Terhubung dengan kami

Tax Light

Aphantasia

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Photo Mehdinom/Wikimedia via The Daily Dot.

Kita mengenal “revolusi karakter”. Namun, sebelumnya perlu upaya untuk berkenalan dengan karakter diri kita sendiri. Tahapan pertama dengan mengenali kebutuhan diri, tujuan hidup, dan arti ada-tiada seorang manusia melalui berbagai bentukan rasa.

Salah satu bentuk adalah ketakutan.

Ketakutan, merupakan bentuk dari menerima apa yang diberikan Sang Pencipta tanpa bertanya kenapa dan bagaimana. Ketika seorang manusia sudah berhasil melahirkan ketakutan dalam dirinya untuk mengeluh atas apa yang dia peroleh, dia akan dikelilingi oleh harapan bahwa yang diperolehnya adalah yang terbaik dari Sang Pencipta. Maka karakter yang melingkupinya adalah keajaiban, kebebasan, ketulusan, perenungan, dan ingat kepada Tuhan, demikian Mufid dalam bukunya Mengasah Intuisi.

Perenungan yang dalam bisa dilatih saat kita dapat berimajinasi atas terjadinya suatu kondisi di sekitar kita. Kondisi terjadi karena adanya suatu ketetapan. Tujuannya demi kebaikan. Benarkah demikian? Bagaimana sekiranya ketetapan yang terjadi menyebabkan kondisi yang merugikan bagi kita? Masihkah dapat kita bayangkan sebagai kebaikan?

Disadari atau tidak, rasa ketakutan menjadi epidemi masyarakat zaman now dengan laju melampaui dugaan karena adanya pengalaman terbaru. Contohnya, bagaimana cara membedakan telur asli dan palsu dengan beredarnya video pembuatan telur palsu yang dinyatakan hoaks. Kondisi ini telah mencengkeram rasa takut masyarakat yang nantinya berperan dalam menentukan akan membeli telur atau tidak.

Contoh lagi, saat ramai-ramainya berita mengejar harta orang yang sudah meninggal untuk dipajaki. Epidemi ini menyuarakan kegalauan melampaui ekspektasi. Seandainya masyarakat mau menggali dari membaca, aturan ini telah berlaku lama dan warisan belum terbagi memang merupakan subjek pajak. Pelaksanaan kewajibannya pun nanti dijalankan ahli waris, bukan yang mewariskan yang sudah damai “di sana”. Saat ini, animo membaca berita masyarakat sangat tinggi, dari gawai dan bukan dari sumber berita. Saat ini, passion masyarakat sangat tinggi untuk menyebarkan ketakutan melalui media, dan viral dengan didampingi emosi, bukan viral dengan penelitian validitas.

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi dalam diri kita? Jangan-jangan kita tidak mengenal diri kita sendiri, apalagi mengenali karakter kita. Di mana-mana disampaikan bahwa untuk mengenali Tuhan dimulai dengan mengenali diri kita sendiri. Bagaimana bisa terjadi bila kita tidak belajar kenal siapa kita?

Satu lagi yang jadi perhatian, konsep membaca saat ini telah bergeser. Kanak-kanak zaman dulu membaca Si Ande-Ande Lumut, Kleting Kuning, Aji Saka, Kucing Bersepatu Lars, Hansel and Gretel, dengan memanfaatkan waktu untuk menyipitkan mata dan membayangkan. Kanak-kanak zaman old sudah dilatih berimajinasi. Tetapi keahlian itu sekarang musnah dengan kecanggihan zaman. Semua yang dibaca sudah lengkap gambar-gambarnya di depan mata. Tidak ada waktu untuk berkhayal lagi.

Maka, sayonara imajinasi.

