Connect with us

Community

Bangun dan Salurkan Kolaborasi Kemanusiaan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Melalui spirit kolaborasi, ACT tak hanya hadir menangani bencana alam, tapi juga menanggulangi bencana sosial dan bencana kemanusiaan.

 

Gempa bumi Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 silam menjadi bencana terdahsyat di abad ke-21. Gempa berkekuatan 9,1 Skala Richter itu meluluhlantakkan wilayah Aceh dan sekitarnya dan melibas 14 negara, serta menewaskan ratusan ribu orang. Namun, selalu ada hikmah dalam setiap musibah. Bencana itu juga membuktikan masih banyak tangan-tangan dermawan yang memiliki rasa empati dan kepedulian tinggi. Banyak jiwa-jiwa tulus yang berduyun-duyun memberikan sumbangsih mereka sesuai kemampuan mereka, baik atas nama kelompok maupun individu. Kelak, di antara orang-orang itu adalah mereka yang tergabung dalam lembaga kemanusiaan yang kini kita kenal dengan nama Aksi Cepat Tanggap (ACT).

ACT adalah organisasi nirlaba profesional yang awalnya lebih memfokuskan pada kerja-kerja penanganan kebencanaan, mulai fase darurat sampai dengan fase pemulihan pascabencana. Organisasi ini pertama kali melakukan aksinya tahun 1994 di Liwa, Lampung Barat dalam merespons bencana gempa bumi. Namun, setelah membantu penanganan korban tsunami Aceh, tepatnya pada 21 April 2005, ACT resmi menjadi Yayasan Aksi Cepat Tanggap.

“Tsunami Aceh 2004 masifnya luar biasa. Di situ kami melihat, kegiatan penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara ad hoc, tetapi harus dilakukan oleh satu tim yang secara reguler melakukan kegiatan. Baik edukasi, pencegahan pengurangan risiko bencana, sampai masuk ke wilayah emergency penanggulangan saat terjadi bencana. Pascabencana, untuk recovery juga harus ditangani,” tutur Presiden ACT Ibnu Khajar kepada Majalah Pajak pertengahan Juni lalu.

Ibnu Khajar menuturkan, pada 2005 hingga 2010 ACT tidak sekadar menangani bencana alam tapi juga menangani bencana sosial. Misalnya, bencana pendidikan, kelaparan, gizi buruk, bencana konflik sosial, peperangan. ACT juga melakukan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Memasuki tahun 2012, lembaga ini bermetamorfosis menjadi lembaga kemanusiaan global, dengan jangkauan aktivitas lebih luas. Tidak hanya menangani bencana alam, tapi juga bencana sosial dan bencana kemanusiaan.

Baca Juga: Menebar Berkah Pasar Modal Syariah

Pada skala lokal, ACT mengembangkan jejaring ke semua provinsi baik dalam bentuk jaringan relawan dalam wadah MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) maupun dalam bentuk jaringan kantor cabang ACT yang ada di 22 provinsi. Jangkauan aktivitas program saat ini sudah menjangkau 34 provinsi dan 324 kabupaten/kabupaten dan didukung oleh para relawan berdedikasi tinggi dalam pengabdian masyarakat. Sementara pada skala global, ACT memiliki perwakilan yang disebut country representative person dan memiliki kantor cabang di Turki. Jangkauan aktivitas program global telah menjangkau 22 negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, Indocina, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa Timur.

Pemberdayaan aset wakaf

Dalam menjalankan misinya, ACT mendapat dukungan donatur publik dari  masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap permasalahan kemanusiaan dan juga partisipasi perusahaan melalui program kemitraan dan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). Sebagai bagian dari akuntabilitas keuangannya, ACT rutin memberikan laporan keuangan tahunan kepada donatur dan pemangku kepentingan lainnya, serta memublikasikannya melalui media massa. Laporan pun diaudit oleh Kantor Akuntan Publik.

“Orang yang enggak punya makanan boleh telepon 24 jam, langsung dikirim gratis, meneleponnya gratiskami tanggung biaya teleponnya, pengirimannya juga gratis.

Untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan, ACT juga mengelola aset wakaf dengan membentuk Global Wakaf Corporation (GWC). Melalui GWC, ACT membantu masyarakat Indonesia dan dunia dengan basis unit wilayah terkecil selevel desa. GWC bergerak membantu masalah kemanusiaan di sektor pangan. Misalnya melalui program Lumbung Beras Wakaf (LBW) dan Lumbung Ternak Wakaf (LTW). Bersama dengan program wakaf berbasis bisnis ritel, yakni Warung Wakaf dan Ritel Wakaf, seluruh program membentuk rantai pangan dari hulu ke hilir sebagai solusi total atas masalah umat di sektor pangan, baik dari sisi produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Ibnu Khajar menjelaskan, lumbung ternak dialokasikan dari dana wakaf karena untuk dua program utama dalam isu pangan, yakni kebutuhan supply kurban dan untuk kebutuhan program akikah atau bantuan kemanusiaan dalam bentuk hewan ternak untuk mendukung dapur umum.

Baca Juga: Simpul Sinergi Kemajuan Desa

Tahun ini, menyambut Hari Raya Kurban, ACT pun menyiapkan program Qurban Progresif memberikan pilihan masyarakat untuk berkurban dengan harga terjangkau dan progresif berdasarkan bulan. Di masa pandemi Covid-19 ini, ACT ingin program kurban tidak hanya sekadar sebagai sebuah ibadah unggul yang bersifat ritual, tapi juga sebagai ibadah sosial yang bisa menyelesaikan problem sosial.

