Connect with us

Feature

Agar Ahli Ibadah Andal Berniaga

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

KH Marsudi Syuhud, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)/Foto: Rivan Fazry

Ia tak ingin santrinya hanya menguasai hukum ibadah. Mereka juga harus cakap dalam hukum ekonomi dan punya semangat mengembangkan diri.

Di beranda depan kediamannya di Kompleks Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, Jakarta Barat, seperti hari-hari biasanya, Selasa pagi, (9/2) kali itu KH Marsudi Syuhud tengah memberikan wejangan kepada puluhan santrinya. Para santri yang sebagian besar berstatus mahasiswa itu menyimak kajian dengan khidmat hingga kajian kitab pagi itu usai. Rintik gerimis yang membuat udara dingin menggigit tulang tak menyurutkan semangat mereka untuk ngalap berkah ilmu dari sang kiai. Hari itu Kiai Marsudi menyarikan isi Kitab Quwatul Taghyir yang menjabarkan tentang kekuatan perubahan, bagaimana mengubah seseorang dari zero menjadi hero.

Gaya keseharian pria yang kini menjabat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu tak jauh beda dengan ketika tampil di layar kaca atau di forum-forum publik. Hanya saja, jika saat tampil di publik ia sering mengenakan setelan jas, pagi itu ia mengenakan kemeja dan sarung sederhana. Gaya bicara pria kelahiran Kebumen 7 Februari 1964 itu tegas dan blak-blakan.

Sebelum menjadi pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, masa remaja Kiai Marsudi pun dihabiskan untuk menimba ilmu di pesantren. Tepatnya di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumuddin, Cilacap, Jawa Tengah di bawah asuhan KH Mustolih Badawi. Sebagai seorang santri, Marsudi kecil selalu menjunjung tinggi ketaatannya kepada kiai dan para sesepuh yang membimbingnya. Tak pernah ia berani membantah. Termasuk ketika mendapat dhawuh dari KH Mustolih Badawi pada pertengahan tahun ‘90-an untuk ikut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke Jakarta.

Ketika itu, di bawah kepemimpinan Gus Dur, NU sedang melakukan kaderisasi. Mendapat perintah itu pun, tanpa banyak bertanya Marsudi muda hanya sendika dhawuh.

“‘Saya harus bagaimana, Kiai?’—Saya jujur (saat itu) masih bingung mau apa— ‘Sudah, pokoknya ikut dan ikuti Gus Dur ke mana pun, manut’ tegas beliau.’ ‘Inggih, Kiai,’ jawabku,” tutur Kiai Marsudi mengisahkan saat ia mendapat perintah untuk mengikuti Gus Dur ke Jakarta.

Meski masih bingung, saat itu Marsudi muda memantapkan hati mengikuti Gus Dur dalam kegiatan yang bisa dijangkaunya. Baginya, menjadi santri cukup dengan patuh, taat, dan ikuti apa petunjuk kiai. Namun demikian, menurutnya, mengikuti kiai juga dibutuhkan kecerdasan (dzuka’), dalam cerdas berpikir dan cerdas bertindak, serta cerd

as berucap. Tidak boleh bermalas-malasan, harus memiliki etos kerja yang maksimal dan inisiatif tinggi. Keberhasilan santri juga membutuhkan biaya tinggi, biaya (bulghoh) tidak hanya diartikan secara finansial, tapi ada harga yang tidak ternilai yang harus dikorbankan demi menuju kesuksesan dan tentu dengan kesabaran tinggi (isthibar) dalam bidang apa pun.

Jauh di kemudian hari, kepatuhan itu pun menjadi berkah. Kiai Marsudi tak hanya menjadi tokoh nasional yang buah pemikiran dan suaranya diperhitungkan di kalangan nasional maupun di forum internasional, tetapi juga berhasil mendirikan pesantren yang mampu mendidik generasi muda Indonesia.

“Sebagai santri, sesungguhnya semuanya yang tampak hari ini karena wasilah nderek dawuh Kiai Mustolih Badawi dan ikut Gus Dur dalam waktu yang tidak pendek,” kata Kiai Marsudi.

Mengenalkan ekonomi

Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah yang kami kunjungi berlokasi di Kedoya Duri, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ini adalah salah satu dari beberapa pesantren yang didirikan Kiai Marsudi di beberapa daerah. Pesantren ini diperuntukkan bagi para mahasiswa. Di lingkungan pesantren itu juga berdiri kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).

Meski berdiri di tengah perkotaan, Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah tetap layaknya pesantren Nahdlatul Ulama pada umumnya. Atmosfer budaya dan karakter santri yang menjunjung tinggi kesantunan dan intelektual tetap terjaga. Memang demikianlah seharusnya pesantren. Mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman, tanpa kehilangan identitas dan ciri khasnya. Seperti kata Gus Dur dalam tulisannya di majalah Nuansa (1984), di dalam arus perubahan, pesantren dengan segala keunikan yang dimilikinya adalah penopang berkembangnya sistem pendidikan di Indonesia. Keaslian dan kekhasan pesantren di samping sebagai khazanah tradisi budaya bangsa, juga merupakan kekuatan penyangga pilar pendidikan untuk memunculkan pemimpin bangsa yang bermoral.

Untuk cita-cita itu pulalah Pesantren Ekonomi Darul Uchwah berdiri. Di tengah arus globalisasi yang mengandalkan profesionalisme dalam mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu, manajemen pengelolaan lembaga pendidikan sesuai tuntutan zaman sangat penting. Maka Kiai Marsudi pun tak ingin santrinya hanya menguasai hukum-hukum ibadah, tetapi juga cakap dalam hukum ekonomi untuk pengembangan diri. Sebab faktanya, hukum ibadah dan hukum ekonomi bak dua sisi mata uang.

“Betapa banyak hukum ibadah untuk memperkuat hukum ekonomi. Ibadah memenuhi kebutuhan keluarga juga ekonomi. Membayar dam, bayar diyat, sedekah, wakaf, infak, itu sesungguhnya untuk memperkuat ekonomi. Sepertiga kitab fikih itu berbicara tentang ekonomi. Salat, zakat, puasa, haji, mana sih yang enggak ada hubungannya dengan ekonomi?” kata pria yang meraih gelar doktor Ekonomi dan Keuangan Islam dari Universitas Trisakti ini.

Kiai Marsudi menegaskan, di mana ada pelaksanaan ibadah, di situ ada aktivitas yang menggerakkan ekonomi. Dari ibadah salat wajib, misalnya, di situ betapa besar Allah menanamkan aktivitas ekonomi. Mulai dari perkara menyediakan peranti untuk menutup aurat hingga kelengkapan lainnya. Semua melibatkan aktivitas ekonomi yang berdampak bagi kemaslahatan masyarakat. Sayangnya, banyak umat Muslim yang kurang menyadari hal itu. Terbukti, saat ini kondisi masyarakat Muslim di dunia rata-rata masih miskin.

“Berangkat dari fakta itu maka saya mencoba untuk memberikan guidance kepada santri-santri tentang berekonomi. Tentang manajemen, cara berusaha, cara menjadi entrepreneur yang niatnya bagaimana bisa membayar pajak yang besar, membayar zakat yang besar,” tutur Kiai Marsudi.

Muslim taat pajak

Kiai Marsudi percaya, melalui pesantren yang ia pimpin, para santri yang memiliki berbagai latar belakang disiplin itu bisa membangkitkan ekonomi sesuai dengan bidang keilmuan mereka.

“Ketika santri-santri bisa mengapitalisasi kemampuannya, itulah sesungguhnya yang akan menjadi penggerak ekonomi dan dapat nilai ekonominya. Bagi saya, tidak sekadar mengajarkan ilmu ekonominya, tetapi bagaimana mengapitalisasi kemampuan mereka,” katanya.

Sosok yang akhir tahun lalu menerima penghargaan Moeslim Choice Award ini memang memimpikan umat Islam sebagai pembayar pajak terbesar di negeri ini. Seperti juga sering dikatakan pada forum-forum publik dan media, Kiai Marsudi menekankan pentingnya literasi pajak bagi masyarakat, termasuk Nahdliyin (warga NU). Menurut Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, pajak sangat penting untuk membiayai pembangunan. Persoalan pajak juga menyangkut pertumbuhan ekonomi. Ke depan, ia berharap pajak agar dapat diberlakukan secara lebih adil dengan memilih dan memilah secara cermat siapa saja Wajib Pajak dan pihak mana yang bebas pajak. Ia bersyukur karena saat ini membayar zakat sudah bisa menjadi pengurang pajak.

“Alhamdulillah, di Indonesia, kalau orang sudah membayar zakat, administrasinya bagus, itu sudah bisa tax deductible, bisa untuk memotong pajak,” ucapnya.

Kiai Marsudi menekankan pentingnya mendidik masyarakat agar mereka memiliki ketahanan ekonomi dan menjadi warga negara yang taat pajak. Ia berharap ke depan akan lebih banyak masyarakat Indonesia yang menjadi pembayar pajak.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Feature

Menggali lagi Nilai Hanjeli

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Hanjeli yang biasanya tumbuh liar sebagai tanaman pagar disulap menjadi komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi.

Hamparan tanaman jali itu tumbuh di hamparan ladang warga Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Sukabumi yang berada di ketinggian 650 meter di atas permukaan laut (mdpl). Helai daun-daun tumbuhan biji-bijian atau serealia tropika dari suku padi-padian bernama latin Coix lacryma-jobi itu sekilas mirip daun jagung. Warga Sukabumi mengenal tanaman itu sebagai hanjeli. Di Jawa tumbuhan ini di kenal dengan tanaman jali. Orang Betawi mengabadikan tanaman ini dalam lagu gambang kromong “Jali-Jali”.

Hanjeli memiliki beberapa varietas. Ada yang bisa dikonsumsi sebagai pengganti makanan pokok sumber karbohidrat juga sebagai obat. Varietas ini masuk dalam golongan Coix lacryma-jobi varietas ma-yuen. Sementara Coix lacryma-jobi varietas lacryma-jobi memiliki cangkang (pseudokarpium) keras sehingga tidak dapat dikonsumsi. Jenis ini biasanya hanya digunakan sebagai manik-manik atau perhiasan.

Tanaman jali sejatinya sudah tumbuh di Nusantara sejak zaman dulu. Dahulu, masyarakat mengolah jali menjadi berbagai makanan misalnya nasi, bubur, aneka macam kue dan makanan yang difermentasi seperti tape. Di dunia internasional, tanaman ini bahkan dikenal sebagai Chinese pearl wheat (gandum mutiara Cina). Namun, kini sang mutiara itu terabaikan, bahkan keberadaannya nyaris terlupakan. Ia lebih banyak tumbuh liar sebagai tanaman pagar atau sekadar untuk pakan ternak. Padahal, tanaman ini potensial sebagai bahan pangan pengganti atau diversifikasi.

Adalah Asep Hidayat Mustopa, pemuda asli Waluran, Sukabumi yang kini perlahan berhasil mengembalikan kejayaan tanaman hanjeli. Semua bermula sekitar tahun 2010 silam. Ketika itu ia sepulang dari Arab Saudi sebagai pekerja migran dan telah memantapkan diri untuk menetap di kampung halaman. Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan petani, Asep merasa prihatin melihat tanaman hanjeli nyaris tak ada yang memanfaatkan. Padahal, dari literasi yang ia baca, tanaman itu kaya akan nutrisi.

“Hari ini hanjeli sudah mulai langka di Indonesia. Makanya kami coba mengonservasikan biar tidak punah. Jangan sampai teman-teman tahunya hanya dari Google saja. Alhamdulillah, lambat laun jadi banyak yang mengenal juga,” tutur Asep kepada Majalah Pajak akhir Januari lalu.

Didorong rasa penasaran, Asep pun mulai riset kecil-kecilan. Akhirnya ia pun semakin tahu bahwa biji hanjeli memiliki kandungan nutrisi tinggi. Kandungan protein dan lemak bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan beras dan gandum. Selain itu, tanaman ini dari ujung akar hingga daunnya berkhasiat sebagai herbal.

“Kandungan gizi hanjeli dua kali lipat dari beras. Proteinnya hampir dua kali lipat. Kaya serat dan rendah karbo. Artinya, hanjeli ini cocok untuk yang diet, juga untuk anak-anak stunting,” terang pria kelahiran Sukabumi 1 Desember 1987 itu.

Untuk memperdalam pengetahuannya, Asep yang saat menjadi pekerja migran juga pernah kuliah di Arab Saudi ini pun menggandeng perguruan-perguruan tinggi di Jawa Barat untuk memperdalam risetnya. Tiga tahun lamanya Asep mencoba mengenal karakter hanjeli. Ia berkolaborasi dengan Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia Sukabumi, dan Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Dibantu kampus, ia juga melakukan kajian kondisi lahan yang cocok untuk ditanami hanjeli. “Hanjeli ini salah satu tanaman yang bisa mengembalikan unsur hara menjadi netral lagi atau bioremediasi,” lanjut Asep.

Asep juga menjelaskan, akar serabut hanjeli yang kokoh juga bermanfaat untuk menahan longsor. Dari berbagai fakta itu, Asep pun bertekad membudidayakan hanjeli dengan serius. Apalagi karakter hanjeli yang bisa tumbuh di ketinggian 100–1200 mdpl cocok ditanam di daerahnya yang memiliki ketinggian 650 mdpl.

