Terhubung dengan kami

Tax Light

Anjangsana Hakiki

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis: Aan Almaidah A.

Pahlawan bukan hanya mereka yang gugur dalam medan perang, seperti yang kita doakan setiap kali ritual upacara bendera—lalu menjadi dogma. Ada banyak pahlawan lain yang luput kita kenalkan di jiwa anak-anak bangsa.

Barangkali sudah banyak di antara kita yang lupa dengan suasana upacara bendera: suasana magis saat pembacaan doa atau mengheningkan cipta terjadi. Mungkin pula hanya sedikit yang masih dapat mengilas balik hafalan saat Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dibacakan secara lantang. Saat ini, nilai suatu upacara bendera mungkin tidak lebih dari kewajiban rutin setiap Senin atau hari besar setiap tahun—berpanas-panasan, dan selesai. Kapan anda terakhir upacara bendera? Jangan tanyakan hal ini kepada seorang pegawai negeri sipil. Pasti mereka sudah terbiasa.

Adakah sentuhan lain di saat upacara yang menggerigis hati kita?

Hmmm… apa ya?

Maaf, saya tidak merasakan apa-apa.

Coba tanyakan kepada anak SD hal yang sama, tetapi dengan cara membalik pertanyaan. Mana lebih suka, upacara atau enggak? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, tapi pasti mereka memilih yang mereka suka.

Ada satu hal yang menarik dari nilai upacara. Ada nilai “anjangsana” di dalamnya. Anjangsana, adalah suatu kata yang sudah lama tidak kita dengar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, anjangsana adalah kunjungan untuk melepaskan rasa rindu, atau kunjungan silaturahmi. Rasa rindu, dimiliki oleh setiap orang yang pernah bertemu dan lama tidak bersua. Silaturahmi, bisa dilakukan kepada keluarga, teman, tetangga, dan memiliki esensi memperpanjang usia. Namun adakah yang bisa menjelaskan suatu kunjungan untuk melepaskan rasa rindu tanpa kita mengenal dekat orang yang kita rindukan, atau, tanpa perlu mendatangi tempatnya?

Bisa. Caranya sederhana. Dengan memahami kandungan ritual upacara bendera.

Kita “bertemu” dengan para pahlawan di upacara bendera. Kita mendoakan mereka. Mereka ada untuk kita doakan, walaupun mereka sudah tiada. Sayangnya, kita sering lupa, saat komando “Mengheningkan Cipta,  mulai!” Kita tepekur, bahkan tanpa bisa membayangkan pahlawan mana yang akan kita hadiahkan doa kita. Padahal, percayalah, di dunia sana, mereka sangat mengharapkan doa-doa kita untuk menerangi kuburnya, memperluas dunianya, dan menyejukkan hatinya.

Seandainya di Hari Pahlawan ini ada kesempatan menghadiri upacara bendera, maka kita harus memulai memperkuat pikiran. Letakkan imajinasi untuk fokus pada wajah-wajah pahlawan nasional, kemerdekaan, atau siapa pun yang kita akui sebagai pahlawan. Lantas, baru mulai doakan mereka dengan khusyuk seolah mengenalnya begitu dekat dan lama, seperti orang tua kita sendiri.

Imajinasi adalah hal yang digelisahkan Bung Karno lewat pidatonya di Semarang pada tanggal 29 Juli 1956. Di buku Youth Challenges and Empowerment, Anand Krishna menuliskan, Bung Karno menyatakan kegelisahannya terhadap pemuda-pemudi bangsa yang sudah mulai tidak peduli terhadap sejarah kita sendiri, sehingga kita juga tidak mempunyai imagination. Bangsa yang tidak mempunyai imajinasi tidak bisa membuat (monument). “Jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai imagination,” demikian kegalauan Bung Karno saat itu. Dan ini pemikiran tokoh bangsa yang sangat visioner.