Kita tahu, pandemi korona telah membuat ekonomi terpuruk. Banyak orang kehilangan usaha dan pekerjaan. Maka, ACT berinisiatif memberikan peluang bagi mereka. Caranya dengan mengajak mereka menjadi agen kurban. Para agen ini bertugas mengajak masyarakat untuk berkurban melalui ACT. Lebih-lebih, dalam kondisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti sekarang, masjid, sekolah tidak menyelenggarakan kurban.

Sebagai kompensasi, para agen kurban akan mendapatkan fee sekitar Rp 2 juta untuk setiap satu ekor sapi yang terjual. Kompensasi itu berasal dari alokasi subsidi yang tahun-tahun sebelumnya selalu diberikan kepada para pengurban sehingga harga hewan yang dibeli melalui ACT lebih murah dibandingkan harga hewan kurban di pasaran.

“Kami ingin kembalikan ke harga normal (bagi yang berkurban) supaya kami bisa berikan kepada para agen kurban untuk mereka dapat nafkah keluarganya. Kalau bisa mengajak satu keluarga berkurban sapi, kami berikan sekitar Rp 2,25 juta untuk satu ekor sapi,” jelas pria yang mulai bergabung di ACT sejak 2012 silam ini. Dengan target kurban 100 ribu ekor sapi tahun ini, Ibnu Khajar berharap bisa merekrut 100 ribu agen kurban.

Selain itu, bagi pedagang hewan kurban yang kesulitan memasarkan hewan kurban akibat PSBB, ACT pun membantu program penjualan melalui sistem digital marketing yang dimiliki ACT.

“Di Jakarta, kami dengan Pemprov DKI masuk dalam kolaborasi sosial berskala besar. Kami minta izin agar beberapa tempat tetap dibuka untuk lapak jualan. Supaya yang jualan itu tetap ada. Peternak di daerah yang amanah akan tetap hidup, yang jualan tetap jalan. Kami akan jualkan lewat sistem digital marketing kami supaya semua peternak, pelapak ini jadi mitra pengadaan hewan kurban kami,” jelas pria yang mulai bergabung di ACT sejak 2012 silam ini.

Masyarakat pun tak perlu khawatir jika tidak menjumpai masjid yang melakukan pemotongan hewan. Sebab, hewan itu akan dipotong di rumah pemotongan hewan dan didistribusikan melalui unity careline ACT.

Baca Juga: Berbagi Peta Keutamaan

“Kalau ini dilakukan maka RPH hidup, pedagang hidup, lapak hidup, pemilik ternak hidup, orang terkena PHK bisa aktif kembali, ojek on-line bisa tetap mengantarkan. Semua ini bisa jadi kontribusi lembaga ini untuk memutar kembali ekonomi masyarakat kita.”

Melalui program Lumbung Beras Wakaf, GWC memproduksi beras untuk didistribusikan melalui program-program kemanusiaan ACT. Sudah ribuan ton beras disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, baik di Indonesia maupun luar negeri.

“Kami kirimkan masuk ke Lombok dan Palu lebih dari 3000 ton. dari lumbung beras wakaf kita. Untuk mengatasi bencana kelaparan di Agats, Asmat (Papua) hampir 300 ton. Kami kirimkan ke Rohingya 2000 ton, Somalia 1300 ton, Suriah 1000 ton,” rinci Ibnu Khajar.

Di masa pandemi Covid-19 ini, ACT membuat program operasi pangan gratis melalui Humanity Careline berbasis komunikasi telepon bebas pulsa. Layanan penyediaan pangan pokok ini diberikan kepada warga terdampak wabah Covid-19 dan yang dikarantina wilayah sehingga kesulitan memperoleh kebutuhan pangan pokok, terutama beras.

“Orang yang enggak punya makanan boleh telepon 24 jam, langsung dikirim gratis, meneleponnya gratis—kami tanggung biaya teleponnya, pengirimannya juga gratis.”

Untuk proses pengiriman, Ibnu Khajar mengatakan, program ini sengaja bekerja sama dengan pengemudi ojek daring karena di masa pandemi Covid-19 ini mereka kehilangan mata pencaharian. Alasan kedua, tak lain adalah demi menjaga martabat orang yang dibantu. Dengan diantar, orang yang membutuhkan tak perlu datang mengantre untuk mendapatkan bahan makanan.

Baca Juga: Menyiapkan Gugus Tugas Tingkat RT untuk Penanggulangan COVID-19

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Community

Simpul Sinergi Kemajuan Desa

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Dengan semangat memberi, komunitas ini bergerak setahap demi setahap untuk menginspirasi dan mengakselerasi kesejahteraan desa.

 

Ada seribu alasan untuk mencintai desa. Dalam bahasa Sanskerta, desa bermakna ‘tanah tumpah darah’. Desa adalah mula sebuah peradaban. Tempat lahir dan bertumbuhnya ragam budaya dan kearifan lokal. Kehidupan sosial yang tenteram, sumber daya alam melimpah dan tradisi yang senantiasa terjaga adalah gambaran indah saat membayangkan suasana desa.

Desalah masa depan kita. Di lumbung kita menabung, datang paceklik kita tak bingung. Masa panen masa berpesta…,” kata Iwan Fals dalam lirik salah satu lagunya untuk menggambarkan betapa kaya dan tenteramnya kehidupan di desa.

