Connect with us

Tax Light

Angin yang Berbisik

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis: Aan Almaidah Anwar(*)

Angin berbisik, bahkan ketika topan melanda

Melewati batas angkara, menyelip di jendela hati yang lapang terbuka

Semilir menatapi fatamorgana

Biarkan teriakan membahana di lekuk hutan pinus

Meliuk membawa janji mandirinya yang tak tergerus

Mencerna visi di identitas diri terkerat halus

Biarkan dia menderu di segenap hati dengan bisikan-Nya mengingatkan

Ketika angin masih berbisik, tahta cinta mengukir masa depan.

Puisi itu tercipta dari Cinta.

Saat Indonesia sibuk berbenah di bulan awal tahun 2017, bahkan menapak bulan kedua ini, negara masih berderap mengajak kepada kemandirian. Masih berupaya memberi penanaman kesadaran tentang amnesti pajak baik kepada tokoh masyarakat dan pemuka agama, yang diharapkan saling imbau kepada pelaku usaha. Angin yang berbisik bisa saja merangkai sinergi apabila ada kesadaran saling memiliki.

Contohnya, beberapa simulasi mengilustrasikan Indonesia mandiri dengan pemanfaatan uang pajak sebesar Rp 1 triliun. Dengan Rp 1 triliun kita bisa membangun 3.541 meter jembatan, atau membuat 155 km jalan, atau membangun 2000-3000 unit rumah susun, atau membeli benih padi untuk empat hektare sawah, atau membangun 11.500 unit rumah prajurit. Semuanya serba-A-T-A-U. Hanya dengan Rp 1 triliun maka kata atau akan membatasi fasilitas tersebut.

Lantas bagaimana sang Cinta akan bertahta bila semua kebutuhan harus dipenuhi? Maka gantilah kata atau menjadi dan. Lantas, seluruh kebutuhan dijumlahkan secara numerik. Sehingga kita akan mengerti pada akhirnya, kenapa penerimaan pajak selalu meningkat melesat setiap tahunnya. Karena dia harus memenuhi kebutuhan haus cinta masyarakat pada ini dan itu, pada anu dan ini, dan seterusnya.

Sekali lagi, coba bayangkan! Hanya dengan Rp 1 triliun maka pemerintah bisa membiayai gaji guru senior sebanyak sembilan ribuan atau sepuluh ribuan personel polisi dalam setahun. Atau, mengucurkan Rp 1 triliun itu sebagai beasiswa bagi 2,2 juta siswa miskin dari SD, atau 1,3 juta siswa miskin dari SMP/MTs, atau 1 juta siswa miskin dari SMA/MA. Akhirnya, kita menghela napas berat dan dalam. Itu baru ilustrasi Rp 1 triliun.

Dari mana uang untuk membayar semua kebutuhan penting itu? Di sini, kita berhenti pada kata sosialisasi. Sudahkah sosialisasi pajak dilaksanakan dengan baik? Untuk Program Amnesti Pajak saja kegiatan sosialisasi sudah mencapai angka 10 ribuan kali dilaksanakan. Belum terhitung sosialisasi dan dialog perpajakan lainnya. Namun, memang benar, berita maraknya sosialisasi bagaikan angin berbisik. Semua edukasi yang ada dalam materi menyelinap datang dan pergi dengan halus, seolah bisikan angin yang nyaris tak terdengar. Namun bila ada pemeriksaan, maka berita menjadi topan membahana dan alasan tidak pernah disosialisasi, menjadi mekanisme bela diri utama.

Sementara berita di perjalanan awal tahun ini meledak bombastis dengan demo tuntutan harga yang membuat saya berpikir: Edukasi berjalan dengan lembut walaupun sama-sama diteriakkan. Semua atas nama cinta. Namun, seperti itukah cinta? Semakin dirasa memenuhi maka semakin dianggap kurang, sehingga membuat tuntutan semakin tinggi. Kalau mau diukur, sebenarnya teori cinta itu sederhana.