Tentang imajinasi, Victor Frankl pernah menyatakan bahwa empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia adalah: (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (conscience); (3) kehendak bebas (independent will); dan (4) daya imajinasi (imagination). Keempat anugerah Ilahi itu terletak pada cara kerja akal dan hati. Saat kita tidak bisa menghargai imajinasi, maka kreativitas terkubur. Imajinasi juga merupakan media untuk mewujudkan cita-cita. Kita seharusnya tahu, dasar sejarah pembuatan candi-candi di Indonesia itu beralaskan imajinasi. Seharusnya, kita bangga atas imajinasi tersebut. Nah, letak keberhasilan suatu bangsa adalah rasa percaya diri generasi mudanya. Kelemahan kita adalah kurangnya rasa PD sebagai bangsa sehingga menjiplak luar negeri. Tidak percaya diri, karena kurang percaya satu sama lain. Tidak peduli pada masa lalu. Apabila nenek moyang saja bisa membuat candi besar dengan imajinasi hebat, sudah selayaknya cucu buyut moyang membangun negara dengan imajinasi yang lebih fantastis, bukan?

Namun, apa yang sedang terjadi saat ini?

Pembangunan dibiayai oleh pajak. Apabila penerimaan negara tidak mencapai target maka pembangunan dibiayai oleh pinjaman termasuk pinjaman luar negeri. Berarti, ada pihak lain yang bertanggung jawab atas proyek-proyek pembangunan. Nah, apabila tidak ada uang untuk melunasi pinjaman, maka kumulasi pinjaman meningkat, yang disebut utang turunan sampai ke anak cucu. Semakin banyak kita menemukan expertise atau tenaga ahli asing berperan dalam pembangunan negara ini.

Bila target pajak saat ini hanya diampu oleh sebanyak dua juta Wajib Pajak yang melakukan pembayaran, masih sulit menembus target yang ditetapkan pemerintah. Sementara itu, data demografis menunjukkan adanya potensi Wajib Pajak yang seharusnya membayar pajak. Ke manakah mereka sekarang? Seandainya dua atau tiga kali lipat masyarakat memiliki tanggung jawab dan kesadaran bayar pajak, maka kita punya data enam juta pembayar pajak. Diharapkan, meningkatnya kesadaran perpajakan berkorelasi positif dengan kepatuhan membayar pajak untuk mendukung tercapainya penerimaan pajak yang menjadi target per tahunnya.

Di zaman yang universal ini, sinergi membangun di suatu negara yang dilakukan antarbangsa bisa diberi judul “globalisasi”. Nah, di era Majapahit atau Sudirman, belum ada globalisasi. Imajinasi, yang terbentuk saat Indonesia merebut kemerdekaan, sungguh berbeda dengan imajinasi di saat informasi teknologi, juga jauh berbeda dengan imajinasi di saat Indonesia masih disebut Nusantara. Sayangnya, kita malas belajar sejarah. Padahal belajar sejarah akan membentuk karakter percaya diri. Contoh, sejak awal era Masehi, Indonesia memiliki banyak kerajaan kecil yang berdaulat. Pemuda di zaman itu percaya pada kekuatannya untuk membangun kerajaannya. Mereka tidak menuntut pengakuan sebagai pahlawan. Sejatinya, seseorang yang ditahbiskan sebagai pahlawan, mungkin saja tidak mempunyai cita-cita menjadi pahlawan.

Lantas bagaimana dengan seorang pembayar pajak yang dengan kesadaran sendiri melakukan kewajiban perpajakan secara benar dan baik lebih dari lima tahun berturut-turut? Apakah dia bisa diusung sebagai pahlawan? Pertanyaan ini menarik untuk disimak—bisa juga dijadikan status media sosial. Respons, tentu akan bertubi-tubi mengkritik. Seorang pembayar pajak disebut pahlawan? Yakin kalau tidak ada upaya penghindaran pajak di balik semua pembayaran pajaknya? Apakah benar dia benar-benar jujur?

Sekarang pertanyaan dibalik.

Jangan membandingkan yang sudah membayar pajak dengan dirinya sendiri. Bandingkan dengan yang sama sekali belum memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang taat pajak. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, karena pasti kita memilih yang kita suka.

You are the nation’s hero. Kata-kata heroik itu tertulis di map seminar institusi pajak negara tetangga. Termenung membacanya. Mereka bahkan sudah berani mengapresiasi setinggi-tingginya sikap cinta tanah air yang dituangkan dengan membayar pajak. Sang pembayar pajak pun, berani dipastikan, tidak pernah berharap bahwa mereka disebut pahlawan. Tidak perlu sampai diukir di batu nisan. Hanya merupakan pahlawan secara masif, yang diperingati dalam sehari ketika menerima penghargaan sebagai pembayar pajak terbesar. Mungkin nilai kepahlawanan itu sendiri berubah dari tahun ke tahun tergantung besarnya pembayaran. Atau, mungkin tidak ada perayaan tapi penanaman kesan, bahwa mereka pahlawan.

Kembali kepada kepercayaan diri.

Napoleon Hill, dalam Selling You-nya yang lawas dan luar biasa, menekankan bahwa kepercayaan diri berawal dari rumah. Peran sepasang lelaki perempuan dan manusia yang mengikat janji kebersamaan membentuk mahligai rumah tangga memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anak suci yang dilahirkan ibunda. Guru karakter pertama mereka adalah orang tua. Karakter itulah nantinya akan bercabang ke arah kepribadian atau kepercayaan diri, dan lain-lain, yang saat ini sangat tendensius menjadi komoditas pelatihan motivasi. Kalau mau dipikirkan kembali, semua topik dari motivasi hanya berakar dari satu kalimat. Sudahkah kamu mengenali dirimu sendiri?

Kegagalan menemukan siapa diri kita, akan menggagalkan cita-cita menjadi bangsa hebat. Kegagalan untuk kenal diri kita siapa, kemudian melahirkan materi pembentukan karakter yang menjadi inti di setiap kurikulum pendidikan. Misinya mulia, membentuk karakter generasi. Tujuannya, jangan sampai kegagalan ini berulang di anak cucu. Jangan heran bila muatan pendidikan akan penuh dengan titipan pembentukan karakter dari berbagai keprihatinan. Supaya generasi muda selamat dari bahaya narkoba, gemar menabung, cinta membaca, tahu peran pajak, kenal kekayaan bumi dan lautan, dan seterusnya.

Saat kita masih sibuk berdebat masalah perilaku antargenerasi, coba iseng-iseng menanyakan pendapat mereka, siapakah yang mereka anggap sebagai pahlawan? Kalau ada yang menjawab bahwa pahlawannya adalah ayah dan ibu, maka bisa diharapkan mereka memiliki anugerah sedari kecil untuk percaya diri, tinggal dikembangkan dengan memaknai masa muda melalui pengalaman dan proses yang terjadi. Namun kalau mereka menjawab pahlawannya orang lain? Tidak masalah juga, karena lingkunganlah yang membentuk mereka untuk seperti itu. Karakter mereka terbentur, baik dicari ataupun tidak, melalui benturan yang dirasa atau tidak. Siapa tahu tempaan proseslah yang membuat anak muda melakukan anjangsana hakiki dalam fokus imajinasinya.

“Walau bagaimana pun perlu diakui, kita belum hidup dalam sinar bulan purnama. Kita masih hidup di masa pancaroba. Tetaplah bersemangat elang rajawali!” (Bung Karno, 1947).

You are the nation’s hero. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu?”

Tax Light

CAMEO

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seorang pemimpin hebat itu “dilahirkan” atau “diciptakan”?

Peran sebagai pemimpin, melahirkan teori dalam berjuta buku dan berita. Ada orang yang menjadi pemimpin karena selembar kertas pengangkatan.  Ada yang menjadi pemimpin dengan bantuan nilai-nilai relasional yang tinggi dan dia anut selama proses mencapai kepemimpinan. Ada juga yang menjadi pemimpin karena pilihan dan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.

Saat kita mempercayai bahwa seorang pemimpin itu dilahirkan, akan terlintas sosok Indira Gandhi dan keluarganya yang membesarkan India. Indira, putri dari Jawaharlal Nehru yang merupakan Perdana Menteri India, memiliki putra Rajiv, yang juga terpilih sebagai pemimpin India dalam kurun masa berbeda. Apakah itu karena ada genetis kepemimpinan mengalir di darah orang tua ke anak? Bagaimana dengan George Herbert Walker Bush sang ayah dan George Walker Bush sang anak yang sama-sama pernah menjabat sebagai Presiden USA? Apakah karakter mereka sesuai dengan teori kepemimpinan?

Dan bagaimana apabila pemimpin tidak berasal dari trah pemimpin? Mereka dibentuk. Siapa yang membentuk? Tempaan proses kehidupan masing-masing.

Kembali kepada pemimpin.

Kita sangat mengenal istilah Tut Wuri Handayani. Ini  bukan hanya slogan dari KI Hajar Dewantara. Artinya, Pemimpin yang memberi dorongan dari belakang. Pendorong, kata ini menyibakkan karakter yang solid. Namun saat ini, sulit dicari pemimpin yang mendorong. Apa yang sedang terjadi?

Proses penuaan bumi saat ini membuat kita lebih mengenal pemimpin yang memiliki panggungnya sendiri. Dan cenderung abai pada pemimpin yang tidak banyak terekspos oleh media atau media sosial. Lantas apakah performa kepemimpinan juga dikaitkan dengan kemunculan dan popularitas?

Sesuai dengan Hukum Dasar yang Kokoh yang disampaikan John C. Maxwell dalam buku 5 Levels of Leadership, dasar kepemimpinan adalah rasa percaya. Kemudian, Jati diri anda ditentukan oleh siapa yang tertarik pada Anda, demikian Hukum Magnet Kepemimpinan. Maxwell menetapkan level kepemimpinan tertinggi yaitu Kepemimpinan Puncak, di mana di level ini secara alamiah orang-orang mengikuti pemimpin yang lebih kuat dari mereka karena respek. Ketika seseorang sudah memilih jalurnya untuk menjadi seperti apa, maka publik akan menilai kinerjanya dengan nyata. Berita sebaik apapun, tetap akan dikonfrontasi dengan kenyataan yang belum tentu dapat dipercaya. Dan seorang pemimpin, mewakili nama baik instansi tempatnya mengemban amanah, menjadi sumber trust dan distrust. Bisa jadi pahlawan, atau korban.

Apabila dikonversikan gelar kepemimpinan dalam kepemerintahan, maka kepemimpinan yang terstruktur merupakan modalitas suatu pemerintahan. Unsur kepemerintahan tersebut tidak hanya ditentukan individu sebagai pemimpin, namun juga institusi sebagai unit kepemimpinan. Setiap institusi dapat meng claim unitnya sebagai pemimpin, paling berperan dalam pemerintahan, paling dipercaya, dan seterusnya. Setiap institusi atas nama pemerintah, berperan dalam tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Apabila menukik kembali ke dalam pemetaan pengumpulan penerimaan negara, mau tidak mau kita akan melihat ke institusi yang selama ini berperan dalam pengumpulan setoran pajak kepada negara. Dialah Direktorat Jenderal Pajak, yang memiliki tiga puluhan kantor wilayah tersebar di seluruh Indonesia, tiga ratus empat puluhan kantor pelayanan pajak, dan dua ratusan kantor penyuluhan, pelayanan dan konsultasi perpajakan. Instansi yang menjadi tempat bernaung 40 ribuan pegawai ini memiliki tanggung jawab di level empat kepemimpinan. Pertama,  memastikan bahwa perkembangan kesejahteraan akan terus terjadi. Kedua, melibatkan banyak hal untuk memberikan kepuasan kepada setiap individu secara mendalam. Ketiga, mengharuskan adanya rasa aman di dalam mengembangkan proses bagi orang lain. Untuk bisa naik kelas ke level lima kepemimpinan, maka kerjasama dengan pihak luar dalam mendukung  kinerja sangat dibutuhkan, selain tetap berfokus pada kerja keras dan strategik.

Itu semua menjadi tanggung jawab setiap instansi pemerintahan? Tentu saja! Apakah kita semua menyadarinya? Belum tentu!

 “Seorang pedagang bakso, menjadi pemimpin yang menginspirasi komunitas penjual bakso untuk membayar pajak, bahkan meluas kepada komunitas UMKM Sahabat Pajak.”

Saat ini, pemimpin yang menginspirasi sering kali tak terdeteksi, karena ruang lingkup mereka yang terbatas. Seorang pedagang bakso, menjadi pemimpin yang menginspirasi komunitas penjual bakso untuk membayar pajak, bahkan meluas kepada komunitas UMKM Sahabat Pajak. Seorang penjual bir pletok, bisa saja menyebarluaskan nilai religi untuk mencerahkan wawasan kesadaran pajak, tanpa meminta bayaran. Seorang dosen dan temannya mencetuskan aplikasi untuk membantu usahawan kecil dan menengah membuat laporan keuangan menjadi mudah dan responsif kewajiban perpajakan.

Gerakan kepemimpinan mereka tanpa terukur sesungguhnya sudah mencapai taraf mengembangkan orang lain.  Itu ada di level empat teorinya Maxwell. Gelombang kepemimpinan ini kelak akan masif dan tak terelakkan menanamkan benih edukasi dan kesadaran bagi masyarakat umum. Kelak, keyakinan dan kepercayaan Wajib Pajak kepada otoritas perpajakan akan semakin meningkat dengan terbentuknya institusi yang kuat, kredibel dan akuntabel. Sesuai dengan tujuan reformasi perpajakan.

Baiklah kita kemudian berpikir bahwa masalah kepemimpinan dewasa ini ternyata didominansi oleh transaksi berita. Pemimpin yang lahir ke permukaan bukanlah pemimpin yang dilahirkan atau dibentuk, melainkan pemimpin yang digadang-gadang. Yang adanya karena ada harapan. Dan adanya harapan karena ingin mewujudkan suatu tujuan. Seperti virus, kepemimpinan masa kini menularkan kepercayaan dan ketidakpercayaan secara simultan. Dan itu berdampak pada unit kerjanya. Ketika suatu instansi besar bertempur untuk mewujudkan cita-cita, maka gempuran atas kebenaran yang ditegakkan menjadi sumber kelemahan. Berita penangkapan atas oknum tertentu akan menjadi nila setitik di instansi mana saja. Lebih parah bila berujung pada penodaan citra.

Seandainya boleh berangan-angan… apabila suatu saat transaksi berita ditiadakan. Misalnya dengan melakukan pemadaman listrik sementara, atau kewajiban tidak menggunakan elektronik dan cahaya seperti saat hari besar keagamaan, Nyepi.  Kita akan kembali seperti zaman dulu ketika keberhasilan muncul di waktu yang pantas untuk diwartakan. Mungkin menjadi berita terakhir, seperti pemimpin yang muncul sekilas. Seperti kemunculan Cameo.

Saat semua sepi, kita belajar mengenali bahwa,  pemimpin yang hebat akan muncul dengan sendirinya, sekedar memberi pertanda bahwa dia ada. Dialah, sang Cameo.  Durasi kemunculannya tidak lama. Dia tidak berbicara. Perannya tidak terlalu ditonjolkan. Tapi dia berperan.

Seorang Cameo, seperti kata Vijay Eswaran, memiliki dunia heningnya sendiri. Kebenaran  tertinggi yang dia ketahui hanya terdapat dalam keheningan, bukan dalam kata-kata yang terbatas. Dan dia paham peran dirinya sendiri.

Seandainya, di tengah gelombang narsisme kepemimpinan dewasa ini, semua kita paham akan esensi Cameo….

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Aphantasia

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Photo Mehdinom/Wikimedia via The Daily Dot.

Kita mengenal “revolusi karakter”. Namun, sebelumnya perlu upaya untuk berkenalan dengan karakter diri kita sendiri. Tahapan pertama dengan mengenali kebutuhan diri, tujuan hidup, dan arti ada-tiada seorang manusia melalui berbagai bentukan rasa.

Salah satu bentuk adalah ketakutan.

Ketakutan, merupakan bentuk dari menerima apa yang diberikan Sang Pencipta tanpa bertanya kenapa dan bagaimana. Ketika seorang manusia sudah berhasil melahirkan ketakutan dalam dirinya untuk mengeluh atas apa yang dia peroleh, dia akan dikelilingi oleh harapan bahwa yang diperolehnya adalah yang terbaik dari Sang Pencipta. Maka karakter yang melingkupinya adalah keajaiban, kebebasan, ketulusan, perenungan, dan ingat kepada Tuhan, demikian Mufid dalam bukunya Mengasah Intuisi.

Perenungan yang dalam bisa dilatih saat kita dapat berimajinasi atas terjadinya suatu kondisi di sekitar kita. Kondisi terjadi karena adanya suatu ketetapan. Tujuannya demi kebaikan. Benarkah demikian? Bagaimana sekiranya ketetapan yang terjadi menyebabkan kondisi yang merugikan bagi kita? Masihkah dapat kita bayangkan sebagai kebaikan?

Disadari atau tidak, rasa ketakutan menjadi epidemi masyarakat zaman now dengan laju melampaui dugaan karena adanya pengalaman terbaru. Contohnya, bagaimana cara membedakan telur asli dan palsu dengan beredarnya video pembuatan telur palsu yang dinyatakan hoaks. Kondisi ini telah mencengkeram rasa takut masyarakat yang nantinya berperan dalam menentukan akan membeli telur atau tidak.

Contoh lagi, saat ramai-ramainya berita mengejar harta orang yang sudah meninggal untuk dipajaki. Epidemi ini menyuarakan kegalauan melampaui ekspektasi. Seandainya masyarakat mau menggali dari membaca, aturan ini telah berlaku lama dan warisan belum terbagi memang merupakan subjek pajak. Pelaksanaan kewajibannya pun nanti dijalankan ahli waris, bukan yang mewariskan yang sudah damai “di sana”. Saat ini, animo membaca berita masyarakat sangat tinggi, dari gawai dan bukan dari sumber berita. Saat ini, passion masyarakat sangat tinggi untuk menyebarkan ketakutan melalui media, dan viral dengan didampingi emosi, bukan viral dengan penelitian validitas.

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi dalam diri kita? Jangan-jangan kita tidak mengenal diri kita sendiri, apalagi mengenali karakter kita. Di mana-mana disampaikan bahwa untuk mengenali Tuhan dimulai dengan mengenali diri kita sendiri. Bagaimana bisa terjadi bila kita tidak belajar kenal siapa kita?

Satu lagi yang jadi perhatian, konsep membaca saat ini telah bergeser. Kanak-kanak zaman dulu membaca Si Ande-Ande Lumut, Kleting Kuning, Aji Saka, Kucing Bersepatu Lars, Hansel and Gretel, dengan memanfaatkan waktu untuk menyipitkan mata dan membayangkan. Kanak-kanak zaman old sudah dilatih berimajinasi. Tetapi keahlian itu sekarang musnah dengan kecanggihan zaman. Semua yang dibaca sudah lengkap gambar-gambarnya di depan mata. Tidak ada waktu untuk berkhayal lagi.

Maka, sayonara imajinasi.

Inilah yang dikenal dengan nama aphantasia. Istilah ini tersebut dalam sebuah penelitian di jurnal Cortex, oleh Adam Zeman dan tim. Penelitiannya menjelaskan bagaimana kasus orang yang kehilangan kemampuan berpikir dalam gambar setelah cedera otak. Ada pula yang baru bisa melihat gambar dalam mimpi, dan tidak bisa melihatnya bila diminta membayangkan. Menurut Zerman, Aphantasia bukan kelainan, hanya perbedaan, dan dapat terjadi di satu dari 50 orang. Sangat aneh rasanya membayangkan ada orang tanpa imajinasi, dan sangat mengerikan bila mereka bercerita tidak dapat mengenang kembali orang-orang tercinta mereka setelah kematiannya.

Di lingkup sederhana Aphantasia terjadi pada diri kita juga. Bagaimana itu terjadi? Coba diuji dengan melakukan pertanyaan pada diri sendiri. Pernahkah kita bertanya pada diri kita dengan kalimat-kalimat tanya di bawah ini?

Hai diriku, apakah kamu pernah membayangkan akan jadi apa kantormu tempat bekerja ini dengan adanya dirimu?

Hai diriku, apakah kamu pernah membayangkan akan kamu bawa ke mana keluargamu, pasanganmu, anak-anakmu, baik di rumah dan di kantor, untuk membina karakter dan kesuksesan masa depan mereka?

Hai diriku, pernahkah kamu bayangkan bagaimana Indonesia menopang pembangunannya bila warga negara tidak memiliki rasa cinta tanah air dan bela negara yang diimpelementasikan dengan membayar pajak secara jujur dan bahagia?

Diri yang tidak bisa menjawabnya, mungkin saja sedang mengidap aphantasia. Saatnya sekarang untuk belajar mengenali penyakit, epidemi, yang akan merusak diri kita. Jangan mudah terhasut dengan click bait di media sosial yang menarik kita untuk mempercayai berita-berita bombastis.

Kalau ada berita tentang pajak, persepsi ketakutan yang terbentuk di pikiran adalah manifestasi kepatuhan. Tepis ketakutan dengan bertandang ke kantor pajak tempat Anda terdaftar, sekadar berkenalan dengan petugas help desk, bertanya, menjalin silaturahmi dengan Account Representative yang juga bisa anda minta menjelaskan semua aturan terbaru. Mulailah dengan mengedukasi diri dan membangkitkan keinginan literasi kita, sehingga terbentuk awareness dan tanggung jawab sebagai warga negara yang taat pajak.

Hingga suatu saat…

Anda bisa berlatih menutup mata… Membayangkan masuk kantor pajak tanpa galau. Bisa baca buku dan internetan di pojokannya… Banyak teman baru yang menyenangkan di sana…  Ngobrol. Diskusi. Ngopi. Baca buku. Musik. Dan menepis takut menjadi percaya.

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Derau

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Setiap manusia itu unik dan memiliki kecerdasan. Menurut Ken Robinson dan Lou Aronica dalam bukunya Do It With Passion!, tiga ciri kecerdasan manusia adalah—satu, kecerdasan manusia luar biasa beragam; dua, kecerdasan manusia itu luar biasa dinamis; dan tiga, kecerdasan adalah luar biasa khas. Namun bentuk tertinggi kecerdasan manusia adalah berpikir kreatif. Kreativitas itu sendiri merupakan perwujudan dari imajinasi yang diterapkan dan itu bersentuhan sangat dengan dunia pendidikan. Sehingga pendidikan yang hebat itu tentunya bergantung pada pengajaran yang hebat.

Di manakah manusia memperoleh pengajaran? Dalam memahami jangkauan kemampuan, kita harus memahami batasan tentang kemampuan alami. Batas pertama, dalam memahami jangkauan kemampuan, manusia perlu mengenali kekuatan imajinasi, kecerdasan, intuisi, spiritualitas, kekuatan fisik dan indera, Pengajar pertama adalah orang tua, dengan lingkungan pendidikan utama adalah keluarga. Indonesia terenyak dengan kasus Guru Budi, di mana seorang siswa mampu memenuhi tuntutan nafsu emosionalnya untuk menganiaya yang berakibat pada tewasnya sang pengajar. Kasus ini mendapat perhatian dari Presiden RI yang menilai bahwa pendidikan di sekolah tidak hanya harus fokus pada kecerdasan otak, tetapi juga pendidikan karakter (Kompas.com, 6 Februari 2018). Jelas sekali ada kesenjangan pemahaman siswa pelaku penganiayaan tersebut dengan batas pertamanya dalam mengenali spiritualitasnya.

“Bila kualitas informasi kita untuk generasi muda dikalahkan oleh berita eksternal yang mereka peroleh dari gawai, maka bisa saja semua nasihat itu lenyap karena derau kecanggihan teknologi media sosial dan gim di gawai.”

Batas kedua adalah memahami bagaimana semua kemampuan saling terkait secara holistik. Pendidikan karakter, sejatinya menerapkan kepercayaan diri saat manusia belajar sejak dini berimajinasi. Hasil coretan gambar di kertas atau di dinding mendapatkan apresiasi. Coretan tak berbentuk dipuji. Kesalahan tidak sengaja tidak dimaki, tapi diarahkan. Keberanian memanjat pohon tidak diteriaki, tapi dijaga dan diamati keseimbangannya. Bahkan sampai ada pesan untuk tidak meneriakkan kata jangan yang saat ini dikhawatirkan terlewat dari filter pikiran bawah sadar, sehingga dimaknai larangan jangan sebagai instruksi untuk melakukan.

Batas ketiga adalah memahami betapa besarnya potensi yang dimiliki untuk tumbuh dan berubah. Camkanlah nasihat bahwa “Bila Anda tidak siap salah, Anda tidak akan pernah menghasilkan apa pun yang orisinal”. Maka, dengan kesalahan atau kegagalan yang diterima sejak usia dini, respons positif orang tua dan guru akan mengarahkan setiap anak manusia untuk lebih memahami siapa dirinya dan bakat apa yang dia miliki. Tidak merasa kecil hati saat ditegur dan diarahkan pada kebaikan, karena siap menerima apa pun kesalahan untuk menuju pembentukan diri yang lebih baik.

Ken Robinson menjelaskan dengan lugas, betapa sikap itu merupakan sudut pandang pribadi terhadap diri dan lingkungan. Bagaimana kita menilai sikap sang siswa yang tega menghajar gurunya sendiri? Dan akan lebih menarik bila kita renungkan, bagaimana siswa tersebut memandang dirinya sendiri? Batasannya terhadap kemampuan alaminya mungkin sudah remuk!

Membangun Pendidikan karakter akan berhadapan dengan derau. Derau, biasa disebut noise adalah suatu sinyal gangguan yang bersifat akustik (suara), elektris maupun elektronis, yang hadir dalam suatu sistem dalam bentuk gangguan yang bukan merupakan sinyal yang diinginkan, demikian jelas Wikipedia. Menariknya, derau ini bisa terjadi karena gangguan alamiah seperti petir, atau buatan manusia seperti motor, dan bisa muncul dengan adanya atau tanpa sinyal. Istilah ini sangat menarik karena gangguan yang dialami di area alat elektronik sebenarnya bisa diterjemahkan dalam kehidupan kita. Misalnya, derau yang terjadi dalam mengganggu kualitas informasi.

Lantas apa hubungannya derau dengan pembangunan karakter? Apabila kita berhadapan dengan karakter generasi muda di mana kita akan menerapkan etika, kesantunan, disiplin, nilai spiritual, kemudian kualitas informasi kita dikalahkan oleh berita eksternal yang mereka peroleh dari gawai, maka bisa saja semua nasihat itu lenyap karena derau kecanggihan teknologi media sosial dan gim di gawai.

Demikian pula bila kita berharap generasi muda kita kelak mengerti dan sadar pajak. Harapannya, saat mereka melakukan transaksi ekonomi, pemahaman mereka tentang pajak akan membuat peningkatan pertumbuhan penerimaan pajak yang sifatnya transaksional. Belum lagi jika mereka adu nyali menjadi pebisnis muda start up, maka peningkatan pembayaran pajak 1% mereka menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi UKM.

Pada salah satu workshop yang dihadiri peserta UKM di Indonesia, ada statement yang luar biasa disampaikan Ketua UKM Sahabat Pajak (USP) yang masih muda, bahwa, “Kami membayar pajak bukan karena dipaksa, tapi ingin berkontribusi walaupun tidak kelihatan. Kami membayar pajak karena rasa memiliki bangsa ini.”

Jelas. Sang pengusaha muda tidak memiliki derau dalam niatannya berbuat baik untuk bangsa melalui membayar pajak. Tentu saja, komunitas anak muda yang berbisnis dari makanan, pakaian sampai kerajinan itu musti bersusah payah mempelajari cara membuat laporan keuangan dengan benar, mengetahui sendiri berapa omzet bisnis mereka, dan berapakah yang mereka bayarkan sebagai pajak mereka? Yang atas nama keyakinan dan nilai-nilai spiritual mereka yakini akan meningkatkan rezeki mereka karena tidak berhitung dengan Tuhan.

Dan sebelum mengakhiri bulan Maret ini, jangan sampai ada derau di antara kita. Semakin awal melaporkan SPT Tahunan Anda sebagai pembayar pajak orang pribadi, tentunya semakin melegakan dan menenangkan. Zaman semakin berpacu dengan teknologi, maka gunakan teknologi untuk efisiensi pelaporan pajak.

Derau itu seperti sabotase. Saat kita fokus, maka dia hadir. Dia hadir seperti musuh dari kreativitas dan inovasi. Anda tahu wujudnya? Akal sehat di tengah kesibukan dan rutinitas, adalah musuh utama kreativitas dan inovasi. Anda berpikir untuk menunda hal-hal penting. Tidak mendahulukan pelaporan pajak di akhir bulan, misalnya. Namanya prokrastinasi, yang dalam ilmu psikologi disebut perilaku kecemasan saat memulai atau menyelesaikan tugas atau keputusan apa pun, sehingga pelaksanaannya tertunda.

Mulailah dengan memahami konsep batasan kemampuan alami kita sendiri. Singkirkan derau karena rasa memiliki terhadap bangsa ini. Akarnya hanyalah rasa peduli dan memiliki.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News3 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News5 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News6 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News8 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News8 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News9 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News11 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Analysis3 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak daripada tiang”....

Advertisement Pajak-New01

Trending