Connect with us

TAX PEOPLE

Awali dengan yang Sederhana

Diterbitkan

pada

Rizky Febian/Foto: Tri Wisnu Husdianto

Penyanyi sekaligus influencer Rizky Febian mengungkapkan, di saat pandemi seperti sekarang hampir semua bidang terkena dampak. Baik itu pekerja seni, pegawai kantoran dan maupun sektor lainnya. Menurutnya, yang menjadikan hal itu sulit adalah masih banyak masyarakat sulit beradaptasi dalam menghadapi pandemi tersebut.

“Jadi, harus putar otak bagaimana caranya untuk tetap bisa bertahan dan memikirkan kira-kira ada peluang apa di era pandemi seperti sekarang,” ungkapnya kepada Majalah Pajak melalui sambungan telepon, Senin (27/09).

Awal pandemi terjadi, Rizky mengaku sempat mengalami kesulitan. Terlebih saat itu ia baru mengeluarkan single terbaru dan ditakutkan tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi. Sampai akhirnya ia merilis lagu tentang pandemi berjudul “Melawan demi Dunia”, dan ternyata masyarakat merespons dengan baik.

Menurut pria kelahiran 25 Februari 1998 ini, tiap orang harus tetap kreatif dan tidak menganggap pandemi ini sebagai hambatan untuk taat pajak. Apalagi di era digital seperti sekarang, pelayanan pajak telah kian membaik dan sudah didukung dengan sistem daring.

“Dengan taat pajak, setidaknya kita men-support untuk kesejahteraan negeri kita. Sekarang, kan, juga dipermudah. Apa-apa lewat sistem on-line, pelayanan juga lebih ramah dan gampang. Jadi, menurut aku justru kalau ingin dianggap sebagai warga negara Indonesia yang baik, awali dari hal yang sederhana dulu, yaitu taat pajak,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pajak bukanlah hal untuk ditakuti, karena justru dari hasil pajaklah pemerintah melayani kepentingan masyarakat, seperti penyediaan vaksin Covid-19 dan pembangunan Indonesia ke depan.

Tak ingin lalai menunaikan kewajiban perpajakannya lantaran terhalang kesibukan, Rizky sampai meminta bantuan orang khusus. Ia ingin dapat menjalankan kewajiban perpajakannya secara tepat waktu.

Pria yang kerap dipanggil Iki ini berharap, manfaat pajak ke depannya dapat lebih dirasakan oleh sektor industri kreatif dengan cara menyediakan wadah khusus bagi seniman untuk berkreativitas.

“Sampai detik ini musisi hanya di jadikan sebagai hiburan saja. Aku berharap ke depannya musik bisa menjadi suatu hal yang patut diperhitungkan,” pungkasnya.

TAX PEOPLE

Masa Muda, Masa Eksplorasi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Karin Novilda Selebgram, Influencer/Foto: Istimewa

Influencer dan kreator konten Karin Novilda atau Awkarin mengungkapkan banyak orang yang hanya fokus kepada Covid-19 saja, dan melupakan penyakit lain yang sama bahayanya, misalnya penyakit mental.

“Menurut aku penyakit mental ini adalah salah satu dampak juga dari Covid-19, karena orang yang tadinya setiap hari kerja keluar, bisa hangout keluar, namun kemudian dia harus di isolasi di rumah. Itu juga sangat memengaruhi mental kita,” ungkapnya dalam siniar (podcast) Rujak (Ruang Pajak) yang diadakan oleh Kantor Wilayah DJP Jakarta Timur, Selasa (28/09).

Ia berpendapat, jika ingin sehat dan bahagia, manusia harus menjaga dan menyeimbangkan dua hal, yaitu kesehatan fisik dan kesehatan mental.

Wanita berusia 23 tahun ini menekankan pentingnya anak muda untuk mempunyai konsep haus ilmu.

“Lu harus selalu ngerasa haus akan pengetahuan karena pengetahuan itu enggak ada limitnya. Dan, selagi masa produktif juga, di masa muda, kenapa enggak coba explore semuanya?” ujarnya.

Wanita dengan 7,1 juta pengikut di Instagram ini juga menjelaskan bahwa pajak merupakan kewajiban yang memang harus ditunaikan oleh setiap warga negara Indonesia.

“Fasilitas yang kita nikmati selama ini di Indonesia tanpa disadari sebenarnya merupakan bagian dari kita membayar pajak. Kadang orang suka komplain kenapa jalan kayak gini segala macam. Ya, mungkin lu belum bayar pajak kali,” jelasnya.

Menurut Awkarin, banyak generasi muda dan masyarakat yang masih takut dengan kata pajak, yang didasari oleh kurangnya pengetahuan dan edukasi tentang pajak di masyarakat.

Ia berharap generasi muda sekarang mau mengedepankan riset dan tidak apatis terhadap pajak. Dengan riset dan mencari tahu tentang pajak, mereka akan memiliki kesadaran bahwa pajak itu penting. Selanjutnya, mereka dapat turut mengedukasi orang lain agar ikut taat pajak.

“Anak muda zaman sekarang yang sukses harusnya melihat masyarakat middle to low. Mereka justru yang taat pajak. Apa enggak malu sama mereka yang pendapatannya tidak seperti kalian, tapi mereka taat pajak?” imbuhnya.

Lanjut baca

TAX PEOPLE

Terbantu Insentif dan Kolaborasi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pandemi Covid-19 sangat memukul seluruh sektor usaha, tak terkecuali usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktor sekaligus pelaku UMKM Teuku Wisnu mengungkapkan, sektor yang paling besar terkena dampak pandemi adalah pariwisata, termasuk usaha oleh-oleh.

