Bangun Persepsi lebih Positif tentang Pajak | Majalah Pajak
Terhubung dengan kami

Topic

Bangun Persepsi lebih Positif tentang Pajak

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Kepemimpinan Robert Pakpahan di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menjadi harapan baru usai Ken Dwijugiasteadi memasuki masa purnabakti. Anggota Komisi XI DPR RI Misbakhun menuturkan, dua figur tersebut sebetulnya tidak jauh berbeda, baik dari segi pendidikan maupun pengalaman berkarier. Sama-sama meniti karier di Departemen Keuangan RI dan Kementerian Keuangan RI, khususnya DJP.

“Dua-duanya mempunyai latar belakang pendidikan yang sama, yaitu sama-sama akuntan, walaupun dari lulusan yang berbeda,” ujar Misbakhun saat ditemui Majalah Pajak di kantornya, Kamis (21/12/17).

Misbakhun menambahkan, masing-masing Dirjen Pajak memiliki karakter yang berbeda dalam bekerja. Ken dengan gayanya yang eksentrik, telah berupaya keras mencapai target penerimaan yang dibebankan pemerintah melalui APBN.

“Kita semua tahu bagaimana di tahun 2015, begitu tingginya target karena APBN-P-nya naik sampai 38 persen, dan pencapaian 82,5 persen itu sebenarnya bukan sesuatu penerimaan yang jelek,” imbuhnya.

Tak hanya itu, politikus Partai Golkar ini mengakui, Ken mampu menyosialisasikan Tax Amnesty dengan baik, sehingga program tersebut dapat berhasil. Dari program tersebutlah terdeteksi titik lemah dalam sistem administrasi pemungutan pajak selama ini.

“Ada hampir Rp 5000 triliun total, baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri yang dideklarasikan. Itu menunjukkan bahwa sistem self-assesment kita selama puluhan tahun ini masih menyisakan lubang-lubang yang membuat Wajib Pajak bisa melakukan upaya-upaya memanfaatkan lubang-lubang aturan yang belum kita tutup.”

Saya menaruh harapan besar karena Pak Robert ini pemikir dan pekerja keras. Beliau harus didukung oleh semua elemen satuan tugas unit-unit yang ada di dalam.”

Tantangan DJP

Berbicara mengenai Dirjen Pajak baru, Misbakhun mengutarakan, DJP merupakan rumah pertama yang pernah ditempati Robert. Sudah sejak lama Robert terlibat menjadi tim reformasi perpajakan. Tindak tanduknya diperlihatkan melalui bagaimana proses bisnis di DJP itu diubah, digeser, atau bahkan diganti. Beberapa hasilnya terlihat pada fungsi-fungsi direktorat yang fungsional, seperti Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (Kitsda), tenaga pengkaji, Account Representative di front line, dan seksi Waskon. Selain itu, tidak ada lagi unit pemeriksaan yang terpisah dari kantor pelayanan pajak.

Misbakhun pun menambahkan, tantangan DJP akan semakin besar ke depan, karena berhadapan dengan pergeseran ekonomi (shifting economy) dari konvensional ke digital yang efeknya mulai dirasakan DJP sejak 2016 lalu.

Lifestyle masyarakat berubah. Mal yang tadinya mereka belanja, jadi (beralih) di tempat nongkrong. Proses-proses ini, kan, menimbulkan sistem dan model ekonomi yang baru. Di titik mana mereka akan dipajaki. Inilah yang menurut saya ke depan akan menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas perpajakan untuk mengelola regulasi berdasarkan model-model ekonomi yang baru itu.”

Selain itu, Misbakhun mengusulkan agar Robert dapat berkonsentrasi membenahi sistem internal, seperti pembangunan sistem Informasi dan Teknologi (IT), merevitalisasi proses bisnis, hingga sistem kepegawaian.

“IT ini, kan, sudah lama sebenarnya menjadi isu di DJP. Teman-teman DJP punya trauma terhadap masalah IT, dan ini harus diselesaikan segera. Saya yakin dengan integritas teman-teman DJP, mereka tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar aturan dan ketentuan. Sumber pendanaannya pun jangan sampai kemudian menimbulkan kontroversi, misalnya kalau APBN mampu, kenapa harus dari Bank Dunia?”

Begitu pun mengenai sistem kepegawaian, ia beranggapan sistem mutasi yang dilakukan selama ini tidak berdasarkan pada prestasi semata. “Menurut saya kadang-kadang orang yang sudah punya prestasi begitu bagus, tetapi tidak bergeser dari mana-mana. Sementara orang yang cuma begitu-gitu saja, tiba-tiba lompat dari sini ke sana, seakan-akan ada kelompok eksklusif. Sistem seperti ini yang harus dibenahi.”

Dengan sosok Robert yang sangat berpengalaman di Kementerian Keuangan dan DJP, Misbakhun berharap Robert yang memiliki perspektif nan luas dapat membangun persepsi lebih positif tentang pajak yang business friendly. Mau mendengarkan keluhan dunia usaha, serta lebih hati-hati tanpa mengurangi peran pajak yang mempunyai fungsi-fungsi represif terhadap penegakan aturan.

“Saya menaruh harapan besar karena Pak Robert ini orangnya pemikir, dan seorang pekerja keras. Dan tentunya beliau harus didukung oleh semua elemen satuan tugas unit-unit yang ada di dalam untuk bersama-sama sinergi memberikan dukungan itu, tidak boleh ada satu pun yang tidak memberikan dukungan. Itu yang utama,” pesannya.—Ruruh Handayani/foto: Dok. Pribadi

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Topic

Harap Kenaikan DAK/DAU untuk Daerah Berprestasi

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Bupati Kabupaten Tabanan, Bali, Ni Putu Eka Wiryastuti berharap ada peningkatan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU) untuk daerah yang berprestasi. Terutama soal pengembangan inovasi untuk mengakselerasi program pemerintah pusat.

Eka menyebut, alokasi DAK dan DAU Kabupaten Tabanan menurun. Tahun 2017, Tabanan mendapat Rp 826, 283 miliar, sementara pada 2018 kabupaten ini mendapat Rp 811, 768 miliar. Sedangkan untuk DAK, Kabupaten Tabanan di tahun 2018 mendapat Rp 237,947, lebih kecil dari DAK tahun sebelumnya yang mencapai Rp 281, 751 miliar.

“Saya mensyukuri saja. Yang penting seluruh bantuan harus mampu mengakselerasi pengentasan kemiskinan. Kami berharap ada peningkatan DAK/DAU untuk daerah yang berprestasi membantu program pemerintah pusat,” jelasnya ketika dihubungi Majalah Pajak, Rabu malam (30/5).

Kami berharap ada peningkatan DAK/DAU untuk daerah yang berprestasi membantu program pemerintah pusat.

Misalnya, pada program Pamsimas atau Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat untuk desa yang krisis air, yaitu Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Tabanan.

Dengan anggaran Rp 245 juta di tahun 2014, program itu bisa berjalan sehingga masyarakat setempat dapat mengakses 65 persen air bersih.

Peningkatan itu kemudian didukung oleh dana desa ditambah bantuan DAK 2017 sekitar Rp 1,8 miliar serta sisa DAK tahun 2016 Rp 163 juta. Hasilnya, saat ini seratus persen masyarakat Desa Manduk Temu dapat mengakses air bersih.

Keberhasilan programnya mengantarkan Kabupaten Tabanan meraih penghargaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Tanpa bantuan dari pusat akan kurang pencapaian kesuksesan kami,” kata Bupati peraih Penganugerahan Dana Rakca Award yang diberikan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Gedung Kementerian Keuangan Republik Indonesia pada Mei 2018 silam.

Lanjutkan Membaca

Topic

Laut dan Darat Sama Penting

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Alokasi Dana Alokasi Umum yang dihitung berdasarkan wilayah dinilai tidak adil bagi daerah kepulauan yang memiliki luas wilayah laut lebih luas.

 

Bagi sebagian wilayah, perhitungan besaran transfer Dana Alokasi Umum (DAU) dianggap masih timpang. Terutama untuk daerah-daerah yang memiliki wilayah laut atau perairan lebih besar dari daratan. Seperti disebutkan pada Pasal 40 ayat (3) Peraturan Pemerintah nomor 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, DAU untuk suatu daerah dialokasikan berdasarkan formula yang terdiri atas celah fiskal dan alokasi dasar.

Celah fiskal merupakan selisih antara kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal. Sementara kebutuhan fiskal salah satunya diukur dengan menggunakan variabel  luas wilayah. Celakanya, yang dimaksud dengan luas wilayah pada aturan itu adalah luas wilayah daratan saja, tanpa memperhitungkan wilayah perairannya. Akibatnya, daerah yang memiliki wilayah laut yang luas kesulitan membangun laut mereka karena porsi anggaran hanya habis dialokasikan untuk membangun daratan. Contohnya Provinsi Maluku. Secara geografis, Maluku memiliki wilayah seluas 712.479,69 kilometer persegi, dengan bagian wilayah seluas 658.331,52 kilometer persegi atau sekitar 90 persennya merupakan perairan.

Gubernur Maluku Said Assagaff prihatin, selama ini DAU yang diberikan untuk Provinsi Maluku hanya dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah daratan saja. Padahal, luas wilayah mereka sangat potensial dan perlu dikembangkan. Misalnya saja untuk membangun infrastruktur, serta penyediaan sarana dan prasarana pada matra laut yang berat karena kondisi geografis yang berpulau-pulau.

“Wilayah kami, kan, banyak pulau. Sekitar 1340 pulau, mungkin. Berarti tantangan terbesarnya di sektor transportasi. Bagaimana masyarakat dari satu tempat bisa menuju ke tempat yang lain, menjual hasil-hasil produk, atau kalau ada keperluan. Nah, itu tantangan kami paling berat dan unik di sini,” terang Said pada Majalah Pajak beberapa waktu lalu.

“Kalau ada dana—yang saya minta dihitung dari laut itu—kami bisa suntik ke armada lokal kami di kabupaten-kabupaten untuk menjaga barang agar tidak naik.”

Sama-sama penting

Said berharap transfer dana yang dialokasikan untuk provinsi ini diperhitungkan secara fungsional demi keadilan. Sebab, dengan anggaran yang masih timpang, realisasi pembangunan infrastruktur di berbagai pulau pun akan terhambat.

“Dalam perencanaan kami ke depan, wilayah ini kami bagi atas gugusan-gugusan pulau. Ada 12 gugusan pulau di Maluku. Ada pintu-pintu keluar. Kedua belas gugus pulau itu kami bagi berdasarkan kebudayaan, budaya setempat, berdasarkan pola dagang, ekonomi, kesamaan sosial.”

Said mengatakan, jika transfer DAU dihitung dari batas laut maka berdasarkan luas wilayah Maluku, seharusnya ada penambahan sekitar Rp 1 triliun. Jumlah itu cukup untuk membangun infrastruktur laut di kepulauan Maluku. Ia berharap, pemerintah pusat menyadari dan sama persepsi bahwa membangun infrastruktur di laut sama dengan membangun jalan di daratan.

“Kalau di kabupaten kami bangun, misalnya pelabuhan, di gugus pulau juga ada pelabuhan. Di kabupaten itu ada rumah sakit, gugus pulau juga ada rumah sakit,” jelasnya.

Selain itu, Said menambahkan, dana tersebut juga bisa disuntikkan ke pemda kabupaten untuk memberi bantuan pada armada-armada lokal yang membawa penduduk atau produk dari satu pulau ke pulau lainnya. Selama ini mereka kesulitan melaut karena saat musim gelombang tinggi tiba akses transportasi terbatas. Akibatnya, harga-harga kebutuhan melonjak.

“Kalau ada dana—yang saya minta dihitung dari laut itu—kami bisa suntik ke armada lokal kami di kabupaten-kabupaten untuk menjaga barang agar tidak naik. Ketika enam bulan musim ombak, kami suntik. Tapi kalau tidak ada dana kelautan, kami mau ambil dari mana?”

Lanjutkan Membaca

Topic

Menakar Proporsi Dana Perimbangan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Kucuran dana perimbangan berkaitan langsung dengan kinerja pemerintah daerah. Semakin banyak program yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional, transfer daerah akan semakin di perhatikan.

 

Otonomi daerah yang disertai desentralisasi fiskal diberlakukan salah satunya tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat daerah dengan optimalisasi pelayanan publik di daerah. Otonomi daerah memungkinkan daerah menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas dasar inisiatif, kreativitas dan partisipasi masyarakat untuk mengembangkan dan memajukan daerahnya. Dana perimbangan, sebagai salah satu instrumen pendukung desentralisasi dalam menyelenggarakan pembangunan daerah, meliputi Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Insentif Daerah (DID). Keempatnya bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan untuk mendanai kebutuhan Daerah bersama dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Masing-masing dana perimbangan memiliki fungsi yang berbeda. DBH lebih berfungsi sebagai penyeimbang fiskal antara pusat dan daerah dari pajak yang dibagihasilkan. Sementara DAU berperan sebagai pemerata fiskal antardaerah (fiscal equalization) di Indonesia. DAU dialokasikan dengan tujuan pemerataan dengan memperhatikan variabel potensi daerah, luas daerah, keadaan geografi, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, DAK dan DID memiliki potensi yang lebih besar bagi daerah dan berkaitan langsung dengan kinerja yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Untuk itu pemerintah daerah perlu terus dipacu agar meningkatkan kinerjanya sehingga berhak mendapatkan dana transfer tersebut.

Bambang menyebut, DAK sangat penting karena pemerintah pusat menginginkan program prioritas nasional bisa sejalan dengan kegiatan pembangunan di daerah untuk menjaga standar pelayanan minimum, seperti di bidang pendidikan, kesehatan, dan irigasi.

Misalnya, seperti yang diterapkan di Tabanan Bali melalui program Pamsimas atau Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat untuk desa yang krisis air, yaitu Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Tabanan. Dengan anggaran Rp 245 juta di tahun 2014, program itu bisa berjalan sehingga masyarakat setempat dapat mengakses 65 persen air bersih. Program itu kemudian didukung oleh dana desa ditambah bantuan DAK 2017 sekitar Rp 1,8 miliar serta sisa DAK tahun 2016 Rp 163 juta. Hasilnya, saat ini seratus persen masyarakat Desa Manduk Temu dapat mengakses air bersih. Keberhasilan programnya mengantarkan Kabupaten Tabanan meraih penghargaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Penganugerahan Dana Rakca Award yang diberikan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

DAK sangat penting karena pemerintah pusat menginginkan program prioritas nasional bisa sejalan dengan kegiatan pembangunan di daerah.

Perhatian khusus

Bupati Kabupaten Tabanan, Bali, Ni Putu Eka Wiryastuti berharap ada peningkatan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU) untuk daerah yang berprestasi. Terutama soal pengembangan inovasi untuk mengakselerasi program pemerintah pusat.

Senada dengan Bupati Tabanan, Gubernur Maluku Said Assagaff juga berharap, dana perimbangan dihitung berdasarkan karakteristik daerah setempat dengan mempertimbangkan kondisi riil wilayah. Di Provinsi Maluku, misalnya, selama nilai DAU hanya dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah daratan saja. Padahal, luas wilayah Maluku merupakan 712.479,69 kilometer persegi. Dari total luas itu, 658.331,52 kilometer persegi atau sekitar 90 persennya merupakan perairan. Sedangkan, sesuai Pasal 40 Ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, DAU dialokasikan dengan memerhatikan variabel potensi daerah, luas wilayah. Sayangnya, luas wilayah yang dimaksud dalam peraturan tersebut hanya wilayah darat saja alias menafikan luas perairannya. Akibatnya, daerah yang memiliki wilayah laut yang luas kesulitan membangun laut mereka karena porsi anggaran hanya habis dialokasikan untuk membangun daratan.

Menanggapi hal itu, Bambang Brodjonegoro menegaskan, pemerintah tetap pada kebijakan money follows program. Pemerintah provinsi sebagai wakil pemerintah pusat di daerah berperan sangat penting dalam mewujudkan integrasi perencanaan antara pusat dan daerah.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News3 minggu lalu

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News1 bulan lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News6 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News7 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News8 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News10 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News10 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News11 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News1 tahun lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Advertisement Pajak-New01

Trending