Inilah yang dikenal dengan nama aphantasia. Istilah ini tersebut dalam sebuah penelitian di jurnal Cortex, oleh Adam Zeman dan tim. Penelitiannya menjelaskan bagaimana kasus orang yang kehilangan kemampuan berpikir dalam gambar setelah cedera otak. Ada pula yang baru bisa melihat gambar dalam mimpi, dan tidak bisa melihatnya bila diminta membayangkan. Menurut Zerman, Aphantasia bukan kelainan, hanya perbedaan, dan dapat terjadi di satu dari 50 orang. Sangat aneh rasanya membayangkan ada orang tanpa imajinasi, dan sangat mengerikan bila mereka bercerita tidak dapat mengenang kembali orang-orang tercinta mereka setelah kematiannya.

Di lingkup sederhana Aphantasia terjadi pada diri kita juga. Bagaimana itu terjadi? Coba diuji dengan melakukan pertanyaan pada diri sendiri. Pernahkah kita bertanya pada diri kita dengan kalimat-kalimat tanya di bawah ini?

Hai diriku, apakah kamu pernah membayangkan akan jadi apa kantormu tempat bekerja ini dengan adanya dirimu?

Hai diriku, apakah kamu pernah membayangkan akan kamu bawa ke mana keluargamu, pasanganmu, anak-anakmu, baik di rumah dan di kantor, untuk membina karakter dan kesuksesan masa depan mereka?

Hai diriku, pernahkah kamu bayangkan bagaimana Indonesia menopang pembangunannya bila warga negara tidak memiliki rasa cinta tanah air dan bela negara yang diimpelementasikan dengan membayar pajak secara jujur dan bahagia?

Diri yang tidak bisa menjawabnya, mungkin saja sedang mengidap aphantasia. Saatnya sekarang untuk belajar mengenali penyakit, epidemi, yang akan merusak diri kita. Jangan mudah terhasut dengan click bait di media sosial yang menarik kita untuk mempercayai berita-berita bombastis.

Kalau ada berita tentang pajak, persepsi ketakutan yang terbentuk di pikiran adalah manifestasi kepatuhan. Tepis ketakutan dengan bertandang ke kantor pajak tempat Anda terdaftar, sekadar berkenalan dengan petugas help desk, bertanya, menjalin silaturahmi dengan Account Representative yang juga bisa anda minta menjelaskan semua aturan terbaru. Mulailah dengan mengedukasi diri dan membangkitkan keinginan literasi kita, sehingga terbentuk awareness dan tanggung jawab sebagai warga negara yang taat pajak.

Hingga suatu saat…

Anda bisa berlatih menutup mata… Membayangkan masuk kantor pajak tanpa galau. Bisa baca buku dan internetan di pojokannya… Banyak teman baru yang menyenangkan di sana…  Ngobrol. Diskusi. Ngopi. Baca buku. Musik. Dan menepis takut menjadi percaya.

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Tax Light

‘Hakuna Matata’

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Gempa Lombok dan Palu adalah musibah. Namun, di balik itu ada banyak hikmah. Kita layak bersyukur, negara masih sigap menangani korban bencana. Dan itu karena pajak yang Anda bayarkan.

Kesedihan, kegembiraan, harapan, impian, ujian, dan anugerah, adakalanya datang berdampingan. Kehadiran mereka merupakan proses yang jarang disadari. Saat ditimpa musibah, sebenarnya anugerah sebentar lagi yang datang. Saat merasa sedih, sesungguhnya bahagia sedang mengintip. Pertanyaannya, apakah kita menyadari itu? Maka dalam bahasa Swahili yang dilontarkan Timon dan Pumbaa dalam film Lion King, frasa “hakuna matata” lantas menjadi populer. Artinya sederhana, jangan khawatir. No worries.

Lantas, siapa yang tidak khawatir saat berita pergerakan lempeng sudah menimbulkan bencana di mana-mana? Lombok. Palu. Gempa bagaikan peretas yang sulit dijangkau. Kesulitan bahan pokok membuat perilaku tidak sabar dan tidak puas muncul ke permukaan, sehingga terjadilah penjarahan di toko, supermarket, dan lain-lain. Alasan yang dijadikan pembenaran adalah, ini sedang bencana, jadi semuanya diperbolehkan. Di lain sisi persepsi, kisah heroik bermunculan tentang penuntasan tanggung jawab seorang petugas menara bandara yang melepas terbang pesawat di landasan pacu sebelum tertimpa reruntuhan menara.

