Connect with us

Tax Light

Anjangsana Hakiki

Aan Almaidah

Published

on

Penulis: Aan Almaidah A.

Pahlawan bukan hanya mereka yang gugur dalam medan perang, seperti yang kita doakan setiap kali ritual upacara bendera—lalu menjadi dogma. Ada banyak pahlawan lain yang luput kita kenalkan di jiwa anak-anak bangsa.

Barangkali sudah banyak di antara kita yang lupa dengan suasana upacara bendera: suasana magis saat pembacaan doa atau mengheningkan cipta terjadi. Mungkin pula hanya sedikit yang masih dapat mengilas balik hafalan saat Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dibacakan secara lantang. Saat ini, nilai suatu upacara bendera mungkin tidak lebih dari kewajiban rutin setiap Senin atau hari besar setiap tahun—berpanas-panasan, dan selesai. Kapan anda terakhir upacara bendera? Jangan tanyakan hal ini kepada seorang pegawai negeri sipil. Pasti mereka sudah terbiasa.

Adakah sentuhan lain di saat upacara yang menggerigis hati kita?

Hmmm… apa ya?

Maaf, saya tidak merasakan apa-apa.

Coba tanyakan kepada anak SD hal yang sama, tetapi dengan cara membalik pertanyaan. Mana lebih suka, upacara atau enggak? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, tapi pasti mereka memilih yang mereka suka.

Ada satu hal yang menarik dari nilai upacara. Ada nilai “anjangsana” di dalamnya. Anjangsana, adalah suatu kata yang sudah lama tidak kita dengar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, anjangsana adalah kunjungan untuk melepaskan rasa rindu, atau kunjungan silaturahmi. Rasa rindu, dimiliki oleh setiap orang yang pernah bertemu dan lama tidak bersua. Silaturahmi, bisa dilakukan kepada keluarga, teman, tetangga, dan memiliki esensi memperpanjang usia. Namun adakah yang bisa menjelaskan suatu kunjungan untuk melepaskan rasa rindu tanpa kita mengenal dekat orang yang kita rindukan, atau, tanpa perlu mendatangi tempatnya?

Bisa. Caranya sederhana. Dengan memahami kandungan ritual upacara bendera.

Kita “bertemu” dengan para pahlawan di upacara bendera. Kita mendoakan mereka. Mereka ada untuk kita doakan, walaupun mereka sudah tiada. Sayangnya, kita sering lupa, saat komando “Mengheningkan Cipta,  mulai!” Kita tepekur, bahkan tanpa bisa membayangkan pahlawan mana yang akan kita hadiahkan doa kita. Padahal, percayalah, di dunia sana, mereka sangat mengharapkan doa-doa kita untuk menerangi kuburnya, memperluas dunianya, dan menyejukkan hatinya.

Seandainya di Hari Pahlawan ini ada kesempatan menghadiri upacara bendera, maka kita harus memulai memperkuat pikiran. Letakkan imajinasi untuk fokus pada wajah-wajah pahlawan nasional, kemerdekaan, atau siapa pun yang kita akui sebagai pahlawan. Lantas, baru mulai doakan mereka dengan khusyuk seolah mengenalnya begitu dekat dan lama, seperti orang tua kita sendiri.

Imajinasi adalah hal yang digelisahkan Bung Karno lewat pidatonya di Semarang pada tanggal 29 Juli 1956. Di buku Youth Challenges and Empowerment, Anand Krishna menuliskan, Bung Karno menyatakan kegelisahannya terhadap pemuda-pemudi bangsa yang sudah mulai tidak peduli terhadap sejarah kita sendiri, sehingga kita juga tidak mempunyai imagination. Bangsa yang tidak mempunyai imajinasi tidak bisa membuat (monument). “Jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai imagination,” demikian kegalauan Bung Karno saat itu. Dan ini pemikiran tokoh bangsa yang sangat visioner.

Tentang imajinasi, Victor Frankl pernah menyatakan bahwa empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia adalah: (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (conscience); (3) kehendak bebas (independent will); dan (4) daya imajinasi (imagination). Keempat anugerah Ilahi itu terletak pada cara kerja akal dan hati. Saat kita tidak bisa menghargai imajinasi, maka kreativitas terkubur. Imajinasi juga merupakan media untuk mewujudkan cita-cita. Kita seharusnya tahu, dasar sejarah pembuatan candi-candi di Indonesia itu beralaskan imajinasi. Seharusnya, kita bangga atas imajinasi tersebut. Nah, letak keberhasilan suatu bangsa adalah rasa percaya diri generasi mudanya. Kelemahan kita adalah kurangnya rasa PD sebagai bangsa sehingga menjiplak luar negeri. Tidak percaya diri, karena kurang percaya satu sama lain. Tidak peduli pada masa lalu. Apabila nenek moyang saja bisa membuat candi besar dengan imajinasi hebat, sudah selayaknya cucu buyut moyang membangun negara dengan imajinasi yang lebih fantastis, bukan?

Namun, apa yang sedang terjadi saat ini?

Pembangunan dibiayai oleh pajak. Apabila penerimaan negara tidak mencapai target maka pembangunan dibiayai oleh pinjaman termasuk pinjaman luar negeri. Berarti, ada pihak lain yang bertanggung jawab atas proyek-proyek pembangunan. Nah, apabila tidak ada uang untuk melunasi pinjaman, maka kumulasi pinjaman meningkat, yang disebut utang turunan sampai ke anak cucu. Semakin banyak kita menemukan expertise atau tenaga ahli asing berperan dalam pembangunan negara ini.

Bila target pajak saat ini hanya diampu oleh sebanyak dua juta Wajib Pajak yang melakukan pembayaran, masih sulit menembus target yang ditetapkan pemerintah. Sementara itu, data demografis menunjukkan adanya potensi Wajib Pajak yang seharusnya membayar pajak. Ke manakah mereka sekarang? Seandainya dua atau tiga kali lipat masyarakat memiliki tanggung jawab dan kesadaran bayar pajak, maka kita punya data enam juta pembayar pajak. Diharapkan, meningkatnya kesadaran perpajakan berkorelasi positif dengan kepatuhan membayar pajak untuk mendukung tercapainya penerimaan pajak yang menjadi target per tahunnya.

Di zaman yang universal ini, sinergi membangun di suatu negara yang dilakukan antarbangsa bisa diberi judul “globalisasi”. Nah, di era Majapahit atau Sudirman, belum ada globalisasi. Imajinasi, yang terbentuk saat Indonesia merebut kemerdekaan, sungguh berbeda dengan imajinasi di saat informasi teknologi, juga jauh berbeda dengan imajinasi di saat Indonesia masih disebut Nusantara. Sayangnya, kita malas belajar sejarah. Padahal belajar sejarah akan membentuk karakter percaya diri. Contoh, sejak awal era Masehi, Indonesia memiliki banyak kerajaan kecil yang berdaulat. Pemuda di zaman itu percaya pada kekuatannya untuk membangun kerajaannya. Mereka tidak menuntut pengakuan sebagai pahlawan. Sejatinya, seseorang yang ditahbiskan sebagai pahlawan, mungkin saja tidak mempunyai cita-cita menjadi pahlawan.

Lantas bagaimana dengan seorang pembayar pajak yang dengan kesadaran sendiri melakukan kewajiban perpajakan secara benar dan baik lebih dari lima tahun berturut-turut? Apakah dia bisa diusung sebagai pahlawan? Pertanyaan ini menarik untuk disimak—bisa juga dijadikan status media sosial. Respons, tentu akan bertubi-tubi mengkritik. Seorang pembayar pajak disebut pahlawan? Yakin kalau tidak ada upaya penghindaran pajak di balik semua pembayaran pajaknya? Apakah benar dia benar-benar jujur?

Sekarang pertanyaan dibalik.

Jangan membandingkan yang sudah membayar pajak dengan dirinya sendiri. Bandingkan dengan yang sama sekali belum memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang taat pajak. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, karena pasti kita memilih yang kita suka.

You are the nation’s hero. Kata-kata heroik itu tertulis di map seminar institusi pajak negara tetangga. Termenung membacanya. Mereka bahkan sudah berani mengapresiasi setinggi-tingginya sikap cinta tanah air yang dituangkan dengan membayar pajak. Sang pembayar pajak pun, berani dipastikan, tidak pernah berharap bahwa mereka disebut pahlawan. Tidak perlu sampai diukir di batu nisan. Hanya merupakan pahlawan secara masif, yang diperingati dalam sehari ketika menerima penghargaan sebagai pembayar pajak terbesar. Mungkin nilai kepahlawanan itu sendiri berubah dari tahun ke tahun tergantung besarnya pembayaran. Atau, mungkin tidak ada perayaan tapi penanaman kesan, bahwa mereka pahlawan.

Kembali kepada kepercayaan diri.

Napoleon Hill, dalam Selling You-nya yang lawas dan luar biasa, menekankan bahwa kepercayaan diri berawal dari rumah. Peran sepasang lelaki perempuan dan manusia yang mengikat janji kebersamaan membentuk mahligai rumah tangga memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anak suci yang dilahirkan ibunda. Guru karakter pertama mereka adalah orang tua. Karakter itulah nantinya akan bercabang ke arah kepribadian atau kepercayaan diri, dan lain-lain, yang saat ini sangat tendensius menjadi komoditas pelatihan motivasi. Kalau mau dipikirkan kembali, semua topik dari motivasi hanya berakar dari satu kalimat. Sudahkah kamu mengenali dirimu sendiri?