“Ketika pandemi, kan, ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sehingga enggak ada mobilisasi atau wisatawan ke Malang. Ini sangat memukul kami di bisnis oleh-oleh. Penurunan omzet bisa sampai 90 persen,” ungkapnya dalam webinar “Sosialisasi Pajak dan UMKM Pekan Raya Perpajakan 2021”, Rabu (14/07).

Melihat hal tersebut, ia bersama manajemen sempat ingin memutuskan untuk tidak produksi secara total dan menutup semua gerai. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk tetap bertahan dengan hanya membuka dua dari delapan gerai yang biasa dibuka.

Suami Shireen Sungkar ini menjelaskan, untuk bertahan di masa pandemi ia antara lain berkolaborasi dengan pelaku usaha lain, mulai dari menjadi official store Arema Malang, hingga bergabung dalam event Virtual Run. Selain itu, untuk tetap dekat dengan pelanggan, ia juga membuat customer reward dan beberapa kejutan atau hadiah kecil. Bahkan, ia memberanikan diri membuka dua cabang baru untuk membangkitkan semangat pelaku usaha di industri pariwisata.

Aktor kelahiran Aceh ini sangat mengapresiasi pemerintah khususnya dalam pemberian insentif pajak bagi pelaku UMKM.

“Bagaimanapun juga pajak kalau misalnya di finance itu kita masukkan di cost sehingga bahasanya jadi beban yang harus kita bayar. Ketika insentif ini kita dapat di masa pandemi, benar-benar membantu terutama para pelaku UMKM,” jelasnya.

Menurutnya, membayar pajak bagi para pelaku usaha itu penting banget, karena salah satu pendapatan negara berasal dari pajak. “Dengan membayar pajak, berarti kita ikut membantu menyumbang negara untuk kemaslahatan masyarakat dan mengembangkan negara kita dengan sebaik mungkin,” ujarnya.

Ia melanjutkan, membayar pajak juga dapat memberikan poin positif bagi pelaku usaha atau WP. Membayar pajak akan menghindarkan WP dari masalah pajak di kemudian hari, serta meningkatkan legalitas, profesionalitas, dan kredibilitas usaha.

Di kesempatan itu, ia berharap peraturan perpajakan yang kompleks dapat disederhanakan dan diantarkan dengan sosialisasi yang optimal.

“Dibikin sesimpel mungkin agar yang lain juga bisa taat pajak. Selain itu, kalau bisa, tarif pajaknya jangan terlalu tinggi,” pungkasnya.

Lanjut baca

TAX PEOPLE

Bikin Orang Tergoda Bayar

Diterbitkan

pada

Penulis:

Si Crazy Rich Surabaya Arizal Liwafa alias Tom Liwafa, influencer yang viral lantaran membakar tas mewah senilai Rp 50 juta dan membeli tunai mobil Atta Halilintar seharga Rp 3 miliar, kini beserta istrinya telah memiliki 12 lini bisnis. Melalui merek Handmadeshoesby & Delvationstore, pria yang gemar sedekah ini sukses membangun bisnis di bidang garmen fesyen seperti tas, pakaian wanita, sepatu, jam tangan, dan lainnya selain merambah ke bisnis makanan, minuman dan hiburan. Produknya ia sebar ke berbagai UMKM di daerah Mojokerto, Tanggulangin, Bojonegoro, Nganjuk dan Lamongan.

Di awal pandemi Covid-19, usaha pria kelahiran Mojokerto ini merugi. Namun, seiring pelaksanaan vaksin gratis, bisnisnya pun perlahan bangkit.

“Memang dampak vaksinasi untuk perekonomian alhamdulillah akan baik. Saya positif bahwa ini akan membuat penerimaan pajak juga akan semakin meningkat,” jelasnya. Ia mengapresiasi pemberian insentif pajak dari pemerintah yang menurutnya amat membantu pengusaha di masa pandemi.

Tentu saja influencer dan pengusaha ini tak lupa membayar pajak.

“Saya pikir pajak itu adalah suatu kewajiban yang harus kita lakukan, dan merupakan kontribusi bagi negara,” ungkapnya dalam webinar Dialog Interaktif Perpajakan yang diadakan oleh KPP Pratama Surabaya Gubeng, Kamis (10/06). Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan Jepang dan Singapura, sistem pajak di Indonesia lebih enak dan mudah karena sistem pelaporannya masih menggunakan self-assessment.

Tom mengatakan, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian pengusaha masih menganggap pajak sebagai momok. Pajak seolah sama dengan kena surat tilang dari polisi. Oleh karena itu, ia mengimbau tiap kantor pajak untuk menciptakan kesan nyaman bagi Wajib Pajak (WP).

“Kenapa di beberapa kantor itu suasananya membuat kita sudah merasa terintimidasi untuk bicara. Namun, ketika suasana menjadi nyaman, saya pikir teman-teman ini akan lebih terbuka,” ujarnya. “Misalkan ada kafe atau pojok atau apa yang enggak perlu besar, di mana nanti teman-teman influencer, musisi, atau pengusaha, bisa nongkrong enak dan santai, sambil ngomongin masalah pajak,” lanjutnya.

Ia juga mengimbau kantor pajak untuk memberikan penghargaan kepada seseorang yang berpengaruh dengan cara memberikan ruang, baik melalui poster dan sebagainya agar WP mencontoh idolanya yang taat pajak.

“Ketika pajak dinilai sangat penting, dan pajak tidak semenyeramkan yang dipikirkan, maka orang tergoda untuk mungkin pertama tanya, sharing, dan sadar. Ketika sadar, maka ia akan bayar,” pungkasnya.

 

Lanjut baca

Populer