Connect with us

Tax Light

“Anicca”

Aan Almaidah

Published

on

Ilustrasi: awpracticetoday.org

“Anicca” adalah ketidakkekalan, pertanda bahwa manusia harus senantiasa siaga, berselancar dengan dinamika arus perubahan.

Penulis: Aan Almaidah Anwar

Tahun 2019. Berbeda dengan keriaan tutup tahun yang biasa, sambutan atas kedatangan 2019 diwarnai dengan keprihatinan, rayakan tanpa kembang api, tanpa petasan, tanpa trompet. Setidaknya demikianlah imbauan para kepala daerah. Namun, imbauan tetap imbauan di kala detik demi detik bergulir lambat dan pecah dengan lengkingan gebyar petasan di angkasa, di mana saja. Kenyataan itu bukan hanya disebut kebiasaan, tapi juga menjadi budaya yang merasuki generasi, dan menjadi suatu peradaban.

Peradaban manusia, menurut Emha Ainun Nadjib di buku Prayogi R. Saputra Spiritual Journey, telah melewati tiga masa sejak zaman Nabi Adam. Peradaban pertama mencapai puncaknya di zaman Nabi Idris, kemudian hancur saat terjadi banjir bandang Nabi Nuh. Peradaban terbesar kedua bangkit sejak zaman Nabi Hud, bahkan saat itu sudah ada kapal terbang, gedung pencakar langit, dan mengalami kehancuran kembali saat Nabi Isa diangkat oleh Allah, atau disalibkan. Saat ini, disadari atau tidak, bahkan Emha pun mengaku hanya melihat dari gelagat dan isyarat, manusia sudah memasuki peradaban ketiga yang ditandai dengan turunnya Muhammad sebagai Rasulullah. Pada peradaban ketiga ini, tidak terhitung jumlah bencana yang melanda manusia anak dan turunannya.

Untuk Indonesia, bencana alam yang terjadi di tahun 2018 sungguh menggetarkan hati. Pergerakan lempeng bumi, dan tsunami, baik di Lombok, Palu dan Banten dan Lampung Selatan bulan Desember lalu, memakan banyak korban. Lantas kita berpikir, “Jangan-jangan ini peringatan pertanda akan hancurnya suatu peradaban”. Tetapi tidak ada yang bisa memastikan. Atas nama segenap keprihatinan, keluarlah imbauan untuk tidak merayakan tahun baru dengan gemerlap hura-hura. Seperti yang disebut di atas, kata imbauan tidak mengandung unsur paksaan. Maka perayaan tetap berjalan.

Orang bilang, ini ga konsisten. Ga kekal. Atau mungkin kita baru kenal kata Anicca. Anicca, atau ketidakkekalan ini menunjukkan bahwa semua kondisi itu tidak kekal pada situasi yang terus berputar. Misalnya, sebuah daun tumbuh di pohon, daun akan rontok digantikan daun baru. Mengacu pada perilaku, maka kesedihan atas bencana bisa terlupakan saat situasi kembali tenang, kesedihan atas kehilangan wafatnya seorang kawan akan tergantikan canda dan berita di media sosial memupus berita-berita duka. Memang, di dunia ga ada yang kekal.

“Apakah yang bisa menjamin kekekalan atas kesadaran manusia? Pola pikir!”

Perilaku yang sama berulang saat imbauan melayang kepada Wajib Pajak untuk menyetorkan pembayaran pajak sesuai data yang diperoleh petugas pajak. Kita abai pada surat imbauan dengan tuntutan, mana sanksinya? Lantas prosedur berjalan sampai kepada pemeriksaan, yang direspons dengan kemarahan meminta keadilan. Bicara tentang keadilan di zaman ini, maka kita diingatkan pada karakter. Apabila sedari dini setiap warga negara sudah mendapatkan kurikulum tentang peran pajak di sekolah dasar dan menengah, maka mereka akan mendahulukan kewajiban membayar pajaknya daripada menuntut hak atas keadilan perlakuan. Bayar dulu pajaknya, baru awasi penggunaannya, demikian slogan lawas. Sama dengan anggota kompleks yang menuntut kesetaraan perlakuan dan keadilan, tapi saat ditanya masih belum melunasi iurannya sebagai warga. Sayangnya, karakter inilah yang menonjol di mana-mana. Maka perlu juga kita persyaratkan, apakah mereka seorang pembayar pajak yang baik? Sebelum secara aklamasi diangkat menjadi pimpinan kita baik di warga perumahan, warga kelurahan, kecamatan maupun pemerintahan. Kembali kepada perilaku yang anicca, maka kepatuhan atas hukum dan prosedur bisa saja digantikan keinginan melanggar saat tidak ada denda atau sanksi.

Menutup tahun 2018, Menteri Keuangan menyatakan apresiasinya atas capaian dan kinerja jajarannya di tahun 2018. Untuk pertama kalinya penerimaan negara mencapai di atas 100 persen, demikian judul berita. Lantas orang bertanya-tanya, pajak di atas 100 persen? Wow. Penerimaan negara mencakup penerimaan dalam negeri dari realisasi capaian Ditjen Pajak, Ditjen Bea dan Cukai dan Penerimaan Negara Bukan Pajak itulah yang mencapai di atas 100 persen. Target pajak sendiri di 2018 terealisasi sekitar 92 persen. Realisasi ini patut disyukuri mengingat betapa gencarnya upaya edukasi dijalankan oleh kaum cerdik cendekia, praktisi akademisi, komunitas kewirausahaan, yang bahu membahu dengan kesadaran penuh atas pentingnya pajak. Saat pajak disuarakan oleh seluruh warga negara, maka peradaban kesadaran terbangkitkan kembali. Nah, apakah yang bisa menjamin kekekalan atas kesadaran manusia bahwa pajak itu penting dan perlu? Pola pikir! Apabila setiap siswa diajarkan bahwa mereka bukan manusia biasa, selama mereka cinta bangsa dan ikut bela negara melalui uang pajak yang mereka setorkan ke negara, maka hukum kekekalan berlaku dari masa ke masa. Mereka hebat!

Pola pikir, adalah yang diyakini Mark Zuckerberg dimiliki semua orang. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuang jauh-jauh pikiran bahwa Anda hanya manusia biasa. Kita harus melepas pola pikir yang berubah-ubah dalam diri kita dengan mengganti pola pikir konvensional menjadi out of box minded. Anicca memang ketidakkekalan, tapi itu adalah pertanda bahwa manusia harus senantiasa siaga, berselancar dengan dinamika arus perubahan yang niscaya terjadi.

Selamat memasuki dunia kami, Anicca.

Tax Light

INDIRA

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

 

Indira adalah soal rasa keadilan—kesadaran akan nilai buah keselarasan dan keseimbangan di antara semua pihak untuk menikmati sesuatu yang menjadi haknya. Ia akan muncul manakala ada sesuatu yang kurang pada tempatnya. Lantas, bagaimana harus menyikapinya?

 

Membaca kata Indira, terbayang sosok wanita besi di India, bernama Indira Gandhi. Indira jelas tidak mengingatkan pada alam, tetapi pada kata sifat. Dalam bahasa Hindi, Indira berarti “Perasaan pada keadilan”, bila diberikan sebagai nama anak perempuan. Kenapa tertarik kepada keadilan? Seperti kita tahu, bulan Juni adalah awal tahun ajaran baru. Saat ini para orang tua yang mencari sekolah SMP dan SMA bagi anaknya dihadapkan pada jalur keadilan yang meresahkan. Pertama, gunakan jalur prestasi, yang hanya berkisar 5 persen dari seluruh siswa yang diterima. Jalur prestasi dibagi dua, dari hasil Ujian Nasional, dan penghargaan prestasi yang bisa ditunjukkan melalui sertifikat lomba berjenjang.

Kita tahu, nyaris seluruh siswa membayangkan UN sebagai momok. Ngeri. Akhirnya, mereka memilih lepaskan jalur ini karena ada jalur berikutnya. Jalur kedua, adalah jalur zonasi. Dan inilah jawaban keadilan itu. Sekolah favorit tidak bisa mendominasi kecerdasan intelektual karena jalur ini mendominasi 90 persen penerimaan siswa. Bagaimana kalau rumah saya jauh dari sekolah yang berkualitas baik? Maka, mendaftarlah di sekolah yang ada. Anggap itu sekolah terbaik buat ananda kita. Jadi, sekolah tidak bisa memilih dari hasil ujian siswa atau prestasi? Tidak juga, ada yang namanya jalur kombinasi. Pendaftaran bisa melalui hasil prestasi dan zonasi, misalnya.

Masih resah? Ada berita gembira dengan prinsip keadilan ini. Tersebutlah jalur terakhir berupa kepindahan orang tua yang berkisar 5 persen. Berbahagialah para orang tua yang merupakan pegawai BUMN atau ASN apabila dimutasi mendekati tahun ajaran baru karena sekolah yang diminati anak mempunyai pintu terbuka, walaupun tetap saja ada seleksi yang lain berupa nilai dan pembuktian kecerdasan intelektual melalui piagam kejuaraan atau sertifikat. Namun kebijakan pendidikan yang lebih mementingkan keadilan ini, baik dicermati seluruh instansi kementerian dan lembaga yang akan mengeluarkan Surat Keputusan Mutasi. Ketika dikeluarkan sebelum penerimaan siswa didik, maka besar peluang untuk menyekolahkan anak di sekolah yang diinginkan karena jalur kepindahan orang tua.

Nantinya, diharapkan setiap sekolah memiliki prinsip keadilan dalam mendidik siswa-siswinya. Tidak ada sekolah favorit, karena ada pemerataan hak sekolah untuk mendapatkan siswa siswi berkualitas. Diharapkan setiap siswa siswi mampu mengangkat nama baik sekolah karena konsentrasi belajar, terlebih jarak sekolah sangat dekat dengan rumah. Diharapkan, konsentrasi penempatan guru terbaik juga bisa mengikuti prinsip keadilan ini, dan pendidik akan bisa bersepeda dari rumah ke sekolah dengan bahagia, seperti zaman guru Umar Bakrie. Visi kebijakan ini, kalau bisa diterawang lebih lanjut, adalah mengembalikan keluarga kepada keluarga. Seorang ayah atau ibu yang bekerja, didekatkan dengan keluarganya. Seorang siswa didik bersekolah yang didekatkan dengan lokasi rumahnya.

Prinsip mengembalikan keluarga pada keluarga, telah dirilis pada konsep perpajakan.  Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, dengan pemenuhan kewajiban perpajakan dilakukan oleh kepala keluarga. Artinya, Nomor Pokok Wajib Pajak cukup menjadi tanggung jawab suami yang merupakan representasi seluruh anggota keluarga. Apabila ada istri atau anak yang mempunyai penghasilan, maka kewajiban perpajakannya dapat digabung ke suami atau ayah, sebagai kepala keluarga. Selain itu, pengenaan konsep keluarga dalam pemajakan juga berlaku terhadap Wajib Pajak Badan, yaitu anak perusahaan yang dianggap sebagai keluarga cukup hanya memperoleh NPWP cabang yang berarti menginduk pada kantor pusatnya sebagai sang “kepala keluarga perusahaan”.

“Peran kaum wanita sangat strategis dalam menanamkan kesadaran pajak melalui edukasi informal di lingkungan keluarga.”

Dewasa ini, puncak kebutuhan berupa aktualisasi diri mulai melejit sehingga peluang bekerja meningkatkan produktivitas dalam menambah penghasilan juga dilakukan kaum wanita di rumah tangga. Terbukanya kesempatan menambah penghasilan rumah tangga juga berdampak pada adanya potensi meningkatkan penerimaan negara dari pajak penghasilan. So, wanita yang telah menikah dan memilih melaporkan kewajiban perpajakannya secara terpisah dari suami dapat memiliki NPWP sendiri. Prinsip ini mengusung kompetensi dan kapabilitas pada diri wanita, yang dikenal dengan nama pengarusutamaan gender. Adakah alasan lain dalam menerapkan kebijakan wanita dapat memilih ber-NPWP sendiri? Ada. Wanita, ternyata diyakini lebih patuh dalam menjalankan aturan perpajakan. Peran kaum wanita sangat strategis dalam menanamkan kesadaran pajak melalui edukasi informal di lingkungan keluarga. Di Jepang, otoritas pajak lebih memfokuskan edukasi pajak pada calon wajib pajak masa depan yang bergender wanita. Lihatlah, bahkan edukasi pajak pun berawal dari edukasi di keluarga.

Bagaimana dengan generasi muda yang sekarang hidup seatap dengan orang tua yang sama-sama bekerja? Perlu dipikirkan prinsip keadilan berbasis keluarga seperti penerimaan siswa baru. Coba kita cermati jam macet di daerah kita, biasanya terjadi di jam-jam sepulang kerja. Kalau Anda pernah melihat  jam macet di Malaysia, ada yang menarik karena kepadatan lalu-lintas usai kerja terbagi dua, yaitu antara pukul 15 sore atau pukul 16.30. Waktu  kepulangan ditentukan oleh waktu masuk kerja yang juga terbagi dua, lebih pagi atau mengikuti standar. Beberapa instansi di tanah air mengikuti kebijakan ini dan memutuskan jam kerja lebih singkat dengan waktu kepulangan lebih awal. Kebijakan ini diharapkan untuk memperbesar waktu kebersamaan keluarga sehingga peran orang tua dan kewajiban anak tetap terpenuhi. Ini pilihan. Sayangnya kebijakan ini dibahas dengan nada cemburu dan mempertanyakan, apakah produk kinerjanya bisa diharapkan optimal?

Bekerja, buat sebagian orang, dimaknai dengan menghabiskan waktu. “Bahkan, 24 jam sehari itu masih kurang buat saya,” demikian tutur seorang pejabat. Untuk orang-orang seperti ini, kita namakan saja workaholic. Menurut Wikipedia, artinya adalah suatu kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain. Konon juga,  mereka bersahabat dengan kecanduan kerja, mengejar karier dan menganggap mereka adalah satu-satunya yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan benar. Sayangnya, istilah ini disebut berbeda dengan bekerja keras, namun ketagihan bekerja. Meskipun istilah workaholic biasanya memiliki konotasi negatif, maka kadang-kadang digunakan oleh orang-orang yang ingin menyatakan kesetiaan mereka ke salah satu dari hal positif dalam karier. Satu hal lagi, saat kata ini melekat kepada manusia, memungkinkan Anda untuk jauh dari keluarga. Anda protes?

Tentu saja! Zaman now, apabila Anda tidak bekerja keras, maka akan sulit bertahan di tengah kompetisi globalisasi. Eyang Abraham Harold Maslow sudah mengestimasi semua tuntutan itu dengan prinsip kebutuhannya. Kebutuhan terpuncak adalah aktualisasi diri. Kita bicara positifnya. Saat seseorang membutuhkan aktualisasi diri, maka dia akan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Bisa menerima hal-hal yang tidak bisa ditoleransi, memiliki spontanitas dalam pikiran dan aksi, menginginkan privasi, dan sangat, sangat kreatif. Itu baru beberapa dari unsur pembentuk karakter aktualisasi diri manusia.

Tentu saja, kreativitas selalu menarik untuk dibahas karena perlu mempertimbangkan kematangan emosi. Hidup kreatif itu tergantung emosi, ini seperti dituliskan J.Maurus dalam buku Make Your Emotion Work For You. Satu, dengan tetap bersikap sederhana. Teori sederhana menurut Zen Habits adalah dengan mengenali apa yang paling penting bagi kita, dan meninggalkan yang lainnya. Kuncinya: Fokus! Dua, membuat hidup terasa nyata lewat penderitaan, karena emosi dimatangkan melalui tahapan penderitaan.  Semisal Anda sakit, maka nikmatilah rasa sakit itu. Semisal Anda dihujat, maka terimalah hujatan itu. Penderitaan, membuat kita pada akhirnya dapat mengembangkan emosi, menjalani hidup, serta mencetuskan kreativitas. Coba perhatikan para seniman besar. Mereka yang paling menderitalah yang berhasil menjadi seniman besar, karena tanpa disadari mereka bersahabat dengan penderitaan dan memaknainya dengan bijaksana. Kuncinya: Enjoy!

Apabila jam kerja masih belum diubah, maka ubahlah suasana kerja di kantor Anda. Ciptakan harmoni. Keseimbangan. Semua perlu kreativitas yang akan menumbuhkan inovasi. Apabila masa bekerja sudah lama tapi masih belum dimutasi, tetaplah fokus. Tuntutan untuk bekerja kembali kepada keluarga memang memerlukan perjuangan. Salah satunya adalah menorehkan legacy atau prestasi, sebelum terbang ke unit kerja yang lain. Satu lagi, apabila Anda ingin menikmati hidup, maka jangan lupa bayar pajak ya… supaya bisa jemawa kalau menuntut sesuatu dan bicara “Saya bayar pajak looh….”

