Connect with us

Leisure

Berangin-angin di Keantikan Atsiri

Diterbitkan

pada

Menikmati keindahan alam dataran tinggi tak harus mendaki ke puncak gunung. Dari lereng barat Gunung Lawu, Anda bisa berwisata seraya menyelisik sejarah kejayaan atsiri di Indonesia.

Gunung Lawu merupakan satu dari tujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa. Menjulang dengan ketinggian 3.265 di atas permukaan laut, Gunung Lawu secara administratif menduduki tiga kabupaten di dua provinsi yakni Kabupaten Ngawi dan Magetan di Jawa Timur, serta Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Kemegahan dan cakrawala lanskap alamnya nan memesona membuat gunung api ini cukup populer di kalangan pendaki.

Kendati Anda bukan seorang pendaki, keagungan Gunung Lawu tetap bisa dinikmati dari lerengnya. Beberapa destinasi wisata favorit pelancong terletak di Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Kota di lereng barat Gunung Lawu ini berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Solo dan dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam perjalanan.

Rumah Atsiri

Salah satu tempat wisata yang bisa Anda kunjungi di dataran tinggi ini adalah Rumah Atsiri Indonesia. Menempati lahan seluas 5 hektare, Rumah Atsiri menjanjikan pengalaman rekreasi sekaligus edukasi, dilengkapi dengan pemandangan Gunung Lawu yang menakjubkan dan keramahan penduduk Desa Plumbon, Tawangmangu.

Ketika memasuki kompleks Rumah Atsiri, Anda akan terkesima oleh hamparan bunga-bunga marigold dan tanaman atsiri yang tertata rapi di sana sini. Wisata tematik ini juga diwarnai sisi sejarah nan kental. Awalnya, bangunan ini merupakan Pabrik Citronella yang diinisiasi oleh Presiden Sukarno pada tahun 1963.

Pabrik minyak atsiri terbesar di Asia Tenggara ini merupakan simbol kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Bulgaria, sekaligus bukti kejayaan minyak atsiri Indonesia di kancah global. Namun, seiring berjalannya waktu, pabrik ini memasuki fase senja kala hingga mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan sampai akhirnya terbengkalai.

Baru pada tahun 2015, PT Rumah Atsiri Indonesia mengambil alih pendirian dan merevitalisasinya selama tiga tahun; menghidupkannya kembali menjadi kompleks rekreasi, penelitian dan pengembangan, serta pasar minyak esensial. Meski dikemas dengan balutan arsitektur dan desain interior yang modern, objek wisata unggulan Karanganyar ini sanggup mempertahankan keaslian bangunan di beberapa sisinya.

Perbedaannya terletak pada material yang digunakan. Desain bangunan lama kebanyakan menggunakan beton dan besi, sedangkan bangunan baru memanfaatkan bahan baja, kayu, dan kaca. Dengan adanya Rumah Atsiri ini, pengunjung yang merupakan generasi kini dan nanti dapat ikut menikmati kejayaan minyak atsiri masa lampau, mempelajari seluk-beluk atsiri, sekaligus berwisata.

Anda bisa mengetahui sejarah pabrik ini—termasuk penemuan dan cara penyebaran minyak atsiri ke seluruh dunia—di museum Rumah Atsiri. Di sini pulalah Anda bisa melihat beberapa peninggalan pabrik minyak atsiri zaman dulu seperti batu bata, mesin pencacah, dan tabung kimia.

Aromaterapi

Minyak atsiri dapat ditemukan di kulit, buah, bunga, daun, getah, rimpang, akar, biji, bahkan di batang tanaman. Ada sekitar 80 jenis tanaman atsiri berasal dari dalam dan luar negeri yang tersebar di rumah kaca dan taman koleksi Rumah Atsiri. Beberapa yang bisa ditemui antara lain rosemari, kayu putih, serai, dan mawar. Masing-masing tanaman ini memiliki kisah, aroma, dan ciri khasnya sendiri.

Anda dapat mencium atau mencicipi beberapa tanaman dengan bantuan pemandu wisata. Mereka dapat memberitahu Anda bagian tanaman yang ideal untuk dipetik—kulit kayu, daun, atau kelopak bunga. Membaui tanaman atsiri di kawasan ini bisa membuat pikiran dan suasana hati menjadi tenang, seolah Anda tengah menjalani aromaterapi di spa ternama.

Anda juga tak akan merasa kelelahan saat menelusuri kawasan ini karena banyak area duduk untuk sekadar beristirahat. Jika lapar, Rumah Atsiri juga menyediakan restoran buat Anda yang ingin menikmati pilihan makanan dan minuman aromatik sembari memandangi bunga marigold yang bermekaran.

Setelah puas berjalan-jalan, Anda bisa mengunjungi area toko. Selain bisa membeli minyak esensial dan suvenir yang diproduksi Rumah Atsiri, pengunjung juga bisa memborong jajanan kemasan yang dijajakan oleh pelaku UMKM binaan Rumah Atsiri.

 

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Semadi dan Jamu, Bekal Bugar di Tahun Baru

Diterbitkan

pada

Penulis:

Telah hampir dua tahun Anda beraktivitas secara terbatas gara-gara Covid-19. Saatnya buat menyerap kedamaian yang ditawarkan alam.

Kelamaan bekerja dari rumah dan minimnya aktivitas bersama keluarga dapat berujung kepada menurunnya kesehatan jasmani maupun rohani. Maka, di pengujung tahun ini, ada baiknya Anda merencanakan wisata kebugaran—yang mengedepankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Harapannya, Anda dapat menyongsong awal tahun 2022 dengan hati gembira, jasmani bugar, kualitas hidup yang lebih baik.

Tujuan wellness tourism pertama yang kami rekomendasikan adalah Bukit Dagi, Magelang, Jawa Tengah. Bukit di ketinggian 275 meter di atas permukaan laut di kawasan Candi Borobudur ini dikenal sebagai tempat terbaik untuk menikmati candi nan agung itu secara keseluruhan.

Bukan itu saja, Anda juga akan menjadi saksi bagaimana matahari perlahan terbit di ufuk timur menyinari bagian belakang candi Buddha terbesar di dunia itu. Suasana fajar pun sangat asri dan menyejukkan karena banyaknya pohon pinus yang mengelilingi bukit ini.

Konon, dagi berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘kreativitas’ atau ‘inspirasi’, karena kala itu bukit ini sering dipakai oleh filsuf untuk bertemu dan bertukar inspirasi. Ya, Bukit Dagi memang membawa harmoni kedamaian dan keindahan yang memberikan suasana menenangkan.

Meditasi

Selain dikelilingi oleh hamparan hehijauan, Anda juga akan dimanjakan oleh pandangan tanpa batas ke cakrawala dan khazanah alamnya. Di sini, Anda bisa menikmati mentari pagi sembari bersantap pagi yang dikemas secara outdoor layaknya seperti piknik.

Anda tidak perlu waswas karena Bukit Dagi telah memberlakukan protokol kesehatan yang ketat dan telah tersertifikasi CHSE dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dikelilingi rindangnya pohon pinus, Bukit Menoreh, Candi Borobudur dan Gunung Merapi; Anda bisa menyantap berbagai menu sarapan yang ditawarkan dari makanan pembuka hingga penutup yang disajikan oleh pelayan berpakaian tradisional Jawa. Sambil menikmati makanan, Anda akan dihibur dengan cerita sejarah Candi Borobudur, diiringi oleh alunan gamelan.

Salah satu menu andalan di sini adalah Ikan Mekuah yang berupa olahan ikan dori tanpa duri, brokoli, kentang, tomat, saus kemangi dan taburan mi, kentang, serta daun kemangi. Makanan khas lainnya yang menarik wisatawan adalah nasi Putri Manohara yang terdiri dari nasi kismis, olahan daging sapi, dan kurma.

Setelah menyantap buah-buahan sebagai makanan penutupnya, Anda bisa menyesap Wedang Senget. Minuman herbal ini dibuat dari jahe, kunyit, serai yang direbus dan disajikan dengan kapulaga, cengkeh, kayu manis, jeruk nipis, dan daun pandan yang dijamin akan menghangatkan sekaligus menjaga stamina tubuh Anda.

Penggunaan herba dalam pengobatan suatu penyakit atau menjaga imun tubuh sejak zaman dahulu telah diperlihatkan melalui relief pada Candi Borobudur yang menggambarkan masyarakat zaman dahulu meracik dan minum jamu herbal. Apalagi, Jawa Tengah sarat akan ratusan jenis rempah dan bahan herbal yang dipakai penduduk setempat.

Selanjutnya, Anda bisa mengikuti sesi yoga yang dipimpin oleh instruktur berpengalaman. Yoga menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa, agar Anda mencapai samadhi, yaitu terpusatnya pikiran untuk mengontrol panca indra dan tubuh secara keseluruhan.

