Connect with us

Community

Bedah Kampung Bama Hilir

W Hanjarwadi

Published

on

Jika seluruh elemen masyarakat berkolaborasi dan saling peduli, niscaya kesenjangan sosial bisa diatasi.

“Banyak warga yang protes, ‘Kenapa rumah saya tidak difoto-foto seperti rumah yang lain?’” Santana bertutur. Ketua Rukun Tangga (RT) 01, Kampung Bama Hilir, Desa Margagiri itu mengisahkan keresahan warganya. Menurut Santana, beberapa warga kecewa karena rumah mereka tidak diambil gambarnya oleh peserta capacity building Pusdiklat Pajak. Memang, di sela-sela kegiatan yang dilakukan bersama komunitas pemuda Banten yang tergabung dalam Agro Desa Sinergi (ADS) pada 24–26 November 2018 lalu itu sebagian peserta outbound iseng-iseng berfoto bersama pemilik ‘homestay’ yang mereka tinggali.

“Setiap ada tamu jauh datang ke kampung ini dan mengambil gambar kondisi rumah warga tak mampu, mereka berpikir gambar itu untuk mengajukan bantuan ke pemerintah,” lanjut Santana.

Stereotip warga itu terbentuk bukan tanpa sebab. Sudah lama sebagian besar warga Bama Hilir hidup dalam kondisi kesenjangan sosial yang begitu kontras. Yang kaya teramat kaya, sementara yang miskin kelewat miskin. Dua pemandangan berlawanan itu bersanding dalam satu frame bernama Bama Hilir. Menurut Santana, selama ini banyak orang dari luar Bama Hilir datang dan memotret kondisi kampung mereka sembari berjanji akan mengupayakan bantuan ekonomi atau renovasi rumah kepada pemerintah. Apalagi saat-saat musim pilkada tiba.

Kampung kecil berpenduduk sekitar 100 kepala keluarga di pesisir tepi Pandeglang itu adalah target empuk kampanye perbaikan kesejahteraan bagi para calon legislatif dan kepala daerah. Sebab, masih banyak warga yang kondisi ekonominya sangat memprihatinkan. Misalnya, sebagian rumah warga masih terbuat dari bambu beratap daun kelapa dengan lantai tanah yang lembap. Tak heran jika di sepanjang tepi jalan desa yang becek karena belum beraspal itu terpampang baliho-baliho besar calon legislatif, lengkap dengan sederet tulisan slogan kemakmuran yang mereka janjikan.

“Saya juga dijanjikan bantuan sejak tahun lalu. Tapi belum turun-turun juga. Enggak tahu kapan turunnya,” kata Santana gamang kepada Majalah Pajak Minggu, (24/11/2018).

Santana tersenyum getir. Menyeruput secangkir kopi yang sejak semula ia biarkan dingin di sampingnya. Pandangannya tertuju pada rumah bambu reyot yang tak lain adalah kediamannya. Pagi itu kami duduk berbincang di sebuah gardu ronda di seberang jalan, persis di hadapan rumah Santana. “Rumah itu masih berdiri karena belas kasih tetangga saya. Saya tidak punya tanah. Rumah itu menumpang di tanah orang,” Santana melanjutkan ceritanya sembari tak henti menatap gubuk mungil, harta paling berharga miliknya itu.

Rumah Santana sebenarnya nyaris tak layak huni. Sekeliling dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu itu terlihat tua dan rapuh. Jendela depan rumah itu kira-kira setinggi 80 centimeter, terbuat dari lajur bilah bambu selebar lima sentimeter yang disusun horizontal. Jarak antara masing-masing bilah sekitar lima sentimeter juga. Dengan kerapatan seperti itu, sudah pasti angin dan debu leluasa masuk. Untungnya ada selembar spanduk lusuh gambar caleg partai yang bisa difungsikan sebagai gorden.

Santana bekerja sebagai buruh serabutan di tempat salah seorang tuan tanah tersohor di kampung itu. Istri lelaki 31 tahun itu menjadi buruh di perusahaan pengolah sarang walet tak jauh dari kampungnya. Setiap pagi sang istri berangkat dengan sepeda motor bodong—motor tanpa STNK dan surat kepemilikan—yang ia beli dengan uang pinjaman dari lembaga keuangan nonformal yang tentu saja luput dari pengawasan Otoritas Jasa Keuangan.

“Setiap ada tamu jauh datang ke kampung ini dan mengambil gambar kondisi rumah warga tak mampu, mereka berpikir gambar itu untuk mengajukan bantuan ke pemerintah.”

