Connect with us

Up Close

Agresif Siapkan Kereta Transisi Energi

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Dalam ketidakpastian ekonomi, Medco tetap mampu menjaga kelangsungan usaha dan mengawal pasokan energi nasional. Kini, perusahaan ini juga tengah agresif mengembangkan energi terbarukan untuk kelanjutan usaha di masa depan

 

Hampir genap 40 tahun PT MedcoEnergi Internasional Tbk berkiprah dalam bisnis pertambangan, terutama sektor minyak dan gas (migas) bumi. Sejak berdiri pada 1980 silam, perusahaan swasta milik anak bangsa ini bersama pemerintah terus berupaya untuk menjaga kelangsungan pasokan energi nasional.

Pada awal berdiri, perusahaan yang dibangun oleh Arifin Panigoro ini baru sebatas sebagai perusahaan penyedia jasa drilling (pengeboran) bagi perusahaan asing yang melakukan eksplorasi dan produksi migas di tanah air. Sepuluh tahun kemudian, masuknya Hilmi Panigoro yang tak lain adalah adik kandung Arifin Panigoro memberi warna baru bagi perkembangan perusahaan.

Hilmi yang mengawali pendidikan tingginya di Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memang sejak awal memiliki minat tinggi di bidang pertambangan. Setelah melanjutkan studi ke Thunderbird School of Global Management di Arizona, Amerika Serikat hingga meraih gelar MBA, ia melanjutkan kuliah ke Colorado School of Mines. Lelaki berdarah Gorontalo itu kemudian bekerja di perusahaan asing yang bergerak di bidang produksi dan eksplorasi migas. Berbekal ilmu dan pengalaman selama bekerja di perusahaan itu, Hilmi mencetuskan gagasan besar untuk pengembangan MedcoEnergi ke depan sebagai perusahaan yang mampu menjadi produsen migas dan menjadi tuan di negeri sendiri. Ia pun menyampaikan gagasan itu kepada sang kakak.

“Tahun 1990, saya bilang sama Pak Arifin, kalau kita mau jadi oilman, jangan jadi penyedia jasa saja. Kita harus jadi produsen,” kata Hilmi saat wawancara dengan Majalah Pajak di Gedung Energi, Jakarta pada akhir Juli lalu.

Gagasan itu pun mendapat sambutan baik dari sang kakak. Langkah itu dimulai dengan pengambilalihan kontrak eksplorasi dan produksi milik Tesoro di Kalimantan Timur (TAC dan PSC) pada tahun 1992. Sejak itulah Medco memulai kiprahnya sebagai perusahaan eksplorasi dan produksi (E&P) migas, kegiatan migas industri hilir (downstream).

“Sejak itulah Medco berubah, bukan cuma penyedia jasa tetapi menjadi produsen migas,” tutur pria yang kini menjabat Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional Tbk itu.

Tahun 1994, untuk pertama kalinya MedcoEnergi melantai di bursa efek. Keberhasilan itu memudahkan Medco memperluas usahanya. Setahun kemudian, Medco mengakuisisi PT Stanvac Indonesia dari Exxon dan Mobil Oil. Tak henti menangguk berkah, pada tahun 2004, dalam upaya menambah cadangan terbukti migas, Medco mengambil alih 100 persen saham Novus Petroleum Ltd, perusahaan publik migas Australia yang memiliki operasi di Australia, Amerika Serikat, Timur Tengah dan Asia Tenggara—termasuk Indonesia. Upaya ini sekaligus membuka lebar gerbang jalan bagi Medco untuk memperluas kegiatan E&P di kancah internasional.

Dalam perjalanannya, Medco menjelma perusahaan raksasa di bidang energi yang tidak hanya di segani di negeri sendiri, tapi juga secara internasional. Kapasitas produksi migas yang awalnya hanya 2500 barel per hari, kini telah mencapai 100 ribu barel per hari. Selain eksplorasi dan produksi migas, Medco juga merambah kegiatan usaha energi terbarukan, pembangkit tenaga listrik dan pertambangan nikel dan emas.

Kini, di tengah fluktuasi harga minyak dunia dan ambruknya ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19, Medco tetap berdiri kokoh dan solid. Ketika banyak perusahaan lain terpaksa berhenti beroperasi atau mengurangi karyawan, Medco tak satu pun melepas karyawannya.

“Banyak perusahaan lain, terutama di Amerika mereka sampai memberhentikan karyawan. Alhamdulillah, sampai hari ini MedcoEnergi tidak sampai harus melakukan itu. Buat saya itu last resort. Sampai saat ini kami bisa mempertahankan, tidak ada layoff (memberhentikan) seorang pun,” kata Hilmi.

Bahkan, di tengah tantangan logistik dan operasional pada masa pandemi, MedcoEnergi berhasil menyelesaikan pengembangan proyek gas Meliwis di Wilayah Kerja Lepas Pantai Madura, Jawa Timur dengan aman. Gas perdana sudah mulai mengalir pada 13 Juli 2020 lalu.

Lantas, apa saja strategi MedcoEnergi mempertahankan dan mengembangkan kinerja perusahaan di masa fluktuasi harga minyak dan ancaman resesi ekonomi pada masa pandemi Covid-19 ini?

Berikut petikannya.

Harga minyak dunia saat ini sedang fluktuatif. Dunia juga tengah menghadapi ancaman resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini. Seperti apa efek keadaan ini bagi Medco saat ini?

Kalau yang langsung ya efek dari pandemi ke bisnis itu di harga. Karena kami, kan, bisnis commodity. Kami jualnya migas, tembaga, emas, sama jual listrik. Yang paling besar itu hari ini revenue kami dari migas. Dan pada saat pandemi muncul, hampir 30 persen permintaan minyak dunia ini jatuh. Sampai-sampai di Amerika (di perdagangan berjangka [futures]) itu sempat harga negatif. (Catatan redaksi: harga minyak mentah dunia West Texas Intermediate/WTI April lalu sempat tersungkur hingga -40,32 dollar AS per barel di perdagangan New York Mercantile Exchange/NYMEX). Karena orang mau pindahin posisi (jangka) panjangnya ke orang lain dengan cara bayar. Itu makanya harga negatif—kalau (harga minyak) secara fisik sih enggak negatif. Tapi, ya rendah. Bisa sampai 2o dollar AS (per barel). Dan, di 20 dollar itu banyak perusahaan yang harus tutup.

Nah, Alhamdulillah, strategi Medco dari dulu itu selalu menjaga biaya operasi kami serendah mungkin. Hari ini (28/7) kami bisa menjaga average cost kami, lifting cost kami di bawah 10 dollar AS. Jadi, waktu harga minyak turun ke 20 dollar, orang lain tutup, kami masih bisa untung sedikitlah. Buat ilustrasi saja, pada saat harga minyak turun, saya diminta untuk bikin stress test. Kalau average harga minyak akhir tahun 30 dollar, bagaimana keadaan perusahaan? Alhamdulillah, kami masih bisa setor nih ke pemerintah. Di harga 30 dollar itu kami bisa setor 547 juta dollar AS—itu pajak plus bagian pemerintah, PNPB (Pendapatan Negara Bukan Pajak). Waktu itu yang minta angka itu Bu Sri Mulyani (Menteri Keuangan) ke Pak Arifin. Bu Sri Mulyani kaget, “Loh, di (harga minyak) 30 dollar masih bisa setor?”

Kami bisa begitu, kuncinya karena kami bisa mempertahankan biaya sangat kompetitif. Hari ini mungkin jarang perusahaan migas biaya di bawah 10 dollar AS. Kami hari ini masih bisa. Itu di migas, ya.

Yang kedua, tembaga. Tembaga sih turun naik, tapi enggak terlalu banyak turunnya. Yang naik itu (harga) emas. Emas itu positif buat kami. Sementara untuk listrik, kebanyakan fixed kontrak sama PLN. Tapi kan demand i sedang turun. Jadi ada di beberapa tempat volumenya turun sedikit, tapi over all sedikit pengaruhnyalah. Yang terbanyak tetap dari migas karena harga turun, karena tadinya rata-rata harga 60 dollar AS per barel, sekarang itu 43 dollar AS. Mudah-mudahan tahun depan bisa kembali ke 50 dollar AS.

Jatuhnya harga minyak mentah terkait erat dengan pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, kemungkinan harga masih belum bisa diprediksi karena perbaikan fundamental pasar belum akan terjadi secara langsung. Dari sisi hulu, KKKS yang berada di bawah naungan SKK Migas, tahun ini melakukan penurunan target lifting dan beberapa proyek ditunda.

MedcoEnergi optimistis dapat menjaga kinerja di tengah pandemi Covid-19. Terlepas dari tantangan logistik dan operasional pada masa pandemi, MedcoEnergi berhasil menyelesaikan pengembangan proyek gas Meliwis di Wilayah Kerja Lepas Pantai Madura, Jawa Timur dengan aman. Gas Perdana sudah mulai mengalir pada 13 Juli 2020.

Dalam menjalankan operasi, kesehatan dan keselamatan pekerja serta keluarga merupakan prioritas utama perusahaan. Selain itu, MedcoEnergi mengambil semua langkah yang diperlukan sesuai arahan pemerintah, seperti memperketat akses dan melakukan pengecekan kesehatan yang ketat pada pekerja dan pengunjung di wilayah operasi, melakukan karantina dan tes PCR bagi pekerja yang akan bertugas, menyesuaikan periode waktu pergantian kru dan meminimalisasi jumlah personel.

Medco bisa menjaga biaya operasi seminim mungkin—di bawah 10 dollar AS, sesuatu yang sulit dilakukan perusahaan migas lainnya? Apa saja yang dilakukan untuk menekan biaya operasi itu?

Begini, kalau efisiensi dari 0pex (operating expenses), kami memang leader untuk opex. Yang berbeda itu capex-nya (capital expenditures). Capex itu namanya perusahaan minyak, bersumber dengan energi yang tidak terbarukan. Dari waktu ke waktu kami harus mencari sumber baru. Untuk sumber baru itu kami harus eksplorasi atau bikin fasilitas baru. Biasanya, kalau keadaan krisis seperti ini itu kami tunda. Capex itu perlu, tapi kan efeknya jangka panjang, kecuali capex yang langsung berhubungan dengan produksi. Misalnya, pemeliharaan fasilitas produksi yang memerlukan barang modal untuk menjaga integritas. Itu tidak bisa ditawar. Tapi, kalau hal, misalnya eksplorasi, pengembangan, bisa ditunda.

Kedua, kami itu procurement kan banyak—banyak services, kan? Ada Sewa kapal, sewa rig, segala macam. Nah, kami renegosiasi sama supplier-supplier ini. Dalam keadaan seperti ini kami sama-samalah, tarifnya kami turunkan sampai ke tidak rugi, mungkin masih untung tapi lebih kecil, kami bisa renegosiasi. Kalau Anda lihat banyak perusahaan lain terutama di Amerika, mereka selalu memberhentikan orang. Hari ini alhamdulillah kami tidak sampai melakukan itu. Itu buat saya last resort dan sampai hari ini kami bisa pertahankan, tidak lay off satu orang pun.

Pada masa pandemi ini Medco juga menerapkan bekerja dari rumah (WFH). Seberapa berpengaruh itu terhadap kinerja perusahaan?

Ya, ya! Itu penting untuk dicatat. Banyak sekali insinyur-insinyur kami saat ini yang kerjanya—termasuk orang-orang keuangan juga ya—dari pagi sampai sore di depan komputer berdasarkan data yang tersentralisasi di database perusahaan. Jadi sebetulnya untuk pekerjaan-pekerjaan seperti ini, di rumah, di mana pun, di kafe pun sebetulnya mereka bisa kerja. Selama mereka punya layar komputer yang terhubung dengan internet perusahaan. Masalahnya itu, adalah kendala infrastruktur, apalagi kalau menyangkut data keuangan. Kami, kan harus waspada kalau ada orang yang hack karena ini nanti bisa diakses dari mana-mana, security dari data, dan confidentiality akan terganggu. Tapi setelah Covid-19 terjadi, terpaksalah mereka kerja di rumah, dengan infrastruktur yang ada. Alhamdulillah, semuanya lancar.

Kami walaupun base-nya masih fosil, tapi kereta transisi energi menuju terbarukan ini kami kerjakan dengan agresif. Sehingga, pada waktunya kami sudah enggak ketinggalan kereta.

Ya memang, enggak seefektif kalau ketemu langsung. Tapi ternyata banyak hal-hal yang bisa dikerjakan di rumah. Team meeting yang biasa dikerjakan di sini, sekarang semua— lihat ini alatnya (Hilmi menunjuk layar smart monitor besar di sudut ruang rapat MedcoEnergi ). Kadang-kadang, saya sama direksi yang lain, yang lain sisanya staf-staf teknis saya di rumah, pakai database yang sama, muncul di screen di sini.

Jadi, kami sudah sesuaikan infrastruktur perusahaan sedemikian rupa sehingga  work from home ini bisa dijalankan efektif. Yang penting bagaimana kita mengeset KPI-nya (key performance indicators). Jadi, setiap orang ini deliverable, kan? Apa yang dia capai itu bisa diukur.

Namun, nantinya saya sih lihat kalau situasi sudah normal pun, saya pikir tidak lebih dari 50 persen orang balik ke kantor. Sisanya akan tinggal di rumah. Itu akan menambah efisiensi lagi. Mungkin lantai yang harus disewa tinggal satu lantai, biaya transportasi ke kantor akan hilang. Mungkin yang nambah biaya internetlah. Tapi itu enggak seberapa dibandingkan dengan yang lain-lain.

Artinya, meski WFH, dari sisi produktivitas karyawan Medco benar-benar tidak terganggu?

Enggak terganggu sama sekali. Tapi begini—harus dicatat, tidak terganggu dalam jangka waktu pendek. Namun, kalau terlalu lama, seperti yang saya bilang tadi, ada capex yang harus kami keluarkan untuk menambah cadangan dan produksi di masa yang akan datang. Kalau sebentar itu dibuang, enggak apa-apa. Kalau terlalu lama dibuang, akhirnya produksi akan turun. Jadi, saya sih berharap, ya mudah-mudahan tahun depan vaksin akan ketemulah. Sehingga kita bisa kembali bekerja normal, dan spend capex yang diperlukan, untuk mempertahankan produksi dan menambah cadangan.

Capex yang kami turunkan, kemarin itu kami 340 (juta dollar AS) sampai setengah, ya, 50 persen. Di bawah 200 (juta dollar AS). Tapi itu, saya bilang temporory. Capex pengembangan tetap harus dikerjakan, bisa delay sebentar. Tapi enggak bisa terus-terusan di-delay.

Apa tantangan terberat MedcoEnergi menjalankan industri migas pada masa-masa resesi ekonomi akibat pandemi saat ini?

Saat ini merupakan masa yang sangat menantang bagi industri migas, akibat Covid-19 serta dampak sosial dan ekonominya. Fokus utama kami tentu menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja dan kontraktor. Sementara pada saat yang sama, meminimalkan dampaknya terhadap bisnis perusahaan. Kami yakin, dengan telah berhasilnya MedcoEnergi melalui berbagai krisis, sehingga dengan sederet pengalaman yang ada, MedcoEnergi siap untuk mendukung pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Strategi Pengembangan Medco ke depan akan seperti apa, terutama dalam menyikapi energi yang tak terbarukan, kelestarian lingkungan dan menjaga kelangsungan perusahaan?

Kalau soal energi ya, hari ini seluruh dunia sudah masuk fase namanya transisi energi. Kenapa ini sesuatu yang sudah enggak bisa ditawar, karena mengikuti climate change enggak? Semua negara sudah komit di Kyoto, di Paris, bahwa kita bakal menurunkan emisi karbon sekian persen. Kenapa itu penting, karena naiknya temperatur bumi ini ya, climate change ini itu enggak bisa ditahan, itu pasti terjadi. Yang namanya global warming itu pasti terjadi. Cuma, scope-nya bisa dibikin lebih landai, dengan cara energi terbarukan, semua orang sudah komit. Dan sekarang, hampir semua perusahaan energi menuju kepada energi yang terbarukan. Akan perlu waktu, tapi artinya Medco tidak bisa lepas dari situ.

Oleh karena itulah, saya berpendapat, migas ini masih tetap akan penting. Terutama gas ya. Kalau minyak mungkin—enggak ada yang pernah tahu persis kapan—tapi saya lihat, kebutuhan minyak ini mungkin sampai 20 sampai 25 tahun ke depan itu peak (puncak) terus turun. Kalau gas, lain. Dia masih naik, kenapa? Karena itu merupakan primadona untuk pembangkit listrik. Gas itu walaupun dia fosil, tapi bersih. Bersih dan sangat efisien, jadi itu masih akan tetap terpakai. Tapi di luar itu, matahari, angin, geotermal, biomasa, mungkin nanti ada gelombang, ada apa lagi. Itulah yang nanti akan menjadi tren.

Itulah sebabnya, sejak 2006 kami sudah bangun Medco Power. Kami sekarang akan genjot pertumbuhan Medco Power-nya. Kenapa? Karena itu menurut kami yang akan menjadi pilar utama kami nanti. Bentuk energi yang akan sampai kepada costumer itu adalah listrik. Apakah itu buat mobil, buat kereta, buat umum, buat pribadi, di rumah. Mungkin kompor pun semua akan pakai listrik. Selama ini listriknya di-generate oleh PLN. Bisa dari sumber apa saja dan sumbernya kita akan berubah dari yang tadinya dominan fosil jadi dominan renewable. Medco enggak boleh ketinggalan kereta, makanya kami bangun Medco Power.

Mungkin tahun 2020 ini kami salah satu perusahaan yang akan membangun pembangkit listrik tenaga matahari yang terbesar di Indonesia. Kami akan bangun 50 megawatt di Bali. Kami bangun 25 megawatt di Sumbawa. Kami sudah punya 330 megawatt geotermal di Sumatera Utara. Kami sekarang lagi bangun 110 megawatt di Jawa Timur. Jadi, kami walaupun base-nya masih fosil, tapi kereta transisi energi menuju terbarukan ini kami kerjakan dengan agresif. Sehingga, pada waktunya kami sudah enggak ketinggalan kereta.

Saat ini MedcoEnergi mengoperasikan pembangkit listrik tenaga gas, panas bumi dan air di Indonesia melalui anak usahanya PT Medco Power Indonesia yang dimiliki secara penuh. Medco juga mengoperasikan tambang tembaga dan emas besar di Indonesia dengan kepemilikan nonkonsolidasi di Amman Mineral Nusa Tenggara.

MedcoEnergi adalah salah satu Wajib Pajak Badan yang memberi kontribusi besar terhadap penerimaan negara—selain dari PNBP. Saat ini pemerintah tengah memberi insentif perpajakan. Apakah insentif itu sudah sesuai yang dibutuhkan?

Untuk industri migas, fasilitas atau insentif perpajakan yang diberikan pemerintah dalam program pemulihan ekonomi nasional terdampak Pandemi Covid-19 adalah insentif PPh Pasal 21 ditanggung Pemerintah; insentif PPh Pasal 22 Impor dibebaskan, insentif angsuran PPh Pasal 25, insentif PPN.

Selain insentif tersebut, diusulkan pula adanya insentif tambahan berupa subsidi dana untuk pembayaran gaji kepada Pemberi Kerja atas pembayaran gaji kepada pekerja; kompensasi kerugian pajak tahun 2020 dan 2021 ke tahun-tahun sebelumnya; dan insentif dibebaskan pemungutan PPN Impor.

Selama ini pelayanan administrasi pajak yang diterima oleh MedcoEnergi Group sudah baik. Namun, sebagai masukan, DJP dapat semakin meningkatkan pelayanan sistem administrasi agar semua pelayanan dapat diakses dan diproses secara on-line untuk mempercepat pelayanan. Jadi, Wajib Pajak tidak perlu ke kantor pajak untuk memperoleh pelayanan. Kedua, untuk menghindari sengketa pajak dan mempermudah pelaksanaan kewajiban perpajakan, DJP dapat menerbitkan panduan perpajakan sehingga dapat menjadi acuan bagi Wajib Pajak.

Up Close

Yang Dapat Fasilitas, Wajib Bermitra dengan Pengusaha Lokal

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Kementerian Investasi menjadi “local focus point” yang mengurusi investasi dari dalam dan luar negeri, di tingkat pusat dan daerah, termasuk menghidupkan UMKM.

Lahirnya Kementerian Investasi (Keminves) yang disahkan pada April lalu menjadi angin segar bagi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam meracik strategi mengakselerasi investasi di Indonesia. Jika selama ini BKPM hanya sebatas mengeksekusi kebijakan di bidang investasi, dengan menjelma kementerian kini BKPM memiliki kewenangan untuk membuat aturan atau menentukan skema regulasi untuk mewujudkan investasi. Di samping itu, juga dapat menyelaraskan atau mengolaborasikan berbagai proyek investasi di kementerian teknis terkait.

Bahlil mengatakan, Keminves akan menjadi local focus point yang mengurus investasi, tidak hanya investasi dari luar negeri tapi juga dalam negeri. Tak kalah penting juga mengurus alur dan strategi pengembangan investasi yang ada di daerah yang selama ini kurang mendapat porsi dari pusat. Singkatnya, Keminves memiliki fungsi perumusan dan penetapan kebijakan di bidang investasi, koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang investasi, serta eksekusi dalam peningkatan realisasi investasi di Indonesia.

Sebulan setelah pembentukan Keminves, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2021 tentang Satuan Tugas Percepatan Investasi yang ditetapkan pada tanggal 4 Mei 2021. Satgas ini pun diketuai oleh Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.

Satgas Investasi memiliki sejumlah tugas. Pertama, memastikan realisasi investasi setiap pelaku usaha penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal asing yang berminat dan atau yang telah mendapatkan perizinan berusaha. Kedua, menyelesaikan secara cepat permasalahan dan hambatan (debottlenecking) untuk sektor-sektor usaha yang terkendala perizinan berusaha dalam rangka investasi.

Ketiga, mendorong percepatan usaha bagi sektor-sektor yang memiliki karakteristik cepat menghasilkan devisa, menghasilkan lapangan pekerjaan, dan pengembangan ekonomi regional atau lokal. Keempat, mempercepat pelaksanaan kerja sama antara investor dengan usaha mikro, kecil, dan menengah. Kelima, memberikan rekomendasi penindakan administratif kepada pimpinan kementerian/lembaga/otoritas dan pemerintah daerah, baik tingkat provinsi, kabupaten atau kota terhadap pejabat atau pegawai yang menghambat pelaksanaan investasi maupun yang dapat menambah biaya berinvestasi di Indonesia.

Selanjutnya, Satgas Investasi memiliki kewenangan menetapkan keputusan terkait realisasi investasi yang harus segera ditindaklanjuti kementerian/lembaga/otoritas/pemerintah daerah; dan melakukan koordinasi terkait realisasi investasi dengan kementerian/lembaga/otoritas/pemerintah daerah.

Setelah dilantik menjadi Menteri Investasi sekaligus Ketua Satgas Investasi, Bahlil diberi tugas oleh Presiden Joko Widodo untuk merumuskan strategi menarik investasi sekaligus memetakan permasalahan yang ada, termasuk di 15 kawasan ekonomi khusus (KEK) yang menjadi prioritas. Lantas, bagaimana langkah Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dalam mengimplementasikan berbagai tugas yang dipikul itu agar target investasi Rp 900 triliun tahun ini bisa terealisasi?

 

Berikut petikannya.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kini resmi mengalami perubahan nomenklatur menjadi Kementerian Investasi. Selain nomenklatur, apa saja yang berubah dari sisi tupoksi sebagai Kementerian Investasi?

Setelah menjadi kementerian, terdapat penambahan kewenangan bagi Kementerian Investasi/BKPM yaitu fungsi perumusan dan penetapan kebijakan, sehingga kini Kementerian Investasi/BKPM memiliki fungsi perumusan dan penetapan kebijakan di bidang investasi, koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang investasi, serta eksekusi dalam peningkatan realisasi investasi di Indonesia.

Jadi, perbedaan tugas pokok dan fungsi Kementerian Investasi dengan BKPM utamanya, terletak pada wewenang dalam membuat kebijakan atau ketentuan terkait penanaman modal.

Selama ini BKPM mengeksekusi regulasi, kami mengeksekusi Permen (Peraturan Menteri), kemudian Undang-Undang maupun PP (Peraturan Pemerintah). Kami tidak bisa membuat regulasi, untuk membuat aturan, model permainan untuk investasi, tapi dengan Kementerian Investasi itu bisa. Di samping itu, dengan berubahnya BKPM menjadi Kementerian Investasi, kami dapat menyelaraskan atau mengolaborasikan berbagai proyek investasi di kementerian teknis.

Kementerian Investasi akan menjadi local focus point yang mengurus investasi tidak hanya dari luar negeri tapi juga dalam negeri, serta mengurus investasi yang ada di pemerintah pusat juga daerah.

Bagaimana kami kolaborasikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang baik karena harus diakui visi besar presiden transformasi ekonomi tujuan hilirisasi meningkatkan nilai tambah.

Kementerian Investasi menjadi key point untuk menghubungkan/menyinergikan investasi PMA maupun PMDN, baik level pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar menjadi satu pintu. Upaya apa saja yang akan dilakukan untuk mencapai itu?

Dengan diundangkannya UU Cipta Kerja tahun 2020 dan peraturan pelaksanaannya, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021, pelayanan perizinan berusaha baik untuk pemerintah pusat maupun pemerintah daerah wajib dilakukan melalui Sistem Online Single Submission (Sistem OSS) berbasis risiko.

Selain itu, PP No 5 Tahun 2021 dan PP Nomor 6 Tahun 2021 juga mengatur mengenai Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) mengenai perizinan berusaha yang menjadi acuan tunggal bagi pemerintah pusat dan daerah.

Problem investor selama ini antara lain terkait infrastruktur, tumpang tindih perizinan, pembebasan lahan, dan kebijakan sektoral. Apa saja yang dilakukan Kementerian Investasi untuk mengatasi berbagai problem itu khususnya untuk pembangunan di Kawasan Industri Terpadu (KIT) dan seperti apa progresnya saat ini?

Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, dari total area seluas 4.300 hektare, tahap 1 seluas 450 hektare sudah habis terjual dan bulan lalu sudah dilakukan groundbreaking KCC Glass yang akan membangun pabrik kaca terbesar di Asia Tenggara.

Di KIT Batang, investor mendapatkan fasilitas berupa pelayanan perizinan serta insentif sehingga investor cukup membawa modal dan teknologi.

Selain itu, harga tanah yang terjangkau serta kemudahan akses dan infrastruktur menjadi daya tarik bagi investor untuk berinvestasi di KIT Batang.

Tahun ini target investasi yang masuk diharapkan mencapai Rp 856 triliun. Data terakhir semester I realisasi mencapai Rp 219,7 triliun atau tumbuh 4,3 persen dari tahun lalu. Hingga bulan ini seperti apa realisasinya?

Saat ini Kementerian Investasi/BKPM masih mengumpulkan laporan perkembangan realisasi investasi untuk periode Triwulan II tahun 2021 dan akan mengumumkan laporannya pada bulan Juli. Namun, kami optimistis bahwa target tersebut akan tercapai, bahkan mencapai target Rp 900 triliun seperti yang diminta oleh Presiden Jokowi.

Dari target itu, sektor apa saja fokus area investasi yang dibuka oleh Kementerian Investasi baik PMA maupun PMDN?

Kementerian Investasi memiliki beberapa sektor yang menjadi prioritas untuk ditarik investasinya, antara lain industri farmasi dan alat kesehatan; industri kendaraan bermotor; energi baru dan terbarukan; infrastruktur; dan industri hilirisasi sumber daya alam.

Anda kerap terjun langsung ke lapangan untuk memetakan permasalahan investasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), permasalahan apa saja yang ditemukan dan apa strategi Anda untuk memastikan investasi KEK berjalan lancar?

Kementerian Investasi/BKPM terus berupaya mendorong investasi melalui sektor-sektor prioritas yang memiliki nilai tambah dan hilirisasi industri, salah satunya melalui pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK).

Permasalahan yang sering ditemui dalam pembangunan kawasan adalah permasalahan lahan. Lahan yang ditetapkan baru dikuasai sebagian kecil atau harga lahan yang ditawarkan kepada investor tinggi sehingga tidak menarik. Selain itu, infrastruktur pendukung yang belum siap juga memengaruhi minat investor untuk masuk ke kawasan tersebut.

Di Palu, misalnya, saya diskusi dengan para tenant KEK Palu untuk memetakan permasalahan yang dihadapi. Dalam diskusi juga diformulasikan kebijakan untuk mempercepat masuknya tenant ke KEK Palu. Para pengusaha menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi selama berinvestasi di KEK Palu, seperti kendala pembebasan lahan dan ketersediaan bahan baku (raw material) yang tidak mencukupi untuk proses produksi.

Kami merumuskan berbagai formulasi strategi kebijakan yang dibutuhkan sehingga tenant di KEK Palu dapat segera merealisasikan investasinya, dengan syarat investor tersebut berkomitmen untuk berkolaborasi dengan pengusaha daerah pada proses bisnis ataupun pembangunannya.

Rata-rata kawasan industri di daerah kurang berkembang, karena kurangnya intervensi pemerintah pusat dan apalagi dananya dari daerah.

Kami juga melakukan kunjungan kerja ke KEK Bitung, Sulawesi Utara dan siap membawa masuk calon investor di bidang hilirisasi perikanan. Kita sudah dapat calon investor, terutama di bidang hilirisasi perikanan. Makanya saya datang untuk mengecek, tapi kepastiannya akan bagaimana setelah kami kembali ke Jakarta untuk memformulasikannya.

Kedatangan saya ke KEK Bitung sebagai tindak lanjut atas arahan langsung dari Presiden Joko Widodo untuk melihat permasalahan dan hambatan yang dialami KEK Bitung. Beberapa kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pengembangan KEK Bitung ini di antaranya adalah pengusahaan lahan, juga belum optimalnya fungsi pelabuhan Bitung dan infrastruktur penunjang lainnya di sekitar kawasan.

Dari hasil yang kami tinjau, permasalahan tanah sudah akan selesai dan terkait konektivitas pelabuhan dan jalan tol sudah bagus. Saya akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk mempercepat proses pengembangannya.

Presiden Jokowi menginginkan Indonesia bukan hanya ramah investasi yang bisa menciptakan lapangan kerja, tapi juga investasi ramah lingkungan. Bagaimana Kementerian Investasi menerjemahkan keinginan Presiden?

Kementerian Investasi/BKPM sangat mendorong investasi yang ramah lingkungan. Contohnya adalah pembangunan PLTS terapung di Cirata oleh Masdar, investor dari UAE. Selain itu, hilirisasi nikel menjadi baterai untuk kendaraan bermotor listrik juga mendorong penggunaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.

Anda juga ingin mengolaborasikan pengusaha-pengusaha besar dengan UMKM, baik yang ada di daerah maupun nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Seperti apa skema yang dibuat agar kolaborasi itu terwujud?

Kementerian Investasi/BKPM selalu mendorong investor untuk bermitra dengan UMKM maupun pengusaha nasional yang ada di daerah, sehingga pemerataan investasi benar-benar terjadi dengan menciptakan pengusaha-pengusaha besar baru di daerah. Harus kita sinergikan pengusaha-pengusaha besar dengan UMKM, pengusaha besar dengan pengusaha yang ada di daerah dan pengusaha nasional. Kolaborasi inilah yang bisa kita jadikan instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kita meningkat juga bisa berjalan.

Kami memulai dari investor yang mendapatkan insentif wajib bermitra dengan pengusaha lokal yang ada daerah. Selain itu, satgas percepatan investasi yang baru saja dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2021 tentang Satuan Tugas Percepatan Investasi juga salah satu tugasnya adalah memastikan kemitraan antara UMKM dan investasi besar.

Adanya Keppres Nomor 11 Tahun 2021 tersebut, pemerintah akan mempercepat proses kolaborasi antara pengusaha besar dengan UMKM di daerah. Jadi akan mendorong pemerataan kesejahteraan. Diharapkan akan tumbuh pengusaha-pengusaha di setiap daerah. Tidak melulu yang kaya itu-itu saja.

Satgas Investasi dibentuk juga untuk melakukan pengawalan end to end dan penyelesaian hambatan pelaksanaan berusaha. Dengan demikian akan meningkatkan investasi dan kemudahan berusaha dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja.

Kementerian Investasi akan bekerja sama dengan pihak Kejaksaan dan Polri untuk melaksanakan amanat yang besar dari Bapak Presiden. Kami siap menjalankan dengan komitmen penuh, mengeksekusi dengan baik agar hambatan bisa diselesaikan dan realisasi investasinya terjadi.

 

Adakah investasi yang secara spesifik diarahkan untuk dapat menggiatkan bisnis UMKM kita?

Investor yang mendapatkan fasilitas fiskal (tax holiday, tax allowance, dan fasilitas pembebasan bea masuk bagi impor mesin/bahan baku) diwajibkan untuk bermitra dengan pengusaha lokal (UMKM dan pengusaha nasional) yang ada di daerah tempat investasi tersebut. Investor wajib menandatangani surat pernyataan yang akan ditindaklanjuti dengan kontrak dengan para pengusaha di daerah. Ini sejalan dengan tujuan investasi yaitu menciptakan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja sehingga masyarakat sekitar dapat merasakan manfaat masuknya investasi ke daerahnya.

Terhadap investasi di level kabupaten/pemda (regional) di seluruh Indonesia, yang kadang berjalan tapi tidak sesuai dengan harapan pemerintah pusat yang berpikir untuk kepentingan nasional, apa kewenangan/otoritas kementerian Anda? Apa Langkah/sanksi/kebijakan yang akan Anda tempuh untuk menyinergikan agenda investasi pusat-daerah?

Kementerian Investasi/BKPM memiliki hubungan yang baik dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi dan Kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan melakukan sinergi dalam fasilitasi investasi yang ada di daerah bersama dengan DPMPTSP. Terkait dengan kinerja pelayanan investasi baik di pusat maupun di daerah, Kementerian Investasi/BKPM bersama dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri menyelenggarakan kegiatan penilaian kinerja PTSP dan percepatan pelaksanaan berusaha (PPB) bagi pemerintah daerah dan PPB bagi Kementerian/Lembaga. Kegiatan penilaian ini juga melibatkan organisasi pengusaha, HIPMI. Hal ini merupakan amanah dari Perpres 42 Tahun 2020 tentang Pemberian Penghargaan dan/atau Pengenaan Sanksi kepada Kementerian Negara/Lembaga dan Pemerintah Daerah.

Bagaimana Kementerian Investasi bersinergi dengan Kemenkeu, terutama untuk menarik investasi di tengah upaya pemerintah menggenjot penerimaan perpajakan untuk kemandirian APBN?

Kementerian Investasi/BKPM dan Kementerian Keuangan melakukan kerja sama dalam rangka optimalisasi penerimaan negara dan peningkatan realisasi investasi. Kementerian Investasi/BKPM meningkatkan target realisasi investasi untuk tahun 2021 dan 2022, sehingga aktivitas ekonomi akan berjalan yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan negara dari perpajakan.

Selain itu, kami juga akan berhati-hati dalam memberikan fasilitas fiskal baik dalam bentuk tax holiday, tax allowance, maupun fasilitas pembebasan bea masuk bagi impor mesin/bahan baku.

Lanjut baca

Up Close

Transit Karier Anak Terminal

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Kawan-kawannya pernah menyebutnya gila”. Sejak kecil ia terbiasa bekerja keras. Ia pantang menyerah dan berani ambil risiko atas keputusannya.

Lengking klakson bersahut-sahutan, deru mesin angkutan umum berebut penumpang, atau bisingnya suara pedagang asongan menjajakan dagangan di terminal adalah pemandangan yang biasa bagi Bahlil Lahadalia. Namun, itu kisah puluhan tahun lalu. Cerita masa lampau, sebelum ia menjelma menjadi sosok pengusaha sukses yang kemudian menjadi orang nomor satu di Kementerian Investasi Republik Indonesia.

Bahlil tumbuh dan besar di lingkungan kehidupan yang penuh tantangan. Mendengar kisahnya, ingatan serasa dibawa kembali ke era 90-an, ketika mendiang Franky Sahilatua memopulerkan lagu “Terminal” ciptaan Iwan Fals.

Hangatnya matahari/Membakar tapak kaki/Siang itu di sebuah terminal/Yang tak rapi/Wajah pejalan kaki/Kusut mengutuk hari/Jari-jari kekar kondektur/Genit goda daki/Bocah kurus tak berbaju/Yang tak kenal bapaknya/Tajam matamu/Liar mencari mangsa….”

Bahlil pernah menjadi bagian dari kisah dalam lagu itu. Bedanya, ia bukan tak mengenal bapaknya seperti diceritakan lirik lagu itu. Ia justru sangat mengenal dan dekat dengan bapak-ibunya. Sang bapak adalah kuli bangunan dengan penghasilan pas-pasan, sementara ibunda bekerja sebagai buruh binatu.

Bahlil kecil yang ingin membantu beban ekonomi keluarganya, sejak belia sudah belajar berjualan kue di lingkungan sekolahnya. Ia memulai pendidikan dasarnya di SD Negeri 1 Seram Timur, Maluku. Dari hasil berjualan itulah ia bisa membeli peralatan sekolah bahkan bisa menyisihkan untuk membeli kelereng, mainan “mewah” kesukaannya.

“Sejak SD saya itu memang sudah jualan kue. Itu terjadi bukan karena ingin—saya juga dulu enggak ingin jadi pengusaha—tapi karena keterpaksaan. Karena memang keluarga saya itu, mamah saya itu, kan, laundry di rumah orang. Bapak saya itu buruh bangunan,” Bahlil mengisahkan.

Lulus SD, ia melanjutkan SMP Negeri di Seram Timur. Ia sekolah sembari bekerja sebagai kondektur angkutan umum, dan sesekali berjualan ikan di pasar.

“Saya SMP pun, karena memang kondisi orang tua susah. Akhirnya, saya pernah jadi kondektur angkot, jualan ikan di pasar. Pernah jadi helper excavator dari kontraktor. Pernah tinggal di hutan pada saat musim libur sekolah.”

Bahlil lahir di Banda, Maluku Tengah pada 7 Agustus 1976, tetapi sebagian masa remajanya akhirnya ia habiskan di tanah Papua. Setelah lulus SMP, ia ikut hijrah kedua orangtuanya ke Fakfak, Papua. Di sana ia melanjutkan sekolah di SMEA Yapis Fakfak. Di bangku SMEA, anak kedua dari delapan bersaudara ini juga pernah menjadi sopir angkot paruh waktu. Lagi-lagi, hasil kerjanya pun ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya.

Meski sebagai keluarga kurang mampu, semangat Bahlil untuk belajar tak pernah surut. Saat menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay, Jayapura, pun semua biaya ia cukupi sendiri. Bahlil tinggal di barak asrama. Orangtuanya awalnya bahkan tidak tahu jika ia melanjutkan kuliah. Untuk mencukupi kuliah, ia menjadi pendorong gerobak di pasar sembari menjadi penjual koran. Sebab, tak mungkin mengharapkan kiriman logistik dari orangtua seperti mahasiswa pada umumnya. Bahlil hanya belanja ketika mendapatkan uang. Makan pun ia usahakan seirit mungkin.

“Saya makannya setengah nasi, setengah bubur supaya dapat banyak. Kalau beras sudah habis, saya sarapan pagi pakai buah mangga muda yang jatuh di samping asrama. Karena itu di semester enam, saya busung lapar. Jadi, penderitaan yang paling menderita itu saya rasain. Pada saat saya sakit itulah saya bertekad harus berhenti menjadi miskin—dan cara satu-satunya adalah dengan jadi pengusaha,” tutur Bahlil.

Kerasnya kehidupan akhirnya menempa Bahlil menjadi “petarung” tangguh yang enggan menyerah dengan sulitnya kehidupan. Di kampus itulah, melalui berbagai organisasi mahasiswa yang ia ikuti, leadership dan mindset kewirausahaan Bahlil terbentuk. Sambil merampungkan kuliah, ia sepat menjadi karyawan kontrak Sucofindo. Selama satu tahun bekerja, saat itu ia bisa memberikan profit kepada perusahaan. Kala itu senilai Rp 10 miliar lebih. Ide-ide Bahlil pun terbilang out of the box.

Terdorong keinginannya menjadi pengusaha, Bahlil pun nekat keluar dari perusahaan, meskipun gajinya saat itu cukup untuk hidup yang lebih baik. Demi mimpinya yang lebih besar, ia lepaskan segala fasilitas yang ia dapatkan sebagai karyawan. Setelah keluar kerja, Bahlil pun merumuskan konsep membangun perusahaan konsultan dan teknologi informasi yang kemudian ia ajukan kepada investor kenalannya yang ada di Jakarta. Konsep itu ia kerjakan sendiri.

“Waktu itu perusahaan mau dibangun apabila ada konsep. Saya ditunjuk untuk jadi direktur di perusahaan tersebut. Karena perusahaan baru dibangun, dan ide dasarnya dari saya, proposal FS-nya (studi kelayakan) itu saya sendiri buat dengan cara, ya mulai dari nol. Konsepnya diterima, setelah itu baru diajuin, punya duit,” kata Bahlil.

Di perusahaan yang ia rintis itu, Bahlil hanya bertahan satu tahun dua bulan kemudian memutuskan keluar barisan. Padahal, saat itu gajinya sudah mencapai Rp 35 juta rupiah per bulan. Bahlil pun melanjutkan mimpinya untuk membangun perusahaannya sendiri. Jatuh bangun tentu saja kerap ia lalui. Bahkan kembali ke titik minus lagi.

“Banyak teman yang bilang saya gila, termasuk pacar yang sekarang jadi istri saya. Dulu (kami) hampir putus gara-gara saya jadi gembel lagi. Hidup saya sudah aman nyaman, kok bisa mengambil risiko yang pada akhirnya jatuh lagi,” kata Bahlil.

Namun, Bahlil tak pernah menyerah. Tahun 2013, Pemilik PT Rifa Capital ini bergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Singkat kata, seiring kerja keras yang ia lakukan, perusahaannya pun kian berkembang di beberapa bidang. Kini ia memiliki beberapa perusahaan. Ia tercatat memiliki beberapa perusahaan di sektor perkebunan, properti, transportasi, pertambangan, dan konstruksi. Ia juga mengusahakan 11.000 hektare tambang nikel di Halmahera Maluku Utara.

Karier Bahlil pun kian menanjak. Tahun 2015, ia terpilih menjadi Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI, hingga akhirnya diminta bergabung di Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo mewakili kalangan pengusaha dan profesional. Ia menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang kini menjelma Kementerian Investasi Republik Indonesia.

Bahlil menyadari, ia bisa menjadi pengusaha bukan karena nasab, juga bukan karena nasib. Ia memang merancang sebuah desain untuk dirinya. Desain itu menurutnya adalah gabungan antara nasab dan nasib ditambah pengetahuan akademi yang memadai. Sebab, menurut Bahlil, kompetisi di dunia entrepreuner saat ini tidak bisa hanya masuk ke konsep, tapi harus betul-betul dirancang secara dini, didesain secara dini, agar bisa dieksekusi dengan baik sesuai dengan gol yang direncanakan.

 

Lanjut baca

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca
/

Populer