Yoga juga dilakukan agar Anda memiliki jiwa yang tenang dan damai, menjaga tubuh supaya tetap relaks, sehat, dan bugar. Gerakan meditasi ini juga terdapat pada relief Lalitavistara Candi Borobudur, sehingga menginspirasi pengelola wisata untuk mengembangkan wellness tourism bertema “Body and Soul Trail”. Saat melakukan yoga di Bukit Dagi yang langsung menghadap Candi Borobudur ini Anda juga akan ditemani oleh dongeng yang menyisipkan pesan edukasi sekaligus menciptakan sensasi relaksasi.

Berbagai aktivitas wisata lainnya juga bisa Anda ikuti seperti belajar membuat hiasan dari janur, memukul gamelan, dan bermain dakon atau congklak. Setelahnya, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur dengan mobil golf atau menyewa mobil VW Safari untuk berkeliling desa wisata di sekitar Borobudur. Saat waktu beristirahat tiba, Anda bisa menginap di Dagi Abhinaya Cottage, atau homestay jika ingin berinteraksi dengan penduduk sekitar.

Cicip jamu

Di hari selanjutnya, lanjutkan wellness tourism Anda ke Desa Wisata Kiringan, Bantul, Yogyakarta, terutama untuk mengetahui seluk-beluk jamu tradisional. Meski namanya sudah lama terdengar sebagai dusun yang mayoritas warganya menjual jamu, Kiringan baru menjadi Desa Wisata Jamu Gendong pada 2016 silam. Demi menjamin kualitas jamu, warga Desa Kiringan juga menanam herba yang menjadi bahan baku jamu mereka.

Di Desa Kiringan, Anda dapat melihat dan menjajal langsung proses pembuatan jamu tradisional mulai dari memilih empon-empon, meracik, dan akhirnya meminum jamu ramuan Anda sendiri menggunakan tempurung kelapa. Anda juga bisa berinteraksi langsung dengan embok-embok jamu yang telah puluhan tahun menjual jamu ke kampung-kampung.

Menurut penduduk setempat, jamu kiringan berasal dari resep abdi dalem Keraton Yogyakarta yang dilestarikan secara turun-temurun dan mulai diperjualbelikan sejak tahun 1950-an. Jamu Desa Kiringan kini telah menjangkau seluruh Indonesia dengan pelanggan segala usia.

Anda dapat meneguk jamu ini di angkringan sambil menikmati suasana dan keasrian khas perdesaan. Untuk oleh-oleh, Anda bisa membeli jamu bubuk yang sudah dikemas apik dan tahan lama.

Warung angkringan jamu yang biasanya buka setiap hari Ahad pukul 06.00—09.00 ini, biasanya dikerumuni para pesepeda atau warga yang berolahraga di area ini. Oh ya, kalau Anda pun mau bersepeda mengelilingi desa, tinggal sewa sepeda onthel dari warga setempat.

Lanjut baca

Leisure

Vista Tersembunyi di Jagat Bali

Diterbitkan

pada

Penulis:

Bali memiliki ribuan pesona keindahan alam. Inilah daftar surga tersembunyi yang mungkin belum pernah Anda kunjungi di Pulau Dewata ini.

 

Keindahan dan budayanya yang lestari membuat Bali selalu terkenang di hati siapa pun yang pernah mengunjunginya. Bali menawarkan surga tropis dan keramahan penduduk lokal dengan segala adatnya yang terjaga.

Alam pesisir seperti pantai Kuta, Pandawa, Dreamland atau pun Sanur, merupakan sebagian dari objek wisata Bali yang sangat populer di sana. Saking terkenalnya, tempat-tempat ini kerap dipadati wisatawan sehingga mempersempit ruang privasi berlibur Anda. Untuk itu, berikut ini kami rekomendasikan beberapa keindahan “tersembunyi” yang belum diketahui banyak wisatawan, termasuk Anda.

Air dari langit

Salah satu tempat wisata yang kami rekomendasikan adalah air terjun Tukad Cepung. Keberadaan objek wisata ini mulai dikenal di kalangan warga lokal sekitar empat tahun lalu, tetapi belum banyak dikunjungi wisatawan lantaran tempatnya yang belum dikelola dan belum adanya fasilitas serta infrastruktur jalan yang memadai. Namun, seiring waktu warga dan pemerintah desa setempat mulai membenahi dan mengelolanya dengan baik.

Air terjun ini terletak di Desa Penida Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Dari Bandara Ngurah Rai, lokasinya bisa ditempuh dalam 75 menit, sementara dari Kota Denpasar sekitar 1 jam dengan kendaraan bermotor. Penjelajahan dimulai dengan menuruni ratusan undakan hingga tampak tebing di kanan-kiri dan aliran air yang mau tidak mau membasahi kaki Anda.

Meski sedikit melelahkan; Anda akan dihibur oleh rimbunnya tanaman, jernihnya aliran air parit, serta sapaan ramah dari warga sekitar yang bekerja di kebun atau ladang. Di sepanjang perjalanan setapak juga ada sejumlah kedai yang bisa Anda singgahi untuk beristirahat sembari mencicipi panganan dan minuman berbalut suasana alam tenang dan menyenangkan.

Sebelum mencapai air terjun, Anda akan berjumpa dengan sembilan air mancur Penglukatan. Namun, menurut pemerintah daerah setempat, wisatawan hanya bisa mendekati dua air mancur, karena tujuh pancuran lainnya hanya digunakan untuk keperluan keagamaan dan hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang telah disucikan.

Selain menyusuri sungai dengan aliran air jernih yang berasal dari air terjun, Anda juga akan melewati celah sempit di antara bebatuan, dan tebing-tebing batu tinggi yang ditumbuhi lumut, mengapit pada sisi kiri dan kanan sungai seolah menjadi sebuah gapura alam untuk menyambut wisatawan.

Keunikan lainnya, air terjun ini juga hanya bisa dilihat jika kita berada tepat 10-20 meter di depannya, ini disebabkan karena letaknya yang berada di bawah permukaan tanah sehingga menyerupai gua. Tak heran, Air terjun Tukad Cepung kerap disebut sebagai Air Terjun dari Langit.

Pencahayaan matahari yang masuk dari atas dan menyinari di bagian air terjun, membuat pesona keindahannya semakin memukau dan memberikan pengalaman spiritual bagi banyak orang. Selagi Anda di sini, jangan lupa untuk mengabadikannya melalui kamera.

Padang bunga

Selanjutnya, berkunjunglah ke Desa Temukus, Kecamatan Rendang, Karangasem, untuk menemukan Taman Edelweiss. Destinasi wisata ini dibuat sejak 2018 silam oleh pemerintah daerah untuk dikelola oleh masyarakat setempat dan diharapkan dapat memutar roda perekonomian pascaletusan Gunung Agung.

Uniknya, di taman ini Anda tidak akan menemukan bunga edelweiss pada umumnya, tetapi bunga kasna yang menawan dan mampu memberikan kesan seperti berada di area yang tertutupi salju. Semula, bunga ini tumbuh liar di sela bebatuan puncak Gunung Agung, dan kemudian dibudidayakan oleh warga sekitar di lahan rumah mereka. Selain untuk wisata, bunga kasna juga dijual untuk pelengkap beribadah umat Hindu dan sebagai bahan parfum.

Bunga kasna dapat tumbuh subur di Desa Temukus karena dipengaruhi oleh iklim dan suhu yang dingin. Berada di padang bunga kasna merupakan pengalaman nan menyenangkan, karena Anda dapat merasakan keindahan beserta aroma wangi yang khas dari bunga kasna. Udaranya yang sejuk serta pemandangan alam yang eksotis juga menjadikan tempat ini semakin menakjubkan.

Pengunjung yang datang pun bisa berwisata dengan nyaman karena tempat ini mengedepankan protokol kesehatan dan telah memiliki sertifikat Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif. Selain hamparan bunga Kasna, Anda bisa mendapati bunga gemitir atau marigold. Bunga Gemitir juga salah satu komponen penting di canang sari (sesaji harian). Taman yang dipenuhi dengan bunga berwarna oranye ini akan langsung menyegarkan mata Anda apalagi saat sedang mekar paripurna.

Untuk itu, Anda disarankan datang sekitar bulan Juni hingga Agustus, agar bisa mendapatkan pemandangan padang bunga dan gunung dalam satu bingkai foto yang memesona. Saat berburu foto atau swafoto, Anda dianjurkan berhati-hati agar tidak merusak tanaman bunga di sana. Nah, tak ada salahnya, ‘kan menjelajahi tempat-tempat yang terbilang baru ini untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda?

Yuk, liburan ke Bali!

Lanjut baca

Leisure

Ternate, Magnet Perahu Berlatar Gunung

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pulau-pulau kecil yang terbentuk dari aktivitas vulkanik memberi Ternate objek tamasya yang terbentang dari gunung hingga pantai.

Anda mungkin pernah mengamati gambar bagian belakang pecahan uang kertas Rp 1.000 tahun emisi 2000, yang menggambarkan keindahan Pulau Maitara berdampingan dengan Pulau Tidore. Nah, jika ingin melihat kedua ikon pariwisata di Provinsi Maluku Utara ini dari sudut pandang yang sama persis, Anda bisa mengunjungi Desa Ngade, Fitu, Ternate Selatan. Menuju ke lokasi ini, Anda akan menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bandara Babullah, Ternate baik menggunakan motor maupun mobil.

Rumah-rumah sederhana di desa ini memiliki pemandangan lanskap laut berlatar Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Saat cuaca cerah, kedua pulau itu terlihat memiliki komposisi yang sempurna—persis seperti lukisan di uang seribu rupiah lengkap dengan perahu nelayannya. Namun, saat mendung dan cuaca berkabut, pemandangan salah satu pulau dapat tertutup.

Jangan lupa untuk berjalan ke lereng desa, menuju anjungan foto berlatar pegunungan, melengkapi objek wisata Maluku Utara yang terentang dari pantai hingga gunung.

Puas berfoto dari lereng puncak Fitu, Anda bisa sejenak menikmati teduh dan tenangnya Danau Ngade. Menariknya, danau yang juga disebut Danau Laguna ini terletak di tengah Desa Fitu yang konturnya berbukit-bukit, sehingga pemandangan yang Anda dapati dari sisi danau seolah dikelilingi oleh perbukitan nan menjulang.

Perairan laguna besar ini tampak kontras dengan lautan biru di dekatnya, yang hanya dipisahkan oleh jalan raya. Meski bertetangga dekat dengan laut, air Danau Ngade tetap tawar. Karena itulah, warga setempat juga memanfaatkan objek wisata ini untuk budidaya ikan air tawar seperti nila dan gurame. Bahkan, digunakan juga untuk mengairi perkebunan penduduk sekitar danau.

Tak sekadar mengagumi keindahannya dari pinggir danau, Anda juga bisa menikmatinya dengan berkeliling danau menggunakan kapal wisata. Selain itu, Anda juga bisa memancing di sini, dengan ikan yang banyak dan besar-besar. Tapi kalau keburu lapar, Anda bisa langsung menuju restoran apung di tepian laguna. Olahan ikan air tawar dengan bumbu dan sambal dabu-dabu khas Ternate dapat Anda santap sembari menikmati panorama danau tenang yang dikelilingi bukit hijau.

Laguna tersembunyi

Dari sini, Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata menuju Pantai Sulamadaha, salah satu aset wisata penting Pulau Ternate, sekitar 22 kilometer dari Fitu, atau sekitar 46 menit dengan kendaraan bermotor. Panorama pantai ini telah dikenal oleh wisatawan lokal dan mancanegara.

Pantai Sulamadaha didominasi oleh pasir hitam dan batuan karang di sekitarnya yang tertata apik. Pasir hitam ini berasal dari materi vulkanik letusan Gunung Gamalama. Namun, untuk menguak rahasia keindahan Pantai Sulamadaha, Anda mesti menyusuri jalan setapak di atas tebing yang mengelilingi pantai selama sekitar sepuluh menit. Sembari menyusuri, Anda akan dipukau oleh pemandangan lautan lepas, dan Pulau Hiri yang tampak berdiri gagah laksana gunung di atas laut.

Sisi lain Pantai Sulamadaha akan menampakkan sebuah laguna tersembunyi yang luar biasa indahnya. Teluk Sulamadaha memiliki pantai berpasir putih, serta air yang sangat jernih sampai-sampai batuan karang berwarna dapat jelas terlihat dari atas permukaan air. Udara Ternate yang cukup kering dan terik pun sama sekali tidak terasa ketika Anda berada di teluk ini. Tempat ini benar-benar seperti oasis di pinggiran Ternate.

Namun, surga tersembunyi ini akan terasa lebih maksimal dinikmati bila Anda menjajal beragam aktivitas yang ditawarkan, mulai dari berenang, naik perahu atau banana boat, hingga snorkeling. Fasilitas di teluk ini, seperti warung makanan, penyewaan alat snorkeling, dan kamar bilas, juga terbilang lengkap dan dikelola rapi oleh warga setempat.

Nah, Ternate cantik, bukan? Jangan lupa untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat selama Anda berwisata, ya.

Lanjut baca

Populer