Connect with us

Community

Bangun dan Salurkan Kolaborasi Kemanusiaan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Melalui spirit kolaborasi, ACT tak hanya hadir menangani bencana alam, tapi juga menanggulangi bencana sosial dan bencana kemanusiaan.

 

Gempa bumi Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 silam menjadi bencana terdahsyat di abad ke-21. Gempa berkekuatan 9,1 Skala Richter itu meluluhlantakkan wilayah Aceh dan sekitarnya dan melibas 14 negara, serta menewaskan ratusan ribu orang. Namun, selalu ada hikmah dalam setiap musibah. Bencana itu juga membuktikan masih banyak tangan-tangan dermawan yang memiliki rasa empati dan kepedulian tinggi. Banyak jiwa-jiwa tulus yang berduyun-duyun memberikan sumbangsih mereka sesuai kemampuan mereka, baik atas nama kelompok maupun individu. Kelak, di antara orang-orang itu adalah mereka yang tergabung dalam lembaga kemanusiaan yang kini kita kenal dengan nama Aksi Cepat Tanggap (ACT).

ACT adalah organisasi nirlaba profesional yang awalnya lebih memfokuskan pada kerja-kerja penanganan kebencanaan, mulai fase darurat sampai dengan fase pemulihan pascabencana. Organisasi ini pertama kali melakukan aksinya tahun 1994 di Liwa, Lampung Barat dalam merespons bencana gempa bumi. Namun, setelah membantu penanganan korban tsunami Aceh, tepatnya pada 21 April 2005, ACT resmi menjadi Yayasan Aksi Cepat Tanggap.

“Tsunami Aceh 2004 masifnya luar biasa. Di situ kami melihat, kegiatan penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara ad hoc, tetapi harus dilakukan oleh satu tim yang secara reguler melakukan kegiatan. Baik edukasi, pencegahan pengurangan risiko bencana, sampai masuk ke wilayah emergency penanggulangan saat terjadi bencana. Pascabencana, untuk recovery juga harus ditangani,” tutur Presiden ACT Ibnu Khajar kepada Majalah Pajak pertengahan Juni lalu.

Ibnu Khajar menuturkan, pada 2005 hingga 2010 ACT tidak sekadar menangani bencana alam tapi juga menangani bencana sosial. Misalnya, bencana pendidikan, kelaparan, gizi buruk, bencana konflik sosial, peperangan. ACT juga melakukan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Memasuki tahun 2012, lembaga ini bermetamorfosis menjadi lembaga kemanusiaan global, dengan jangkauan aktivitas lebih luas. Tidak hanya menangani bencana alam, tapi juga bencana sosial dan bencana kemanusiaan.

Baca Juga: Menebar Berkah Pasar Modal Syariah

Pada skala lokal, ACT mengembangkan jejaring ke semua provinsi baik dalam bentuk jaringan relawan dalam wadah MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) maupun dalam bentuk jaringan kantor cabang ACT yang ada di 22 provinsi. Jangkauan aktivitas program saat ini sudah menjangkau 34 provinsi dan 324 kabupaten/kabupaten dan didukung oleh para relawan berdedikasi tinggi dalam pengabdian masyarakat. Sementara pada skala global, ACT memiliki perwakilan yang disebut country representative person dan memiliki kantor cabang di Turki. Jangkauan aktivitas program global telah menjangkau 22 negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, Indocina, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa Timur.

Pemberdayaan aset wakaf

Dalam menjalankan misinya, ACT mendapat dukungan donatur publik dari  masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap permasalahan kemanusiaan dan juga partisipasi perusahaan melalui program kemitraan dan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). Sebagai bagian dari akuntabilitas keuangannya, ACT rutin memberikan laporan keuangan tahunan kepada donatur dan pemangku kepentingan lainnya, serta memublikasikannya melalui media massa. Laporan pun diaudit oleh Kantor Akuntan Publik.

“Orang yang enggak punya makanan boleh telepon 24 jam, langsung dikirim gratis, meneleponnya gratiskami tanggung biaya teleponnya, pengirimannya juga gratis.

Untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan, ACT juga mengelola aset wakaf dengan membentuk Global Wakaf Corporation (GWC). Melalui GWC, ACT membantu masyarakat Indonesia dan dunia dengan basis unit wilayah terkecil selevel desa. GWC bergerak membantu masalah kemanusiaan di sektor pangan. Misalnya melalui program Lumbung Beras Wakaf (LBW) dan Lumbung Ternak Wakaf (LTW). Bersama dengan program wakaf berbasis bisnis ritel, yakni Warung Wakaf dan Ritel Wakaf, seluruh program membentuk rantai pangan dari hulu ke hilir sebagai solusi total atas masalah umat di sektor pangan, baik dari sisi produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Ibnu Khajar menjelaskan, lumbung ternak dialokasikan dari dana wakaf karena untuk dua program utama dalam isu pangan, yakni kebutuhan supply kurban dan untuk kebutuhan program akikah atau bantuan kemanusiaan dalam bentuk hewan ternak untuk mendukung dapur umum.