Kegagalan menemukan siapa diri kita, akan menggagalkan cita-cita menjadi bangsa hebat. Kegagalan untuk kenal diri kita siapa, kemudian melahirkan materi pembentukan karakter yang menjadi inti di setiap kurikulum pendidikan. Misinya mulia, membentuk karakter generasi. Tujuannya, jangan sampai kegagalan ini berulang di anak cucu. Jangan heran bila muatan pendidikan akan penuh dengan titipan pembentukan karakter dari berbagai keprihatinan. Supaya generasi muda selamat dari bahaya narkoba, gemar menabung, cinta membaca, tahu peran pajak, kenal kekayaan bumi dan lautan, dan seterusnya.

Saat kita masih sibuk berdebat masalah perilaku antargenerasi, coba iseng-iseng menanyakan pendapat mereka, siapakah yang mereka anggap sebagai pahlawan? Kalau ada yang menjawab bahwa pahlawannya adalah ayah dan ibu, maka bisa diharapkan mereka memiliki anugerah sedari kecil untuk percaya diri, tinggal dikembangkan dengan memaknai masa muda melalui pengalaman dan proses yang terjadi. Namun kalau mereka menjawab pahlawannya orang lain? Tidak masalah juga, karena lingkunganlah yang membentuk mereka untuk seperti itu. Karakter mereka terbentur, baik dicari ataupun tidak, melalui benturan yang dirasa atau tidak. Siapa tahu tempaan proseslah yang membuat anak muda melakukan anjangsana hakiki dalam fokus imajinasinya.

“Walau bagaimana pun perlu diakui, kita belum hidup dalam sinar bulan purnama. Kita masih hidup di masa pancaroba. Tetaplah bersemangat elang rajawali!” (Bung Karno, 1947).

You are the nation’s hero. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu?”

Tax Light

Thanos

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

Saat ini, di Indonesia lahir Thanos-Thanos baru. Mereka berpikir bahwa kehidupan harus diseimbangkan, diluruskan, dan semuanya berawal dari niatan yang baik.

 

Niat baik, tidak semua berakhir baik. Demi menciptakan kesetimbangan di alam semesta, Thanos bercita-cita melenyapkan sebagian populasi kehidupan ini di Infinity War. Niatnya baik. Supaya manusia tidak merusak bumi. Supaya terjadi keseimbangan. Reaksi yang terjadi adalah, sebagian populasi dunia yang hidup tetap saja merasakan keadilan belum imbang. Ada pemikiran apakah populasi perlu dilenyapkan seluruhnya? Siapa yang menyangka di Avengers: Endgame, Thanos-lah yang dilenyapkan. Apa alasannya? Semua berawal dari enam batu bernilai yaitu power, mind, soul, reality, time dan space. Pahlawan bumi itu berjuang memperebutkan infinity stones dan melawan Thanos, yang akhirnya mati, dengan cara yang sama saat dia menghilangkan sebagian populasi.

Saat ini, di Indonesia, sudah lahir Thanos-Thanos baru. Mereka adalah orang-orang yang berpikir bahwa kehidupan harus diseimbangkan, diluruskan, dan semuanya berawal dari niatan yang baik. Mereka mencari enam batu permata kehidupan berupa kekuasaan, pikiran, jiwa, kenyataan, waktu dan ruang. Masalahnya, hidup hanya sekali, sehingga perlu upaya memperoleh nilai tersebut melalui perjuangan. Dalam bentuk apakah perjuangan yang dilakukan? Misalnya saja mendigitalisasi mindset sehingga kemajuan teknologi di industri 4.0 tidak terlewatkan. Berpikir bahwa efisiensi secara sistemik akan mempermudah pelayanan dan pengembangan wawasan pengetahuan. Melakukan pencarian jiwa melalui bacaan sufi yang mudah diperoleh di buku-buku digital, dan berusaha menyandingkan dengan kenyataan sehari-hari. Mengkritisi hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kondisi saat ini. Tanpa kita sadari, meledaknya film Avengers: Endgame adalah cerminan dari apa yang kita hadapi. Karena ada kesamaan, maka kita menyukai kenyataan dalam adegan demi adegan.

Simpelnya, kita menyukai tokoh, karena kita merasa sama dengan dia. Jadi kita siapa? Thanos? Iron man? Black Widow? Hulk? Thor? Hawkeye? Captain America? Nah. Yang terjadi saat ini, kita menyukai tokoh, karena kita mengharapkan banyak dari sang tokoh. Untuk itulah maka terjadi banyak polemik saat pesta demokrasi dilaksanakan. Karakternya kita rasakan mirip, dan kita harap akan membawa perbaikan. Lantas kita bercita-cita untuk menegakkan niatan baik. Karena setiap orang memiliki niatan baik, maka terciptalah kompetisi untuk mencari siapa yang terbaik. Sungguh sangat tidak nyaman bila setiap manusia merasa dirinya lebih baik dari yang lain, karena akan menciptakan kemarahan dan kesedihan bagi yang tidak dianggap baik. Sementara di sisi lain, mereka berpikir merekalah yang baik.

Ini sama saja saat melakukan kegiatan penyuluhan untuk menanamkan kesadaran bahwa pajak itu penting. Masalahnya sepele. Setiap orang merasa dia penting, pekerjaannya penting, sehingga tidak mau menerima bahwa pajaklah yang menopang struktur anggaran negara. Tuntutan yang dikedepankan adalah, fasilitas yang lebih banyak apabila melakukan hal-hal penting. Contohnya, saat pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan pajak yang batas waktunya sudah pasti, akhir Maret bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, dan akhir April bagi Wajib Pajak Badan. Tetap saja di hari terakhir baru dikerjakan, baru mendatangi kantor pelayanan pajak di lokasi masing-masing dan membahas masalah sistem informasi teknologi yang tidak berjalan baik. Karena merasa terganggu dengan kesulitan yang dihadapi di hari-hari akhir batas waktu, maka tuntutan berjalan. Misalnya perpanjangan batas waktu pelaporan atau meniadakan sanksi. Tagline yang diusung berupa “Lebih Awal, Lebih Nyaman”, hanya berlaku untuk sebagian Wajib Pajak, dan tidak berlaku untuk sebagian yang lainnya. Bayangkan, kalau Thanos ada di Indonesia lantas menghilangkan populasi masyarakat yang tidak patuh melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan, apa kata dunia?

“Keseimbangan mungkin tercipta saat kita merasa sama-sama telah bekerja dengan baik sehingga yang tersisa adalah saling mengisi, mendukung, dan membantu satu sama lain.”

Power, atau Kekuasaan, itu penting, tapi lebih penting bila merangkul mind dan soul. Mungkin itu yang dibutuhkan bila petugas pajak melakukan pelayanan dan mengedukasi secara persuasif. Program Bussiness Development Service contohnya, mengusung power, mind dan soul tersebut dengan merangkul pengusaha kecil dan menengah (UMKM), bekerja sama dengan Rumah Kreatif BUMN, Kementerian dan Lembaga atau Perbankan yang juga mengasuh UMKM se Indonesia, dan market place yang ada. Peran UMKM sangat penting di Indonesia, karena 60.34 persen Produk Domestik Bruto Indonesia berasal dari sektor ini. Dari sekitar 59 juta pelaku UMKM, sudah 1,8 juta yang melakukan pembayaran pajak, dengan persentase berkisar 3 persen. Program BDS bertujuan meningkatkan awareness, engagement, dan compliance pelaku usaha terhadap pajak.

Bagaimana caranya? Idealnya, interaksi antara petugas pajak dan Wajib Pajak terjadi saat setiap orang bisa berpikir di mind dan soul lawan bicaranya. Setiap orang memiliki kemampuan untuk menerima keunikan dan memahami pandangan orang lain, seakan-akan Anda adalah orang tersebut. Demikian ini didefinisikan sebagai “empati”.

Seorang Wajib Pajak diharapkan bisa berpikir begini, bagaimana perasaan saya kalau jadi petugas pajak yang melayani di Tempat Pelayanan Terpadu kantornya, dan dimarah-marahi seperti saya memarahi dia saat ini? Bagaimana perasaan saya sudah jaga dan lembur sampai malam, malah menerima omelan dari saya? Sementara di lain sisi, sang petugas pajak bisa berpikir empati seperti ini: Bagaimana perasaan saya kalau jadi seperti bapak ini, yang seharusnya melapor di awal tapi terkendala satu dan lain hal sehingga melapornya jadi di akhir? Bagaimana perasaan saya saat saya tidak tahu cara membuat laporan keuangan perusahaan saya, sementara antreannya masih panjang? Bagaimana peran pajak dalam pandangan warga negara? Bagaimana peran pajak dalam persepsi kita semua? Tentu saja, menanamkan empati itu mengandung niat baik, yaitu menumbuhkan tujuan berupa belief bahwa Bayar Pajak itu Untung.

