Jembatan para Dermawan | Majalah Pajak
Terhubung dengan kami

Community

Jembatan para Dermawan

Sejar Panjaitan

Diterbitkan

pada

PFI Bergiat menghimpun para dermawan untuk bersinergi membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Puluhan pengusaha, dan pengurus yayasan tampak memadati acara yang dihelat Kementerian Sosial dan Forum CSR Kesejahteraan Sosial, bertajuk “Optimalisasi Peran Dunia Usaha dan Filantropi Dalam Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, dan Ketimpangan Sosial”, di Grand Sahid, kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis pagi (26/10).

Ketua Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Timotheus Lesmana, mengajak semua yang hadir pada acara itu untuk bangga kepada negara tercinta. Pasalnya, berdasarkan penelitian Charities Aid Foundation (CAF) tahun 2016 menyebutkan, Indonesia negara paling dermawan nomor dua di dunia setelah Myanmar. Indikator penilaiannya adalah helping strangers atau kerelaan menolong orang asing/belum dikenal), donate money atau mendonasikan uang, dan volunteering time atau meluangkan waktunya untuk melakukan kegiatan kerelawanan.

“Artinya kita punya bekal untuk membangun negara, meretas kemiskinan, secara bersama-sama,” ujar Timotheuss. Ucapan itu sontak mendapat sambutan tepuk tangan dari anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih, ketua Forum CSR Kesejahteraan Sosial Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, pejabat Kemensos, puluhan pengusaha, dan pimpinan berbagai yayasan yang hadir di acara tersebut.

Sinergi sumbangan

Di sela-sela acara, Executive Director PFI Hamid Abidin menjelaskan sejak berdiri pada 2014, Filantropi Indonesia sudah melakukan edukasi sumbangan kepada para dermawan pribadi, yayasan perusahaan, dan yayasan sosial. Contohnya, Eka Tjipta Foundation, Tahir Foundation, Unilever Foundation, Medco Foundation, Sampoerna Foundation, Astra Foundation. Yayasan amal berbasis keagaman, seperti Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Bazarnas, Rumah zakat, Dompet Duafa, dan masih banyak lagi entitas serupa lainnya dengan total mencapai 70 entitas.

Apa saja yang dilakukan PFI? Hamid menjelaskan, PFI memiliki tugas utama membangun jembatan komunikasi dan sinergi antaryayasan atau dermawan untuk membuat kegiatan sumbangan yang bersifat meningkatkan kualitas masyarakat. Himpunannya juga mencatat rincian sumbangan para anggotanya, sehingga tak terjadi tumpang tindih bantuan. Namun, Hamid menggarisbawahi, PFI tak menghimpun dana. Misalnya, dalam hal kepedulian terhadap konsumen, PFI mendorong yayasan dan dermawan untuk menyumbangkan biaya riset makanan di pasar secara mandiri.

“Kalau mengandalkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saja, yakin, enggak terpantau seluruh makanan,” kata Hamid.

Manfaat riset yang juga menggandeng Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tersebut menghasilkan, ada beberapa merek makanan siap saji, baik di pasar modern atau pun pasar tradisional yang mengandung boraks. Hasil temuan itu kemudian disampaikan secara resmi kepada BPOM. Sayangnya merek dagangnya, belum dapat disebutkan.

Kemudian, ada lagi kegiatan membantu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Filantropi mengajak yayasan atau dermawan untuk menyumbangkan ide dan uang dengan membuat gerakan “Berantas Korupsi” melalui seminar-seminar di sekolah dan kampus. Aksi ini juga dibantu oleh Indonesia Corruption Watch (ICW).

“Misi kami sekarang mendorong kegiatan kedermawanan jangka panjang. Tak sekadar bangun masjid. Sumbangan sudah fokus kepada persoalan konsumen, korupsi, buruh, toleransi, dan edukasi masyarakat lainnya,” jelas Hamid.

Selain itu, PFI memiliki agenda rutin untuk para anggotanya, yaitu seminar filantropi yang berkaitan dengan isu terkini. Hamid menyebut, belum lama ini telah menggelar edukasi mengenai imbauan menyumbang dengan menyisipkan nilai-nilai toleransi. Misalnya, ada yayasan Budha yang membangun kawasan kumuh yang mayoritas penduduknya Islam.

“Kami ingin membuka pemikiran para dermawan, menyumbang itu tidak perlu melihat ras, suku, agama. Kita ini sama, membantu pemerintah memberantas kebodohan dan kemiskinan,” jelas Hamid.

Tak hanya seminar, para anggota juga dapat mengakses pemetaan wilayah di Indonesia yang perlu mendapat bantuan. Tak kalah penting, PFI juga sebagai mediator ketika yayasan perusahaan bersengketa.

“Kasus kembalian untuk sumbangan yang dilakukan sektor usaha ritel, kami mediasi dengan lembaga konsumen,” sebutnya. Intinya, bagi siapa pun yang ingin menjaring sumbangan, wajib dipaparkan kepada konsumen peruntukannya. Jika ingin disumbangkan untuk membuat sekolah, wajib ditampilkan lokasinya kepada pembeli.

Filantropi Indonesia juga memberi masukan dengan pengusaha ritel tersebut, untuk membangun sarana infrastruktur di lokasi usaha itu berdiri.

“Sekarang sudah ada sekolah yang dibangun tepat di samping lokasi supermarket. Jadi, orang mau menyumbang, kelihatan hasil sumbangannya,” tambahnya.

Di akhir perbincangan, Hamid mengapresiasi acara temu nasional yang dilakukan oleh Forum CSR Kesejahteraan Sosial (Kessos), Kemensos, dan para pengusaha ini. Berharap ada rumusan yang konkret untuk mendorong pemerintah menyejahterakan rakyat. Filantropi Indonesia akan membantu menjaring para dermawan.

“Misi kami sekarang mendorong kegiatan kedermawanan jangka panjang.Tak sekadar bangun masjid. Sumbangan sudah fokus kepada persoalan konsumen, korupsi, buruh, toleransi, dan edukasi masyarakat lainnya.”

“Kami ingin membuka pemikiran para dermawan, menyumbang itu tidak perlu melihat ras, suku, agama. Kita ini sama, membantu pemerintah memberantas kebodohan dan kemiskinan.”- Aprilia Hariani

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Community

Safari Menjaga Ekosistem Laut

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Berduet dengan LIPI, komunitas Sapari mengikat semangat melestarikan ekosistem laut. Keduanya bergiat melakukan penelitian hingga aksi memungut sampah di laut.

Cahaya matahari pagi itu memantul di wajah puluhan pemuda berseragam biru dongker bertuliskan “Laut Bersih, Karang Sehat”, di tubir Dermaga Marina Ancol, pada Sabtu (5/5). Mereka merupakan Komunitas Sahabat Pulau Pari (Sapari) yang tengah menunggu keberangkatan kapal yang akan membawa mereka ke Pulau Pari untuk memperingati Hari Terumbu Karang.

Hampir tiap kru tampak repot. Ada yang menjinjing diving fins atau sepatu katak, masker selam, snorkel, dan peralatan menyelam lainnya. Ada pula yang membawa seikat polybag.

“Bawa sunblock enggak, lu?” celetuk salah satu personel perempuan. “Bawa dong, siap seharian nyelam cari sampah,” sahut anggota lainnya tertawa.

Perjalanan menuju Pulau Pari memakan waktu kira-kira satu jam menggunakan speed bot. Di tengah mengarungi laut Jakarta itu, Majalah Pajak berkenalan dengan salah satu koordinator Sapari, Teguh Waspada. Ia merupakan salah satu karyawan swasta asal DKI Jakarta yang telah bergabung sejak Sapari dicetuskan satu tahun lalu.

Ia memperkenalkan, terbentuknya Sapari dilandasi rasa peduli terhadap kawasan pesisir yang mulai tercemar sampah plastik. Sebuah anomali di tengah gegap gempita pariwisata Pulau Pari.

Di bawah pembinaan Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPKSDMO LIPI) Pulau Pari, komunitas Sapari melakukan edukasi dan aksi menjaga keseimbangan ekologi laut.

“Banyaknya wisatawan Pulau Pari memberikan dampak ekonomi untuk masyarakat. Tapi, apakah mereka juga dibekali pemahaman menjaga laut kita dari sampah? Tidak, kan?” kata Teguh.

Rasa khawatir itulah yang membuncahkan semangat Sapari untuk mengedukasi nelayan, siswa, dan wisatawan di Pulau Pari akan bahaya membuang sampah ke laut.

Hingga saat ini tercatat seratus anggota yang aktif di komunitas Sapari. Anggota ini terdiri dari mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum. Selain kegiatan utama bersih-bersih laut, Sapari juga rutin melakukan penelitian mengenai ekosistem laut lainnya. Misalnya, melakukan kajian mengenai sejenis rumput bernama lamun (seagrass). Tak hanya rumput laut (seaweed), lamun juga memiliki nilai jual. Lamun dapat menjadi bahan keranjang, atap rumbia, bahan soda api, kompos, garam, dan lain-lain.

“Di Sapari, kami dapat meneliti dan mempelajari biota yang unik. Apalagi hasil penelitian bermanfaat sebagai penggerak pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Teguh yang juga anggota dari Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri (Wanadri).

Banyaknya wisatawan Pulau Pari memberikan dampak ekonomi untuk masyarakat. Tapi, apakah mereka juga dibekali pemahaman menjaga laut kita dari sampah?

Jaga koral

Saking asyiknya mengobrol, waktu berlalu begitu cepat. Kami tiba di Dermaga Pulau Pari sekitar pukul 09.00. Rombongan turun dan bergegas menuju kantor LPKSDMO LIPI. Di sana, Anggota Sapari dan wartawan diberi edukasi mengenai laut, khususnya terumbu karang atau koral oleh kepala LPKSDMO LIPI Indra Bayu Vimono. Ia menjelaskan bahwa ekosistem terumbu karang merupakan bagian terpenting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Sebab, di dalam terumbu karang, hidup lebih dari 300 jenis karang, yang dapat terdiri dari ratusan jenis ikan dan puluhan jenis moluska, crustacean, sponge, alga, lamun, dan biota lainnya.

Kondisi terumbu karang di Pulau Pari dikategorikan cukup, dengan tutupan rata-rata 26–30 persen. Pengukuran kondisi ini didasarkan pada persentase tutupan karang hidup, yaitu kategori sangat baik (tutupan 76-100 persen), baik (tutupan 51-75 persen), cukup (tutupan 26-50 persen), dan kategori jelek (tutupan di bawah 25 persen).

“Dengan basis penelitian, LIPI dan Sapari menanamkan kembali pola pikir bagaimana pentingnya menjaga lingkungan laut,” jelas Indra.

Meskipun dikategorikan cukup, Indra memastikan bahwa pesona terumbu karang Pulau Pari memiliki daya tarik wisata tersendiri. Beragam warna terumbu karang cukup indah untuk dinikmati.

Mendengar penjelasan Indra, meski suasana begitu terik, siang itu justru semakin menarik. Jujur saja, kami tak sabar untuk menyelami keindahan bawah laut pulau yang berada di tengah gugusan perairan Jakarta ini.

Ditemani awak kapal kayu berukuran kecil, personel Sapari, peneliti LIPI, dan wartawan berlayar ke sebelah barat pulau. Mencari lokasi menyelam yang diduga tercemar sampah. Satu persatu personel turun dan memulai aksi. Gelombang laut seketika mengombang-ambingkan tubuh kami. Kami memunguti sampah-sampah yang melayang di antara hilir mudik ikan-ikan kecil yang keluar masuk terumbu karang berlumur alga dengan ragam warnanya yang begitu indah.

Kata Indra, warna yang indah itu dipengaruhi oleh alga yang tumbuh di permukaan terumbu karang. Namun sayang, semakin mendekat terlihat beberapa sampah plastik menyangkut di sela- sela koral. Seluruh personil pun mengambilnya dengan hati-hati. Indra mengatakan, sampah plastik berpotensi besar merusak bahkan dapat menyebabkan kematian terumbu karang.

“Banyak manusia beranggapan pantai tempat pembuangan sampah gratis, mudah atau praktis. Padahal, akibatnya membahayakan ekosistem kehidupan,” sesalnya.

Kira-kira satu jam lebih anggota Sapari menyusuri kedalaman air laut mencari sampah plastik. Mirisnya lagi, ada anggota yang menemukan potongan kasur di laut. Total sampah yang kami kumpulkan hari itu setelah ditimbang mencapai 194 kilogram. Limbah itu akan dibawa ke daratan DKI Jakarta.

Arsip alam

Sesampainya di daratan pulau, kami mencuri kesempatan untuk berbincang lebih jauh soal terumbu karang dengan peneliti LIPI Nugroho Dwi Hananto. Ia menekankan pentingnya terumbu karang sebagai arsip alam. Terumbu karang akan tumbuh berdasarkan kondisi lingkungannya. Dengan demikian, variasi jenis dan kadar unsur-unsur pembentuk lapisan-lapisan terumbu karang menandakan kondisi iklim pada saat terumbu karang itu terbentuk sehingga menjadi arsip alamiah yang merekam kondisi dan variasi iklim lampau.

Bahkan, ketika lapisan kerak bumi bergerak naik atau turun secara tektonik, terumbu karang akan merekam sebagai pola pertumbuhan terumbu itu. Dengan mempelajari pola pertumbuhan terumbu karang itu, para peneliti bisa menentukan periode gempa bumi besar di Indonesia. Hebatnya lagi, terumbu karang dapat mengarsip kondisi alam selama ratusan hingga ribuan tahun lampau!

“Misalnya, di Pulau Sumatera dan Kepulauan Mentawai, para peneliti dapat menemukan sumber gempa tahun 1797, 1833 dan gempa-gempa lain dengan mempelajari terumbu karang di daerah tersebut,” sebut Nugroho.

Untuk itu, ia menaruh harapan besar kepada Sapari. Semoga, ekosistem laut di Pulau Pari kian lestari. Semangatnya diharapkan mampu menginspirasi masyarakat di Indonesia.

Nah, bagi sahabat Majalah Pajak yang tertarik bergabung, dapat langsung mendaftarkan diri ke Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

Lanjutkan Membaca

Community

Merajut Toleransi di Tengah Kebinekaan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Ketika orang-orang dengan latar belakang suka, agama, dan budaya yang berbeda menjadi satu bingkai dalam keluarga yang saling menghargai, esensi kebinekaan terasa kian bermakna.

“Dulunya Apipa takut dengan teman beda agama. Pernah kejadian waktu sekolah menengah pertama ada teman beda agama, dia egois, suka marah-marah, dan dia menghina agama Apipa.

Dua-tiga hari tinggal di keluarga Kristen, Apipa takut. Takut diajak ke gereja. Ternyata, tidak seperti yang Apipa pikirkan. Mereka lebih baik daripada yang Apipa pikirkan. Sisi jahat itu enggak ada.

Toleransi yang mengajari Apipa untuk menghargai orang lain. Selain agama Islam, Apipa juga harus menghargai agama lain. Toleransi itu bukan saja diucapkan, tapi dirasakan”

Demikian diungkapkan salah satu alumni Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali (SabangMerauke), Apipa, dalam video testimoni yang ditunjukkan oleh Managing Director SabangMerauke, Reynold Hamdani atau biasa disapa Rey, kepada Majalah Pajak akhir Desember lalu, di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan.

Video berdurasi 180 detik itu juga menampilkan kesan orang tua asuh beragama Kristen, Reymon Lim, yang suka cita menerima dan merawat Apipa selama sepekan.

“Saya senang, tapi ada rasa was-was. Dengan kedatangan Afifah. Bagaimana kita belajar menerima Apipa apa adanya. Saya terpanggil dengan sendirinya, menyediakan fasilitas mengaji dan salat. Bahkan ke masjid saya antar. Walaupun kita beda keyakinan, suku, tapi Tuhan maunya kita saling mengasihi,” kata Reymon Lim.

Kembali menurut Rey, cuplikan video di atas telah mengejawantahkan upaya yang dibangun SabangMerauke. Komunitas yang berdiri sejak lima tahun silam ini bertujuan mengajak masyarakat Indonesia yang beragam ini untuk memupuk toleransi. Sebab Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya ucapan semata.

“Kebinekaan di Indonesia adalah sebuah fakta, sebuah keniscayaan. Memahami toleransi tidak bisa hanya dengan membaca buku atau ucapan saja karena toleransi itu harus dialami,” ungkap Rey.

Rey sedikit berkisah, cikal bakal berdirinya komunitas atau gerakan ini bermula saat para inisiatornya, yakni Ayu Kartika Dewi dan Aichiro Suryo Prabowo, merasakan suasana toleransi yang tinggi saat menjadi pelajar di luar negeri. Di mana saat mereka ingin salat, gereja menyediakan tempat ibadah untuk umat muslim.

“Merasakan hal itu, mereka terharu dan bertekad mengajak masyarakat Indonesia untuk melakukan dan merasakan toleransi,” kisah Rey.

Melalui seleksi

Program ini dikelompokkan menjadi tiga peserta. Adik SabangMerauke (ASM), Kakak SabangMerauke (KSM), dan Family SabangMerauke (FSM).

Mekanisme penyeleksian untuk ASM dilakukan dengan mengisi formulir dan membuat tulisan yang mewakili tujuan sang pendaftar. Distribusi penyebaran informasi dilakukan dengan menggaet Pramuka atau relawan kepemudaan di setiap daerah. Kualifikasinya hanya dilihat dari motivasi sang calon peserta, serta izin dari orang tuanya.

“Kami memilih anak yang memiliki motivasi yang kuat, sudah dapat mandiri, dan kuat saat harus berada di tempat yang baru, serta memiliki jiwa pemimpin,” sebutnya.

Setiap tahunnya, SabangMerauke menyeleksi sebanyak 15 pelajar sekolah menengah pertama untuk menetap ke keluarga relawan. Di tahun 2017, pendaftar mencapai ribuan siswa.

Namun sebelumnya, panitia telah menyeleksi terlebih dahulu keluarga yang bersedia menampung anak beda agama atau suku. Kualifikasinya, kediaman harus berada wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodetabek), lalu mendapat persetujuan dari seluruh anggota keluarga. Artinya, ketika tim SabangMerauke datang untuk survei, seluruh anggota keluarga harus berada di rumah.

“Family SabangMerauke juga daftar sendiri melalui website kami, SabangMerauke.id, loh. Para keluarga atau FSM antusias sekali,” tambahnya. FSM ini nantinya berkewajiban menanggung kebutuhan sang siswa selama ada di rumah.

Untuk kategori KSM, proses seleksi berlangsung panjang. Mulai dari diskusi, wawancara, hingga focus group discussion (FGD) studi kasus. Sebab, pendamping ini berperan mengontrol seluruh aktivitas siswa. Mulai dari siswa datang, menetap di keluarga relawan, hingga menjadi alumni SabangMerauke.

“Tidak ada yang digaji kecuali saya sendiri. Karena harus profesional menangani sumbangan dan kerja sama dengan instansi pemerintah. Selebihnya, mereka semua relawan, relawan demi terwujudnya Indonesia yang menjunjung dan menjalani nilai toleransi,” jelas Rey.

Tatkala ketiga elemen ini berhasil terseleksi, proses selanjutnya adalah mengirim ASM terpilih dari daerahnya masing-masing ke tujuan. Akomodasinya, berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia melalui kitabisa.com. Terakhir, terkumpul Rp 80 juta untuk program ini.

Tak hanya menetap di FSM, sang anak ini akan difasilitasi untuk mengunjungi Balai Kota Jakarta, Garuda Indonesia Training Center, tempat ibadah, serta beberapa kampus di Jakarta.

“Menariknya, mereka juga kita ajak berdialog dengan pemuka agama seperti pastur, ustaz, ataupun pendeta,” tambahnya. Jadi, seluruh total kegiatan berlangsung selama tiga pekan.

Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga pekan. Waktunya, tentu di hari libur sekolah. Jika harus izin, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberi surat kepada sekolah terkait.

“Kemendikbud mendukung kami sebagai program penguatan karakter, sehingga izin ke sekolah menggunakan surat dari Kemendikbud. Ini akan jadi prestasi tersendiri untuk sekolah,” ungkap Rey.

Lanjutkan Membaca

Community

Komunitas Rehabilitasi Jantung (KRJ) Jakarta Heart Center (JHC)

Sejar Panjaitan

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

Di komunitas ini, selain menjalani rehabilitasi jantung, para anggota bisa saling berinteraksi, saling menguatkan mental, berbagi semangat dan pengalaman.

Puluhan orang, lelaki, perempuan, tampak antusias mengikuti senam aerobik di lantai atap gedung (rooftop) Rumah Sakit Jakarta Heart Center (JHC) atau yang juga dikenal dengan nama Rumah Sakit Jantung Jakarta. Mereka berseragam atasan kaos putih dan celana training merah itu berbaur menjadi satu dalam barisan rapi. Mata mereka tertuju pada instruktur di depan yang memandu mereka dari atas panggung kayu setinggi sekitar 50 sentimeter. Beberapa di antara mereka baru berusia kepala empat, tapi rata-rata sudah berumur di atas 60 tahun.

Peserta senam tersebut adalah orang-orang tergabung dalam Komunitas Rehabilitasi Jantung (KRJ) binaan Rumah Sakit JHC. Dan senam itu merupakan bagian dari proses rehabilitasi jantung bagi mantan pasien dengan masalah jantung. Mulai dari infark miokard, kardiomiopati, jantung koroner, gagal jantung, kelainan jantung, dan lain-lain. Awal didirikan jumlah peserta komunitas ini hanya beberapa orang. Namun, hingga kini jumlah anggota aktif mencapai 150 orang.

Direktur Utama Rumah Sakit JHC dr. Murdjiah Dinarto mengatakan, komunitas itu dibentuk sebagai upaya RS JHC untuk memberikan solusi dan pelayanan maksimal untuk pasien penyakit jantung dan pembuluh darah usai menjalani tindakan medis. Tidak saja upaya untuk menyembuhkan, JHC juga berupaya menjaga agar pasien yang sudah tertangani tidak akan terkena penyakit jantung lagi.

“Beranjak dari situ, kami ingin tidak hanya dari tindakan pasang cincin, atau operasi, tapi ada lanjutan yang bisa memelihara sistem sirkulasi supaya kesehatan jantung tetap semaksimal mungkin. Antara lain dengan rehab medis jantung,” ungkap dokter spesialis gizi klinis dari Universitas Indonesia itu kepada Majalah Pajak di ruang kerjanya di JHC, Rabu (12/9).

Poin yang lebih penting, menurut Murdjiah, melalui komunitas itu, pihak rumah sakit tidak hanya memberikan latihan olah raga jantung. Lebih dari itu, tujuannya agar para pasien bisa saling berinteraksi, saling menguatkan, dan berbagi pengalaman.

“Jadi, mereka enggak takut. Di situlah poin positif yang kita rasakan. Ternyata ada poin manfaat bagi para pasien,” tutur Murdjiah.

Murdjiah mengatakan, untuk memberikan pelayanan maksimal, komunitas ini dibina langsung oleh dokter dari Pusat jantung Nasional, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dokter tersebut adalah Dokter Deddy Tedjasukmana dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi yang bertugas di Departemen Rehabilitasi Medik RSCM.

“Kami punya dokter khusus untuk rehabilitasi medik jantung. Ini belum banyak di Indonesia. Dan dokter ini juga yang di RSCM. Jadi setelah jam kerja di sana, beliau ke sini, untuk membina untuk mengawasi teman-teman yang melakukan rehab, karena harus ada perawat khusus juga,” kata Murdjiah.

Saling terkait

Dokter Deddy menambahkan, dalam menangani pasien dengan masalah jantung, JHC memiliki dokter-dokter berpengalaman yang bekerja secara tim. Mulai dari dokter ahli jantung, bedah jantung, dokter rehabilitasi jantung, ada dokter gizi jantung.

“Semua saling terkait. Kami satu tim. Saya dari bagian rehabilitasi medik jantung. Mengelola pasien-pasien yang dipasang stent (ring jantung). Jadi, orang-orang yang habis dioperasi jantung, pasang stent, mereka mendapat program pemulihan rehabilitasi jantung,” jelas Deddy.

Doddy menjelaskan, rehabilitasi jantung adalah program yang didesain untuk memperbaiki kondisi fisik, mental dan sosial pasien agar tetap sehat. Program ini membantu pasien untuk menjalani hidup yang lebih baik usai pengobatan serta operasi jantung. Program ini terdiri dari tiga fase. Pertama, saat pasien dalam perawatan medis mencakup upaya mobilitas dini dan menghindari tirah baring yang lama, mengurangi serta menghilangkan nyeri pascaoperasi, melakukan latihan pernapasan dan relaksasi.

“Pemulihan rehabilitasi jantung dimulai saat pasien dirawat di rumah sakit supaya pasiennya cepat kembali pada kondisi normal, kemudian bisa melakukan aktivitas sehari-hari, bisa meningkatkan kemampuan fisiknya sehingga setelah operasi di sini lima hari di sini sudah pulang,” jelas Deddy.

Sementara itu, fase ketiga dilakukan satu minggu setelah pasien pulang dari rumah sakit. Program yang dilakukan adalah melakukan uji jalan enam menit, dilanjutkan dengan latihan aerobik dan relaksasi. Pada fase ini, pasien dikelompokkan ke dalam risiko rendah, sedang, dan berat berdasarkan masalah jantung yang diderita pasien. Program yang diberikan adalah latihan teratur tiga kali seminggu selama empat sampai delapan minggu.

“Minimal kami upayakan mereka sudah bisa jalan tiga kilometer selama 30 menit. Jenis latihannya adalah senam, aerobik, jalan dan relaksasi. Setelah fase kedua selesai, dilakukan tes. Kalau bagus, masuk fase tiga, maintenence.”

Pada fase tiga ini, kata Deddy, pasien harus melatih tubuh dengan senam dan aerobik dengan membawa beban secara bertahap. fase ini rutin di lakukan tiga kali seminggu selama tiga hingga enam bulan. Setelah itu, diharapkan pasien mampu berjalan sejauh tiga sampai empat kilometer dalam waktu 30 menit.

Menumbuhkan semangat

Ayu Nuryana adalah salah satu pasien yang tergabung dalam komunitas ini, sekaligus menjadi ketua komunitas. Saat Majalah Pajak mewawancarainya, tak tampak sekali bahwa perempuan berusia 40-an tahun itu pernah mengalami masalah jantung. Fisiknya terlihat sangat fit, pembawaannya hangat dan ceria. Namun, siapa sangka tahun lalu, ibu rumah tangga asal Bekasi ini pernah dua kali pasang stent di jantungnya.

“September 2016 saya pasang ring sekaligus dua. Terus, bulan Januari saya pasang satu lagi, ring ketiga. Itu setahun lalu, dan belum ada komunitas,” ujar Ayu.

Ayu mengaku, masalah jantung yang dialaminya akibat pola hidupnya yang cenderung tidak sehat,, seperti pola makan sembrono, bahkan perokok berat. Akibatnya, tahun 2012 silam dia sempat masuk ICU selama tiga minggu karena komplikasi yang dideritanya. Mulai hipertensi, kolesterol, mag akut hingga lever. Saat itu dokter menyarankan Ayu untuk pasang stent, Ayu menolak mentah-mentah.

“Saya harus pasang ring tiga, tapi saya bandel. Saya menganggap, alat dalam badan itu aneh,” cerita perempuan yang mengaku akhirnya menyerah setelah dibujuk oleh saudaranya yang kebetulan bekerja di JHC

Setelah menjalani operasi di JHC, Ayu membuat grup WhatsApp yang isinya beberapa pasien yang mengalami nasib sama. Grup itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal KRJ yang baru diresmikan 21 Juli 2017 lalu. Ayu mengaku, melalui komunitas itu ia bisa saling berbagi cerita dan semangat dengan pasien jantung lainnya. Jika ada pasien yang down, dia selalu pasang badan menjadi contoh kasus. Dengan tulus ia menceritakan masa lalu kesehatannya yang buruk.

“Misalnya, ada yang kurang semangat saya tanya, ‘Ibu sakit apa, tindakan apa?’ ‘Saya pasang ring.’ ‘Oh, Ibu harus semangat. Saya ini penyakitnya banyak, tapi tetap semangat. Jadi, saya cerita masa lalu saya dulu,” tutur perempuan yang mengaku pernah menjadi perokok berat itu.

Bagi Ayu, semangat hidup adalah modal awal untuk menuju sehat dan melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Ia selalu mengajak rekan-rekannya untuk menjadikan orang-orang tercinta sebagai modal untuk menumbuhkan semangat tersebut. Di sisi lain, ia juga bersyukur, di JHC selama ini ditangani oleh dokter-dokter ahli yang baik dan berpengalaman, dengan nuansa kekeluargaan yang begitu hangat.

“Di sini, Alhamdulillah, dokternya ahli semua. Dari Cipto (RSCM), Harapan Kita, semuanya di sini. Dan penangannya pun baik. Pasien BPJS pun prosesnya mudah semuanya. Perawatnya ramah,” tutur Ayu.

“Orang-orang yang habis dioperasi jantung, pasang stent, mereka mendapat program pemulihan rehabilitasi jantung.”

“Semangat hidup adalah modal awal untuk menuju sehat dan melanjutkan kehidupan yang lebih baik.”-Waluyo Hanjarwadi

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News3 minggu lalu

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News1 bulan lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News6 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News7 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News8 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News10 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News10 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News11 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News1 tahun lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Advertisement Pajak-New01

Trending