Ironisnya, masih banyak desa yang oleh Iwan Fals disebut sebagai harapan masa depan itu kini justru menjadi kantung-kantung kemiskinan. Terlalu lama bangsa ini terlena dengan paradigma metro sentris sehingga kesenjangan menganga begitu lebar. Desa hanya berfungsi sebagai hinterland (pemasok kebutuhan kota), tanpa dibarengi dengan laju pembangunan yang memadai. Para pemuda memilih berbondong-bondong meninggalkan tanah kelahiran mereka demi mengadu untung di kota. Padahal, solusi masalah di perkotaan sejatinya justru ada di desa. Desa-desa hanya dihuni oleh sumber daya manusia yang tak lagi produktif dan inovatif. Akibatnya, desa dan segala potensinya yang melimpah itu semakin terabaikan, terkubur bersama romantisme gemah ripah loh jinawi yang disematkan.

Pemerintah pun tak tinggal diam. Mengusung jargon membangun Indonesia dari pinggiran, pembangunan tidak lagi terpusat di perkotaan, tetapi menyebar hingga seluruh pelosok tanah air. Kebijakan anggaran belanja negara dan tata kelola keuangan pemerintah daerah diarahkan untuk meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan menjamin pemenuhan pelayanan dasar seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Peningkatan anggaran daerah juga diharapkan mampu mempercepat pembangunan daerah tertinggal dan kawasan perbatasan dan mengoptimalkan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah.

Baca Juga: Merawat Geliat Ekonomi Desa

Melalui alokasi Dana Desa, pemerintah juga berupaya mengatasi permasalahan ekonomi di desa, seperti mengurangi kemiskinan, menurunkan angka pengangguran dan, menghambat laju urbanisasi sehingga ketimpangan bisa dipersempit. Upaya itu pun sudah bisa dilihat hasilnya. Angka kemiskinan terus menurun, pembangunan di daerah maju pesat dan kesejahteraan masyarakat pun meningkat. Kini semakin banyak desa yang maju dan mampu berdikari. Desa-desa yang dulu tertinggal pun mulai menggeliat bangkit.

Merajut kepedulian

Capaian itu tentu saja belum cukup, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu luas. Dengan jumlah desa di Indonesia yang nyaris mencapai 75 ribu, pemerintah tak akan bisa bekerja sendiri. Pemerintah butuh sumbangsih dari elemen masyarakat untuk bisa merawat dan memajukan desa.

Untungnya, sejak dulu bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jiwa gotong royong yang tinggi. Ada banyak orang atau organisasi yang secara suka rela mau mengabdikan diri untuk memajukan desa. Contohnya adalah yang telah dilakukan Tohirin melalui Komunitas Cinta Desa (KDC) yang ia rintis sejak 2018 lalu. Melalui komunitas ini, widyaiswara Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan ini mengumpulkan orang-orang dari berbagai unsur masyarakat yang memiliki spirit yang sama dengannya untuk ikut bahu membahu membangun desa.

“Hati nurani saya terpanggil, ingin membuat sebuah komunitas yang paling tidak bisa memberikan sedikit pencerahan kepada negeri.”

Sebagai sosok yang lahir dan tumbuh di desa, Tohirin memang akrab dengan masalah-masalah yang umumnya dihadapi desa. Lebih dari itu, pria asal Pekalongan Jawa Tengah ini sejak 2014 hingga 2017 lalu juga sering kali mendapat tugas dari institusinya untuk mengajar di beberapa daerah di Indonesia tentang pengelolaan keuangan desa.

“Sebenarnya sudah dari awal saya punya keinginan bagaimana untuk memajukan desa, cuma caranya belum ketemu. Ketika mulai berinteraksi, saya melihat jumlah desa di Indonesia itu sangat banyak—hampir 75 ribu. Ini jangkauannya sangat luas. Hati nurani saya terpanggil, ingin membuat sebuah komunitas yang paling tidak bisa memberikan sedikit pencerahan kepada negeri,” ujar Tohirin akhir Mei lalu.

Momen yang dinanti itu datang tahun 2019, ketika Tohirin berkunjung Ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat itu, salah seorang kenalan memintanya untuk membuat kelas untuk membantu perangkat desa yang kesulitan memahami aspek perpajakan di desa.

“Ada satu orang yang curhat kepada saya begitu tahu saya orang BPPK. Beliau langsung bilang, ‘Pak Tohirin bantuin saya untuk bantu teman-teman desa, mereka kesulitan aspek pajak,’. ‘Saya bilang, ‘Baik, Pak, nanti kami bantu, di kantor saya ada ahli pajak,’”.

Singkat cerita, setelah berkoordinasi dengan teman-teman kantornya yang ahli pajak, Tohirin membuka open class. Ajang itu memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk mengikuti. Tak disangka, peserta membeludak dari perkiraan. Dari 60 peserta yang targetkan, pendaftar mencapai 200. Akhirnya, open class dibuat dua kali dengan peserta 100 orang per angkatan.

“Tiga hari sebelum acara dimulai, saya bertekat, acara ini harus terstruktur, jangan sekadar open class lalu selesai. Dari situlah saya meng-create sebuah komunitas yang namanya Komunitas Cinta Desa,” tutur Tohirin.

Sukses melakukan kelas pajak, berikutnya Tohirin bersama Balai Diklat Keuangan Malang menggelar kelas pengelolaan keuangan desa selama 10 kali berturut-turut.

“Kebetulan dari BDK Malang ada dana yang harus dilakukan penyerapan anggaran, kemudian saya mendorong BDK Malang untuk mengadakan open class dengan tema yang fenomenal. Alhamdulillah, kami berhasil melakukan open class pengelolaan keuangan desa itu 10 kali. Ini pertama kali dalam sejarah, open class oleh BDK sampai 10 kali.”

Melihat manfaatnya yang begitu besar untuk memajukan desa, Tohirin kian semangat mengukuhkan keinginannya untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki semangat memberdayakan desa. Komunitas itu akhirnya dideklarasikan pada September 2019 dengan anggota awal hanya sekitar 10 orang. Namun, Tohirin yakin, seiring perjalanan waktu akan semakin besar dan bermanfaat. Dibangun dengan pola bola salju, komunitas ini bergerak perlahan-lahan, setahap demi setahap dan terus melangkah menginspirasi gerakan mencintai desa. Dari Kota Malang, KCD akan masuk ke kota-kota lainnya untuk bersinergi dan bermitra dengan para pemangku kepentingan yang berinteraksi dengan pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat, dan BUMDes

Baca Juga: Edukasi dan Pengawasan Pajak Dana Desa

Melalui komunitas ini, Tohirin berharap semua anggota bisa membagikan kompetensi, informasi, pengetahuan yang dimiliki untuk kemajuan desa sesuai dengan bidangnya masing-masing. Saling memperkuat di antara anggota tim dan melakukan segala aktivitas dengan penuh semangat keikhlasan.

“KCD adalah nonprot organization, bersifat sosial dan panggilan hati nurani. KCD dibangun dengan semangat memberi, bukan meminta. Komunitas ini tidak akan mengambil peran Kemendagri, Kemendes PDTT, dan Pemda, tetapi sebagai jembatan atau hub of networking agar terbentuk sinergi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” tegas Tohirin.

Kini dalam waktu satu tahun, anggota KCD telah mencapai 176 orang yang tersebar di lebih dari 25 kota, dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari pegawai kementerian/lembaga terkait di level pengambil kebijakan, dinas-dinas di pemda, pendamping desa, pemberdaya desa, akademisi, insan media, hingga perangkat desa. Pemimpin desa yang inovatif pun diajak bergabung dengan komunitas ini untuk menularkan virus inovasinya ke desa-desa lainnya.

“Jadi, ini termasuk community of practice yang menurut saya sangat lengkap. Dari level kebijakan di kementerian/lembaga ada, level bupati pun ada, camat ada, kades ada, sekretaris ada, bendahara ada, petani, peternaknya—lengkap. Kadang diskusinya tema-tema kecil. Namun, kadang soal kebijakan karena memang kami ingin, pengambil keputusan bisa melihat realitas di lapangan. Sedangkan teman-teman di lapangan bisa langsung confirm kepada pengambil keputusan ketika ada hal yang tak sesuai.”

Komunitas ini memang baru sebuah permulaan. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya entitas yang mau bergabung dan menyumbangkan keahlian, Tohirin berharap kehadirannya akan menjadi akselerator pembangunan desa. Dengan demikian, di negeri ini akan semakin banyak desa yang mampu mengoptimalkan potensinya sehingga menjadi desa yang maju dan mandiri.

Lanjut baca

Community

Pesan Perubahan Sepenggal Adegan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. Lab Teater Ciputat

Teater menjadi media untuk memberdayakan, mengaktifkan, bahkan membuat perubahan sosial dalam masyarakat.

Kesibukan di salah satu pusat perbelanjaan elite di Jakarta siang itu tak seperti biasanya. Sebagian orang seperti terseret dalam arus rutinitas hidup yang monoton dan serba-tergesa. Ada yang gelisah mengantre, ada yang menyantap makanan cepat saji tetapi seakan tak bisa menikmatinya. Ada juga yang tengah melakukan peragaan busana dengan pakaian glamor tetapi tatapan matanya hampa. Ekspresi wajah sebagian orang-orang itu nyaris sama—tegang dan kaku bak robot mekanis yang tak punya nyawa. Gerakan mereka serbacepat dan tak lazim. Sekujur tubuh mereka bergetar hebat layaknya penderita parkinson akut yang kehilangan daya kontrol atas saraf mereka.

Sementara itu, orang-orang normal yang menyaksikan tingkah tak lazim itu hanya bisa saling pandang, berusaha menelaah adegan aneh di sekeliling mereka dengan raut muka penuh tanya. Mereka seperti sedang menyaksikan layar visual timelapse di televisi pada kehidupan nyata.

Pemandangan itu adalah aksi teatrikal di ruang publik yang pernah dilakukan Lab Teater Ciputat (LTC) di beberapa pusat perbelanjaan ternama di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Membawakan lakon Kubangan, LTC tengah menggambarkan riuhnya zaman pencitraan yang sempurna. Sebuah kritik terhadap era globalisasi yang berambisi menyeragamkan umat manusia dalam dunia net yang diciptakannya.

Tragedi yang terjadi dalam diri manusia modern memang sering kali ingin menerobos keterbatasan untuk bisa menguasai dunia. Akibatnya, segala sistem yang diciptakan justru malfungsi dan membuat diri mereka terpenjara. Tubuh-tubuh mereka menjadi panik saat menyikapi situasi mampat yang terus berlangsung. Tubuh-tubuh itu akhirnya tak punya pilihan kecuali harus melakukan penyesuaian atas perubahan zaman yang begitu cepat, yang dalam adegan itu divisualkan dengan perilaku mekanis dan bergerak cepat.

