Connect with us

Tax Light

“Ahu!”

Aan Almaidah

Published

on

Generasi muda adalah calon pemimpin Indonesia di masa mendatang yang harus memiliki kebanggaan. Pada mereka perlu ditanamkan nilai dan fokus atas pemahaman kesadaran membayar pajak.

 

Tokoh kungfu legendaris, Bruce Lee, pernah menyampaikan bahwa kekuatan fokus terletak pada bagaimana air mengalir. Kutipannya yang terkenal adalah “Be water, my friend”. “Jadilah seperti air, temanku”. Biasanya orang tua menanamkan prinsip, mengalirlah seperti air. Lantas kita tersugesti oleh prinsip itu dengan menerapkannya melalui pemikiran, saya lakoni, what ever will be will be. Persis seperti air.

Namun, Bruce Lee tidak seperti itu dalam berkungfu. Strategi awal, katanya, empty your mind. Kosongkan pikiranmu, yang kemudian membuat semesta menjadi hening dan kita menjadi fokus. Fokus tercipta dan menjadi strategi kedua sang air, yang mengalir secara fokus untuk mengisi ruang yang bisa diisi. Kemudian strategi ketiganya adalah shapeless. Tanpa bentuk. Air, seperti yang kita ketahui, bisa masuk di wadah, bejana, atau media dengan bentuk apa pun. Karena itu, air mewujud tanpa bentuk.

Prinsip itu bisa diterapkan saat kita ingin mencapai cita-cita. Prosesnya tentu saja tidak mudah. Ada perubahan yang harus dihadapi. Kalau kita bertanya pada siswa dasar dan menengah, apakah cita-citamu? Jawabannya bisa satu, bisa banyak. Jadi dokter. Insinyur. Youtuber. Ahli desain grafis. Presiden. Namun, banyak pengalaman saat kegiatan Pajak Bertutur dilakukan di seluruh Indonesia tanggal 9 November lalu yang mengusung Hari Pahlawan, pertanyaan yang sama dijawab dengan gelengan. Mau jadi orang pajak enggak? Mereka menggeleng. Alasannya, susah! Di saat peran pembayaran pajak oleh warga negara yang sangat mendukung pembangunan, 80 persen dari APBN, dijelaskan secara lugas dan tuntas, ada kekhawatiran di hati ini…. Kalau generasi muda tidak terbiasa memahami peran pajak, nanti tidak ada yang bercita-cita menjadi Dirjen Pajak. Padahal, cita-cita mengawal keuangan negara itu luar biasa.

Maka, edukasi menjadi pilar penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Edukasi sekarang merambah di setiap kurikulum pendidikan, baik tentang bahaya narkoba, rajin menabung, membangun karakter yang berkata tidak pada korupsi, dan juga karakter yang mendukung bahwa pajak itu penting, untuk kita. Direktorat Jenderal Pajak mengadakan Pekan Inklusi 2018 pada tanggal 3–9 November 2018 untuk pertama kalinya, melibatkan siswa dasar, menengah, mahasiswa sampai kementerian negara dan lembaga, untuk bersama-sama mendukung generasi muda cerdas dan sadar pajak. Dengan meningkatkan kesadaran, maka mereka lebih fokus dengan rasa bela tanah air dan cinta bangsa dengan membayar pajak. Caranya hanyalah dengan membuat mereka bangga menjadi generasi muda Indonesia. Bangga bayar pajak. Kalau bisa, bercita-cita dan bangga jadi orang pajak.

Konon, seseorang yang bangga pada institusinya, akan menjadi public relation yang efektif.

Memang penting menciptakan kebanggaan. Pekerjaan rumah terbesarnya adalah bagaimana mengubah perilaku untuk menjadi bangga.Untuk itu, setiap instansi baik swasta dan negeri memandang perlu melakukan perubahan melalui pelaksanaan psikologi birokrasi. Contohnya, Kota Banyuwangi melakukan perubahan kebersihan melalui lomba toilet tebersih. Melalui kegiatan seni budaya, olahraga, dan musik, maka tercipta kedekatan lintas generasi untuk bersama-sama mewujudkan kemajuan kotanya. Bagaimana pun, budaya itu lintas agama. Sang bupatilah yang menceritakan prinsip strategis kepemimpinannya dalam suatu pertemuan yang membahas tentang membangun kapasitas perubahan.

Hal lain, bagaimana Kota Surabaya yang dulu dikenal sebagai kota panas terik kemudian menjelma menjadi seperti Jepang dengan taman tersebar di tepi jalan, pohon bunga yang cantik, berkat tangan dingin pemimpinnya. Tidak ada yang tidak mungkin untuk perubahan, dan kita perlu perilaku yang militan. Perilaku militan berbanding lurus dengan rasa bangga terhadap cita-cita atau pekerjaan yang dimiliki, dalam rangka meraih kemenangan atas suatu tujuan.

Ahu! Ahu! Ahu!

Demikian pekikan pasukan Spartan saat peperangan dalam film 300. Kurang lebih pekikan itu mengisyaratkan kemenangan. Orang lain boleh bangga pada profesinya, tetapi kita harus bangga pada amanah yang kita dapatkan dengan memandang itu sebagai pekerjaan yang sangat mulia. Nilai-nilai apakah yang dibutuhkan untuk membangun kompetensi?

Disiplin dan keberanian.

Apakah sekarang dalam keluarga kita sudah tertanam disiplin sejak dini? Apakah di sekolah, guru-guru telah mengajarkan disiplin dengan memperlihatkan kedisiplinannya sebagai sang role model? Misalnya, tidak hanya memberikan PR, tetapi juga mendampingi anak didik dalam mempersiapkan ujian nasional? Apakah dalam lingkungan kerja, bos kita sudah memberi teladan kedisiplinannya, minimal dalam mematuhi jam kerja, atau bekerja di atas ekspektasi? Apakah Anda sebagai Wajib Pajak sudah disiplin membayar pajak dan melapor tepat waktu, atau di awal bulan? Apakah Anda sebagai penunggak pajak tetap berkomitmen melunasi tunggakan pajak Anda?

Disiplin dan keberanian perlu ditunjang oleh adanya visi dan misi setiap individu. Kita perlu mengajarkan generasi muda untuk menciptakan visi dan misi hidupnya. Bukan hanya organisasi yang perlu visi dan misi, tetapi setiap diri kita. Kalau tidak, apa tujuan kita hidup, apa tujuan kita bekerja, akan mengalir seperti air yang ada dalam pikiran kita, bukannya air dalam pikiran Bruce Lee. Empty your mind. Be focus. Shapeless.

Generasi milenial, generasi Z, generasi Alpha, apa pun labelnya, adalah cerminan generasi muda kita. Sebentar lagi merekalah yang akan mengemudikan Indonesia. Pada mereka perlu diajarkan nilai. Nilai dan pemahaman untuk kesadaran membayar pajak, salah satunya. Mereka perlu diajari bagaimana cara mencintai bangsa seperti kebanggaan pasukan Spartan dalam pertempuran Thermopylae yang ketika ditanya rajanya: “Spartans… what’s your profession?”

Menggelegar, mereka menjawab: “Ahu! Ahu! Ahu!”

Ada kebanggaan di sana untuk menang.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Tax Light

“Tirtha”

Aan Almaidah

Published

on

Gbr Ilustrasi

Thirta adalah sumber kehidupan. Itu sebabnya ia menempati 70–80 persen ruang dari seluruh komposisi di dalam tubuh manusia. Sama seperti APBN yang komposisinya menjadi penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

 

Ketika gempa lagi-lagi melanda Sumatera Barat, saudara-saudara kita di sana didekatkan pada ketakutan akan amuk gelombang yang bernama tsunami. Kalau saja diperbolehkan mengungsi sebelum siaga satu, mungkin mereka memilih menghindari daerah berpantai. Memang, sejak kejadian di Banten orang-orang akan berpikir dua kali melaksanakan kegiatan di pinggir pantai. Tsunami, menurut Wikipedia, merupakan perpindahan badan air akibat perubahan tiba-tiba permukaan air secara vertikal. Air punya badan? Ya, bahkan mungkin punya tangan, punya wajah, dan punya anggota tubuh yang tidak terlukiskan oleh manusia. Air juga bisa mendengar, loh! Bahkan bisa menyerap emosi melalui pendengarannya. Kalau tidak percaya, buktinya ada di penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang yang berhasil membuktikan bahwa molekul air bisa bereaksi terhadap ucapan yang di dalamnya mengandung energi positif atau negatif.

Saat menjadi pembicara di Malaysia, Emoto memperlihatkan struktur molekul air yang cantik seperti berlian dan memancarkan lebih dari 12 warna, yang ternyata molekul dari air zamzam. Kita semua tahu, air zamzam mengandung banyak sekali doa, dan air mewujudkan apa yang didengarnya melalui bentuk yang cantik berkilau. Itu hasil riset Emoto. Ada juga molekul air yang rusak karena diucapkan kata-kata buruk, dan seterusnya seperti yang pernah kita baca.

Bicara tentang air itu mengasyikkan, karena bumi kita mengandung hampir 70 persen air. Konon, di galaksi semesta ini hanya bumi yang dianugerahi air. Belum ada riset yang membuktikan bahwa air ada di planet lain. Bisa dibayangkan kalau air terdapat banyak di planet lain, maka saat bumi kekeringan di mana tidak ada lagi Nabi Yusuf yang bisa meramalkan sampai berapa masa akan berlangsung kekeringan, penduduk bumi bisa hijrah beramai-ramai ke planet lain demi seteguk air.

Air, adalah komponen terpenting di dalam diri seorang manusia. Tubuh seorang bayi saja mengandung 80 persen air, dan persentase kandungan akan berkurang seiring pertambahan usia. Misalnya orang dewasa hanya memiliki 60 persen unsur air sementara manula memiliki 50 persen. Sadarkah kita, kenapa untuk itu dilarang bicara negatif pada sesama manusia sejak dia bayi? Yes, karena komponen air dalam tubuhnya bisa mendengar emosi!

Satu lagi yang perlu kita ketahui, air digunakan untuk bersuci. Bagi umat Islam, sebelum salat diwajibkan bersuci dengan air. Di KBBI, air memiliki nama lain yaitu tirta, atau tirtha dengan h. Kita mengenal tirtha, yaitu air yang digunakan untuk bersuci sebelum memulai persembahyangan umat Hindu. Tirtha berasal dari kata Sanskerta yang memiliki arti kesucian, dan berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun cemarnya pikiran. Di dalam tirtha, menurut buku Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan (www.inputbali.com, 2015), terdapat kekuatan spiritual perwujudan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena manusia mengandung banyak air dalam tubuhnya, apakah bisa dikatakan ada kekuatan spiritual Tuhan dalam tubuh manusia sendiri? Kalau benar, apa iya manusia itu makhluk spiritual? Ini perlu kajian tersendiri untuk membuktikannya. Dan kalau kita cermati, sebagian besar hal tentang air di atas bersumber dari hasil riset. Butuh kajian.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah.

Riset itu ada. Untuk menyempurnakan gelar, biasanya ditutup dengan hasil riset melalui proses penelitian yang dilakukan. Biasanya mahasiswa melakukan riset di berbagai kementerian dan lembaga, dan instansi pemerintahan atau swasta. Di Direktorat Jenderal Pajak sendiri, per tahun hampir seribu surat permohonan izin riset datang. Tema risetnya bisa untuk mengetahui kepatuhan pajak, kepuasan layanan, budaya kerja, manfaat aplikasi berbasis teknologi, dan masih banyak lagi yang lain. Sayangnya, belum semua hasil riset dapat digunakan untuk dasar perumusan kebijakan. Semuanya bermuara pada pola pandang, bahwa tujuan riset tidak semata meluluskan gelar kesarjanaan bagi individu, tetapi seyogianya memberikan kontribusi penting bagi unit kerja atau lokus tempat riset diadakan.

Kalau kita baca di salah satu situs pengulas riset, negara yang memiliki reputasi sangat baik di dunia karena mutu riset dan pendidikan tingginya adalah Jerman. Bahkan menduduki peringkat ketiga peraih Nobel karena 80 warganya telah menerima penghargaan itu. Bagaimana dengan Indonesia? Kalau tidak salah, belum ada warga negara Indonesia peraih Nobel. Bukan hanya Nobel Sastra, ranah sains pun belum terjamah. Sementara, Indonesia dikenal sebagai negara lima besar penduduk terbanyak! Kita perlu berpikir kembali untuk menanamkan kuriositas sejak usia dini. Contoh kecil saja, pernahkah sambil jalan kita memberikan uang jajan kepada anak kita dan menyampaikan pesan, “Nak, ini uang jajanmu dari Bapak. Uang ini Bapak dapat dari gaji Bapak. Bapakmu ini Aparatur Sipil Negara. Pegawai negeri, gitu. Nah, gaji Bapak ini dari uang pajak yang dibayar sama orang-orang yang cinta bangsa ini. Jadi ingat ya, Nak, uang jajanmu asalnya dari uang pajak.”?

Belum ada riset sederhana mengulas pemahaman kecil itu.

Persis seperti air mengalir, sekarang ini mengalir berita bahwasanya Indonesia mulai meningkatkan gairah riset dengan peningkatan publikasi ilmiah internasional. Tahun 2017 (www.goodnewsfromindonesia.id), Indonesia menempati peringkat tiga besar publikasi ilmiah internasional terindeks oleh Scopus di wilayah Asean. Indonesia hanya kalah dari Malaysia dan Singapura, maka mari kita terapkan pesan Menristekdikti, Bapak M. Nasir, bahwa prestasi ini harus dipertahankan dan momentum harus dijaga. Perlu lebih banyak kompetisi riset dan call for paper, yang bahkan juga dilakukan oleh Ditjen Pajak yang menggelar hasilnya melalui Seminar Nasional Perpajakan bulan Maret ini.

Baca Juga: Tax Center” dalam Riset Pajak

Gairah untuk melakukan riset sinergi perguruan tinggi dengan lembaga atau instansi perlu ditularkan dalam bentuk virus penyakit akut. Dampaknya adalah terinfeksinya setiap peserta didik dan pegawai dalam berpikir dengan perspektif renungan dan keingintahuan. Hal ini dilakukan juga oleh National Tax Agency di Jepang, yang memiliki struktur organisasi riset yang melaksanakan tugas melakukan penyelidikan dan penelitian ilmiah terkait pajak, serta berkolaborasi dengan universitas dan lembaga penelitian. Menduplikasi semangat riset di berbagai negara perlu dukungan pemahaman kesadaran pajak, di mana lembaga riset sendiri sebagaimana lembaga pendidikan mendapat dukungan penuh pajak dengan tidak menanggung pajak sepanjang dilakukan sesuai ketentuan prinsip nirlaba.

Riset, di masa depan akan menjadi tsunami bagi Indonesia. Tidak hanya berupa setitik air tapi sudah menjadi air bah. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan program-program cinta literasi di seluruh sekolah. Bahkan bisa dimulai dari lomba-lomba yang digelar bukan hanya oleh perguruan tinggi, tetapi juga instansi dan unit kerja yang melibatkan minat meneliti generasi muda. Dan kalau ini sudah menjadi budaya dan kebiasaan, maka fungsi air bukan saja mengalir atau menyucikan, tetapi bisa sebagai tempat berkaca dan merefleksikan diri.

Masih ingat cerita tentang Narcissus yang jatuh cinta pada dirinya sendiri saat melihat bayangannya di permukaan air? Sekarang ini orang menamakan “narsis” bagi orang yang sangat suka pada dirinya sendiri melalui mengunggah foto diri, swafoto, atau memberitakan diri sendiri. Narcissus belum sempat melakukan refleksi diri sehingga dia tidak tahu siapa bayangan yang ada di permukaan air saat berkaca. Apabila kita tahu siapa diri kita, maka kita tidak akan menjadi seperti Narcissus.

Berkaca pada komposisi air dalam tubuh sebesar 70-80 persen yang dapat menentukan kehidupan manusia, maka bukan suatu kebetulan apabila pajak juga memiliki komposisi yang penting di APBN. Sama dengan air dalam tubuh kita, komposisi pajak sebesar 70-80 persen di APBN mencerminkan peran utama sebagai penentu pembangunan bangsa dan negara ini.

Hidup memang butuh dipikirkan dan direnungi. Manusia bisa memulai riset dari dirinya sendiri. “Cogito ergo sum,” kata Rene Descartes. “Aku berpikir, maka… aku ada.”

Continue Reading

Tax Light

Aurora

Aan Almaidah

Published

on

Sering kali berita menjadi fenomenal walaupun bukan fakta. Maka berlakulah seperti fotografer menangkap Aurora. Ia tak langsung percaya sebelum membuktikan kebenarannya.

Berita itu bisa tersebar dengan dikejar. Contohnya begini, bila Anda mendengar berita bahwa di sudut Kutub Utara berarak awan yang tidak berwarna putih, tetapi merah, kuning, hijau seperti pelangi, dan it’s true, apakah Anda berminat mengejarnya untuk melihat? Bisa jadi ya, atau Anda akan mengetikkan jari di YouTube untuk menelusuri berita itu. Hoaks atau bukan? Kalau gambarnya ada, apalagi ada videonya, maka dengan duduk-duduk di sudut kamar saja, Anda sudah berselancar ke sudut dunia yang menyiarkan berita itu.

Awan berwarna-warni adalah keniscayaan yang bersumber dari cahaya, terlihat di Danau Bear, Alaska. Namanya Aurora. Dia adalah fenomena alam berupa pancaran cahaya yang menyala-nyala di lapisan Ionosfer. Aurora tampil dalam bentuk pita cahaya, muncul indah di tengah malam dan yang menjadi sasaran fotografer adalah sudut terbaiknya di Alaska, pada bulan Maret dan September hingga Oktober akhir. Berbeda dengan kita, yang melakukan pembenaran berita bisa melalui interaksi melalui membaca atau mendengar dan melihat di media, para fotografer harus menuju tempat berita untuk menangkap gambar yang akan diberitakan. Pembuktian menjadikan mereka percaya.

Kenapa kita bicara tentang Aurora? Begini. Fenomena, menurut KBBI daring, adalah: (1) Hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (seperti fenomena alam); (2) sesuatu yang luar biasa; dan (3) fakta atau kenyataan. Aurora adalah fenomena alam berupa fakta, dan sesuatu yang luar biasa. Namun, dewasa ini berita menjadi fenomenal walaupun bukan merupakan suatu fakta, hanya karena dia ditangkap oleh pancaindera. Kembali pada contoh awal, di sudut kamar, kita mengetikkan jari mencari informasi, tanpa ada pembuktian seperti para fotografer memburu cahaya Aurora, maka kita tersugesti oleh berita. Dan berita itu bisa menjadi benar adanya, tanpa melalui pembuktian seperti fotografer yang ber-traveling ke Alaska.

Ini namanya Efek Eksponen. Douglas Conant dalam bukunya, Touch Points, menyatakan bahwa setiap orang yang kita ajak berinteraksi akan terhubung pada jaring-jaring hubungan. Satu berita yang Anda sampaikan akan sampai di lima sampai enam orang, dan seperti bola salju, akan meluas. Saat ini yang mengambil alih peran penting komunikasi adalah media, yang berkembang secara eksponensial melalui kemajuan informasi dan teknologi. Media akhirnya mengambil alih peran pemimpin dalam membicarakan kesuksesannya, peran orang tua dan guru dalam mendidik generasi mudanya, membentuk karakter dan perilaku, dan memengaruhi cara mereka berpikir. Disukai atau tidak, Efek Eksponen ini beredar di setiap sistem kehidupan, yang setiap orang terhubung sepanjang waktu, yaitu di unit kerja, di organisasi tempat kita bekerja dan menghabiskan lebih banyak waktu daripada di rumah kita.

Apabila Ki Hajar Dewantara masih ada, mungkin beliau akan sangat miris melihat bagaimana media menggantikan fungsi guru dengan sangat cepat. Kalau dulu selesai ulangan, dibutuhkan waktu untuk mengecek jawaban yang benar, maka saat ini, anak SD akan dengan sangat cepat mengetahui berapa jawaban salah dan benarnya dengan bertanya kepada “Mbah Google. Kepiawaian guru bisa ditebas dengan mengintip Wikipedia, dan jangan disalahkan minat membaca yang semakin rendah karena… semua jawaban bisa diperoleh lewat mesin pencari. Berdasarkan studi Most Literred Nation in the World 2016, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara—rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3–4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30–59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5–9 buku. Itu berdasarkan hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017. Hal ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, di bulan Maret 2018 (www.kompas.com). Nah, minat membaca buku yang rendah belum disandingkan dengan minat membaca gawai, mungkin berbanding terbalik untuk bangsa Indonesia.

“Kesadaran bersama akan mewujudkan bangsa Indonesia yang besar! Produk investasi jangka panjangnya adalah terbentuknya generasi muda yang berbudaya, paham bahwa semua berita memerlukan dasar pembenaran, data, dan alasan.”

Data di laman Kominfo Agustus 2018 menyatakan bahwa berdasarkan data UNESCO, masyarakat Indonesia amat aktif menggunakan media sosial, yaitu 4 dari 10 orang Indonesia aktif di media sosial seperti Facebook yang memiliki 3,3 juta pengguna, kemudian WhatsApp dengan jumlah 2,9 juta pengguna. Tidak salah kalau generasi milenial dijuluki “Generasi Menunduk” karena waktu mereka tersita dengan membaca gawai. Namun, satu hal yang perlu dicermati dengan tingginya angka penggunaan media sosial oleh masyarakat Indonesia, yaitu adanya risiko penyebaran konten negatif serta pesan provokasi dan ujaran kebencian yang dapat menimbulkan konflik juga amat besar. Tanpa kita sadari semua, inilah fenomena yang fenomenal! Kita selalu merasa percaya pada konten berita tanpa melakukan pembuktian seperti sang fotografer merekam Aurora dengan lensa kamera.

Salah satu realitas yang menyakitkan, apabila berita kemudian mendemotivasi seorang Wajib Pajak yang telah bersusah payah melakukan kewajiban perpajakannya mulai dari mendaftar, menghitung berapa pajaknya, sampai membayar dan melaporkan, kemudian semangatnya tergerus saat membaca berita bahwa banyak temannya sesama pengusaha yang menghindar dari kewajibannya sebagai warga negara dalam membayar pajak. Ada juga berita yang menggerus semangat petugas pajak dalam mengumpulkan uang negara, yang meragukan kerja keras mereka, misalnya. Ketika mereka melakukan edukasi, peran pajak perlu ditegaskan berkali-kali. Namun mereka perlu bekerja ekstra keras dalam menggalang kepercayaan masyarakat saat satu berita negatif tentang pajak, menguar. Padahal, suka atau tidak suka, 75%-80% APBN berasal dari uang pajak, demikian juga 75% dari gaji ASN yang diterima. Trust, atau kepercayaan yang mendalam bagi seluruh insan yang bekerja pada instansi, kementerian dan lembaga, sangat diperlukan dalam bersinergi. Maka perlu dipikirkan bersama bagaimana mengalirkan anggaran dalam bentuk program-program yang diutamakan mendukung kesadaran pajak.

Kalau seluruh instansi, kementerian dan lembaga di negara ini tidak duduk bersama membicarakan nasib bangsanya, bisa dipastikan program yang menggelinding akan berjalan sendiri-sendiri. Contohnya, pemberdayaan UMKM, yang setiap kementerian menjadi pengampu atas UKM yang ada di bawah kendali kementerian itu. Apabila ada kesepakatan untuk menyadarkan bahwa peran dan kontribusi pelaku ekonomi saat melakukan kewajiban perpajakannya, sekecil apa pun, merupakan bukti partisipasi yang besar dalam perwujudan bela negara dan cinta tanah air, bisa dipastikan setiap individu yang merasa punya tanggung jawab atas tegaknya Merah–Putih, berlomba-lomba membayar pajak sebagai bentuk amal ibadah. Mereka bersama-sama menggulirkan Efek Eksponensial. Berita positif yang diembuskan dari suatu berita, melesat menjadi sangat positif dan menyemangati.

Bagaimana pun, kesadaran bersama akan mewujudkan bangsa Indonesia yang besar! Produk investasi jangka panjangnya adalah terbentuknya generasi muda yang berbudaya, paham bahwa semua berita memerlukan dasar pembenaran, data, dan alasan. Saat menerima berita mereka belajar, meneliti keabsahannya lewat membaca, menganalisis kebenaran, tidak langsung percaya dan cepat menilai.

Suka tidak suka, kepercayaan memang memerlukan pembuktian. Contohnya, seperti memilih menantu, memilih pasangan bagi yang jomblo, atau memilih pemimpin. Dan pembuktian itu juga harus konkret dan dipercaya, bagai menemukan Aurora yang bukan fatamorgana.

Continue Reading

Tax Light

“Anicca”

Aan Almaidah

Published

on

Ilustrasi: awpracticetoday.org

“Anicca” adalah ketidakkekalan, pertanda bahwa manusia harus senantiasa siaga, berselancar dengan dinamika arus perubahan.

Penulis: Aan Almaidah Anwar

Tahun 2019. Berbeda dengan keriaan tutup tahun yang biasa, sambutan atas kedatangan 2019 diwarnai dengan keprihatinan, rayakan tanpa kembang api, tanpa petasan, tanpa trompet. Setidaknya demikianlah imbauan para kepala daerah. Namun, imbauan tetap imbauan di kala detik demi detik bergulir lambat dan pecah dengan lengkingan gebyar petasan di angkasa, di mana saja. Kenyataan itu bukan hanya disebut kebiasaan, tapi juga menjadi budaya yang merasuki generasi, dan menjadi suatu peradaban.

Peradaban manusia, menurut Emha Ainun Nadjib di buku Prayogi R. Saputra Spiritual Journey, telah melewati tiga masa sejak zaman Nabi Adam. Peradaban pertama mencapai puncaknya di zaman Nabi Idris, kemudian hancur saat terjadi banjir bandang Nabi Nuh. Peradaban terbesar kedua bangkit sejak zaman Nabi Hud, bahkan saat itu sudah ada kapal terbang, gedung pencakar langit, dan mengalami kehancuran kembali saat Nabi Isa diangkat oleh Allah, atau disalibkan. Saat ini, disadari atau tidak, bahkan Emha pun mengaku hanya melihat dari gelagat dan isyarat, manusia sudah memasuki peradaban ketiga yang ditandai dengan turunnya Muhammad sebagai Rasulullah. Pada peradaban ketiga ini, tidak terhitung jumlah bencana yang melanda manusia anak dan turunannya.

Untuk Indonesia, bencana alam yang terjadi di tahun 2018 sungguh menggetarkan hati. Pergerakan lempeng bumi, dan tsunami, baik di Lombok, Palu dan Banten dan Lampung Selatan bulan Desember lalu, memakan banyak korban. Lantas kita berpikir, “Jangan-jangan ini peringatan pertanda akan hancurnya suatu peradaban”. Tetapi tidak ada yang bisa memastikan. Atas nama segenap keprihatinan, keluarlah imbauan untuk tidak merayakan tahun baru dengan gemerlap hura-hura. Seperti yang disebut di atas, kata imbauan tidak mengandung unsur paksaan. Maka perayaan tetap berjalan.

Orang bilang, ini ga konsisten. Ga kekal. Atau mungkin kita baru kenal kata Anicca. Anicca, atau ketidakkekalan ini menunjukkan bahwa semua kondisi itu tidak kekal pada situasi yang terus berputar. Misalnya, sebuah daun tumbuh di pohon, daun akan rontok digantikan daun baru. Mengacu pada perilaku, maka kesedihan atas bencana bisa terlupakan saat situasi kembali tenang, kesedihan atas kehilangan wafatnya seorang kawan akan tergantikan canda dan berita di media sosial memupus berita-berita duka. Memang, di dunia ga ada yang kekal.

“Apakah yang bisa menjamin kekekalan atas kesadaran manusia? Pola pikir!”

Perilaku yang sama berulang saat imbauan melayang kepada Wajib Pajak untuk menyetorkan pembayaran pajak sesuai data yang diperoleh petugas pajak. Kita abai pada surat imbauan dengan tuntutan, mana sanksinya? Lantas prosedur berjalan sampai kepada pemeriksaan, yang direspons dengan kemarahan meminta keadilan. Bicara tentang keadilan di zaman ini, maka kita diingatkan pada karakter. Apabila sedari dini setiap warga negara sudah mendapatkan kurikulum tentang peran pajak di sekolah dasar dan menengah, maka mereka akan mendahulukan kewajiban membayar pajaknya daripada menuntut hak atas keadilan perlakuan. Bayar dulu pajaknya, baru awasi penggunaannya, demikian slogan lawas. Sama dengan anggota kompleks yang menuntut kesetaraan perlakuan dan keadilan, tapi saat ditanya masih belum melunasi iurannya sebagai warga. Sayangnya, karakter inilah yang menonjol di mana-mana. Maka perlu juga kita persyaratkan, apakah mereka seorang pembayar pajak yang baik? Sebelum secara aklamasi diangkat menjadi pimpinan kita baik di warga perumahan, warga kelurahan, kecamatan maupun pemerintahan. Kembali kepada perilaku yang anicca, maka kepatuhan atas hukum dan prosedur bisa saja digantikan keinginan melanggar saat tidak ada denda atau sanksi.

Menutup tahun 2018, Menteri Keuangan menyatakan apresiasinya atas capaian dan kinerja jajarannya di tahun 2018. Untuk pertama kalinya penerimaan negara mencapai di atas 100 persen, demikian judul berita. Lantas orang bertanya-tanya, pajak di atas 100 persen? Wow. Penerimaan negara mencakup penerimaan dalam negeri dari realisasi capaian Ditjen Pajak, Ditjen Bea dan Cukai dan Penerimaan Negara Bukan Pajak itulah yang mencapai di atas 100 persen. Target pajak sendiri di 2018 terealisasi sekitar 92 persen. Realisasi ini patut disyukuri mengingat betapa gencarnya upaya edukasi dijalankan oleh kaum cerdik cendekia, praktisi akademisi, komunitas kewirausahaan, yang bahu membahu dengan kesadaran penuh atas pentingnya pajak. Saat pajak disuarakan oleh seluruh warga negara, maka peradaban kesadaran terbangkitkan kembali. Nah, apakah yang bisa menjamin kekekalan atas kesadaran manusia bahwa pajak itu penting dan perlu? Pola pikir! Apabila setiap siswa diajarkan bahwa mereka bukan manusia biasa, selama mereka cinta bangsa dan ikut bela negara melalui uang pajak yang mereka setorkan ke negara, maka hukum kekekalan berlaku dari masa ke masa. Mereka hebat!

Pola pikir, adalah yang diyakini Mark Zuckerberg dimiliki semua orang. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuang jauh-jauh pikiran bahwa Anda hanya manusia biasa. Kita harus melepas pola pikir yang berubah-ubah dalam diri kita dengan mengganti pola pikir konvensional menjadi out of box minded. Anicca memang ketidakkekalan, tapi itu adalah pertanda bahwa manusia harus senantiasa siaga, berselancar dengan dinamika arus perubahan yang niscaya terjadi.

Selamat memasuki dunia kami, Anicca.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News6 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News6 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News6 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News7 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News7 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News8 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News9 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News1 tahun ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News1 tahun ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Trending