Sejak itu Asep menanami ladangnya dengan hanjeli. Dua tahun berjalan, Asep mulai menuai untung berbisnis hanjeli. Kala itu keuntungan menjual biji hanjeli bisa mencapai Rp 3 juta per bulan.

Menggerakkan warga

Saat biji hanjeli sudah terbukti menghasilkan nilai ekonomi lebih baik, Asep tergerak untuk mengajak warga. Apalagi ia melihat warga di kampung halamannya masih belum berkembang. Kaum lelaki lebih banyak mengandalkan pekerjaan sebagai penambang emas ilegal, sementara para ibu menjadi pemukul bongkahan batuan tambang. Lahan-lahan pertanian mereka tidak terurus. Asep pun mengajak warga yang memiliki lahan tidur untuk bertanam hanjeli.

Berkat ketekunannya, hanjeli kini tumbuh subur di Sukabumi. Asep pun berani menawar gabah hanjeli Rp 4.000–Rp 5.000 per kilogram, lebih mahal ketimbang padi huma, Rp 3.000–Rp 3.500 per kg untuk dijual lagi. Satu pak hanjeli kemasan 250 gram dipasarkan Asep seharga Rp 10.000 per pak dengan sasaran konsumen Bandung, Jakarta dan sekitarnya, baik secara luring maupun daring.

“Dulu di kampung kami hanjeli harganya per kilo enggak sampai 2000 rupiah. Itu pun jarang yang mau membeli. Tetapi setelah kami create potensinya luar biasa. Harganya sampai hampir tiga kali lipat,” kata Asep.

Untuk meningkatkan nilai ekonomi warga, biji hanjeli kini tak hanya dijual ke luar daerah dalam bentuk beras, tetapi diolah menjadi berbagai macam produk turunan. Mulai dari tepung hanjeli, produk jadi seperti kue, dodol hanjeli, rangginang dan banyak macam lagi. Asep juga menggerakkan warga dengan memperkenalkan program yang ia sebut pirus, akronim dari pipir imah diurus atau memanfaatkan pekarangan sekitar rumah sebagai perladangan sederhana untuk meningkatkan ketahanan pangan desa.

Setelah hanjeli kian populer di kampung halaman dan desa-desa sekitar, Asep pun mengembangkan konsep agrowisata berbasis komunitas atau integrated tourism farming (ITF) di Desa Waluran dengan hanjeli sebagai ikonnya. Di sana mereka bisa belajar mengenal dan mengolah anjeli, sembari menginap di homestay yang disediakan oleh warga setempat.

“Kampung kami dibuat menjadi kampung wisata edukasi khusus budidaya dan olahan anjeli, dari hulu hingga hilir. Dari hulu, wisatawan bisa tahu mulai dari cara tanam, perawatan, cara panen—proses setelah panen, kan, ditumbuk pakai lesung juga. Nah, ini kami kemas dalam sajian wisata. Begitu juga produk olahannya,” jelas Asep.

Berkat ketekunan kolektif itu, kini Desa Waluran itu telah masuk sebagai bagian dari Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu yang ditetapkan UNESCO pada 2018 lalu. Kehidupan masyarakatnya pun kian mandiri. Alih-alih kembali menjadi pekerja migran, kini mereka lebih tertarik menetap di kampung sendiri sebagai menjadi pengusaha mandiri.

“Masyarakat yang kami ajak rata-rata yang purnamigran atau TKI di luar negeri. Yang bisa bahasa asing—Inggris, Mandarin, Arab, misalnya—kami ajak kolaborasi untuk menjadi pemandu wisatawan mancanegara,” kata pria yang mendapat penghargaan sebagai juara pertama Pelopor Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat dan Sukabumi Award 2019 sebagai pelaku usaha industri menengah berprestasi itu.

Di masa pandemi Covid-19 ini, warga bisa bertahan dengan memanfaatkan semua yang ditanam di sekitar pekarangan rumah. Mereka kian menghargai alam dengan memberdayakannya semaksimal mungkin. Tidak ada lagi lahan yang dibiarkan terbengkalai.

Lanjut baca

Feature

Mukhalis Buah Langka Kalimantan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Mohammad Hanif Wicaksono

Setelah menemukan ratusan buah-buahan langka di rimba Kalsel, Hanif membangun desa plasma nutfah untuk kesejahteraan masyarakat lokal.

Agaknya sedikit dari kita mengenal buah limpato atau kesusu. Buah bernama latin Prainea Limpato memang sukar ditemui, bahkan di daerah asalnya di Kalimantan Selatan (Kalsel). Bentuk limpato unik, dalam satu tangkai berkumpul buah sebesar jari telunjuk yang muncul di atas permukaan mirip kulit Artocarpus heterophyllus (nangka). Buah ini berwarna hijau tua atau oranye, sementara isinya kuning bertekstur serupa Artocarpus integer (cempedak).

Namun, beberapa tahun ke belakang, limpato mulai dikenal masyarakat Kalimantan semenjak Mohammad Hanif Wicaksono membudidayakan sekaligus memamerkannya di Festival Buah Nusantara di Desa Marajai, Kalsel. Tak hanya limpato, Hanif juga mengenalkan ratusan buah khas lainnya yang ia dapat dari rimba Borneo. Aktivitas itu semakin menjadi sorotan setelah ia meraih apresiasi bidang lingkungan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2018.

“Di pasar-pasar atau swalayan, buah-buahnya impor, bahkan anggur hijau itu impor. Padahal, buah kita punya potensi yang luar biasa, belum termanfaatkan, belum dikenal, tapi keburu hilang. Daripada keburu hilang, karena saya punya passion di sini, saya pelajari buah-buah langka itu secara autodidak,” tutur Hanif Majalah Pajak melalui telepon, Selasa Malam (1/12).

Ketertarikannya menyelisik dunia botani bermula ketika ia hijrah dari Jawa Timur ke Kalsel pada 2011 silam. Perpindahan itu sekaligus momentum baginya menjemput nasib sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kabupaten Balangan, Kalsel.

Singkat kisah, Hanif menemukan buah-buahan eksentrik di salah satu pasar tradisional di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel. Tak hanya bentuknya yang unik, rasa dan tekstur buah juga autentik. Beberapa diantaranya adalah limpato dan lahong—bahasa Kalimantan (durian berkulit merah) yang punya cita rasa seperti umbi atau minyak telon. Anehnya lagi, buah-buahan itu hanya ada beberapa hari saja di pasar.

“Bayangkan anehnya. Limpato, kan, keluarga nangka, tapi bentuknya bukan kaya nangka, enggak karu-karuan. Dulu orang mengira buah yang tidak bisa dimakan, dulu enggak ada yang jual. Di kita enggak ada yang peduli. Buahnya rasanya campuran jeruk sama nanas, asam manis—seger,” ungkap Hanif.

Rasa penasaran pria kelahiran Blitar, 18 Agustus 1983 ini semakin membuncah. Ia lantas melakukan observasi mandiri dengan menghimpun informasi ke pedagang pasar maupun masyarakat mengenai asal muasal buah-buahan langka khas Borneo itu.

“Pedagang tidak ada yang tahu dari mana durian itu didapatkan, anehnya gitu. Awalnya saya mulai beli buah yang aneh-aneh, bijinya saya tanam,” kisahnya.

Sembari mengemban tugas sebagai penyuluh program keluarga berencana (KB), alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini tetap mengumpulkan informasi tentang aneka buah lokal di sana. Rasa ingin tahunya juga dipicu oleh kondisi masyarakat yang mayoritas tergolong miskin. Ia menilai buah-buahan di Kalsel harus dikembangkan karena bisa menjadi roda kesejahteraan.

Keluar-masuk rimba

Hingga akhirnya pelbagai data dan informasi menyimpulkan, bahwa buah-buahan langka berasal dari hutan sekitar Kalsel. Maka, tanpa pikir panjang, ia mulai menelusuri rimba Pegunungan Meretus setiap akhir pekan.

“Ternyata kenapa di sebut langka, karena itu tanaman hutan. Sedangkan, di Kalsel, 50 persen hutannya sudah alih fungsi jadi berubah jadi tambang. Itu, kan, mengancam keberadaan plasma nutfah kita—jadi banyak yang hilang. Bahkan satu spesies cuma ketemu satu atau dua, indukan saja. Bahkan saya ketemu satu pohon, tahun depannya enggak ada lagi.”

Di tahun pertama petualangannya, Hanif menemukan tanaman langka, antara lain Hambawang (semacam mangga, tetapi berbentuk bulat dan berwarna hijau pekat), lahung, borassodendron borneense (bendang), limpato. Biasanya identifikasi nama buah berdasarkan hasil analisis dari majalah Trubus atau mengecek ke situs herbarium internasional. Ia juga kerap memastikannya kepada Mochamad Reza Titawinata dari Taman Buah Mekarsari dan plant community—perkumpulan profesional ilmu taksonomi.

Kerap kali aktivitasnya itu dilakukan sendiri dengan persiapan alat yang memadai. Pengalaman menjelajahi rimba tentu penuh tantangan. Dia pernah tersesat selama beberapa hari dan pernah mati rasa selama tiga hari akibat mencicip buah asing di hutan.

“Semakin keluar masuk hutan, semakin banyak spesies buah yang didapat. Itu pun banyak spesies yang belum dikenal. Bahkan masyarakat lokal belum memanfaatkan. Contoh, limpato. Karena rasanya asam manis, pastinya kaya vitamin C, tapi belum ada penelitian lebih lanjut.”

Ironisnya, limpato justru menjadi primadona di beberapa negara. Tempo dulu, pemerhati tanaman langka asal Hawaii datang untuk mengambil ribuan biji lampato ke negaranya. Komunitas serupa asal Florida pun memboyong biji Mangifera casturi (mangga kasturi) dan berhasil membudidayakannya. Padahal, di Indonesia mangga kasturi sudah masuk dalam tanaman langka. Hanif pernah pula menolak ajakan peneliti asal Amerika Serikat dan Srilanka untuk mengembangkan tanaman buah langka khas Kalimantan di negara mereka.

“Banyak teman-teman luar negeri sengaja ambil bijinya karena yang dicari sumber daya genetiknya. Kita punya Keragaman genetik. Misalnya durian, ada yang dagingnya merah, kulitnya merah, segala macam. Artinya, bisa disilang, sehingga menghasilkan durian yang baru. Masalahnya, kita di Indonesia enggak ada yang melakukan itu. Pemerintah enggak concern karena memang membutuhkan waktu yang sangat lama (budidaya tanaman langka) dan bukan kebijakan yang populis.”

Sejatinya, menurut Hanif, mayoritas tanaman buah memang berasal dari hutan. Kemudian selama puluhan bahkan ratusan tahun terjadi perbaikan genetik.

Kini, sudah sekitar 160 tanaman buah lokal yang berhasil ia budidayakan dan awalnya dibagi secara gratis ke masyarakat sekitar, kebun raya, maupun instansi lain. Hasil dokumentasi ratusan buah-buahan langka itu pun ia tuangkan dalam buku berjudul Potret Buah Nusantara Masa Kini dan Buah Hutan Kalimantan seri I-VI.

Desa plasma nutfah

Suatu hari, pada tahun 2018, Hanif dinas di kaki pegunungan Meratus, Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel. Di sana ia menjumpai banyak keluarga prasejahtera. Kondisi itu memantik Hanif mengaplikasikan mimpinya, yaitu membuat desa plasma nutfah. Konsep pemberdayaan meliputi pembudidayaan tanaman buah lokal dan anggrek, agrowisata, dan pengembangan ecoprint—teknik menghasilkan kain dari bahan alami. Program itu belakangan dinamakan kelompok usaha Tunas Meratus.

“Jadi, bagaimana sumber daya alam itu bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan mereka, tapi kelestariannya tetap terjaga,” ujar suami dari Dewi Ratna Hasanah ini.

Agar kegiatan masyarakat desa semakin optimal, ia membuat rumah pembibitan seluas 100 meter. Dana pembangunan diperoleh dari hadiah kemenangan Hanif meraih SATU Indonesia Awards 2018. Apresiasi itu turut memacu Hanif menghelat Festival Buah Nusantara Marajai di awal 2019. Acara itu berhasil menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Marajai itu di ujung kabupaten, tidak ada yang kenal, kita jadikan desa plasma nutfah, akhirnya lintas sektor mau masuk. Bahkan, swasta masuk. Pemerintah daerah, SKPD (satuan kerja perangkat daerah) jadi mau ke Marajai—jadi tahu potensi buah kita, jadi tahu ‘Oh ada jalan yang rusak,’” kata penerima Kalpataru 2019 ini.

Berkat program desa plasma nutfah 166 keluarga bisa hidup lebih baik. Harga biji atau tunas limpato sekarang sekitar Rp 60 ribu, sementara buahnya Rp 20 ribu. Kini sudah banyak perusahaan di Jakarta memesan tanaman buah dari kelompok usaha Tunas Meratus.

Ia berharap kecintaannya pada tumbuhan buah lokal dapat lebih dimanfaatkan masyarakat luas melalui arboretum—semacam kebun raya untuk penelitian maupun wisata.

 

Lanjut baca

Feature

Melukis, Rekreasi Lahir-Batin

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. Pribadi/Istimewa

Di atas selembar kanvas, ia menuangkan imajinasi dan kreativitas. Baginya, melukis adalah sarana rekreasi batin dan badan.

 

Usai melakukan wawancara melalui aplikasi virtual dengan Majalah Pajak, Didik Sasono Setyadi mengirimkan foto sejumlah lukisan cat akrilik dan cat air yang pernah ia torehkan di atas lembaran kanvas. Meski dikirim dalam bentuk digital, detail komposisi warna dan goresan cat lukisan berciri impresionis itu masih sangat memukau mata. Tentu saja nuansanya akan jauh berbeda dengan jika bisa menikmati lukisan aslinya. Sayangnya, pandemi Covid-19 masih membuat banyak orang terpaksa menunda sua.

Lukisan yang dikirim Didik ada beberapa tema. Ada lukisan rumpun bunga, lukisan keindahan alam hingga gambaran lingkungan pengeboran minyak bumi. Lukisan yang disebut terakhir ini barangkali terinspirasi dari keseharian Didik di lingkup pekerjaan yang selama ini ia tekuni. Maklum, pria yang lahir di Nganjuk, Jawa Timur 19 Januari 1967 ini sehari-hari bekerja di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Didik menjabat sebagai Kepala Divisi Kelompok Kerja Formalitas SKK Migas, sekaligus merangkap sebagai Ketua Kelompok Kerja One Door Service Policy (ODSP).

Rutinitas pekerjaan yang padat tak Membuat Didik melupakan hobinya menuangkan imajinasi dan kreativitasnya melalui selembar kanvas. Meski mengaku hanya kegiatan samben, berkat hasil corat-coret yang dilakoninya sejak 2017 lalu itu Didik pernah menggelar beberapa kali pameran lukisan di beberapa kota besar di Indonesia, Seperti Malang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Bagi Didik, melukis adalah salah satu cara untuk mengisi waktu agar lebih produktif. Sebab, hidup harus terus bergerak. Dan seni memberinya keleluasaan untuk bergerak, baik secara fisik maupun batin.

Baca Juga: Memantik Asa Pembatik Muda

“Ibarat orang naik sepeda, kalau tidak bergerak, kan, malah jatuh. Seni itu bagian dari hidup dan hidup itu harus bergerak supaya kita tidak jatuh,” ungkap Didik kepada Majalah Pajak pada pertengahan September lalu.

Lukisan buatan Didik banyak diapresiasi dan dipesan orang. Meski demikian, lulusan terbaik Magister Hukum Pemerintahan Universitas Airlangga Surabaya tahun 2008 ini mengaku tak pernah belajar khusus untuk melukis. Barang kali, bakat yang ia miliki itu mengalir dari sang ayah yang juga punya hobi melukis.

“Bapak saya suka corat-coret realis—gambar wajah orang, Bung Karno, gambar tokoh, atau menggambar dirinya sendiri pakai pensil dan kertas biasa. Saya juga sejak kecil sudah melakukan hal yang sama. Namun, sampai saya kuliah, kerja, belum pernah menyentuh satu kanvas pun untuk melukis. Baru tahun 2017, saya juga enggak ngerti tiba-tiba kok tertarik,” ujarnya.

Ikon kampanye Jokowi

Selain melalui media kanvas, Didik juga mengonversi karyanya itu dalam bentuk digital kemudian menuangkan lukisannya pada media fesyen, seperti pada pakaian, tas, sepatu dan lain-lain. Ia juga ia mengaplikasikan karyanya di atas media keramik atau kaca.

“Semua itu saya memperlakukannya sebagai kreasi. Tapi salah seorang rekan saya, dosen di bidang seni sastra mengatakan, kalau saya menciptakan kreasi seni itu sebenarnya saya sedang berekreasi, bukan kreasi—karena kreasi saya sebagai profesional di dunia pekerjaan saya (di SKK Migas)—dan saya menikmati itu karena memang itu rekreasi, ” tutur pria yang kini tengah menempuh program doktoral bidang Ilmu Pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri ini.

Peminat karya Didik, selain kolega adalah pejabat negara. Bahkan salah satu karya Didik pernah digunakan sebagai ikon kampanye para Pendukung Jokowi di Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Alumni Jatim (FAJ) 01 saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) maju pada pemilihan presiden periode kedua pada Februari 2019 lalu.

Sekadar menyegarkan ingatan, Kala itu FAJ 01 memberikan kepada Jokowi sebuah jaket rompi berbahan denim yang bermotif lukisan Reog dan Tugu Pahlawan. Lukisan itu ternyata tak lain adalah salah satu karya Didik.

Kita belum memiliki rasa kebersamaan untuk saling membantu dan mendukung antara seni, industri, pemerintah

“Waktu itu rekan kuliah saya meminta bantuan untuk saya membuatkan sesuatu untuk Pak Jokowi yang akan berkampanye Pilpres Periode Kedua di Surabaya. Akhirnya, saya bikinkan rompi ikonik dengan Surabaya dan Jawa Timur, yaitu sebelah kiri gambar patung Suro dan Boyo, sebelah kanan gambar “Reog Ponorogo. Belakangnya bertuliskan Cak Jokowi,” kenang Didik.

Baca Juga: Lewat Seni Kepatuhan Tergali

Kawinkan seni dan teknologi

Kecintaan Didik pada dunia seni juga mengantarkannya pada sebuah gagasan untuk mengawinkan seni dan teknologi. Artinya, seni tidak hanya sebatas pajangan dalam sebingkai kanvas, tapi bisa melalui media yang digunakan sehari-hari. Entah itu pakaian, aksesori, bahkan perlengkapan rumah tangga semisal bantal. Idenya sederhana, karya seni yang dikonversi menjadi data digital dan dicetak pada media-media tersebut. Dengan cara itu, ia berharap seni bisa dinikmati lebih luas, inklusif dan lebih terjangkau.

“Lukisan itu kalau diaplikasikan menjadi motif pakaian, motif untuk jok, kursi, macam-macam banyak sekali sebenarnya. Tapi tampaknya belum ada yang mengarah ke sana untuk betul-betul secara massal. Bahkan, saya melihat di hotel-hotel itu yang ketika saya menginap di seluruh Indonesia, keliling itu, hanya hotel tertentu saja yang betul-betul memasang lukisan asli. Sementara di kamar itu reproduksi lukisan dari luar negeri. Kenapa enggak dari kita?”

Mimpi Didik itu sebenarnya bukan untuk dirinya, melainkan gagasan untuk memajukan pelaku seni di Indonesia agar karya mereka dikenal di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Didik berpikir, andai saja setiap pengelola properti di Indonesia, mulai dari hotel, perkantoran, dan lain-lain mau berkomitmen menggunakan karya seni hasil karya anak bangsa, maka seni Indonesia akan lebih dikenal. Dengan cara itu pula, mereka juga telah memajukan para pelaku seni di tanah air, baik secara ekonomi maupun apresiasi.

“Hotel di Indonesia itu ribuan jumlahnya. Kalau dari sekian ribu itu mempunyai komitmen untuk memasang atau memesan lukisan dari seniman Indonesia itu kan sudah suatu pasar yang besar. Di setiap kamar itu dikasih satu lukisan—ya enggak usah gede-gede, harganya enggak usah mahal-mahal. Di Indonesia ini ada beribu-ribu kamar yang bisa dipasangi lukisan. Ini, kan, sebenarnya peluang,” kata Didik.

Untuk mewujudkan gagasan itu, tahun lalu Didik mulai membangun merek yang diberi nama Artsenic-29. Artsenic-29 mencoba menuangkan hasil seni lukis ke dalam berbagai media. Upaya ini memang sedang dimulai, mengingat Didik masih mengemban tugasnya sebagai pegawai SKK Migas. Namun, suatu saat punya impian untuk bersinergi dengan pelaku seni di Indonesia agar masyarakat Indonesia lebih mengenal karya seni anak bangsa sendiri dan seni juga menjadi alat untuk menggerakkan ekonomi.

“Kalau kita lihat dari ujung Aceh sampai Papua, produk seni kita itu luar biasa macam-macam, bagus-bagus lagi. Tapi kita belum memiliki rasa kebersamaan untuk saling membantu dan mendukung antara seni, industri, pemerintah. Ini harusnya bareng-bareng mengembangkan hal yang sudah ada—kadang-kadang kita malah mengembangkan hal yang mengada-ada. Kemudian dibina, di cari pasarnya,” pungkas Didik.

Selain menekuni seni lukis, Didik juga dikenal produktif menulis buku dan artikel di bidang pemerintahan, hukum, sosial, politik, budaya dan tulisan terkait dengan sumber daya alam, khususnya Migas. Di bidang sastra, Didik juga gemar membuat puisi dan telah ia terbitkan dalam buku antologi puisi. Berikut nukilan bait puisi pada salah satu karya Didik berjudul “Purnama dan Bayu”.

Baca Juga: Kebudayaan itu Investasi, bukan Biaya

Aku tak mampu merekayasa bulan untuk hibahkan purnamanya

Pada hati yang berbalut kabut di siang dan malam

 

Aku tak mampu ajak sang Bayu berembus ikuti arah kemauanku

Apalagi untuk usir terbangkan debu-debu kering yang mengubur batinmu

 

Karena aku hanya mampu basuh telapak kakimu

Sedikit…, ya…, hanya sedikit sekali…, bersihkan tanah yang menempel di sana dan hampir masuk ke pori-pori kulitmu.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved