Connect with us

Community

Jembatan para Dermawan

Sejar Panjaitan

Published

on

PFI Bergiat menghimpun para dermawan untuk bersinergi membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Puluhan pengusaha, dan pengurus yayasan tampak memadati acara yang dihelat Kementerian Sosial dan Forum CSR Kesejahteraan Sosial, bertajuk “Optimalisasi Peran Dunia Usaha dan Filantropi Dalam Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, dan Ketimpangan Sosial”, di Grand Sahid, kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis pagi (26/10).

Ketua Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Timotheus Lesmana, mengajak semua yang hadir pada acara itu untuk bangga kepada negara tercinta. Pasalnya, berdasarkan penelitian Charities Aid Foundation (CAF) tahun 2016 menyebutkan, Indonesia negara paling dermawan nomor dua di dunia setelah Myanmar. Indikator penilaiannya adalah helping strangers atau kerelaan menolong orang asing/belum dikenal), donate money atau mendonasikan uang, dan volunteering time atau meluangkan waktunya untuk melakukan kegiatan kerelawanan.

“Artinya kita punya bekal untuk membangun negara, meretas kemiskinan, secara bersama-sama,” ujar Timotheuss. Ucapan itu sontak mendapat sambutan tepuk tangan dari anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih, ketua Forum CSR Kesejahteraan Sosial Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, pejabat Kemensos, puluhan pengusaha, dan pimpinan berbagai yayasan yang hadir di acara tersebut.

Sinergi sumbangan

Di sela-sela acara, Executive Director PFI Hamid Abidin menjelaskan sejak berdiri pada 2014, Filantropi Indonesia sudah melakukan edukasi sumbangan kepada para dermawan pribadi, yayasan perusahaan, dan yayasan sosial. Contohnya, Eka Tjipta Foundation, Tahir Foundation, Unilever Foundation, Medco Foundation, Sampoerna Foundation, Astra Foundation. Yayasan amal berbasis keagaman, seperti Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Bazarnas, Rumah zakat, Dompet Duafa, dan masih banyak lagi entitas serupa lainnya dengan total mencapai 70 entitas.

Apa saja yang dilakukan PFI? Hamid menjelaskan, PFI memiliki tugas utama membangun jembatan komunikasi dan sinergi antaryayasan atau dermawan untuk membuat kegiatan sumbangan yang bersifat meningkatkan kualitas masyarakat. Himpunannya juga mencatat rincian sumbangan para anggotanya, sehingga tak terjadi tumpang tindih bantuan. Namun, Hamid menggarisbawahi, PFI tak menghimpun dana. Misalnya, dalam hal kepedulian terhadap konsumen, PFI mendorong yayasan dan dermawan untuk menyumbangkan biaya riset makanan di pasar secara mandiri.

“Kalau mengandalkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saja, yakin, enggak terpantau seluruh makanan,” kata Hamid.

Manfaat riset yang juga menggandeng Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tersebut menghasilkan, ada beberapa merek makanan siap saji, baik di pasar modern atau pun pasar tradisional yang mengandung boraks. Hasil temuan itu kemudian disampaikan secara resmi kepada BPOM. Sayangnya merek dagangnya, belum dapat disebutkan.

Kemudian, ada lagi kegiatan membantu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Filantropi mengajak yayasan atau dermawan untuk menyumbangkan ide dan uang dengan membuat gerakan “Berantas Korupsi” melalui seminar-seminar di sekolah dan kampus. Aksi ini juga dibantu oleh Indonesia Corruption Watch (ICW).

“Misi kami sekarang mendorong kegiatan kedermawanan jangka panjang. Tak sekadar bangun masjid. Sumbangan sudah fokus kepada persoalan konsumen, korupsi, buruh, toleransi, dan edukasi masyarakat lainnya,” jelas Hamid.

Selain itu, PFI memiliki agenda rutin untuk para anggotanya, yaitu seminar filantropi yang berkaitan dengan isu terkini. Hamid menyebut, belum lama ini telah menggelar edukasi mengenai imbauan menyumbang dengan menyisipkan nilai-nilai toleransi. Misalnya, ada yayasan Budha yang membangun kawasan kumuh yang mayoritas penduduknya Islam.

“Kami ingin membuka pemikiran para dermawan, menyumbang itu tidak perlu melihat ras, suku, agama. Kita ini sama, membantu pemerintah memberantas kebodohan dan kemiskinan,” jelas Hamid.

Tak hanya seminar, para anggota juga dapat mengakses pemetaan wilayah di Indonesia yang perlu mendapat bantuan. Tak kalah penting, PFI juga sebagai mediator ketika yayasan perusahaan bersengketa.

“Kasus kembalian untuk sumbangan yang dilakukan sektor usaha ritel, kami mediasi dengan lembaga konsumen,” sebutnya. Intinya, bagi siapa pun yang ingin menjaring sumbangan, wajib dipaparkan kepada konsumen peruntukannya. Jika ingin disumbangkan untuk membuat sekolah, wajib ditampilkan lokasinya kepada pembeli.

Filantropi Indonesia juga memberi masukan dengan pengusaha ritel tersebut, untuk membangun sarana infrastruktur di lokasi usaha itu berdiri.

“Sekarang sudah ada sekolah yang dibangun tepat di samping lokasi supermarket. Jadi, orang mau menyumbang, kelihatan hasil sumbangannya,” tambahnya.

Di akhir perbincangan, Hamid mengapresiasi acara temu nasional yang dilakukan oleh Forum CSR Kesejahteraan Sosial (Kessos), Kemensos, dan para pengusaha ini. Berharap ada rumusan yang konkret untuk mendorong pemerintah menyejahterakan rakyat. Filantropi Indonesia akan membantu menjaring para dermawan.

“Misi kami sekarang mendorong kegiatan kedermawanan jangka panjang.Tak sekadar bangun masjid. Sumbangan sudah fokus kepada persoalan konsumen, korupsi, buruh, toleransi, dan edukasi masyarakat lainnya.”

“Kami ingin membuka pemikiran para dermawan, menyumbang itu tidak perlu melihat ras, suku, agama. Kita ini sama, membantu pemerintah memberantas kebodohan dan kemiskinan.”- Aprilia Hariani

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Community

Menenun Masa Depan Perempuan Toraja

Aprilia Hariani K

Published

on

Perempuan muda Toraja kini tak lagi harus menjadi pekerja rumah tangga di negeri orang. Torajamelo menggembleng mereka menjadi Srikandi kreatif, menciptakan fesyen tenun bernilai tinggi.

Puluhan baju berhias motif garis-garis khas tenun Toraja terpajang apik di ruangan galeri ruang utama Museum Tekstil, Jakarta Barat. Berbagai macam produk yang dipamerkan pada awal Agustus 2018 lalu itu nyaris memenuhi tiap sisi dinding. Di sudut kanan ruang, juga terpampang sepatu bot cokelat dengan balutan tenun serupa di sisi belakangnya. Ada pula tas jinjing kulit beragam warna yang disandingkan dengan tenun Toraja bermotif garis zig-zag. Menoleh ke sisi kiri, seorang perempuan tengah sibuk menumpuk rapi lipatan kain hasil tenunan. Sebagian ia sampirkan berjajar agar mempermudah pengunjung melihat corak dan motif kain.

“Silakan, ini hasil tangan kurang lebih seribu penenun di tanah Toraja yang tergabung dalam Torajamelo,” sambut Dinny Jusuf, inisiator berdirinya Torajamelo.

Torajamelo adalah sebuah komunitas yang peduli dengan seni dan budaya khususnya pada bidang kerajinan tenun. Komunitas yang didirikan pada tahun 2008 di Toraja ini bertujuan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan Indonesia.

Mama Dinny—demikian mantan Sekretaris Jenderal di Komnas Perlindungan Perempuan itu biasa disapa—menuturkan, seribu penenun yang karyanya dipamerkan adalah ibu rumah tangga yang berasal dari berbagai daerah, khususnya, Sulawesi Selatan. Namun, yang kali pertama menggerakkan komunitas ini adalah penenun di kampung halamannya, yakni Kecamatan Sa’dan Toraja Utara.

Penenun yang tergabung dalam komunitas Torajamelo mampu menyelesaikan 100 lembar kain Toraja dalam sebulan. Rata-rata satu orang anggota dapat menghasilkan dua hingga tiga kain Toraja per bulan. Satu lembar kain berukuran 55 x 350 sentimeter dihargai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Mama Dinny selama ini berperan sebagai manajer para penenun di daerahnya. Ia mengatur lalu lintas produksi dan distribusi. Kain Toraja yang sudah dibeli perajin dibawa ke kelompok penjahit baju, tas, ataupun sepatu binaan Torajamelo. Bilamana produk telah memenuhi kelayakan, Mama Dinny akan mengatur distribusi.

Karya Torajamelo telah mampu menembus pasar luar negeri. Permintaan produk pun terus meningkat dari Jepang, Australia, dan Amerika Serikat. Saat ini komunitas ini rata-rata setiap bulannya mampu menjual sekitar 200–500 potong produk dari masing-masing varian yang ada, seperti baju, sepatu, maupun tas. Semua produk itu laris manis terjual, baik secara on-line (Instagram) maupun off-line melalui Butik Torajamelo di Kemang Timur Nomor 62, Jakarta. Harga baju berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta, sepatu dibanderol Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, sedangkan harga tas sekitar Rp 1,5 juta sampai dengan Rp 2 juta.

 “Kami ingin mereka bisa terus menenun dengan rasa bangga.”

Tradisi lelulur

Mama Dinny yakin, keauntentikan karya Torajamelo masih menjadi nilai jual tersendiri. Sebab para perajin masih menggunakan alat tenun dengan back-strap sehingga proses pembuatannya memakan waktu sedikit lebih lama dan ukuran kain yang dihasilkan pun tidak sebesar tenun yang diproduksi alat tenun bukan mesin (ATBM).

“Torajamelo berarti Toraja bagus. Mereka masih menjaga tradisi leluhur,” ucap Mama Dinny.

Selain memberi harga yang layak untuk setiap kain, Torajamelo juga membangun kemitraan dengan Yayasan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Keduanya bersinergi untuk membangun koperasi usaha. Selain meminjamkan modal, koperasi juga sebagai corong bantuan pembiayaan program beasiswa untuk anak-anak dan cucu para penenun yang tidak mampu, tetapi berprestasi. Sementara ini beasiswa berlaku untuk jenjang SMA maupun perguruan tinggi.

“Kami ingin mereka bisa terus menenun dengan rasa bangga bahwa penenun itu sama profesinya seperti dokter atau insinyur,” harap Mama Dinny.

Agaknya memang tak berlebihan harapan mantan bankir salah satu bank asing ternama ini. Sebab, sebelum Torajamelo berdiri, kampung sang suami Mama Dinny di Kecamatan Sa’dan itu terbilang sepi pemuda, khususnya, kaum perempuan muda. Ternyata, pemuda banyak yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia dan Cina sehingga banyak kasus hamil di luar nikah dengan majikannya.

“Saya kaget banyak nenek mengasuh cucunya yang berkulit putih dan sipit. Ternyata, anak perempuan mereka hamil oleh majikan,” kenang Mama Dinny.

Suatu saat, Mama Dinny melihat ada beberapa penduduk yang masih menenun di depan teras rumahnya. Harga kain Toraja kala itu Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Mama Dinny pun memborongnya. Kira-kira 100 kain dibeli dan dijual kembali ke Jakarta. Sederhana saja harapannya, supaya para gadis desanya lebih tertarik mencipta kain tenun Toraja ketimbang pergi menjadi TKW.

Wadah penenun

Mengetahui respons pasar yang tinggi, Mama Dinny kemudian mendirikan Torajamelo yang bertujuan memberi harga yang layak untuk kain Toraja. Bahkan seiring berjalannya waktu kain Toraja dapat menjadi produk fesyen bernilai tinggi karena dipadupadankan dengan baju, tas, dan sepatu. Saat ini banyak gadis yang belajar menenun kain Toraja. Mereka juga bisa memilih menjadi admin website Torajamelo.com, penjaga pameran, atau sebagai penjaga butik Torajamelo di Kemang.

Torajamelo kini sudah akrab di telinga pasar tenun nasional. Komunitas ini hampir tak pernah absen mengikuti pameran kain. Bahkan, Torajamelo telah melebarkan sayap dengan merangkul penenun dari daerah lainnya, seperti Mamasa, Adonara, Lembata, juga wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Torajamelo berharap menjadi wadah para penenun Indonesia untuk tetap bangga terhadap apa yang ia kerjakan. Menjadi pilihan untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik,” harap Mama Dinny.

Continue Reading

Community

Duyung-Duyung Pelindung Laut

W Hanjarwadi

Published

on

Karena cinta mereka kepada laut, ‘duyung-duyung’ ini bahu membahu mengampanyekan gerakan menjaga keseimbangan ekosistem laut. Salah satu kegiatan rutin mereka menjaga kebersihan laut.

Akhirnya sampai juga kami di Pulau Kotok Besar, Kepulauan Seribu setelah hampir dua jam kapal motor yang kami tumpangi dari Pulau Pramuka terombang-ambing di atas gelombang lautan. Sengatan panas matahari siang itu nyaris tak kami hiraukan. Angin sepoi bulan Juli dan sejuknya air laut seakan mampu menyerap terik yang membakar kulit kami. Air pantai begitu jernih memantulkan bayangan buih. Ikan-ikan warna-warni menyelinap di antara gugusan terumbu karang dan koloni bulu babi. Sayang sekali, banyak serpihan sampah plastik dan styrofoam bekas kemasan di dalam air hingga sepanjang garis pantai yang mengusik pemandangan kami. Beberapa botol bekas air mineral tampak mengapung didorong ombak ke tepian.

Di ujung dermaga, Femke Den Haas bersama seekor anjing kesayangannya telah menunggu kami. Sudah hampir sepuluh tahun lalu bule asal Belanda itu mengabdikan diri di Indonesia sebagai aktivis lingkungan dan penyelamat satwa di bawah naungan Jakarta Animal Aid Networks (JAAN). Salah satu aktivitas rutin Femke di pulau itu adalah merehabilitasi elang bondol (Haliastur indus) yang selama ini menjadi maskot Jakarta.

Rombongan kami hari itu lebih dari 30 orang. Kami beruntung karena bisa dengan mudah masuk kawasan pusat konservasi elang bondol yang steril itu. Diantar oleh Muhammad Saitibi, petugas Taman Nasional Kepulauan Seribu, tujuan kami kali itu memang bukan sekadar jalan-jalan, melainkan untuk program Ocean Cleanup, membersihkan sampah-sampah yang tercecer di lingkungan laut dan pantai di sekitar Pulau Kotok. Meski telat hampir satu bulan, kegiatan ini juga sekaligus untuk mendukung eksistensi World Oceans Day yang jatuh pada setiap 8 Juni.

“Selamat datang di Pulau Kotok,” sapa Femke dengan senyum ramahnya. Tak mau buang-buang waktu, perempuan yang fasih berbahasa Indonesia itu segera memberikan penjelasan singkat tentang lokasi-lokasi di laut dan pantai yang banyak sampahnya.

Komunitas lintasprofesi

Ide Ocean Cleanup kali itu digagas oleh Indonesia Mermaid Pod (IMP), sebuah komunitas yang selalu mengampanyekan gerakan menjaga ekosistem laut. IMP didirikan pada 5 Oktober 2016 oleh lima penyelam bebas (freediver) asal Indonesia yang memiliki passion terhadap seni fotografi bawah air. Terbentuknya IMP berawal dari keprihatinan para anggotanya yang rata-rata adalah freediver profesional berlisensi, atas banyaknya sampah yang mengotori dan merusak ekosistem laut Indonesia. Tak ada susunan hierarkis pengurus dalam komunitas ini. Masing-masing anggota berbagi peran sesuai kesepakatan yang dimusyawarahkan setiap hendak melakukan aksi.

Eva Wisna Agustin, salah seorang koordinator aksi Ocean Cleanup menyebut, Nama mermaid dipilih terinspirasi dari mitos duyung yang selama ini digambarkan sebagai makhluk setengah manusia setengah ikan yang hidup di lautan.

“Mermaid mewakili kehidupan di darat dan laut sebagai simbol suatu keseimbangan untuk menjaga alam. Dalam kontribusinya, IMP melakukan berbagai bentuk kampanye dan aksi penyelamatan laut untuk memberikan pengaruh positif kepada orang lain,” tutur Eva.

Dalam perjalanannya, komunitas itu kini memiliki anggota aktif lebih dari 15 orang dari lintas profesi. Eva Wisna Agustin, misalnya, bekerja sebagai project engineer di salah satu perusahaan developer terbesar di Indonesia. Hari itu Eva jauh-jauh datang dari Surabaya demi suksesnya kampanye menjaga ekosistem laut ini. Perempuan mungil yang juga freediver AIDA ini mengaku, melalui IMP ia ingin mengenalkan kepada publik dan terutama anak-anak untuk ikut kegiatan clean up di laut.

“Karena buat aku, anak-anak itu adalah bekal masa depan kita, jadi edukasi kepada mereka sangat penting,” kata Eva yang kali itu didapuk menjadi koordinator beach cleanup.

Lain lagi dengan Adisty Kanastari atau yang akrab disapa Dyssa yang kesehariannya berprofesi sebagai arsitek. Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini telah menyukai olahraga freedive sejak kecil. Bagi Dyssa, melalui freedive ia bisa menikmati keindahan dunia bawah air di laut. Dan IMP adalah tempat berbagi hobi dan visi yang sama untuk konservasi laut.

“Saya ingin turut menyebarluaskan info keindahan laut Indonesia, pentingnya menjaga lautan, dan promosi olahraga freedive beserta safety education dalam freedive,” tutur Dyssa.

Sementara itu, Angelique Dewi, yang bekerja di divisi corporate communication dan green committee di sebuah perusahaan swasta yang saat ini sedang menekuni desain interior untuk kapal phinisi FRS Menami milik World Wildlife Fund (WWF) Indonesia. Melalui IMP, dan Ocean Defender Greenpeace, Angelique ingin menjadi collaborative agent dengan mempertemukan berbagai institusi dan komunitas yang memiliki visi yang sama untuk konservasi laut.

Selain ketiga personel itu, ada juga Endah Eka Sari seorang student relation officer; Wina Karen Midayati guru tari profesional; Yulia Lintang, dosen; Mada Cendani, penari; Menthis Ayuning Sekar, Aneh, dan masih banyak lagi sosok dengan latar belakang yang berbeda. Satu-satunya kesamaan dari semua anggota barangkali tak lain adalah kecintaan mereka terhadap laut dan dorongan untuk menjaganya.

Di luar anggota IMP, kegiatan kali itu juga didukung oleh WWF Indonesia yang diwakili oleh Imam Musthofa Zainudin; Nadhira Afina Wardhani dari Diver Clean Action (DCA) Indonesia yang bertugas melakukan riset dan survei monitoring sampah laut terdampar di pantai; Aulia Nurdini, alumni Studi Biologi Universitas Indonesia yang aktif sebagai relawan konservasi laut di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan tentu saja tim dari Majalah Pajak.

“Berawal dari keprihatinan atas banyaknya sampah yang mengotori dan merusak ekosistem laut Indonesia.”

Banyak sampah nonorganik

Sampah laut (marine debris), terutama plastik adalah masalah besar yang sangat memengaruhi kehidupan laut dan manusia. Indonesia juga dianggap sebagai produsen sampah plastik ke laut terbesar kedua dunia. Dominansi sampah itu diperkirakan berasal dari sungai. Berdasarkan estimasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), setiap hari penduduk Indonesia menghasilkan 0,8 kg sampah per orang atau 189 ribu ton sampah per hari. Pemandangan yang kami saksikan di garis pantai Pulau Kotok pun seolah membuktikannya. Banyak ragam sampah terdampar di bibir pantai dan di lautan.

Dipandu Femke kami berbagi tugas membersihkan sampah-sampah yang tercecer. Ada yang bertugas memungut sampah yang tersangkut di sepanjang garis pantai, sebagian lagi menyisir permukaan laut dan sebagian menyelam bebas di kedalaman laut. Cukup banyak sampah yang berhasil kami kumpulkan kali itu. Mulai dari sampah plastik, styrofoam, karet, kain, hingga popok sekali pakai (cloth diapers). Sampah-sampah yang terkumpul kemudian kami pilah berdasarkan jenisnya untuk didata sebagai bahan kajian oleh DCA, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, dan pemangku kepentingan terkait. Ratusan kilogram sampah yang berhasil terkumpul kami naikkan ke kapal untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir di Jakarta.

Hari itu memang sangat melelahkan, tapi hati kami sedikit puas karena aksi kecil kami adalah cara kami mensyukuri anugerah kekayaan alam yang telah Tuhan berikan. Sebelum pulang ke Jakarta, Imam Musthofa berbagi data penelitian tentang bahaya sampah di laut, terutama plastik. Menurut Imam, sampah plastik telah memengaruhi ekosistem hingga ke ukuran mikro. Sampah plastik tak akan terurai hingga ratusan tahun dan hanya akan berubah menjadi mikroplastik, zat plastik berukuran sangat kecil yang akhirnya mengancam kesehatan lingkungan serta biota laut di perairan Indonesia.

“Sampah mikroplastik ini dapat masuk ke dalam rantai makanan. Ketika mikroplastik dimakan biota laut seperti plankton, lalu plankton dimakan ikan, dan ikannya dimakan manusia maka pada akhirnya berdampak pada kesehatan manusia,” papar Imam.

Imam menegaskan, meningkatnya pencemaran lingkungan di laut tak hanya mengganggu keseimbangan ekosistem laut tetapi juga kerugian ekonomi. Sangat disayangkan, mengingat Indonesia adalah negeri bahari yang memiliki garis pantai terpanjang kedua dunia setelah Kanada yakni sekitar 95.181km dengan nilai perekonomian dari laut Indonesia diperkirakan mencapai Rp 36.000 triliun hingga Rp 60.000 triliun per tahun. Diperkirakan 40 juta orang berkesempatan bekerja di sektor kelautan. Namun, jika laut tidak dijaga maka kesempatan itu akan berubah menjadi bencana. Karenanya, penting bagi seluruh masyarakat untuk memiliki kesadaran lingkungan. Hal itu bisa dimulai dari diri sendiri. Misalnya, dengan mengurangi penggunaan produk-produk yang menghasilkan sampah plastik dan beralih ke produk ramah lingkungan.

Continue Reading

Community

Safari Menjaga Ekosistem Laut

Novi Hifani

Published

on

Berduet dengan LIPI, komunitas Sapari mengikat semangat melestarikan ekosistem laut. Keduanya bergiat melakukan penelitian hingga aksi memungut sampah di laut.

Cahaya matahari pagi itu memantul di wajah puluhan pemuda berseragam biru dongker bertuliskan “Laut Bersih, Karang Sehat”, di tubir Dermaga Marina Ancol, pada Sabtu (5/5). Mereka merupakan Komunitas Sahabat Pulau Pari (Sapari) yang tengah menunggu keberangkatan kapal yang akan membawa mereka ke Pulau Pari untuk memperingati Hari Terumbu Karang.

Hampir tiap kru tampak repot. Ada yang menjinjing diving fins atau sepatu katak, masker selam, snorkel, dan peralatan menyelam lainnya. Ada pula yang membawa seikat polybag.

“Bawa sunblock enggak, lu?” celetuk salah satu personel perempuan. “Bawa dong, siap seharian nyelam cari sampah,” sahut anggota lainnya tertawa.

Perjalanan menuju Pulau Pari memakan waktu kira-kira satu jam menggunakan speed bot. Di tengah mengarungi laut Jakarta itu, Majalah Pajak berkenalan dengan salah satu koordinator Sapari, Teguh Waspada. Ia merupakan salah satu karyawan swasta asal DKI Jakarta yang telah bergabung sejak Sapari dicetuskan satu tahun lalu.

Ia memperkenalkan, terbentuknya Sapari dilandasi rasa peduli terhadap kawasan pesisir yang mulai tercemar sampah plastik. Sebuah anomali di tengah gegap gempita pariwisata Pulau Pari.

Di bawah pembinaan Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPKSDMO LIPI) Pulau Pari, komunitas Sapari melakukan edukasi dan aksi menjaga keseimbangan ekologi laut.

“Banyaknya wisatawan Pulau Pari memberikan dampak ekonomi untuk masyarakat. Tapi, apakah mereka juga dibekali pemahaman menjaga laut kita dari sampah? Tidak, kan?” kata Teguh.

Rasa khawatir itulah yang membuncahkan semangat Sapari untuk mengedukasi nelayan, siswa, dan wisatawan di Pulau Pari akan bahaya membuang sampah ke laut.

Hingga saat ini tercatat seratus anggota yang aktif di komunitas Sapari. Anggota ini terdiri dari mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum. Selain kegiatan utama bersih-bersih laut, Sapari juga rutin melakukan penelitian mengenai ekosistem laut lainnya. Misalnya, melakukan kajian mengenai sejenis rumput bernama lamun (seagrass). Tak hanya rumput laut (seaweed), lamun juga memiliki nilai jual. Lamun dapat menjadi bahan keranjang, atap rumbia, bahan soda api, kompos, garam, dan lain-lain.

“Di Sapari, kami dapat meneliti dan mempelajari biota yang unik. Apalagi hasil penelitian bermanfaat sebagai penggerak pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Teguh yang juga anggota dari Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri (Wanadri).

Banyaknya wisatawan Pulau Pari memberikan dampak ekonomi untuk masyarakat. Tapi, apakah mereka juga dibekali pemahaman menjaga laut kita dari sampah?

Jaga koral

Saking asyiknya mengobrol, waktu berlalu begitu cepat. Kami tiba di Dermaga Pulau Pari sekitar pukul 09.00. Rombongan turun dan bergegas menuju kantor LPKSDMO LIPI. Di sana, Anggota Sapari dan wartawan diberi edukasi mengenai laut, khususnya terumbu karang atau koral oleh kepala LPKSDMO LIPI Indra Bayu Vimono. Ia menjelaskan bahwa ekosistem terumbu karang merupakan bagian terpenting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Sebab, di dalam terumbu karang, hidup lebih dari 300 jenis karang, yang dapat terdiri dari ratusan jenis ikan dan puluhan jenis moluska, crustacean, sponge, alga, lamun, dan biota lainnya.

Kondisi terumbu karang di Pulau Pari dikategorikan cukup, dengan tutupan rata-rata 26–30 persen. Pengukuran kondisi ini didasarkan pada persentase tutupan karang hidup, yaitu kategori sangat baik (tutupan 76-100 persen), baik (tutupan 51-75 persen), cukup (tutupan 26-50 persen), dan kategori jelek (tutupan di bawah 25 persen).

“Dengan basis penelitian, LIPI dan Sapari menanamkan kembali pola pikir bagaimana pentingnya menjaga lingkungan laut,” jelas Indra.

Meskipun dikategorikan cukup, Indra memastikan bahwa pesona terumbu karang Pulau Pari memiliki daya tarik wisata tersendiri. Beragam warna terumbu karang cukup indah untuk dinikmati.

Mendengar penjelasan Indra, meski suasana begitu terik, siang itu justru semakin menarik. Jujur saja, kami tak sabar untuk menyelami keindahan bawah laut pulau yang berada di tengah gugusan perairan Jakarta ini.

Ditemani awak kapal kayu berukuran kecil, personel Sapari, peneliti LIPI, dan wartawan berlayar ke sebelah barat pulau. Mencari lokasi menyelam yang diduga tercemar sampah. Satu persatu personel turun dan memulai aksi. Gelombang laut seketika mengombang-ambingkan tubuh kami. Kami memunguti sampah-sampah yang melayang di antara hilir mudik ikan-ikan kecil yang keluar masuk terumbu karang berlumur alga dengan ragam warnanya yang begitu indah.

Kata Indra, warna yang indah itu dipengaruhi oleh alga yang tumbuh di permukaan terumbu karang. Namun sayang, semakin mendekat terlihat beberapa sampah plastik menyangkut di sela- sela koral. Seluruh personil pun mengambilnya dengan hati-hati. Indra mengatakan, sampah plastik berpotensi besar merusak bahkan dapat menyebabkan kematian terumbu karang.

“Banyak manusia beranggapan pantai tempat pembuangan sampah gratis, mudah atau praktis. Padahal, akibatnya membahayakan ekosistem kehidupan,” sesalnya.

Kira-kira satu jam lebih anggota Sapari menyusuri kedalaman air laut mencari sampah plastik. Mirisnya lagi, ada anggota yang menemukan potongan kasur di laut. Total sampah yang kami kumpulkan hari itu setelah ditimbang mencapai 194 kilogram. Limbah itu akan dibawa ke daratan DKI Jakarta.

Arsip alam

Sesampainya di daratan pulau, kami mencuri kesempatan untuk berbincang lebih jauh soal terumbu karang dengan peneliti LIPI Nugroho Dwi Hananto. Ia menekankan pentingnya terumbu karang sebagai arsip alam. Terumbu karang akan tumbuh berdasarkan kondisi lingkungannya. Dengan demikian, variasi jenis dan kadar unsur-unsur pembentuk lapisan-lapisan terumbu karang menandakan kondisi iklim pada saat terumbu karang itu terbentuk sehingga menjadi arsip alamiah yang merekam kondisi dan variasi iklim lampau.

Bahkan, ketika lapisan kerak bumi bergerak naik atau turun secara tektonik, terumbu karang akan merekam sebagai pola pertumbuhan terumbu itu. Dengan mempelajari pola pertumbuhan terumbu karang itu, para peneliti bisa menentukan periode gempa bumi besar di Indonesia. Hebatnya lagi, terumbu karang dapat mengarsip kondisi alam selama ratusan hingga ribuan tahun lampau!

“Misalnya, di Pulau Sumatera dan Kepulauan Mentawai, para peneliti dapat menemukan sumber gempa tahun 1797, 1833 dan gempa-gempa lain dengan mempelajari terumbu karang di daerah tersebut,” sebut Nugroho.

Untuk itu, ia menaruh harapan besar kepada Sapari. Semoga, ekosistem laut di Pulau Pari kian lestari. Semangatnya diharapkan mampu menginspirasi masyarakat di Indonesia.

Nah, bagi sahabat Majalah Pajak yang tertarik bergabung, dapat langsung mendaftarkan diri ke Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News2 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News2 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News3 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News3 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News4 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News5 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News9 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News10 bulan ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News11 bulan ago

Majalah Pajak Print Review

Trending