Baca Juga: Simpul Sinergi Kemajuan Desa

Tahun ini, menyambut Hari Raya Kurban, ACT pun menyiapkan program Qurban Progresif memberikan pilihan masyarakat untuk berkurban dengan harga terjangkau dan progresif berdasarkan bulan. Di masa pandemi Covid-19 ini, ACT ingin program kurban tidak hanya sekadar sebagai sebuah ibadah unggul yang bersifat ritual, tapi juga sebagai ibadah sosial yang bisa menyelesaikan problem sosial.

Kita tahu, pandemi korona telah membuat ekonomi terpuruk. Banyak orang kehilangan usaha dan pekerjaan. Maka, ACT berinisiatif memberikan peluang bagi mereka. Caranya dengan mengajak mereka menjadi agen kurban. Para agen ini bertugas mengajak masyarakat untuk berkurban melalui ACT. Lebih-lebih, dalam kondisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti sekarang, masjid, sekolah tidak menyelenggarakan kurban.

Sebagai kompensasi, para agen kurban akan mendapatkan fee sekitar Rp 2 juta untuk setiap satu ekor sapi yang terjual. Kompensasi itu berasal dari alokasi subsidi yang tahun-tahun sebelumnya selalu diberikan kepada para pengurban sehingga harga hewan yang dibeli melalui ACT lebih murah dibandingkan harga hewan kurban di pasaran.

“Kami ingin kembalikan ke harga normal (bagi yang berkurban) supaya kami bisa berikan kepada para agen kurban untuk mereka dapat nafkah keluarganya. Kalau bisa mengajak satu keluarga berkurban sapi, kami berikan sekitar Rp 2,25 juta untuk satu ekor sapi,” jelas pria yang mulai bergabung di ACT sejak 2012 silam ini. Dengan target kurban 100 ribu ekor sapi tahun ini, Ibnu Khajar berharap bisa merekrut 100 ribu agen kurban.

Selain itu, bagi pedagang hewan kurban yang kesulitan memasarkan hewan kurban akibat PSBB, ACT pun membantu program penjualan melalui sistem digital marketing yang dimiliki ACT.

“Di Jakarta, kami dengan Pemprov DKI masuk dalam kolaborasi sosial berskala besar. Kami minta izin agar beberapa tempat tetap dibuka untuk lapak jualan. Supaya yang jualan itu tetap ada. Peternak di daerah yang amanah akan tetap hidup, yang jualan tetap jalan. Kami akan jualkan lewat sistem digital marketing kami supaya semua peternak, pelapak ini jadi mitra pengadaan hewan kurban kami,” jelas pria yang mulai bergabung di ACT sejak 2012 silam ini.

Masyarakat pun tak perlu khawatir jika tidak menjumpai masjid yang melakukan pemotongan hewan. Sebab, hewan itu akan dipotong di rumah pemotongan hewan dan didistribusikan melalui unity careline ACT.

Baca Juga: Berbagi Peta Keutamaan

“Kalau ini dilakukan maka RPH hidup, pedagang hidup, lapak hidup, pemilik ternak hidup, orang terkena PHK bisa aktif kembali, ojek on-line bisa tetap mengantarkan. Semua ini bisa jadi kontribusi lembaga ini untuk memutar kembali ekonomi masyarakat kita.”

Melalui program Lumbung Beras Wakaf, GWC memproduksi beras untuk didistribusikan melalui program-program kemanusiaan ACT. Sudah ribuan ton beras disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, baik di Indonesia maupun luar negeri.

“Kami kirimkan masuk ke Lombok dan Palu lebih dari 3000 ton. dari lumbung beras wakaf kita. Untuk mengatasi bencana kelaparan di Agats, Asmat (Papua) hampir 300 ton. Kami kirimkan ke Rohingya 2000 ton, Somalia 1300 ton, Suriah 1000 ton,” rinci Ibnu Khajar.

Di masa pandemi Covid-19 ini, ACT membuat program operasi pangan gratis melalui Humanity Careline berbasis komunikasi telepon bebas pulsa. Layanan penyediaan pangan pokok ini diberikan kepada warga terdampak wabah Covid-19 dan yang dikarantina wilayah sehingga kesulitan memperoleh kebutuhan pangan pokok, terutama beras.

“Orang yang enggak punya makanan boleh telepon 24 jam, langsung dikirim gratis, meneleponnya gratis—kami tanggung biaya teleponnya, pengirimannya juga gratis.”

Untuk proses pengiriman, Ibnu Khajar mengatakan, program ini sengaja bekerja sama dengan pengemudi ojek daring karena di masa pandemi Covid-19 ini mereka kehilangan mata pencaharian. Alasan kedua, tak lain adalah demi menjaga martabat orang yang dibantu. Dengan diantar, orang yang membutuhkan tak perlu datang mengantre untuk mendapatkan bahan makanan.

Baca Juga: Menyiapkan Gugus Tugas Tingkat RT untuk Penanggulangan COVID-19

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Community

Berbagi Ilmu dan Kisah di Balik Lensa

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. FPJ

Komunitas ini menjadi wadah untuk saling apresiasi dan berbagi pengetahuan tentang sinematografi. Melalui film, mereka ingin menyampaikan pesan dengan cara yang beda.