Seorang teman pajak yang bertugas di remote area, juga akan merasakan haru saat menyadari bahwa temannya yang bertugas di Kantor Pusat juga sama-sama lembur sampai tengah malam untuk memastikan kestabilan sistem yang berjalan. Kenyataan bahwa ada kesamaan tanggung jawab walaupun berbeda lokasi kerja, membawa kita semua pada empati atas permasalahan masing-masing. Keseimbangan mungkin tercipta saat kita merasa sama-sama telah bekerja dengan baik sehingga yang tersisa adalah saling mengisi, mendukung, dan membantu satu sama lain.

Reality atau kenyataan, adalah jawabannya. Kenyataan tergantung pada waktu terjadi (time) dan di mana terjadinya (space). Kenyataan, juga menjadi parameter yang harus dianalisis demi mewujudkan perbaikan di masa selanjutnya. Menyongsong kecanggihan zaman, digitalisasi bisa tetap berkembang, tetapi humanisme membutuhkan sentuhan dari hati. Sentuhan yang bukan hanya sekali klik jentikan jari seperti dilakukan Thanos, lantas hilang separuh populasi. Atau yang dilakukan Iron Man untuk melenyapkan Thanos. Sentuhan hati itu tercipta melalui pemahaman yang sebenarnya sudah berakar karena budaya manusia mempersyaratkan cinta dan kasih sayang. Sejak Adam dan Hawa ada.

Artinya, kita harus menganggap penting semua orang. Dalam buku Psychology of Winning-nya Dennis Waitley, Bernard Baruch mengatakan bahwa “Orang-orang penting tidak menjadi masalah dan orang-orang yang bermasalah itu, tidak penting.” Maka, kalau Sodara-Sodara mengagumi seseorang, sebenarnya itu tidak penting. Kagumilah semua orang!

Continue Reading

Tax Light

SIPORA

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

Pulau Sipora adalah bukti sukses pemberdayaan potensi di tengah keterbatasan. Kuncinya adalah melek kepada perubahan.

Adakalanya kita menyangsikan potensi sesuatu bila kita tidak mengenalnya. Individu  yang memiliki potensi dalam pemikiran, ide dan inovasi, bisa saja tenggelam saat dia tidak berusaha menjual modalitasnya. Potensi bakat seseorang, bisa saja kandas saat tidak ada yang berusaha memberdayakannya. Demikian juga dengan potensi benda lain, misalnya pulau. Pulau yang memiliki potensi wisata luar biasa, bisa saja tidak dikenal wisatawan mancanegara karena tidak ada informasi lengkap mengenai keindahan alamnya. Dan potensi pajak di suatu negara, bisa saja tidak tergali saat tidak ada yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggalinya. Lantas, apa yang diperlukan untuk menjual suatu potensi sehingga dikenali dan dipahami setiap orang?

Perubahan, mungkin salah satu jawaban. Bagaimana mengubah cara pandang bahwa adalah sah saat menjual informasi tentang diri kita, organisasi, dan tentang negara kita, selama itu menebarkan hal positif. Perubahan, tentu saja butuh waktu. Hal utama saat memperkenalkan perubahan adalah dengan mewartakan benefit dan insentifnya.

Sama ketika dalam salah satu pelatihan yang menyampaikan kisah sukses suatu aplikasi di suatu kementerian yang diterapkan di sebuah pulau kecil. Namanya asing. Padahal, letaknya di Indonesia, dekat Pulau Mentawai. Pernah mendengar Pulau Sipora? Ada kisah sukses di sana. Karena letaknya yang jauh dari mana-mana, sistem yang mengendalikan anggaran pemerintahan berjalan dengan lambat. Bayangkan, untuk mencapai pusat kota memerlukan waktu lama mengarungi laut dan daratan. Akhirnya sebuah aplikasi diberdayakan di Pulau Sipora. Lantas, kisah sukses bagaimana aplikasi itu berhasil mengubah performance dan kultur bekerja di salah satu unit kerja percontohan di pulau yang namanya cantik itu, membuat banyak pengamat berselancar di internet untuk mencari tahu. Pulau Sipora yang mengandung kesuksesan efisiensi suatu sistem itu berada di mana? Whoyla! Ternyata pulau kecil ini sangat indah dan memiliki gelombang laut yang ciamik bagi pencinta surfing.

Apa yang kita pelajari dari hal di atas? Potensi itu harus dijual, bagaimanapun caranya. Sesederhana itu? Tentu tidak. Yang pertama, harus ada perubahan. Dalam penerapan aplikasi di Pulau Sipora itu, tentunya sudah ada riset mengenai faktor penentu keberhasilan dari perubahan. Kalau upaya inovasi berhasil, maka akan terjadi efisiensi, pemangkasan biaya dan upaya dalam mengirim laporan, misalnya. Aplikasi itu merupakan kekuatan yang diciptakan untuk mendukung apa yang dibutuhkan oleh perubahan. Menciptakan kekuatan, adalah yang kedua.