Prinsip keadilan akan selalu menjadi tuntutan. Namun, saat menuntut, kita perlu juga memaafkan, karena bisa saja orang atau unit kerja yang kita tuntut belum bisa mewujudkan tuntutan kita. Salahkah mereka? Tentu tidak. Sama seperti setelah berpuasa sebulan penuh dan menemui hari suci Idul Fitri, maka bermaafan merupakan kegiatan yang penting. Anda tahu, memberi maaf adalah sifat baik seseorang yang pemberani?

Salah satu dari pesan Indira Gandhi yang berkesan adalah “Forgiveness is a virtue of the brave”. Dengan memaafkan, Anda sudah memilih untuk menjadi seorang pemberani!

Continue Reading

Tax Light

Thanos

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

Saat ini, di Indonesia lahir Thanos-Thanos baru. Mereka berpikir bahwa kehidupan harus diseimbangkan, diluruskan, dan semuanya berawal dari niatan yang baik.

 

Niat baik, tidak semua berakhir baik. Demi menciptakan kesetimbangan di alam semesta, Thanos bercita-cita melenyapkan sebagian populasi kehidupan ini di Infinity War. Niatnya baik. Supaya manusia tidak merusak bumi. Supaya terjadi keseimbangan. Reaksi yang terjadi adalah, sebagian populasi dunia yang hidup tetap saja merasakan keadilan belum imbang. Ada pemikiran apakah populasi perlu dilenyapkan seluruhnya? Siapa yang menyangka di Avengers: Endgame, Thanos-lah yang dilenyapkan. Apa alasannya? Semua berawal dari enam batu bernilai yaitu power, mind, soul, reality, time dan space. Pahlawan bumi itu berjuang memperebutkan infinity stones dan melawan Thanos, yang akhirnya mati, dengan cara yang sama saat dia menghilangkan sebagian populasi.

Saat ini, di Indonesia, sudah lahir Thanos-Thanos baru. Mereka adalah orang-orang yang berpikir bahwa kehidupan harus diseimbangkan, diluruskan, dan semuanya berawal dari niatan yang baik. Mereka mencari enam batu permata kehidupan berupa kekuasaan, pikiran, jiwa, kenyataan, waktu dan ruang. Masalahnya, hidup hanya sekali, sehingga perlu upaya memperoleh nilai tersebut melalui perjuangan. Dalam bentuk apakah perjuangan yang dilakukan? Misalnya saja mendigitalisasi mindset sehingga kemajuan teknologi di industri 4.0 tidak terlewatkan. Berpikir bahwa efisiensi secara sistemik akan mempermudah pelayanan dan pengembangan wawasan pengetahuan. Melakukan pencarian jiwa melalui bacaan sufi yang mudah diperoleh di buku-buku digital, dan berusaha menyandingkan dengan kenyataan sehari-hari. Mengkritisi hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kondisi saat ini. Tanpa kita sadari, meledaknya film Avengers: Endgame adalah cerminan dari apa yang kita hadapi. Karena ada kesamaan, maka kita menyukai kenyataan dalam adegan demi adegan.

Simpelnya, kita menyukai tokoh, karena kita merasa sama dengan dia. Jadi kita siapa? Thanos? Iron man? Black Widow? Hulk? Thor? Hawkeye? Captain America? Nah. Yang terjadi saat ini, kita menyukai tokoh, karena kita mengharapkan banyak dari sang tokoh. Untuk itulah maka terjadi banyak polemik saat pesta demokrasi dilaksanakan. Karakternya kita rasakan mirip, dan kita harap akan membawa perbaikan. Lantas kita bercita-cita untuk menegakkan niatan baik. Karena setiap orang memiliki niatan baik, maka terciptalah kompetisi untuk mencari siapa yang terbaik. Sungguh sangat tidak nyaman bila setiap manusia merasa dirinya lebih baik dari yang lain, karena akan menciptakan kemarahan dan kesedihan bagi yang tidak dianggap baik. Sementara di sisi lain, mereka berpikir merekalah yang baik.

Ini sama saja saat melakukan kegiatan penyuluhan untuk menanamkan kesadaran bahwa pajak itu penting. Masalahnya sepele. Setiap orang merasa dia penting, pekerjaannya penting, sehingga tidak mau menerima bahwa pajaklah yang menopang struktur anggaran negara. Tuntutan yang dikedepankan adalah, fasilitas yang lebih banyak apabila melakukan hal-hal penting. Contohnya, saat pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan pajak yang batas waktunya sudah pasti, akhir Maret bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, dan akhir April bagi Wajib Pajak Badan. Tetap saja di hari terakhir baru dikerjakan, baru mendatangi kantor pelayanan pajak di lokasi masing-masing dan membahas masalah sistem informasi teknologi yang tidak berjalan baik. Karena merasa terganggu dengan kesulitan yang dihadapi di hari-hari akhir batas waktu, maka tuntutan berjalan. Misalnya perpanjangan batas waktu pelaporan atau meniadakan sanksi. Tagline yang diusung berupa “Lebih Awal, Lebih Nyaman”, hanya berlaku untuk sebagian Wajib Pajak, dan tidak berlaku untuk sebagian yang lainnya. Bayangkan, kalau Thanos ada di Indonesia lantas menghilangkan populasi masyarakat yang tidak patuh melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan, apa kata dunia?

“Keseimbangan mungkin tercipta saat kita merasa sama-sama telah bekerja dengan baik sehingga yang tersisa adalah saling mengisi, mendukung, dan membantu satu sama lain.”

Power, atau Kekuasaan, itu penting, tapi lebih penting bila merangkul mind dan soul. Mungkin itu yang dibutuhkan bila petugas pajak melakukan pelayanan dan mengedukasi secara persuasif. Program Bussiness Development Service contohnya, mengusung power, mind dan soul tersebut dengan merangkul pengusaha kecil dan menengah (UMKM), bekerja sama dengan Rumah Kreatif BUMN, Kementerian dan Lembaga atau Perbankan yang juga mengasuh UMKM se Indonesia, dan market place yang ada. Peran UMKM sangat penting di Indonesia, karena 60.34 persen Produk Domestik Bruto Indonesia berasal dari sektor ini. Dari sekitar 59 juta pelaku UMKM, sudah 1,8 juta yang melakukan pembayaran pajak, dengan persentase berkisar 3 persen. Program BDS bertujuan meningkatkan awareness, engagement, dan compliance pelaku usaha terhadap pajak.

Bagaimana caranya? Idealnya, interaksi antara petugas pajak dan Wajib Pajak terjadi saat setiap orang bisa berpikir di mind dan soul lawan bicaranya. Setiap orang memiliki kemampuan untuk menerima keunikan dan memahami pandangan orang lain, seakan-akan Anda adalah orang tersebut. Demikian ini didefinisikan sebagai “empati”.

Seorang Wajib Pajak diharapkan bisa berpikir begini, bagaimana perasaan saya kalau jadi petugas pajak yang melayani di Tempat Pelayanan Terpadu kantornya, dan dimarah-marahi seperti saya memarahi dia saat ini? Bagaimana perasaan saya sudah jaga dan lembur sampai malam, malah menerima omelan dari saya? Sementara di lain sisi, sang petugas pajak bisa berpikir empati seperti ini: Bagaimana perasaan saya kalau jadi seperti bapak ini, yang seharusnya melapor di awal tapi terkendala satu dan lain hal sehingga melapornya jadi di akhir? Bagaimana perasaan saya saat saya tidak tahu cara membuat laporan keuangan perusahaan saya, sementara antreannya masih panjang? Bagaimana peran pajak dalam pandangan warga negara? Bagaimana peran pajak dalam persepsi kita semua? Tentu saja, menanamkan empati itu mengandung niat baik, yaitu menumbuhkan tujuan berupa belief bahwa Bayar Pajak itu Untung.

Seorang teman pajak yang bertugas di remote area, juga akan merasakan haru saat menyadari bahwa temannya yang bertugas di Kantor Pusat juga sama-sama lembur sampai tengah malam untuk memastikan kestabilan sistem yang berjalan. Kenyataan bahwa ada kesamaan tanggung jawab walaupun berbeda lokasi kerja, membawa kita semua pada empati atas permasalahan masing-masing. Keseimbangan mungkin tercipta saat kita merasa sama-sama telah bekerja dengan baik sehingga yang tersisa adalah saling mengisi, mendukung, dan membantu satu sama lain.

Reality atau kenyataan, adalah jawabannya. Kenyataan tergantung pada waktu terjadi (time) dan di mana terjadinya (space). Kenyataan, juga menjadi parameter yang harus dianalisis demi mewujudkan perbaikan di masa selanjutnya. Menyongsong kecanggihan zaman, digitalisasi bisa tetap berkembang, tetapi humanisme membutuhkan sentuhan dari hati. Sentuhan yang bukan hanya sekali klik jentikan jari seperti dilakukan Thanos, lantas hilang separuh populasi. Atau yang dilakukan Iron Man untuk melenyapkan Thanos. Sentuhan hati itu tercipta melalui pemahaman yang sebenarnya sudah berakar karena budaya manusia mempersyaratkan cinta dan kasih sayang. Sejak Adam dan Hawa ada.

Artinya, kita harus menganggap penting semua orang. Dalam buku Psychology of Winning-nya Dennis Waitley, Bernard Baruch mengatakan bahwa “Orang-orang penting tidak menjadi masalah dan orang-orang yang bermasalah itu, tidak penting.” Maka, kalau Sodara-Sodara mengagumi seseorang, sebenarnya itu tidak penting. Kagumilah semua orang!

Continue Reading

Tax Light

SIPORA

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

Pulau Sipora adalah bukti sukses pemberdayaan potensi di tengah keterbatasan. Kuncinya adalah melek kepada perubahan.

Adakalanya kita menyangsikan potensi sesuatu bila kita tidak mengenalnya. Individu  yang memiliki potensi dalam pemikiran, ide dan inovasi, bisa saja tenggelam saat dia tidak berusaha menjual modalitasnya. Potensi bakat seseorang, bisa saja kandas saat tidak ada yang berusaha memberdayakannya. Demikian juga dengan potensi benda lain, misalnya pulau. Pulau yang memiliki potensi wisata luar biasa, bisa saja tidak dikenal wisatawan mancanegara karena tidak ada informasi lengkap mengenai keindahan alamnya. Dan potensi pajak di suatu negara, bisa saja tidak tergali saat tidak ada yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggalinya. Lantas, apa yang diperlukan untuk menjual suatu potensi sehingga dikenali dan dipahami setiap orang?

Perubahan, mungkin salah satu jawaban. Bagaimana mengubah cara pandang bahwa adalah sah saat menjual informasi tentang diri kita, organisasi, dan tentang negara kita, selama itu menebarkan hal positif. Perubahan, tentu saja butuh waktu. Hal utama saat memperkenalkan perubahan adalah dengan mewartakan benefit dan insentifnya.

Sama ketika dalam salah satu pelatihan yang menyampaikan kisah sukses suatu aplikasi di suatu kementerian yang diterapkan di sebuah pulau kecil. Namanya asing. Padahal, letaknya di Indonesia, dekat Pulau Mentawai. Pernah mendengar Pulau Sipora? Ada kisah sukses di sana. Karena letaknya yang jauh dari mana-mana, sistem yang mengendalikan anggaran pemerintahan berjalan dengan lambat. Bayangkan, untuk mencapai pusat kota memerlukan waktu lama mengarungi laut dan daratan. Akhirnya sebuah aplikasi diberdayakan di Pulau Sipora. Lantas, kisah sukses bagaimana aplikasi itu berhasil mengubah performance dan kultur bekerja di salah satu unit kerja percontohan di pulau yang namanya cantik itu, membuat banyak pengamat berselancar di internet untuk mencari tahu. Pulau Sipora yang mengandung kesuksesan efisiensi suatu sistem itu berada di mana? Whoyla! Ternyata pulau kecil ini sangat indah dan memiliki gelombang laut yang ciamik bagi pencinta surfing.

Apa yang kita pelajari dari hal di atas? Potensi itu harus dijual, bagaimanapun caranya. Sesederhana itu? Tentu tidak. Yang pertama, harus ada perubahan. Dalam penerapan aplikasi di Pulau Sipora itu, tentunya sudah ada riset mengenai faktor penentu keberhasilan dari perubahan. Kalau upaya inovasi berhasil, maka akan terjadi efisiensi, pemangkasan biaya dan upaya dalam mengirim laporan, misalnya. Aplikasi itu merupakan kekuatan yang diciptakan untuk mendukung apa yang dibutuhkan oleh perubahan. Menciptakan kekuatan, adalah yang kedua.

Yang ketiga, harus ada keterlibatan manusia di dalamnya, baik sebagai pegawai atau pimpinan, sehingga mereka melihat perubahan dalam konteks riil daripada sekadar ide. Di sinilah peran edukasi dan informasi yang menjelaskan tentang perilaku baru yang dibutuhkan di masa depan. Contoh, apabila sistem berjalan, manusia tidak akan keletihan mengarungi lautan. Ini hal menarik  yang membuat sumber daya manusia merasa tertarik  untuk belajar memahami perubahan organisasi. Dan, siapa yang mensyiarkan kebermanfaatan? Tentu saja, pemimpin! Pemimpin adalah kunci pendorong perubahan terpenting, sehingga dibutuhkan kepemimpinan yang visibel dan visioner serta transparan.

Setelah melakukan kegiatan yang mengatasnamakan perubahan, langkah berikut adalah melakukan evaluasi untuk mengukur kesiapan organisasi dan pegawai.  Perlu ada tools yang dinamakan strategi.  Jadi perlu membuat strategi komunikasi yang melahirkan agen-agen perubahan yang siap menjadi jembatan informasi. Siapa agen perubahan itu? Mereka yang bisa menerima perubahan baik dari segi teknologinya dan prosedurnya. Bagaimana caranya? Perlu ada wadah dalam membentuk kualitas mental menghadapi perubahan, berupa pelatihan. Pelatihan berkelanjutan yang diharapkan dapat  membentuk budaya berkesinambungan menuju tujuan perubahan.

Perubahan itu memiliki tiga unsur pemicu yaitu hasrat, keyakinan dan harapan, menurut Wendy Grant dalam bukunya, Dare! Hasrat mengandung semangat keyakinan, dan di dalam keyakinan ada kekuatan pengharapan yang tidak bisa diremehkan. Keyakinan itu juga terdapat dalam diri setiap individu yang memiliki hasrat menggebu bela negara dengan membayar pajak. Dia yakin, pembayaran pajaknya akan menjadikan negaranya kuat dan mandiri. Setidaknya, dia punya harapan bahwa sebagai warga negara yang baik, dia memiliki kontribusi jasa bagi negara, dengan membayar pajak.

Dari mana datangnya hasrat, keyakinan dan harapan? Jawabannya sederhana: dari kepercayaan! Salah satu dari  elemen utama kepercayaan atau trust, yaitu suatu harapan untuk sesuatu yang penuh kebaikan (Rousseau, 1998). Harapan ini timbul dari pengalaman pribadi, teman atau kerabat,  yang kemudian membentuk persepsi dan perilaku percaya. Maka dari itu, jangan kaget kalau iklan bayar SPT Tahunan di media sosial yang berupa goyang Hei-Ho menjadi sangat menarik, karena mengingatkan masyarakat pada lagu lawas yang banyak penggemarnya pada zaman itu, dan kemudian mengingatkan kita semua untuk melaporkan pajak “lebih awal, lebih nyaman”.

Tuntutan untuk berubah memang akan ada di setiap masa. Pelaporan e-filing yang membutuhkan masa edukasi lebih dari lima tahun sejak e-filing diperkenalkan, berproses dalam seleksi pemaknaan. Kalau dulu setiap batas akhir pelaporan surat pemberitahuan tahunan pajak, kantor pelayanan pajak di seluruh Indonesia pasang tenda, sekarang sudah mulai berkurang. Sudah banyak menggunakan aplikasi. Lebih efisien, apalagi kalau menyimpan eFin, dan ga lupa password -nya, sehingga tidak perlu bolak balik ke kantor pajak. Budaya sudah mulai berubah. Diharapkan dengan semakin sadarnya menggunakan aplikasi pelaporan, maka tidak perlu heboh di akhir Maret tahun depan. Sama dengan penggunaan aplikasi di Pulau Sipora di atas. Saat  semua sistem berjalan aman, maka kita tentu saja dapat mengetikkan jari memenuhi kewajiban kerja seraya berselancar menikmati keindahan wisata di kaca gawai.

Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds cannot change anything, pesan George Bernard Shaw mengiaskan perubahan. Seperti juga kehidupan dan kematian, perubahan itu datangnya pasti, tapi tidak selalu disadari.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 minggu ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News1 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News2 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News2 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News2 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News5 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News9 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News9 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News9 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News10 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Trending