 

Sebuah karikatur sosok julid Bu Tejo—salah satu tokoh utama film pendek Tilik yang belakangan ini sedang viral tampak menghiasi akun Instagram resmi Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Di samping karikatur itu tertera tulisan potongan dialog Bu Tejo dalam bahasa Jawa yang dipelesetkan. Cukup menggelitik dan menarik perhatian pembacanya. “Hiiih… Dian kae bayare gede. Tapi durung nduwe NPWP, ya ampun…. (Hiiih… Dian itu penghasilannya besar, uangnya banyak, tapi belum punya NPWP.”

Melalui pelesetan itu, agaknya DJP ingin memanfaatkan momentum viral film pendek itu untuk menyisipkan pesan sosialisasi pajak. Selain DJP, banyak institusi pemerintah lainnya yang memanfaatkan momentum demam film pendek Bu Tejo yang telah ditonton lebih dari 21 juta penonton YouTube itu. Fenomena itu juga membuktikan bahwa kehadiran film pendek di tanah air saat ini tak bisa dipandang sebelah mata.

Muchammad Rizky, ketua komunitas Film Pendek Jakarta (FPJ) mengakui, jika dikemas dengan apik dan tepat, meski durasinya lebih singkat, film pendek justru efektif untuk menjadi medium menyampaikan pesan.

“Film itu media yang paling mudah untuk menyampaikan pesan dengan cara yang beda. Kita biasalah dengerin orang ngomong. Kadang masuk, kadang enggak. Namun, lewat film, dengan caranya sendiri itu bisa mengubah mindset orang. Menurut saya dampak film itu sangat kuat,” ujar pria asal Cirebon yang akrab dipanggil Chocho itu saat wawancara dengan Majalah Pajak, Selasa sore (1/9/20).

Baca Juga: Komunitas Rehabilitasi Jantung (KRJ) Jakarta Heart Center (JHC)

Kecintaan Rizky pada dunia videografi sudah dimulai sejak remaja. Ia semakin serius menekuni dunia audio visual itu saat kuliah di STIKOM Yogyakarta. Selepas kuliah, tahun 2013 ia hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai editor video di salah satu stasiun televisi nasional, dan beberapa perusahaan lainnya. Di dunia kerja, Rizky merasa rindu berkarya bareng teman-temannya seperti masa-masa kuliah di Yogya. Ia pun mulai mencari teman yang memiliki minat yang sama melalui sosial media.

Awalnya Rizky Adam masuk komunitas fotografi. Dari situ ia ingin mengembangkan ke bidang yang lebih luas, yakni sinematografi. Ia merasa, dunia sinematografi lebih menantang karena ada beberapa unsur seni lain di dalamnya, seperti seni musik, artistik, seni peran, dan lain-lain. Berangkat dari situ, Rizky ingin bisa menggabungkan beberapa orang dengan latar belakang seni yang berbeda itu. Akhirnya, bersama empat kawannya, tahun 2015 lalu ia membentuk komunitas sinematografi.

“Awalnya kami terbentuk dari komunitas sinematografi Jakarta yang ketemu di aplikasi Beetalk. Saat komunitas sinematografi Jakarta mulai enggak jalan, akhirnya kami berempat membuat komunitas Red Dot Cinema—titik merah, istilahnya. Lalu kami ubah menjadi komunitas Film Pendek Jakarta (FPJ). Meski membawa nama Jakarta, Rizky menegaskan, bukan berarti komunitas film pendek yang buat mewakili Jakarta, tetapi karena kebetulan domisili mereka ada di Jakarta dan sekitarnya.

“Siapa tahu di antara siswa-siswi itu bisa menjadi Riri Riza atau Rudi Soedjarwo selanjutnya.”

Barter

Komunitas ini dibentuk dengan niat untuk saling berbagi dan belajar bersama. Artinya, siapa pun yang memiliki minat yang sama boleh menjadi anggota. Mulai dari yang masih pemula hingga expert, dari status pelajar hingga pekerja, dan tua maupun muda.

“Tujuan kami bikin komunitas ini berharapnya apa yang saya dapat, saya bisa sharing sama teman yang ingin belajar, begitu juga sebaliknya. Saya percaya bahwa ada ilmu bermanfaat buat saya dan ilmu saya juga bisa bermanfaat bagi orang lain.”

Melalui komunitas ini, Rizky mengajak anggotanya untuk saling belajar di bidang sinematografi. Misalnya, menjadi sutradara, artistik, scoring musik, penulisan naskah hingga masalah post-production. Sejak dibentuk pada lima tahun lalu, FPJ kini beranggotakan 30 orang yang aktif berkarya dan telah memproduksi beberapa film pendek seperti Dear Diary, 108, Imaji dan Vlogue, Waktu dan beberapa film lainnya dengan beragam genre. Ada yang bertema cinta, persahabatan, hingga tema kampanye lingkungan.

Rizky mengatakan, dalam setahun, FPJ berusaha membuat film minimal dua film. Namun, selain memproduksi film, komunitas ini juga memiliki kegiatan rutin yang bersifat edukasi.

“Sebagai edukasi buat kami, ada namanya Video on The Spot. Itu ketika kami kumpul, sepakat untuk menangkap momen yang ada di lingkungan kita. Kami produksi saat itu juga, selesai produksi, edit, minggu depannya preview. Tujuannya, bagi teman-teman yang belum mengenal produksi, paling tidak tahu basic-nya. Kami sebut Video on The Spot—bukan film, karena film itu minimal harus ada skenarionya.”

