Connect with us

Breaking News

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

Agus Budiman

Published

on

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan Indonesia masih dinilai rumit oleh Wajib Pajak.

Pasca putusan Mahkamah Konstitusi No. 63/PUU-XV/2017 yang membatalkan pasal 32 ayat (3a) UU No. 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan (KUP), kewenangan untuk menerima Kuasa Wajib Pajak tak lagi menjadi otoritas konsultan pajak. Setiap pihak kini bisa menjadi kuasa dari wajib pajak asalkan memahami persoalan terkait perpajakan, termasuk advokat. Salah satu advokat yang berpengalaman menjadi Kuasa Wajib Pajak adalah Lucas S.H., pengacara senior dari firma hukum LUCAS, S.H. & PARTNERS. Sebagai catatan, Kuasa Wajib Pajak memiliki peran dan fungsi yang berbeda dengan Kuasa Hukum. Menurut pasal 1 ayat 1 PMK 229/PMK.03/2014, Kuasa Wajib Pajak adalah orang yang menerima ‘kuasa khusus’ dari wajib pajak untuk melaksanakan hak dan/atau memenuhi kewajiban perpajakan tertentu dari wajib pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

Nama Lucas memang tidak asing lagi di lingkungan Pengadilan Niaga. Ia adalah Pendiri dan sekaligus Chairman LUCAS, S.H. & PARTNERS yang selama ini mempunyai spesialisasi dalam penyelesaian di bidang perbankan, bisnis, perusahaan, penanaman modal, investasi, pasar modal, persaingan usaha, pertambangan, kepailitan & penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU), pertanahan & real estate, perdata & niaga, pidana, arbitrase & alternatif penyelesaian sengketa, administrasi negara, perburuhan, hak asasi manusia, pajak dan hukum internasional.

Berdasarkan pengalamannya sebagai Wajib Pajak, dan beberapa kali menjadi Kuasa Wajib Pajak, Lucas yang juga anggota Dewan Pembina Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) ini mencoba menuangkan uneg-unegnya serta berbagi gagasan terkait sistem pemungutan perpajakan di Indonesia. Ia mengaku, selama ini menyimpan kegelisahan atas rumitnya proses pelaporan dan pembayaran pajak. Ia mengakui, sistem perpajakan Indonesia saat ini semakin membaik, tapi masih perlu disederhanakan lagi. Pendapat ini bukan saja berdasarkan pengalaman pribadi pria yang tahun lalu menjadi peserta Amnesti Pajak ini, tapi juga pengakuan Wajib Pajak yang pernah menjadi kliennya.

“Saya melihat dari sisi saya ketemu klien saya, ada satu yang penting, yaitu cara membayar pajak harus disederhanakan, cara memungut pajak harus disederhanakan,” ungkapnya kepada Majalah Pajak di kantornya di Sahid Sudirman Center, Jakarta akhir Juni lalu.

Kerumitan yang dirasakan Wajib Pajak, menurut Lucas, salah satunya adalah tata cara pelaporan SPT, seperti SPT masa, dan SPT Tahunan yang dinilai terlalu banyak kolom laporan yang harus diisi. Memang, saat ini sudah ada jasa konsultan pajak yang bisa menangani hal itu. Namun, alangkah sangat memudahkan Wajib Pajak jika proses pemenuhan kewajiban perpajakan dibuat sesederhana mungkin.

“Anda pernah isi SPT masa tahunan? Itu banyak sekali kolom-kolom yang harus diisi. Itu kami enggak bisa. Enggak usah bicara soal WP Badan, kita bicara WP Orang Pribadi saja. Kalau lihat itu juga pusing, kolom harta, macam-macamlah. Orang membayar pajak itu perlu suatu kebanggaan sehingga harus dimudahkan,” aku Ketua Ikatan Kurator dan Pengurus Indonesia (IKAPI) yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di bidang litigasi ini.

Lucas mengusulkan, proses simplifikasi bisa dimulai dari integrasi antara Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan kartu Tanda Penduduk (KTP). Menurutnya, NPWP harus diberikan ketika seseorang telah berumur 17 tahun. Pemerintahlah yang harus jemput bola untuk memberikan NPWP kepada calon Wajib Pajak.

 Selain penyederhanaan, Lucas juga mempertanyakan sistem pemungutan pajak di Indonesia yang ia anggap masih kurang adil. Soal Pajak Pertambahan Nilai (PPN), misalnya, ia berpandangan, seharusnya pajak yang diterapkan adalah pajak penjualan, sehingga kewajiban membayar ada pada penjual, bukan pembeli. Sedangkan, selama ini yang yang berlaku di Indonesia adalah PPN yang selalu dibebankan kepada pembeli akhir atau konsumen. Ia mengusulkan, orang yang membelanjakan uangnya di teritorial Republik Indonesia agar tidak usah lagi membayar pajak saat membelanjakan uangnya, seperti membeli barang dan jasa, tapi yang wajub membayar pajak adalah mereka yang menjual barang dan jasa.

“Saya kasih contoh begini ya, seorang karyawan kecil kalau dia terima gaji dia sudah bayar pajak, PPh 21. Terus, waktu dia membelanjakan uangnya, dia beli rokok saja dia bayar pajak. Beli baju bayar pajak. Beli motor bayar pajak, beli rumah kecil bayar pajak. Padahal ia dapat uang dia sudah bayar pajak. Pertanyaan saya sederhana, kenapa dia mesti bayar pajak lagi? Bolehkah dia enggak bayar pajak lagi, orang kecil ini?”

Jangan tunggu orang minta NPWP baru dikasih. Dan setiap orang yang melamar untuk mendapatkan kerja, atau mau mendirikan suatu usaha harus bisa memberikan identitas KTP dan NPWP-nya, itu wajib.

Berikut petikannya

 Anda salah satu Wajib Pajak (WP) peserta program Amnesti Pajak. Apa yang Anda rasakan setelah tax amnesty dan Hal krusial apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menindaklanjuti program itu?

Setelah Amnesti Pajak (Tax Amnesti/TA), harusnya pemerintah punya database yang lebih baik sehingga menjadi acuan untuk memudahkan pemerintah, Direktorat Jenderal Pajak—dalam menertibkan perpajakan. Namun, di sisi lain kami juga mendengar suara sumbang, orang yang sudah TA diperiksa lagi. Mestinya yang sudah ikut TA, janganlah diganggu. Kecuali orang itu tidak TA, atau TA tidak total. Komitmen pemerintah setelah ikut TA, kan, (Wajib Pajak) tidak diutak-atik, kecuali dia TA waktu itu tidak total—ada bagian (Harta) yang enggak diikutkan TA, atau memang tidak ikut TA. Namanya juga kita WP harus patuh membayar pajak.

Setelah TA ini sebenarnya kita berharap ekonomi bergerak semakin maju karena uang yang selama ini masih takut dipakai karena belum ikut TA, sekarang sudah di-TA-kan. Berarti itu gampang kan? Kemarin ada ribut tentang credit card untuk akses data untuk kepentingan perpajakan itu. Mungkin suatu saat nanti (boleh), tapi sekarang jangan dulu karena alat bayar dan itu masih terutang. Kalau begitu nanti enggak ada yang belanja. Ekonomi ini kan harus berputar dan berjalan, bagaimana caranya. Begitu, loh.

Saya melihat dari sisi saya ketemu klien saya, saya lihat ada satu yang penting, yaitu cara membayar pajak harus disederhanakan, cara memungut pajak harus disederhanakan. Boleh enggak—ini saya memimpikan, karena terus terang saya membayangkan cara sekarang ini walaupun sudah banyak membaik tapi masih jauh dari kesederhanaan.

Sesederhana seperti apa yang diinginkan para WP itu menurut aspirasi yang Anda peroleh?

Anda pernah isi SPT masa dan SPT Tahunan? Itu banyak sekali kolom-kolom yang harus diisi. Itu kami enggak bisa. Enggak usah bicara soal WP Badan, kita bicara WP Orang Pribadi saja. Kalau lihat itu juga pusing, kolom harta, macam-macamlah. Itu tidak terhindari juga, tapi cobalah untuk disederhanakan.

Paling penting sekarang itu coba kita lihat Warga Negara Indonesia (WNI). Jumlah WNI misalkan 240 juta, yang harus ber-NPWP adalah mereka yang berumur 17 tahu ke atas. Semua warga negara harus punya NPWP. Jadi kelompok manusia Indonesia yang berumur 17 tahun ke atas itu berapa banyaknya? ada enggak saya katakan 100 juta—anggaplah 10 juta. Terus pertanyaan saya, Orang Pribadi yang ber-NPWP itu ada 100 juta enggak? Dari jumlah itu, yang benar-benar melakukan pembayaran pajak dengan benar berapa? Kenapa mereka tidak membayar pajak dengan benar? Sekali lagi, orang membayar pajak itu perlu suatu kebanggaan sehingga harus dimudahkan. Dan orang membayar pajak itu harus mengerti manfaat dia membayar pajak.

Ketika seseorang membayar pajak, mestinya orang itu (karena) sedang menikmati suatu keuntungan, atau menerima suatu kenikmatan. Dengan kata lain, ia menerima uang. Kalau dia tidak menerima suatu kenikmatan atau keuntungan atau mendapatkan nilai tambah, bagaimana caranya dia harus membayar pajak? Sedangkan, ada batas penghasilan yang tidak kena pajak (PTKP), dan ia harus melampaui itu. Jadi, berputar-putar di sana—orang harus bayar pajak bukan karena transaksi, tapi karena ada batas PTKP, kan? Ada penghasilan tidak kena pajak, tapi memang ada suatu penghasilan yang melampaui PTKP sejak orang bayar pajak dan ketika orang mau bayar pajak bagaimana memudahkan orang bayar pajak, siapa yang haus membayar pajak.

Sekarang kita selalu dalam sistem perpajakan ada yang namanya wajib pungut, wajib potong. Mari kita kembali lagi istilah penyederhanaan. Saya sedang bermimpi bagaimana semua warga negara Indonesia yang memiliki KTP, juga otomatis memiliki NPWP. Apakah dia sudah punya usaha atau tidak usaha, mestinya dia sudah punya NPWP. Jadi, NPWP itu harus diminta atau di berikan? Harus diberikan, dicari orang yang sudah ber-KTP, dewasa diberikan NPWP. Disederhanakan, jangan tunggu orang minta NPWP baru dikasih. Dan setiap orang yang melamar untuk mendapatkan kerja, atau mau mendirikan suatu usaha harus bisa memberikan identitas KTP dan NPWP-nya, itu wajib. Jadi, jangan bilang orang tidak punya usaha tidak usah punya NPWP, enggak bisa. Setiap warga negara harus punya NPWP, apakah saya pembayar pajak atau tidak, tergantung apa yang saya terima, keuntungan, kenikmatan, atau mendapatkan uang yang melampaui PTKP—kita bicara WP Orang Pribadi.

Saya kasih contoh begini ya, seorang karyawan kecil kalau dia terima gaji dia sudah bayar pajak, PPh 21. Terus, waktu dia membelanjakan uangnya, dia beli rokok saja dia bayar pajak. Beli baju bayar pajak. Beli motor bayar pajak, beli rumah kecil bayar pajak. Padahal ia dapat uang dia sudah bayar pajak. Pertanyaan saya sederhana, kenapa dia mesti bayar pajak lagi? Bolehkah dia enggak bayar pajak lagi, orang kecil ini?

Jadi, boleh enggak itu diubah? Orang yang membelanjakan uangnya di teritorial Republik Indonesia ini tidak usah lagi membayar pajak kalau dia membelanjakan uangnya, membeli barang dan jasa. Tapi orang yang menjual barang dan jasa dikenakan pajak—saya bicara orang (WP OP), ya, saya tidak bicara badan hukum. Orang bisa manusia, bisa badan usaha, dia yang menjual barang, jasa, dikenakan pajak. Saya kasih contoh, penjual televisi, misalnya harganya 45 juta, yang beli barang seharusnya jangan dikenakan pajak—sekarang, kan, dikenakan pajak PPN. Apakah boleh, tidak dikenakan pajak, tapi si penjual itu dari Rp 45 juta itu langsung dikenakan pajaknya 20%, atau 10% atau 15%, tergantung barang apa yang dijual. Barang produk dalam negeri, barang impor, barang setengah impor setengah dalam negeri digabung, itu dikasih satu angka pajak. Televisi 20%, ya sudah. Kalau dia jual Rp 45 juta, da punya source Rp 9 juta untuk bayar pajak.

Enggak perlu tahu modalnya berapa, boleh enggak begitu?  Saya enggak tahu itu boleh enggak. Coba tanya pada ahli-ahli pajak, ini saya maunya disederhanakan. Jadi, semua orang yang punya duit belanja enggak usah ditanya duitnya dari mana, sepanjang itu uang bukan money laundry, uang haram, atau uang hasil kejahatan, ya dia belanja saja uangnya agar ekonomi ini berputar. Jangan-jangan uangnya ditaruh di bawah kasur. Maksud saya dia punya uang ya belanja saja, jangan ditanya uangnya dari mana. Karena belanja ini menggerakkan ekonomi.

Nah, ketika pembeli belanja yang dipungut pajaknya adalah si penjual karena penjual ini yang menerima uang, yang menerima keuntungan, yang menerima kenikmatan uang itu. Ya di mana masalah PPN-nya dan lain lain,  ya dia harus di reformasi sistemnya ini. Kalau bagian dari sana bilang ada PPN, ya ditagih si penjual, jangan dibebankan kepada pembeli. Mungkin harga jadi mahal? Enggaklah, yang ada persaingan, kan? Maksud saya ya sederhanalah. Jadi pembeli itu sekali sekali jangan dibebani pajak. Jadi orang yang terima gaji yang dipotong pajak, tidak double tax. Apalagi beli barang mewah, mencret dia. Sederhana ini dalam arti, si penjual yang harus bayar pajak. Si pembeli enggak karena si pembeli dianggap uangnya sudah bayar pajak. Kalau dia seorang penjual televisi, uangnya sudah kena pajak juga kan, baru dia belanja lain juga kena pajak juga kan, orang yang membeli tv dia bekerja sebagai karyawan, dia sudah kena pajak juga bahwa dia beli televisi.

Jadi seluruh WNI  ada NPWP, itu diberikan langsung dan setiap orang yang diperiksa mau beli motor, ditanya mana NPWP-nya. Ini untuk database. Kalau membeli barang ada KTP ada NPWP. Kalau ke orang asing ya sudah. Kalau WNI membiasakan diri ke mana-mana—mau BPJS, mana NPWP-mu? Jadi WP harus ada NPWP. Karena kalau ini ada 100 orang WNI yang sudah dewasa yang harus punya NPWP dan itu melekat seumur hidup, enggak boleh diganti ganti. Di Amerika ada yang namanya national security (sosec) di Indonesia istilahnya BPJS.

Bayangkan kalau seperti itu, barang impor masuk tidak usah kita pusing pajak impor. Pokoknya kalau kau menjual barang impor, penjual ini barangnya 30% atau 50%. Kalau jual 100 juta, 30 juta setor ke negara. masa kita yang punya bangunan sendiri bayar 4%. Ini untuk membantu supaya semua orang senang. Rakyat itu bingung cara-caranya. Jadi kalau dia memang tidak membuka usaha macam-macam, pokoknya belanja, “Kau ada NPWP enggak? Kalau enggak ada NPWP cas-nya mahal.” Jadi menjual kepada orang yang ber-NPWP pajaknya ada, kalau tidak ada NPWP pajaknya mahal. Ini memaksa setiap warga negara punya NPWP dan ini membangun database pajak. Di sisi lain, tetap ada laporan SPT masa, SPT Tahunan, karena itu memang tetap harus dibuat.  Tapi setidaknya tetap jadi sederhana.  Sehingga orang yang punya gaji Rp 5 juta atau Rp 10 juta, memang dia bisa pakai Rp 10 juta itu. Nah ini dipotong pajak lagi.  Orang yang TKW atau TKI dari luar negeri pulang bawa duit, setengah mati kerja jual darah, jual keringat di luar negeri, di Indonesia dipajakin lagi. Mau beli satu buku saja kena pajak, kena PPN.

Jadi, digeser menjadi sederhana. Si penjual ini kalau memang dia menjual produk dalam negeri boleh saja dikasih tax holiday, enggak ada pajak. Atau pajaknya cuma 2% atau 3% atau 5%. Barang impor 30%, 40% ya terserah. Jadi enggak usah pusing-pusing itu barang mau masuk, yang penting barang itu bukan barang yang bisa merusak bangsa Indonesia, seperti narkoba, obat-obatan tertentu. Rokok, jangan kita beli rokok kita yang kena pajak. Kalau begini kita ubah enak kan? Saya yakin banyak dapatnya.

Kemudian orang yang kecil-kecil ini orang pribadi, kan, banyak kaki lima, gerobak, orang buka lapak kaki lima, itu ada bayar pajak enggak? Mereka harus diberikan NPWP. Tapi PTKP-nya kita harus diubah. Persoalannya adalah dia jual barang dia bayar pajak enggak? Sama kan? Si pembeli enggak bayar, tapi dia menjual menerima barang ya setor dong. Cuma mungkin dibikinlah untuk transaksi yang di bawah 1 tahun di bawah Rp 3-4 miliar, ya sudahlah enggak usah dilihat. Tapi kalau omzetnya sudah besar, sudah Rp 10 miliar, Rp 20 miliar, itu mulai kena. Tapi kalau untuk membuat database kan pedagang kecil ini pajaknya rendahlah, mungkin cuma 2%, kalau jual dari sana 2%. Sebab ekonomi yang bawah itu, kalau toko enggak boleh begitu. Bangga juga dia bayar pajak 2% karena dia kaki lima. Karena ekonomi rakyat ini harus banyak, seven eleven kalau di Amerika, di Indonesia kaki lima.

Orang mau berusaha jangan ribut-ribut dulu izin usaha atau apa, langsung buka saja dulu. Setelah itu dagang, belum punya izin belum, kasih izinnya. Jangan orang izin dulu baru buka usaha. Supaya semua orang itu jangan berpikir hanya menjadi karyawan tapi mau menjadi entrepreneur, mau membuka lapangan kerja, mau berusaha sendiri. Penjual bakso ada NPWP-nya juga begitu, omzet sekian bayar 2%. Kan bayar pajak dari omzet yang saya maksud jual berapa di kali berapa. Tapi jangan dipaksakan dulu, paling database-nya dulu dia punya NPWP, setor sekecil mungkin, karena dari situ database dibangun.

Terus orang harus mengerti juga saya bayar pajak ini untuk apa besok. Mau BPJS tanpa NPWP, jangan dong. Bisa enggak begitu? Penyederhanaan jenis pajak juga. jadi yang kecil kecil enggak masuk omzet, yang besar kategori. Kan tidak adil kalau orang kena pajak, dia enggak kena pajak. Kalau belanja di supermarket sudah jelas pajaknya begini, kalau belanja di kaki lima. Cuma orang senang belanja di kaki lima karena murah. Karena pengenaan pajaknya murah, barangnya murah. Orang jual barang bekas juga enak, kalau orang jual barang bekas bagimana? Ya diatur, disederhanakan. Ini ceritanya menjual barang dalam negeri.

Jadi, orang tertentu itu dimudahkan, jangan dibikin susah. Supaya rakyat itu menjadi enak, senang, nyaman, aman. Dari anak-anak yang masih muda itu sudah ngerti kalau dia sudah umur 17 dia harus punya NPWP. Karena kalau mau berbelanja kalau tidak punya NPWP harganya mahal. Jadi toko menjual kepada orang  yang tidak ber-NPWP tidak boleh. Tidak boleh mempersoalkan kau punya uang dari mana, itu tidak boleh. Mungkin suatu saat nanti jika negara kita lebih maju, ini kan untuk database. Medapatkan database, memudahkan sistem pembayaran, memudahkan sistem pemungutan,menyederhanakan jenis jenis pajak, enggak ada double tax, enggak ada triple tax.

Orang mau ambil darah dia harus punya KTP dan NPWP, karena NPWP itu diberikan bukan diminta. Jangan kita balik, kau tidak bayar PBB tidak dikasih KTP, kan merusak itu. Itu adalah database yang harus ada. Kalau enggak mau susah, nomor NPWP samain saja dengan nomor KTP. Jadi kita memungut pajak dari orang yang menerima kenikmatan dari orang yang menerima keuntungan dari orang yang menerima uang. Orang ini bisa orang pribadi bisa badan hukum. Jadi dengan demikian bisa satu orang buka toko, bagaimana ongkos sewa, listrik, itu kita enggak usah tanya lagi, itu urusan gue. jangan tanya sewa ini, kau hitung sendirilah. Mau ongkos makan, transportasi, listrik, air, itu urus sendiri.  Maka penagihan pajak itu kalau di dalam negeri harus sekecil mungkin. Yang menjual barang impor kita lihat punya tandingan dalam negeri atau tidak, kalau tidak ada ya memang dibutuhkan ya okelah, tapi kalau ada tandingan dalam negeri harusnya yang impor itu dibikin mahal pajaknya. Mungkin orang bilang ide ini ekstrem, enggak? Apakah mungkin? Saya enggak tahu, saya bukan ahlinya. Tapi saya melihat bagaimana keruwetan ini karena administrasi database yang tak kunjung selesai.

Bagaimana dengan industri, ya sama saja. Gue enggak perlu tahu kamu punya modal tenaga kerja berapa, itu gue enggak urus tuh barang. Boleh enggak? Bagaimana dengan perkebunan, ya enggak urus juga. tapi otomatis setiap jenis industri mereka akan bersatu. Tapi mungkin orang pajak kurang kerjanya. Atau kita mau mengambil sistem untuk perusahaan skala industri besar seperti itu masih dengan sistem buku. Kalau yang seperti saya katakan tadi yang lepas lepas punya, enggak usah sistem buku, yang skala kecil. Mungkin kita bicara omzetlah itu dikategorikan. Jadi kelas yang besar seperti perusahaan asuransi jiwa, asuransi kerugian, perkapalan, perkebunan, industri tekstil, nah itu mungkin harus seperti metode yang sudah dibuat. Tapi tetap enggak boleh memungut PPN kepada lawan, enggak ada istilah begitu. Jadi enggak ada kericuhan di Tanah Abang, yang pernah ribut tekstil ada jual ke Tanah Abang, fakturnya ada di tempat lain, enggak ada kejadian seperti itu. Ini untuk transisi masyarakat Indonesia tidak familiar dengan pajak menjadi familiar dengan pajak. Orang yang di kampung, belum teredukasi, mereka bingung kenapa saya harus bayar pajak.

Kalau Anda bilang ekstrem memang ekstrem karena undang-undang kita memakai prinsip berbeda dengan prinsip yang Anda ajukan. Jadi Anda cenderung memakai semacam pajak penjualan, sedangkan yang berlaku di Indonesia yang dianut oleh para pembuat undang undang pajak itu PPN. PPN selalu digeser kepada pembeli akhir, konsumen. Sedangkan Anda mengajukan konsep harus kepada penjual. Untuk mewujudkan mimpi Anda itu harus mengilik pembuat undang undang.

Enggak apa apa. Kan kita itu selalu tertatih tatih mengikuti perkembangan. Coba bayangkan hari ini, mulai dari undang-undang perpajakan tahun 83, 86, 90. Kita itu harus introspeksi diri kita, begitu capainya kita urusan PPN itu dan selalu tidak bisa match. Di situlah yang jadi masalah. Jadi buka mata uang, ada PPN tapi jangan dibebankan kepada pembeli akhir. Yang pertama memberikan nilai tambah dari suatu barang, dia yang membayar PPN. Minyak satu  drum, dijual per kilo per kilo dalam plastik, ya udah di situ ada PPN-nya, ada nilai tambah, yang jual kena PPN 10%. Tapi bebannya enggak boleh pada pembeli. Dia yang meng-create barang punya nilai  tambah, dia bayar pajak. Jadi langsung putus di situ. Bagaimana kalau penjualannya itu berjenjang? Dari pabrik minyak keluar ke distributor, keluar ke toko-toko, baru kepada konsumen, ini, kan, biasanya PPN di paling ujung. Namun, kalau kita beli di kedai dan toko kecil, kan, tidak ada PPN di situ. Ini kita membodohi diri sendiri. Lebih baik yang pertama saja langsung ada PPN. Karena ada ketidakadilan di sini, pasti ada orang yang enggak kena PPN. Nanti di cross lagi PPN masukan, PPN keluaran.

Kalau kita mau betul-betul, kita enggak usah khawatir, undang undang bisa diubah. Dibikin perpu, yang penting punya satu hati untuk reformasi perpajakan untuk lebih memudahkan dan menyejahterakan rakyat dan zaman pemerintahan Presiden Jokowi ini saya kira dia sangat berani mengambil terobosan seperti ini, rakyat akan senang. Jadi apakah reformasi pajak ini sudah menyelesaikan benang kusut? Belum, sekarang. Bagaimana mereformasi pajak untuk menyelesaikan benang kusut? PPN keluaran, PPN bodong, PPN fiktif, ada yang kena, ada yang enggak. Mari kita putus mata rantai itu dan di sederhanakan semua.

Pajak barang mewah, otomatis kalau itu barang mewah dari luar negeri pasti sudah kena pajak penjualan barang impor ya kasih mahal saja. Waktu orang mau jual rumah, rumahnya memang itu jadi bagus sekali tipenya, ya barang mewah dikenakan ke penjual, jangan ke pembeli. Otomatis harga juga naik, kenapa si pembeli kena nanti jadi double tax. Jangan nanti ada PPN yang bisa dipakai dan enggak bisa dipakai. Itu membuat tidak match dan menimbulkan banyak penyimpangan, baik oleh WP maupun oleh fiskus. Seperti orang bilang bagaimana orang menghindari korupsi, gampang. Tarik tunai maksimum Rp 1 juta per orang. Mati sudah korupsinya itu. Bikin aturan tarik tunai maksimum Rp 1 juta.

Kedua, money changer dikontrol. Money changer sebenarnya tidak bisa rekening, harus tunai. Jadi, kalau mau hindari korupsi mata uang yang berlaku di Indonesia harus diganti semua supaya simpan di bawah kasur, dalam lemari, pasti keluar semua, kalau enggak dipakai enggak bisa dipakai lagi. Termasuk transaksi narkoba enggak bisa enggak ada uang tunai. Untuk menghindari kejahatan kurangi uang tunai. Pakailah itu alat bayar elektronik. Kalau gitu susah orang untuk korupsi. Pembayar pajak juga e-Billing. enggak ada bayar tunai. Jadi memang teknologi ini harus dipakai.

Saya ini pelaku pajak, dalam arti saya juga konsultan hukum dan saya juga Wajib Pajak, saya lihat perkembangan pasar seperti ini.  Jadi pemikiran saya ya begini, disederhanakan. Ada lagi satu. Orang mau beli tiket tulis NPWP-nya. Lain kali juga pendemo dimintai NPWP-nya. Yang demo ditanya punya NPWP enggak. Jadi sebenarnya pajak itu luar biasa bagusnya NPWP ini. Kita harus membuat masyarakat nyaman, aman, dan tenang dengan NPWP ini. Kalau sumber uang ilegal atau haram, atau melanggar hukum, kan, ada polisi yang memproses sampai ke pengadilan. Tapi kalau selama itu belum ada jangan di ganggu.

Seperti sekarang orang yang enggak pernah ikut TA, sekarang bayarlah 48%. Maksud saya sekarang ini sudahlah kita enggak usah bikin susah orang, jadi pasca-TA, ini berlaku bagi orang yang sudah ikut amnesti, maupun yang tidak ikut TA. Supaya ekonomi bisa berputar. Kalau ekonomi berputar, produk barang dan jasa ada yang beli, kemudian itu ada orang yang bisa bekerja. Tapi kalau ini stuck, orang mau belanja nanti ditanya uang saya dari mana. Nanti pelan-pelan kalau database sudah rapi orang dikasih waktu. Tidak boleh menerapkan satu peraturan tanpa waktu—ini hari keluar, ini hari berlaku. Kasih waktulah 1-2 tahun. Waktu pas TA database diambil dari kelompok besar, kelompok kecil database enggak ada.  Prinsip ini adalah penyederhanaan jenis pajak dan tax single stages. Single tax, single stages. Yang plural menjadi single.  Menyederhanakan dari multi menjadi sederhana. Silakan semua disederhanakan. Bukan juga tenaga kerja payah atau apa, justru lebih berat kerjaannya karena dia harus melihat satu per satu. Nah ini orang sudah mulai besar, ini yang masih kecil jangan di ganggu. Ikan kecil biarkan sampai besar sampai beranak, kalau ikan kecil dibasmi mau bagaimana?

Pertama, kita sederhanakan dulu orang bawah ini jangan sampai dia terganggu, masuk KPP dijamin enggak akan diganggu sumber uangnya, itu dulu.  Ini yang masalah kalau sumber uang diganggu ekonomi terancam. Nanti kalau sudah punya database semua, baru pelan-pelan ditata. Bagaimana supaya orang berbondong bondong mencari NPWP. Berarti NPWP mempunyai value, ketika saya mau bertransaksi, mau mendapatkan fasilitas dari negara. jadi, sebenarnya mahasiswa itu sudah mempunyai NPWP kan? Orang tanpa penghasilan harusnya sudah mempunyai NPWP, kalau orang ada atau tidak ada penghasilan kan susah kita tunggu dia, kan ada nihil. Semua yang sudah 17 tahun harus punya NPWP. Membayar pajak tergantung ada penghasilan atau tidak. Nanti orang ini kan mau cari kerja sudah ada datanya.

Tantangannya saya ngerti, undang-undangnya begitu. Indoensia ini sudah kebutuhan, undang undang harus direvisi dalam arti yang sifatnya menyederhanakan, memudahkan, baik cara membayar, memungut, jenisnya, jumlahnya, disederhanakan dan dengan tujuan untuk kita mendapatkan database yang maksimal dan di sisi lain rakyat mengerti, teredukasi, dan dia tahu bahwa tujuan pembayaran pajak ini apa. Sehingga mendapatkan manfaat. Jangan hanya kewajiban melulu.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Breaking News

Perlu “Grand Design” agar Berkelanjutan

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Kemendikbud telah menyusun peta jalan kurikulum dan buku panduan guru program Inklusi Kesadaran Pajak. DJP diharapkan memiliki rancangan besar program untuk kesinambungan pembelajaran.

Sejak tahun 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemdikbud) telah membantu DJP meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pajak melalui pendidikan. Kerja sama itu tertuang dalam nota kesepahaman dengan ruang lingkup peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan; pengembangan pembelajaran, kurikulum, dan perbukuan; serta penelitian dan pengembangan.

Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Awaluddin Tjalla mengemukakan, untuk memberikan penanaman nilai di satuan pendidikan mesti dimulai dengan adanya kurikulum. Untuk itu, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran menyusun kurikulum dan materi terkait pajak untuk pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Kurikulum dan materi pajak yang disusun bersama DJP ini tidak dibuat menjadi satu mata pelajaran baru, melainkan sebagai tema-tema yang diinsersi pada beberapa mata pelajaran yang relevan. Misalnya pelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Matematika, dan Bahasa Inggris.

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini beralasan, membuat mata pelajaran baru akan membutuhkan alokasi waktu yang lebih banyak serta guru khusus dalam pelaksanaannya. Di sisi lain, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran juga bekerja sama dengan instansi lain yang memiliki misi yang sama, mengenalkan anak didik sedini mungkin mengenai isu-isu yang terjadi saat ini seperti berdisiplin berlalu lintas, kemaritiman, dan inklusi keuangan.

“Kami berprinsip apa yang disebut dengan diversifikasi kurikulum, yakni meng-adopt kebutuhan-kebutuhan anak dilihat dari perkembangan saat ini. Jadi disisipkan—insersi. Jadi, kami tidak buat dalam mata pelajaran sendiri,” katanya kepada Majalah Pajak di ruang kerjanya, Balitbang Kemdikbud, Kawasan Senen, Jakarta Timur, Selasa (22/10).

Untuk memudahkan penyusunan kurikulum, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran menyiapkan peta jalan (roadmap) yang terdiri dari capaian pembelajaran, kompetensi dasar, indikator pembelajaran, dan alat pembelajaran. Untuk mata pelajaran PPKN tingkat sekolah dasar kelas 4–6 misalnya, salah satu capaian pembelajarannya yakni memahami fasilitas umum di masyarakat yang dibiayai dari pajak, sementara kompetensi dasarnya menyajikan hasil identifikasi pelaksanaan kewajiban dan hak sebagai warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator pembelajaran dilihat dari kemampuan siswa menyebutkan barang-barang di lingkungan sekolah yang dibiayai dari pajak. Sedangkan pembelajaran dilakukan dengan membaca buku teks dan mengamati fasilitas di sekolah yang dibiayai pajak. Guru dapat memanfaatkan buku teks dan poster sebagai alat pembelajaran.

Awaluddin juga menyebutkan pemetaan muatan kesadaran pajak di kelas 12 tingkat SMA dan sederajat. Di mata pelajaran Bahasa Inggris, terdapat capaian pembelajaran kesadaran pajak berupa menganalisis kesadaran masyarakat dalam membayar pajak. Kompetensi dasarnya menganalisis peran pelaku ekonomi dalam kegiatan ekonomi, sedangkan indikatornya siswa mampu mengamati orangtua, tetangga, juga pengusaha kecil di sekitarnya dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya (memiliki NPWP, SPPT, lapor SPT, dan lain-lain).

Pembelajaran melalui membaca bahan ajar, penugasan mengumpulkan bukti-bukti kewajiban pajak di rumah masing-masing, atau mengamati setruk pembelian di tempat belanja. Sementara alat pembelajaran yang bisa dipakai adalah video.

Selain penyusunan kurikulum, selama lima tahun ini Pusat Kurikulum dan Pembelajaran juga telah menghasilkan beberapa buku panduan guru untuk memperkaya pembelajaran seperti Buku Pedoman Implementasi Kesadaran Pajak dalam Kurikulum (untuk Pendidikan Dasar dan Menengah), Buku Guru Inklusi Kesadaran Pajak yang diintegrasikan dalam pembelajaran Tematik SD kelas satu hingga tiga, dan Buku Guru Inklusi Kesadaran Pajak diintegrasikan dalam pembelajaran Tematik SD kelas empat hingga enam.

Kita memiliki sekitar 50 juta siswa dan empat juta guru tetap. Kalau kita berikan informasi sedini mungkin tentang pajak, ke depan dia bisa punya sadar pajak yang tinggi.

Implementasi dan evaluasi

Lulusan S3 Ilmu Psikologi Universitas Indonesia Jakarta ini menambahkan, setelah penyusunan kurikulum dan penerbitan buku panduan guru maka implementasi menjadi penentu sejauh mana materi pajak dapat sampai ke anak didik.

“Implementasi itu perlu komunikasi, bukan hanya dengan pusat kurikulum, tetapi juga dengan Direktorat Jenderal Guru di Kemdikbud untuk menyampaikan kepada guru-guru. Tujuannya, untuk diberikan pemahaman, pelatihan agar di dalam proses pembelajaran nanti di kelas, muatan-muatan tentang nilai-nilai pajak itu juga disampaikan pada anak didik kita.”

Selain pemahaman dan penyerapan materi, dibutuhkan juga pengajar yang dapat berinovasi dan mudah beradaptasi dengan keadaan dan properti yang dimiliki sekolah.

“Misalnya materi ini diberikan di Jayapura dan tidak tersedia alat pembelajaran video, tapi tersedia sarana yang sederhana yang anak-anak bisa memahami dengan baik. Maka, guru bisa berinovasi menyampaikan dengan alat peraga yang dekat dengan kehidupan anak-anak di sana. Yang penting, materi bisa tersampaikan dengan baik,” ujarnya.

Awaluddin menyampaikan, jika materi pajak dapat terinformasikan dengan baik, maka dapat menghasilkan kesadaran pajak yang tinggi.

“Kita memiliki sekitar 50 juta siswa dan empat juta guru tetap. Kalau kita berikan informasi sedini mungkin tentang pajak, ke depan dia bisa punya sadar pajak yang tinggi. Ini pekerjaan besar bagi kita.”

Awaluddin berharap, pelaksanaan peningkatan kesadaran pajak melalui pendidikan ini dapat dievaluasi, tidak hanya di tingkat pusat, tetapi juga kantor pelayanan pajak di setiap daerah yang melibatkan kepala daerah.

“Evaluasi, kan, bisa per wilayah tidak perlu selalu di sini (pusat). Karena di sini hanya untuk kebijakan dan rancangannya. Mungkin didesain, evaluasi program kegiatan ini dilaksanakan oleh KPP-nya yang diberikan kewenangan, diundang mereka, menyamakan persepsi, kami beritahukan juga ada program seperti ini supaya nanti daerah juga mendukung.”

Awaluddin berharap DJP dapat membuat grand design program inklusi kesadaran pajak sehingga, meskipun pejabat di setiap pemangku kepentingan yang terlibat telah berganti, program tetap berjalan sesuai timeline dan tugas masing-masing.—Ruruh Handayani

Continue Reading

Breaking News

Merawat Amanah dan Keteladanan sang Ayah

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Jabatan tak harus membuat jemawa. Itulah pelajaran berharga yang dipetik Yari dari kesederhanaan ayahandanya.

Sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kenangan indah bersama sang ayah agaknya akan terus tersimpan di benak Yari Yuhariprasetia. Kala itu hari masih pagi benar. Namun, Yari sudah berjalan kaki bersama ayahanda Abdul Hanan, menuju perlintasan angkot di Jalan Dewi Sartika, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Hari itu, sang ayah mengajak Yari, yang masih duduk di kelas lima, ke tempat kerjanya, SD Negeri Kramat Jati, untuk menyaksikan acara perpisahan kelas enam. Ayahnya yang menjadi kepala sekolah di sana, saban hari hanya mampu naik angkot. Sekali waktu ayahnya memang pernah punya motor Vespa, tapi terpaksa dijual untuk menghidupi enam orang anak—Yari anak kelima. Ibunda Yari, A. Mariam adalah ibu rumah tangga.

Yari ingat betul, sepanjang perjalanan menuju pemberhentian angkot, ayahnya memegang erat tangannya. Sesekali berhenti, sekadar memastikan bahwa Yari masih kuat berjalan. Maklum, jarak dari rumah ke perlintasan angkot sekitar dua kilometer. Sambil berjalan, ayahnya hanya berpesan, “Sekolah yang rajin, Ri. Pendidikan itu penting.”

Kata-kata itulah yang selalu terngiang dan menjadi cambuk untuk terus menimba ilmu. Kelak, semangat belajar itu pula yang mengantarkannya menjadi pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan kini menjabat sebagai Kasubdit Pelayanan Perpajakan, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) DJP

“Saya enggak ngerti alasan Bapak mengajak saya ke sekolah. Mungkin Bapak ingin memberi gambaran bagaimana dia bekerja, pentingnya sekolah, menuntut ilmu. Mungkin juga Bapak ingin mengajari kami: ‘Jabatan tinggi tapi jalan kaki enggak apa-apa, loh,’” kenang pria kelahiran Cililitan, 18 Juli 1968 ini, di ruang kerjanya, Kamis Sore (24/9).

Nilai keteladanan lain yang ditanamkan orangtua Yari adalah kejujuran dan reputasi. Jangan sampai karena nila setitik, rusak susu belanga. Nilai-nilai itu ia petik berdasarkan tata laku kehidupan sehari-hari di rumah.

“Enggak secara eksplisit Bapak mengatakan, ‘Kamu harus berintegritas atau jujur, ya.’ Bapak mengajarkan dari perilaku,” tambahnya.

Setelah tamat SMA tahun 1987, Yari memutuskan untuk mendaftar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)—sekarang Politeknik Keuangan Negara STAN. Diantar sang ayah, Yari membayar uang pendaftaran ke kantor Kas Negara di Jakarta yang kini bernama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.

Singkat kisah, Yari diterima menjadi mahasiswa D-III Prodi Akuntansi dan lulus tahun 1990. Ia bersyukur atas karunia itu. Sebab selain kuliah gratis, menjadi amtenar di DJP berarti berpeluang mewujudkan cita-cita sang ayah yaitu, menuntut ilmu yang tinggi. Sekali lagi, dari ayahnya, Yari berpedoman bahwa, setidaknya ilmu mampu merawat moral manusia. “Saya bukan contoh yang baik, tapi saya melakukan yang terbaik,” kata pria berhobi membaca buku dan bermain gitar ini.

Tak lama berselang, Yari meneruskan pendidikan D-IV Prodi Akuntansi di STAN tahun 1993 hingga 1996. Tiga tahun kemudian pria berkacamata ini memperoleh gelar Master of Business Taxation di University of Southern California, Los Angeles.

Pegawai yang menghasilkan penerimaan pajak itu sangat bagus, harus diapresiasi. Pegawai yang menjalankan integritas juga perlu diberikan penghargaan.

Terbuka

Menjadi amtenar di DJP menurut Yari, ibarat menaiki pelbagai wahana. Setiap wahana memiliki tantangan dan kesan tersendiri. Tugas paling berkesan di benaknya adalah ketika menjabat sebagai Kasubdit Humas Perpajakan di Direktorat P2Humas DJP tahun 2007–2008. Di situlah ia belajar ilmu komunikasi untuk menghadapi media.

Yari mencoba merintis pola komunikasi personal dengan pewarta. Ia berusaha mengenal nama panggilan satu per satu wartawan yang bertugas di DJP dengan harapan dapat membangun kerja sama yang baik. Yari intens menggelar acara untuk menyampaikan informasi perpajakan terkini sebulan sekali. Ia ingin membangun paradigma bahwa isu perpajakan menarik untuk diwartakan, baik soal penerimaan, pelayanan, maupun pengawasan perpajakan.

“Saya berusaha ingat nama panggilan teman-teman wartawan. Saling terbuka informasi. Enggak ada perlakukan berbeda antarmedia. Semua sama. Enggak ada media A dapat informasi pertama, media B belum punya (informasi). Saya rasa metode itu cukup berhasil. Sekarang, Subdit Humas Perpajakan yang dipimpin Kak Ani, sudah jauh lebih bagus,” kata Doctor of Public Administration dari University of Canberra, Australia ini.

Tugas paling membekas lainnya adalah ketika Yari menjadi Kepala KPP Pratama Cileungsi. Di sana, ia menghadapi tantangan penerimaan pajak yang tidak pernah tercapai selama ia menjabat, tahun 2015–2019. Padahal menurutnya penggalian potensi perpajakan telah sesuai dengan perencanaan. “Bagi saya berkesan karena segala upaya sudah kita lakukan dengan maksimal,” kata Yari.

Meskipun penerimaan pajak tidak sesuai target, sebagai seorang pemimpin, Yari harus tetap merawat semangat pegawainya. Untuk itu, ia gencar memberi apresiasi penghargaan simbolis kepada para pegawainya yang bekerja penuh integritas setiap sebulan sekali.

“Pegawai yang mampu menghasilkan penerimaan pajak itu sangat bagus, harus diapresiasi. Pegawai yang menjalankan integritas juga perlu diberikan penghargaan. Contoh, ada pegawai yang punya masalah berat di rumah tapi tidak pernah telat datang atau izin, tugas dilakukan dengan benar, mau membantu pegawai lain,” kata Yari.

Meski realisasi penerimaan pajak tidak sesuai target, KPP Pratama Cileungsi meraih juara kedua KPP Percontohan Tahun 2016, meraih Penghargaan atas Terlampaunya IKU Penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing tahun 2017 sebesar 128,74 persen, serta memperoleh Penghargaan atas Kinerja Pertumbuhan Penerimaan Pajak tahun 2018 di atas Target Penerimaan Pertumbuhan Nasional dari Kementerian Keuangan.

Pelayanan terpadu

Sekitar tiga bulan lalu, Yari mengemban amanah baru. Menjadi Kasubdit Pelayanan Perpajakan Direktorat P2Humas DJP menurutnya merupakan tantangan tersendiri karena wilayah kerjanya sangat vital. Mulai dari membuat standar pelayanan terpadu untuk KPP se-Indonesia, pengawasan, dan evaluasi kebijakan.

Ada empat seksi dalam Subdit Pelayanan Perpajakan P2Humas DJP. Seksi Dukungan Pelayanan dan Konsultasi, Peningkatan Mutu, Pengaduan Pelayanan, dan Pemuktahiran Tax Knowledge Base (TKB).

“Secara garis besar kami kami memberikan alat bantu kepada AR (Account Representative) pelayanan agar pelayanan yang diberikan di TPT (Tempat Pelayanan Terpadu) seragam sehingga Wajib Pajak (WP) menjadi nyaman,” jelas Yari.

TPT merupakan salah satu loket yang wajib ada di setiap KPP yang diatur melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 02 tahun 2017. Di dalamnya lengkap menyoal jam pelayanan, fasilitas, syarat petugas, hingga pengawasan. Kendati demikian, Subdit memberikan keleluasaan KPP untuk mengembangkan pelbagai inovasi. Mulai dari dekorasi kantor, furnitur, hingga inovasi aplikasi untuk memudahkan WP menunaikan kewajiban perpajakannya. Kini, sudah banyak KPP yang sudah mengembangkan digitalisasi arsip, aplikasi pemantau permohonan, hingga pelayanan konsultasi pajak menggunakan WhatsApp. Tugas Yari ke depan, menyeleksi inovasi KPP untuk diadopsi menjadi kebijakan sentral.

Roadmap pelayanan perpajakan akan berfokus pada program Click, Call, Counter (3C). Click maksudnya pelayanan melalui website, Call berarti melalui telepon yang difasilitasi oleh Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan (KLIP), Counter artinya pelayanan di KPP.

“Kami akan mengarahkan dan memperbanyak pelayanan perpajakan secara on-line. Bahkan tiga sampai lima tahun ke depan, WP yang ke KPP harus menggunakan appointment. Ini masih dalam kajian. Sekarang bikin NPWP, lapor SPT, kode billing, konsultasi juga sudah on-line, kan?” ungkap Yari.-Aprilia Hariani

Continue Reading

Breaking News

Dari Penjual Minyak Wangi ke Bupati Banyuwangi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Saat kecil, Anas menjajakan baju dan minyak wangi. Kelak, ia jadi Bupati Banyuwangi yang mengharumkan nama Banyuwangi.

Nama Abdullah Azwar Anas semakin harum. Bukan karena dahulu ia penjaja minyak wangi, melainkan karena pelbagai prestasi yang diraih Kabupaten Banyuwangi. Dalam dua periode kepemimpinannya, Anas membuat tanah Blambangan ini lekat dengan beragam julukan. Ada yang menyebut Banyuwangi Kota Bahari, Kota Pariwisata, Kota Kopi, Kota Festival, Kota Inovasi, Kota Gandrung, Kota Osing, The Sunrise of Java, Africa van Java, dan masih banyak lagi.

Berbagai penghargaan diraih, baik tingkat nasional maupun internasional. Di awal 2019 misalnya, Banyuwangi menyabet penghargaan tertinggi bidang pariwisata tingkat Asia Tenggara “ASEAN Tourism Standard Award”. Menggenapi capaian itu, Anas membangun infrastruktur untuk menggaet investor, mulai dari bandar udara, jalan, hingga penerapan manajemen birokrasi berbasis digital.

Kemahiran Anas mempromosikan daerahnya barangkali terbentuk sejak masa kecilnya. Sejak Anas duduk di bangku kelas satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tegal Sari tahun 1980, ia sudah belajar menawarkan baju dan minyak wangi. Ayahnya Muhammad Musayyidi, adalah seorang guru di sebuah lembaga pendidikan di Banyuwangi. Sementara ibundanya, Siti Aisyah, merupakan ibu rumah tangga. Kedua orangtuanya harus menghidupi 10 orang anak—Anas anak pertama.

Saya diajari orangtua keliling bawa dagangan di kampung. Ada baju dan minyak wangi—sebenarnya enggak disuruh tapi saya tertarik. Jadi, saya diajari berani menawarkan sesuatu kepada orang lain

“Saya diajari orangtua keliling bawa dagangan di kampung. Ada baju dan minyak wangi—sebenarnya enggak disuruh tapi saya tertarik. Jadi, saya diajari berani menawarkan sesuatu kepada orang lain,” kenang pria kelahiran Banyuwangi, 6 Agustus 1973 ini, di rumah dinasnya, Kamis malam (15/8).

Kepiawaian Anas membangun komunikasi semakin teruji saat ia menjabat sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMP Negeri 1 Banyuwangi tahun 1987. Di organisasi itu, Anas melatih diri untuk berani melahirkan gagasan sekaligus berdiplomasi.

Anas muda semakin jatuh hati pada dunia organisasi. Di SMA Negeri 1 Jember, ia kembali terpilih menjadi ketua OSIS. Di masa ini, Anas mulai belajar menjadi orator.

“Saya banyak soft skills-nya, hard skills saya kurang bagus. Misalnya, pelajaran akademik saya tidak sebagus angkatan saya. Maka, waktu itu saya lebih banyak belajar organisasi, belajar memimpin, berpidato, menyampaikan pesan,” kata Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) tahun 2000 sampai 2003 ini.

Candu

Tamat SMA tahun 1992, ia meneruskan pendidikan di Universitas Indonesia (UI) Prodi Sastra. Anas bersyukur kedua orangtuanya memberikan kebebasan untuk menimba ilmu sesuai dengan pilihan hatinya. Tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan itu, Anas belajar dengan giat semasa kuliah.

Untuk meringankan beban orangtua, ia menyambi menjadi reporter di Radio Prosalina FM. Di kampus, kegigihannya membuahkan hasil: ia menjadi salah satu mahasiswa teladan tahun 1995. Kelak, predikat ini mengantarnya menjadi anggota MPR utusan mahasiswa tahun 1997. Saat itu, usianya baru 24 tahun.

Setelah masa bakti sebagai anggota MPR selesai, suami Ipuk Fiestiandani ini melabuhkan pilihan politiknya ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk bertarung dalam pemilu DPR periode 2004–2009. Lagi, Anas terpilih dengan daerah pilihan Jatim III yang meliputi Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Di masa pengabdiannya, Anas berperan dalam perumusan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilihan Presiden (Pilpres), tata ruang, Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dan lain-lain.

“Ternyata politik makin lama makin menjadi candu. Waktu saya jadi anggota DPR, saya diminta pulang ke daerah. Setelah surveinya oke, saya lihat ini (Banyuwangi) kampung halaman, ya, saya pulang,” ungkap Anas.

Garis takdir kembali membawanya menjadi pemimpin. Tahun 2010, ia terpilih menjadi Bupati Banyuwangi berpasangan dengan Yusuf Widyatmoko. Di kepemimpinan jilid satu itu, Anas dan wakilnya berhasil membuka Bandara Blimbingsari, menciptakan program sekolah gratis, dan puluhan festival budaya bertaraf dunia seperti Banyuwangi Ethno Carnaval, Banyuwangi Jazz Festival, dan Tour de Ijen.

Pengabdian Anas untuk Banyuwangi berlanjut hingga ke kepemimpinan jilid dua, yang akan berakhir tahun depan, 2020.

“Hidup saya, sih, mengalir, ya. Saya mungkin akan mengajar (setelah jabatan selesai). Mengalirlah. Enggak ada target-target,” kata Anas.-Aprilia

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 hari ago

Perlu “Grand Design” agar Berkelanjutan

Kemendikbud telah menyusun peta jalan kurikulum dan buku panduan guru program Inklusi Kesadaran Pajak. DJP diharapkan memiliki rancangan besar program...

Breaking News4 minggu ago

Merawat Amanah dan Keteladanan sang Ayah

Jabatan tak harus membuat jemawa. Itulah pelajaran berharga yang dipetik Yari dari kesederhanaan ayahandanya. Sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kenangan...

Breaking News1 bulan ago

Dari Penjual Minyak Wangi ke Bupati Banyuwangi

Saat kecil, Anas menjajakan baju dan minyak wangi. Kelak, ia jadi Bupati Banyuwangi yang mengharumkan nama Banyuwangi. Nama Abdullah Azwar...

Breaking News2 bulan ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News2 bulan ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News3 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News4 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News4 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News4 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News6 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Trending