Baca Juga:  Memintal Kesejahteraan Perajin Tenun

Sutradara Kubangan Bambang Prihadi menggambarkan, para korban citra zaman itu mengalami kondisi traumatis atas ingatan pahit masa lalu yang bermunculan dari ruang bawah sadar mereka. Saat yang sama, mereka tak mampu membayangkan kompleksitas masa depan yang akan mereka hadapi kelak. Maka yang tampak adalah kegalauan, keluh kesah, dan keputusasaan untuk melanjutkan hidup. Itu membuat sekujur tubuh mereka menegang dan mengalami kontraksi tak berkesudahan—digambarkan dengan bahasa tubuh yang bergetar tak henti-henti. Kondisi ruang personal yang menyiksa itu tanpa disadari terbawa hingga ke ruang-ruang publik.

Celakanya, kehampaan hidup orang-orang yang jiwanya terbelah itu dimanfaatkan kaum kapitalis yang selalu menawarkan kenikmatan inderawi. Kepandaian mereka mengemas segala macam produk membuat masyarakat menjadi konsumtif dan hedonistik. Rekayasa manis kaum kapitalis yang selalu memosisikan individu sebagai objek pasar itu membuat orang-orang lupa jati diri dan harga diri mereka yang sesungguhnya. Alhasil, setiap individu tidak mampu membela akal sehatnya untuk bersikap kritis pada sumber utama rekayasa dan persekongkolan itu.

“Pada saat seperti itulah, pasar—kaki tangan kapitalis—akan menjadi pengendali segala bentuk kebutuhan hidup mereka. Tubuh mereka seperti tidak memiliki kuasa lagi untuk menentukan yang terbaik. Sebaliknya, mereka hanya pasrah sekadar menjadi boneka dan angka,” tutur Bambang kepada Majalah Pajak, Kamis (23/4).

“Ketahanan mental spiritual masyarakat rontok, akibat nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang dan alam tak pernah lagi dipelajari, dihayati, dan dijaga.”

Selain sebagai sutradara, Bambang Prihadi adalah bidan di balik lahirnya LTC pada 2005 silam. Bersama sejumlah pegiat seni (teater) di Ciputat, Tangerang Selatan, ia membesarkan LTC hingga karya-karya mereka mewarnai dunia teater tanah air dari ujung Sumatera hingga tanah Papua. LTC juga beberapa kali berkolaborasi dengan komunitas teater lainnya untuk mengisi pertunjukan teater di Jepang, Singapura, dan Malaysia.

Baca Juga: Berbagi Peta Keutamaan

Pria kelahiran Jakarta, 7 April 1976 ini mulai berteater sejak nyantri di Pondok Modern Assalam Sukabumi 1990. Kemudian bergiat di Teater Syahid IAIN Jakarta sejak 1995, dan berlanjut ke Teater Kubur pimpinan Dindon WS sejak 1998. Lelah bertualang di bawah bendera orang, Bambang akhirnya mendirikan LTC dan menyutradarai sejumlah pertunjukan, antara lain Eksodus (1999), Aduh (2000), Umang-umang (2001), Tarkeni Madekur (2002), Telah Pergi Ia Telah Kembali Ia (2002), Ozone (2003), Kubangan (2005-2009), Terjepit (2008), Cermin Bercermin (2010-2011), Orang Pulo Di Pulau Karang (2013), Mada (2013), Mata Air Mata (2016), XQM4GZ (2018), Jaring Sampan (2019), Sinopsis TIM 2019+ (2029), dan beberpa karya lainnya.

Pesan perubahan

Bagi Bambang, seni peran bukan hanya sebagai sarana ekspresi atau hiburan semata. Ia menjadi media untuk memberdayakan, mengaktifkan, bahkan membuat perubahan sosial dalam masyarakat yang dilibatkannya. Karenanya, tema yang selalu diangkat LTC pun tak pernah berjarak dari masyarakat dan berfokus pada problematika keseharian mereka.

“Demi mencapai tujuan itu, sebagai organisasi yang terbuka dan mandiri, LTC menggelar proses penciptaan yang bertolak dari workshop, diskusi, penelitian, observasi, dan live in yang berkonsentrasi pada tema dan problematika masyarakat urban dan dunia spiritual,” tutur pria yang dinobatkan sebagai sutradara terbaik pada Festival Teater Jakarta 2003 ini.

Bambang menjelaskan, misi utama LTC adalah sebagai wadah teater yang berorientasi pada pencapaian karya artistik yang dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Memosisikan kesenian sebagai media yang dapat mempertemukan berbagai kepentingan dalam komunitas masyarakat.

Lakon Terjepit (2008), misalnya, lahir dari hasil interaksi mendalam anggota LTC dalam proses pendampingan perempuan korban kekerasan 1998. Saat itu LTC menggunakan teater sebagai media proses pengobatan trauma mereka. Para korban itu diajak terlibat langsung menjadi aktor dan berlatih dengan metode teater gembira selama hampir delapan bulan pertemuan. Tema Terjepit mengangkat pengalaman pahit saat pecah arus reformasi 1998, kondisi sosial ekonomi mereka sesudahnya, dan harapan yang masih mereka miliki.

“Teater digunakan sebagai ruang conditioning dalam semangat mereka menatap masa depan,” ungkap Bambang.

Baca Juga: Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

LTC juga pernah melakukan proses intermediasi kultural di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada tahun 2010-2013. Kala itu LTC mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat. Mulai dari ibu rumah tangga, pemuda, nelayan, guru, agamawan, pengusaha kapal wisata, dan pemerintahan setempat. Melalui SPK Samo-Samo dan Sanggar Apung, LTC mengawali kerja kultural itu dengan membuat riset budaya Pulau Panggang yang merupakan pulau tertua di Kepulauan Seribu. Selain dipentaskan, riset itu menghasilkan buku penelitian budaya berjudul Orang Pulo di Pulau Karang.

Hasil riset itu kemudian ditindaklanjuti dengan kerja lapangan melalui pelatihan kesenian, kolaborasi pertunjukan, pelatihan pengemasan makanan khas. Puncaknya, mereka menyelenggarakan Hajatan Pulang Babang bersama masyarakat setempat. Hajatan ini diisi dengan beberapa kegiatan, salah satunya pertunjukan teater warga pulau berbasis legenda Pulau Panggang.

Nyaris setiap tahun LTC menelurkan karya-karya pertunjukan yang berakar dari proses eksperimental dan hasil menyelami fenomena kehidupan sosial yang ada. Dalam perjalanannya, LTC semakin menguatkan posisinya sebagai kelompok teater yang bergerak dan berkarya di antara eksklusivitas karya dan inklusivitas pada proses penciptaan. Sikap inilah yang mengantarkan LTC bersedia terlibat aktif di kawasan Hutan Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus. Mereka melakukan riset tentang Kali Pesanggrahan yang menjadi pilihan tema dalam proyek Kota Tenggelam yang digagas Dewan Kesenian Jakarta pada 2012-2015.

Memberdayakan

Pertunjukan yang tak kalah menggugah kesadaran adalah Jaring Sampan (2019). Lakon ini berangkat dari kegelisahan Bambang dan rekan-rekannya di komunitas teater atas kondisi sosial masyarakat di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Seperti kita tahu, satu dekade terakhir, Kepulauan Seribu menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Penduduk lokal pun mau tak mau harus berbenah dengan segala keterbatasannya.

Sayangnya, pemanfaatan sumber daya alam itu tak sejalan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dampak buruknya, perilaku kriminal dan gaya hidup individualis-hedonis meningkat tajam. Selain karena pengaruh buruk dari wisatawan, arus informasi dunia internet membuat masyarakat berada dalam ketegangan dan kegagapan. Keseimbangan hidup komunal mereka pun terganggu dan terabaikan.

“Ketahanan mental spiritual masyarakat rontok akibat nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang dan alam tak pernah lagi dipelajari, dihayati, dan dijaga. Padahal, kesadaran atas nilai-nilai itu menjadi fondasi atas proses kebudayaan yang mereka lakoni,” kata Bambang.

Lab Teater Ciputat bersama Sanggar Teater Laguna mengambil inisiatif untuk melakukan intermediasi kultural untuk menguatkan proses transisional masyarakat dengan perkembangan yang ada. Upaya itu dimulai dengan mempertemukan berbagai pihak yang berkepentingan untuk membuat program pengembangan potensi budaya yang melibatkan masyarakat Pulau Untung Jawa.

“Perlu upaya intensif untuk mengelola potensi budaya masyarakat pulau, khususnya Untung Jawa. Sehingga kelak dapat melahirkan tradisi baru, menguatkan eksistensi identitas budaya Kepulauan Seribu.”

Melalui program itu, masyarakat dilatih untuk dapat mengelola perubahan sosial dan mampu produktif, seperti mengelola sampah dari daratan secara kreatif. Akhirnya terbangun lagi kegotongroyongan dan sikap saling apresiasi akan kearifan lokal yang merupakan fondasi kehidupan masyarakat.

Pada puncaknya, pentas Jaring Sampan menjadi media seni yang tidak semata sebagai hiburan, tapi juga sebagai media perenungan dan penghalusan budi pekerti. Serangkaian kegiatan dibuat untuk menyampaikan pesan luhur dari alam dan nurani masyarakat. Kegiatan seni ini diharapkan menstimulasi daya hidup masyarakat setempat.

Baca Juga: Bugar-Kuat ala Prajurit Sparta

Di samping kerja-kerja kultural yang langsung bersinggungan dengan komunitas masyarakat tertentu, LTC juga memformulasikan materi pelatihan teater untuk kalangan profesional. Materi dibagi dalam pengolahan potensi lima kesadaran manusia, antara lain kesadaran diri, kesadaran ruang dan lingkungan, kesadaran terhadap orang lain, kesadaran kreasi, dan kesadaran kerja tim.

Beberapa institusi pemerintah pun beberapa kali menggandeng LTC, khususnya saat hendak melakukan sosialisasi program kepada masyarakat. Menurut Bambang, hasilnya lebih efektif, mengingat kultur masyarakat Indonesia sebagai masyarakat tontonan. Karena itu, Bambang pun mengaku siap jika nanti Direktorat Jenderal Pajak hendak menggandeng LTC untuk menyampaikan sosialisasi perpajakan kepada masyarakat dengan cara yang berbeda.

 

Lanjut baca

Community

Berbagi Peta Keutamaan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Dok LM-PSDM TIC

Banyak masyarakat yang ingin maju dan berkembang, tetapi tidak tahu cara meraih keberhasilan. KBBK ada untuk membantu mereka menemukan caranya.

 

Adalah kodrat dasar manusia untuk bisa meraih keberhasilan. Paling tidak, berhasil dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Sukses meniti karier, misalnya. Sukses meraih pendidikan tinggi, sukses membangun usaha, atau sukses lain sesuai yang mereka inginkan—setiap orang memiliki parameter dan terminologi kesuksesan yang berbeda-beda. Yang pasti, sebagai pembawa misi khalifatullah fil ardhi, tugas manusia tak lain untuk menjalani hidup sesuai tuntunan Sang Pencipta.

Tuhan telah membekali manusia dengan perangkat sumber daya tak terbatas agar bisa menjalankan misi mulia itu. Sayangnya, tidak semua orang menyadari kemampuannya sehingga asa yang dicita-citakannya hanya mengendap dalam angan-angan belaka.

Keresahan itulah yang membuat Tjahjo Suprajogo sejak dua dekade silam tergerak untuk membentuk sebuah wadah tempat berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi sesama. Tjahjo yang sejak mahasiswa memang senang berkecimpung dengan kegiatan sosial ingin setiap orang bisa mengembangkan potensi yang mereka miliki. Kelak, setelah mengalami beberapa kali metamorfosis, belasan tahun kemudian embrio gagasan itu terlahir dan tumbuh menjadi organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat (social empowerment) bernama Komunitas Belajar Bengkel Kreasi (KBBK) di bawah naungan Lembaga Manajemen dan Pengembangan Sumber Daya (LM-PSDM) Titian Insan Cemerlang (TIC).

“Perjalanan aktivitas komunitas belajar, yang di kemudian hari saya namai KBBK Titian Insan Cemerlang (TIC) sudah berumur 19 tahun jika dihitung dari tahun 1996 saat saya masih di Kota Malang,” tutur Tjahjo kepada Majalah Pajak pertengahan Maret lalu.

Baca Juga: Membangun Komunitas di Hunian Idaman

Doktor Ilmu Administrasi (PDIA) Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Universitas Brawijaya ini mengungkapkan, embrio KBBK sebenarnya sudah dimulai sejak 1989 saat awal ia menempuh pendidikan SI di Universitas Brawijaya dan merintis Forum Studi Islam dan Bahasa Arab (FORSIBA). Forum ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaji di kampus. Pada 1994, saat ia menempuh kuliah S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, namanya diubah menjadi Yayasan Qolbun Salim. Melalui yayasan ini Tjahjo ingin agar kiprah organisasi bisa lebih luas. Bukan hanya pengajian untuk kalangan mahasiswa seperti sebelumnya, tapi meliputi kegiatan sosial, pendidikan dan dakwah bagi semua lapisan masyarakat.

Dua tahun kemudian, berbekal pengalaman selama kuliah di Yogyakarta dan ketika masih di Malang, Tjahjo memberi pelatihan motivasi dan tukar pikiran bagi mahasiswa. Selama dua setengah tahun ia berkeliling ke wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah (Jateng) hingga ke pelosok-pelosok daerah. Dari perjalanan itu Tjahjo merenung dalam-dalam. Ia menilai, peran mahasiswa dan dosen di tengah-tengah masyarakat masih jauh dari memadai. Menurutnya, kiprah kampus masih di atas menara gading.

“Sumbangan langsung berupa tenaga, pikiran dan waktu dari para mahasiswa dan dosen untuk masyarakat, baru kentara saat kegiatan penelitian, KKN dan semacamnya,” kata Tjahjo.

Pembuka jalan

Berangkat dari perenungan itu, dibantu Eko Pramono, mahasiswa UGM menggagas sebuah wadah yang bisa memfasilitasi upaya peningkatan kemampuan dan sumber daya masyarakat. Tjahjo menyadari, banyak masyarakat Indonesia yang ingin maju dan berkembang tetapi tidak mengetahui cara meraih keberhasilan.

Baca Juga : Memupuk Talenta Warga Sekitar

“Betapa banyak orang yang ingin sukses luar biasa, tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang peta jalan dan atau media untuk mencapainya,” ungkap penerima penghargaan dari Kick Andy Heroes ini.

KBBK TIC adalah media pembelajaran sepanjang hayat bagi siapa pun yang ingin benar-benar berbagi pengetahuan dan pengalaman terbaik (best practices) di antara anggotanya.”

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Tjahjo mengejawantahkan buah pikirannya itu ke dalam lembaga bernama Titian Insan Cemerlang (TIC), yang maknanya adalah jalan atau jembatan menuju manusia yang unggul. Nama itu dibawa hingga kembali ke kota Malang tahun 1996, juga ke Jakarta tahun 1999 saat Tjahjo menjadi dosen di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), perguruan tinggi kedinasan pencetak kader-kader pamong praja dari seluruh Indonesia.

Di Jakarta, konsep TIC digodog oleh Tjahjo dibantu Eko Pramono yang membantu sejak awal. Konsep pengembangan TIC juga diperkaya oleh sumbangan ide dari Sahri Muhammad, ayah mertua Tjahjo. Sayang, kini sosok yang juga menjadi ayah ideologis bagi Tjahjo itu telah berpulang.

Tjahjo menjelaskan, pelembagaan konsep dan gagasan TIC menemukan momentumnya ketika pada 2005 putrinya Qurrota Aini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penulis antologi cerpen termuda, yakni pada usia tujuh tahun, melalui buku Nasi untuk Kakek yang diterbitkan penerbit Mizan Bandung.