Baca Juga: Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

Kegiatan lainnya produksi video klip dan NGOBRAS, akronim dari Ngobrol Asyik Soal Film. Untuk kegiatan itu, FPJ biasanya mendatangkan pemateri dari akademisi—dosen film, pekerja film profesional untuk berbagi ilmu tentang film.

Program terbaru FJP adalah Screening Keliling, yaitu acara nonton bareng film-film pendek dari berbagai komunitas film maker yang kemudian dibedah bareng bersama pembuatnya. Dalam program itu, peserta bebas bertanya dan memberi kritik yang membangun tentang proses kreatif lahirnya film-film yang dibedah itu.

Masih dalam konteks edukasi, FPJ juga beberapa kali terjun ke sekolah-sekolah untuk berbagi ilmu gratis kepada para pelajar tentang film. Dengan cara itu Rizky berharap, para pelajar yang memiliki minat terhadap sinematografi paling tidak sudah memiliki pengetahuan dasar industri kreatif itu.

“Paling tidak melalui workshop itu akan membangkitkan minat mereka yang belum mengenal film—‘Oh pembuatan film seperti ini ya?’. Siapa tahu di antara siswa-siswi itu bisa menjadi Riri Riza atau Rudi Soedjarwo selanjutnya. Kami mencoba untuk memajukan film Indonesia semampu kami.”

Masih ada pungli

Rizky berharap pemerintah pun mendukung sektor kreatif ini. Banyak kejadian di lapangan yang menurutnya bisa menghambat kreativitas para film maker yang ingin membuat karya untuk belajar. Misalnya soal perizinan lokasi syuting. Untuk tempat-tempat publik atau properti publik, seperti halte busway, taman-taman publik seharusnya izin dipermudah. Namun, pada praktiknya untuk mendapatkan izin, birokrasinya sering berbelit dan susah. Bahkan, masih banyak oknum yang melakukan pungutan liar (pungli).

Baca Juga: Bugar-Kuat ala Prajurit Sparta

“Saat di Yogya dulu, saya mudah sekali untuk izin menggunakan tempat untuk membuat film. Di Jakarta ternyata beda—semua ujung-ujungnya serbaduit. Jangan sampai kreativitas mereka yang sedang belajar terhambat oleh birokrasi perizinan yang sulit, apalagi pungli oleh oknum. Kami bukan untuk tujuan komersial kok,” keluh Rizky.

Lanjut baca

Community

Tabah Mencintai Alam dan Lingkungan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Rivan Fazry dan Dok. Arkadia

Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”—Soe Hok Gie

 

Kutipan milik Soe Hok Gie ini mungkin tak asing di kalangan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala). Selain kritis dan selalu terlibat dalam pergerakan mahasiswa, Soe Hok Gie merupakan sosok penting dalam perintisan organisasi Mapala Universitas Indonesia.

Jenuh dengan situasi yang penuh intrik dan konflik politik di kalangan mahasiswa waktu itu, Hok Gie mengusulkan untuk membentuk suatu organisasi yang bisa menjadi wadah berkumpulnya berbagai kelompok mahasiswa. Hok Gie bersama perintis lainnya membentuk Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (Impala) pada 8 November 1964, yang kemudian berganti nama menjadi Mapala Prajna Paramita atau kekinian disebut Mapala UI.

Cikal bakal organisasi Mapala ini kemudian menginspirasi perguruan tinggi lainnya—bahkan ke tingkat sekolah menengah—untuk membentuk wadah serupa. Kini, organisasi Mapala bisa ditemukan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya yakni Komunitas Pencinta Alam (KPA) Arkadia. Didirikan pada tanggal 2 Oktober 1989 di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (IAIN Jakarta saat itu), Arkadia merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang kepencintaalaman.

Baca Juga: Ajak Warga Kembangkan Ekowisata

Arkadia, kependekan dari Arti Keindahan dan Keagungan Alam, dipelopori oleh balasan aktivis kampus UIN Syarif Hidayatullah yang menggemari kegiatan alam bebas, kepedulian terhadap kelestarian, dan pelestarian lingkungan hidup. Kegiatan KPA Arkadia berfokus kepada advokasi dan konservasi lingkungan, Search and Rescue (SAR), kemanusiaan dan sosial, penjelajahan adat dan budaya, serta kegiatan alam bebas.

Ketua Umum KPA Arkadia 2019–2020 Wildan Abdul Aziz mengungkapkan, awalnya UKM ini dibentuk sebagai wadah berkumpul saja, tanpa ada konsep organisasi yang jelas. Seiring semakin meningkatnya tren pendakian gunung, KPA Arkadia kian menjadi salah satu UKM yang paling diminati mahasiswa baru di kampus yang berlokasi di Ciputat Timur, Tangerang Selatan ini. Hingga saat ini, anggota aktif KPA Arkadia mencapai 260 orang.

Riset

Wildan yang akrab dipanggil Coker ini mengatakan, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berminat untuk mengikuti UKM ini mesti melewati berbagai tahapan. Dibutuhkan ketekunan, konsistensi, dan loyalitas bagi si pendaftar baru. “Tabah sampai akhir”, begitu slogan KPA Arkadia yang disebut Coker.

Setelah mengisi formulir anggota baru, mahasiswa akan melewati serangkaian tahapan sebelum disemat sebagai anggota muda, lalu menjadi anggota aktif. Perlu sekitar satu tahun bagi anggota baru sebelum ia resmi menjadi anggota aktif.

Awalnya, para cakar—sebutan untuk calon anggota muda—akan menerima sejumlah materi tentang organisasi, gua, alam, manajemen bencana alam, dan seputar lingkungan selama kurang lebih 30 hari. Meski materi baru disampaikan di ruang kelas, para mahasiswa akan mulai terbiasa ditempa secara mental.

“Kalau di sini, kan, kami genjot lebih ke mental, loyalitas untuk meluangkan waktu buat ini. Soalnya, memang enggak sedikit juga waktu yang kita korbanin untuk (melaksanakan UKM) ini. Pas materi kelas juga sudah kami genjot benar-benar fisik sama mentalnya. Gimana dia disiplin, diukur ketepatan waktu dia datang ke kelas, terus pengaplikasian materi yang sudah dikasih akan dites juga,” urai Coker kepada Majalah Pajak di gerbong (sebutan untuk kantor sekretariat) KPA Arkadia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (30/7).

Setelah berhasil melewati materi kelas, calon anggota muda akan menjalani latihan fisik sekitar dua hingga tiga minggu untuk persiapan pendidikan selama tujuh hari di Gunung Salak, Jawa Barat. Mereka mesti memastikan semua peralatan, mental, fisik, hingga logistik dipersiapkan dengan matang agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Selama tujuh hari di Gunung Salak, para cakar akan mengaplikasikan materi-materi yang mereka pelajari di kelas. Mereka akan dilatih untuk menjadi pribadi nan tahan di segala medan dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.

“Di sana kaya survival di keadaan yang paling rendah di alam; gimana kita cari makan, gimana kita masak, pokoknya kita bertahan di titik itu. Terus kalau kita enggak bawa tenda, akhirnya pakai bivak alam. Jadi, ada tes mentalnya, tes fisiknya, juga sedikit men-treatment sama doktrin-doktrin biar mereka tetap kuat dan tabah,” papar Coker.

Setelah kembali ke kampus, cakar akan disemat menjadi anggota muda. Tak berhenti sampai di situ, proses selanjutnya para anggota muda diperkenankan mengikuti pendidikan lanjutan dengan memilih satu dari enam divisi peminatan, yaitu susur gua, panjat tebing, arung jeram, gunung hutan, menyelam, dan lingkungan hidup. Tujuannya, agar masing-masing anggota muda ini fokus saat mengikuti kegiatan.

Baca Juga: Wisata Alam Segera Dibuka, Kemenparekraf Ingatkan Patuhi Protokol Kesehatan

Proses pelantikan menjadi anggota resmi KPA Arkadia dilakukan dengan menempuh perjalanan sesuai kesepakatan masing-masing pengurus divisi. Coker menyebut, kegiatan perjalanan itu biasanya akan menghasilkan data riset dan diolah menjadi bentuk tulisan, setelah itu anggota muda mempertanggungjawabkan hasil riset di hadapan pengurus.

“Yang turun di garda terdepan untuk membela lingkungan sekitar, ya mahasiswa pencinta alam”

“Misalnya, kemarin dia perjalanan ke Pulau Bawean. Di sana habitatnya rusa, jadi dia meneliti rusa; termasuk penduduk, adat, sosial budaya; dan yang utama potensi alam di sana gimana, ekologisnya gimana. Dia riset selama dua minggu lebih akhirnya pulang bawa data, datanya diolah. Sekarang lagi proses pembuatan bukunya—Pulau Bawean itu. Setelah itu dia bikin laporan pertanggungjawaban, kami sidang hasilnya. Kalau berhasil, dia akan disemat jadi anggota resmi.”

Pengabdian

Coker pun menampik anggapan negatif mengenai Mapala yang identik dengan nongkrong dan hura-hura. Pasalnya, anggota KPA Arkadia dilatih untuk bisa bermanfaat bagi diri sendiri, alam, dan masyarakat luas. Ini sesuai dengan visi KPA Arkadia yang berkenaan dengan Tri Dharma Perguruan tinggi yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Mapala sering aksi untuk isu lingkungan, cuma kurang ke-up sama media aja. Banyak Mapala yang bersuara di kasus-kasus lingkungan seperti kawasan karst dieksploitasi, betonisasi di sungai-sungai. Cuma, kembali lagi dipandang sebelah mata, sebenarnya ini juga perlu diperhatikan. Soalnya, potensi alam kita buat ke depannya dan keberlangsungan hidup yang pasti dan enggak cuma politik saja. Yang turun di garda terdepan untuk membela lingkungan sekitar, ya mahasiswa pencinta alam. Sayangnya, selama ini yang terliput aksi politik saja,” keluh Coker.

Kegiatan nyata yang baru-baru ini dilakukan anggota KPA Arkadia yakni membantu penanganan bencana banjir dan longsor yang menerjang Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

“Kami sama-sama kawan relawan UIN Jakarta yang tergabung dari beberapa UKM UIN sedang garap dan open donasi, lalu ada satu anggota relawan yang sudah berangkat ke sana. Kami juga berkoordinasi dengan Mapala daerahnya juga. Pokoknya insya Allah setiap ada bencana atau ada wilayah yang kena dampak bencananya, kami turun bareng sama anak-anak relawan.”

