Connect with us

Health

Ada Korona, Perkuat Daya Tahan Anda

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Virus korona belum ditemukan vaksinnya. Namun jangan panik. Perilaku hidup bersih dan sehat akan membentengi Anda.

Belakangan ini perhatian dunia tertuju pada wabah virus mematikan bernama coronavirus (nCoV) atau virus korona yang sejak akhir tahun 2019 lalu muncul di Cina. Ganasnya penyebaran virus itu membuat Kota wuhan terpaksa harus diisolasi.

Virus korona menjadi ancaman baru bagi pemerintah Cina karena sudah banyak memakan korban jiwa. Sebanyak 30 dari 31 provinsi negeri Tirai Bambu itu telah terpapar virus korona. Kini virus misterius itu bahkan telah menyebar hingga ke 16 negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Hong Kong, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan lainnya.

Melihat situasi itu tentu kita wajib waspada. Bukan tidak mungkin virus itu juga masuk ke Indonesia Untungnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) cukup sigap menyikapi fenomena ini. Pada 7 Januari 2020 lalu, melalui surat dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kemenkes sudah mengaktifkan lagi 100 rumah sakit rujukan Flu Burung. Pengaktifan rumah sakit dilakukan untuk meng-update kemampuan, logistik,  dan standar operasional untuk mengantisipasi kasus nCoV.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengeluarkan rekomendasi agar seluruh negara, melakukan pembatasan keluar masuk wilayah di sekitar Wuhan. WHO juga mengharuskan pemerintah Tiongkok melakukan screening ketat kepada warganya melalui pemeriksaan kesehatan untuk memastikan tidak ada yang menderita, dan meminta Tiongkok memeriksa ketat warganya yang hendak masuk ke negara lain.

“Virus korona dapat menyerang siapa saja, tetapi risiko lebih besar terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh lemah.”

Kerabat MERS dan SARS

Pada awalnya, virus korona merupakan virus umum yang tidak berbahaya. Virus ini menginfeksi hidung, sinus, dan tenggorokan bagian atas. Akan tetapi, infeksi beberapa virus ini bisa berdampak serius kepada penderita. Virus corona memiliki kekerabatan dekat dengan Middle East respiratory syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Akhir Januari 2020, WHO mengidentifikasi munculnya virus korona jenis di Cina, yang kini diberi nama novel coronavirus (2019-nCoV).

Gejala infeksi virus ini mirip  dengan infeksi saluran napas lainnya. Biasanya pasien akan menderita flu dan batuk. Selanjutnya, ia akan demam tinggi, sekitar 38 derajat Celsius dan cepat naik dengan sifat demam yang sukar turun. Tahap selanjutnya, batuk-batuk dan nyeri tenggorokan. Batuk biasanya kering dan terjadi dua sampai tujuh hari setelah terjadinya demam. Pada orang dewasa paling sering terkena nyeri tenggorokan disertai nyeri kepala dan nyeri otot. Hal gawat yang mungkin terjadi adalah pneumonia, bronkitis, gagal ginjal, hingga kematian.

Virus korona dapat menyerang siapa saja, tetapi risiko lebih besar terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, misal anak kecil dan orangtua. Serangan virus pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah bisa mengakibatkan infeksi saluran pernapasan bawah yang lebih serius. Sedangkan pada anak-anak bisa terjadi manifestasi yang serius termasuk sesak napas dan diare.

Jangan panik

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi fenomena virus ini. Menteri Kesehatan RI dr. Terawan Agus Putranto meminta masyarakat Indonesia untuk menjaga diri sendiri dengan berperilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan beraktivitas.

Selain itu, hindari rencana bepergian ke daerah yang terjangkit virus itu khususnya Cina. Selalu gunakan masker saat bepergian keluar rumah, hindari menyentuh mata, mulut, atau hidung Anda dengan tangan yang tidak bersih, dan yang terpenting jika merasakan gejala seperti flu, segera periksakan diri Anda.

Selain hal itu, seperti dikatakan pakar mikrobiologi Universitas Hong Kong Dr. Yuen Kwok-yung, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih. Sebab, virus ini memasuki tubuh melalui tenggorokan, maka usahakan agar tenggorokan tetap lembap. Orang dewasa disarankan minum air hangat 50 sampai 80 cc sekali minum; anak-anak 30 sampai 50 cc sekali minum.-Heru Yulianto

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Health

Mengenal dan Mencegah Gagal Ginjal

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok Pribadi

Jika tidak ditangani dengan benar, gagal ginjal kronis dapat mengancam jiwa. Bagaimana mencegahnya?

Gagal ginjal kronis (GGK) atau penyakit ginjal kronis (PGK) menjadi ancaman serius bagi dunia kesehatan. Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menunjukkan, persentase PGK masih tinggi, yaitu sebesar 3,8 persen atau meningkat 1,8 persen dari tahun 2013. Sementara itu, penelitian Global Burden of Disease (GDB) 2010 menunjukkan di tahun 1990, PGK berada di urutan ke-27 penyebab kematian dan meningkat menjadi ke-18 pada 2010.

Beban negara akibat GGK pun amat besar. Menurut BPJS Kesehatan, di tahun 2017 terdapat 3,6 juta prosedur dialisis yang menelan biaya hingga Rp 3,1 triliun—pengeluaran ketiga tertinggi setelah penyakit jantung dan kanker.

Ginjal merupakan organ yang sangat penting karena ia berfungsi menyaring darah dari sisa metabolisme tubuh dan toksin atau racun. Kepada Majalah Pajak, dokter spesialis penyakit dalam Mayapada Hospital Tangerang Ratna Juliawati menjelaskan, “Ginjal juga berfungsi untuk memproduksi urine, mengatur keseimbangan cairan tubuh, mengatur tekanan darah, sampai pada memproduksi hormon tertentu untuk merangsang pembentukan sel darah merah dan mineral tulang.”

Baca Juga: Mengenal dan Mencegah Jantung Koroner

Menurut Ratna, secara medis seseorang dapat dikatakan GGK jika ia mengalami penurunan laju filtrasi glomerulus yang menetap selama tiga bulan atau lebih. Penurunan fungsi ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari radang ginjal, infeksi ginjal, polikistik (kista di ginjal), batu ginjal, hipertensi, diabetes, hingga efek obat tertentu.

Pada stadium awal, penyakit ini tak menunjukkan gejala. Karenanya, gagal ginjal kronis disebut silent disease.

“Diam-diam”

Menurunnya fungsi ginjal dapat terjadi secara bertahap, menahun, dan bersifat permanen. Pada stadium awal, meski akan terbaca di laboratorium, penyakit ini tak menunjukkan gejala. Karenanya, ia disebut silent disease.

Tanda-tanda GGK baru muncul pada stadium lanjut, seperti badan lemas, pucat (akibat hemoglobin yang rendah), mual, muntah, nafsu makan hilang, urine sedikit dan berbusa, hingga kaki membengkak (akibat cairan yang tertimbun di dalam tubuh), dan sulit tidur.

Oleh karena itu, Dokter Ratna menyarankan masyarakat melakukan general check-up secara rutin, terutama untuk mereka yang tergolong berisiko seperti penderita hipertensi, diabetes mellitus, atau keluarga pengidap GGK.

Pada umumnya GGK tidak dapat disembuhkan, bahkan cenderung memburuk bila terlambat ditangani oleh dokter yang kompeten. Pengobatan hanya bertujuan mempertahankan fungsi ginjal yang tersisa supaya terhindar dari risiko dialisis. Selain itu, pengobatan pada GGK juga berfungsi untuk mengobati komplikasi yang timbul akibat penurunan fungsi ginjal seperti anemia, hipertensi, penyakit jantung, osteoporosis, hingga gangguan elektrolit.

Pengobatan yang biasa dijalankan pasien GGK meliputi pemberian obat-obatan pada stadium awal. Sedangkan pada gagal ginjal stadium akhir, diperlukan terapi pengganti ginjal yaitu cuci darah atau dialisis yang meliputi hemodialysis dan peritoneal dialysis. Selain dialisis, pilihan pengobatan terbaik adalah dengan melakukan transplantasi ginjal.

Baca Juga: Sehatlah, dengan Puasa Bernalar

Mencegah lebih baik

Kesemua cara pengobatan di atas membutuhkan biaya yang besar. Maka, mencegah terjadinya gagal ginjal adalah tindakan yang tepat. Dokter Ratna menegaskan, gaya hidup sehat adalah solusi tepat untuk mencegah terjadinya penyakit.

“Gaya hidup sehat yang dimaksud adalah olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, tidak mengonsumsi obat-obatan yang dapat merusak ginjal, dan yang terpenting adalah minum air putih secara cukup,” tegasnya.

Kepada penderita hipertensi dan diabetes, Dokter Ratna menyarankan mereka menjaga tekanan darah, gula darah, berat badan, dan memeriksakan kesehatan secara teratur. Sedangkan untuk pasien GGK, Dokter Ratna berpesan agar mereka menyesuaikan makanan dan minuman yang mereka konsumsi agar sesuai dengan stadium GGK. Bila perlu, berkonsultasi dengan dokter gizi.

“Pada umumnya pasien harus membatasi asupan protein. Makanan, dan minuman yang mengandung kalium dan fosfat yang tinggi,” pungkasnya.

Baca Juga: Si Langka Penyerang Balita

Lanjut baca

Health

Sehatlah, dengan Puasa Bernalar

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

 

Puasa bukan cuma urusan menahan lapar. Ia adalah momen untuk hidup lebih sehat—asalkan dilakukan dengan benar.

 

Puasa Ramadan tahun ini menjadi berbeda dari puasa sebelumnya karena harus dijalankan saat dunia sedang berperang melawan wabah COVID-19 alias virus korona. Pemerintah Indonesia menerapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan warganya membatasi kegiatan di luar rumah untuk memutus penyebaran virus. Lantas, bagaimana menjalankan puasa yang baik di musim pandemi?

Dokter dan ahli gizi dr. Tan Shot Yen mengamini bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus saja. Lebih dari itu, puasa adalah momen untuk membuat badan menjadi lebih sehat dengan cara menghentikan asupan makanan yang tidak baik, sembari melanjutkan konsumsi makanan yang baik bagi tubuh.

“Puasa itu mengajarkan kita untuk getting aware. Jadi, dengan kata lain, dengan puasa kita disadarkan, mana yang hak, mana yang batil. Diharapkan dengan puasa itu kita ngeh dengan apa yang kita makan,” ungkapnya.

Bikin awet muda

Puasa, menurut dokter Tan juga dapat membuat seseorang lebih awet muda. Sebab, pada dasarnya, saat berpuasa tubuh mengalami restriksi kalori atau pengurangan kalori.

“Untuk sajian inti, pilih karbohidrat nonrafinasi seperti nasi merah, ubi, jagung, singkong, kentang, kimpul, ganyong, dan lain-lain yang banyak di negeri kita.”

Pengurangan kalori akan mengaktifkan gen sirtuin yang terdapat dalam mitokondria. Mitokondria adalah organel (bagian di dalam sel yang berfungsi sebagai organ) tempat berlangsungnya fungsi pernapasan sel makhluk hidup dan fungsi seluler lain, seperti metabolisme asam lemak dan penghasil energi.

Nah, sirtuin akan membuat mitokondria bekerja lebih efektif sehingga memungkinkan terjadinya perbaikan DNA dan mempertahankan telomere (bagian paling ujung dari DNA).

“Dengan adanya aktivasi dari gen sirtuin ini, maka kita bisa mencegah perpendekan telomere itu. Dengan catatan, puasanya itu puasa yang mempunyai nalar dan makan makanan yang benar,” tambahnya.

Cek isi piring

Dari segi kesehatan, barangkali sahur adalah hal pertama yang wajib diperhatikan pelaku puasa. Dokter Tan mengungkapkan, alangkah baiknya jika sahur dilakukan dengan benar dan bermutu, karena setelahnya tubuh akan menjalankan puasa selama 12 hingga 13 jam. Sementara, kita ingin tetap bugar agar bisa beraktivitas normal. Maka, anjuran pemerintah melalui kampanye Isi Piringku bisa menjadi rujukan sehat dalam menentukan porsi makanan.

Isi Piringku adalah anjuran untuk mengisi piring dengan komposisi sebagai berikut. Sayur: 2/3 dari ½ piring, buah: 1/3 dari ½ piring, makanan pokok 2/3 dari ½ piring, dan lauk pauk 1/3 dari ½ piring.

Konsumsi sayur dan buah, lebih-lebih di masa pandemi, sangat baik bagi tubuh. Sebab, sayur dan buah kaya serat. “Serat itu ada yang namanya serat larut dan tidak larut. Serat yang tidak larut ini kalau sampai ke usus besar akan menjadi prebiotik yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh,” ungkapnya.

Untuk berbuka, dokter Tan menganjurkan konsumsi air dan makanan pembuka seperti kurma untuk membangunkan pencernaan setelah seharian berpuasa. Untuk lebih variasi, es kelapa tanpa gula, siomay bumbu kacang, otak-otak bumbu kacang, dan lumpia basah isi sayur juga bisa menjadi makanan pembuka atau takjil.

Setelah bertakjil dan salat magrib, barulah tiba saatnya untuk menyantap sajian inti, yaitu separuh piring karbohidrat dan lauk pauk, separuhnya lagi sayur dan buah. Oh, iya, penting diingat, pilihlah karbohidrat nonrafinasi seperti nasi merah, ubi, jagung, singkong, kentang, kimpul, ganyong, dan lain-lain yang banyak di negeri kita.

Untuk menjaga kebugaran, lakukan olahraga ringan di rumah, sesudah berbuka puasa atau setelah salat tarawih. “Kita bisa buka di YouTube bagaimana cara kerja yoga sederhana, pilates sederhana, plank, crunch. So, aku rasa itu perlu banget. Jadi, badan kita puasa tapi enggak rentek,” ujarnya.

Menu sehat

Nah, ini bagian agak susahnya, yaitu untuk mewujudkan makanan yang sehat dan berkualitas, ternyata perlu rencana baik. Salah satunya, membuat rencana menu sepekan. Untuk itu, lebih dahulu kita harus menentukan bahan utama yang akan digunakan dalam sepekan. Kedua, diskusikan dengan semua anggota keluarga akan dimasak seperti apa agar masakan bervariatif. Ketiga, barulah belanja untuk kebutuhan sepekan.

Semua bahan makanan yang kita beli dari pasar maupun via pesanan daring jangan langsung kita masukkan ke kulkas. Lakukan persiapan seakan-akan kita mulai memasak, yakni mulai dengan cuci tangan, memilah bahan makanan, memotong ayam, membersihkan ikan, dan memotong sayur kecil-kecil. Masukkan bahan makanan tadi ke wadah-wadah yang sudah disiapkan. Setelah itu, barulah masukkan bahan ke dalam kulkas.

Bahan makanan yang sudah siap itu dimasak pada siang hari atau menjelang berbuka, sedangkan sisanya bisa dimakan saat sahur. “Jadi, sahur adalah lauknya sisa dari tadi malam. Jadi, enggak masalah diangetin,” jelasnya.

 

Lanjut baca

Health

Mengenal Parkinson dan Terapinya

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok Pribadi

Selain menggunakan terapi obat pengganti dopamin, pengobatan Parkinson juga dapat dilakukan dengan bedah “deep brain stimulation”.

Anggota tubuh Anda sering mengalami tremor atau gemetaran yang tidak terkontrol? Atau kehilangan refleks atau bahkan keseimbangan tubuh menurun? Hati-hati, bisa jadi itu gejala parkinson.

Penyakit parkinson ditemukan pertama kali oleh James Parkinson pada 1817. Menurut hasil penelitian, penyakit ini rata-rata dialami sekitar 10 hingga 25 orang dari setiap 10.000 orang. Petinju legendaris Muhammad Ali dan aktor Hollywood Michael J Fox pun mengidap penyakit ini.

Parkinson adalah salah satu penyakit degeneratif pada otak, yaitu terjadi penurunan fungsi otak yang mengatur dan memperhalus gerakan otot sehingga timbul gangguan pada gerakan otot. Dokter spesialis bedah syaraf Mayapada Hospital Bogor Muhammad Agus Aulia mengungkapkan, gejala utama penyakit ini adalah rigiditas (kekakuan), tremor, dan bradikinesia (gerakan yang lamban).

Baca Juga: Komunitas Rehabilitasi Jantung (KRJ) Jakarta Heart Center (JHC)

“Pada dasarnya, parkinson terjadi karena penurunan fungsi bagian otak yang dinamakan substansia nigra, berupa penghasil dopamin, sehingga dopamin yang dibutuhkan dalam proses gerakan otot menjadi berkurang,” ungkapnya kepada Majalah Pajak. Ia menambahkan, sebab primer terjadinya parkinson masih belum diketahui. Namun, beberapa kasus—biasanya disebut dengan parkinson sekunder—disebabkan oleh trauma kepala, stroke, tumor otak ataupun infeksi otak.

Selain gejala utama, biasanya parkinson juga disertai gejala lain seperti gangguan keseimbangan, gangguan kognisi dan depresi. Pada parkinson berat, pasien tidak dapat bergerak bebas dan hanya bisa tirah baring. “Jika kondisi ini dibiarkan lama, dikhawatirkan dapat menyebabkan komplikasi berupa infeksi paru dan timbul luka decubitus, yaitu luka karena tirah baring terlalu lama,” kata Dokter Agus.

Diagnosis

Secara statistik, parkinson didominasi oleh kaum pria. Beberapa teori mengatakan bahwa adanya estrogen pada wanita memberi efek protektif dari parkinson. Teori lain menduga karena kejadian cedera kepala ringan lebih banyak pada pria, dan ada beberapa teori genetika. Namun, teori itu belum terbukti.

Parkinson banyak dijumpai pada pasien usia di atas 50 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat dialami pada usia muda karena gaya hidup. Selain itu, jika dalam keluarga ada riwayat parkinson, maka risiko untuk menderita parkinson bisa meningkat menjadi 2–5 persen.

“Secara statistik, parkinson didominasi oleh kaum pria.”

Dalam mendiagnosis parkinson biasanya dokter akan melihat gejala dan tanda klinis utama dan dievaluasi selama beberapa waktu. Pemeriksaan penunjang lainnya berupa dilakukan magnetic resonance imaging (MRI) otak untuk mengetahui apakah ada kelainan lain pada otak yang bisa menyebabkan parkinson seperti adanya stroke, cedera otak, maupun tumor.

Baca Juga: Luncurkan Antivirus Corona, Mentan: Insyaallah Berhasil

“Beberapa alat penunjang canggih seperti Functional MRI atau MR-Spectroscopy juga dapat dilakukan pada kasus-kasus parkinson yang meragukan,” jelasnya.

Setelah dilakukan diagnosis biasanya pasien akan diberikan terapi. Terapi utama ialah obat pengganti dopamin. Jenisnya banyak dan terkadang dikombinasikan dengan obat parkinson lain untuk mencapai perbaikan klinis yang baik dengan efek samping obat paling minimal. Namun, seiring perkembangan penyakit, obat menjadi kurang efektif dan terjadi efek samping obat dari ringan sampai berat. Pada kondisi seperti ini tindakan bedah dapat menjadi pilihan.

DBS

Tindakan bedah dilakukan pada pasien parkinson jika terapi obat berjalan tidak maksimal. Tindakan yang dilakukan berupa implantasi DBS (deep brain stimulation), secara medis terbukti efektif dapat memperbaiki klinis (rigiditas, tremor dan bradikinesia) sehingga dapat memperbaiki kualitas hidupnya.

DBS ialah melakukan operasi penanaman (implantasi) alat stimulasi otak. Alat ini dapat menghasilkan stimulus listrik yang teratur dan terkendali, kemudian mengalirkan listrik melalui kabel kecil yang ditanam menuju ke bagian tertentu di otak. Ada beberapa titik di otak yang menjadi target stimulasi listrik, seperti di subthalamic nuclei, globus palidus internus, maupun di thalamus.

“Memberikan stimulasi listrik yang kontinu dan terkendali dapat memperbaiki sirkuit gerakan pada otak, sehingga gerakan otot dapat kembali atau mendekati normal. Efeknya rigiditas, tremor dan bradikinesia dapat berkurang hingga hilang, penderita dapat kembali beraktivitas normal dan memperbaiki kualitas hidupnya,” ujar Dokter Agus.

Stimulasi pada DBS yang sudah ditanam (implantasi), dapat disesuaikan dengan berat ringannya gejala klinis parkinson. Seiring berjalannya usia, biasanya juga disertai gejala klinis yang memberat. Keuntungan dengan DBS adalah stimulasi listriknya bisa diatur. Sehingga bila gejala klinisnya memberat, stimulasi listriknya dapat ditambah dan disesuaikan sehingga membaik kembali dengan efek samping minimal. Pada beberapa kasus penderita parkinson yang di tanam DBS, dosis obat parkinson yang selama ini di konsumsi, dapat dikurangi, sehingga dapat mengurangi efek samping obat.

Baca Juga: Memilih Asuransi Kesehatan

Selain DBS, tindakan bedah lain untuk parkinson menurut Dokter Agus adalah brain lesioning. Bedah ini dilakukan jika DBS tidak memungkinkan untuk dilakukan. Pada prinsipnya secara teknis operasi brain lesioning ini sama dengan DBS yakni dengan menggunakan alat stereotaktik, yaitu untuk menentukan titik target di otak (globus palidus, thalamus atau nucleus subthalamic). Kelebihan tindakan bedah ini dibanding dengan cara DBS, yakni tidak ada alat yang ditanam. Namun, kelemahannya, prosedur ini bersifat permanen, sehingga bila gejala klinisnya memberat, perbaikan tak bisa lagi dilakukan.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News2 hari lalu

“Core Tax System” Teknologi Terintegrasi untuk Memudahkan Fiskus dan Wajib Pajak

Untuk menyempurnakan reformasi perpajakan di era digital, DJP melakukan digitalisasi sistem perpajakan dengan membangun Core Tax System yang dimulai sejak...

Breaking News2 hari lalu

Pemerintah Umumkan akan Melelang 7 Seri SUN Pekan Depan

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPBR) Kementerian Keuangan RI akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam...

Breaking News3 hari lalu

Milenial Melek Investasi

Seiring pesatnya perkembangan teknologi digital khususnya dalam hal keuangan, cara berinvestasi pun mulai bergeser dan tidak lagi harus dilakukan oleh...

Breaking News3 hari lalu

Menparekraf Imbau Hotel-Restoran Disiplin Protokol Kesehatan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menekankan kepada pelaku industri hotel dan restoran agar...

Breaking News3 hari lalu

Bank Permata Andil dalam Program Penjaminan Kredit Modal Kerja Bagi UMKM

Penandatanganan kerja sama bersama Askrindo dan Jamkrindo dilakukan sebagai salah satu langkah dukungan terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional. PT Bank...

Breaking News4 hari lalu

Sandiwara Sastra Peneman Asyik Belajar di Rumah

Jelang dibukanya tahun ajaran baru pada 13 Juli mendatang, banyak sekolah—terutama di zona merah—masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau...

Breaking News5 hari lalu

Inisiatif Pemasaran Digital Mutakhir Ala Alibaba Cloud dan Unilever

  Alibaba Cloud, tulang punggung teknologi digital dan intelijen Alibaba Group – bermitra dengan Unilever, salah satu perusahaan multinasional terbesar...

Breaking News7 hari lalu

Situasi Pandemi Tidak Menurunkan Kualitas Kinerja EBA-SP SMF

Meski dalam situasi pendemi Covid-19, PT Sarana Multigriya Finansial/SMF  (Persero), kinerja keuangan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) masih...

Breaking News1 minggu lalu

Menkeu: Kami Harus Mundur 5 Tahun Terkait “Poverty Reduction” karena Pandemi

Pandemi global Covid-19 telah pada enam bulan terakhir telah menimbulkan darurat kesehatan dan perekonomian di banyak negara. Covid-19 setidaknya mempengaruhi...

Breaking News2 minggu lalu

Bank Dunia Kategorikan Indonesia Sebagai “Upper Middle Income Country”

Di tengah upaya Pemerintah dan masyarakat Indonesia berjuang mengatasi dampak pandemi Covid-19 dan melakukan pemulihan ekonomi nasional, sebuah prestasi membanggakan...

Trending