“Di saat kesedihan dan ujian terjadi, negara hadir di tengah mereka. Dan perwakilan negara itu bernama pajak.”

Pray for Indonesia, sesungguhnya tagline yang paling tepat. Karena Lombok adalah kita. Palu adalah kita. Dan ini semua dinamakan ujian, buat saudara sebangsa yang sedang berduka. Penggalangan bantuan bergerak, termasuk simpatisan dan empatisan dari Direktorat Jenderal Pajak yang menyalurkan bantuan melalui jalur udara dan darat. Bantuan berupa obat-obatan, makanan dan tenda langsung terdistribusi kepada korban terdampak gempa, bahkan juga bantuan tenaga pegawai yang menjadi relawan di Palu dan Donggala. Rasa kesatuan itu sekaligus menyampaikan pesan bahwa di saat musibah dan bencana, di saat kesedihan dan ujian terjadi, negara hadir di tengah mereka. Dan perwakilan negara itu bernama pajak.

Selama ini, semua orang tahu, bagaimana gencarnya iklan tentang peran pajak. Pajak yang Anda bayar bermanfaat dalam membangun jembatan, jalan tol, perumahan, membantu fasilitas pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Namun, apakah kepatuhan bisa ditingkatkan hanya dengan membaca informasi dan iklan tentang peran pajak?

Sama dengan ujian yang berdampingan dengan anugerah, kepatuhan pun berjalan berdampingan dengan kepercayaan dan kesadaran. Dalam kondisi berduka seperti ini, kepercayaan hanya bisa ditingkatkan saat kita sudah tidak bisa berbicara banyak dan kemudian melakukannya dengan melebur bersama dalam menghibur rasa sakit yang dirasakan korban. Rasa sakit, menurut International Association for the Study of Pain (IASP, 1986), adalah pengalaman pribadi subjektif yang melibatkan kualitas sensorik (misalnya menusuk, membakar, nyeri) dan emosional (menakutkan, mengganggu, memuakkan). Dalam kondisi setelah bencana, akan timbul trauma, bentukan lain rasa sakit secara emosional. Pengalaman seperti bencana dapat dengan mudah teringat kembali oleh seseorang dalam bentuk mimpi buruk, atau kilas pikiran yang mengganggu. Saat dia mengingat suatu hal dari pengalaman tersebut, inilah yang dinamakan gangguan stres pascatrauma, dikenal dengan istilah PSTD atau post-traumatic stress disorder.

Trauma, juga dimiliki masyarakat Wajib Pajak yang merasa bahwa membayar pajak adalah beban, terutama setelah mengalami pemeriksaan, menerima surat imbauan atau bahkan sekadar visiting dari Account Representative kantor pajak tempatnya terdaftar. Trauma itu dapat ditimbulkan dari pengalaman sebelumnya, atau dari pengalaman orang terdekat yang diceritakan, dan kemudian membentuk stigma tentang pajak. Hal ini yang menjadi gangguan pikiran, sehingga sebuah kegiatan rutin berupa kunjungan fiskus ke lokasi usaha akan membuatnya berpikiran merasa diperlakukan tidak baik. Persepsi bahwa sesuatu hal itu menakutkan, memuakkan atau mengganggu, akan tertuang dalam perilaku mencetuskan rasa sakit secara emosional. Dampaknya adalah, petugas pajak diterima dengan perilaku emosional, seperti berwajah masam, tidak mau mendengar, enggan melihat, meninggikan suara dan tidak mau menerima apa pun penjelasan yang diberikan.

Nah, manusia itu memiliki lima elemen dalam tubuhnya, salah satunya logam dan api, selain air, bumi dan kayu. Manusia yang dihadapkan pada elemen api terus menerus mungkin akan memunculkan elemen api di dalam tubuhnya sendiri sehingga kendali atas nafsu amarah tidak bisa ditekan. Begitu pula saat ketidakpercayaan dan emosi Wajib Pajak ditonjolkan, maka akan berhadapan dengan kemarahan fiskus akibat trauma atas ketidakpercayaan yang terjadi dalam suasana rasa sakit emosional. Harus ada yang menjadi air. Harus ada yang membumi. Memunculkan elemen kayu pun tak apa karena salah satu sifat elemen kayu adalah pemberani dan kritis. Wajib Pajak yang kritis, tentunya dapat menggali kompetensi fiskus dengan pengetahuan yang dimiliki, dan itu sungguh merupakan simbiosis mutualisme untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kesimpulannya, semua orang di muka bumi ini mempunyai trauma yang dihasilkan dari pengalaman berproses kehidupannya. Trauma itu tidak lahir hanya dari bencana.

Beberapa cara penyembuhan trauma dilakukan dengan terus berpikir positif, fokus pada hal-hal yang menyenangkan, terbuka dan bersosialisasi dengan orang lain, serta menyibukkan diri. Menjadi relawan di saat bencana, sesungguhnya merupakan upaya terbaik dalam berbaur untuk meningkatkan kepatuhan. Atau, menggali hal-hal positif saat berhadapan dengan orang lain, dengan tamu asing atau dengan petugas pajak yang datang ke rumah atau tempat usaha anda.

Salah seorang Wajib Pajak di sebuah kota besar Provinsi A, pernah berkali-kali didaulat untuk bicara di depan gathering taxpayer hanya untuk memotivasi teman-temannya sesama Wajib Pajak untuk menunaikan kewajiban sebagai warga negara dalam membayar pajak. Ia berbicara pengalamannya yang menoreh trauma saat mengalami pemeriksaan. Namun, setelahnya, ia mengakui, “Saya baru memahami pajak setelah mendengarkan penjelasan petugasnya. Dan setelah saya membayar ketetapan hasil pemeriksaan, saya melihat sendiri bagaimana berkembangnya perusahaan saya,” cetusnya kalem.

Seorang ibu yang mendapatkan surat imbauan, pernah menangis karena rasa sakit emosional, tetapi di akhir tahun ia tampil memperoleh penghargaan dari kantor pajak terdaftar. Sang ibu takjub. “Setelah membayar pajak, saya tercengang,” katanya. “Order untuk saya meningkat berkali lipat,” ujarnya dengan mata berbinar.

Seorang pengusaha batik muda di Yogya, sangat ingin belajar menjadi Wajib Pajak yang patuh. Selain bersahabat dengan pejabat pajak di sana, banyak hal dia peroleh. Ketulusan, persahabatan, pemesanan karya bahan batiknya, termasuk informasi bagaimana cara memperoleh beasiswa LPDP. Dan dia berhasil meraih bea siswa itu! “Doakan saya,” bisiknya kepada sang sahabat pajak yang mendorongnya mengejar beasiswa, “untuk saya bisa berbagi tentang peran pajak… di dunia perkuliahan nanti.”

Semua pengalaman itu adalah bagian dari penyembuhan trauma. Bisa jadi, mereka adalah orang-orang yang terus menerus mendera pikirannya dengan pikiran positif. Mereka yang bisa memandang bahwa pengalaman pahit atau bencana adalah titik balik keberhasilan. Mereka yang mau belajar untuk mempercayai bahwa ujian adalah batu loncatan kematangan.

Kalau saja kita mau percaya….

Selama kita tidak dapat memprediksi sejauh mana lempeng bumi akan berhenti atau terus bergerak, maka hanya ada satu pilihan. Teruslah membayar pajak, untuk membantu saudara-saudara sebangsa kita yang sedang berduka. Yang kampung halamannya rusak parah dan perlu perhatian pemerintah untuk kembali membangun. Teruslah berkorban dan menggalang sumbangan dan bantuan untuk keutuhan negeri ini.

Selama sudah ada kesadaran dan kesepahaman pikiran, maka Hakuna Matata. No worries for the rest of your days… Jangan khawatir.

Setelah kesusahanmu, akan terbit kebahagiaanmu. Itulah filosofi.