Sternberg, dalam Sternberg dan Barnes, 1988, mengemukakan, tiga unsur pembentuk cinta yaitu adanya keintiman, gairah (passion), dan komitmen. Tak kenal, maka tak sayang. Dengan adanya sinergi kepada tokoh masyarakat, pemuka agama, edukasi dan dialog pajak secara bergulir dan rutin, diharapkan ada pesan mengenai kedekatan yang bisa direkatkan. Semua visi mengalirkan misi dengan adanya passion, baik untuk memenuhi kebutuhan bangsa maupun kebutuhan bernegara, dan melekat dalam kemelekatan komitmen yang tinggi untuk mempertahankan prinsip.

Prinsip apa? Prinsip bahwa semua yang ada dalam suatu negara adalah tanggung jawab kita. Tanggung jawab yang keluar dari rasa ingin memberikan yang terbaik. Dan begitu kita menjadi warga negara, prinsip itu semestinya ada dalam hati kita. Tanpa indoktrinasi. Bahwa pajak kita adalah untuk kita.

Edukasi berjalan dengan lembut walaupun sama-sama diteriakkan.

Dengan kesadaran mengeluarkan pajak untuk memberikan ke negara, maka kemandirian bangsa akan terwujud tanpa tuntut menuntut. Lha, yang kita tuntut bukan orang lain, tapi diri kita sendiri, kan? Rasanya cinta yang melahirkan tuntutan kepada pihak luar itu cinta yang teatrikal, sedangkan cinta yang melahirkan tuntutan dalam diri sendiri itu cinta yang sakral.

Saya berangan-angan bahwa demo yang fenomenal akan terjadi bukan untuk menuntut harga turun, kenaikan gaji atau minta fasilitas, tapi demo dengan tema memberi. Namun, demo yang mendorong agar produksi bisa lebih baik dari saudara-saudara serumpun di Vietnam, atau demo memamerkan produk pertanian yang jauh lebih mumpuni dari produk Thailand. Demo yang akhirnya membawa pikiran kita berkembang lebih dewasa. Demo yang menuntut setiap orang untuk memahami bahwa pajak adalah bagian dari kehidupan yang sebenarnya. Seandainya….

Sementara ini, marilah berbisik dahulu kepada angin. Karena hanya angin yang bisa menelusup jauh ke relung hati, ke alveoli paru-paru dan naik mengalir bersama darah ke pikiran untuk secara sadar bersemayam dalam bentuk Cinta pada Indonesia di seluruh syaraf tubuh kita.

*) Aan Almaidah Anwar Kasubdit Penyuluhan Perpajakan, Direktorta Jenderal Pajak.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Tax Light

KALIAN BICARA

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Di masa sekarang ini, antara pandemi dan resesi, kami tetap berusaha bangkit untuk berdiri

Tapi kalian, yang bicara

 

Dalam diam menyusun strategi memintarkan anak bangsa

Menyusun peduli dengan empati atas kejayaan bersama

Menggalang edukasi untuk menyebarkan kemudahan yang diberi…

 

Mari sisihkan, kalian mengimbau, ini buat negara… bukan buat siapa

Mengapa masih bertanya?

Ketukkan hati untuk berbagi… ini buat negeri…

 

Dan di sela riuhnya kendala dalam disrupsi, kalian bicara

Mari sisihkan, negeri ini punya kita!

 

Kami di sini, dan kalian maju di depan…

 

Kami kadang tak jua mengerti, namun kalian tak peduli

Karena ini, demi masa depan.

 

Ketika tenaga medis berguguran, tiada pita hitam tanda berduka

Ketika kalian berderap kebingungan, tiada lencana kebanggaan tersematkan

 

Tapi kalian tetap berderap dengan langkah kecil pasti.