Tak hanya itu, anggota KPA Arkadia juga banyak terlibat pada pengabdian di masyarakat, baik memberikan edukasi ataupun memberikan donasi. Semisal, ada suatu daerah yang kurang melek teknologi, maka mereka akan mengedukasi seputar itu. Di lain hari, mereka mengedukasi penduduk desa di suatu wilayah terpencil yang masih senang berburu hewan liar di hutan-hutan.

Baca Juga: Ajak Mahasiswa Jadi Relawan

“Jadi, kami lihat situasi dari desanya, kira-kira apa kebutuhannya, apa kekurangannya atau memang ada potensi wisata di situ. Seperti Pulau Bawean juga banyak yang belum tahu, cuma di situ dari segi laut bagus, hutannya bagus, bagus untuk dijadikan potensi wisata. Itu, kan, bagus untuk pemberdayaan ekonomi rakyat di sana.”

Di masa awal pandemi, KPA Arkadia juga terlibat membagikan masker, sanitasi tangan, penyuluhan cuci tangan yang benar, hingga edukasi agar terhindar dari virus korona di seputar Jabodetabek. Saat ini, kegiatan itu terus berlanjut berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hampir 500 titik area Jabodetabek yang ditargetkan untuk pembagian masker selama 7 hari.

KPA Arkadia juga menggaungkan zero waste untuk mengurangi penggunaan dan sampah plastik. Program ini lakukan oleh anggota-anggota KPA Arkadia baru kemudian menularkannya ke lingkungan sekitar.

“Kami ke mana-mana pakai tumbler, jajan juga pakai Tupperware sendiri. Kami ngadain (penyuluhan) juga ke masyarakat, dan diskusi sama mahasiswa di sini. Kami sudah jengah dengan sampah plastik yang enggak ramah lingkungan sama sekali. Itu juga bertolak belakang sama visi misi kami.”

Prestasi

Dengan segambreng aktivitas seputar alam, sosial, dan lingkungan yang dijalani, KPA Arkadia memiliki segudang prestasi yang diakui banyak pihak. Beberapa di antaranya yakni predikat Rekor Muri Indonesia sebagai pendaki wanita terbanyak dalam kegiatan Pendakian Massal Kartini 2014; Rekor Muri Indonesia membentangkan bendera merah-putih berukuran 15×10 meter di Gunung Damavand, Iran atau titik tertinggi Timur Tengah pada tahun 2017 pada Ekspedisi Raya Arkadia ke-1, serta juara tiga di kejuaraan Malaysian Polytechnic International Orienteering Challenge 2018.

Sebetulnya, sejak awal tahun KPA Arkadia tengah menyiapkan Ekspedisi Raya Arkadia ke-2, dan Ekspedisi 5 Hutan Adat di luar Pulau Jawa, dan merencanakan Ekspedisi Sungai Arung Jeram di sungai terpanjang di Australia. Sayangnya, akibat Covid-19, semua itu mesti tertunda karena kegiatan kampus ditiadakan.

Coker dan pengurus lainnya kemudian mengisi kegiatan dengan membuat siniar (podcast) di platform digital agar sosialisasi atau edukasi yang selama ini mereka lakukan tak terhenti.

“Semenjak ada Covid-19, kami rutin bikin podcast Arkadia, isinya seputar Arkadia, dan membahas lingkungan. Kemarin sempat kami angkat tentang TPA Cipuecang (Tangerang Selatan), tumpukan sampah di sana tumpah sampai ke sungai Cisadane,” pungkas Coker.

Lanjut baca

Community

Simpul Sinergi Kemajuan Desa

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Dengan semangat memberi, komunitas ini bergerak setahap demi setahap untuk menginspirasi dan mengakselerasi kesejahteraan desa.

 

Ada seribu alasan untuk mencintai desa. Dalam bahasa Sanskerta, desa bermakna ‘tanah tumpah darah’. Desa adalah mula sebuah peradaban. Tempat lahir dan bertumbuhnya ragam budaya dan kearifan lokal. Kehidupan sosial yang tenteram, sumber daya alam melimpah dan tradisi yang senantiasa terjaga adalah gambaran indah saat membayangkan suasana desa.

Desalah masa depan kita. Di lumbung kita menabung, datang paceklik kita tak bingung. Masa panen masa berpesta…,” kata Iwan Fals dalam lirik salah satu lagunya untuk menggambarkan betapa kaya dan tenteramnya kehidupan di desa.

Ironisnya, masih banyak desa yang oleh Iwan Fals disebut sebagai harapan masa depan itu kini justru menjadi kantung-kantung kemiskinan. Terlalu lama bangsa ini terlena dengan paradigma metro sentris sehingga kesenjangan menganga begitu lebar. Desa hanya berfungsi sebagai hinterland (pemasok kebutuhan kota), tanpa dibarengi dengan laju pembangunan yang memadai. Para pemuda memilih berbondong-bondong meninggalkan tanah kelahiran mereka demi mengadu untung di kota. Padahal, solusi masalah di perkotaan sejatinya justru ada di desa. Desa-desa hanya dihuni oleh sumber daya manusia yang tak lagi produktif dan inovatif. Akibatnya, desa dan segala potensinya yang melimpah itu semakin terabaikan, terkubur bersama romantisme gemah ripah loh jinawi yang disematkan.

Pemerintah pun tak tinggal diam. Mengusung jargon membangun Indonesia dari pinggiran, pembangunan tidak lagi terpusat di perkotaan, tetapi menyebar hingga seluruh pelosok tanah air. Kebijakan anggaran belanja negara dan tata kelola keuangan pemerintah daerah diarahkan untuk meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan menjamin pemenuhan pelayanan dasar seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Peningkatan anggaran daerah juga diharapkan mampu mempercepat pembangunan daerah tertinggal dan kawasan perbatasan dan mengoptimalkan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah.

Baca Juga: Merawat Geliat Ekonomi Desa

Melalui alokasi Dana Desa, pemerintah juga berupaya mengatasi permasalahan ekonomi di desa, seperti mengurangi kemiskinan, menurunkan angka pengangguran dan, menghambat laju urbanisasi sehingga ketimpangan bisa dipersempit. Upaya itu pun sudah bisa dilihat hasilnya. Angka kemiskinan terus menurun, pembangunan di daerah maju pesat dan kesejahteraan masyarakat pun meningkat. Kini semakin banyak desa yang maju dan mampu berdikari. Desa-desa yang dulu tertinggal pun mulai menggeliat bangkit.

Merajut kepedulian

Capaian itu tentu saja belum cukup, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu luas. Dengan jumlah desa di Indonesia yang nyaris mencapai 75 ribu, pemerintah tak akan bisa bekerja sendiri. Pemerintah butuh sumbangsih dari elemen masyarakat untuk bisa merawat dan memajukan desa.

Untungnya, sejak dulu bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jiwa gotong royong yang tinggi. Ada banyak orang atau organisasi yang secara suka rela mau mengabdikan diri untuk memajukan desa. Contohnya adalah yang telah dilakukan Tohirin melalui Komunitas Cinta Desa (KDC) yang ia rintis sejak 2018 lalu. Melalui komunitas ini, widyaiswara Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan ini mengumpulkan orang-orang dari berbagai unsur masyarakat yang memiliki spirit yang sama dengannya untuk ikut bahu membahu membangun desa.

“Hati nurani saya terpanggil, ingin membuat sebuah komunitas yang paling tidak bisa memberikan sedikit pencerahan kepada negeri.”

Sebagai sosok yang lahir dan tumbuh di desa, Tohirin memang akrab dengan masalah-masalah yang umumnya dihadapi desa. Lebih dari itu, pria asal Pekalongan Jawa Tengah ini sejak 2014 hingga 2017 lalu juga sering kali mendapat tugas dari institusinya untuk mengajar di beberapa daerah di Indonesia tentang pengelolaan keuangan desa.

“Sebenarnya sudah dari awal saya punya keinginan bagaimana untuk memajukan desa, cuma caranya belum ketemu. Ketika mulai berinteraksi, saya melihat jumlah desa di Indonesia itu sangat banyak—hampir 75 ribu. Ini jangkauannya sangat luas. Hati nurani saya terpanggil, ingin membuat sebuah komunitas yang paling tidak bisa memberikan sedikit pencerahan kepada negeri,” ujar Tohirin akhir Mei lalu.

Momen yang dinanti itu datang tahun 2019, ketika Tohirin berkunjung Ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat itu, salah seorang kenalan memintanya untuk membuat kelas untuk membantu perangkat desa yang kesulitan memahami aspek perpajakan di desa.

“Ada satu orang yang curhat kepada saya begitu tahu saya orang BPPK. Beliau langsung bilang, ‘Pak Tohirin bantuin saya untuk bantu teman-teman desa, mereka kesulitan aspek pajak,’. ‘Saya bilang, ‘Baik, Pak, nanti kami bantu, di kantor saya ada ahli pajak,’”.

Singkat cerita, setelah berkoordinasi dengan teman-teman kantornya yang ahli pajak, Tohirin membuka open class. Ajang itu memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk mengikuti. Tak disangka, peserta membeludak dari perkiraan. Dari 60 peserta yang targetkan, pendaftar mencapai 200. Akhirnya, open class dibuat dua kali dengan peserta 100 orang per angkatan.

“Tiga hari sebelum acara dimulai, saya bertekat, acara ini harus terstruktur, jangan sekadar open class lalu selesai. Dari situlah saya meng-create sebuah komunitas yang namanya Komunitas Cinta Desa,” tutur Tohirin.

Sukses melakukan kelas pajak, berikutnya Tohirin bersama Balai Diklat Keuangan Malang menggelar kelas pengelolaan keuangan desa selama 10 kali berturut-turut.

“Kebetulan dari BDK Malang ada dana yang harus dilakukan penyerapan anggaran, kemudian saya mendorong BDK Malang untuk mengadakan open class dengan tema yang fenomenal. Alhamdulillah, kami berhasil melakukan open class pengelolaan keuangan desa itu 10 kali. Ini pertama kali dalam sejarah, open class oleh BDK sampai 10 kali.”

Melihat manfaatnya yang begitu besar untuk memajukan desa, Tohirin kian semangat mengukuhkan keinginannya untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki semangat memberdayakan desa. Komunitas itu akhirnya dideklarasikan pada September 2019 dengan anggota awal hanya sekitar 10 orang. Namun, Tohirin yakin, seiring perjalanan waktu akan semakin besar dan bermanfaat. Dibangun dengan pola bola salju, komunitas ini bergerak perlahan-lahan, setahap demi setahap dan terus melangkah menginspirasi gerakan mencintai desa. Dari Kota Malang, KCD akan masuk ke kota-kota lainnya untuk bersinergi dan bermitra dengan para pemangku kepentingan yang berinteraksi dengan pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat, dan BUMDes

Baca Juga: Edukasi dan Pengawasan Pajak Dana Desa

Melalui komunitas ini, Tohirin berharap semua anggota bisa membagikan kompetensi, informasi, pengetahuan yang dimiliki untuk kemajuan desa sesuai dengan bidangnya masing-masing. Saling memperkuat di antara anggota tim dan melakukan segala aktivitas dengan penuh semangat keikhlasan.

“KCD adalah nonprot organization, bersifat sosial dan panggilan hati nurani. KCD dibangun dengan semangat memberi, bukan meminta. Komunitas ini tidak akan mengambil peran Kemendagri, Kemendes PDTT, dan Pemda, tetapi sebagai jembatan atau hub of networking agar terbentuk sinergi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” tegas Tohirin.

Kini dalam waktu satu tahun, anggota KCD telah mencapai 176 orang yang tersebar di lebih dari 25 kota, dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari pegawai kementerian/lembaga terkait di level pengambil kebijakan, dinas-dinas di pemda, pendamping desa, pemberdaya desa, akademisi, insan media, hingga perangkat desa. Pemimpin desa yang inovatif pun diajak bergabung dengan komunitas ini untuk menularkan virus inovasinya ke desa-desa lainnya.

“Jadi, ini termasuk community of practice yang menurut saya sangat lengkap. Dari level kebijakan di kementerian/lembaga ada, level bupati pun ada, camat ada, kades ada, sekretaris ada, bendahara ada, petani, peternaknya—lengkap. Kadang diskusinya tema-tema kecil. Namun, kadang soal kebijakan karena memang kami ingin, pengambil keputusan bisa melihat realitas di lapangan. Sedangkan teman-teman di lapangan bisa langsung confirm kepada pengambil keputusan ketika ada hal yang tak sesuai.”

Komunitas ini memang baru sebuah permulaan. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya entitas yang mau bergabung dan menyumbangkan keahlian, Tohirin berharap kehadirannya akan menjadi akselerator pembangunan desa. Dengan demikian, di negeri ini akan semakin banyak desa yang mampu mengoptimalkan potensinya sehingga menjadi desa yang maju dan mandiri.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News9 jam lalu

1 Syarat, 5 Strategi Mencapai Pemulihan Ekonomi

Jakarta – Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis, pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2021 dapat terwujud dengan...

Breaking News1 hari lalu

4 UKM Berorientasi Ekspor Dapat Kucuran PEN Rp 9,5 Miliar dari LPEI

Surabaya, Majalahpajak.net – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memberikan pembiayaan modal kerja melalui skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) senilai Rp...

Breaking News2 hari lalu

Satgas Penanganan Covid-19 Siapkan 500 Relawan Papua Sebagai Agen Perubahan

Jayapura, Majalahpajak.net – Bidang Koordinasi Relawan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menggelar program pelatihan untuk 500 Relawan Provinsi Papua. Pelatihan ini...

Breaking News3 hari lalu

Mampu Bertahan Hadapi Pandemi, Pegadaian Sabet 3 Penghargaan BUMN Award

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memperoleh tiga penghargaan bergengsi sekaligus dalam acara Bisnis Indonesia Top BUMN Award 2020. Perusahaan...

Breaking News4 hari lalu

Insentif Pajak Selamatkan Wajib Pajak dari Dampak Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Tujuh puluh persen dari 12.800 Wajib Pajak (WP) menilai insentif perpajakan mampu menyelamatkan usaha dari dampak pandemi...

Breaking News4 hari lalu

BUMN ini Buka Lowongan Kerja Bagi Lulusan Diploma

JAKARTA, Majapahpajak.net – Kabar gembira bagi para sarjana muda yang tengah mencari kerja. PT Rajawali Nusindo membuka berbagai lowongan kerja...

Breaking News5 hari lalu

Ini 5 Tren Pekerjaan Usai pandemi, Tenaga Kerja Harus Menyesuaikan Diri

Jakarta, Majalahpajak.net – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus lalu setidaknya terdapat 29,12 juta pekerja terimbas pandemi Covid-229. Sebanyak...

Breaking News1 minggu lalu

Mandat diperluas, SMF Sokong Pemulihan Ekonomi Nasional Lebih Optimal

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkuat perannya dalam mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)...

Breaking News1 minggu lalu

Memontum Membangun Teknologi Informasi untuk Indonesia Maju

Jakarta, Majalahpajak.net – Di tengah upaya menghadapi dampak Covid-19, Pemerintah melalui APBN 2021 serius mendukung perkembangan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi...

Breaking News2 minggu lalu

Saatnya UMKM “Move On” dari Pandemi

Pemerintah berupaya melakukan percepatan pemulihan ekonomi dengan memberikan insentif di beberapa sektor usaha termasuk bagi pelaku Usaha mikro, kecil, dan...

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved