Connect with us

Health

Ada Korona, Perkuat Daya Tahan Anda

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Virus korona belum ditemukan vaksinnya. Namun jangan panik. Perilaku hidup bersih dan sehat akan membentengi Anda.

Belakangan ini perhatian dunia tertuju pada wabah virus mematikan bernama coronavirus (nCoV) atau virus korona yang sejak akhir tahun 2019 lalu muncul di Cina. Ganasnya penyebaran virus itu membuat Kota wuhan terpaksa harus diisolasi.

Virus korona menjadi ancaman baru bagi pemerintah Cina karena sudah banyak memakan korban jiwa. Sebanyak 30 dari 31 provinsi negeri Tirai Bambu itu telah terpapar virus korona. Kini virus misterius itu bahkan telah menyebar hingga ke 16 negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Hong Kong, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan lainnya.

Melihat situasi itu tentu kita wajib waspada. Bukan tidak mungkin virus itu juga masuk ke Indonesia Untungnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) cukup sigap menyikapi fenomena ini. Pada 7 Januari 2020 lalu, melalui surat dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kemenkes sudah mengaktifkan lagi 100 rumah sakit rujukan Flu Burung. Pengaktifan rumah sakit dilakukan untuk meng-update kemampuan, logistik,  dan standar operasional untuk mengantisipasi kasus nCoV.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengeluarkan rekomendasi agar seluruh negara, melakukan pembatasan keluar masuk wilayah di sekitar Wuhan. WHO juga mengharuskan pemerintah Tiongkok melakukan screening ketat kepada warganya melalui pemeriksaan kesehatan untuk memastikan tidak ada yang menderita, dan meminta Tiongkok memeriksa ketat warganya yang hendak masuk ke negara lain.

“Virus korona dapat menyerang siapa saja, tetapi risiko lebih besar terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh lemah.”

Kerabat MERS dan SARS

Pada awalnya, virus korona merupakan virus umum yang tidak berbahaya. Virus ini menginfeksi hidung, sinus, dan tenggorokan bagian atas. Akan tetapi, infeksi beberapa virus ini bisa berdampak serius kepada penderita. Virus corona memiliki kekerabatan dekat dengan Middle East respiratory syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Akhir Januari 2020, WHO mengidentifikasi munculnya virus korona jenis di Cina, yang kini diberi nama novel coronavirus (2019-nCoV).

Gejala infeksi virus ini mirip  dengan infeksi saluran napas lainnya. Biasanya pasien akan menderita flu dan batuk. Selanjutnya, ia akan demam tinggi, sekitar 38 derajat Celsius dan cepat naik dengan sifat demam yang sukar turun. Tahap selanjutnya, batuk-batuk dan nyeri tenggorokan. Batuk biasanya kering dan terjadi dua sampai tujuh hari setelah terjadinya demam. Pada orang dewasa paling sering terkena nyeri tenggorokan disertai nyeri kepala dan nyeri otot. Hal gawat yang mungkin terjadi adalah pneumonia, bronkitis, gagal ginjal, hingga kematian.

Virus korona dapat menyerang siapa saja, tetapi risiko lebih besar terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, misal anak kecil dan orangtua. Serangan virus pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah bisa mengakibatkan infeksi saluran pernapasan bawah yang lebih serius. Sedangkan pada anak-anak bisa terjadi manifestasi yang serius termasuk sesak napas dan diare.

Jangan panik

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi fenomena virus ini. Menteri Kesehatan RI dr. Terawan Agus Putranto meminta masyarakat Indonesia untuk menjaga diri sendiri dengan berperilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan beraktivitas.

Selain itu, hindari rencana bepergian ke daerah yang terjangkit virus itu khususnya Cina. Selalu gunakan masker saat bepergian keluar rumah, hindari menyentuh mata, mulut, atau hidung Anda dengan tangan yang tidak bersih, dan yang terpenting jika merasakan gejala seperti flu, segera periksakan diri Anda.

Selain hal itu, seperti dikatakan pakar mikrobiologi Universitas Hong Kong Dr. Yuen Kwok-yung, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih. Sebab, virus ini memasuki tubuh melalui tenggorokan, maka usahakan agar tenggorokan tetap lembap. Orang dewasa disarankan minum air hangat 50 sampai 80 cc sekali minum; anak-anak 30 sampai 50 cc sekali minum.-Heru Yulianto

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Health

Menangani Siksaan Anosmia

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Islustrasi

Waspada jika hidung kita tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk menghidu. Bisa jadi bukan sekadar influenza belaka, tetapi ada gangguan serius pada saraf kita.

Azizah membuat masakan favorit suaminya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Namun, ada yang aneh hari itu. Suami Azizah tidak dapat mencium bau masakan yang dihidangkan untuknya. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata suaminya mengalami flu berat sehingga tidak dapat mencium bau zat dengan maksimal.

Dalam istilah kedokteran, gejala gangguan indra penciuman seperti itu dibagi menjadi dua, yaitu anosmia dan hiposmia. Anosmia berupa kondisi seseorang yang sama sekali tidak bisa mengenal bau. Sedangkan hiposmia adalah berkurangnya sense of smell atau berkurangnya kemampuan untuk mengenali bau. Dua hal itu bisa berlangsung dari ketidakmampuan menghidu beberapa aroma tertentu atau semakin memburuk sehingga terjadi anosmia.

Indra penciuman seseorang terangsang oleh zat tertentu. Awalnya, molekul yang dilepaskan dari suatu zat—seperti aroma dari bunga harus merangsang sel-sel saraf khusus yang disebut sel olfactory atau penciuman yang terdapat di hidung bagian atas. Saraf ini memonitor asupan bauan yang dibawa udara ke dalam sistem pernapasan manusia dan sangat menentukan rasa, aroma dan palatabilitas dari makanan dan minuman. Sel-sel saraf ini kemudian mengirimkan informasi ke otak, yaitu asal bau yang khas dikenali. Apa pun yang mengganggu proses ini, seperti pilek, hidung tersumbat, atau kerusakan pada sel-sel saraf itu sendiri dapat menyebabkan hilangnya indra penciuman.

Dokter spesialis THT Mayapada Hospital Jakarta Selatan Wisanti Zarwin mengungkapkan, saraf olfaktori adalah salah satu saraf tubuh yang dapat beregenerasi, yakni setiap 60 hari mengalami perbaikan. Namun, pada sebagian orang, regenerasi ini terganggu, misalnya karena penyakit saraf, seperti parkinson dan alzheimer, khususnya pada pasien 50 tahun ke atas.

Wisanti mengungkapkan, anosmia bukanlah penyakit, melainkan baru sebuah gejala. “Jadi, kalau ada yang bilang, ‘Saya anosmia’, kita akan tanya penyakitnya apa sehingga menjadi anosmia,” ungkapnya saat ditemui Majalah Pajak di Rumah Sakit Mayapada Jakarta Selatan, pada Selasa (03/03).

Menurut Wisanti, anosmia bisa berbahaya karena ia membuat seseorang tidak dapat mendeteksi kebocoran gas dan asap, sulit untuk membedakan makanan basi, sampai memengaruhi selera makan dan psikis seseorang.

Faktor risiko

Penyebab anosmia dibagi dua. Pertama, masalah pada sistem transpor hidung, Ini berupa inflamasi (peradangan), seperti sinusitis atau flu biasa. Jika menyebabkan bengkak dan terjadi sumbatan di jalan nafas maka aliran udara tidak sampai ke atas atap hidung sehingga mengurangi kemampuan menghirup. Kemudian bisa juga dari kelainan anatomi dari hidung, seperti hidung bengkok atau mempunyai konka (inferior turbinate) yang lebar. Selain itu, alergi juga dapat menimbulkan reaksi radang yang berlebihan. Radang berlebih akan merangsang timbulnya penebalan pada mukosa. Jika mukosa menebal berarti jaringan kecil (silia) pun semakin lama semakin pendek. Maka, kemampuan silia untuk menangkap reseptor untuk rangsangan jadi berkurang.

“Pada orang yang memiliki alergi, walaupun dia tidak tersumbat, hidungnya tidak sempit dan sebagainya, tapi mukosanya tebal itu akan timbul seperti gejala anosmia atau hiposmia,” jelas Wisanti.

Penyebab anosmia yang kedua adalah kelainan pada bagian saraf. Kelainan pada saraf, bisa karena faktor genetis (bawaan sejak lahir) dan nongenetik. Faktor bawaan, misalnya tidak bisa mencium sejak lahir, sementara faktor nongenetis, misalnya cedera otak atau cedera head injury.

Pengobatan

Sebelum melakukan pengobatan, Wisanti menegaskan langkah pertama adalah dengan cara mendiagnosis terjadinya anosmia atau hiposmia, apakah ada masalah di transpor hidung atau masalah di saraf. Setelah itu barulah bisa diambil tindakan medis. Pada masalah transpor hidung, jika ada proses inflamasi radang maka dilakukan pengobatan dasar. Sedangkan kelainan anatomi seperti hidung bengkok, sempit atau polip dan sebagainya akan lakukan treatment basic.

“Nanti akan dilakukan pemeriksaan dulu. Mungkin diangkat, dilakukan rekonstruksi dari hidung sehingga pathway untuk ke arah olfaktorinya lebih lancar. Yang paling terkenal, biasanya juga dilakukan sniffing test untuk pemeriksaan hidung,” jelasnya.

Selain itu, dokter biasanya memberikan tes mencium dengan cara memberikan tes bebauan yang sehari-hari ia kenal seperti bau parfum, kopi maupun aroma bunga. Kalau dia bisa melakukan, berarti dia bisa kembali lagi seperti semula.

Sedangkan untuk kelainan dari saraf, harus dilakukan pemeriksaan intensif, apakah ada tumor, kelainan dari pembuluh darah, atau kelainan lainnya. Pemeriksaan pada kelainan saraf biasanya dilakukan dengan cara CT scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak jika tidak ada data gangguan neurologis. Kadang, program cuci hidung juga digalakkan untuk mencegah bakteri dan virus mengendap lama di hidung dan untuk membantu proses transpor pada sistem saraf.

Wisanti mengimbau, jika mempunyai keluhan kurang atau kehilangan indra penciuman disarankan untuk segera berobat agar bisa dilihat penyakit dasarnya. Ia juga menyarankan untuk mulai hidup sehat dengan cara tidak merokok, dan memakai masker saat bepergian untuk menghindari polusi, serta mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A agar terhindar dari gejala anosmia.

“Rokok makin banyak, vape makin banyak, polusi makin banyak, otomatis beban hidung juga makin banyak. Itu kan barang iritasi, asap itu menambah beban untuk reseptor pada hidung sehingga lama-lama proses regeneratifnya berkurang dan kerusakan neuron akan lebih cepat,” pungkasnya.-Heru Yulianto

Continue Reading

Health

Diabetes Mengincar Usia Muda

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Sejak beberapa tahun belakangan, diabetes mulai melanda usia muda.

Bulan ini, tepatnya 14 November adalah Hari Diabetes Dunia. Diabetes atau diabetes melitus adalah suatu penyakit metabolik yang diakibatkan oleh meningkatnya kadar glukosa atau gula darah di atas normal pada tubuh. Ini karena tubuh tidak mampu memroses glukosa, sehingga glukosa menumpuk di dalam darah.

Orang awam biasanya menyebutnya dengan penyakit kencing manis. Tak ada yang salah dengan sebutan itu. Sebab, kadar glukosa atau gula di dalam darah diabetesi (orang dengan diabetes) sangat tinggi sehingga sebagian besar glukosa ini akan dikeluarkan bersamaan dengan urine.

Diabetes dibagi menjadi empat tipe. Pertama, diabetes tipe 1, yaitu sistem daya tahan tubuh menyerang dan menghancurkan sel beta di pankreas yang memproduksi insulin. Kedua, diabetes tipe 2, yaitu sel beta di pankreas tidak memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau sel tubuh tidak merespons insulin yang diproduksi. Ketiga, diabetes gestasional, yaitu diabetes yang dialami saat kehamilan. Dan keempat, diabetes tipe lain yang dapat timbul akibat kelainan hormon, imunologi, infeksi, atau faktor genetik lainnya. Di Indonesia diabetes yang paling sering ditemukan adalah tipe 1 dan 2.

Saat ini diabetes menjadi penyakit mematikan ketiga di Indonesia setelah stroke dan jantung. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017, Indonesia menduduki peringkat keenam dunia untuk jumlah penderita diabetes terbesar, yaitu 10,3 juta jiwa. Sementara, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukkan, prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen, dari 6,9 persen di tahun 2013, (Riskesdas 2013).

Bawah 30 tahun

Penelitian juga menunjukkan, diabetes, khususnya diabetes tipe 2, dalam beberapa tahun terakhir semakin sering menyerang usia muda. Berdasarkan jurnal Epidemic Obesity and Type 2 Diabetes in Asia, masyarakat Asia terkena diabetes pada usia yang lebih muda. Peningkatan jumlah penderita diabetes di Asia juga tergolong tinggi dibandingkan Amerika Serikat. Jurnal itu juga menyebut, laju prevalensi diabetes di Korea Selatan dan Thailand meningkat tiga hingga lima kali. Data ini menunjukkan peningkatan yang lebih pesat daripada selama tiga puluh tahun terakhir. Bahkan, penderita diabetes usia 35–44 tahun di Tiongkok meningkat sebanyak 88 persen pada tahun 2000 dibandingkan tahun 1994.

Tahun 2013, Riskesdas juga menemukan bahwa 90 persen dari total kasus diabetes merupakan diabetes tipe 2, yang umumnya terjadi pada orang dewasa. Namun beberapa tahun terakhir semakin banyak ditemukan pada usia dewasa muda kurang dari 30 tahun bahkan pada anak-anak dan remaja.

Diabetes tipe 1 biasanya berasal dari riwayat keluarga atau keturunan, keadaan geografi dari suatu wilayah, faktor usia, dan faktor pemicu lainnya seperti mengonsumsi air yang mengandung natrium nitrat atau menderita penyakit kuning saat lahir.

Sedangkan untuk diabetes tipe 2, menurut penelitian, umumnya disebabkan oleh pilihan makanan dengan kandungan kadar gula yang tinggi—biasanya berasal dari makanan dan minuman kemasan. Namun, bisa juga disebabkan pola hidup yang tidak sehat, seperti kurang berolahraga. Selain itu, berat badan berlebih, gaya hidup tidak sehat, memiliki diabetes saat kehamilan, memiliki riwayat jantung atau stroke, dan memiliki kolesterol tinggi lebih dari 240 mg/Cl.

Baca Juga : Mengenal dan Mencegah Jantung Koroner

Gejala

Gejala yang sering ditemui pada penderita diabetes tipe 1 dan 2 biasanya si pasien kerap merasa haus, frekuensi buang air kecil meningkat, memiliki rasa lapar secara terus-menerus, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, mudah lelah, pandangan menjadi kabur, luka sulit sembuh, dan sering mengalami infeksi pada kulit, gusi, dan saluran kemih.

Pengobatan untuk diabetes tipe 1 biasanya pasien akan diberikan suntikan insulin atau menggunakan pompa insulin, makanan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol. Sedangkan untuk diabetes tipe 2, pasien bisa diberikan obat seperti metformin, sulfonylurea, pioglitazone, gliptin, agonis GLP-1, dan terapi insulin.

Yang patut diwaspadai, diabetes yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Mulai dari kerusakan mata, kerusakan syaraf, jantung, ginjal, luka tak kunjung sembuh, sampai pada disfungsi seksual.

Makanan sehat

Banyak yang beranggapan, makanan yang baik dikonsumsi penderita diabetes adalah beras merah. Padahal, masih banyak makanan lain yang enak, mengenyangkan, sekaligus aman. Berikut ini makanan yang baik bagi para penderita diabetes.

Pertama adalah jagung. Jagung mengandung serat pati resisten yang lebih sulit dicerna oleh tubuh. Sebuah studi mengemukakan, rutin makan jagung kaya pati resisten setiap hari dapat membantu mengendalikan gula darah lebih baik. Makanan berserat tinggi juga membuat Anda kenyang lebih lama. Kedua, ubi jalar. Selain mengenyangkan, ubi jalar juga bermanfaat baik untuk mengendalikan gula darah para diabetes dan mengandung vitamin A dan C.

Ketiga adalah gandum utuh karena biji-bijian utuh merupakan makanan paling sehat untuk para penderita diabetes. Keempat, sayuran berdaun hijau, seperti brokoli, bayam, sawi, bok choy, dan kubis. Sayuran berdaun hijau kaya vitamin, mineral, dan berbagai nutrisi esensial lainnya. Tak hanya itu. Sayuran hijau juga cenderung rendah kalori dan karbohidrat sehingga baik untuk mengendalikan gula darah.

Kelima, kacang-kacangan seperti almond, kenari, mete, kacang tanah, dan kacang merah. Tapi ada satu hal yang perlu diingat saat mengonsumsi kacang. Kacang merupakan makanan tinggi kalori sehingga jika mengonsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Sementara berat badan yang berlebih sendiri merupakan salah satu pemicu diabetes.

Makanan lainnya yang baik bagi para penderita diabetes adalah biji chia, buah beri, buah citrus, ikan dan yogurt probiotik. Selain mengkonsumsi makanan yang ramah pada penderita diabetes, pasien juga disarankan untuk melakukan olahraga setidaknya 3–4 kali dalam seminggu untuk menjaga berat badan tetap ideal.-Heru Yulianto

Continue Reading

Health

Si Langka Penyerang Balita

Heru Yulianto

Published

on

Gejala penyakit Kawasaki mirip dengan Demam Berdarah—demam tinggi beberapa hari disertai bercak merah pada sekujur kulit. Bedanya, penyakit ini cenderung menyerang usia balita.

Suatu hari tiba-tiba Ruri demam tinggi selama lima hari. Bola mata balita tiga tahun ini pun tampak memerah, jari tangan dan kaki membengkak. Perlahan ada ruam kemerahan yang mulai menyebar ke seluruh tubuh mungilnya. Awanya sang orangtua sempat mengira bahwa Ruri terkena demam berdarah. Namun, ketika diperiksakan ke rumah sakit, ternyata ia menderita penyakit Kawasaki. Bagi orangtua Ruri, nama penyakit itu masih terdengar asing.

Dihimpun dari berbagai sumber, penyakit Kawasaki adalah penyakit yang menyerang pembuluh darah arteri dan menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah di seluruh tubuh. Penyakit ini ditemukan oleh Dr Tomisaku Kawasaki di Jepang tahun 1967—saat itu dikenal sebagai mucocutaneous lymphnode syndrome karena menyebabkan perubahan khas pada membran mukosa bibir dan mulut, disertai pembengkakan kelenjar limfe yang diikuti rasa nyeri. Untuk menghormati sang penemu, penyakit itu dinamakan Kawasaki.

Kawasaki merupakan penyakit langka yang paling sering menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun (balita), terutama bayi yang berusia satu setengah sampai dua tahun. Pada tingkat yang lebih parah, penyakit Kawasaki bisa merambat sampai ke pembuluh darah arteri koroner, yaitu pembuluh darah yang membawa darah ke jantung, sehingga bisa menyebabkan berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung.

Selain pembuluh darah, penyakit Kawasaki juga bisa menyerang limfonodi, kulit, dan membran mukosa yang terdapat di dalam mulut, hidung dan tenggorokan. Itulah sebabnya penyakit ini juga disebut dengan sindrom limfonodi mukotan.

Jika tidak ditangani secara efektif dan dibiarkan terlalu lama, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan merusak jantung. Umumnya, gangguan jantung yang terjadi pada pengidap penyakit Kawasaki bisa ditemukan pada minggu pertama dan kedua sejak gejala muncul. Tanda-tanda yang sering ditemukan biasanya berupa detak jantung yang sangat cepat (tachycardia), penumpukan cairan di dalam jantung (pericardial effusion), atau peradangan pada otot jantung (myocarditis).

Penyakit Kawasaki memang masih awam bagi sebagian orang. Pada Februari 2005, Dr. dr. Najib Advani dalam International Symposium on Kawasaki Disease di San Diego Amerika Serikat pada melaporkan belum ada kasus penyakit itu di Indonesia. Pakar penyakit jantung anak FKUI/ RSCM itu bersama rekan-rekannya kemudian melakukan penelitian studi restropektif di dua rumah sakit di Jakarta. Barulah pada penelitian itu ia menemukan 27 pasien yang dikonfirmasi secara klinis terdiagnosis terkena penyakit Kawasaki. Sejak itu, negara kita dimasukkan dalam peta dunia penyakit Kawasaki. Apalagi pada 2009 ditemukan 5.000 kasus penyakit Kawasaki di Indonesia. Saat ini bahkan sudah ditemukan sekitar 1000-2000 kasus di daerah Jabodetabek.

Penyebab dan gejala

Penyebab penyakit Kawasaki yang pasti masih belum diketahui. Namun, melihat dari gejala-gejala yang ditimbulkan, kemungkinan besar penyakit ini disebabkan oleh virus. Jenis bakteri maupun virus yang menyebabkan penyakit ini masih belum dapat teridentifikasi dengan jelas hingga sekarang. Penyakit ini tidak menular dan hampir tidak pernah menyerang bayi di bawah enam bulan karena bayi dilindungi zat antibodi yang didapat dari ibunya, karena antibodi merupakan protein yang mampu menghancurkan organisme pembawa penyakit.

Para ahli berpendapat bahwa penyakit langka ini juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Faktor lainnya yang mungkin melatarbelakangi penyakit ini adalah faktor keturunan, infeksi, kondisi autoimun, dan beberapa faktor lainnya.

Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam tiga tahap, yaitu fase akut, fase subakut, dan fase penyembuhan. Perkembangan gejala dari fase awal sampai akhir berlangsung selama kurang lebih 1,5 bulan. Fase pertama diawali ruam kemerahan, bibir kering, mata memerah, tangan dan kaki terasa sakit, dan terjadi pembengkakan kelenjar getah bening pada leher. Pada fase kedua, pasien biasanya demam sudah turun, kulit mengelupas, muntah, nyeri sendi, dan sakit pada bagian abdominal. Dan fase ketiga, gejala penyakit Kawasaki akan berkurang secara perlahan-lahan. Namun, kondisi anak umumnya masih lemas dan mudah lelah.

“Jika tidak ditangani secara efektif dan dibiarkan terlalu lama, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan merusak jantung.”

Pengobatan

Penanganan secara cepat dan seefektif mungkin sangat penting untuk mempercepat proses penyembuhan dan menurunkan risiko komplikasi. Jika tidak segera ditangani, penyembuhan akan semakin lama, risiko komplikasinya juga semakin besar. Tujuan utama pengobatan pada tahap awal adalah untuk menurunkan demam, mengurangi inflamasi, sekaligus mencegah kerusakan jantung. Selain itu, biasanya dokter akan melakukan terapi tiga tahap untuk mencegah dampak jangka panjang, terutama kerusakan pembuluh jantung. Obat-obatan yang diberikan pada terapi merupakan kombinasi aspirin dan imunoglobulin intravena (IGIV), kortikosteroid, atau antibodi monoklonal.

Aspirin sebetulnya tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak di bawah 16 tahun, tetapi untuk penyakit Kawasaki bisa menjadi salah satu pengecualian. Aspirin dapat mengatasi peradangan, menurunkan demam, serta mengurangi rasa sakit. Dosis dan durasi penggunaan ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien.

Selain obat-obatan, Anda dapat menurunkan panas penderita Kawasaki dengan memberikan penanganan sederhana di rumah. Berikan air minum yang banyak atau mengompres. Setelah demam turun, bawalah ke dokter terdekat dan mintalah aspirin dengan dosis rendah jika pasien terdeteksi mengalami masalah pada pembuluh darah koroner. Aspirin dosis rendah berfungsi untuk mencegah penggumpalan darah.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News6 hari ago

Manfaatkan Kemudahan, Pakai e-Filing

Meski baru mencoba menyampaikan pajak secara elektronik di tahun ini, Ana Christna Pinem tak menunggu akhir batas pelaporan agar tetap...

Breaking News1 minggu ago

GAAAC 2020 Tingkatkan Daya Saing Mahasiswa

Universitas Gunadarma, Margonda, Depok kembali menyelenggarakan Gunadarma All About Accounting Competition (GAAAC) pada 3–4 Maret 2020. Ajang kompetisi tingkat nasional...

Breaking News2 minggu ago

Fokus ke Empat Bidang Sosial

Lembaga Penjamin Simpanan menjalankan kegiatan kemasyarakatan dan lingkungan sebagai wujud kepedulian sosial dan makin dekat dengan masyarakat. Upaya menjaga keberlanjutan...

Breaking News2 minggu ago

IKPI Buka Kursus Ahli Kepabeanan

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) meresmikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan di Ruko Graha Mas Fatmawati guna meningkatkan kompetensi konsultan pajak...

Breaking News1 bulan ago

Resmikan TaxPrime Compliance Center untuk Layanan Profesional

Firma konsultan pajak TaxPrime meresmikan kantor baru untuk TaxPrime Compliance Center di Jalan Guru Mughni 106, Setiabudi, Jakarta Selatan. TaxPrime...

Breaking News1 bulan ago

Bayar Pajak, Beasiswa Banyak

Jakarta, Majalahpajak.net-Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus menyempurnakan kurikulum sadar pajak dan menginstruksikan pembentukan relawan pajak...

Breaking News2 bulan ago

Penyelundupan Gerogoti Wibawa Negara

Jakarta, MajalahPajak.net- Kementerian Keuangan RI melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bersama Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan...

Breaking News2 bulan ago

Inovasi tak Sebatas Aplikasi

Jakarta, MajalahPajak.net-Tak sedikit Kantor Pelayanan Pajak (KPP) gugur dalam lomba Kantor Pelayanan Terbaik (KPT) tingkat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) karena hanya...

Breaking News2 bulan ago

Apresiasi untuk Guru Penutur Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan apresiasi kepada 10 pemenang lomba vlog bertajuk “Guru Bertutur Pajak (Gutupak)” di Kantor Pusat...

Breaking News2 bulan ago

Pengelola Dana Desa harus Melek Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia yang beranggotakan para pengajar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI) memberikan pendampingan bagi pengelola...

Trending