Lanjutkan Membaca

Tax Light

“Ganbatte”

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tak ada kemenangan tanpa kompetisi. Maka, memberikan apresiasi kepada Wajib Pajak yang dibalut paket kebijakan, dalam upaya meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak adalah sebuah keniscayaan.

Heroiknya Jojo membuka baju di pentas Asian Games 2018, menciptakan histeria. Dampaknya, viral secara gegap gempita, netizen terbakar semangatnya untuk juga meraih kemenangan. Lima puluh tahun yang lalu—pada tahun 1962—Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-4. Pesta olahraga negara-negara Asia itu pertama kali berlangsung di India pada 1952. kala itu Indonesia meraih peringkat kedua setelah India. Hasil itu konon merupakan hasil terbaik yang pernah dicapai Indonesia. Sampai saat tulisan ini dibuat, Indonesia masih menempati peringkat keempat, dan sangat wajar histeria kompetisi melanda seluruh Indonesia.

“Ganbatte!” kata orang Jepang.

Ganbatte sebenarnya merupakan singkatan dari kata ganbatte kudasai, yang artinya, lakukanlah yang terbaik, semangatlah, atau berusahalah. Atau, jangan pernah menyerah! Kata itu juga biasa diucapkan guru di Jepang seusai mengajar murid-muridnya. Di sini bisa diartikan bagus banget atau semangat.

Pertanyaannya, semangat apa yang sekarang melanda kita?

Pertama, semangat berkompetisi. Sejauh mana kita tetap menanamkan karakter kompetisi mencapai hasil terbaik selain mengejar perolehan medali? Semangat berkompetisi di dunia pendidikan saat ini menurun sejak ranking ditiadakan dan penilaian bersifat deskriptif. Sekali anak-anak merasa nilai mereka baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikalahkan, maka semangat berjuang mereka akan terhenti karena sudah merasa meraih kemenangan tanpa tahu, lawannya siapa?

Menurut Deaux, Dane dan Wrightsman (1993) dalam Wikipedia, kompetisi sendiri adalah aktivitas mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok, atau, individu atau kelompok memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur reward dalam suatu situasi. Reward memang harus diciptakan untuk meningkatkan semangat berkompetisi. Dalam pesta olah raga se-Asia, reward-nya jelas, yaitu medali dan mungkin penghargaan yang lain. Dalam dunia Pendidikan, ada beasiswa. Namun, keahlian dan profesi masa sekarang bisa saja sudah tidak menjanjikan di sepuluh tahun mendatang. Sehingga, seandainya semangat kompetisi menurun, itu karena ketidakyakinan pekerjaan apa yang menjamin kesejahteraan sekian tahun ke depan.

Sedangkan untuk mencari pekerjaan, diperlukan nilai dalam kelulusan seleksi pegawai.

Saat ini, tanpa disadari, ruang fisik menyatu dengan ruang cyber. Suatu saat, tidak perlu ada gudang atau kantor untuk menyimpan persediaan barang, dan tidak ada lagi kontak antara penjual dan pembeli seperti yang kita pelajari di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sekolah dasar tentang pasar. Saat ini, seorang anak usia lima sampai sepuluh tahun bisa menjalankan bisnis menjual emoticon di on-line, yang dapat diperoleh pembeli secara free sampai pada kuota tertentu, kemudian transaksi pembelian berjalan melalui kartu visa. Kompetisi berjalan secara bebas pada diri sendiri, dan reward-nya berbentuk kepuasan secara finansial maupun nonfinansial.

Kita sudah memasuki Revolusi Industri keempat yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh dunia. Generasi muda telah sangat akrab dengan digitalisasi, kecerdasan buatan, robot, dan kemajuan teknologi lainnya, tetapi sangat dikhawatirkan suatu saat mesin menggantikan tenaga kerja manusia.

Pencapaian penerimaan Pajak per juli 2018 tumbuh sebesar 14.36% dibandingkan tahun lalu pada masa yang sama. Ini memberi harapan besar bahwa pemenuhan kewajiban perpajakan telah berjalan on the track.

 

Gairah kompetisi

Dunia sekarang bergerak begitu cepat sehingga unsur kompetisi seolah menjadi keniscayaan dan sangat tidak terasa, seolah-olah hilang. Inilah saat ego mengental dan satu sama lain individu berjuang untuk dirinya sendiri, tanpa heroisme.

Maka, aksi Jojo adalah suntikan baru, saat emas demi emas diperoleh atlet Indonesia, menggambarkan perjuangan yang realistik. Kompetisi di layar kaca sangat jelas dan menular. Tanpa disadari, anak bangsa mulai bergairah dengan kompetisi. Kita ingin Indonesia menang! Jadi yang terbaik. Seandainya kompetisi ini berlaku dalam pemenuhan kewajiban perpajakan, apakah akan berlangsung secara real atau halus seolah tidak terasa?

Apakah Anda mengetahui bahwa progres pencapaian penerimaan pajak per 31 Juli 2018 adalah sebesar 48.26% dari APBN atau tumbuh sebesar 14.36% dibandingkan tahun lalu pada masa yang sama? Ini memberi harapan besar bahwa pemenuhan kewajiban perpajakan telah berjalan on the track. Harapan besar lainnya, pencapaian target 100 % dapat diraih di akhir tahun 2018. Ada yang berubah dari masyarakat kita? Apakah saat ini kompetisi untuk patuh pajak sedang berlangsung?

Kebijakan perpajakan berupa penurunan tarif pajak UMKM, restitusi dipercepat atau perpanjangan jatuh tempo pelaksanaan kewajiban perpajakan tertentu pada Wajib Pajak di daerah yang terkena bencana, merupakan bukti nyata bahwa pemerintah responsif atas kebutuhan masyarakat Wajib Pajak. Tanpa disadari ada unsur edukasi di setiap keluarnya aturan dan kebijakan perpajakan yang mendukung minat masyarakat untuk sadar pajak dan menuaikan kewajiban perpajakan beramai-ramai. Inilah yang dinamakan revolusi dalam diam, menciptakan kompetisi dalam pemberian apresiasi yang dibalut paket kebijakan, dalam upaya bersama meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Semuanya berjalan, dan mengalir begitu saja.

Lantas semangat yang kedua, adalah semangat untuk menang.

Begini. Saat semua bergerak menuju kesadaran berbangsa dan bernegara di seluruh lini, maka kita sudah mendekati kemenangan. Kemenangan akan terjadi apabila seorang manusia memiliki kepenuhan diri tinggi dalam menciptakan hasil yang luar biasa dan menciptakan pengalaman, demikian menurut Kelly Poulos dalam bukunya Secrets to Winning, yang ditulisnya Bersama Emily Liu. Apa itu unsur kepenuhan diri manusia? Satu, dia memiliki hubungan penuh cinta. Dua, dia menyadari memiliki pekerjaan yang berarti. Tiga, menemukan makna atau alasan untuk bertahan hidup. Empat, memiliki konsep hidup melayani orang lain sehingga dapat menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri saat melihat orang lain berhasil mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Ketiga aspek pemenuhan diri pertama dipelajari Kelly dari Victor Frankl, seorang ahli syaraf dan psikiatri asal Austria yang juga korban Holocaust yang selamat. Sementara aspek keempat diperolehnya bersama Emily dalam hubungan coaching.

Apakah kita memiliki keempat unsur tersebut? Patut untuk direnungkan sebelum tidur lelap malam ini, sebelum kita bermimpi untuk menang.

Kompetisi. Kemenangan. Ganbatte.

Ketiga kata itu terjadi berulang dalam proses kehidupan, melalui long term education. Demikianlah usaha menanamkan pemahaman peran pajak yang butuh proses berulang setiap tahun. Siklusnya sama dengan perjuangan Direktorat Jenderal Pajak mengamankan penerimaan untuk menegakkan Indonesia.

Dalam suka dan duka.

Dalam sedih dan bahagia..

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Gnothi Seauton

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Saat target penerimaan pajak dapat dicapai dengan bantuan semua pihak dalam menegakkan kesadaran perpajakannya, Indonesia akan semakin kuat dan merdeka. Usia harapan hidupnya pun semakin meningkat.

Saat gempa dan bencana melanda Indonesia dari ujung ke ujung, ada kalimat tunggal meluncur dari seorang sahabat. “Apa artinya semua ini?” Gempa di Lombok Utara bahkan terasa sampai Bali dan Banyuwangi, sementara pengujung pagi di Bogor dinginnya sangat menusuk tulang. Alam mulai memberi tanda melalui sinyal tsunami dan getaran bumi. Kemudian kita mulai menghitung usia bumi yang semakin menua. Dan pertanyaan sahabat tadi terngiang kembali di telinga. Apa artinya semua ini?

Berbicara tentang tua, maka bayangan manusia berambut putih dengan tubuh melengkung akan tergambar. Namun, ada penggolongan usia menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun; lanjut usia (elderly) 60-74 tahun; lanjut usia tua (old) 75-90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

Indonesia, bertambah usia setahun di tahun 2018 ini menjadi 73 tahun. Bila kita gambarkan Indonesia sebagai sosok manusia, maka usia ke 73 ini dia dalam kisaran lanjut usia. Indonesia sudah tidak bekerja bila masa pensiun pegawai ditetapkan dari usia 58 tahun sampai 65 tahun. Indonesia, seharusnya menjadi manusia yang menikmati masa tua. Dalam realita, Indonesia menjadi lukisan yang absurd saat pembangunan masih bergulir di kota-kota, menelan anggaran negara dengan fantastis, tidak pernah tidur dan reses, selalu terjaga dari subuh sampai tengah malam sampai subuh dan keesokan…

Indonesia sungguh sangat produktif di usia tua. Persis seperti ketika Jepang memercayakan produktivitas tidak hanya berhenti di usia lansia, sehingga pejabat maupun tokoh masyarakat berusia 70 tahun masih tetap digdaya di eranya. Saat ini, lebih dari setengah jumlah laki-laki Jepang berusia antara 65-69 tahun masih memiliki pekerjaan. Hebatnya lagi, berdasarkan data CIA World Factbook 2011, usia harapan hidup di Jepang 82.25, sementara Indonesia hanya 70,76.

Data tahun 2017 mengenai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari Badan Pusat Statistik ( BPS) menyatakan bahwa angka harapan hidup Indonesia adalah sebesar 70,81 dan peningkatan IPM menandakan harapan untuk hidup, diukur dari dimensi kesehatan, harapan hidup, sekolah, maupun hidup layak, semakin panjang (kompas.com). Berarti pada usia kepala tujuh lewat tiga itu, Indonesia memiliki harapan panjang untuk hidupnya.

“Apabila pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan telah merata di jajaran pemerintahan, maka tak pelak lagi, seluruh warga negara akan mengikutinya dengan suka rela.”

Indonesia, bukan masyarakat wajib pajak, karena dia bukan manusia. Tetapi kita yang mengaku sebagai warga negara Indonesia tentu akan paham bila usia harapan hidup seseorang ternyata ditentukan oleh unsur kesehatan, fasilitas sekolah, kesejahteraan dalam berkehidupan yang layak sebagai penduduk, secara eksplisit semua dipenuhi oleh peran pajak yang menopang anggaran suatu negara. Saat kontribusi pajak nyaris mendominasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan target penerimaan dapat dicapai dengan bantuan semua pihak dalam menegakkan kesadaran perpajakannya, usia harapan hidup bangsa Indonesia diprediksi akan semakin meningkat.

Lantas kita akan berpikir semua, bagaimana caranya berumur panjang?

Socrates, seorang filsuf Yunani, bicara tentang cara mengenali diri sendiri. Gnothi Seauton—kenalilah dirimu.

Ini adalah pernyataan filosofis yang sangat esensial. Ketika seorang manusia belajar mendengarkan suara dari dalam dirinya, maka tentu dia akan banyak belajar tentang dunia kecil miliknya. Jagat cilik, jagat gede. Dunia kecil dalam dirinya melambangkan dunia besar kehidupannya. Seseorang yang bisa mencapai usia panjang dengan tingkat kebahagiaan tinggi, tentunya sangat kenal pada dirinya. Ketika dia mendapatkan ujian, maka dia berpikir, apakah ujian ini merupakan pembelajaran? Ketika dia menerima anugerah dalam bentuk kekayaan, pangkat dan jabatan, maka dia akan berpikir, apakah anugerah itu merupakan batu ujian selanjutnya? Ketika seorang pengusaha muda menerima tambahan penghasilan luar biasa di bisnis yang semakin maju, maka dia tentu berpikir, rezeki ini buat dia sajakah? Atau buat dia sedekahkan? Atau buat dia bayarkan dalam bentuk pajak yang menjadi kewajibannya sebagai warga negara? Dan bisa saja di zaman now, seorang ayah tersedak saat makan ketika anaknya yang bersekolah di SD kemudian bertanya dengan polos, “Ayah, pernah bayar pajak, enggak?”

Berpikir, membuat seorang manusia belajar mengenali dirinya sendiri. Karena itu kita disarankan untuk terus bepikir selama kita bisa. I think; therefore I am, kata Rene Descartes. Dan pemikiran yang timbul dari ketidaknyamanan akan membuat kita resah, kemudian mencari jawaban di luar tubuh kita sendiri, di dunia luar. Persis ketika seorang wajib pajak usaha bengkel yang mendapat surat imbauan dari kantor pelayanan pajak tempatnya terdaftar, maka dia mempertanyakan, mengapa surat itu mampir ke bengkelnya, bukan ke bengkel sebelah?

Dan dia pun menuntut equal treatment pada kantor pajaknya.

Itulah jawaban yang dicari di luar tubuh kita. Saat kita mendapati teman bahagia, atau memperoleh promosi dan mutasi di daerah yang tidak kita sukai, maka kita mencari jawaban di luar tubuh kita. Mengapa harus saya? Mengapa bukan dia? Atau sebaliknya, mengapa harus dia dan bukan saya?

Apabila jawaban dicari di dalam diri, maka mungkin saja jawaban yang keluar adalah… Karena memang kamu yang diharapkan menjadi role model, dan bukan dia.

Maka, penuhi saja surat imbauan itu, langkahkan kaki ke kantor pajak, dan cari jawaban di sana.

Sejatinya, orang Indonesia memiliki kepatuhan yang tinggi atas role model yang diharapkan diperoleh dari pimpinannya. Itu disebutkan pada model pertama teori National Culture Insight dari Geert Hofstede yaitu model Power Distance Index. Sehingga, apabila pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan telah merata di jajaran pemerintahan, maka tak pelak lagi, seluruh warga negara akan mengikutinya dengan suka rela.

Bagaimana cara membuat sang role model berperan sebagai role model?

Gnothi Seauton. Sudah dijawab Socrates dua puluh lima abad yang lalu.

Usia Indonesia sudah 73 tahun. Kalau pernah membaca cerita inspirasi tentang seseorang di akhir hayat yang menyesali mengapa di awal langkah hidupnya dia bercita-cita ingin mengubah dunia? Sementara yang dibutuhkannya hanyalah mengubah dirinya sendiri untuk bisa menyaksikan dunia berubah dalam tataran pemikirannya? Maka, siapa pun kita saat ini, tidak akan bisa mengubah Indonesia. Kita hanya bisa mengubah diri kita sendiri, dengan tetap berhak merasa merdeka.

Mengutip Sukarno, Presiden pertama Indonesia, yang mengobarkan semangat dengan ucapan penuh bara. MERDEKA semua! Tuhan bersama kita dan kemerdekaan ini akan kita jaga sampai akhir hayat!

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News4 minggu lalu

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News1 bulan lalu

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News1 bulan lalu

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News2 bulan lalu

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News2 bulan lalu

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News3 bulan lalu

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News4 bulan lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News8 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News9 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News10 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Advertisement Pajak-New01

Trending