Pemberdayaan

Santana hanyalah satu contoh dari kondisi riil masyarakat miskin di Bama Hilir. Hari itu ia bersyukur. Meski mengaku belum memahami sepenuhnya konsep pemberdayaan desa yang dibawa ADS bersama Pusdiklat Pajak, ia mengaku kehadiran dua institusi itu untuk membantu kampungnya sangat berarti bagi warganya.

“Saya lihat warga sangat senang dengan kegiatan ini. Mereka diberi bantuan peralatan rumah tangga, diajari jualan yang baik, bersih-bersih desa dan dikenalkan potensi yang ada di desa ini yang sebelumnya tidak kami sadari,” kata pria berkulit gelap itu.

ADS adalah komunitas yang berkonsentrasi pada kegiatan community development bagi masyarakat desa di wilayah Banten. Komunitas ini dimotori oleh Nur Agis Aulia pemuda berprestasi yang sudah bertahun-tahun pengalaman bergelut dengan program pemberdayaan masyarakat itu. Personil ADS sendiri dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari mahasiswa, pengusaha, dan seniman. Meski memiliki latar belakang berbeda, mereka memiliki visi yang sama, yakni, pemberdayaan masyarakat untuk mencapai kondisi sosial, ekonomi, budaya yang lebih baik daripada sebelumnya.

“Jadi, kami kolaborasi dengan para komunitas lainnya. Ada komunitas Banten Bangun Desa, yang saya sudah lama dirikan itu. Ada kerja sama kami dengan komunitas Drone Banten, komunitas Design Art,” jelas Agis.

Agis mengatakan, melalui pemberdayaan ini ia ingin masyarakat Bama Hilir menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik. Menurut Agis, kegiatan ini merupakan upaya pemberdayaan (empowerment) kolaboratif yang berbasis masyarakat (community based), berbasis sumber daya setempat (local resource based) dan harus dilakukan secara berkelanjutan (sustainable). Untuk mencapai itu, ada tiga langkah yang harus dilakukan oleh ADS. Pertama, membangunkan kesadaran masyarakat, kedua pembinaan, dan ketiga pendampingan.

Dalam membangun kesadaran, masyarakat diperkenalkan potensi-potensi ekonomi yang wilayahnya, kemudian diajari cara memaksimalkan potensi itu. Di Bama Hilir, misalnya, masyarakat memiliki potensi ekowisata, produk olahan dan kerajinan tangan. Agis menekankan, cara terbaik membantu masyarakat miskin adalah memberdayakan mereka, bukan dengan uluran bantuan langsung yang justru akan membunuh potensi dan kreativitas masyarakat.

“Jangan memberikan bantuan berupa uang atau barang yang hanya akan membuat mereka jadi bergantung,” ujar Agis.

Setelah masyarakat sadar akan potensi yang ada, menurut Agis, langkah selanjutnya adalah pembinaan. Kebetulan, sebagian masyarakat Bama Hilir adalah perajin sapu lidi dan pembuat emping melinjo. Karena itu, mereka diberikan pembekalan cara mengolah produk yang baik, pengemasan hingga cara pemasaran yang efektif. Di sektor ekowisata, warga dibantu membenahi desa mereka agar menarik wisatawan.

“Kami akan kerja sama bareng-bareng membedah kampung Bama Hilir. Kami akan membangun berbagai fasilitas yang belum ada. Dimulai dari toilet (MCK) dulu, kamar sementara untuk wisatawan, agro wisatanya kita akan bisa kembangkan di sana,” ujar penerima predikat cum laude dari Universitas Gadjah Mada itu.

Setelah masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada, langkah selanjutnya adalah mendampingi masyarakat agar program itu bisa berjalan secara berkelanjutan.

Agis mengapresiasi inisiatif Pusdiklat Pajak yang telah membuat acara yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Ia berharap, institusi pemerintah, BUMN atau organisasi lainnya bisa mengikuti jejak Pusdiklat Pajak. Sebab, hanya dengan pembangunan partisipatif seperti itu masalah-masalah krusial di pelosok yang tidak terjangkau APBN bisa diatasi.

“Acara itu menurut saya terobosan baru. Family gathering biasanya dilakukan di tempat wisata yang fasilitasnya lengkap. Namun, ini malah dilakukan di pelosok desa. Di sana akses toilet pun jarang dimiliki warga sekitar. Ini artinya para peserta berbaur dengan masyarakat di lokasi, belajar bersama,” kata Agis.

Ia berharap, instansi pemerintah pusat, daerah, universitas, dan kegiatan seperti pramuka punya ruang untuk melanjutkan program sejenis di satu kampung. “Minimal setiap bulan untuk setahun, sehingga terjadi perubahan pola pikir di masyarakat kampung. Paling tidak, kampung Bama Hilir ini kita jadikan pilot project bersama, ‘Kita Indonesia, Kita Pancasila’ dalam bentuk aktivitas nyata,” imbuh Agis.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Community

Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

W Hanjarwadi

Published

on

Foto: Majalah Pajak
Foto: Majalah Pajak

 

Dengan menanamkan budaya literasi, komunitas ini ingin menambah wawasan dan menginspirasi anak-anak putus sekolah agar bangkit dan terus meningkatkan kualitas hidup mereka.

Pemandangan di Kompleks Cagar Budaya Kampung Rumah Kapitan, Seberang Ulu, Palembang, Sumatera Selatan sore itu sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Lampion-lampion merah sisa perayaan Cap Go Meh beberapa hari sebelumnya masih terlihat tergantung menghiasi beberapa sudut bangunan tua yang kental dengan nuansa arsitektur Tionghoa dan Belanda itu. Di salah satu selasar bangunan tua itu, Dina Juliana Anwari dan beberapa rekannya tampak asyik bercengkerama dengan puluhan anak yang rata-rata baru memasuki usia PAUD dan sekolah dasar. Rupanya hari itu Dina dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Komunitas Berani Bergerak itu tengah melakukan kegiatan interaktif belajar-mengajar yang sudah sejak tahun lalu rutin mereka lakukan.

Komunitas yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat ini didirikan Dina dan beberapa orang relawan lainnya sejak awal 2018 lalu. Menurut Dina yang juga ketua komunitas itu, mereka ingin memberikan edukasi bagi anak-anak yang kurang beruntung dari sisi ekonomi atau mereka yang putus sekolah karena kehilangan motivasi belajar. Hingga saat ini, komunitas ini membina sekitar 30 orang anak usia PAUD dan sekitar 30 orang anak usia remaja setempat yang masih sekolah tapi kondisi ekonomi orangtuanya kurang mampu atau mereka yang sudah putus sekolah.

Dari kegelisahan

Kampung Kapitan memang salah satu cagar budaya di Kota Palembang yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, sebuah pemukiman padat di tepi Sungai Musi yang berseberangan langsung dengan Benteng Kuto Besak, Palembang. Sayang, keberadaannya kini bak terpinggirkan. Padahal, di kawasan ini terdapat beberapa bangunan berumur 400 tahun yang kaya nilai sejarah. Kampung ini adalah saksi bisu masuknya bangsa Tiongkok Dinasti Ming ke Nusantara setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya di masa lalu. Memang, pemerintah daerah setempat telah mencatatkan kawasan ini sebagai cagar budaya yang dilindungi. Namun, pengelolaannya masih terkesan masih setengah hati.

Di sisi lain, kepedulian masyarakat sekitar dan rasa memiliki cagar budaya ini pun masih minim. Maklum, kawasan ini rata-rata dihuni oleh golongan ekonomi menengah ke bawah—buruh serabutan, kuli bangunan, kuli panggul, nelayan, bahkan tak sedikit yang tidak memiliki pekerjaan. Jangankan untuk memikirkan cagar budaya, untuk hidup sehari-hari pun mereka susah. Kondisi kawasan itu diperparah dengan minimnya sanitasi. Angka kriminalitas di daerah ini pun terbilang tinggi.

Pelbagai persoalan masyarakat itu mengusik nurani Dina yang bekerja di salah satu bank swasta ternama ini. Setelah meminta izin dari pewaris Rumah Kapitan Mulyadi Tjoa, Dina akhirnya, dengan menggandeng beberapa teman sejawatnya membentuk Komunitas Berani Bergerak. Para relawan ini—disebut Inspirer Berani Bergerak—membentuk rumah belajar dan secara berkala dan bergiliran memberikan edukasi literasi kepada anak-anak di kawasan itu

Rumah belajar dan ruang baca

Bentuk pembelajaran yang dilakukan pun bermacam-macam. Mulai dari meningkatkan kemampuan baca-tulis, mengajarkan bahasa Inggris dan kegiatan kreatif untuk membangun motivasi dengan cara mendatangkan tokoh inspiratif. Terkadang mereka juga mengundang komunitas lain yang ada di Kota Palembang dan Sumatera Selatan.

“Kami ingin anak-anak wilayah itu menjadi generasi penerus bangsa yang berilmu, memiliki banyak prestasi dan dapat menjadi pelopor perubahan dan kemajuan untuk daerahnya. Saat ini lebih concern menangani usia PAUD, TK, SD karena yang usia SMP sudah tidak mau. Kami sudah tawarkan program kejar paket. Tapi rata-rata mereka demotivasi, enggak mau lagi sekolah. Kami terus mencari cara untuk menumbuhkan kesadaran mereka,” ujar perempuan yang lahir di Palembang 12 Juli ini pada Minggu pagi (24/2).

Selain edukasi interaktif, Komunitas Berani Bergerak juga menginisiasi pembentukan perpustakaan. Dina percaya, bukan rendahnya minat baca yang membuat minimnya tingkat literasi dan kesadaran masyarakat akan aspek-aspek penting penunjang kehidupan mereka, melainkan minimnya akses mereka terhadap bahan bacaan.

Buku untuk perpustakaan itu didapat dari donasi masyarakat. Setelah terbentuk, akhir Mei 2018 lalu, KBB meminta pemda setempat untuk meresmikan perpustakaan dan rumah belajar mereka.

Sadar wisata

Selain memberikan tambahan kemampuan akademis, Komunitas Berani Bergerak juga gencar melakukan edukasi sadar wisata. Cagar Budaya Kampung Kapitan selama ini belum menjadi ikon wisata yang menarik minat wisata dari luar. Menurut Dina, hal itu karena pengelolaannya daerah sekelilingnya belum maksimal. Lingkungan sekitarnya belum tertata rapi bahkan terkesan kumuh. Perlu perhatian serius dari masyarakat dan pembinaan oleh pemangku kepentingan agar tempat itu bisa lebih menarik wisatawan.

Untuk memperbaiki kondisi itu, komunitas mencoba menanamkan budaya disiplin dan hidup bersih kepada anak-anak. Perlahan mereka tanamkan rasa tanggung terhadap lingkungan, mulai dengan hal kecil, seperti mengajari anak-anak membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan. Anak-anak dilatih membuat suvenir untuk wisatawan. Mereka juga diajari memproduksi dan memasarkan oleh-oleh, seperti Kerupuk Kemplang khas Palembang.

Komunitas terus membangun komunikasi dengan perangkat desa, orangtua peserta didik dan warga setempat, termasuk para pemuda setempat yang menganggur. Hampir sebulan sekali mereka menggelar pertemuan untuk mendakwahkah sadar wisata.

“Kami mengunjungi rumah warga, menjelaskan niat baik membangun kampung ini secara gamblang. Mulai dari sikap ramah, kebersihan, tidak menjemur pakaian dalam di pagar rumah. Setidaknya mereka sadar wisata dulu, daerah tidak kumuh, kotor dan bau, tidak buang sampah sembarangan, apalagi ke tepi sungai mereka bisa jual suvenir dan oleh-oleh,” jelas Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Lampung ini.

Daripada “nongkrong”

Sebagai karyawan bank yang memiliki jam kerja ketat tentu tak mudah membagi waktu bagi Dina. Demikian juga dengan relawan lainnya yang rata-rata juga pekerja profesional. Namun, bagi mereka hal itu adalah tantangan menyenangkan untuk bisa memberikan sekecil apa pun sumbangsih bagi sesama.

“Kita, anak muda sering nongkrong di restoran, 100 ribu rupiah cuma bisa beli kopi dan kue. Tapi, kalau dibelikan buku tulis, 100 ribu rupiah dapat membantu dua anak sekolah. Kita, pemuda, pilih mana?” ucap Dina.

Dina mengaku sangat salut pada rekan-rekannya yang antusias menjalankan misi sosial itu. Tak jarang mereka harus patungan untuk menyediakan perlengkapan rumah belajar dan perpustakaan. Belum lagi, soal jarak tempuh ke lokasi. Dina tinggal di bilangan PHDM di hilir Sungai Musi sehingga harus menyeberang sungai. Relawan lain ada yang selalu naik ojek on-line dengan ongkos pulang pergi tak kurang dari Rp 100 ribu.

“Kalau Jembatan Ampera sedang ditutup, ya, naik kapal, menyeberang. Saya salut dan apresiasi pengorbanan teman-teman relawan meluangkan waktu dan tenaga mereka datang ke rumah belajar. Apalagi kami buka kelas justru di hari libur, harinya istirahat.”

Kini komunitas beberapa kali menerima tawaran kerja sama program CSR dari beberapa perusahaan, khususnya untuk peningkatan literasi. Namun hingga saat ini, masih dalam tahap penyusunan kegiatan. Dina berharap akan lebih banyak lagi pihak, terutama masyarakat dan pemangku kepentingan di Palembang, yang mendukung upaya ini.

“Kami terbuka terhadap semua bentuk bantuan untuk memberdayakan masyarakat ini, asalkan tidak ada kepentingan politis yang memengaruhi idealisme visi-misi kami,” pungkasnya.

Continue Reading

Community

Menenun Masa Depan Perempuan Toraja

Aprilia Hariani K

Published

on

Perempuan muda Toraja kini tak lagi harus menjadi pekerja rumah tangga di negeri orang. Torajamelo menggembleng mereka menjadi Srikandi kreatif, menciptakan fesyen tenun bernilai tinggi.

Puluhan baju berhias motif garis-garis khas tenun Toraja terpajang apik di ruangan galeri ruang utama Museum Tekstil, Jakarta Barat. Berbagai macam produk yang dipamerkan pada awal Agustus 2018 lalu itu nyaris memenuhi tiap sisi dinding. Di sudut kanan ruang, juga terpampang sepatu bot cokelat dengan balutan tenun serupa di sisi belakangnya. Ada pula tas jinjing kulit beragam warna yang disandingkan dengan tenun Toraja bermotif garis zig-zag. Menoleh ke sisi kiri, seorang perempuan tengah sibuk menumpuk rapi lipatan kain hasil tenunan. Sebagian ia sampirkan berjajar agar mempermudah pengunjung melihat corak dan motif kain.

“Silakan, ini hasil tangan kurang lebih seribu penenun di tanah Toraja yang tergabung dalam Torajamelo,” sambut Dinny Jusuf, inisiator berdirinya Torajamelo.

Torajamelo adalah sebuah komunitas yang peduli dengan seni dan budaya khususnya pada bidang kerajinan tenun. Komunitas yang didirikan pada tahun 2008 di Toraja ini bertujuan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan Indonesia.

Mama Dinny—demikian mantan Sekretaris Jenderal di Komnas Perlindungan Perempuan itu biasa disapa—menuturkan, seribu penenun yang karyanya dipamerkan adalah ibu rumah tangga yang berasal dari berbagai daerah, khususnya, Sulawesi Selatan. Namun, yang kali pertama menggerakkan komunitas ini adalah penenun di kampung halamannya, yakni Kecamatan Sa’dan Toraja Utara.

Penenun yang tergabung dalam komunitas Torajamelo mampu menyelesaikan 100 lembar kain Toraja dalam sebulan. Rata-rata satu orang anggota dapat menghasilkan dua hingga tiga kain Toraja per bulan. Satu lembar kain berukuran 55 x 350 sentimeter dihargai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Mama Dinny selama ini berperan sebagai manajer para penenun di daerahnya. Ia mengatur lalu lintas produksi dan distribusi. Kain Toraja yang sudah dibeli perajin dibawa ke kelompok penjahit baju, tas, ataupun sepatu binaan Torajamelo. Bilamana produk telah memenuhi kelayakan, Mama Dinny akan mengatur distribusi.

Karya Torajamelo telah mampu menembus pasar luar negeri. Permintaan produk pun terus meningkat dari Jepang, Australia, dan Amerika Serikat. Saat ini komunitas ini rata-rata setiap bulannya mampu menjual sekitar 200–500 potong produk dari masing-masing varian yang ada, seperti baju, sepatu, maupun tas. Semua produk itu laris manis terjual, baik secara on-line (Instagram) maupun off-line melalui Butik Torajamelo di Kemang Timur Nomor 62, Jakarta. Harga baju berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta, sepatu dibanderol Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, sedangkan harga tas sekitar Rp 1,5 juta sampai dengan Rp 2 juta.

 “Kami ingin mereka bisa terus menenun dengan rasa bangga.”

Tradisi lelulur

Mama Dinny yakin, keauntentikan karya Torajamelo masih menjadi nilai jual tersendiri. Sebab para perajin masih menggunakan alat tenun dengan back-strap sehingga proses pembuatannya memakan waktu sedikit lebih lama dan ukuran kain yang dihasilkan pun tidak sebesar tenun yang diproduksi alat tenun bukan mesin (ATBM).

“Torajamelo berarti Toraja bagus. Mereka masih menjaga tradisi leluhur,” ucap Mama Dinny.

Selain memberi harga yang layak untuk setiap kain, Torajamelo juga membangun kemitraan dengan Yayasan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Keduanya bersinergi untuk membangun koperasi usaha. Selain meminjamkan modal, koperasi juga sebagai corong bantuan pembiayaan program beasiswa untuk anak-anak dan cucu para penenun yang tidak mampu, tetapi berprestasi. Sementara ini beasiswa berlaku untuk jenjang SMA maupun perguruan tinggi.

“Kami ingin mereka bisa terus menenun dengan rasa bangga bahwa penenun itu sama profesinya seperti dokter atau insinyur,” harap Mama Dinny.

Agaknya memang tak berlebihan harapan mantan bankir salah satu bank asing ternama ini. Sebab, sebelum Torajamelo berdiri, kampung sang suami Mama Dinny di Kecamatan Sa’dan itu terbilang sepi pemuda, khususnya, kaum perempuan muda. Ternyata, pemuda banyak yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia dan Cina sehingga banyak kasus hamil di luar nikah dengan majikannya.

“Saya kaget banyak nenek mengasuh cucunya yang berkulit putih dan sipit. Ternyata, anak perempuan mereka hamil oleh majikan,” kenang Mama Dinny.

Suatu saat, Mama Dinny melihat ada beberapa penduduk yang masih menenun di depan teras rumahnya. Harga kain Toraja kala itu Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Mama Dinny pun memborongnya. Kira-kira 100 kain dibeli dan dijual kembali ke Jakarta. Sederhana saja harapannya, supaya para gadis desanya lebih tertarik mencipta kain tenun Toraja ketimbang pergi menjadi TKW.

Wadah penenun

Mengetahui respons pasar yang tinggi, Mama Dinny kemudian mendirikan Torajamelo yang bertujuan memberi harga yang layak untuk kain Toraja. Bahkan seiring berjalannya waktu kain Toraja dapat menjadi produk fesyen bernilai tinggi karena dipadupadankan dengan baju, tas, dan sepatu. Saat ini banyak gadis yang belajar menenun kain Toraja. Mereka juga bisa memilih menjadi admin website Torajamelo.com, penjaga pameran, atau sebagai penjaga butik Torajamelo di Kemang.

Torajamelo kini sudah akrab di telinga pasar tenun nasional. Komunitas ini hampir tak pernah absen mengikuti pameran kain. Bahkan, Torajamelo telah melebarkan sayap dengan merangkul penenun dari daerah lainnya, seperti Mamasa, Adonara, Lembata, juga wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Torajamelo berharap menjadi wadah para penenun Indonesia untuk tetap bangga terhadap apa yang ia kerjakan. Menjadi pilihan untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik,” harap Mama Dinny.

Continue Reading

Community

Duyung-Duyung Pelindung Laut

W Hanjarwadi

Published

on

Karena cinta mereka kepada laut, ‘duyung-duyung’ ini bahu membahu mengampanyekan gerakan menjaga keseimbangan ekosistem laut. Salah satu kegiatan rutin mereka menjaga kebersihan laut.

Akhirnya sampai juga kami di Pulau Kotok Besar, Kepulauan Seribu setelah hampir dua jam kapal motor yang kami tumpangi dari Pulau Pramuka terombang-ambing di atas gelombang lautan. Sengatan panas matahari siang itu nyaris tak kami hiraukan. Angin sepoi bulan Juli dan sejuknya air laut seakan mampu menyerap terik yang membakar kulit kami. Air pantai begitu jernih memantulkan bayangan buih. Ikan-ikan warna-warni menyelinap di antara gugusan terumbu karang dan koloni bulu babi. Sayang sekali, banyak serpihan sampah plastik dan styrofoam bekas kemasan di dalam air hingga sepanjang garis pantai yang mengusik pemandangan kami. Beberapa botol bekas air mineral tampak mengapung didorong ombak ke tepian.

Di ujung dermaga, Femke Den Haas bersama seekor anjing kesayangannya telah menunggu kami. Sudah hampir sepuluh tahun lalu bule asal Belanda itu mengabdikan diri di Indonesia sebagai aktivis lingkungan dan penyelamat satwa di bawah naungan Jakarta Animal Aid Networks (JAAN). Salah satu aktivitas rutin Femke di pulau itu adalah merehabilitasi elang bondol (Haliastur indus) yang selama ini menjadi maskot Jakarta.

Rombongan kami hari itu lebih dari 30 orang. Kami beruntung karena bisa dengan mudah masuk kawasan pusat konservasi elang bondol yang steril itu. Diantar oleh Muhammad Saitibi, petugas Taman Nasional Kepulauan Seribu, tujuan kami kali itu memang bukan sekadar jalan-jalan, melainkan untuk program Ocean Cleanup, membersihkan sampah-sampah yang tercecer di lingkungan laut dan pantai di sekitar Pulau Kotok. Meski telat hampir satu bulan, kegiatan ini juga sekaligus untuk mendukung eksistensi World Oceans Day yang jatuh pada setiap 8 Juni.

“Selamat datang di Pulau Kotok,” sapa Femke dengan senyum ramahnya. Tak mau buang-buang waktu, perempuan yang fasih berbahasa Indonesia itu segera memberikan penjelasan singkat tentang lokasi-lokasi di laut dan pantai yang banyak sampahnya.

Komunitas lintasprofesi

Ide Ocean Cleanup kali itu digagas oleh Indonesia Mermaid Pod (IMP), sebuah komunitas yang selalu mengampanyekan gerakan menjaga ekosistem laut. IMP didirikan pada 5 Oktober 2016 oleh lima penyelam bebas (freediver) asal Indonesia yang memiliki passion terhadap seni fotografi bawah air. Terbentuknya IMP berawal dari keprihatinan para anggotanya yang rata-rata adalah freediver profesional berlisensi, atas banyaknya sampah yang mengotori dan merusak ekosistem laut Indonesia. Tak ada susunan hierarkis pengurus dalam komunitas ini. Masing-masing anggota berbagi peran sesuai kesepakatan yang dimusyawarahkan setiap hendak melakukan aksi.

Eva Wisna Agustin, salah seorang koordinator aksi Ocean Cleanup menyebut, Nama mermaid dipilih terinspirasi dari mitos duyung yang selama ini digambarkan sebagai makhluk setengah manusia setengah ikan yang hidup di lautan.

“Mermaid mewakili kehidupan di darat dan laut sebagai simbol suatu keseimbangan untuk menjaga alam. Dalam kontribusinya, IMP melakukan berbagai bentuk kampanye dan aksi penyelamatan laut untuk memberikan pengaruh positif kepada orang lain,” tutur Eva.

Dalam perjalanannya, komunitas itu kini memiliki anggota aktif lebih dari 15 orang dari lintas profesi. Eva Wisna Agustin, misalnya, bekerja sebagai project engineer di salah satu perusahaan developer terbesar di Indonesia. Hari itu Eva jauh-jauh datang dari Surabaya demi suksesnya kampanye menjaga ekosistem laut ini. Perempuan mungil yang juga freediver AIDA ini mengaku, melalui IMP ia ingin mengenalkan kepada publik dan terutama anak-anak untuk ikut kegiatan clean up di laut.

“Karena buat aku, anak-anak itu adalah bekal masa depan kita, jadi edukasi kepada mereka sangat penting,” kata Eva yang kali itu didapuk menjadi koordinator beach cleanup.

Lain lagi dengan Adisty Kanastari atau yang akrab disapa Dyssa yang kesehariannya berprofesi sebagai arsitek. Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini telah menyukai olahraga freedive sejak kecil. Bagi Dyssa, melalui freedive ia bisa menikmati keindahan dunia bawah air di laut. Dan IMP adalah tempat berbagi hobi dan visi yang sama untuk konservasi laut.

“Saya ingin turut menyebarluaskan info keindahan laut Indonesia, pentingnya menjaga lautan, dan promosi olahraga freedive beserta safety education dalam freedive,” tutur Dyssa.

Sementara itu, Angelique Dewi, yang bekerja di divisi corporate communication dan green committee di sebuah perusahaan swasta yang saat ini sedang menekuni desain interior untuk kapal phinisi FRS Menami milik World Wildlife Fund (WWF) Indonesia. Melalui IMP, dan Ocean Defender Greenpeace, Angelique ingin menjadi collaborative agent dengan mempertemukan berbagai institusi dan komunitas yang memiliki visi yang sama untuk konservasi laut.

Selain ketiga personel itu, ada juga Endah Eka Sari seorang student relation officer; Wina Karen Midayati guru tari profesional; Yulia Lintang, dosen; Mada Cendani, penari; Menthis Ayuning Sekar, Aneh, dan masih banyak lagi sosok dengan latar belakang yang berbeda. Satu-satunya kesamaan dari semua anggota barangkali tak lain adalah kecintaan mereka terhadap laut dan dorongan untuk menjaganya.

Di luar anggota IMP, kegiatan kali itu juga didukung oleh WWF Indonesia yang diwakili oleh Imam Musthofa Zainudin; Nadhira Afina Wardhani dari Diver Clean Action (DCA) Indonesia yang bertugas melakukan riset dan survei monitoring sampah laut terdampar di pantai; Aulia Nurdini, alumni Studi Biologi Universitas Indonesia yang aktif sebagai relawan konservasi laut di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan tentu saja tim dari Majalah Pajak.

“Berawal dari keprihatinan atas banyaknya sampah yang mengotori dan merusak ekosistem laut Indonesia.”

Banyak sampah nonorganik

Sampah laut (marine debris), terutama plastik adalah masalah besar yang sangat memengaruhi kehidupan laut dan manusia. Indonesia juga dianggap sebagai produsen sampah plastik ke laut terbesar kedua dunia. Dominansi sampah itu diperkirakan berasal dari sungai. Berdasarkan estimasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), setiap hari penduduk Indonesia menghasilkan 0,8 kg sampah per orang atau 189 ribu ton sampah per hari. Pemandangan yang kami saksikan di garis pantai Pulau Kotok pun seolah membuktikannya. Banyak ragam sampah terdampar di bibir pantai dan di lautan.

Dipandu Femke kami berbagi tugas membersihkan sampah-sampah yang tercecer. Ada yang bertugas memungut sampah yang tersangkut di sepanjang garis pantai, sebagian lagi menyisir permukaan laut dan sebagian menyelam bebas di kedalaman laut. Cukup banyak sampah yang berhasil kami kumpulkan kali itu. Mulai dari sampah plastik, styrofoam, karet, kain, hingga popok sekali pakai (cloth diapers). Sampah-sampah yang terkumpul kemudian kami pilah berdasarkan jenisnya untuk didata sebagai bahan kajian oleh DCA, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, dan pemangku kepentingan terkait. Ratusan kilogram sampah yang berhasil terkumpul kami naikkan ke kapal untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir di Jakarta.

Hari itu memang sangat melelahkan, tapi hati kami sedikit puas karena aksi kecil kami adalah cara kami mensyukuri anugerah kekayaan alam yang telah Tuhan berikan. Sebelum pulang ke Jakarta, Imam Musthofa berbagi data penelitian tentang bahaya sampah di laut, terutama plastik. Menurut Imam, sampah plastik telah memengaruhi ekosistem hingga ke ukuran mikro. Sampah plastik tak akan terurai hingga ratusan tahun dan hanya akan berubah menjadi mikroplastik, zat plastik berukuran sangat kecil yang akhirnya mengancam kesehatan lingkungan serta biota laut di perairan Indonesia.

“Sampah mikroplastik ini dapat masuk ke dalam rantai makanan. Ketika mikroplastik dimakan biota laut seperti plankton, lalu plankton dimakan ikan, dan ikannya dimakan manusia maka pada akhirnya berdampak pada kesehatan manusia,” papar Imam.

Imam menegaskan, meningkatnya pencemaran lingkungan di laut tak hanya mengganggu keseimbangan ekosistem laut tetapi juga kerugian ekonomi. Sangat disayangkan, mengingat Indonesia adalah negeri bahari yang memiliki garis pantai terpanjang kedua dunia setelah Kanada yakni sekitar 95.181km dengan nilai perekonomian dari laut Indonesia diperkirakan mencapai Rp 36.000 triliun hingga Rp 60.000 triliun per tahun. Diperkirakan 40 juta orang berkesempatan bekerja di sektor kelautan. Namun, jika laut tidak dijaga maka kesempatan itu akan berubah menjadi bencana. Karenanya, penting bagi seluruh masyarakat untuk memiliki kesadaran lingkungan. Hal itu bisa dimulai dari diri sendiri. Misalnya, dengan mengurangi penggunaan produk-produk yang menghasilkan sampah plastik dan beralih ke produk ramah lingkungan.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 minggu ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News4 minggu ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News1 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News3 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News3 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News3 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News5 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News5 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News6 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News6 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Trending