Connect with us

Tax Light

Anjangsana Hakiki

Aan Almaidah

Published

on

Penulis: Aan Almaidah A.

Pahlawan bukan hanya mereka yang gugur dalam medan perang, seperti yang kita doakan setiap kali ritual upacara bendera—lalu menjadi dogma. Ada banyak pahlawan lain yang luput kita kenalkan di jiwa anak-anak bangsa.

Barangkali sudah banyak di antara kita yang lupa dengan suasana upacara bendera: suasana magis saat pembacaan doa atau mengheningkan cipta terjadi. Mungkin pula hanya sedikit yang masih dapat mengilas balik hafalan saat Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dibacakan secara lantang. Saat ini, nilai suatu upacara bendera mungkin tidak lebih dari kewajiban rutin setiap Senin atau hari besar setiap tahun—berpanas-panasan, dan selesai. Kapan anda terakhir upacara bendera? Jangan tanyakan hal ini kepada seorang pegawai negeri sipil. Pasti mereka sudah terbiasa.

Adakah sentuhan lain di saat upacara yang menggerigis hati kita?

Hmmm… apa ya?

Maaf, saya tidak merasakan apa-apa.

Coba tanyakan kepada anak SD hal yang sama, tetapi dengan cara membalik pertanyaan. Mana lebih suka, upacara atau enggak? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, tapi pasti mereka memilih yang mereka suka.

Ada satu hal yang menarik dari nilai upacara. Ada nilai “anjangsana” di dalamnya. Anjangsana, adalah suatu kata yang sudah lama tidak kita dengar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, anjangsana adalah kunjungan untuk melepaskan rasa rindu, atau kunjungan silaturahmi. Rasa rindu, dimiliki oleh setiap orang yang pernah bertemu dan lama tidak bersua. Silaturahmi, bisa dilakukan kepada keluarga, teman, tetangga, dan memiliki esensi memperpanjang usia. Namun adakah yang bisa menjelaskan suatu kunjungan untuk melepaskan rasa rindu tanpa kita mengenal dekat orang yang kita rindukan, atau, tanpa perlu mendatangi tempatnya?

Bisa. Caranya sederhana. Dengan memahami kandungan ritual upacara bendera.

Kita “bertemu” dengan para pahlawan di upacara bendera. Kita mendoakan mereka. Mereka ada untuk kita doakan, walaupun mereka sudah tiada. Sayangnya, kita sering lupa, saat komando “Mengheningkan Cipta,  mulai!” Kita tepekur, bahkan tanpa bisa membayangkan pahlawan mana yang akan kita hadiahkan doa kita. Padahal, percayalah, di dunia sana, mereka sangat mengharapkan doa-doa kita untuk menerangi kuburnya, memperluas dunianya, dan menyejukkan hatinya.

Seandainya di Hari Pahlawan ini ada kesempatan menghadiri upacara bendera, maka kita harus memulai memperkuat pikiran. Letakkan imajinasi untuk fokus pada wajah-wajah pahlawan nasional, kemerdekaan, atau siapa pun yang kita akui sebagai pahlawan. Lantas, baru mulai doakan mereka dengan khusyuk seolah mengenalnya begitu dekat dan lama, seperti orang tua kita sendiri.

Imajinasi adalah hal yang digelisahkan Bung Karno lewat pidatonya di Semarang pada tanggal 29 Juli 1956. Di buku Youth Challenges and Empowerment, Anand Krishna menuliskan, Bung Karno menyatakan kegelisahannya terhadap pemuda-pemudi bangsa yang sudah mulai tidak peduli terhadap sejarah kita sendiri, sehingga kita juga tidak mempunyai imagination. Bangsa yang tidak mempunyai imajinasi tidak bisa membuat (monument). “Jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai imagination,” demikian kegalauan Bung Karno saat itu. Dan ini pemikiran tokoh bangsa yang sangat visioner.