Yang ketiga, harus ada keterlibatan manusia di dalamnya, baik sebagai pegawai atau pimpinan, sehingga mereka melihat perubahan dalam konteks riil daripada sekadar ide. Di sinilah peran edukasi dan informasi yang menjelaskan tentang perilaku baru yang dibutuhkan di masa depan. Contoh, apabila sistem berjalan, manusia tidak akan keletihan mengarungi lautan. Ini hal menarik  yang membuat sumber daya manusia merasa tertarik  untuk belajar memahami perubahan organisasi. Dan, siapa yang mensyiarkan kebermanfaatan? Tentu saja, pemimpin! Pemimpin adalah kunci pendorong perubahan terpenting, sehingga dibutuhkan kepemimpinan yang visibel dan visioner serta transparan.

Setelah melakukan kegiatan yang mengatasnamakan perubahan, langkah berikut adalah melakukan evaluasi untuk mengukur kesiapan organisasi dan pegawai.  Perlu ada tools yang dinamakan strategi.  Jadi perlu membuat strategi komunikasi yang melahirkan agen-agen perubahan yang siap menjadi jembatan informasi. Siapa agen perubahan itu? Mereka yang bisa menerima perubahan baik dari segi teknologinya dan prosedurnya. Bagaimana caranya? Perlu ada wadah dalam membentuk kualitas mental menghadapi perubahan, berupa pelatihan. Pelatihan berkelanjutan yang diharapkan dapat  membentuk budaya berkesinambungan menuju tujuan perubahan.

Perubahan itu memiliki tiga unsur pemicu yaitu hasrat, keyakinan dan harapan, menurut Wendy Grant dalam bukunya, Dare! Hasrat mengandung semangat keyakinan, dan di dalam keyakinan ada kekuatan pengharapan yang tidak bisa diremehkan. Keyakinan itu juga terdapat dalam diri setiap individu yang memiliki hasrat menggebu bela negara dengan membayar pajak. Dia yakin, pembayaran pajaknya akan menjadikan negaranya kuat dan mandiri. Setidaknya, dia punya harapan bahwa sebagai warga negara yang baik, dia memiliki kontribusi jasa bagi negara, dengan membayar pajak.

Dari mana datangnya hasrat, keyakinan dan harapan? Jawabannya sederhana: dari kepercayaan! Salah satu dari  elemen utama kepercayaan atau trust, yaitu suatu harapan untuk sesuatu yang penuh kebaikan (Rousseau, 1998). Harapan ini timbul dari pengalaman pribadi, teman atau kerabat,  yang kemudian membentuk persepsi dan perilaku percaya. Maka dari itu, jangan kaget kalau iklan bayar SPT Tahunan di media sosial yang berupa goyang Hei-Ho menjadi sangat menarik, karena mengingatkan masyarakat pada lagu lawas yang banyak penggemarnya pada zaman itu, dan kemudian mengingatkan kita semua untuk melaporkan pajak “lebih awal, lebih nyaman”.

Tuntutan untuk berubah memang akan ada di setiap masa. Pelaporan e-filing yang membutuhkan masa edukasi lebih dari lima tahun sejak e-filing diperkenalkan, berproses dalam seleksi pemaknaan. Kalau dulu setiap batas akhir pelaporan surat pemberitahuan tahunan pajak, kantor pelayanan pajak di seluruh Indonesia pasang tenda, sekarang sudah mulai berkurang. Sudah banyak menggunakan aplikasi. Lebih efisien, apalagi kalau menyimpan eFin, dan ga lupa password -nya, sehingga tidak perlu bolak balik ke kantor pajak. Budaya sudah mulai berubah. Diharapkan dengan semakin sadarnya menggunakan aplikasi pelaporan, maka tidak perlu heboh di akhir Maret tahun depan. Sama dengan penggunaan aplikasi di Pulau Sipora di atas. Saat  semua sistem berjalan aman, maka kita tentu saja dapat mengetikkan jari memenuhi kewajiban kerja seraya berselancar menikmati keindahan wisata di kaca gawai.

Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds cannot change anything, pesan George Bernard Shaw mengiaskan perubahan. Seperti juga kehidupan dan kematian, perubahan itu datangnya pasti, tapi tidak selalu disadari.

