Connect with us

Benchmark

Andalkan Partisipasi Publik dan Teknologi

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Keberhasilan Korea Selatan menanggulangi pandemi COVID-19 tanpa mengisolasi wilayah menjadi inspirasi banyak negara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memuji upaya Korea Selatan dalam mengendalikan pandemi COVID-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di negara itu mencatat pada 5 April 2020 terdapat 47 kasus baru, jauh menurun dibanding hari sebelumnya yang mencapai 81 kasus.

Pemerintahan Presiden Moon Jae-in mampu mengendalikan pandemi COVID-19 dalam sebulan terakhir dengan jumlah kasus baru kurang dari seratus. Seiring pencapaian tersebut, Presiden Moon telah berkomunikasi dengan sekitar 20 pemimpin dunia termasuk Indonesia untuk berbagi pengalaman dan mendukung negara-negara lain dalam mengatasi penyebaran virus korona.

Pejabat Korea Selatan mengungkapkan, langkah isolasi kota seperti di Wuhan, Tiongkok sulit diterapkan di masyarakat terbuka.

“Tanpa mengabaikan prinsip keterbukaan di masyarakat, kami merekomendasikan sistem yang memadukan partisipasi publik sukarela dengan aplikasi teknologi canggih,” jelas Wakil Menteri Kesehatan Korea Selatan, Kim Gang-lip.

Menurutnya, kebijakan isolasi wilayah dapat mengganggu iklim demokrasi dan justru mengesampingkan peran masyarakat yang mestinya secara aktif ikut berpartisipasi dalam upaya pencegahan. Padahal, imbuhnya, partisipasi publik harus digencarkan melalui keterbukaan informasi.

Baca Juga: ISEI Beri Tiga Usulan untuk Pemulihan Ekonomi dari Pandemi Covid-19

Keterbukaan informasi

Korea Selatan memberikan informasi yang transparan kepada warganya agar tetap aman, termasuk pengarahan media sebanyak dua kali sehari dan peringatan darurat melalui telepon seluler terhadap warga yang berada di wilayah tempat kasus baru ditemukan.

“Korea Selatan mengeluarkan paket stimulus sebesar 11,7 triliun won (sekitar Rp 138,6 triliun) untuk membantu respons medis, bisnis, dan rumah tangga, termasuk keringanan pajak dan subsidi sewa.”  

Riwayat perjalanan pasien tersedia secara rinci di situs web kota yang dapat diakses oleh warga. Banyaknya gedung yang memasang tanda peringatan bertuliskan “Tanpa Masker Dilarang Masuk” membuat warga semakin displin untuk menggunakan masker saat keluar rumah. Demikian juga pentingnya menjaga kebersihan yang terus dikampanyekan secara luas oleh pemerintah.

Tes masif dan instan

Pemerintah Korea Selatan menyediakan 50 stasiun pengujian virus korona secara gratis dengan konsep drive-thru  yang hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk setiap orang dan hasil tes dapat diperoleh dalam waktu beberapa jam. Dengan fasilitas yang tersebar di seluruh wilayah, sekitar 15.000 tes diagnostik dapat dijalankan dalam sehari dan angka keseluruhan tes mencapai hampir 200.000. Tes secara masif ini memudahkan petugas yang berwenang untuk mengidentifikasi pasien sejak awal dan meminimalisasi penyebaran virus korona.

Korea Selatan mengeluarkan prosedur imigrasi khusus untuk memantau kedatangan dalam dua pekan tanpa memberlakukan larangan masuknya pelancong dari luar. Bagi mereka yang datang dari Tiongkok, Hong Kong, dan Makau akan menjalani prosedur pengecekan suhu tubuh, verifikasi riwayat kontak domestik, mengisi pernyataan kesehatan, dan mengunduh aplikasi diagnosis diri di gawainya agar dapat ditangani secara intensif jika menunjukkan gejala.

Baca Juga: Sambut Normal Baru, OJK Terbitkan Stimulus Lanjutan untuk Perbankan

Upaya Korea Selatan dalam mengatasi pandemi tak terlepas dari dukungan teknologi informasi terkini dan kamera pengawas yang melacak sumber infeksi dan mengidentifikasi pergerakan kasus berdasarkan transaksi kartu kredit .

Warga yang berisiko tertular ditempatkan dalam isolasi diri dan ditangani secara menyeluruh oleh otoritas kesehatan. Pemerintah mengubah gedung pusat pelatihan kerja dan berbagai fasilitas publik menjadi pusat perawatan pasien korona dengan gejala ringan, sehingga persoalan kekurangan ruang perawatan di rumah sakit dapat teratasi.

Stimulus fiskal

Dalam mengantisipasi dampak pandemi terhadap perekonomian, Pemerintah Korea Selatan mengeluarkan paket stimulus sebesar 11,7 triliun won (sekitar Rp 138,6 triliun) untuk membantu respons medis, bisnis, dan rumah tangga. Selain itu, pemerintah juga mengumumkan keringanan pajak dan subsidi sewa pada 28 Februari lalu.

Bidang kesehatan, perawatan anak, dan kegiatan usaha kecil yang paling terdampak menjadi prioritas dari penyaluran stimulus ini.

Baca Juga: Langkah “Extraordinary” Hadapi Resesi

 

Benchmark

Pulihkan Pariwisata dengan Sertifikasi Kesehatan

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pemerintah Turki bergerak cepat membangkitkan sektor pariwisata yang terpukul pandemi dengan menerapkan program sertifikasi kesehatan demi kenyamanan wisatawan.

Sektor pariwisata memiliki peran penting untuk menjadi lokomotif pertumbuhan di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi. Percepatan pemulihan sektor pariwisata membutuhkan kesiapan bagi setiap negara dalam menyusun penerapan adaptasi kebiasaan baru demi menjaga kenyamanan dan keamanan bagi para wisatawan.

Pemerintah Turki telah memperkenalkan Program Health Tourism Certification yang mulai berlaku pada musim panas tahun 2020. Program strategis ini berada dalam naungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata.

Program sertifikasi ini menunjukkan keseriusan pemerintah setempat dalam memelopori arah normalisasi dan menerapkan ketentuan adaptasi kebiasaan baru di sektor pariwisata. Upaya ini seiring dengan pencapaian Turki sebagai model bagi dunia dalam penanganan pandemi virus korona melalui penerapan sistem kesehatan dan metode pengobatan yang tepat.

“Program sertifikasi kami akan memastikan para tamu di Turki berlibur dengan aman dan higienis, serta nyaman,” jelas Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy.

Melalui program sertifikasi ini Turki mendorong seluruh penyelenggara transportasi dan fasilitas akomodasi untuk mengambil tindakan pencegahan agar wisatawan bisa menikmati liburan yang sehat dan nyaman. Healthy Tourism Certification meliputi sejumlah langkah yang harus dipenuhi di bidang transportasi, akomodasi, maupun terkait persyaratan kondisi kesehatan para pekerja fasilitas dan penumpang. Sertifikat dari lembaga sertifikasi internasional nantinya yang berwenang untuk mendokumentasikan pemenuhan persyaratan tingkat tinggi dalam kesehatan dan kebersihan di berbagai sektor. Beberapa sektor yang tercakup yakni perusahaan penerbangan, bandara, moda transportasi lain, akomodasi, serta fasilitas makanan dan minuman.

Empat pilar

Ada empat pilar utama yang terdapat dalam program sertifikasi dalam kaitan dengan penumpang, pekerja, tindak pencegahan di sekitar fasilitas wisata maupun transportasi. Pertama, kesehatan dan keselamatan penumpang. Pilar ini mencakup tindak pencegahan yang harus diterapkan terkait dengan penumpang mulai dari proses kedatangan hingga kepulangan mereka.

Kedua, kesehatan dan keselamatan pekerja. Pilar ini meliputi tindak pencegahan untuk memastikan pekerja di fasilitas transportasi, akomodasi, serta makanan dan minuman sehat secara fisik dan mental.

Ketiga, pencegahan pada sarana-prasarana. Pilar ini terkait dengan langkah-langkah yang harus diambil di semua fasilitas guna mencegah penyebaran virus korona.

Keempat, pencegahan pada transportasi. Pilar ini mencakup langkah-langkah dan peraturan tertentu bagi transportasi udara, darat, dan laut seperti pelatihan bagi personel transportasi. Ada juga sertifikat imunitas bagi personel, sterilisasi kendaraan, dan pengaturan sistem transportasi penumpang berdasarkan standar jarak aman.

Turki telah menerima sekitar 5,5 juta turis selama masa pandemi. Di bulan Juli 2020, wisatawan yang ke Turki mencapai 932.927 orang—jauh dari kunjungan pada Juli tahun lalu yang mencapai 6,5 juta orang. Secara keseluruhan, pada 2019 ada 49 juta turis datang ke Turki.

“Kami ingin program ini menjadi permanen bahkan dalam periode pascapandemi,” imbuh Ersoy.

Turki telah memberikan sertifikasi pada sekitar 4.900 fasilitas yang terkait dengan penyelenggaraan transportasi, akomodasi hingga kondisi kesehatan karyawan perhotelan dan juga wisatawan.

Negara ini menargetkan pendapatan dari sektor pariwisata di tahun 2020 sebesar 11 miliar dollar AS dari perkiraan total 6,5 juta wisatawan dengan rincian 1,2 juta orang adalah warga Turki yang tinggal di luar negeri atau memiliki kewarganegaraan ganda dan 5,3 juta orang adalah turis asing.

Istanbul menjadi daya tarik utama wisata selain destinasi populer lainnya seperti Kota Edirne dan Antalya. Adapun turis asing yang paling banyak berasal dari Jerman, Rusia, dan Bulgaria.

Lanjut baca

Benchmark

Tebar Stimulus Antiresesi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Pemerintah Singapura memberikan berbagai stimulus fiskal di berbagai sektor ekonomi termasuk pariwisata di tengah ancaman resesi terburuk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura pada pertengahan Juli 2020 memublikasikan data Produk Domestik Bruto (PDB) year on year (yoy) menurun hingga 12,6 persen. Ini menjadi kontraksi kedua secara berturut-turut, setelah sebelumnya, pada kuartal I, PDB secara yoy juga turun 0,3 persen.

Penurunan perekonomian yang membawa Singapura jatuh pada resesi ini merupakan dampak dari kebijakan pembatasan sosial yang ketat dibarengi pemberlakuan circuit breaker melalui penguncian wilayah (lockdown) sejak April lalu untuk menekan penyebaran virus korona.

Pemerintah Singapura telah menggelontorkan stimulus sebesar 33 miliar dollar Singapura (sekitar Rp 349,6 triliun) pada akhir Mei lalu untuk mendukung sektor perekonomian yang sangat terpukul akibat pandemi Covid-19. Ini merupakan paket stimulus keempat di Singapura sejak pandemi merebak.

Baca Juga: Dalam Sebulan, UOB Kumpulkan 1,65 Juta Dollar Singapura untuk Cegah Dampak COVID-19

Stimulus tambahan

Pada Agustus 2020 negeri singa menambah anggaran stimulus ekonomi sebesar 8 miliar dollar Singapura atau sekitar Rp 85,8 triliun seiring tekanan resesi ekonomi yang terus menerpa. Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Singapura Heng Swee Keat menyatakan, parahnya dampak ekonomi yang dialami ini erat kaitannya dengan perlemahan ekonomi global menyusul kebijakan penguncian wilayah, sedangkan upaya pemulihan akan sangat bergantung pada keberhasilan negara-negara menahan penyebaran virus.

Satu-satunya sektor yang tumbuh selama masa pandemi adalah manufaktur—seiring meningkatnya permintaan terhadap alat-alat kesehatan dan obat-obatan.

Pemerintah Singapura memperkirakan ekonomi negaranya tahun ini akan tumbuh minus 5–7 persen dan menjadi resesi terburuk yang belum pernah dialami sebelumnya. Perpanjangan kebijakan di masa pandemi akan kembali dilakukan, meliputi keringanan biaya sewa dan bantuan untuk usaha kecil dan menengah, keringanan dan potongan harga dalam retribusi pekerja asing untuk perusahaan di industri tertentu (konstruksi, kelautan dan lepas pantai), memperluas peluang lapangan kerja di sektor publik dan swasta bagi sekitar 40.000 pekerja, hingga perpanjangan subsidi upah selama tujuh bulan hingga Maret 2021. Warga yang menganggur, kehilangan pendapatan maupun kalangan pekerja dengan upah rendah mendapat bantuan tunai dari pemerintah.

Stimulus pariwisata

Pemerintah mengalokasikan dana tambahan sebesar 187 juta dollar Singapura (sekitar Rp 2,03 triliun) sebagai bantuan untuk sektor penerbangan yang terdampak cukup parah oleh pandemi virus korona. Negara yang sangat mengandalkan sektor pariwisata sebagai andalan penerimaan devisa ini berupaya bangkit dari resesi ekonomi dengan menerapkan kebijakan khusus berupa kredit pariwisata sebesar 320 juta dollar Singapura. Stimulus bagi warga Singapura ini bertujuan untuk memulihkan sektor pariwisata domestik.

Baca Juga: Terpisah dari Kementerian Keuangan, IRAS Lebih Leluasa

Untuk mendanai berbagai stimulus fiskal dan program bantuan tunai tersebut, pemerintah telah menggali cadangannya sekitar hampir 100 miliar dollar Singapura atau 20 persen dari PDB.

Meski pandemi telah memukul perekonomian, ada sektor usaha yang justru mengalami peningkatan. Satu-satunya sektor yang tumbuh selama masa pandemi adalah manufaktur. Seiring meningkatnya permintaan terhadap alat-alat kesehatan dan obat-obatan, industri manufaktur di Singapura tercatat mengalami pertumbuhan 2,5 persen.

Salah satu perusahaan yang memproduksi alat-alat kesehatan di negara ini meraup peluang bisnis dengan menggandakan produksi respirator N95 untuk memenuhi kebutuhan global. Pada pertengahan 2020, jumlah produksi respirator yang sangat dibutuhkan di masa pandemi virus korona ini mencapai 800 juta unit dan telah dikirim ke berbagai negara.

Lanjut baca

Benchmark

Galang Sokongan Konglomerat

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa (ilustrasi bisnis retail di Thailand)

Dewan Penasihat Bisnis Thailand mengusulkan kepada pemerintah agar mengerahkan dukungan bagi kalangan petani dan pelaku usaha kecil.

 

Ancaman resesi ekonomi sebagai akibat dari bencana pandemi virus korona berkepanjangan kini melanda dunia. Kondisi ini juga terjadi di Thailand yang selama ini sangat mengandalkan sektor pariwisata sebagai tumpuan penerimaan.

Bank Sentral Thailand memproyeksikan perekonomian di negara gajah putih tahun ini akan mengalami kontraksi atau minus 5,3 persen—terlemah sejak krisis keuangan melanda kawasan Asia pada 1998. Pejabat bank sentral setempat memperkirakan dampak kerugian akibat pandemi Covid-19 sebesar satu triliun baht atau setara Rp 479,6 triliun.

Pemerintah mengajukan rencana bantuan ekonomi senilai 58 miliar dollar AS atau sekitar Rp 903,9 triliun untuk meredam dampak pandemi agar tak menyeret ke jurang resesi yang terlalu dalam.

Baca Juga: Tiga Tantangan Besar Perekonomian Pasca-pandemi

Dukungan untuk UMKM

Menyadari pentingnya peran sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mendorong perekonomian yang tengah terancam resesi, Dewan Penasihat Bisnis Thailand berinisiatif untuk menyampaikan usulan ke pemerintah agar mengerahkan dukungan bagi petani dan pelaku UMKM.

Ketua Dewan Penasihat Bisnis yang juga menjadi pucuk pimpinan di Badan Perencanaan Negara Thosaporn Sirisumphand mengungkapkan semua usulan untuk mendukung petani dan UMKM disampaikan secara langsung kepada perdana menteri. Usulan tersebut berupa pemberian uang tunai sebesar 15.000 baht (sekitar Rp 7,2 juta) untuk setiap rumah tangga petani, moratorium utang untuk satu tahun dan dana senilai 50 miliar baht (sekitar Rp 23,9 triliun) untuk meningkatkan hasil pertanian, pemangkasan tingkat kontribusi jaminan sosial bagi perusahaan kecil, dan dukungan keuangan untuk pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Perdana Menteri Prayuth Chan Ocha secara khusus meminta dua puluh konglomerat Thailand mengerahkan organisasi mereka untuk mengembangkan proyek-proyek yang menjangkau seluruh wilayah Thailand.

Imbauan juga datang dari Perdana Menteri Prayuth Chan Ocha yang secara khusus meminta 20 konglomerat Thailand agar mengerahkan organisasinya untuk mengembangkan proyek-proyek yang menjangkau seluruh wilayah negara. Miliarder pemilik jaringan retail dan hotel Central Group yang tersebar di Thailand, Vietnam, Jepang, dan Italia menyambut baik imbauan pemerintah dengan aksi membeli lebih banyak barang dari para pedagang kecil, mendonasikan ruang retail, dan tidak melakukan PHK terhadap puluhan ribu karyawannya. Aksi nyata segelintir konglomerat yang menguasai rantai pasok skala luas ini diyakini dapat berdampak signifikan terhadap permintaan di dalam negeri.

Baca Juga: Siasati Pandemi, Qasir dan Grab Sediakan Layanan bagi Usahawan Mikro

Stimulus pariwisata

Upaya mengatasi dampak pandemi juga ditempuh melalui kebijakan stimulus di sektor pariwisata. Pemerintah menghapus pajak penghasilan (PPh) orang pribadi atas uang kembalian (cash back) bagi warga yang terdaftar dalam program stimulus pariwisata Eat, Shop, Spend.

Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat likuiditas warga dan meningkatkan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi global akibat perang dagang dan pandemi virus korona. Stimulus ini diharapkan dapat membantu menumbuhkan pariwisata domestik di tengah penurunan ekonomi global, yakni dengan memberikan uang tunai sebesar seribu baht melalui aplikasi Pao Tung bagi warga yang mendaftar. Jika uang itu dibelanjakan di toko-toko yang tercatat pada aplikasi, pembeli akan mendapatkan cash back 15 persen setiap kali belanja 30.000 baht dan 20 persen setiap belanja 30.000 hingga 50.000 ribu baht, atau memperoleh  cash back maksimal 8.500 baht yang bebas pajak.

Menurut Menteri Keuangan Thailand Uttama Savanayana, penghapusan pajak yang dinikmati oleh sedikitnya 12,6 juta orang ini akan dapat menumbuhkan aktivitas produksi dan investasi sekaligus menggerakkan perekonomian secara keseluruhan.

Baca Juga: Pendanaan Industri Kreatif Melejit Saat Krisis

Lanjut baca

Populer