi video klip dan NGOBRAS, akronim dari Ngobrol Asyik Soal Film. Untuk kegiatan itu, FPJ biasanya mendatangkan pemateri dari akademisi—dosen film, pekerja film profesional untuk berbagi ilmu tentang film.

Program terbaru FJP adalah Screening Keliling, yaitu acara nonton bareng film-film pendek dari berbagai komunitas film maker yang kemudian dibedah bareng bersama pembuatnya. Dalam program itu, peserta bebas bertanya dan memberi kritik yang membangun tentang proses kreatif lahirnya film-film yang dibedah itu.

Masih dalam konteks edukasi, FPJ juga beberapa kali terjun ke sekolah-sekolah untuk berbagi ilmu gratis kepada para pelajar tentang film. Dengan cara itu Rizky berharap, para pelajar yang memiliki minat terhadap sinematografi paling tidak sudah memiliki pengetahuan dasar industri kreatif itu.

“Paling tidak melalui workshop itu akan membangkitkan minat mereka yang belum mengenal film—‘Oh pembuatan film seperti ini ya?’. Siapa tahu di antara siswa-siswi itu bisa menjadi Riri Riza atau Rudi Soedjarwo selanjutnya. Kami mencoba untuk memajukan film Indonesia semampu kami.”

Masih ada pungli

Rizky berharap pemerintah pun mendukung sektor kreatif ini. Banyak kejadian di lapangan yang menurutnya bisa menghambat kreativitas para film maker yang ingin membuat karya untuk belajar. Misalnya soal perizinan lokasi syuting. Untuk tempat-tempat publik atau properti publik, seperti halte busway, taman-taman publik seharusnya izin dipermudah. Namun, pada praktiknya untuk mendapatkan izin, birokrasinya sering berbelit dan susah. Bahkan, masih banyak oknum yang melakukan pungutan liar (pungli).

Baca Juga: Bugar-Kuat ala Prajurit Sparta

“Saat di Yogya dulu, saya mudah sekali untuk izin menggunakan tempat untuk membuat film. Di Jakarta ternyata beda—semua ujung-ujungnya serbaduit. Jangan sampai kreativitas mereka yang sedang belajar terhambat oleh birokrasi perizinan yang sulit, apalagi pungli oleh oknum. Kami bukan untuk tujuan komersial kok,” keluh Rizky.

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca

Community

Lestarikan Alam, Minimalkan Sampah

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Founder & Head of Digital Activation ZWID Maurilla Sophianti Imron

ZWID mengajak masyarakat mengubah gaya konsumsi dan investasi—demi anak-cucu dan kelangsungan bumi.

Sampah telah menjadi masalah yang krusial. Bahkan, sampai dikatakan masalah sampah adalah masalah kultural mengingat dampaknya yang meluas, terutama di kota besar. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut timbunan sampah di Indonesia di 2020 mencapai 67,8 ton.

Aktivitas belanja daring yang meningkat pesat semasa pandemi seperti sekarang, berdasarkan survei LIPI pada 20 April–5 Mei 2020, telah melonjakkan sampah berupa selotip, pembungkus plastik, dan bubble wrap. Maka, diperlukan gaya hidup sehat yang meminimalkan sampah, yakni gaya hidup zero waste. Dan, ternyata ada komunitas yang memopulerkan gaya hidup ini, yakni Zero Waste Indonesia atau ZWID.

Founder & Head of Digital Activation ZWID Maurilla Sophianti Imron mengungkapkan, zero waste adalah filosofi yang dijadikan sebagai gaya hidup demi mendorong siklus hidup sumber daya sehingga produk-produk bisa digunakan kembali.

“Hal ini menjadi penting mengingat gaya hidup zero waste dimulai dengan keinginan untuk mengubah kebiasaan konsumsi dan berinvestasi di masyarakat demi masa bumi dan anak cucu kita,” ungkapnya kepada Majalah Pajak, Sabtu (29/05).

Ia menambahkan, berdirinya komunitas ZWID berangkat dari kekhawatirannya akan masalah sampah di Indonesia pada tahun 2018.

“Pemicunya sebuah video divers Inggris di Nusa Penida, Bali, mengenai lautan yang isinya penuh dengan sisa plastik sampah. Semenjak saat itu, saya tidak berhenti belajar dan mempraktikkan gaya hidup minim sampah dalam keseharian,” kata Mauril, panggilan akrab Maurilla.

Nol sampah

Mauril ini menjelaskan, ZWID mengajak masyarakat Indonesia untuk menjalani gaya hidup nol sampah (zero waste lifestyle).

“Cara sederhananya dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengadopsi pola pikir yang lebih bijaksana dalam pengelolaan sampah dengan mengimplementasikan 6R (rethink, refuse, reuse, reduce, rot, recycle),” jelasnya.

Rethink adalah memikirkan ulang sebelum membeli barang; refuse atau menolak pemakaian plastik; reuse atau menggunakan kembali; reduce mengurangi pemakaian plastik; rot mengompos sisa organik; dan recycle atau mendaur ulang.

Selain itu, ZWID juga memiliki misi yang dikenal dengan 3si, yaitu informasi (memberikan kesadaran kepada masyarakat akan isu lingkungan dan bagaimana gaya hidup zero waste bisa menjadi salah satu solusi), edukasi (menyebarluaskan gaya hidup zero waste untuk mengubah pola pikir sehingga termotivasi untuk menerapkannya), dan kolaborasi (bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyinergikan empat elemen dalam upaya perubahan lingkungan Indonesia yang berkelanjutan).

“Empat elemen yang dimaksud adalah masyarakat sebagai individu, komunitas sebagai pelaku gaya hidup zero waste, media sebagai sarana penyebarluasan informasi, pemerintah sebagai pembuat kebijakan atau regulasi, dan pelaku industri sebagai produsen segala jenis bentuk kebutuhan manusia sehari-hari yang dapat berpotensi menjadi sampah,” ujarnya.

Setiap tahun, ZWID mempunyai kegiatan atau kampanye edukasi yang berbeda. Tahun 2018, ZWID mengangkat tema “single use plastic”, 2019 mengadakan gerakan #tukarbaju dan #mulaidarilemari, 2020 mengangkat tema #habiskanmakananmu dan sub kampanye #berkahpiringkosong.

Sementara, di masa pandemi seperti sekarang, ZWID fokus pada online activation melalui tema-tema yang relevan. Misalnya, di tahun 2021 ini, melalui konten-konten yang diunggah di media massa, ZWID menyoroti sampah medis rumah tangga.

Tidak hanya itu, ZWID juga rutin melakukan IG Live Bisnis Minim Sampah yang menjadi wadah bagi para konsumen dan penggiat bisnis dalam hal menerapkan gaya hidup zero waste, dan secara berkala turut berkontribusi menanam blue carbon sebagai bagian dari penanganan carbon footprint.

“Kami juga diberi kesempatan untuk berbagi melalui program Kick Andy, diapresiasi oleh majalah Her World, dan yang ter-update berkesempatan berkolaborasi bersama dengan Sekolah Indonesia Den Haag (SDIH) di Belanda,” katanya.

Proses

Mauril berpendapat kepedulian dan kesadaran masyarakat mengenai cinta lingkungan kian bertambah. Ini terlihat dari berbagai macam cerita mengenai gaya hidup minim sampah yang dibagikan oleh masyarakat, antusiasme mereka dalam mengikuti seminar, workshop, serta penambahan pengikut di media sosial Instagram @zerowaste.id official .

Tentu saja tiap orang menghadapi kendala, mulai dari ketidakbiasaan menerapkan gaya hidup nol sampah, belum adanya dukungan dari lingkungan sekitar, hingga minimnya informasi tentang zero waste.

“Namun, yang perlu digarisbawahi adalah gaya hidup zero waste bukanlah tujuan, melainkan proses. Mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Start small, its progress over perfection,” ungkapnya.

Ia berharap semakin banyak orang yang lebih sadar dan bijak dalam mencapai hidup berkelanjutan demi lingkungan yang lebih baik terutama dalam menanggulangi sampah. Selain itu, ia juga berharap pemerintah meletakkan masalah lingkungan dan sampah sebagai prioritas utama untuk diselesaikan, seraya membuka ruang diskusi, terutama di dalam kurikulum sekolah.

“Di tahun 2050, jika kita tidak mengubah gaya hidup kita, maka akan ada lebih banyak plastik daripada ikan. Gaya hidup zero waste adalah salah satu cara untuk melestarikan lingkungan dan memelankan perubahan iklim,” pungkasnya.

Lanjut baca

Community

Menyangga Peluang UMKM Indonesia

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

ICSB memberikan aneka dukungan agar UMKM Indonesia mampu berkembang di kancah nasional maupun internasional

Banyak pihak mengharapkan usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkontribusi besar terhadap pemulihan dan penguatan ekonomi Indonesia, khususnya di masa pandemi.

Menyambut harapan itu, Sekretaris Jenderal ICSB Diah Yusuf mengungkapkan bahwa lembaganya, yakni Indonesia Council for Small Business adalah organisasi yang berfungsi sebagai Integrator dan Agregator UKM Indonesia, bersama dengan 4 pilar, Pemerintah, Pebisnis, Peneliti dan Pendidik untuk mewujudkan UKM Kompetitif. Berpartner dan berpartisipasi aktif dalam International Council for Small Business.

Awalnya, ICSB Indonesia berafiliasi dengan International Council for Small Business yang berdiri pada tahun 1955 di Washington DC dan hadir di Indonesia pada tahun 2017. Diah sendiri pernah menjadi pengurus ICSB Global sebagai VP Partnership tahun 2018 – 2020.

“Di sini yang menjadi founder adalah Pak Hermawan Kartajaya, juga di-support oleh Pak Puspayoga karena pada saat itu Pak Hermawan adalah staf ahli Kemenkop,” ungkapnya kepada Majalah Pajak pada Jumat (23/04).

Diah menambahkan, mulai tahun 2020 terjadi perubahan keanggotaan pada ICSB global, dari yang tadinya beranggota negara dengan sistem afiliasi menjadi direct ke individual. Sejak itu pula, ICSB berubah menjadi Indonesia Council for Small Business.

“Bagusnya kita akan lebih concern terhadap Indonesia-nya. Jadi, tidak hanya menjadi afiliasi dari internasional tapi kita tetap bermitra dengan mereka,” tambahnya.

Area kerja ICSB meliputi tujuh sektor UKM yaitu kuliner, makanan dan minuman, fesyen dan wastra, kriya dan kerajinan, pertanian dan peternakan, jasa, dan perdagangan. Pada area tersebut, ICSB fokus pada dukungan pengembangan produk, pengemasan, pengembangan merek, pengembangan pasar, penguatan SDM, rantai pasok, dan akses pembiayaan.

Empat pilar

Diah mengatakan, dalam menjalankan peran sebagai dewan yang memberi masukan untuk perkembangan UMKM di Indonesia, ICSB mengusung empat pilar pemberdayaan UMKM di Indonesia.

“Di ICSB ada empat pilar, yaitu researcher (peneliti), kemudian policy maker yaitu government (pemerintah), ada juga educator (pendidik) dari university, dan pelaku bisnis itu sendiri,” katanya.

ICSB kini fokus mengembangkan kurikulum dan program pembinaan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing pelaku UMKM Indonesia, mengembangkan dan memublikasikan penelitian terkait pemberdayaan UMKM, membangun kemitraan empat pilar dalam rangka untuk memajukan UKM di Indonesia, melakukan pendataan dan kerja sama dengan aggregator yang bisa mendukung UKM, dan memfasilitasi proses berbagi informasi dan pengalaman di antara pihak yang berkepentingan dengan pemberdayaan UKM di Indonesia dan dunia.

Sejumlah kegiatan penting telah digelar sejak tahun 2018 hingga sekarang. Misalnya, Wonderful Start-up Academy 2018 dan 2019, GUKMI—Gebyar UKM Indonesia, Galang UKM Indonesia, Webinar Series—ICSB Academy, dan mengampanyekan #MenyerahBukanPilihan di masa pandemi sekarang.

Yang membanggakan, ICSB Global berhasil meyakinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) tentang pentingnya UMKM di seluruh dunia. “Jadi, kita meng-encourage UN untuk lebih concern terhadap UMKM dengan kita menyarankan adanya Hari UMKM Internasional setiap tanggal 27 Juni,” ujarnya.

Indonesia merupakan salah satu dari tujuh negara inisiator Hari UMKM Internasional bersama Amerika Serikat, Australia, Korea, Kuwait, Mesir, dan Argentina. Pada saat itu Indonesia, diwakili oleh Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga selaku Menteri Koperasi dan UKM Indonesia, melakukan Round-Table Meeting di Markas PBB, New York, Amerika Serikat pada 16 Juni 2016.

Kegiatan ICSB tak terhenti oleh pandemi. Program rutin seperti webinar dan workshop bagi UMKM terus dijalankan. ICSB membebaskan organisasinya di tiap daerah untuk menggelar kegiatan sesuai kebutuhan UMKM di masing-masing daerah.

Tantangan UMKM

Menurut Diah, masih banyak UMKM yang salah kaprah menjadikan pasar digital sebagai pemecah masalah ketidaklakuan barang padahal proses bisnis mereka belum siap.

“Sebenarnya omnichannel itu lebih tepat bukan sekadar digital. Kalau omni, kan, dua-duanya. Dan juga digital itu kalau kita bicara di level mikro, masih dipahami sebagai sesuatu yang rumit,” jelasnya.

Tantangan lainnya adalah masih kurangnya pendamping UMKM yang mampu dan bersedia menjelaskan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan oleh para pelaku UMKM. Pendamping yang ada saat ini, menurut Diah, masih kurang baik dari segi kualitas dan kuantitas nya.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dapat berperan, baik melalui perbaikan data maupun melakukan pendampingan bisnis. Pemerintah juga ia harapkan mampu mendorong 10 persen UMKM Indonesia agar menjadi role model bagi total 62 juta UMKM di Indonesia.

Diah menegaskan berdasarkan riset yang dilakukan oleh Global Entrepreneurship Monitor, peluang menjadi pebisnis di Indonesia masih terbuka lebar karena Indonesia berada di urutan teratas dalam kemudahan berbisnis. Riset yang dirilis pada tahun 2020 itu dilakukan di 100 negara.

“Indonesia nomor satu. Nomor dua Belanda, dan ketiga Taiwan,” pungkas Diah.

Di luar itu semua, Diah berharap ada dukungan dari instansi terkait untuk bermitra dalam menyosialisasikan pajak kepada UMKM.

“Kita sadar memang literasi pajak itu sangat dibutuhkan, tapi saat ini kita belum melakukan itu karena kita belum mendapatkan mitra yang tepat untuk sosialisasi pajak untuk UKM,” katanya.

Lanjut baca
/

Populer