Tentang imajinasi, Victor Frankl pernah menyatakan bahwa empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia adalah: (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (conscience); (3) kehendak bebas (independent will); dan (4) daya imajinasi (imagination). Keempat anugerah Ilahi itu terletak pada cara kerja akal dan hati. Saat kita tidak bisa menghargai imajinasi, maka kreativitas terkubur. Imajinasi juga merupakan media untuk mewujudkan cita-cita. Kita seharusnya tahu, dasar sejarah pembuatan candi-candi di Indonesia itu beralaskan imajinasi. Seharusnya, kita bangga atas imajinasi tersebut. Nah, letak keberhasilan suatu bangsa adalah rasa percaya diri generasi mudanya. Kelemahan kita adalah kurangnya rasa PD sebagai bangsa sehingga menjiplak luar negeri. Tidak percaya diri, karena kurang percaya satu sama lain. Tidak peduli pada masa lalu. Apabila nenek moyang saja bisa membuat candi besar dengan imajinasi hebat, sudah selayaknya cucu buyut moyang membangun negara dengan imajinasi yang lebih fantastis, bukan?

Namun, apa yang sedang terjadi saat ini?

Pembangunan dibiayai oleh pajak. Apabila penerimaan negara tidak mencapai target maka pembangunan dibiayai oleh pinjaman termasuk pinjaman luar negeri. Berarti, ada pihak lain yang bertanggung jawab atas proyek-proyek pembangunan. Nah, apabila tidak ada uang untuk melunasi pinjaman, maka kumulasi pinjaman meningkat, yang disebut utang turunan sampai ke anak cucu. Semakin banyak kita menemukan expertise atau tenaga ahli asing berperan dalam pembangunan negara ini.

Bila target pajak saat ini hanya diampu oleh sebanyak dua juta Wajib Pajak yang melakukan pembayaran, masih sulit menembus target yang ditetapkan pemerintah. Sementara itu, data demografis menunjukkan adanya potensi Wajib Pajak yang seharusnya membayar pajak. Ke manakah mereka sekarang? Seandainya dua atau tiga kali lipat masyarakat memiliki tanggung jawab dan kesadaran bayar pajak, maka kita punya data enam juta pembayar pajak. Diharapkan, meningkatnya kesadaran perpajakan berkorelasi positif dengan kepatuhan membayar pajak untuk mendukung tercapainya penerimaan pajak yang menjadi target per tahunnya.

Di zaman yang universal ini, sinergi membangun di suatu negara yang dilakukan antarbangsa bisa diberi judul “globalisasi”. Nah, di era Majapahit atau Sudirman, belum ada globalisasi. Imajinasi, yang terbentuk saat Indonesia merebut kemerdekaan, sungguh berbeda dengan imajinasi di saat informasi teknologi, juga jauh berbeda dengan imajinasi di saat Indonesia masih disebut Nusantara. Sayangnya, kita malas belajar sejarah. Padahal belajar sejarah akan membentuk karakter percaya diri. Contoh, sejak awal era Masehi, Indonesia memiliki banyak kerajaan kecil yang berdaulat. Pemuda di zaman itu percaya pada kekuatannya untuk membangun kerajaannya. Mereka tidak menuntut pengakuan sebagai pahlawan. Sejatinya, seseorang yang ditahbiskan sebagai pahlawan, mungkin saja tidak mempunyai cita-cita menjadi pahlawan.

Lantas bagaimana dengan seorang pembayar pajak yang dengan kesadaran sendiri melakukan kewajiban perpajakan secara benar dan baik lebih dari lima tahun berturut-turut? Apakah dia bisa diusung sebagai pahlawan? Pertanyaan ini menarik untuk disimak—bisa juga dijadikan status media sosial. Respons, tentu akan bertubi-tubi mengkritik. Seorang pembayar pajak disebut pahlawan? Yakin kalau tidak ada upaya penghindaran pajak di balik semua pembayaran pajaknya? Apakah benar dia benar-benar jujur?

Sekarang pertanyaan dibalik.

Jangan membandingkan yang sudah membayar pajak dengan dirinya sendiri. Bandingkan dengan yang sama sekali belum memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang taat pajak. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, karena pasti kita memilih yang kita suka.

You are the nation’s hero. Kata-kata heroik itu tertulis di map seminar institusi pajak negara tetangga. Termenung membacanya. Mereka bahkan sudah berani mengapresiasi setinggi-tingginya sikap cinta tanah air yang dituangkan dengan membayar pajak. Sang pembayar pajak pun, berani dipastikan, tidak pernah berharap bahwa mereka disebut pahlawan. Tidak perlu sampai diukir di batu nisan. Hanya merupakan pahlawan secara masif, yang diperingati dalam sehari ketika menerima penghargaan sebagai pembayar pajak terbesar. Mungkin nilai kepahlawanan itu sendiri berubah dari tahun ke tahun tergantung besarnya pembayaran. Atau, mungkin tidak ada perayaan tapi penanaman kesan, bahwa mereka pahlawan.

Kembali kepada kepercayaan diri.

Napoleon Hill, dalam Selling You-nya yang lawas dan luar biasa, menekankan bahwa kepercayaan diri berawal dari rumah. Peran sepasang lelaki perempuan dan manusia yang mengikat janji kebersamaan membentuk mahligai rumah tangga memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anak suci yang dilahirkan ibunda. Guru karakter pertama mereka adalah orang tua. Karakter itulah nantinya akan bercabang ke arah kepribadian atau kepercayaan diri, dan lain-lain, yang saat ini sangat tendensius menjadi komoditas pelatihan motivasi. Kalau mau dipikirkan kembali, semua topik dari motivasi hanya berakar dari satu kalimat. Sudahkah kamu mengenali dirimu sendiri?

Kegagalan menemukan siapa diri kita, akan menggagalkan cita-cita menjadi bangsa hebat. Kegagalan untuk kenal diri kita siapa, kemudian melahirkan materi pembentukan karakter yang menjadi inti di setiap kurikulum pendidikan. Misinya mulia, membentuk karakter generasi. Tujuannya, jangan sampai kegagalan ini berulang di anak cucu. Jangan heran bila muatan pendidikan akan penuh dengan titipan pembentukan karakter dari berbagai keprihatinan. Supaya generasi muda selamat dari bahaya narkoba, gemar menabung, cinta membaca, tahu peran pajak, kenal kekayaan bumi dan lautan, dan seterusnya.

Saat kita masih sibuk berdebat masalah perilaku antargenerasi, coba iseng-iseng menanyakan pendapat mereka, siapakah yang mereka anggap sebagai pahlawan? Kalau ada yang menjawab bahwa pahlawannya adalah ayah dan ibu, maka bisa diharapkan mereka memiliki anugerah sedari kecil untuk percaya diri, tinggal dikembangkan dengan memaknai masa muda melalui pengalaman dan proses yang terjadi. Namun kalau mereka menjawab pahlawannya orang lain? Tidak masalah juga, karena lingkunganlah yang membentuk mereka untuk seperti itu. Karakter mereka terbentur, baik dicari ataupun tidak, melalui benturan yang dirasa atau tidak. Siapa tahu tempaan proseslah yang membuat anak muda melakukan anjangsana hakiki dalam fokus imajinasinya.

“Walau bagaimana pun perlu diakui, kita belum hidup dalam sinar bulan purnama. Kita masih hidup di masa pancaroba. Tetaplah bersemangat elang rajawali!” (Bung Karno, 1947).

You are the nation’s hero. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu?”

Tax Light

“Anicca”

Aan Almaidah

Published

on

Ilustrasi: awpracticetoday.org

“Anicca” adalah ketidakkekalan, pertanda bahwa manusia harus senantiasa siaga, berselancar dengan dinamika arus perubahan.

Penulis: Aan Almaidah Anwar

Tahun 2019. Berbeda dengan keriaan tutup tahun yang biasa, sambutan atas kedatangan 2019 diwarnai dengan keprihatinan, rayakan tanpa kembang api, tanpa petasan, tanpa trompet. Setidaknya demikianlah imbauan para kepala daerah. Namun, imbauan tetap imbauan di kala detik demi detik bergulir lambat dan pecah dengan lengkingan gebyar petasan di angkasa, di mana saja. Kenyataan itu bukan hanya disebut kebiasaan, tapi juga menjadi budaya yang merasuki generasi, dan menjadi suatu peradaban.

Peradaban manusia, menurut Emha Ainun Nadjib di buku Prayogi R. Saputra Spiritual Journey, telah melewati tiga masa sejak zaman Nabi Adam. Peradaban pertama mencapai puncaknya di zaman Nabi Idris, kemudian hancur saat terjadi banjir bandang Nabi Nuh. Peradaban terbesar kedua bangkit sejak zaman Nabi Hud, bahkan saat itu sudah ada kapal terbang, gedung pencakar langit, dan mengalami kehancuran kembali saat Nabi Isa diangkat oleh Allah, atau disalibkan. Saat ini, disadari atau tidak, bahkan Emha pun mengaku hanya melihat dari gelagat dan isyarat, manusia sudah memasuki peradaban ketiga yang ditandai dengan turunnya Muhammad sebagai Rasulullah. Pada peradaban ketiga ini, tidak terhitung jumlah bencana yang melanda manusia anak dan turunannya.

Untuk Indonesia, bencana alam yang terjadi di tahun 2018 sungguh menggetarkan hati. Pergerakan lempeng bumi, dan tsunami, baik di Lombok, Palu dan Banten dan Lampung Selatan bulan Desember lalu, memakan banyak korban. Lantas kita berpikir, “Jangan-jangan ini peringatan pertanda akan hancurnya suatu peradaban”. Tetapi tidak ada yang bisa memastikan. Atas nama segenap keprihatinan, keluarlah imbauan untuk tidak merayakan tahun baru dengan gemerlap hura-hura. Seperti yang disebut di atas, kata imbauan tidak mengandung unsur paksaan. Maka perayaan tetap berjalan.

Orang bilang, ini ga konsisten. Ga kekal. Atau mungkin kita baru kenal kata Anicca. Anicca, atau ketidakkekalan ini menunjukkan bahwa semua kondisi itu tidak kekal pada situasi yang terus berputar. Misalnya, sebuah daun tumbuh di pohon, daun akan rontok digantikan daun baru. Mengacu pada perilaku, maka kesedihan atas bencana bisa terlupakan saat situasi kembali tenang, kesedihan atas kehilangan wafatnya seorang kawan akan tergantikan canda dan berita di media sosial memupus berita-berita duka. Memang, di dunia ga ada yang kekal.

“Apakah yang bisa menjamin kekekalan atas kesadaran manusia? Pola pikir!”

Perilaku yang sama berulang saat imbauan melayang kepada Wajib Pajak untuk menyetorkan pembayaran pajak sesuai data yang diperoleh petugas pajak. Kita abai pada surat imbauan dengan tuntutan, mana sanksinya? Lantas prosedur berjalan sampai kepada pemeriksaan, yang direspons dengan kemarahan meminta keadilan. Bicara tentang keadilan di zaman ini, maka kita diingatkan pada karakter. Apabila sedari dini setiap warga negara sudah mendapatkan kurikulum tentang peran pajak di sekolah dasar dan menengah, maka mereka akan mendahulukan kewajiban membayar pajaknya daripada menuntut hak atas keadilan perlakuan. Bayar dulu pajaknya, baru awasi penggunaannya, demikian slogan lawas. Sama dengan anggota kompleks yang menuntut kesetaraan perlakuan dan keadilan, tapi saat ditanya masih belum melunasi iurannya sebagai warga. Sayangnya, karakter inilah yang menonjol di mana-mana. Maka perlu juga kita persyaratkan, apakah mereka seorang pembayar pajak yang baik? Sebelum secara aklamasi diangkat menjadi pimpinan kita baik di warga perumahan, warga kelurahan, kecamatan maupun pemerintahan. Kembali kepada perilaku yang anicca, maka kepatuhan atas hukum dan prosedur bisa saja digantikan keinginan melanggar saat tidak ada denda atau sanksi.

Menutup tahun 2018, Menteri Keuangan menyatakan apresiasinya atas capaian dan kinerja jajarannya di tahun 2018. Untuk pertama kalinya penerimaan negara mencapai di atas 100 persen, demikian judul berita. Lantas orang bertanya-tanya, pajak di atas 100 persen? Wow. Penerimaan negara mencakup penerimaan dalam negeri dari realisasi capaian Ditjen Pajak, Ditjen Bea dan Cukai dan Penerimaan Negara Bukan Pajak itulah yang mencapai di atas 100 persen. Target pajak sendiri di 2018 terealisasi sekitar 92 persen. Realisasi ini patut disyukuri mengingat betapa gencarnya upaya edukasi dijalankan oleh kaum cerdik cendekia, praktisi akademisi, komunitas kewirausahaan, yang bahu membahu dengan kesadaran penuh atas pentingnya pajak. Saat pajak disuarakan oleh seluruh warga negara, maka peradaban kesadaran terbangkitkan kembali. Nah, apakah yang bisa menjamin kekekalan atas kesadaran manusia bahwa pajak itu penting dan perlu? Pola pikir! Apabila setiap siswa diajarkan bahwa mereka bukan manusia biasa, selama mereka cinta bangsa dan ikut bela negara melalui uang pajak yang mereka setorkan ke negara, maka hukum kekekalan berlaku dari masa ke masa. Mereka hebat!

Pola pikir, adalah yang diyakini Mark Zuckerberg dimiliki semua orang. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuang jauh-jauh pikiran bahwa Anda hanya manusia biasa. Kita harus melepas pola pikir yang berubah-ubah dalam diri kita dengan mengganti pola pikir konvensional menjadi out of box minded. Anicca memang ketidakkekalan, tapi itu adalah pertanda bahwa manusia harus senantiasa siaga, berselancar dengan dinamika arus perubahan yang niscaya terjadi.

Selamat memasuki dunia kami, Anicca.

Continue Reading

Tax Light

“Ahu!”

Aan Almaidah

Published

on

Generasi muda adalah calon pemimpin Indonesia di masa mendatang yang harus memiliki kebanggaan. Pada mereka perlu ditanamkan nilai dan fokus atas pemahaman kesadaran membayar pajak.

 

Tokoh kungfu legendaris, Bruce Lee, pernah menyampaikan bahwa kekuatan fokus terletak pada bagaimana air mengalir. Kutipannya yang terkenal adalah “Be water, my friend”. “Jadilah seperti air, temanku”. Biasanya orang tua menanamkan prinsip, mengalirlah seperti air. Lantas kita tersugesti oleh prinsip itu dengan menerapkannya melalui pemikiran, saya lakoni, what ever will be will be. Persis seperti air.

Namun, Bruce Lee tidak seperti itu dalam berkungfu. Strategi awal, katanya, empty your mind. Kosongkan pikiranmu, yang kemudian membuat semesta menjadi hening dan kita menjadi fokus. Fokus tercipta dan menjadi strategi kedua sang air, yang mengalir secara fokus untuk mengisi ruang yang bisa diisi. Kemudian strategi ketiganya adalah shapeless. Tanpa bentuk. Air, seperti yang kita ketahui, bisa masuk di wadah, bejana, atau media dengan bentuk apa pun. Karena itu, air mewujud tanpa bentuk.

Prinsip itu bisa diterapkan saat kita ingin mencapai cita-cita. Prosesnya tentu saja tidak mudah. Ada perubahan yang harus dihadapi. Kalau kita bertanya pada siswa dasar dan menengah, apakah cita-citamu? Jawabannya bisa satu, bisa banyak. Jadi dokter. Insinyur. Youtuber. Ahli desain grafis. Presiden. Namun, banyak pengalaman saat kegiatan Pajak Bertutur dilakukan di seluruh Indonesia tanggal 9 November lalu yang mengusung Hari Pahlawan, pertanyaan yang sama dijawab dengan gelengan. Mau jadi orang pajak enggak? Mereka menggeleng. Alasannya, susah! Di saat peran pembayaran pajak oleh warga negara yang sangat mendukung pembangunan, 80 persen dari APBN, dijelaskan secara lugas dan tuntas, ada kekhawatiran di hati ini…. Kalau generasi muda tidak terbiasa memahami peran pajak, nanti tidak ada yang bercita-cita menjadi Dirjen Pajak. Padahal, cita-cita mengawal keuangan negara itu luar biasa.

Maka, edukasi menjadi pilar penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Edukasi sekarang merambah di setiap kurikulum pendidikan, baik tentang bahaya narkoba, rajin menabung, membangun karakter yang berkata tidak pada korupsi, dan juga karakter yang mendukung bahwa pajak itu penting, untuk kita. Direktorat Jenderal Pajak mengadakan Pekan Inklusi 2018 pada tanggal 3–9 November 2018 untuk pertama kalinya, melibatkan siswa dasar, menengah, mahasiswa sampai kementerian negara dan lembaga, untuk bersama-sama mendukung generasi muda cerdas dan sadar pajak. Dengan meningkatkan kesadaran, maka mereka lebih fokus dengan rasa bela tanah air dan cinta bangsa dengan membayar pajak. Caranya hanyalah dengan membuat mereka bangga menjadi generasi muda Indonesia. Bangga bayar pajak. Kalau bisa, bercita-cita dan bangga jadi orang pajak.

Konon, seseorang yang bangga pada institusinya, akan menjadi public relation yang efektif.

Memang penting menciptakan kebanggaan. Pekerjaan rumah terbesarnya adalah bagaimana mengubah perilaku untuk menjadi bangga.Untuk itu, setiap instansi baik swasta dan negeri memandang perlu melakukan perubahan melalui pelaksanaan psikologi birokrasi. Contohnya, Kota Banyuwangi melakukan perubahan kebersihan melalui lomba toilet tebersih. Melalui kegiatan seni budaya, olahraga, dan musik, maka tercipta kedekatan lintas generasi untuk bersama-sama mewujudkan kemajuan kotanya. Bagaimana pun, budaya itu lintas agama. Sang bupatilah yang menceritakan prinsip strategis kepemimpinannya dalam suatu pertemuan yang membahas tentang membangun kapasitas perubahan.

Hal lain, bagaimana Kota Surabaya yang dulu dikenal sebagai kota panas terik kemudian menjelma menjadi seperti Jepang dengan taman tersebar di tepi jalan, pohon bunga yang cantik, berkat tangan dingin pemimpinnya. Tidak ada yang tidak mungkin untuk perubahan, dan kita perlu perilaku yang militan. Perilaku militan berbanding lurus dengan rasa bangga terhadap cita-cita atau pekerjaan yang dimiliki, dalam rangka meraih kemenangan atas suatu tujuan.

Ahu! Ahu! Ahu!

Demikian pekikan pasukan Spartan saat peperangan dalam film 300. Kurang lebih pekikan itu mengisyaratkan kemenangan. Orang lain boleh bangga pada profesinya, tetapi kita harus bangga pada amanah yang kita dapatkan dengan memandang itu sebagai pekerjaan yang sangat mulia. Nilai-nilai apakah yang dibutuhkan untuk membangun kompetensi?

Disiplin dan keberanian.

Apakah sekarang dalam keluarga kita sudah tertanam disiplin sejak dini? Apakah di sekolah, guru-guru telah mengajarkan disiplin dengan memperlihatkan kedisiplinannya sebagai sang role model? Misalnya, tidak hanya memberikan PR, tetapi juga mendampingi anak didik dalam mempersiapkan ujian nasional? Apakah dalam lingkungan kerja, bos kita sudah memberi teladan kedisiplinannya, minimal dalam mematuhi jam kerja, atau bekerja di atas ekspektasi? Apakah Anda sebagai Wajib Pajak sudah disiplin membayar pajak dan melapor tepat waktu, atau di awal bulan? Apakah Anda sebagai penunggak pajak tetap berkomitmen melunasi tunggakan pajak Anda?

Disiplin dan keberanian perlu ditunjang oleh adanya visi dan misi setiap individu. Kita perlu mengajarkan generasi muda untuk menciptakan visi dan misi hidupnya. Bukan hanya organisasi yang perlu visi dan misi, tetapi setiap diri kita. Kalau tidak, apa tujuan kita hidup, apa tujuan kita bekerja, akan mengalir seperti air yang ada dalam pikiran kita, bukannya air dalam pikiran Bruce Lee. Empty your mind. Be focus. Shapeless.

Generasi milenial, generasi Z, generasi Alpha, apa pun labelnya, adalah cerminan generasi muda kita. Sebentar lagi merekalah yang akan mengemudikan Indonesia. Pada mereka perlu diajarkan nilai. Nilai dan pemahaman untuk kesadaran membayar pajak, salah satunya. Mereka perlu diajari bagaimana cara mencintai bangsa seperti kebanggaan pasukan Spartan dalam pertempuran Thermopylae yang ketika ditanya rajanya: “Spartans… what’s your profession?”

Menggelegar, mereka menjawab: “Ahu! Ahu! Ahu!”

Ada kebanggaan di sana untuk menang.

Continue Reading

Tax Light

‘Yugen

Aan Almaidah

Published

on

Ketika kesadaran pajak sudah terpatri di setiap sanubari anak negeri, saat itulah ‘yugen’ untuk Indonesia telah tiba.

Kesadaran timbul setelah terjadi suatu keadaan, baik melalui perencanaan atau malah tanpa diperkirakan. Kenapa standar proses terbang dan keselamatan penerbangan pesawat harus selalu  disempurnakan? Kenapa seseorang bisa menjadi semakin bijaksana? Kenapa pembangunan sebuah gedung bisa terhenti dalam jangka waktu sekian lama?

Jawabnya, karena adanya awareness yang timbul dari suatu pengalaman. Jatuhnya Lion Air JT610 membuat bangsa Indonesia terhenyak. Ada yang salah dari situasi sebuah pesawat baru yang berbekalkan pilot senior saat turun menukik tajam ke laut sebelum sayapnya mengangkat sampai puluhan ribu kaki. Rasanya tak mungkin! Namun, masih ingat kisah Titanic? Bagaimana sebuah kapal mewah dan kuat yang direncanakan berlayar melintasi lautan tanpa halangan, karam menabrak batu es? Lantas kita mulai berpikir, apa yang salah? Sesungguhnya, tidak ada yang salah.

Sama saja saat kita melihat seseorang menjadi semakin bijaksana dari hari ke hari, berbicara tentang mati atau kehidupan…. Kemudian  kita mendengar berita dia wafat secara mendadak. Kita pun jadi terheran heran. Kita berusaha menebak-nebak bahwa Dia jadi sufi karena sudah waktunya pergi. Ini terjadi saat status media sosial sang kawan kita baca kembali. Salah satu korban musibah Lion, 29 Oktober 2018, adalah teman saya, bernama Haska. Lima  bulan sebelum kepergiannya, dia menulis status yang membuat kita berpikir kembali.

“Dua orang yang harus kamu buat bangga: 1, Diri kamu ketika masih kecil; 2. Diri kamu ketika di ambang maut. Jangan buat mereka menyesal…”

Status itu dibuatnya di penghujung Mei 2018. Apakah saat itu dia berpikir akan pergi untuk tidak kembali? Atau berpikir bahwa saat malaikat maut menjemput maka dia akan songsong dengan keyakinan membuat dirinya bangga? Tidak ada yang tahu.

Sama dengan tidak tahunya kita kapan waktu setiap manusia berakhir. Menjalani hidup memang perlu perencanaan. Namun, tidak ada yang merencanakan suatu kematian. Baik kehidupan, atau kematian, sama-sama memerlukan persiapan. Dan persiapan hanya bisa dilakukan melalui bangkitnya kesadaran. Kesadaran apa? Bahwa hidup hanya singkat. Bahwa hidup itu juga bisa yugen kok….

Tentu saja kata yugen menjadi menarik apabila kita mendalami artinya.  yugen adalah istilah dari bahasa Jepang, untuk suatu kesadaran. Kesadaran yang mendalam tentang alam semesta yang memicu perasaan terlalu dalam dan misterius untuk diungkapkan melalui kata-kata.  Apa contohnya? Begini. Ada saat di mana kita merasa yugen… Saat menatap awan putih begitu cantik bergumpal-gumpal dan membentuk lukisan di langit. Saat menatap ombak pecah di bibir pantai, bergulung dan membiru. Atau melihat keindahan hutan hijau di bawah, saat kita di dalam pesawat. Kita tercekat. Indahnya alam… indahnya ciptaan Tuhan. Dan mendadak ada kesadaran bahwa kita begitu kecil. Yugen, bisa timbul saat kita dalam posisi menikmati keindahan alam yang wajar. Atau seperti kata-kata Haska di atas, saat kita berusaha membanggakan diri kita di waktu kecil atau di ambang maut. Kenapa demikian? Karena getaran alam paling menusuk hanya bisa dirasakan jiwa kanak-kanak dalam diri kita, atau jiwa bertaubat diri kita yang lain.

Sementara di lain sisi, meningkatkan kesadaran juga merupakan misi edukasi perpajakan, selain meningkatkan ilmu pengetahuan dan mengubah perilaku. Seperti diketahui, dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, masyarakat memiliki hak untuk tahu, berarti butuh informasi. Pemerintah menyediakan informasi publik melalui media penyuluhan langsung maupun tidak langsung. Ketika masyarakat sudah merasa tahu dan mengenali hak dan kewajiban, maka ada tuntutan edukasi lain untuk membuat masyarakat menjadi paham perpajakan, kemudian menjadi sadar peranannya dalam pembangunan bangsa dan negara. Maka untuk menjadikan edukasi itu tepat sasaran, diperlukan keterbukaan wawasan masyarakat untuk menerima pajak sebagai bagian dari kehidupan. Bagaimana caranya?

“Saat edukasi pajak diajarkan kepada anak usia 12 tahun di tahun 2018, kelak tahun 2045 sang anak dapat menjadi pengusaha hebat di usia 49 tahun!”

Kembali pada pertanyaan pada alinea awal, kenapa pembangunan sebuah gedung bisa terhenti dalam jangka waktu sekian lama? Karena tidak tumbuhnya kesadaran yang merata untuk ambil bagian dalam menghitung dan membayar pajak. Karena tidak merasa tahu dan kenal apa artinya pajak, lantas anggaran pembangunan menjadi tersendat. Pembangunan menjadi tertunda. Apakah perlu diteruskan bila tidak ditunjang keuangan memadai? Sama seperti anggaran rumah tangga, maka saat kita memaksakan diri belanja di saat keuangan habis, maka yang tercipta adalah utang.  Bagaimana cara menekan utang? Tentu saja kita harus mendisiplin diri untuk tidak terus menerus berutang. Cara mendisiplin diri adalah mematuhi komitmen.

Dan kepatuhan, hanya bisa ditingkatkan melalui kesadaran. Salah satu kegiatan memperluas kesadaran masyarakat yang diusung Direktorat Jenderal Pajak adalah kegiatan inklusi pajak. Target kegiatan ini semua usia di tahap perkembangan manusia, dan dimulai sedari usia dini. Menyasar tujuan pada Generasi muda Emas Cerdas dan Sadar Pajak. Asumsinya, bonus demografi di tahun 2045 yang diharapkan menjadi zaman keemasan 100 tahun Indonesia. Misalnya, edukasi pajak diajarkan kepada anak usia 12 tahun di tahun 2018, kelak tahun 2045 sang anak dapat menjadi pengusaha hebat di usia 39 tahun! Dimulai tahun 2017 sejak launching-nya kegiatan inklusi pajak berupa kegiatan Pajak Bertutur, diharapkan nasihat berikut menjadi sugesti hari-hari mereka kelak.

Pajak itu penting, Nak! Dan hanya kesadaranmu yang bisa menyelamatkan negara ini. Kesadaranmu berjibaku membayar pajak tanpa merasa terpaksa.

Tentu saja, kemampuan membaca alam tetap harus diajarkan. Tanpa adanya kecerdasan intelektual yang tinggi, maka konservasi alam menjadi minim. Suatu kegiatan pembangunan bisa saja mengikis habis sumber daya yang seharusnya diwariskan pada anak cucu.

Generasi muda yang cerdas hanya bisa lahir dari edukasi yang cerdas. Kita tidak akan menuding bahwa underground economy itu untouchable. Saat ini, jumlah UMKM sebanyak 59 juta unit di Indonesia, baru 670 ribuan terdaftar ber-NPWP, dengan setoran pajaknya baru Rp 5 triliun. Artinya, baru sebesar 0.51% dari penerimaan nasional.  Melalui program gencar Bussiness Development Service di seluruh unit vertikal perpajakan, maka diharapkan timbul kesadaran yang dipicu dari dalam pikiran pelaku UMKM untuk merasa bertanggung jawab membela satu bangsa, satu bahasa, untuk bertahan di atas batas kemakmuran. Bukan hanya UMKM, tapi juga tanggung jawab masyarakat dan pemerintah untuk bisa merenungkan satu hal….

Saat pajak menjadi bagian dari kehidupan setiap insan, maka itu adalah kemerdekaan yang tidak bisa dituangkan dalam kata-kata.

Pejamkanlah mata, dan lihatlah bahwa ada suatu kesadaran yang lahir dari alam semesta saat melihat Indonesia mandiri. Tak terucapkan, begitu dalam di perasaan.

Maka, ciptakanlah yugen-mu untuk negara ini… buatlah dirimu bangga pada dirimu sendiri.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News4 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News4 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News5 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News5 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News6 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News7 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News11 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News1 tahun ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News1 tahun ago

Majalah Pajak Print Review

Trending