Continue Reading

Tax Light

“Tirtha”

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

Thirta adalah sumber kehidupan. Itu sebabnya ia menempati 70–80 persen ruang dari seluruh komposisi di dalam tubuh manusia. Sama seperti APBN yang komposisinya menjadi penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

 

Ketika gempa lagi-lagi melanda Sumatera Barat, saudara-saudara kita di sana didekatkan pada ketakutan akan amuk gelombang yang bernama tsunami. Kalau saja diperbolehkan mengungsi sebelum siaga satu, mungkin mereka memilih menghindari daerah berpantai. Memang, sejak kejadian di Banten orang-orang akan berpikir dua kali melaksanakan kegiatan di pinggir pantai. Tsunami, menurut Wikipedia, merupakan perpindahan badan air akibat perubahan tiba-tiba permukaan air secara vertikal. Air punya badan? Ya, bahkan mungkin punya tangan, punya wajah, dan punya anggota tubuh yang tidak terlukiskan oleh manusia. Air juga bisa mendengar, loh! Bahkan bisa menyerap emosi melalui pendengarannya. Kalau tidak percaya, buktinya ada di penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang yang berhasil membuktikan bahwa molekul air bisa bereaksi terhadap ucapan yang di dalamnya mengandung energi positif atau negatif.

Saat menjadi pembicara di Malaysia, Emoto memperlihatkan struktur molekul air yang cantik seperti berlian dan memancarkan lebih dari 12 warna, yang ternyata molekul dari air zamzam. Kita semua tahu, air zamzam mengandung banyak sekali doa, dan air mewujudkan apa yang didengarnya melalui bentuk yang cantik berkilau. Itu hasil riset Emoto. Ada juga molekul air yang rusak karena diucapkan kata-kata buruk, dan seterusnya seperti yang pernah kita baca.

Bicara tentang air itu mengasyikkan, karena bumi kita mengandung hampir 70 persen air. Konon, di galaksi semesta ini hanya bumi yang dianugerahi air. Belum ada riset yang membuktikan bahwa air ada di planet lain. Bisa dibayangkan kalau air terdapat banyak di planet lain, maka saat bumi kekeringan di mana tidak ada lagi Nabi Yusuf yang bisa meramalkan sampai berapa masa akan berlangsung kekeringan, penduduk bumi bisa hijrah beramai-ramai ke planet lain demi seteguk air.

Air, adalah komponen terpenting di dalam diri seorang manusia. Tubuh seorang bayi saja mengandung 80 persen air, dan persentase kandungan akan berkurang seiring pertambahan usia. Misalnya orang dewasa hanya memiliki 60 persen unsur air sementara manula memiliki 50 persen. Sadarkah kita, kenapa untuk itu dilarang bicara negatif pada sesama manusia sejak dia bayi? Yes, karena komponen air dalam tubuhnya bisa mendengar emosi!

Satu lagi yang perlu kita ketahui, air digunakan untuk bersuci. Bagi umat Islam, sebelum salat diwajibkan bersuci dengan air. Di KBBI, air memiliki nama lain yaitu tirta, atau tirtha dengan h. Kita mengenal tirtha, yaitu air yang digunakan untuk bersuci sebelum memulai persembahyangan umat Hindu. Tirtha berasal dari kata Sanskerta yang memiliki arti kesucian, dan berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun cemarnya pikiran. Di dalam tirtha, menurut buku Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan (www.inputbali.com, 2015), terdapat kekuatan spiritual perwujudan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena manusia mengandung banyak air dalam tubuhnya, apakah bisa dikatakan ada kekuatan spiritual Tuhan dalam tubuh manusia sendiri? Kalau benar, apa iya manusia itu makhluk spiritual? Ini perlu kajian tersendiri untuk membuktikannya. Dan kalau kita cermati, sebagian besar hal tentang air di atas bersumber dari hasil riset. Butuh kajian.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah.

Riset itu ada. Untuk menyempurnakan gelar, biasanya ditutup dengan hasil riset melalui proses penelitian yang dilakukan. Biasanya mahasiswa melakukan riset di berbagai kementerian dan lembaga, dan instansi pemerintahan atau swasta. Di Direktorat Jenderal Pajak sendiri, per tahun hampir seribu surat permohonan izin riset datang. Tema risetnya bisa untuk mengetahui kepatuhan pajak, kepuasan layanan, budaya kerja, manfaat aplikasi berbasis teknologi, dan masih banyak lagi yang lain. Sayangnya, belum semua hasil riset dapat digunakan untuk dasar perumusan kebijakan. Semuanya bermuara pada pola pandang, bahwa tujuan riset tidak semata meluluskan gelar kesarjanaan bagi individu, tetapi seyogianya memberikan kontribusi penting bagi unit kerja atau lokus tempat riset diadakan.

Kalau kita baca di salah satu situs pengulas riset, negara yang memiliki reputasi sangat baik di dunia karena mutu riset dan pendidikan tingginya adalah Jerman. Bahkan menduduki peringkat ketiga peraih Nobel karena 80 warganya telah menerima penghargaan itu. Bagaimana dengan Indonesia? Kalau tidak salah, belum ada warga negara Indonesia peraih Nobel. Bukan hanya Nobel Sastra, ranah sains pun belum terjamah. Sementara, Indonesia dikenal sebagai negara lima besar penduduk terbanyak! Kita perlu berpikir kembali untuk menanamkan kuriositas sejak usia dini. Contoh kecil saja, pernahkah sambil jalan kita memberikan uang jajan kepada anak kita dan menyampaikan pesan, “Nak, ini uang jajanmu dari Bapak. Uang ini Bapak dapat dari gaji Bapak. Bapakmu ini Aparatur Sipil Negara. Pegawai negeri, gitu. Nah, gaji Bapak ini dari uang pajak yang dibayar sama orang-orang yang cinta bangsa ini. Jadi ingat ya, Nak, uang jajanmu asalnya dari uang pajak.”?

Belum ada riset sederhana mengulas pemahaman kecil itu.

Persis seperti air mengalir, sekarang ini mengalir berita bahwasanya Indonesia mulai meningkatkan gairah riset dengan peningkatan publikasi ilmiah internasional. Tahun 2017 (www.goodnewsfromindonesia.id), Indonesia menempati peringkat tiga besar publikasi ilmiah internasional terindeks oleh Scopus di wilayah Asean. Indonesia hanya kalah dari Malaysia dan Singapura, maka mari kita terapkan pesan Menristekdikti, Bapak M. Nasir, bahwa prestasi ini harus dipertahankan dan momentum harus dijaga. Perlu lebih banyak kompetisi riset dan call for paper, yang bahkan juga dilakukan oleh Ditjen Pajak yang menggelar hasilnya melalui Seminar Nasional Perpajakan bulan Maret ini.

Baca Juga: Tax Center” dalam Riset Pajak

Gairah untuk melakukan riset sinergi perguruan tinggi dengan lembaga atau instansi perlu ditularkan dalam bentuk virus penyakit akut. Dampaknya adalah terinfeksinya setiap peserta didik dan pegawai dalam berpikir dengan perspektif renungan dan keingintahuan. Hal ini dilakukan juga oleh National Tax Agency di Jepang, yang memiliki struktur organisasi riset yang melaksanakan tugas melakukan penyelidikan dan penelitian ilmiah terkait pajak, serta berkolaborasi dengan universitas dan lembaga penelitian. Menduplikasi semangat riset di berbagai negara perlu dukungan pemahaman kesadaran pajak, di mana lembaga riset sendiri sebagaimana lembaga pendidikan mendapat dukungan penuh pajak dengan tidak menanggung pajak sepanjang dilakukan sesuai ketentuan prinsip nirlaba.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah. Bahkan bisa dimulai dari lomba-lomba yang digelar bukan hanya oleh perguruan tinggi, tetapi juga instansi dan unit kerja yang melibatkan minat meneliti generasi muda. Dan kalau ini sudah menjadi budaya dan kebiasaan, maka fungsi air bukan saja mengalir atau menyucikan, tetapi bisa sebagai tempat berkaca dan merefleksikan diri.

Masih ingat cerita tentang Narcissus yang jatuh cinta pada dirinya sendiri saat melihat bayangannya di permukaan air? Sekarang ini orang menamakan “narsis” bagi orang yang sangat suka pada dirinya sendiri melalui mengunggah foto diri, swafoto, atau memberitakan diri sendiri. Narcissus belum sempat melakukan refleksi diri sehingga dia tidak tahu siapa bayangan yang ada di permukaan air saat berkaca. Apabila kita tahu siapa diri kita, maka kita tidak akan menjadi seperti Narcissus.

Berkaca pada komposisi air dalam tubuh sebesar 70-80 persen yang dapat menentukan kehidupan manusia, maka bukan suatu kebetulan apabila pajak juga memiliki komposisi yang penting di APBN. Sama dengan air dalam tubuh kita, komposisi pajak sebesar 70-80 persen di APBN mencerminkan peran utama sebagai penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

Hidup memang butuh dipikirkan dan direnungi. Manusia bisa memulai riset dari dirinya sendiri. “Cogito ergo sum,” kata Rene Descartes. “Aku berpikir, maka… aku ada.”

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 hari ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News3 minggu ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News3 minggu ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News1 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News4 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News8 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News8 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News8 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News9 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News9 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Trending