 

Sesungguhnya, negeri ini punya banyak hati

Hati yang berjuang dengan tenaga dan jiwa

Hati yang membela Indonesia

 

Tapi semua berlalu dalam segala bentuk refleksi

 

Kami di sini, melihat kalian bicara,

Memapah dan mendukung, membahu dalam satu

 

Kalian yang bicara tentang edukasi, demi cinta

 

Kalian penyelamat citra, demi cita

 

Mari ke sini! Kalian bicara terengah tanpa henti.

Mari berbagi!

 

Sedikitpun, tak apa…

Karena dari energi yang bersatu, kita akan maju!

 

Terimakasih….

 

Kalianlah yang memang, akan bicara.

Mengedukasi negeri ini, dengan cahaya.

 

A3, 060920

 

(Untuk sahabat-sahabatku komunitas UMKM di mana saja berada)

Lanjut baca

Tax Light

Klaster

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Pendekatan klaster dinilai strategis karena integratif dalam meningkatkan daya tawar; menguntungkan karena berdampak pada pengembangan wilayah. Ia juga mendorong inovasi melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan.

 

Seorang teman menanyakan kepada saya alamat rumah si Fulan, teman saya. Ketika saya menjawab bahwa rumahnya ada di klaster A, maka komennya ringan dan sedikit menyentuh, “Wih, rumahnya di klaster, ya!” Kesannya, ada kekaguman di balik kata-kata itu.

Saya membayangkan bahwa klaster di perumahan itu biasanya lengkap dengan fasum dan fasos seperti adanya taman, tempat merokok, sarana anak-anak bermain, dan menekankan kesan bahwa yang tinggal di klaster itu hurang hayah. Sekarang ini klaster bisa saja tidak terdiri dari tanah yang luas, tapi memiliki protokoler tersendiri. Misalnya, untuk di perumahan, setiap memasuki klaster kita perlu meninggalkan KTP di pos satpam. Ada portal atau gerbang yang ditutup pada jam tertentu di malam hari sehingga tidak semua pengunjung bisa keluar masuk seenaknya. Jadi, istilah klaster di sini dipakai karena para pengembang mendesain pola perumahan yang berkelompok dengan satu pintu sebagai akses masuk dan juga keluar.

Istilah klaster, menariknya, lebih mengacu pada kelompok atau gugus. Biasanya ditulis dengan Bahasa Inggris yaitu cluster, kemudian terjadi penyerapan dalam Bahasa Indonesia berdasarkan adaptasi fonologi, menjadi klaster. Klaster, juga mengingatkan kita kepada virus korona. Pada awal virus korona yang ditemukan di Indonesia, tiga pasien pertama berasal dari sebuah klaster yang disebut klaster dansa. Dan pada gelombang kedua ini, tersebut bahwa konon penyebaran virus tersebut meluas kepada klaster perkantoran dan sekolah-sekolah. Penggunaan istilah klaster ini merujuk pada mereka yang tertular di tempat yang sama. Maka, kata klaster di masa pandemi ini menjadi marak karena menunjuk satu wilayah atau daerah apabila terjadi suatu kegiatan yang menyebabkan pesertanya tertular virus dan daerah menjadi zona merah. Contohnya, pada suatu upacara keagamaan yang kemudian pesertanya tertular menjadi positif di Sulawesi, maka nama klaster mengikuti nama daerah tersebut, dengan tujuan lain agar masyarakat berhati-hati bila ke sana.

Baca Juga: Angin yang Berbisik

Apabila kita membandingkan arti kata klaster di perumahan, dan arti kata klaster di daerah zona merah pandemi, maka kata klaster memiliki makna yang unik. Klaster kemudian mengingatkan kita pada keunikan suatu tempat, baik karena eksklusivitasnya maupun sinyal kewaspadaannya.