Baca Juga: Bedah Kampung Bama Hilir

“Sejak saat itu, di bawah badan hukum yayasan Qolbun Salim, saya mendirikan LM-PSDM Titian Insan Cemerlang (TIC) untuk merealisasikan berbagai ide dan obsesi yang pernah terpikirkan pada waktu kuliah,” kenang Tjahjo.

Tahun 2005, TIC menggelar seminar nasional pertama kalinya di Jakarta dan di Malang untuk mengajak masyarakat menumbuhkan minat baca dan menulis. Materi yang disampaikan adalah pengalaman langsung Tjahjo bersama istri, juga Qurrota Aini sang buah hati, terutama dalam upaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi Qurrota Aini agar si kecil itu senang membaca dan menulis.

LM-PSDM TIC kian aktif meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia Indonesia dalam berbagai aspek potensi dan kemampuannya. Organisasi ini kian intens menyelenggarakan dan memfasilitasi berbagai kegiatan seminar, talk show, dialog interaktif, lokakarya hingga pelatihan motivasi pengembangan diri. Misalnya, pelatihan menjadi orangtua cerdas; guru yang inspiratif; anak dan remaja yang kreatif, inovatif dan produktif; hingga menumbuh kembangkan minat baca masyarakat.

Sebagai lembaga nirlaba, meski sebagian besar kegiatannya berorientasi nonprofit, LM-PSDM TIC juga menyelenggarakan dan memfasilitasi beberapa kegiatan berbayar, sesuai dengan kemampuan masyarakat. Hingga saat ini, LM-PSDM TIC sudah melaksanakan ratusan kegiatan dan mendampingi berbagai lapisan masyarakat untuk pengembangan diri dan mengelola organisasi mereka secara efektif dalam upaya peningkatan kualitas SDM. Untuk menjaga keberlanjutan kemampuan peserta yang pernah mengikuti kegiatan pengembangan diri LM-PSDM TIC itulah Tjahjo membentuk wadah KBBK TIC.

“KBBK TIC adalah tempat di mana terdapat orang-orang yang belajar untuk membuat, membentuk, mengubah bentuk, merakit, memperbaiki bahkan mengembangkan sesuatu secara kreatif. Forum ini juga bertujuan untuk menyiapkan, mencetak, dan membina siapa saja yang ingin meningkatkan potensi dan kariernya,” jelas Tjahjo.

Menurut Tjahjo, KBBK TIC adalah media pembelajaran sepanjang hayat bagi siapa pun yang ingin benar-benar berbagi pengetahuan dan pengalaman terbaik (best practices) di antara anggotanya. Komunitas ini bisa diikuti oleh siapa saja yang tertarik mengembangkan diri. Narasumber, mentor ataupun fasilitator pun terdiri dari beragam profesi dan kompetensi. Yang terpenting, mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman terbaik yang sesuai dengan topik-topik yang dibahas. Bagi yang berminat, markas komunitas ini ada di Kompleks Kampus IPDN Cilandak Timur, Jakarta Selatan.Waluyo Hanjarwadi

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News5 jam lalu

Penyerapan stimulus fiskal Pengaruhi Percepatan Pemulihan Ekonomi

Stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 normal.  serapan stimulus fiskal pengaruhi percepatan pemulihan ekonomi.   Menteri Keuangan Sri Mulyani yang...

Breaking News24 jam lalu

FINI: Kemudahan Investasi Jadi Harapan Pelaku Usaha Industri Nikel

Pengusaha sektor pertambangan mendeklarasikan berdirinya Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta pada Rabu pagi, (5/8/2020). Forum...

Breaking News1 hari lalu

Magnet “Tax allowance” dan Simplifikasi Aturan untuk Percepatan Investasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerbitkan  Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.96/PMK.010/2020 untuk merevisi mekanisme pemberian tax allowance berupa fasilitas Pajak...

Breaking News2 hari lalu

Mengintip Budaya Pertamina di Era Ahok

Sejak didapuk menjadi komisaris utama PT Pertamina (Persero) pada akhir November 2019 lalu, sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu...

Breaking News3 hari lalu

DJP: Perlu “Effort” Perusahaan Agar Insentif Pajak Bagi Karyawan Bisa Dimanfaatkan

Pengusaha mengaku kerepotan untuk melaksanakan insentif PPh Pasal 21 atau pajak gajian bagi masyarakat yang ditanggung pemerintah (DTP). Mereka menilai,...

Breaking News3 hari lalu

Kawal Wajib Pajak Agar Tak Terjerumus Dalam Pidana Pajak

Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengadakan seminar on-line perpajakan bertajuk “Peran Konsultan...

Breaking News4 hari lalu

Belanja Pemerintah Kunci Melepas Belenggu Resesi

Jika terjadi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, pendapatan riilnya merosot tajam selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, itu merupakan...

Breaking News5 hari lalu

Resesi Menekan Pasar Modal, Investasi Emas Jadi Pilihan

Sejak beberapa bulan terakhir, harga emas kian meroket. Pada awal Agustus ini, misalnya, harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero)...

Breaking News6 hari lalu

Jakarta Perpanjang PSBB Transisi dan Berlakukan Lagi Aturan Ganjil-Genap

Kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia belum juga reda. Hingga Jumat (31/7/2020), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, mengumumkan, kasus terkonformasi...

Breaking News6 hari lalu

Rayakan Iduladha, PT KAI Berikan Diskon Perjalanan Hingga 25 Persen

Perayaan Iduladha tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Antara lain merosotnya penjualan hewan Kurban yang dialami pedagang di berbagai daerah...

Populer