Connect with us

Tax Light

“Ahu!”

Aan Almaidah

Published

on

Generasi muda adalah calon pemimpin Indonesia di masa mendatang yang harus memiliki kebanggaan. Pada mereka perlu ditanamkan nilai dan fokus atas pemahaman kesadaran membayar pajak.

 

Tokoh kungfu legendaris, Bruce Lee, pernah menyampaikan bahwa kekuatan fokus terletak pada bagaimana air mengalir. Kutipannya yang terkenal adalah “Be water, my friend”. “Jadilah seperti air, temanku”. Biasanya orang tua menanamkan prinsip, mengalirlah seperti air. Lantas kita tersugesti oleh prinsip itu dengan menerapkannya melalui pemikiran, saya lakoni, what ever will be will be. Persis seperti air.

Namun, Bruce Lee tidak seperti itu dalam berkungfu. Strategi awal, katanya, empty your mind. Kosongkan pikiranmu, yang kemudian membuat semesta menjadi hening dan kita menjadi fokus. Fokus tercipta dan menjadi strategi kedua sang air, yang mengalir secara fokus untuk mengisi ruang yang bisa diisi. Kemudian strategi ketiganya adalah shapeless. Tanpa bentuk. Air, seperti yang kita ketahui, bisa masuk di wadah, bejana, atau media dengan bentuk apa pun. Karena itu, air mewujud tanpa bentuk.

Prinsip itu bisa diterapkan saat kita ingin mencapai cita-cita. Prosesnya tentu saja tidak mudah. Ada perubahan yang harus dihadapi. Kalau kita bertanya pada siswa dasar dan menengah, apakah cita-citamu? Jawabannya bisa satu, bisa banyak. Jadi dokter. Insinyur. Youtuber. Ahli desain grafis. Presiden. Namun, banyak pengalaman saat kegiatan Pajak Bertutur dilakukan di seluruh Indonesia tanggal 9 November lalu yang mengusung Hari Pahlawan, pertanyaan yang sama dijawab dengan gelengan. Mau jadi orang pajak enggak? Mereka menggeleng. Alasannya, susah! Di saat peran pembayaran pajak oleh warga negara yang sangat mendukung pembangunan, 80 persen dari APBN, dijelaskan secara lugas dan tuntas, ada kekhawatiran di hati ini…. Kalau generasi muda tidak terbiasa memahami peran pajak, nanti tidak ada yang bercita-cita menjadi Dirjen Pajak. Padahal, cita-cita mengawal keuangan negara itu luar biasa.

Maka, edukasi menjadi pilar penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Edukasi sekarang merambah di setiap kurikulum pendidikan, baik tentang bahaya narkoba, rajin menabung, membangun karakter yang berkata tidak pada korupsi, dan juga karakter yang mendukung bahwa pajak itu penting, untuk kita. Direktorat Jenderal Pajak mengadakan Pekan Inklusi 2018 pada tanggal 3–9 November 2018 untuk pertama kalinya, melibatkan siswa dasar, menengah, mahasiswa sampai kementerian negara dan lembaga, untuk bersama-sama mendukung generasi muda cerdas dan sadar pajak. Dengan meningkatkan kesadaran, maka mereka lebih fokus dengan rasa bela tanah air dan cinta bangsa dengan membayar pajak. Caranya hanyalah dengan membuat mereka bangga menjadi generasi muda Indonesia. Bangga bayar pajak. Kalau bisa, bercita-cita dan bangga jadi orang pajak.

Konon, seseorang yang bangga pada institusinya, akan menjadi public relation yang efektif.

Memang penting menciptakan kebanggaan. Pekerjaan rumah terbesarnya adalah bagaimana mengubah perilaku untuk menjadi bangga.Untuk itu, setiap instansi baik swasta dan negeri memandang perlu melakukan perubahan melalui pelaksanaan psikologi birokrasi. Contohnya, Kota Banyuwangi melakukan perubahan kebersihan melalui lomba toilet tebersih. Melalui kegiatan seni budaya, olahraga, dan musik, maka tercipta kedekatan lintas generasi untuk bersama-sama mewujudkan kemajuan kotanya. Bagaimana pun, budaya itu lintas agama. Sang bupatilah yang menceritakan prinsip strategis kepemimpinannya dalam suatu pertemuan yang membahas tentang membangun kapasitas perubahan.

Hal lain, bagaimana Kota Surabaya yang dulu dikenal sebagai kota panas terik kemudian menjelma menjadi seperti Jepang dengan taman tersebar di tepi jalan, pohon bunga yang cantik, berkat tangan dingin pemimpinnya. Tidak ada yang tidak mungkin untuk perubahan, dan kita perlu perilaku yang militan. Perilaku militan berbanding lurus dengan rasa bangga terhadap cita-cita atau pekerjaan yang dimiliki, dalam rangka meraih kemenangan atas suatu tujuan.

Ahu! Ahu! Ahu!

Demikian pekikan pasukan Spartan saat peperangan dalam film 300. Kurang lebih pekikan itu mengisyaratkan kemenangan. Orang lain boleh bangga pada profesinya, tetapi kita harus bangga pada amanah yang kita dapatkan dengan memandang itu sebagai pekerjaan yang sangat mulia. Nilai-nilai apakah yang dibutuhkan untuk membangun kompetensi?

Disiplin dan keberanian.

Apakah sekarang dalam keluarga kita sudah tertanam disiplin sejak dini? Apakah di sekolah, guru-guru telah mengajarkan disiplin dengan memperlihatkan kedisiplinannya sebagai sang role model? Misalnya, tidak hanya memberikan PR, tetapi juga mendampingi anak didik dalam mempersiapkan ujian nasional? Apakah dalam lingkungan kerja, bos kita sudah memberi teladan kedisiplinannya, minimal dalam mematuhi jam kerja, atau bekerja di atas ekspektasi? Apakah Anda sebagai Wajib Pajak sudah disiplin membayar pajak dan melapor tepat waktu, atau di awal bulan? Apakah Anda sebagai penunggak pajak tetap berkomitmen melunasi tunggakan pajak Anda?

Disiplin dan keberanian perlu ditunjang oleh adanya visi dan misi setiap individu. Kita perlu mengajarkan generasi muda untuk menciptakan visi dan misi hidupnya. Bukan hanya organisasi yang perlu visi dan misi, tetapi setiap diri kita. Kalau tidak, apa tujuan kita hidup, apa tujuan kita bekerja, akan mengalir seperti air yang ada dalam pikiran kita, bukannya air dalam pikiran Bruce Lee. Empty your mind. Be focus. Shapeless.

Generasi milenial, generasi Z, generasi Alpha, apa pun labelnya, adalah cerminan generasi muda kita. Sebentar lagi merekalah yang akan mengemudikan Indonesia. Pada mereka perlu diajarkan nilai. Nilai dan pemahaman untuk kesadaran membayar pajak, salah satunya. Mereka perlu diajari bagaimana cara mencintai bangsa seperti kebanggaan pasukan Spartan dalam pertempuran Thermopylae yang ketika ditanya rajanya: “Spartans… what’s your profession?”

Menggelegar, mereka menjawab: “Ahu! Ahu! Ahu!”

Ada kebanggaan di sana untuk menang.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Tax Light

“Fiesta”

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

“Fiesta” akan selalu ada karena manusia cenderung tak bisa lepas dari keramaian. Meskipun juga butuh keheningan—sebenarnya keduanya bisa diciptakan bersamaan, jika mau.

Sebuah perhatian adalah hal yang langka zaman ini. Sampai ada sebutan generasi kolonial dan generasi milenial—dibedakan dari cara memberi perhatian. Generasi kolonial memberi perhatian sambil menatap lawan bicara; generasi milenial memberi perhatian bisa seraya menunduk, alias dia bicara tapi mata ke gawainya. Perhatian itu juga terdiri dari banyak unsur seperti, niatnya apakah? Apakah tutur katanya ramah? Apakah saking perhatiannya, sampai dia bersedia berkorban? Apakah dia mempunyai kepekaan yang tinggi dalam memberi perhatian?

Perhatian yang diberikan berlandaskan kepekaan, konon karena yang memberi perhatian memiliki kemampuan mendeteksi bahasa tubuh seseorang. Dan itu kami jumpai di suatu sudut jalan dari arah Bukchon Village, saat seorang gyeongchal mendekati. Polisi muda itu menanyakan kami akan ke mana dan dia menunjukkan jalan terdekat. Satu, dia memahami ekspresi orang yang kebingungan. Dua, dia menyapa dengan tutur kata yang ramah. Tiga—dan ini yang paling penting, dia peka dalam mengarahkan. Disampaikannya bahwa “Kalau mau ke Insadong maka arahnya berputar ke sini, lantas, nah… ini gerbangnya,” ucapnya sambil mencoret-coret peta dengan stabilo pink. Dalam perjalanan ke tujuan, kami baru sadar, bahwa kami dialihkannya untuk melewati sebuah keramaian. Sebuah Fiesta, aha! Banyak stand menjual kerajinan tangan di sekitar jalan yang kami lalui, sebelum sampai di tujuan sebenarnya.

Fiesta adalah sebuah kata dari Spanyol, yang bermakna pesta, keramaian, atau perayaan. Bahasa Latin menyebutnya dies. Ingat dies natalis, ‘kan? Kelulusan dari perguruan tinggi akan membuat kita mengalami perayaan yang disebut wisuda. Para wisudawan bertoga memasuki ruangan luas dan tentunya ada nyanyian Gaudeamus Igitur. Saat ini, sakralnya wisuda tidak hanya dirasakan oleh lulusan Perguruan Tinggi, juga dialami siswa SMA, SMA bahkan SD dan TK. Semua ingin merasakan wisuda. Semua bertoga. Terasa keren. Kalau dulu, kita merasakan wisuda sekali, maka anak-anak zaman now merasakan diwisuda berkali-kali. Mereka pun akrab dengan fiesta. Fiesta, dengan melempar topi wisuda beramai-ramai ke udara dan terekam kamera. Fiesta, identik dengan keindahan juga.

Sebagai makhluk sosial, kita cenderung tidak bisa lepas dari keramaian. Apalagi bila kita terlahir di sebuah tempat yang ramai, sangat sibuk, seperti kota metropolitan Jakarta. Maka keramaian akan mendarah daging di tubuh kita karena kemacetan, keriaan, kegaduhan, sudah kita nikmati sejak kanak-kanak. Belum tentu semua orang suka dengan keramaian, sehingga terbentuklah hobi bertualang di alam seperti kamping, memancing, mendaki gunung, yang membutuhkan alam sebagai pelampiasan.

“Keramaian bisa membuat orang berpaling untuk menyepi. Dan ini menjadi potret bagi rencana suatu kepindahan besar ibu kota negara.”

Keramaian, bisa membuat orang berpaling untuk menyepi. Dan ini menjadi potret bagi rencana suatu kepindahan besar ibu kota negara. Pengalaman belajar singkat alias short course di Seoul kemudian menjadi pengalaman baru, saat dibawa kunjungan belajar ke Sejong. Sejong, adalah ibu kota Korea Selatan kedua setelah Seoul, direncanakan sejak 2002 dan kepindahannya baru mulai dilaksanakan tahun 2012. Sejong sekitar 120 kilometer dari Seoul, dan termasuk kota sepi. Pegawai negeri yang kantornya di Seoul mengalami mutasi ke Sejong. Salah satu kenalan kami, sebut saja namanya Mr Kim, menyatakan ada hal penting dalam pemindahan itu karena berdampak pada keluarga. Pertama, pendidikan. Apakah sistem pendidikan telah dibangun dengan baik di ibu kota baru? Kedua, kesehatan. Apakah mudah mencari dokter dan rumah sakit bila kita sakit? Saat ini di Indonesia saja, masyarakat mungkin lebih percaya berobat ke Penang atau Singapura, daripada berobat di dalam negeri. Imbuhnya lagi, kantor-kantor perusahaan banyak yang memiliki gedung di ibu kota lama, dan juga di ibu kota baru. Jadi ibu kota lama tidak takut menjadi sepi, karena popularitasnya bisa saja tetap terjaga. Ibu kota baru pastinya akan ngetop karena perbisnisan mulai melirik pembangunan kantor, perindustrian, dan semua kegiatan yang bisa dilaksanakan di sana.

Negara tetangga yang lain, Australia, memindahkan ibu kotanya beberapa kali. Namun mantan ibu kota tetap menjadi tujuan wisata dan tetap menarik untuk menjadi tempat tinggal, yaitu Melbourne dan Sydney. Bahkan Canberra sebagai ibu kota baru, tidak memiliki daya tarik atau popularitas sekuat Melbourne dan Sydney. Memang memerlukan perencanaan desain dan konsep dari awal dalam penentuan pemindahan ibukota.

Kenapa sih harus pindah? Jawabannya sederhana saja. Fiesta. Keramaian. Alasan pemindahan biasanya karena tingkat kemacetan sudah sangat tinggi atau terlalu padat. Itu juga alasan kenapa Seoul dipindah ke Sejong, untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan investasi di wilayah itu.

Pertanyaannya, adakah yang merasa keberatan? Saat kita ditahbiskan menjadi Aparatur Sipil Negara, maka sudah sepaket dengan komitmen bersedia ditempatkan di mana saja. Dalam hal ini, keputusan tersulit adalah, apakah membawa keluarga serta? Kembali kepada faktor di atas, faktor pendidikan memegang peranan penting. Banyak yang lebih mempertahankan berpisah dengan keluarga dengan alasan, pendidikan di tempat lama sangat baik bagi pertumbuhan karakter anak-anak mereka. Tentu saja karena anak sudah memiliki lingkungan sosial yang berbeda dan sulit dipisahkan dari teman-teman gaulnya. Alasan lain adalah anaknya sudah di kelas atau tingkat terakhir tahapan SD, SMP, SMA atau universitas. Lebih baik berkorban satu tahun untuk bisa diterima di sekolah favorit jenjang lanjutan, daripada mengikuti tugas orangtua dan berkorban kegalauan atas lingkungan pergaulan dan pendidikan baru.

Saat memutuskan untuk berpindah dari keramaian, maka perencanaan adalah hal penting yang perlu dipikirkan. Perencanaan terkait waktu, kebersinambungan rencana, dan anggaran. Ada ratusan triliun yang dibutuhkan untuk pemindahan ibu kota. Di Brasil, konon pemindahan ibu kota mencapai nominal miliaran dollar Amerika. Mau tidak mau, kita perlu berhitung dana APBN kita, dan ujungnya, butuh pemahaman yang cerdas bahwa atas pajak yang kita bayar, berperan penting dalam menyokong anggaran dari perencanaan besar tersebut. Perlu ada rasa patriotisme perusahaan besar dan masyarakat dalam melakukan pemenuhan kewajiban pembayaran pajak. Kejujuran dan transparansi dalam membayar pajak, dapat mewujudkan pembangunan yang diharapkan. Perlu juga mungkin mencontoh penghargaan di Korea yang setiap tahun memberikan apresiasi kepada Wajib Pajak sebagai masyarakat yang bernilai dan berpikiran baik, dilihat dari kejujuran dan keberdayagunaannya di masyarakat. Apa itu keberdayagunaan? Perilaku mereka sebagai pembayar pajak juga disorot, apakah kegiatan mereka berdampak positif terhadap masyarakat. Ada pola perilaku yang dinilai.

Lantas, foto-foto mereka dipajang selama setahun penuh di museum kantor wilayah pajak di daerahnya. Kebanggaan negara terhadap masyarakat secara individu yang memiliki pemikiran nasionalis tinggi mungkin bisa lebih ditingkatkan melalui apresiasi seperti itu. Indonesia memiliki sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kata beradab, sebenarnya mencerminkan menghormati sesama. Hal ini serupa dengan konsep filosofi Tionghoa yang mencerminkan bagaimana sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan dapat saling membangun satu sama lain, yang disebut keseimbangan. Saling menghargai, saling menyeimbangkan. Adanya harmoni saat ada keramaian dan ada kesunyian.

Kembali pada perenungan, fiesta yang datang, akan berakhir. Tidak ada pesta yang tidak akan usai. Tidak ada berita trending yang tidak terlupakan. Semua yang panas akan dingin. Semua yang bergejolak akan tenang, dan sebaliknya. Fiesta yang sebenarnya adalah saat ada kerja sama dalam membangun kesadaran pajak. Misalnya setiap kementerian ikut berpikir untuk mendukung gerakan sadar pajak. Semua kegiatan bisa melibatkan materi pajak, ada edukasi bagi bisnis yang baru mulai atau bahkan, akan bangkrut. Apa ada yang salah dengan proses bisnisnya? Mari kita dukung ramai-ramai untuk meningkatkan omzetnya. Tanpa melupakan ada kewajiban perpajakan saat dia merasakan benefitnya. Itulah fiesta, itulah pesta yang menyeimbangkan, tidak hanya pesta yang dibuat untuk memamerkan siapa saya atau siapa dia.

Maka, ketika seorang teman mengeluh dia sakit dan resep dokter hanya memintanya untuk tidak bicara selama dua hari sebagai obat, jangan heran. Maknanya sederhana: belajarlah menciptakan dunia hening di tengah keramaian. Oeloun aleumdabda (Sepi itu Indah, Korea).- Aan Almaidah A.

Continue Reading

Tax Light

“YES”

Aan Almaidah

Published

on

“Yes” tak cuma menyiratkan kesanggupan. Padanya melekat janji, pertanggungjawaban, dan konsekuensi.

Siapa yang pernah tahu arti akronim YES? Ya, kata itu konon dimiliki oleh perusahaan kirim barang sebagai tagline. Artinya sangat menjanjikan. Yakin Esok Sampai. Luar biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita kenal dengan kata yakin. Namun, untuk membuatnya jadi iklan, harus berpikir dua tiga kali. Kenapa begitu?

Kita tahu, kita memiliki keyakinan. Sayangnya kita tidak yakin dengan apa yang kita yakini. Contohnya, bicara tentang keyakinan, pernahkah kita membuat target dalam perjalanan kehidupan, yang kita yakini akan dapat kita raih? Saat ini banyak permainan pikiran yang diajarkan di kelas-kelas pembelajaran komunikasi, atau motivasi, yang meminta peserta untuk membuat target dan memikirkan upaya untuk mencapainya.

Adalah suatu rumus yang melemparkan jawaban atas tantangan target itu ke semesta. M1 = M2 = M1. Terjemahannya, Menerima = Melepas = Menerima. Penjabarannya sederhana. Saat ini, tanpa disadari, manusia hidup dengan menerima banyak hal dari Sang Pencipta. Apa yang dia terima bisa dimaknai ujian, atau anugerah. Itu disebut M1. Menerima yang pertama. Kemudian, kita berharap sesuai yang kita terima. Apabila kita memperoleh ujian, maka kita berharap sesudahnya akan mendapatkan anugerah. Apabila kita memperoleh anugerah, maka kita berharap sesudahnya akan mendapatkan anugerah lebih tinggi lagi. Tidak ada manusia yang setelah mendapatkan anugerah, dia berharap memperoleh ujian. Itu wajar.

“Dalam diri generasi muda kita inilah diharapkan terbentuk karakter yang sadar pajak, sadar literasi, dan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045.”

Lantas tanpa disadari kita menyusun target. Bisa dituliskan di atas kertas, bisa hanya ditanam di pikiran atau di batin. Langkah berikutnya, kita menyusun upaya atau strategi dalam pencapaian target. Setelah semua upaya berjalan, kita menempuh M yang kedua. Melepas. Kenapa dilepas? Karena kita berusaha membentuk diri kita menjadi manusia gak pamrih. Kita sudah berusaha, hasilnya kita lepas saja. I will do the best, God will do the rest. Maka apa pun upaya yang telah kita kerjakan atau perjuangkan, akan diolah di pabrik universal semesta.

Kemudian terjadilah M yang ketiga. Menerima. Apabila saat menyusun target kita dikawal oleh keyakinan yang kuat, maka kita akan menerima hal yang luar biasa. Syaratnya satu, tidak kecewa menerima apa pun yang terjadi.

Mereka yang menjalani upaya dengan sekuat tenaga, berpikir, bertindak dan memiliki niatan baik dalam mencapai target dirinya, maka akan menerima yang terbaik. Man jadda wa jadda, mereka yang berusaha akan memetik hasilnya. Itu bisa dikategorikan nikmat yang luar biasa. Apalagi bila dia melangkah tanpa pamrih. Orang bilang, ikhlas saja apa pun hasilnya. Nah, inilah sulitnya, bila M yang ketiga itu menurut kita masih kurang dari yang diharapkan, maka berarti ada yang perlu dikoreksi. Mungkin pada tahapan M kedua kita belum optimal melepasnya. Mungkin kita masih belum yakin, bahwa kita bisa. Atau malah terlalu yakin, bahwa kita bisa?

Semua target, upaya dan hasil, akan kembali pada keyakinan kita. Orang yang yakin, saat menerima hal yang tidak diharapkan pun, tetap yakin bahwa itulah yang terbaik kadarnya buat dia di saat itu.

Sekarang, apa hubungannya dengan kata “Yes”?

Hidup, dimulai dengan kata “Ya”. Sepasang anak manusia mengikat janji dengan kata ya. “Ya, saya bersedia,” atau “Saya terima nikahnya…” Karyawan walau tidak mengucapkan, membenarkan kata “Ya,” di hati, dengan lanjutannya, “saya bersumpah…” Satu kata ya, mengandung janji dan kebulatan tekad. Saat menerima tantangan dan menjawab “Oke” atau “Ya”, maka apa pun kesulitannya, kita harus berusaha meraih tujuan. Demi mewujudkan jawaban dari tantangan itu. Peluang yang diniatkan dengan kata ya, bisa menangguk keuntungan. Seorang usahawan muda yang melihat ada peluang dari bisnis on-line-nya, saat ada ide memulai bisnis akan menjentikkan jari dan berujar “Ya, saya melihat potensi bisnisnya di sini dan di sana”. Lantas dia bersusah payah mengejar omzet yang ditargetkan. Seorang Wajib Pajak baru yang menerima Nomor Pokok Wajib Pajak mengangguk setuju saat disampaikan akan ada tanggung jawab pemenuhan kewajiban perpajakan setelah memiliki NPWP. Dia menjawab “Ya,”—akan memenuhi kewajiban perpajakannya. Padahal dia hanya ingin memperoleh NPWP untuk memuluskan jalannya memperoleh pinjaman dari bank, misalnya. Pernikahan, memulai bisnis, atau menjadi wajib pajak baru, dimulai dengan kata Ya, suatu kesanggupan memenuhi janji.

“Apabila saat menyusun target kita dikawal oleh keyakinan yang kuat, maka kita akan menerima hal yang luar biasa.”

Bagaimana dengan orang di luar sana yang masih belum sadar dan tertib pajak? Mereka juga punya kata Yes, tapi untuk tidak peduli. Mereka merasa bukan kewajibannya melaporkan kewajiban perpajakan, apalagi sampai membayar pajak. Apabila di suatu saat mereka harus berurusan dengan petugas pajak, dan menyadari kalau selama ini ada khilaf dan alpa dalam memenuhi kewajiban perpajakan, maka mereka akan menuntut untuk mendapatkan fasilitas pembebasan. Mereka merasa rugi untuk membayar pajak, saat menghitung nominal setoran pajak yang harus dikeluarkan. Mulailah terjadi upaya penghindaran pajak. Kalau sudah begini, apakah sosialisasi yang harus disalahkan?

Orang-orang yang cerdas, umumnya paham bahwa sebagai warga negara ada kewajiban bela negara yang bukan hanya angkat senjata, tetapi juga bayar pajak. Dalam Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara tahun 2018–2019, atas ancaman faktual berupa kebocoran dan ketidakefektivan Pendapatan dan Belanja Negara, salah satu aksi yang ditentukan adalah Sosialisasi Gerakan Sadar dan Taat Pajak. Selainnya, ada aksi berupa sosialisasi gerakan anti korupsi, kolusi dan nepotisme, dan peningkatan transparansi keuangan negara. Indikator keberhasilannya adalah terbangunnya pemahaman masyarakat bahwa pajak adalah tulang punggung pembangunan negara guna mewujudkan kemandirian ekonomi nasional. Apabila aksi rencana bela negara ini berhasil diterapkan melalui sinergi pihak terkait, maka mereka yang ingin membangun bangsa ini pasti tidak punya jawaban lain kecuali Yes. Yes, untuk memperoleh NPWP, dan Yes, untuk bayar pajak. Yes, untuk berbagi bahwa pencapaian target penerimaan pajak merupakan tanggung jawab bersama.

Genmil, adalah harapan di mana kesadaran berawal. Setiap program di kementerian atau lembaga sekarang menyasar Genmil, akronim Generasi Millenial. Dalam diri generasi muda kita inilah diharapkan terbentuk karakter yang sadar pajak, sadar literasi, dan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045, saat Indonesia tepat berusia 100 tahun. Banyak kegiatan yang dilaksanakan melibatkan peran generasi muda, seperti peluncuran seri literasi keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan dalam acara Aksi Mudanya akhir Juli lalu. Buku terakhir dalam serial literasi keuangan adalah tentang pajak. Ini semua ada tujuan. Bahwa setiap permulaan usaha, yang diawali pinjaman keuangan, saat berproses dalam meraup keuntungan, akan berakhir dengan kesadaran dan ketertiban atas kewajiban perpajakannya. Program ini selaras dengan program inklusi pajak dalam pendidikan. Setiap anak muda yang memiliki karya dan punya rasa memiliki atas pajak, diharapkan mampu mengawal pembangunan di Indonesia.

Kunci sebenarnya adalah bagaimana menanamkan pada pikiran mereka, bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk itu semua. Mungkin ada baiknya kita mencerna Teori Socrates, tentang “Yes-Set”. Teori ini bisa dipakai dalam dialog mencari pelanggan, atau menarik perhatian dengan menyamakan frekuensi. Caranya sederhana saja. Lemparkan tiga pertanyaan, dan usahakan semua mengandung jawaban dengan kata Ya. Contohnya, saat udara di luar hujan, kita bertemu seorang teman yang belum lama kita kenal. Bagaimana cara supaya dia bisa menerima ide-ide atau tertarik pada bisnis yang kita tawarkan. Pertanyaan pertama yang bisa kita tanyakan adalah tentang hujan. Apakah hujan lebat? Padahal kita tahu, di luar hujan deras. Maka tentu dia setuju, dan menjawab Ya. Itu Ya yang pertama. Selanjutnya kita bertanya, apakah saat dia ke kantor kita bajunya terkena hujan dan basah? Padahal kita lihat bajunya agak basah. Tentu saja, dia menjawab Ya, karena bajunya memang basah. Pertanyaan ketiga, apakah dengan baju basah memasuki ruangan ber-AC, dia kedinginan? Ini pertanyaan logis yang memerlukan jawaban Ya.

Dialog selanjutnya, dia akan menjadi teman Anda yang merasa berada dalam satu frekuensi, karena tiga jawaban Ya sebelumnya, setidaknya menambah kepercayaan dia terhadap Anda. Teori Sokrates ini bisa dipakai dalam mencari klik, atau umpan kedekatan, oleh siapa saja. Intinya, dalam hidup, kata Ya dapat memimpin kita menuju kesuksesan. Apabila Anda seorang atasan, mana yang akan Anda pilih bila Anda memberikan tugas kepada staf Anda—yang menjawab “Ya, Bapak, siap” atau yang menjawab “Tidak, Bapak, menurut saya itu perlu usaha keras”?

Ini mengingatkan saya pada Richard Branson yang menasihati kita melalui kalimatnya: If somebody offers you an amazing opprtunity but you are not sure you can do it, say YES, then learn how to do it later!

Baiknya, sebelum memangku suatu amanah, kita renungkan, bahwa ada kata Yes di sana. Dan ini berat. Kita harus berusaha mewujudkannya.

Continue Reading

Tax Light

“TEDDY”

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

 

Pernahkah Anda memikirkan, mengapa Radjiman Wediodiningrat kala itu harus menyertakan pajak sebagai unsur penopang negara—yang kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945?

Siapa pahlawan masa kecil Anda? Jika pertanyaan itu ditanyakan kepada anak-anak kita, jawabannya bisa The Avengers, Spider-Man, Iron Man, dan mereka akan mengernyit bingung saat ditanya balik: Bagaimana dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman? Teuku Umar? Sultan Hamid II? Pangeran Diponegoro?

Berkembangnya kecanggihan teknologi dalam pembuatan film mengembangkan karakteristik pahlawan dalam pemikiran generasi muda. Coba tanya, apakah mereka tahu siapa Pattimura? Bisa jadi ada yang ingat, selebihnya lupa. Atau apa singkatan dari nama HR pada pahlawan HR Rasuna Said, dan apakah beliau berjenis kelamin laki-laki atau perempuan? Coba kita tes pertanyaan-pertanyaan itu dan jangan kecewa dengan reaksi spontan anak cucu kita, generasi penerus kita.

Disadari atau tidak, generasi negeri ini sudah melampaui, nyaris melupakan sejarah. Mungkin ada perlunya membuat survei tentang siapa pahlawan yang dibanggakan bangsa Indonesia per generasi, untuk mengetahui kadar kompetensi pengetahuan tentang sejarah. Survei sejenis pernah dilakukan di USA dan jawaban atas pahlawan yang mereka banggakan dikenal dengan panggilan Teddy. Cerita tersebut ada dalam penuturan Lee Kuan Yew dalam buku biografinya yang ditulis oleh Graham Allison dan R.D. Blackwill.

Anda kenal Teddy?

Saat melewati sebuah toko boneka di mal, kita mungkin melihat jajaran boneka beruang mengenakan toga. Kita menyebutnya Teddy Bear. Bahkan dalam sidang penganugerahan gelar doktoral, boneka beruang kecil mengenakan jas dan topi wisuda sudah menjadi maskot suvenir yang dibagikan. Kita semua suka boneka beruang itu. Yang menarik adalah, nama Teddy diambil dari nama Presiden Amerika Serikat ke-26, Theodore Roosevelt. Sementara pembuat pertamanya adalah Moris Michtom di Amerika Serikat dan Richard Steiff di Jerman pada awal abad ke-20. Konon, penamaan Teddy Bear diinspirasi dari penolakannya membunuh beruang saat berburu, karena merasa tidak sportif menembak beruang tua yang tidak berdaya. Beruang target perburuan itu dibebaskan. Namun, apakah itu satu-satunya alasan membuat dia dicintai? Ternyata tidak. Banyak alasan menjadi jawaban. Hal terutama adalah perjuangannya menegakkan perdamaian.

Siapa pahlawan dalam dunia kerja Anda? Ini tes kedua. Namanya bisa saja survei elektabilitas. Apakah Anda pernah melakukannya di unit kerja Anda sendiri? Bisa jadi, saat pertanyaan ini ditanyakan, responden tidak banyak yang menjawab bahwa pahlawan dalam dunia kerja mereka adalah atasan mereka. Sampai sejauh mana Anda, sebagai pemimpin, merasa dicintai oleh staf Anda? Apakah Anda berani membuka diri meminta kejujuran mereka dalam menilai Anda?

Seorang pemimpin besar, tanpa disadari, dalam bekerja memiliki The Golden Circle. Ada tiga lingkaran, yang lapisan terluar berisi pertanyaan What. Lingkaran tengah mengandung pertanyaan How. Dan lingkaran dalam yang sangat kecil adalah pertanyaan Why. Komunikasi yang kerap terjadi, pemimpin melontarkan pertanyaan dimulai dari What. Apa yang akan kita hasilkan sebagai produk? Pelayanan apa yang kita berikan kepada masyarakat? Lantas baru meneliti ke jalur How, atau mekanisme, dan terakhir menjawab mengapa, atau Why.

Menurut Simon Sinek yang menerangkan The Golden Circle, pemimpin besar yang menginspirasi umumnya memiliki pola pikir, tindakan, dan komunikasi yang serupa. Sangat sedikit karyawan paham apa yang sedang terjadi dalam unit kerja atau perusahaan mereka. Untuk itulah, penting diterapkan setiap kepemimpinan untuk memulai kerja dengan menjelaskan tujuan dari suatu kegiatan, manfaatnya, dan mengapa membutuhkan dukungan semua karyawan. Mulailah dengan Why.

Why, juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa alasan Anda bangun setiap pagi? Kenapa setiap orang harus memedulikan orang lain? Kenapa sebagai masyarakat Indonesia kita merasa dikejar untuk bayar pajak, dan sebenarnya, mengapa pajak itu dibutuhkan bagi suatu bangsa dan negara? Mengapa, mengapa, dan mengapa. Satu pertanyaan “Mengapa?”, membuat orang akan berpikir seribu alasan untuk menjawabnya. Tidak percaya? Coba bertanya kepada staf Anda dengan kata mengapa, dan dengarkan bagaimana kalimat tanya terbuka itu akan mengupas habis pengalamannya untuk dia bagi kepada Anda.

Nah, kata mengapa ini yang mungkin saja mendasari seorang Radjiman Wediodiningrat memikirkan alasan mengapa harus menyertakan pajak sebagai unsur penopang negara, yang kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 saat itu. Untuk diketahui sejarahnya, kata Pajak pertama kali disebut oleh Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) ini dalam suatu sidang panitia kecil soal keuangan. Dalam lima usulannya, pada butir keempat, Radjiman menyebut “Pemungutan pajak harus diatur hukum”. Saat ini, beliau dikenal sebagai pahlawan yang pertama kali memikirkan peran pajak, sehingga tanggal tertuangnya pikiran itu di tanggal 14 Juli 1945, ditahbiskan sebagai Hari Pajak.

Setiap manusia membutuhkan alasan atas setiap kegiatannya. Mengapa dari sekian banyak survei yang dilakukan tentang pemahaman pajak, peringkat pertama kebutuhan Wajib Pajak adalah diedukasi secara tatap muka? Karena mereka masih butuh penjelasan secara detail tentang aturan dan penerapannya, sehingga mereka tidak ragu dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Apakah tatap muka itu perlu dilakukan hanya dengan petugas pajak? Tidak juga. Saat ini banyak pihak ketiga yang membantu mengedukasi masyarakat tentang pajak. Contohnya, konsultan, tax center, relawan pajak, ataupun asosiasi dan komunitas seperti Komunitas UMKM Sahabat Pajak. Selama niat baik dari pihak ketiga itu bisa dijabarkan, maka pertanyaan Why, akan terjawab. Masyarakat tercerahkan, dan niat untuk menyelamatkan bangsa akan menjadi tujuan kita semua. Tentunya, dengan meningkatkan rasa patuh memenuhi kewajiban perpajakan di setiap individu.

Memasuki Revolusi Industri 4.0 ini, kompetensi Sumber Daya Manusia perlu ditingkatkan. Setiap aplikasi dan sistem yang berjalan perlu diselaraskan dengan pengalaman pengguna. Namanya, user experience. Bagaimana cara memetakannya? Pergunakan kata tanya Why.

Demikianlah dan tanpa terasa sejarah terus berlangsung sampai saat ini. Masa lalu akan menjadi sejarah di masa depan. Dan sejarah yang dipelajari merupakan tonggak pembanding yang akan meluncurkan keberhasilan. Walaupun Hari Pajak memasuki tahun ke-2 dalam peringatannya, kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus mensyiarkan pemahaman kenapa kita harus membayar pajak? Apa alasan semua aturan diterapkan? Apa yang terjadi andai kita tidak membayar pajak? Dan siapa yang bertanggung jawab atas kelangsungan pembangunan di Indonesia?

Ketika Theodore Roosevelt menggaungkan kalimat terkenal ini, “Do what you can, with what you have, where you are”, maka kita berpikir, adalah sederhana untuk hanya menjadi diri sendiri dan melakukan yang terbaik. Kalau ingin lebih merenungkannya, beli satu Teddy Bear, peluklah dan kembali ke masa kanak-kanak yang penuh dengan kepercayaan kepada setiap orang. Ahay, jadi teringat adegan saat Spider-Man bertempur dengan Quentin Beck. Di akhir napasnya, Beck menyampaikan bahwa setiap orang ingin dipercaya, tetapi zaman sekarang setiap orang percaya pada apa saja. Ini harus direnungkan. Kita, tetap harus berpikir dari mengapa.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 minggu ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News4 minggu ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News1 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News3 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News3 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News3 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News5 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News5 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News6 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News6 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Trending