Dan bila diurut ke masa-masa sebelumnya, ternyata terdapat suatu pola pembinaan yang dilakukan berdasarkan mekanisme klaster yang bertujuan mengembangkan perekonomian rakyat. Katakanlah, upaya pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang dilakukan oleh Bank Indonesia, yang berinisiatif memfasilitasi kegiatan pembentukan klaster UMKM di Kalimantan Barat (https://www.bi.go.id). Pendekatan klaster ini dinilai strategis, karena bersifat integratif dalam meningkatkan daya tawar dan menguntungkan karena berdampak pada pengembangan wilayah. Selain itu, pendekatan klaster juga mampu mendorong adanya inovasi melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan antar pelaku UMKM dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Di saat pandemi ini, konon, tidak semua pelaku usaha mengalami penurunan keuntungan. Ada juga yang mengalami peningkatan omzet seperti usaha frozen food. Dan kita semua tahu bahwa hampir setiap kementerian memiliki tanggung jawab terhadap pelaku UMKM yang merupakan binaannya. Intinya, untuk mengembangkan pembinaan yang terintegrasi, diperlukan perlakuan dari hulu ke hilir, di mana dari awal berdirinya usaha, membangun merek atas usaha, mendapatkan perizinan komoditas dan status usaha, sampai kemudian setelah memetik hasilnya, tidak melupakan kewajiban perpajakan selaku warga negara.

Alangkah indahnya bila kegiatan memahami pajak dan mengedukasi teman-teman sejawat dalam mengatasi kendala pelaporan perpajakan menular ke klaster lain.

Salah satu komunitas yang tanpa disadari mengikuti konsep klaster atau kewilayahan, adalah Komunitas UMKM Sahabat Pajak (USP). Saat ini, komunitas ini giat menggencarkan gerakan sadar pajak, termasuk membimbing rekan-rekannya pengusaha UMKM untuk memanfaatkan insentif perpajakan dengan istilah yang akrab di telinga, yaitu Cuti Bayar Pajak. Dengan kewajiban membayar pajak final sebesar 0,5 persen dari omzet yang ditiadakan sampai akhir tahun 2020, maka fasilitas ini membutuhkan upaya syiar yang dilakukan dan diikuti dengan kepercayaan. Intinya, negara sangat mendukung kegiatan usaha sehingga menggelontorkan sejumlah insentif perpajakan termasuk kepada pelaku UMKM di negeri ini.

Baca Juga: Negeri Tanpa Angsa

Salah satu program untuk mendukung UMKM ini dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak bernama program Bussiness Development Service (BDS) yang tujuan utamanya adalah membuat UMKM naik kelas, serta meningkatkan kepatuhan perpajakannya. Bagaimana caranya? Melalui strategi edukasi dan kegiatan penyuluhan yang terintegrasi, dengan tema yang disesuaikan kebutuhan, misalnya, bagaimana cara memfoto produk, membuat iklan di media sosial, cara melakukan pembukuan, sampai terakhir bagaimana cara menghitung pajak yang dibayar dari keuntungan yang diperoleh? Hanya 0,5 persen, bisa saja berupa nominal yang tidak sebanding dengan kebutuhan sekuler sehari-hari sebagai manusia biasa.

Nah, di suatu wilayah yang mungkin tidak terbaca, semua gerakan yang diawali jerih payah untuk belajar memahami pajak, dan bagaimana mengedukasi teman-teman sejawat dalam mengatasi semua kendala pelaporan dan pembayaran pajak, merupakan suatu tindakan heroik! Alangkah indahnya bila kegiatan tersebut menular ke wilayah-wilayah atau klaster-klaster lain, membentuk komunitas yang berjuang bersama untuk tegaknya Indonesia.

Namun saat ini, kita masih tetap harus berhati-hati walaupun beberapa wilayah mengumumkan zona hijau. Pernah ingat ramalan bahwa bulan Agustus merupakan puncak gelombang kedua menyebarnya virus ini? Ketakutan bukan hanya milik petugas medis, tetapi juga seluruh masyarakat di wilayah mana pun! Mari kita sama berharap bahwa perputaran ekonomi mulai menggeliat kembali tanpa harus melupakan protokoler kesehatan. Agustus ini, bagaimanapun, bulan suci buat kita semua, karena Indonesia sudah menapaki usia ke-75. Seumpama manusia, Indonesia harus dijaga hati-hati agar terhindarkan dari rentannya kesehatan atas pandemi ini.

Mendadak ingin menulis satu nasihat, bahwa virus ini mendekat pada ketakutan tak bertuan, dan dia sangat benci menetap pada cinta dan keyakinan.

(A3, 080820)

Baca Juga: Berlari Bersama Waktu

Lanjut baca

Tax Light

D.I.R.G.A.H.A.Y.U

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Betapa indahnya bila Hari Pajak dimaknai sebagai Hari Pajak Indonesia.

 

Bagi kaum baby boomer, kata dirgahayu mungkin tidak asing. Biasanya saat hari kemerdekaan, menghias gapura kompleks atau jalan, ada umbul-umbul bertulisan “dirgahayu”.

Dirgahayu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘berumur panjang, bersifat panjang umur yang biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang merayakan atau memperingati hari jadinya’. Namun sekarang, yang lebih jamak adalah “selamat ulang tahun”—terjemahan dari happy birthday. Kalau dilihat dari arti kata dirgahayu di atas, apabila suatu organisasi memperingati hari jadi, maka lebih tepat digunakan kembali kata dirgahayu daripada “selamat hari…”

Tapi apa yang kebiasaan tentu menjadi biasa, sehingga tidak salah bila digunakan “selamat hari titik titik ke sekian titik titik”. Hanya, konon, dirgahayu tidak memerlukan bilangan tingkat (misal, “Dirgahayu RI ke-75”)—cukup ditulis “Dirgahayu RI” saja.

Semasa saya berada di masa-masa Sekolah Dasar, ada satu lagu yang terkenal tentang dirgahayu. Tepat! Dirgahayu, Dirgahayu, Bina Vokalia… Masa itu, hanya ada satu stasiun televisi yaitu TVRI. Ada satu program belajar menyanyi yang diajarkan oleh Bapak Pranadjaja. Beliau pengasuh Bina Vokalia. Dan saat ulang tahunnya, acara itu menghadirkan paduan suara menyanyikan lagu itu. Di sanalah, saya berkenalan dengan kata dirgahayu.

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Di bulan Juli ini, ada satu institusi penting di negara kita yang berulang tahun. Dan tahun ini adalah kali ketiga dirayakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Jangan tanya usia, karena sama dengan berdirinya Republik Indonesia. Coba baca sejarah pajak, bahwa tanggal 14 Juli itulah pertama kali kata pajak disampaikan oleh Bapak Radjiman Wedyodiningrat. Kenapa baru tiga kali dirayakan? Karena untuk menetapkan suatu organisasi yang sudah tua berdiri, kapan dia lahirnya, itu perlu penelitian. Beda dengan kelahiran anak manusia, jebret, oek oek. Nah, tahun depan di tanggal yang sama dia berulang tahun yang pertama. Ada lagi kepercayaan di negara tetangga, begitu dia meluncur ke dunia dan tangisannya bergema, sudah terhitung angka setahun. Itu cerita salah seorang teman Korea sewaktu kami studi di luar negeri.

Tidak berbeda dengan manusia, di saat organisasi berulang tahun, biasanya ada perayaan. Selama tiga tahun ini, DJP merayakannya dengan melakukan kegiatan kepedulian sosial, doa bersama umat pegawai, upacara bendera, bedah buku, kegiatan seni dan olahraga, dan utamanya diperuntukkan bagi internal. Namun ada yang berbeda karena tahun ini kegiatan Pajak Bertutur juga dimasukkan dalam rangkaian acara Hari Pajak. Suatu hari secara serempak, mengedukasi generasi muda tentang peran pajak bagi Indonesia.

Tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya, karena semua dilakukan dalam bentuk daring—dan mengusung tema “Bangkit Bersama Pajak” alias gotong royong. Kenapa gotong royong? Jangan-jangan—sebentar, jangan buru-buru menafsirkan. Sebenarnya kata itu sudah lama ada di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, yang sekarang mapelnya sudah ganti judul. Dalam menunaikan kewajiban sebagai warga negara yaitu membayar pajak, itu ada makna gotong royong di dalamnya.

Kepercayaan memang menuntut pengorbanan, yaitu berkorban untuk percaya. Salah satu dalam sikap berkorban adalah bersedia bergotong royong.

Baca Juga: Candradimuka

Contoh, zaman pandemi begini, perusahaan yang masih bangkit menyalurkan sumbangan untuk keperluan tenaga medis di garda depan. Itu namanya gotong royong. Sumbangan itu kemudian mendapat insentif perpajakan yang dapat diperhitungkan mengurangi penghasilan kena pajak yang pada akhirnya akan mengurangi pajak yang harus dibayar. Itu namanya gotong royong. Masyarakat Wajib Pajak yang di zaman ini inginnya diberi, apabila kemudian malah berinisiatif memberi alias membayar pajak, itu juga namanya gotong royong. Jadi, kewajiban dalam bernegara adalah bergotong royong, bukan?

Itulah mengapa pemerintah memberikan juga insentif perpajakan dan terutama saat ini bagi UMKM, dengan niat menjaga stabilitas usaha para sahabat UMKM. Istilahnya, “Kalian cuti bayar pajak enam bulan, ya. Manfaatin, ya, dengan bahagia. Kan bisa melakukan pekerjaan lain atau usaha lain. Pajaknya dibayar siapa? Ditanggung pemerintah. Kok Pemerintah baik? Jangan-jangan—”

Bangsa kita terlalu sering curiga atas suatu kebaikan. Coba, kalau kita jadi orangtua, terus masuk ke kamar anak kita sambil mengacung-acungkan tiket filem di bioskop keren. “Nak, berhenti buat PR! Ayo kita nonton!”

Terus apa yang terjadi? Ternyata tidak seperti yang diharapkan. Anak sulung memilih ikut memanfaatkan tiket bioskop dan nonton bersama ayah-bunda dengan bahagia, PR toh nanti bisa dikerjakan. Anak bungsu (kebetulan punya dua anak, misalnya), memilih tetap buat PR dan mengabaikan tiket nonton. Marahkah orangtua? Mungkin lebih tepat diistilahkan kecewa. Namanya orangtua tentunya ingin kumpul-kumpul happy sama anak. Mungkin seperti itulah terjadinya alur rasa saat ini. Insentif sudah ada, tapi masyarakat malah kepo. Ini jebakan, ya? Jebakan Batman apa jebakan Robin, ya? Pemerintah, tentu, punya perasaan seperti orangtua, yang dinamakan sedikit kecewa tadi.

Baca Juga: Ketika Budaya Lahir Kembali

Yang serunya, apabila cuti bayar pajak tersebut tetap diminta ada laporan. Sepertinya beraaat. Ini ngasih fasilitas kok pakai syarat, sih?

Yuk, balik ke contoh orangtua. Orangtua kasih fasilitas, “Nak, uang sakumu tak tambah, tapi kamu diem di rumah aja, ya. Bahaya di luar.” Tapi lantas orangtua, si papih sama mamih ini, minta cuma satu syarat: Walaupun di rumah aja, tolong telepon papih sama mamih, sekali dalam sehari ya. Supaya tahu keadaanmu apa baik-baik saja.

Sebagai orangtua, kan benar ya, kita ingin ditanya, dilaporin, diteleponin, walau syaratnya enggak susah? Lapor ke aku sekaliii saja sebulan.

Itulah yang namanya kepercayaan. Kepercayaan memang menuntut pengorbanan, yaitu berkorban untuk percaya. Salah satu dalam sikap berkorban adalah bersedia bergotong royong. Seandainya setiap orang berpikiran “Oke aku manfaatin insentif ini, karena aku ingin bantu diriku dan orang lain, supaya mandiri” maka dia sudah sampai di taraf kesadaran. Kesadaran membayar pajak, yang ditandai dengan komitmen dari dalam dirinya, untuk mendukung bangsa ini mencapai kemandirian ekonomi. Kalimat ini saya sarikan dari salah satu artikel Bapak Edi Slamet (2020), tentang kegotongroyongan dan pajak.

Kembali ke Hari Pajak, betapa indahnya bila dimaknai bahwa inilah Hari Pajak Indonesia. Karena yakinlah, saat dipikirkan harus adanya pajak sebagai penopang negara di Undang-Undang Dasar, bisa jadi saat itu belum ada definisi Pajak Pusat dan Daerah. So, mari, kita bersinergi dengan seluruh elemen bangsa ini untuk mewartakan kebersamaan dalam mendukung pajak.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Sejatinya, saat kita bersama-sama sudah memahami esensi kita membantu manusia lain, maka itu artinya dirgahayu buat diri kita sendiri.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News1 hari lalu

Ekonomi Kuartal ke-4 Membaik, Pemerintah Tetap Fokus Menjaga Pertumbuhan

Kasus pandemi COVID-19 di dunia masih mengalami eskalasi dan memicu ketidakpastian. Di Indonesia, kasus COVID-19 di beberapa daerah terkendali. Namun,...

Breaking News2 hari lalu

Dukung Kemajuan Pasar Modal Indonesia, DJP Terima Penghargaan

Jakarta, Majalahpajak.net – Peran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terhadap kemajuan pasar modal Indonesia mendapat penghargaan dan apresiasi dari para regulator...

Breaking News2 hari lalu

Ekonomi Asia Mulai Kembali Stabil

Jakarta, Majalahpajak.net – Ekonom Bank DBS Group mengatakan, laju pemulihan ekonomi di tengah pandemi global di beberapa negara  kawasan Eropa,...

Breaking News3 hari lalu

Mengabdi dengan Ikhlas, Menjaga Martabat dan Prestasi

Jakarta, Majalahpajak.net – Merayakan ulang tahun ke-5 pada 5 Oktober lalu, Kanwil DJP Jakarta Selatan II mengadakan kegiatan syukuran sekaligus...

Breaking News1 minggu lalu

Ini Kebiasaan Baru Masyarakat di Masa Pandemi

Jakarta, majalahpajak.net – Pandemi Covid-19 telah menghantam seluruh sendi ekonomi Indonesia: hotel-hotel sunyi dan pusat perbelanjaan sepi pengunjung. Menurut Kementerian...

Breaking News1 minggu lalu

DBS dan Tanijoy Kampanyekan Gaya Hidup “Zero Food Waste” untuk Atasi Perubahan Iklim

Jakarta, Majalahpajak.net – Economist Intelligence Unit melakukan penilaian ketahanan pangan (Food Sustainability Index 2018) dan menemukan bahwa Indonesia menjadi negara...

Breaking News1 minggu lalu

Majukan Produk Indonesia, Kemenkominfo Adakan Pelatihan Wirausaha Digital untuk UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar pelatihan digital untuk warga negara Indonesia dan perempuan pelaku Usaha Mikro, Kecil,...

Breaking News2 minggu lalu

Menparekraf Ajak Pulihkan Sektor Pariwisata melalui Penguatan UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net– Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menekankan pentingnya kebijakan strategis bagi pelaku...

Breaking News2 minggu lalu

Ini Prosedur Permohonan Persetujuan Penerimaan Kredit Luar Negeri

Jakarta, Majalapajak.net – Dampak pandemi Covid-19 di Indonesia telah berimbas ke sektor ekonomi dan keuangan. Antara lain melambungkan kebutuhan pembiayaan...

Breaking News2 minggu lalu

Indonesia Dorong Kerja sama Pembiayaan Infrastruktur dan Teknologi Digital

Jakarta, Majalahpajak.net –Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN menggelar meeting virtual ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors’...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved